BAB VI PENUTUP
B. Rata-rata Lama Sekolah
Rata-rata Lama Sekolah (RLS) merupakan jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk untuk menjalani pendidikan formal. Diasumsikan bahwa dalam kondisi normal rata-rata lama sekolah suatu wilayah tidak akan turun. RLS dihitung berdasarkan penduduk usia 25 tahun ke atas dengan asumsi pada umur 25 tahun proses pendidikan sudah berakhir. RLS ini juga dapat digunakan sebagai indikator kualitas pendidikan masyarakat.
Nilai RLS Kabupaten Cirebon juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun hingga mencapai 7,64 tahun pada tahun 2023 yang berarti bahwa penduduk Kabupaten Cirebon rata-rata mengenyam pendidikan sekolah selama 7,64 tahun atau Kelas 2 SMP semester pertama. Meskipun demikian, rata-rata lama sekolah di Kabupaten Cirebon tahun 2022 masih berada di bawah rata-rata lama sekolah Provinsi Jawa Barat dan rata-rata lama sekolah Nasional yang mencapai 8,83 tahun untuk rata-rata lama sekolah Provinsi Jawa Barat dan 8,77 untuk rata-rata lama sekolah nasional.
Gambar 2.26
Rata-Rata Lama Sekolah Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat dan Nasional Tahun 2020-2023 (Tahun)
Sumber: Kabupaten Cirebon Dalam Angka 2024, BPS; Badan Pusat Statistik Nasional Tahun 2024;
12,2512,5 12,2712,61 12,2812,62 12,4112,68
12,98 13,08 13,10 13,15
2020 2021 2022 2023
Kab. Cirebon Prov. Jabar Nasional
6,92 7,10 7,40 7,648,55 8,61 8,78 8,838,48 8,54 8,69 8,77
2020 2021 2022 2023
Kab. Cirebon Prov. Jawa Barat Nasional
2.2.2.3. Kesehatan
Angka Harapan Hidup (AHH) merupakan indikator penyusun IPM dalam bidang kesehatan. Representasi dari dimensi umur yang panjang adalah Angka Harapan Hidup.
Angka tersebut menggambarkan seberapa lama peluang seseorang untuk bertahan hidup. Angka Harapan Hidup saat lahir didefinisikan sebagai rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang sejak lahir. AHH mencerminkan derajat kesehatan suatu masyarakat. AHH dihitung dari hasil sensus dan survei kependudukan Semakin tinggi indikator harapan hidup mencerminkan semakin baiknya status kesehatan di suatu daerah karena seseorang yang hidupnya panjang cenderung didukung dengan kondisi kesehatan yang baik. AHH Kabupaten Cirebon semakin lama semakin meningkat yang mengindikasikan keberhasilan program dan kegiatan di bidang kesehatan.
AHH Kabupaten Cirebon cenderung naik setiap tahun dimana pada Tahun 2023 mencapai 72,76 tahun yang berarti bahwa setiap bayi baru lahir memiliki harapan hidup hingga usia 72-73 tahun. Meskipun angka ini cukup tinggi, namun AHH Kabupaten Cirebon pada Tahun 2023 masih lebih rendah dibandingkan AHH Provinsi Jawa Barat, yakni 73,8 tahun. Namun demikian, jika dibandingkan AHH Nasional (72,13 tahun), AHH Kabupaten Cirebon lebih tinggi.
Gambar 2.27
Angka Harapan Hidup Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat dan Nasional Tahun 2020-2023 (Tahun)
Sumber: Kabupaten Cirebon Dalam Angka 2024, BPS; BPS Provinsi Jabar 2024; Statistik Indonesia 2024, BPS
2.2.2.4. Indeks Keluarga Sehat
Keluarga yang sehat merupakan pondasi bagi masa depan bangsa. Keluarga yang sehat adalah keluarga dengan kesejahteraan fisik, mental, sosial, dan spiritual yang optimal. Kementerian Kesehatan telah menetapkan indeks yang digunakan untuk mengukur tingkat kesehatan keluarga yakni Indeks Keluarga Sehat (IKS). Indeks Keluarga Sehat (IKS) merupakan suatu perhitungan untuk mengetahui apakah keluarga tersebut termasuk keluarga sehat, prasehat, atau tidak sehat dengan ketentuan nilai
71,99 72,18 72,47 72,76
73,04 73,23 73,52 73,8
71,47 71,57 71,85 72,13
2020 2021 2022 2023
Kab. Cirebon Prov. Jabar Nasional
IKS Sehat > 0,80, IKS Prasehat 0,50 – 0,80, dan IKS Tidak Sehat < 0,5. Ada 12 indikator yang menyusun IKS yaitu keluarga mengikuti program Keluarga Berencana (KB), ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan, bayi mendapatkam imunisasi dasar lengkap, bayi mendapatkan ASI ekslusif, balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan, penderita TB paru mendapatkan pengobatan sesuai standar, penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur, penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan, anggota keluarga tidak ada yang merokok, keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), keluarga mempunyai akses sarana air bersih, dan keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat.
Gambar 2.28
Capaian Indeks Keluarga Sehat Provinsi Jawa Barat Tahun 2019-2023
Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2023
Capaian Indeks Keluarga Sehat Provinsi Jawa Barat rata-rata meningkat setiap tahunnya namun pada tahun 2021 mengalami penurunan yang cukup drastis yang disebabkan salah satunya oleh adanya pandemi COVID-19. Dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sehat tahun 2045, sesuai dengan amanat dari Kementerian Kesehatan, pembangunan kesehatan difokuskan untuk penguatan upaya promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.
Gambar 2.29
Capaian Jumlah keluarga dengan IKS>0,8 di Kabupaten Cirebon Tahun 2021-2023
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, 2024 0
0,05 0,1 0,15 0,2
2020 2021 2022 2023
0,145
0,015
0,169 0,189
2021 2022 2023
22%
30,16% 30,82%
Pada tahun 2023, jumlah keluarga di Kabupaten Cirebon dengan IKS > 0,8 sebesar 30,82 persen atau dari sebanyak 583.356 keluarga hanya 179.768 keluarga saja yang nilai IKS nya > 0,8. Jumlah ini bertambah sebesar 5.846 keluarga dari tahun 2022 (173.922 keluarga).
2.2.2.5. Indeks Kualitas Keluarga
Menurun Permen PPPA Nomr 7 Tahun 2022 tentang Peningkatan Kualitas Keluarga dalam Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Perlingungan Anak, Indeks Kualitas Keluarga (IKK) merupakan suatu pengukuran pencapaian Kualitas Keluarga. IKK menjadi tolak ukur basis perencanaan dan indikator keberhasilan pembangunan keluarga dalam mewujudkan Kesetaraan Gender dan Hak Anak di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dengan kategori indeks antara 0,00 sampai 100 dengan kategori IKK < 50 (Kurang Responsif Gender dan Hak Anak), IKK 50 – 75 (Cukup Responsif Gender dan Hak Anak), dan IKK > 75 (Responsif Gender dan Hak Anak). IKK dibentuk dari 5 pilar atau dimensi yaitu Kualitas Legalisasi dan Struktur, Kualitas Ketahanan Fisik, Kualitas Ketahanan Ekonomi, Kualitas Ketahanan Sosial Psikologi, dan Kualitas Ketahanan Sosial Budaya. Data IKK untuk Kabupaten Cirebon tidak tersedia, sehingga data yang dianalisis adalah IKK Provinsi Jawa Barat dan Nasional.
Nilai Indeks Kualitas Keluarga (IKK) Provinsi Jawa Barat Tahun 2021-2022 mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada tahun 2021 nilai IKK Provinsi Jawa Barat sebesar 72,54 yang kemudian mengalami pertumbuhan sebesar 5,27% menjadi 76,36. Kondisi tersebut kemudian menyebabkan perubahan kategori IKK Provinsi Jawa Barat, yang awalnya Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah cukup responsif gender dan hak anak menjadi wilayah yang responsif terhadap gender dan hak anak.
Peningkatan nilai IKK juga terjadi pada skala nasional, dimana nilai IKK Nasional mengalami pertumbuhan sebesar 4,79% dari 73,84 pada tahun 2021 menjadi 77,38 pada tahun 2022. Berdasarkan nilai IKK tersebut, Indonesia masuk kedalam kategori negara yang cukup responsif terhadap gender dan hak anak.
Gambar 2.30
Indeks Kualitas Keluarga (IKK) Provinsi Jawa Barat dan Nasional Tahun 2021-2022
Sumber: Kementerian Pemerdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2023
2.2.2.6. Indeks Perlindangan Anak
Indeks Perlindungan Anak (IPA) merupakan ukuran baku yang digunakan untuk mengukur capaian pembangunan perlindungan anak di Indonesia. IPA dibentuk dari Indeks Perlindungan Hak Anak (IPHA) dan Indeks Perlindungan Khusus Anak (IPKA) yang berdasarkan 5 (lima) klaster hak anak dalam Konvensi Hak Anak. Lima klaster yang menjadi dasar membentukan IPA adalah Hak Sipil dan Kebebasan; Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif; Kesehatan Dasar dan Kesejahuteraan;
Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan Budaya; serta Perlindungan Khusus. Capaian Indeks Perlindungan Anak Kabupaten Cirebon Tahun 2022 sebesar 65,64, sedikit lebih rendah daripada Provinsi Jawa Barat (65,74) namun lebih tinggi daripada IPA Nasional (63,30).
Tabel 2. 20
Indeks Perlindungan Anak (IPA) Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat dan Nasional Tahun 2022
Tahun 2022
IPA IPHA IPKA
Kab. Cirebon 65.64 61.77 78.45
Jawa Barat 65.74 62.04 80.13
Nasional 63.30 60.33 75.21
Sumber: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2023
2.2.2.7. Gender