SUMBER DAYA KESEHATAN
6. Desa Siaga
Desa siaga adalah salah satu pendukung membuat masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat. Jumlah desa siaga tahun 2006 adalah 12.300 sesuai dengan tabel 5.2.
Sedangkan target Departemen Kesehatan untuk tahun 2006 desa siaga 12.000 desa. Ini berarti target Departemen Kesehatan untuk desa siaga sudah tercapai.
TABEL 5.2 JUMLAH DESA SIAGA
TAHUN 2006
No Provinsi Jumlah Desa Siaga
1 Nanggroe Aceh Darrusalam 250
2 Sumatera Utara 500
3 Lampung 200
4 Sumatera Barat 200
5 Bengkulu 150
6 Jawa Barat 1.000
7 Jawa Tengah 4.300
8 Jawa Timur 5.000
9 Kalimantan Barat 150
10 Kalimantan Tengah 150
11 Sulawesi Tengah 100
12 Sulawesi Selatan 300
Jumlah Keseluruhan 12.300
Sumber: Ditjen Binkesmas, Depkes RI, 2007 7. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan
Pendidikan tenaga kesehatan dimaksudkan untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.
Pendidikan tenaga kesehatan diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta melalui berbagai institusi pendidikan dan jenjang pendidikan. Dari seluruh institusi pendidikan tenaga kesehatan (Diknakes) yang ada hanya sebagian yang menjadi tanggung jawab Departemen Kesehatan dalam koordinasi dan pembinaannya, yang dikelompokkan ke dalam institusi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) dan institusi Diknakes Non Poltekkes.
Perkembangan jumlah institusi Diknakes saat ini semakin pesat, baik jenis maupun jumlah di masing-masing propinsi. Sampai dengan Desember 2006 jumlah institusi Diknakes baik Poltekkes maupun Non Poltekkes sebanyak 890 institusi yang terdiri dari Poltekkes sebanyak 205 jurusan/program dan Non Poltekkes yang ada diseluruh Indonesia sebanyak 685 institusi. Perkembangan jumlah masing – masing jenis institusi Diknakes Poltakes dan Non Poltakes dapat dilihat pada gambar 5.16 dan 5.17.
GAMBAR 5.16
PERKEMBANGAN JUMLAH DAN JENIS POLTAKES DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2006
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan GAMBAR 5.17
PERKEMBANGAN JUMLAH DAN JENIS NON POLTAKES DI INDONESIA TAHUN 2004 - 2006
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Dari 205 jurusan Poltekkes yang diselenggarakan, jurusan terbanyak adalah jurusan Keperawatan (32,7%) dan Kebidanan (23,4%), selebihnya adalah Gizi (11,7%), Kesehatan Lingkungan (9,8%), Kesehatan Gigi (8,8%), Analis Kesehatan (5,9%), Farmasi (2,90%), Teknik Elektro Medik (1,0%), Teknik Radio Diagnostik (1,0%), Fisioterapi (1,0%), Teknik Gigi (0,5%), Analis Farmasi dan Makanan (0,5%), Okupasi Terapi (0,5%), dan Ortotik Prostetik (0,5%).
Sementara itu, jumlah institusi di luar Poltekkes pada tahun yang sama sebanyak 685 institusi yang mana terbanyak adalah jurusan Keperawatan (72,7%), sedangkan selebihnya adalah jurusan Kefarmasian (11,24%), Keteknisian Medis (10,36%), Kesehatan Masyarakat (1,89%), Keterapian Fisik (2,48%), dan Gizi (1,31%)
Untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi dalam Poltekkes, mulai tahun 2004 Pusdiknakes sudah melakukan akreditasi. Sampai dengan Desember 2006, 181 (88,29%) jurusan Poltekkes telah diakreditas (Lampiran 5.17). Dari akreditas yang sudah dilakukan, 73 jurusan (40,33%) termasuk dalam strata “A”, 104 jurusan (57,46%)
termasuk dalam strata “B” dan 4 jurusan (2,21%) termasuk dalam strata “C”. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 5.18.
GAMBAR 5.18
PERKEMBANGAN STRATA AKREDITAS JURUSAN POLTEKKES TAHUN 2004-2006
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Sedangkan untuk institusi non Poltekkes tahun 2006 , 518 institusi (75,62%) sudah diakriditas , 24,38% sisanya belum diakreditas. Institusi yang sudah diakreditasi tersebut 61 (11,78%) termasuk dalam strata “A”, 402 (77,61%) termasuk dalam strata
“B” dan 54 (10,42%) termasuk dalam strata “C”. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 5.19.
GAMBAR 5.19
PERKEMBANGAN STRATA AKREDITAS INSTITUSI NON POLTEKKES TAHUN 2004-2006
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Bila dilihat menurut kepemilikannya, jumlah institusi Diknakes Non Poltekkes pada tahun 2006 sebanyak 81,17% adalah milik swasta, sedangkan selebihnya adalah milik Pemerintah Daerah (14,45%), dan TNI/POLRI (4,37%). Jumlah institusi Diknakes Non Poltekkes milik Pusat mengalami penurunan karena institusi milik pusat bergabung dengan Poltekkes. Jumlah institusi Diknakes Non Poltekkes menurut jenis jurusan atau program studi dan status kepemilikan pada tahun 2006 dapat dilihat pada Lampiran 5.18 dan 5.20.
B. TENAGA KESEHATAN
1. Perencanaan Tenaga Kesehatan
Berdasarkan Renstra Departemen Kesehatan tahun 2005-2009, pada tahun 2010, ratio tenaga kesehatan per 100000 penduduk berdasarkan kategori, diharapkan mencapai angka/target sebagai berikut:
TABEL 5.3
RATIO TENAGA KESEHATAN PER 100000 PENDUDUK TAHUN 2010
No Jenis Tenaga Rasio per 100000 penduduk
1 Dokter Spesialis 9
2 Dokter Umum 30
3 Dokter Gigi 11
4 Perawat 158
5 Bidan 75
6 Perawat Gigi 16
7 Apoteker 9
8 Asisten Apoteker 18
9 Sarjana Kesmas 8
10 Sanitarian 10
11 Gizi 18
12 Keterapian Fisik 4
13 Keteknisan Medis 6
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan, 2007
Berdasarkan rasio tenaga kesehatan di atas, dengan menggunakan proyeksi penduduk 2010 diharapkan sampai tahun 2010 kebutuhan tenaga kesehatan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan, 2007
2. Persebaran SDM Kesehatan
Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDM kesehatan membuat prediksi tenaga kesehatan tahun 2006 berdasarkan tenaga kesehatan tahun 2003 ditambahkan dengan lulusan per tahunnya.
TABEL 5.4.
JUMLAH TENAGA KESEHATAN DAN RASIO TENAGA KESEHATAN PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2006
No Jenis Tenaga Jumlah Tenaga Rasio per 100000 penduduk
1 Dokter Spesialis 12.374 5,53
2 Dokter Umum 44.564 19,93
3 Dokter Gigi 11.289 5,05
4 Perawat 308.306 137,87
5 Bidan 79.152 35,4
6 Perawat Gigi 8.230 3,68
7 Apoteker 10.207 4,56
8 Asisten Apoteker 39.106 17,49
9 Sarjana Kesmas 9.739 4,36
10 Sanitarian 18.094 8,09
11 Gizi 15.342 6,86
12 Keterapian Fisik 5.290 2,37
13 Keteknisan Medis 10.318 4,61
Sumber : Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDM, 2007 GAMBAR 5.20
KEBUTUHAN TENAGA KESEHATAN TAHUN 2010 UNTUK MENCAPAI INDONESIA SEHAT 2010
MENURUT JENIS TENAGA
2.1. SDM Kesehatan di Daerah
SDM kesehatan di daerah terdiri dari SDM Kesehatan yang bertugas di unit kesehatan (sarana pelayanan dan non pelayanan ) di provinsi dan Kabupaten/Kota denga status kepegawaian PNS,CPNS,PTT,TNI/POLRI dan swasta yang bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi dan UPT, Dinas Kabupaten/Kota dan UPT, rumah sakit/poliklinik dan sarana kesehatan lainnya milik pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta dan TNI/POLRI, pada tahun 2005 sebanyak 320.307 orang yang terdiri dari 279.628 orang (87,30%) tenaga kesehatan dan 40.679 orang (12,70%) tenaga non kesehatan.
Persebaran SDM Kesehatan Daerah terbanyak berada di provinsi Jawa Timur yaitu 62.467 orang, kemudian Jawa Barat 32.737 orang dan DKI Jakarta 27.001 orang.Sedangkan provinsi dengan jumlah SDM terendah adalah Sulawesi Barat 654 orang, Gorontalo 1.389 orang dan Maluku Utara 1590 orang.
Berdasarkan profesinya dari 279.628 orang tenaga kesehatan, terbanyak adalah perawat (perawat + S.Keperawatan) 117.989 orang (42,19%) dan Bidan 66.860 orang (23,91%). Jumlah, persentase tenaga kesehatan dan rasio per 100.000 penduduk menurut jenisnya disajikan disajikan pada tabel 5.5 di bawah ini.
TABEL 5.5
JUMLAH, PERSENTASE DAN RASIO PER 100.000 PENDUDUK TENAGA KESEHATAN MENURUT JENISNYA
TAHUN 2005
No Jenis Tenaga Jumlah Tenaga Persentase Rasio per 100000 penduduk
1 Dokter Spesialis 9.717 3,47 4,43
2 Dokter Umum 25.530 9,13 11,66
3 Dokter Gigi 7.767 2,78 3,55
4 Perawat 117.989 42,19 53,91
5 Bidan 66.860 23,91 30,54
6 Apoteker 3.540 1,27 1,62
7 Asisten Apoteker 10.103 3,61 4,61
8 Sarjana Kesmas 6.789 2,43 3,10
9 Sanitarian 12.080 4,32 5,52
10 Gizi 8.226 2,94 3,76
11 Keterapian Fisik 2.618 0,94 1,20
12 Keteknisan Medis
8.409 3,01 3,84
Sumber : Dinas Kesehatan se Indonesia, melalui pengumpulan data Pusdatin, Depkes RI, Desember 2006
Jumlah SDM Kesehatan menurut jenis dan provinsi pada tahun 2005 dapat dilihat pada lampiran 5.21. Sedangkan gambaran rasio dokter per 100.000 penduduk dapat dilihat pada gambar 5.21, rasio perawat per 100.000 penduduk pada gambar 5.22 dan rasio bidan per 100.000 penduduk pada gambar 5.23
GAMBAR 5.21
RASIO DOKTER PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2005
Sumber : Dinas Kesehatan se Indonesia, melalui pengumpulan data Pusdatin, Depkes RI, Desember 2006
GAMBAR 5.22
RASIO PERAWAT PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2005
Sumber : Dinas Kesehatan se Indonesia, melalui pengumpulan data Pusdatin, Depkes RI, Desember 2006
GAMBAR 5.23
RASIO BIDAN PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2005
Sumber : Dinas Kesehatan se Indonesia, melalui pengumpulan data Pusdatin, Depkes RI, Desember 2006
2.2. SDM Kesehatan di Rumah Sakit
Berdasarkan laporan Ditjen Bina Yanmedik, jumlah SDM yang bekerja di rumah sakit tahun 2006 adalah 250.024 orang, terdiri dari 164.302 orang (65,7%) tenaga kesehatan dan 85.722 orang (34,3%) tenaga non kesehatan. Provinsi dengan jumlah tenaga kesehatan terbanyak adalah DKI Jakarta (45.671 orang), diikuti Jawa Tengah (35.206 orang) dan Jawa Timur (35.159 orang). Sedangkan provinsi dengan jumlah SDM kesehatan terendah adalah Gorontalo (309 orang), Maluku Utara (449 orang) dan Bangka Belitung (792 orang). Berdasarkan profesinya, dari 164.302 tenaga kesehatan, terbanyak adalah keperawatan 108.334 orang (65,94%) dan medis 26.092 orang (15,88%), yang dapat dilihat pada Lampiran 5.22.
2.3. SDM Kesehatan di Puskesmas
Jumlah SDM Kesehatan yang bertugas di Puskesmas tahun 2006 adalah 143.502 orang. Jumlah dokter umum yang bekerja di Puskesmas sebanyak 10.763 orang. Dengan jumlah Puskesmas sebanyak 8.015, maka rata-rata tiap Puskesmas dilayani oleh 1-2 orang dokter umum. Jumlah dokter gigi yang bekerja di Puskesmas sebanyak 4.296 orang yang berarti belum semua Puskesmas memiliki dokter gigi. Jumlah perawat sebanyak 52.753 orang sehingga setiap Puskesmas dilayani 6-7 orang perawat. Jumlah bidan sebanyak 52.168 orang sehingga setiap Puskesmas dilayani 6-7 orang bidan. Data selengkapnya dapat dilihat dalam Lampiran 5.23.
3. SDM Kesehatan Status Pegawai Tidak Tetap
Departemen Kesehatan memiliki 3 jenis tenaga Pegawai Tidak Tetap (PTT) yaitu Dokter, Dokter Gigi dan Bidan. Sampai dengan Desember 2006 tercatat masih aktif di lapangan sejumlah 46.343 orang yang terdiri dari 8.896 Dokter Umum, 2.555 Dokter Gigi dan 34.892 Bidan.
Dokter Umum PTT terbanyak berada pada provinsi Jawa Tengah (1.026 orang/11,53%), sedangkan provinsi dengan Dokter Umum PTT paling sedikit adalah DKI Jakarta (42 orang/0,47%).
Dokter Gigi PTT terbanyak berada pada provinsi Jawa Timur (301 orang/11,78%), sedangkan provinsi dengan Dokter Gigi PTT paling sedikit adalah Maluku Utara (5 orang/0,19%).
Bidan PTT terbanyak berada pada provinsi Jawa Tengah (4.599 orang/13,18%), provinsi dengan Bidan PTT paling sedikit adalah provinsi Papua (4orang/0,01%) sedangkan provinsi yang tidak memiliki Bidan PTT adalah DKI dan Irian Jaya Barat yang dapat dilihat pada lampiran 5.24.
4. Peserta Didik pada Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan 4.1. Peserta Didik Poltekkes dan Non Poltekkes
Pada tahun ajaran 2006/2007 jumlah peserta didik sebanyak 183.061 orang terdiri dari peserta didik Poltekkes sebanyak 43.350 orang (23,68%) dan peserta didik non Poltekkes sebanyak 139.711 orang (76,32%). (Lampiran 5.27 dan Lampiran 5.28)
Bila dilihat dari jenjang pendidikannya, jenjang pendidikan tinggi (JPT) sebanyak 166.786 (91,11%) dan jenjang pendidikan menengah (JPM) sebanyak 16.275 orang (8,89%). Perkembangan jumlah peserta didik menurut jenjang pendidikan pada tahun 2004 – 2006 dapat dilihat pada Gambar 5.24 di bawah ini.
GAMBAR 5.24
PERKEMBANGAN JUMLAH PESERTA DIDIK POLTEKES DAN NON POLTEKES MENURUT JENJANG PENDIDIKAN
TAHUN 2004 – 2006
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan 4.2. Peserta Didik Program Khusus
Selain peserta didik yang berasal dari jalur umum terdapat peserta didik program (progsus) yang diselenggarakan oleh institusi Poltekkes dan institusi non Poltekkes dengan persyaratan institusi/program studi yang telah memenuhi kriteria akreditas strata B dengan nilai minimal 80. Jumlah peserta didik Progsus tahun 2006 adalah 7.268 dengan Keperawatan (48,21%), Kebidanan (42,95%), Farmasi (2,27%), Analisis Kesehatan (2,02), Kesehatan Gigi (2,63%), Gizi (1,17%) dan Kesehatan Lingkungan (0,74%) yang dapat dilihat pada lampiran 5.29. Sedangkan perkembangan progus dari tahun 2004-2005 dapat dilihat pada tabel 5.6.
TABEL 5.6
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK PROGRAM KHUSUS BERDASARKAN JENIS TENAGA KESEHATAN
TAHUN 2004-2006
TAHUN NO JENIS PENDIDIKAN
2004 2005 2006
1 Keperawatan 4.209 4.333 3.504
2 Kebidana 2.095 2.252 3.122
3 Gizi 160 165 85
4 Kesehatan Gigi 99 125 191
5 Analisis Kesehatan 116 341 147
6 Kesehatan Lingkungan 16 53 54
7 Farmasi 40 165
Total 6.695 7.309 7.268
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan 5. Lulusan
Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes tahun 2006 sebanyak 46.891 orang.
Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 8,24% dari tahun 2005, dimana pada tahun 2005 lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes turun sebesar 4,92% dari tahun 2004 yang dapat dilihat dari tabel 5.7.
TABEL 5.7
PERKEMBANGAN JUMLAH LULUSAN POLTEKKES DAN NON POLTEKKES BERDASARKAN JENIS TENAGA KESEHATAN
TAHUN 2004 – 2006
JUMLAH LULUSAN No JENIS TENAGA
KESEHATAN 2004 2005 2006
1 Keperawatan 33.716 31.179 33.941
2 Kefarmasian 4.143 4.130 5.045
3 Kesehatan Masyarakat 1.923 1.855 1.557
4 Gizi 1.368 1.519 1.415
5 Keterapian Fisik 740 739 858
6 Keteknisan Medis 3.674 3.898 4.075
Total 45.562 43.320 46.891
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Sebagian besar lulusan tersebut dihasilkan oleh institusi Non Poltekkes yaitu sebanyak 35.172 lulusan (75,09%) dan sisanya dihasilkan institusi Poltekkes yaitu sebanyak 11.687 lulusan (24,91%).
Untuk lulusan Non Poltekkes lulusan terbanyak adalah jenis Keperawatan yakni sebesar 73,02%, jumlah lulusan terbanyak berikutnya berturut-turut adalah jenis Keteknisian Medis yaitu sebesar 9,20%, Keterapian Fisik sebesar 1,98%, Kesehatan
Masyarakat yaitu sebesar 1,52% , Kefarmasian yakni 1,35%, dan yang paling sedikit dari jenis Gizi yaitu sebesar 0,86% .
Sedangkan untuk lulusan Poltekkes lulusan yang terbanyak adalah jenis Keperawatan yakni sebesar 70,74, diikuti jenis Gizi (9,53%), Kesehatan Masyarakat (8,74%), Keteknisan Medis (6,83%), Kefarmasian (2,79%) dan yang paling sedikit dari jenis Keterapian Fisik (1,37%). (Lampiran 5.30)
Tiga provinsi terbanyak menghasilkan lulusan tenaga kesehatan institusi non poltekkes pada tahun 2006 adalah provinsi Jawa Tengah (6.159 lulusan), DKI Jakarta (5.503 lulusan), Jawa timur (5.346 lulusan). Untuk jenis keperawatan dari institusi non poltekkes lulusan terbanyak dihasilkan oleh Provinsi Jawa Timur sebanyak 3.029 orang, terbanyak berikutnya dihasilkan oleh Provinsi Jawa Tengah yakni 2.930 orang.
Untuk institusi Poltekkes tiga provinsi terbanyak menghasilkan lulusan tenaga kesehatan adalah Jawa Timur (1.323 lulusan), Jawa Barat (1.172 lulusan) dan DKI Jakarata (1.101 lulusan). Untuk jenis Keperawatan dari institusi Poltekkes lulusan terbanyak dihasilkan oleh Provinsi DKI Jakarta yakni 354 orang, terbanyak berikutnya dihasilkan oleh Provinsi Jawa Timur sebesar 346 orang. Distribusi lulusan institusi diknakes non poltekkes berdasarkan provinsi dan jenis ketenagaan secara rinci dapat dilihat pada lampiran 5.31dan 5.32.
6. Peserta Pendidikan dan Pelatihan Pegawai
Pendidikan dan pelatihan dimaksudkan untuk membina profesionalitas pegawai dalam rangka meningkatkan kualitas tenaga kesehatan. Pelatihan bagi tenaga kesehatan terdiri atas pelatihan pra/jabatan atau pra/tugas, pelatihan struktural, pelatihan fungsional, dan pelatihan teknis. Data pelatihan bagi tenaga kesehatan didapat dari laporan kegiatan Bapelkes dan dari permintaan sertifikat pelatihan ke Pusdiklat. Sedangkan data pelatihan lainnya yang tidak dilaksanakan di Bapelkes dan sertifikatnya tidak diperoleh melalui Pusdiklat, tidak tersedia.
Pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan Pusdiklat dan Bapelkes nasional tahun 2006 yang paling sering adalah jenis diklat teknis (44,81%), diikuti manajemen kesehatan (32,37%), diklat fungsional (9,13%), pra jabatan (9,13%), dan yang terakhir diklat pimpinan sebagaimana disajikan dalam gambar 5.25.
GAMBAR 5.25
PROPORSI PELATIHAN YANG DILAKSANAKAN PUSDIKLATKES DAN BAPELKES NASIONAL
TAHUN 2006
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan, Depkes RI, 2007
C. PEMBIAYAAN KESEHATAN
Pembiayaan kesehatan di Indonesia terdiri dari pembiayaan kesehatan oleh pemerintah dan pembiayaan kesehatan oleh masyarakat yaitu mengenai pengeluaran rumah tangga untuk kesehatan dan jaminan pemeliharaan kesehatan.
1. Pembiayaan Kesehatan oleh Pemerintah
Pada periode tahun 2002-2006, jumlah alokasi anggaran Departemen Kesehatan baik yang dikelolah unit pusat maupun yang didistribusikan untuk seluruh provinsi meningkat dan dapat dilihat pada Gambar 5.26 di bawah ini. Pada tahun 2003 alokasi anggaran Departemen Kesehatan meningkat 49,34%, tahun 2004 meningkat 19,81%, tahun 2005 meningkat cukup besar yaitu 73,34% dan tahun 2006 naik lagi menjadi 43,52%. Sedangkan realisasinya dari tahun 2000-2006 di atas 60% (tahun 2002: 93,74%, 2003: 83,49%, 2004: 84,52%, 2005: 61,09% dan 2006: 80,05%).
GAMBAR 5.26
ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN DEPKES TAHUN 2002 – 2006
Sumber: Biro Keuangan dan Perlengkapan, Depkes RI
2. Pembiayaan Kesehatan oleh Masyarakat
Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembiayaan kesehatannya, sejak lama sudah dikembangkan berbagai cara untuk memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakat. Pembiayaan kesehatan masyarakat berdasarkan sumber pembiayaan (non JPK dan JPK) dari tahun 2002 – 2006, dapat kita lihat dalam Gambar 5.27 yaitu non JPK dari tahun ke tahun menurun sedangkan JPK dari tahun ke tahun meningkat yang disebabkan peningkatan kartu sehat dari tahun ke tahun seperti yang terlihat dalam Gambar 5.28.
GAMBAR 5.27
PROPORSI PEMBIAYAAN KESEHATAN MASYARAKAT BERDASARKAN SUMBER PEMBIAYAAN
TAHUN 2002 - 2006
Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan
Rincian jumlah dan persentase kepesertaan penduduk dalam jaminan pemeliharaan kesehatan tahun 2006 dapat dilihat pada Lampiran 5.34 dan lampiran 5.35.
GAMBAR 5.28
PERSENTASE KEPESERTAAN PENDUDUK DALAM JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN
TAHUN 2002 – 2006
Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan
***
Indonesia merupakan salah satu anggota sekaligus pendiri ASEAN (Association of South East Asian Nations) yaitu organisasi negara-negara di Asia Tenggara yang beranggotakan 10 negara. ASEAN dibentuk dengan tujuan untuk mengukuhkan kerjasama negara-negara di Asia Tenggara dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya serta pertahanan dan keamanan.
Sedangkan berdasarkan pengelompokkan negara menurut WHO, Indonesia termasuk dalam negara SEARO (South East Asian Region/SEARO) bersama 10 negara lainnya, yaitu Bangladesh, Bhutan, Korea Utara (Democratic Peoples Republic of Korea/DPR Korea), India, Maladewa, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, dan Timor Leste.
Perbandingan antar negara, baik dengan negara-negara ASEAN maupun SEARO, dilakukan untuk melihat posisi Indonesia terhadap negara-negara lain dalam kawasan yang sama. Dalam bab ini akan dibahas perbandingan antara Indonesia dengan negara ASEAN dan SEARO dari aspek kependudukan, derajat kesehatan, dan upaya kesehatan.
A. KEPENDUDUKAN
Informasi tentang penduduk penting diketahui agar pembangunan dapat diarahkan sesuai kebutuhan penduduk sebagai pelaku pembangunan. Jumlah penduduk yang besar dapat dipandang sebagai beban sekaligus juga modal dalam pembangunan. Beberapa indikator yang digunakan untuk mengetahui keadaan penduduk yaitu jumlah penduduk, kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, angka beban tanggungan, dan angka kelahiran.
1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk 1.1. Kawasan ASEAN
Berdasarkan data dari “world populations data sheet”, pada pertengahan tahun 2006, Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak di antara negara anggota ASEAN lainnya dengan jumlah penduduk 225,5 juta jiwa. Dengan wilayah negara terluas Indonesia selalu menempati rangking satu negara dengan jumlah penduduk tertinggi di ASEAN.
Sedangkan Brunei Darussalam memiliki jumlah penduduk paling rendah yaitu 0,4 juta jiwa.
Sementara bila dilihat berdasarkan kepadatan penduduk, Singapura tercatat sebagai negara yang paling padat yaitu 7.174 penduduk per km2. Angka tersebut jauh di atas negara