BAB III METODE PENELITIAN
H. Teknik Analisis Data
Besarnya pengaruh model pembelajaran PjBL terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa kelas X SMK Raudlatul husna
35
kapok dapat diketahui dengan menggunakan teknik analisis statistik uji-t sampel berpasangan (Paired sample t test).
1. Uji Deskriptif Data a) Menghitung Mean
Rumus menghitung mean adalah sebagai berikut:40 ̅ ∑
∑
b) Menentukan varian dan standart deviasi dari tiap variable Rumus varian dan standart deviasi adalah sebagai berikut:41
√ ∑ ∑ 2. Uji Prasyarat
a) Uji Normalitas
Sebelum melakukan uji hipotesis, maka terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas data. Uji ini bertujuan untuk melihat apakah sampel berdistribusi normal atau tidak.
Peneliti menggunakan uji liliefors karena uji liliefors digunakan bila ukuran sampel (n) lebih kecil dari 30 dan peneliti menggunakan sampel kecil yakni berjumlah 21 sampel dan uji liliefors Perhitungannya yang sederhana serta cukup kuat sekalipun sampel yang digunakan peneliti berukuran kecil dengan langkah-langkah sebagai berikut :42 a. Menyusun skor siswa dari yang terendah ke skor yang
tertinggi.
b. Pengamatan , ,…, dijadikan bilangan baku , ,…, dengan menggunakan rumus :
̅
40 Andi Supangat, Statistika Dalam Kajian Deskriptif, Inferensi, Dan Non Parametrik (Jakarta, Prenadamedia Group, 2007),97
41 Ibid., hlm. 101
42 Arina Satika, “Pengaruh Model Resource Based Learning Terhadap Hasil
Belajar Matematika Siswa Smp Negeri 2 Stabat Tahun Pelajaran 2019/2020”, ( Skripsi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan, 2019), 27-28
36 Dimana :
̅ ∑ √ ∑ ∑
c. Untuk tiap bilangan baku ini menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang
d. Selanjutnya dihitung proporsi , ,…, yang lebih kecil atau sama dengan . Jika proporsi ini dinyatakan oleh S , maka :
S
e. Menghitung selisih F – S , kemudian tentukan harga mutlaknya.
f. Ambil harga yang paling besar di antara harga-harga mutlak selisih tersebut. Sebutlah harga terbesar ini .
Untuk menerima atau menolak distribusi normal data penelitian dapat dibandingkan dengan nilai kritis
yang diambil dari daftar table uji Lilliefors dengan taraf α = 5%.
Kriteria pengujian :
Jika < maka sampel berdistribusikan normal.
Jika > maka sampel tidak berdistribusikan normal.
b) Uji Homogenitas
Uji homogenitas merupakan salah satu uji prasyarat analisis data statistik parametik pada teknik komprasional (membandingkan). Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah k kelompok mempunyai varians yang sama atau berbeda. Jika k kelompok mempunyai varians yang sama, maka kelompok tersebut dikatakan homogennya.
Hipotesis pengujian
H0 = Kedua data mempunyai varians yang sama (homogen) Ha = Kedua data mempunyai varians yang berbeda (tidak homogen)
37 Kriteria pengujian :
H0 diterima jika <
H0 ditolak jika >
Menghitung varians tiap kelompok data
Menentukan nilai :
Keterangan:
= sampel dari populasi ke satu
= sampel dari populasi ke dua.
Tentukan untuk taraf signifikansi α = 0,05, = = , = = .
Bandingkan nilai dengan 3. Uji Hipotesis
a. Uji t
Uji hipotesis digunakan untuk mencari seberapa besar pengaruh metode pembelajaran terhadap pemahaman konsep siswa, maka harus membandingkan rata-rata hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran. Uji-t yang digunakan pada penelitian ini adalah uji-t sampel berpasangan (paired sample t test). Peneliti menggunakan uji-t sampel berpasangan karena untuk membandingkan rata-rata dua variabel untuk suatu grup tunggal. Uji-t berpasangan umumnya menguji perbedaan antara dua pengamatan. Uji seperti ini dilakukan pada subjek yang diuji untuk situasi sebelum dan sesudah proses.
Hipotesis penelitian :
H0 : Tidak terdapat pengaruh model PjBL terhadap kemampuan berpikir kreatif matematika siswa kelas X SMK
Taraf signifikan yang dipakai 0,05. Ketentuan pengujian hipotesisnya yaitu:
38
H0 diterima jika < maka yang berarti tidak terdapat perbedaan hasil belajar matematika. Jika
maka H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti hasil belajar posttest lebih baik dibandingkan pretest.
Uji hipotesis dilakukan dengan uji t, dengan rumus : ̅̅̅̅ ̅̅̅̅
√
(
√ )(
√ )
Dimana:
̅̅̅ = Banyak siswa pada posttest
̅̅̅ = Banyak siswa pada pretest = Korelasi antara dua sampel = Standar deviasi pada pretest = Standar deviasi pada posttest = Simpangan baku pretest = Simpangan baku posttest.43
Untuk mencari korelasi product momen person dapat digunakan rumus:
∑ ∑ ∑
√ ∑ ∑ ∑ ∑
Harga tersebut dibandingkan dengan . Untuk taraf signifikansi α = 0,05 dan dk = n – 2 jika
maka Ha diterima dan Ho ditolak. Dan jika
maka Ha ditolak dan Ho diterima. Untuk mengetahui berapa besar persen pengaruh model PjBL terhadap kemampuan berpikir kreatif matematika siswa kelas X SMK.
4. Uji Keterlaksanaan Pembelajaran
a) Lembar Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran
Lembar observasi yang digunakan untuk mengetahui sampai mana ketercapaian keefektifan atau keterlaksanaan pembelajaran selama diberikan perlakuan model pembelajaran
43 Syofian Siregar,” Metode Penelitian Kuantitatif Dilengkapi Dengan Perbandingan,Perhitungan Manual Dan SPSS”(Jakarta: kencana , 2017),hlm. 191
39
Project Based Learning (PjBL). Pengamatan dilakukan sejak kegiatan awal hingga kegiatan akhir dan dibantu oleh seorang guru sebagai observer. Pengkategorian skor keterlaksanaan pembelajaran terdiri dari 2 kategori yaitu “Ya” dengan skor 1 dan “Tidak” dengan skor 0. Kemudian data atau informasi yang diperoleh akan di analisis menggunakan persamaan berikut:
%Keterlaksanaan
RPP = ∑
40 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2021/2022, di mulai dari tanggal 28 April - 28 mei 2022 pada siswa kelas X SMK Islam Raudlatul Husna. Dan adapun jadwal penelitian dapat dilihat dalam Tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1 Jadwal Penelitian
No Hari/ Tanggal Waktu Kegiatan 1 Kamis, 28
April 2022
- Mengantar surat izin melakukan penelitian ke
sekolah 2 Sabtu, 30 April
2022
80 menit
Memberikan tes awal (pretest) kepada siswa 3 Kamis, 5 Mei
2022
80 menit
Mengajar pertemuan ke-1 sesuai RPP I 4 Sabtu, 7 Mei
2022
80 menit
Mengajar pertemuan ke-2 sesuai RPP II 5 Kamis, 12 Mei
2022
80 menit
Mengajar pertemuan ke-3 sesuai RPP III 6 Sabtu, 14 Mei
2022
80 menit
Mengajar pertemuan ke-4 sesuai RPP IV 7 Kamis , 19
Mei 2022
80 menit
Mengajar pertemuan ke-5 sesuai RPP V 8 Sabtu, 21 Mei
2022
80 menit
Memberikan tes akhir (posttest) kepada siswa 9 Senin, 23 Mei
2022
- Melaksanakan wawancara 10 Selasa, 24 Mei
2022
- Meminta surat pernyataan telah melaksanaan kegiatan
penelitian di sekolah B. Hasil Penelitian
1. Keterlaksanaan Pembelajaran
Pada analisis keterlaksanaan pembelajaran langsung diamati oleh observer dengan menggunakan lembar observasi
41
keterlaksanaan pembelajaran yang di isi langsung oleh observer pada saat mengamati proses pembelajaran berlangsung dari awal pertemuan sampai akhir. Adapun hasil analisis observer terkait keterlaksanaan pembelajaran sebagai berikut:
a. Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran
Observasi keterlaksanaan ini bertujuan untuk mengamati cara mengajar peneliti. Pada lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran berisi langkah menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) yang dilaksanakan oleh peneliti yang bertindak sebagai guru.
Adapun hasil analisis keterlaksaan pembelajaran untuk guru dan pembelajaran untuk siswa sebagai berikut:
Tabel 4.2
Persentase Keterlaksanaan pembelajaran untuk Guru No Pertemuan Persen (%) Keterangan
1 I 80% Cukup Baik
2 II 85% Baik
3 III 92% Sangat baik
4 IV 93% Sangat baik
5 V 93% Sangat baik
Pada Tabel 4.2 tentang hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran untuk guru di atas dapat disimpulkan bahwa pada pertemuan pertama sebesar 80%
termasuk dalam katagori cukup baik, pertemuan kedua sebesar 85% termasuk dalam katagori baik, dan pertemuan ketiga sampai kelima hasilnya sangat baik.
Tabel 4.3
Persentase Keterlaksanaan pembelajaran untuk siswa No Pertemuan Persen (%) Keterangan
1 I 80% Cukup Baik
2 II 85% Baik
3 III 92% Sangat baik
4 IV 93% Sangat baik
5 V 93% Sangat baik
42
Pada Tabel 4.3 tentang hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran untuk siswa di atas dapat disimpulkan bahwa pada pertemuan pertama sebesar 80%
termasuk dalam katagori cukup baik, pertemuan kedua sebesar 85% termasuk dalam katagori baik, dan pertemuan ketiga sampai kelima hasilnya sangat baik.
2. Hasil Tes
Data yang akan dianalisis pada penelitian ini adalah data tes, langkah pembelajaran matematika dengan kemampuan berpikir kreatif matematika siswa pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV), yang meliputi tes awal siswa (Pre-test) dan tes akhir siswa (Posttest).
a. Uji Deskriptif Data
Penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel 1(X1) dan variabel 2 (X2). Data variabel 1 (X1) yaitu model pembelajaran PjBL dan data variabel 2 (X2 )yaitu kemampuan berpikir kreatif. Dan data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu data nilai hasil pre-test dan posttest siswa kelas eksperimen yaitu kelas X sebanyak 21 siswa yang dilaksanakan di SMK Islam Raudlatul Husna Kepok pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2021/2022. Pada kelas eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran yaitu model Project Based Learning (PjBL), dan Materi pembelajaran pada penelitian eksperimen ini sesuai dengan RPP yang dilampirkan pada lampiran yaitu dengan materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV).
Penelitian ini dilakukan sebanyak 7 kali pertemuan, yang mana untuk kegiatan pembelajarannya dilakukan 5 kali pertemuan, masing-masing pertemuan berdurasi selama 2 40 menit atau 80 menit. Pada pertemuan pertama yakni diberikan pretest kepada siswa dengan soal essay sebanyak 2 soal, yang mana pretest atau tes awal ini diberikan kepada siswa dengan tujuan untuk melihat perbedaan berikir kreatif
43
siswa sebelum dan setelah diterapkannya model pembelajaran Project Based Learning (PjBL).
Pertemuan ke 2,3,4,5 dan ke 6 dilakukannya proses pembelajaran dengan menggunakan metode Project Based Learning dengan tahapan pembelajaran pada pertemuan 2 yakni yang pertama peneliti memberikan pertanyaan mendasar kepada siswa terkait materi pelajaran yakni SPLDV. Baru setelah itu peneliti memulai pembelajaran dan peneliti memberikan penjelasan mengenai Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Setelah peneliti memberikan sedikit penjelasan terkait sistem persamaan linear dua variabel dan memberikan contoh soal, kemudian peneliti membagi siswa menjadi 4 kelompok diskusi dimana setiap kelompok terdiri dari 5 orang siswa. Kemudian peneliti mengarahkan siswa untuk berdiskusi tentang sistem persamaan linear dua variabel. Lalu peneliti memberikan tugas dan meminta siswa mengerjakan tugas di lembar kerja siswa (LKS 1).
Kemudian dalam proses pembelajaran peneliti memberikan siswa arahan dalam mengerjakan tugas, serta memonitor kegiatan siswa selama proses mengerjakan tugas, baru setelah itu peneliti meminta salah satu kelompok untuk mempersentasikan hasil kerja kelompoknya dan kelompok yang lainnya mendengarkan dan menanggapi. Setelah itu peneliti bersama dengan siswa menyimpulkan hasil persentasi dan yang terakhir menutup kegiatan pembelajaran dengan mengucap salam.
Untuk pertemuan ke-3 peneliti melakukan pembukaan yang sama seperti pada pertemuan sebelumnya lalu melanjutkan kembali pembelajaran dengan model pembelajaran PjBL dengan menggunakan LKS 2 dan begitupun seterusnya sampai dengan pertemuan yang ke-6 peneliti menggunakan LKS yang berbeda sesuai dengan pertemuan (RPP) yang digunakan, baru yang terakhir di pertemuan yang ke-7 peneliti memberikan Posttest atau tes akhir kepada siswa untuk melihat bagaimana pengaruh
44
pemberian model pembelajaran Project Based Learning terhadap kemampuan berpikir kreatif matematika siswa kelas X SMK Islam Raulatul Husna pada materi SPLDV.
Dalam proses pembelajaran menggunakan model Project Based Learning (PjBL), setiap pertemuan diberikan LKS untuk melihat bagaimana hasil berpikir kreatif siswa.
Hasil dari pemberian LKS tersebut sangat baik, dimana peningkatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal sangat signifikan, mulai dari LKS 1 sampai LKS 5 setiap kelompok menyelesaikan soal dengan benar walaupun ada jawaban yang masih ada perbaikan, namun dengan adanya pemberian LKS pada setiap pertemuan mampu meningkatkan berpikir kreatif matematika siswa.
Setelah data hasil perolehan pretest dan juga posttest terkumpul, baru kemudian data tersebut akan di analisis.
Berdasarkan data diperoleh hasil pretest dan posttest siswa sebagaimana yang tertera dalam tabel berikut
Tabel 4.4
Hasil Uji Deskriptif Data Pretest Descriptive Statistics
N Mini
mum
Maxim um
Mea n
Std.
Deviati on
Vari anc e Soal_1
_Pretest
21 7 13 8.86 1.769 3.12
9 Soal_2_
Pretest
21 0 13 7.38 2.991 8.94
8 Total_Skor
_Pretest
21 10 26 16.2
4
4.146 17.1 90 Valid
N (listwise) 21
45
Tabel 4.5
Hasil Uji Deskriptif Data Posttest
T
T a b
Tabel di atas menunjukkan adanya perbedaan perhitungan statistik deskriptif antara Preetest dan Posttest.
Dari tabel tersebut didapat bahwa hasil rata-rata kemampuan berpikir kreatif matematika dapat dilihat bahwa pada hasil Preetest diperoleh nilai rata-rata sebesar 16,24 dan pada hasil Posttest diperoleh nilai rata-rata sebesar 24,48.
3. Hasil Wawancara
Setelah dilaksanakannya penelitian dan pemberian soal Pree-test dan Posttest kepada siswa, kemudian peneliti melakukan wawancara yang digunakan untuk mengetahui bagaimana siswa memahami dan mendapatkan ide untuk menggunakan cara berbeda dalam penyelesaian soal dan bagaimana siswa bisa menjawab soal dengan indikator Orisinil.
Berdasarkan hasil wawancara kepada 7 orang siswa yang menyelesaikan soal dengan indikator Originality atau menjawab soal dengan cara berbeda dari siswa lainnya, siswa bisa menjawabnya karena hasil dari pemberian perlakuan oleh peneliti dengan diberikannya model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dan pemberian LKS dengan cara kerja kelompok. Namun, 3 orang dari 7 siswa tersebut tidak memahami cara yang digunakan akan tetapi mereka hanya ingat cara tersebut tanpa memahaminya.
Descriptive Statistics
N Minim um
Maxim um
Mea n
Std.
Deviati on
Vari ance Soal_1
_Postest
21 10 16 12.8
1
1.750 3.06 2 Soal_2_
Posttest
21 7 16 11.7
1
2.239 5.01 4 Total_Skor
_Posttest
21 19 30 24.4
8
3.516 12.3 62 Valid
N (listwise) 21
46 C. Hasil Analisis Data
a. Uji Prasyarat
Sebelum melakukan uji hipotesis peneliti terlebih dahulu melakukan uji prasyarat. Dimana uji prasyarat ini ada dua diantaranya yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji prasyarat ini juga dilakukan untuk mengetahui jenis uji statistik yang akan digunakan dalam penganalisisan selanjutnya.
1) Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa berdistribusi normal atau tidak. Dalam hal ini, peneliti menggunakan uji liliefors. Dengan hipotesis yakni sebagai berikut:
Ho: Data berdistribusi normal Ha: Data tidak berdistribusi normal
Dan dengan kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut:
Jika sig > 0,05 maka dikatakan data berdistribusi normal.
Jika sig < 0,05 maka dikatakan data tidak berdistribusi normal.
Adapun hasil uji normalitas dengan bantuan SPSS 25 dapat dilihat dalam Tabel berikut:
Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
Pretest .182 21 .069 .918 21 .080
Posttest .128 21 .200* .943 21 .245
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction
Data dikatakan normal jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Data di atas menunjukkan bahwa semua
47
nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Sehingga data sudah berdistribusi normal.
2) Uji Homogen
Uji homogenitas dilakukan untuk memperoleh asumsi bahwa sampel penelitian memiliki kondisi yang sama atau homogenitas.
Adapaun Hipotesis pengujian
H0 = Kedua data mempunyai varians yang sama (homogen)
Ha = Kedua data mempunyai varians yang berbeda (tidak homogen)
Dan dengan kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut:
Jika sig > 0,05 maka dikatakan data homogeny.
Jika sig < 0,05 maka dikatakan data tidak homogeny.
Adapun hasil uji normalitas dengan bantuan SPSS 25 dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 4.7
Hasil Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variances
Levene Statistic df1 df2 Sig.
Varia bel
Based on Mean .821 1 40 .370
Based on Median .481 1 40 .492
Based on Median and with adjuste d df
.481 1 36.619 .492 Based on trimmed
mean
.722 1 40 .400
Berdasarkan Tabel 4.7 di atas,diperoleh hasil nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 artinya bahwa data memiliki varians yang homogen. Setelah diketahui bahwa data Pre-test dan Posttest berdistribusi normal dan homogen langkah pengujian dilanjutkan dengan menggunakan Uji-t sampel berpasangan (paired-sample t test) dengan taraf signifikansi 5%.
48 b. Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pemberian Project Based Learning dalam pembelajaran matematika terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Maka diberikan perlakuan berikir kreatif menggunakan model pembelajaran Project Based Learning dengan membandingkan hasil pre-test dan posttest. Berikut hipotesis yang di uji dengan kriteria pengujian yakni sebagai berikut:
Ho: Tidak terdapat pengaruh model PjBL terhadap kemampuan berpikir kreatif matematika siswa kelas X SMK Tahun Pelajaran 2021/2022.
Ha: Terdapat pengaruh model PjBL terhadap kemampuan berpikir kreatif matematika siswa kelas X SMK Tahun Pelajaran 2021/2022.
Adapun dasar pengambilan keputusan yakni:
Jika nilai signifikansi < 0,05%, maka terdapat pengaruh model pembelajaran PjBL
Jika nilai signifikansi > 0,05% maka tidak terdapat pengaruh model pembelajaran PjBL.
Uji-t sampel berpasangan (paired-sample t test) menggunakan SPSS 25 sebagai berikut :
Tabel 4.8 Hasil Uji Hipotesis
Paired Samples Test Paired Differences
T Df
Sig.
(2- taile
d) Mean
Std.
Deviation
Std. Error Mean
95% Confidence Interval of the
Difference Lower Upper Pair
1
Pretest – Posttest
- 8.238
3.177 .693 -9.684 -6.792 -11.884 20 .000
Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan SPSS 25 diatas, diketahui bahwa nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima atau dengan membandingkan
49
|thitung| > ttabel dengan df = (n-1) yaitu 11,884 > 2,086. Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran Project Based Learning dalam pembelajaran matematika terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa kelas X SMK Islam Raudlatul Husna Kepok tahun pelajaran 2021/2022.
D. Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) terhadap kemampuan berpikir kreatif matematika siswa kelas X SMK Islam Raudlatul Husna Kepok Tahun Pelajaran 2021/2022.
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa data pada hasil pre-test dan posttest yang diberikan kepada siswa, keduanya berdistribusi normal dan data yang digunakan memiliki varians yang homogen. Lalu setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogen maka dilakukan uji hipotesis menggunakan uji-t sampel berpasangan, uji ini digunakan apabila sampel terdiri atas satu kelompok namun diberikan dua perlakuan yang berbeda, dimana dalam penelitian ini peneliti menggunakan SPSS 25 untuk mengolah data. Maka dari itu, hasil perhitungan yang didapatkan pada uji hipotesis menggunakan uji-t sampel berpasangan menunjukkan bahwa thitung > ttabel yang berarti bahwa Ho ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematika siswa pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPDV) dengan menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL).
Dari hasil penelitian diketahui bahwa hasil kemampuan berpikir kreatif matematika siswa setelah diberikan perlakukan dengan menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) lebih meningkat dibandingkan sebelum diberi perlakukan.
Adapun peningkatan yang didapat dari siswa yaitu dimana pada awalnya siswa tidak bisa memecahkan masalah apa yang diminta dalam soal, siswa tidak mampu menyelesaikan permasalahan tersebut menggunakan metode-metode yang tepat dan sebagainya.
Sedangkan setelah diberikan perlakuan maka siswa tersebut bisa
50
mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada, menyelesaikan masalah tersebut dengan menggunakan metode yang diminta dan sebagainya. Hal ini bisa dilihat dari hasil Pre-test siswa yaitu 16,24 dan pada hasil Posttest siswa diperoleh nilai rata-rata sebesar 24,48.
Setelah diketahui hasil rata-rata dari Posttest terhadap kemampuan berpikir kreatif matematika siswa maka selanjutnya dilakukan uji hipotesis, yaitu dengan menggunakan menggunakan uji t sampel berpasangan.
Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan SPSS 25, diketahui bahwa nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima atau dengan membandingkan |thitung| > ttabel
dengan df = (n-1) yaitu 11,884 > 2,086. Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran Project Based Learning dalam pembelajaran matematika terhadap kemampuan berpikir kreati siswa kelas X SMK Islam Raudlatul Husna Kepok tahun pelajaran 2021/2022.
Adanya perbedaan tersebut dipengaruhi oleh perlakuan sebelum dan sesudah diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran Project Based Learning. Dimana dalam proses pembelajaran menggunakan PjBL ini siswa dilibatkan untuk mengikuti beberapa tahapan, diantaranya yaitu: pertama, siswa diberikan pertanyaan awal yang berkaitan dengan SPLDV, peneliti menjelaskan materi terkait definisi SPLDV, kemudian siswa diberikan contoh soal terkait materi yang sudah dijelaskan. Kedua, siswa dibagi menjadi 4 kelompok, dimana satu kelompok terdiri dari 5-6 orang siswa, kemudian siswa diberikan soal/proyek yang akan dikerjakan oleh masing-masing kelompok. Ketiga, siswa diberikan arahan untuk berdiskusi terkait proyek yang diberikan. Keempat, siswa diberikan kesempatan untuk bertanya terkait kendala atau kesulitan yang dialami terkait pengerjaan proyek. Kelima, siswa mempersentasekan hasil kerja kelompoknya kemudian kelompok lain menanggapi. Keenam, mengevaluasi kegiatan selama pelaksanaan pengerjaan proyek.
Jadi, pada tahap ketiga, keempat dan kelima ini siswa diharapkan lebih aktif terutama dalam proses berpikirnya. Karena
51
kekreatifan itu sangat erat kaitannya dengan berpikir, kreatif itu tidak selamanya tentang membuat sesuatu yang baru namun kreatif itu juga menemukan sesuatu yang baru. Ketika siswa sudah mampu berpikir dan mengajukan atau menuangkan hasil pikirannya maka disitulah adanya kekreatifan. Sehingga pada saat siswa diberikan situasi lalu diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau soal maka disitulah munculnya siswa yang kreatif.
Krulik mengemukakan bahwa dalam memahami maupun merencanakan penyelesaian masalah diperlukan suatu kemampuan berpikir kreatif siswa yang memadai, karena kemampuan tersebut merupakan kemampuan berpikir (bernalar) tingkat tinggi setelah berpikir dasar dan kritis. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran diperlukan cara yang mendorong siswa untuk memahami masalah, meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam menyusun rencana penyelesaian dan melibatkan siswa secara aktif menemukan sendiri penyelesaian masalah. Sedangkan Fauzi juga berpendapat bahwa berpikir kreatif yaitu berpikir untuk menentukan hubungan- hubungan baru antara berbagai hal, menemukan pemecahan baru dari suatu soal, menemukan sistem baru, menemukan bentuk artistic baru dan sebagainya. Oleh karena itu dengan berpikir kita dapat menemukan dan menentukan hal-hal baru dalam penyelesaian suatu masalah.44
Berpikir kreatif itu sendiri memiliki 4 aspek atau indikator, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya diantaranya yaitu:
Fluency, Flexibility, Originality dan Elaboration. Untuk lebih jelasnya akan dideskripsikan dari masing-masing aspek tersebut.
Fluency, yang diukur dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam memberikan dua atau lebih alternatif jawaban yang benar.
Flexibility, yang diukur dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam memberikan jawaban yang tepat menurut pemahaman mereka sehingga menghasilkan jawaban yang benar. Originality, yang diukur pada penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam
44 Supardi U.S “Peran Berpikir Kreatif Dalam Proses Pembelajaran Matematika” Jurnal Formatif 2. No. 3 : 256