BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi dan Karakteristik Objek Penelitian
Kabupaten Enrekang merupakan satu diantara 24 Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan dan terletak ditengah-tengah bagian utara Jazirah Sulawesi Selatan yang diapit pada sebelah timur Gunung Latimojong dan sebelah barat terdapat bentangan Sungai Saddang. Secara geografis Kabupaten Enrekang terletak antara 3º14’36” - 3º50’0” Lintang Selatan dan antara 119º40’53” - 120º6’33” Bujur Timur. Jarak dari Ibu Kota Sulawesi Selatan ke Kabupaten Enrekang berjarak 235 Km.
1. Batas Daerah Kabupaten Enrekang
secara administrasi Kabupaten Enrekang mempunyai batas- batas wilayah yakni di Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja kemudian di Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu sedangkan di Sebelah
40
Selatan berbatasan Kabupaten Sidenreng Rappang dan di Sebelah Barat Kabupaten Pinrang.
Setelah setengah dasawarsa telah mengalami perubahan Administrasi pemerintahan baik pada tingkat kecamatan ataupun pada tingkat kelurahan atau desa yang pada awalnya th 1995 hanya mempunyai jumlah 5 Kecamatan dan 54 kelurahan atau desa dan pada th 2008 jumlah kecamatan telah berubah menjadi 12 dan 129 desa atau kelurahan. Adapun pembagian kecamatan dalam lingkup Kabupaten Enrekang antara lain :
a. Kecamatan Alla b. Kecamatan Anggeraja c. Kecamatan Enrekang d. Kecamatan Masalle e. Kecamatan Buntu Batu f. Kecamatan Baroko g. Kecamatan Cendana h. Kecamatan Curio i. Kecamatan Baraka j. Kecamatan Bungin k. Kecamatan Maiwa
Secara umum, bentuk topografi wilayah Enrekang yang juga terkenal dengan sebutan “MASSENREMPULU” yang bermakna wilayah yang terletak di lereng pegunungan. Hal ini memang tepat sebab pada kenyataannya topografi Kabupaten Enrekang sekitar 85% merupakan medan yang
bergelombang, berbukit sampai curam dan hanya sekitar 15% yang merupakan medan berombak sampai landai. Sedangkan ketinggian daerah dari permukaan laut bervariasi antara 47 meter sampai 3.329 meter di atas permukaan laut.
2. Keadaan Sistem Sosial
Penduduk Kabupaten Enrekang lebih dikenal dengan nama MASSENREMPULU, meskipun sampai saat ini belum diakui oleh Pemerintah sebagai salah satu suku yang ada di Sulawesi Selatan. Suku ini terdiri dari tiga etnis yang memiliki ciri khas dan bahasa yang berbeda. Ketiga etnis ini adalah Etnis Duri, Etnis Enrekang dan Etnis Maiwa. Etnis Duri yang mendiami wilayah bagian utara Kabupaten Enrekang yang terdiri atas 8 kecamatan yaitu Kecamatan Alla, Anggeraja, Baraka, Curio, Baroko, Masalle, Malua dan Buntu Batu. Budaya dan adat istiadat etnis ini hampir sama dengan Suku Tana Toraja dan Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Duri. Etnis Enrekang mendiami wilayah bagian tengah Kabupaten Enrekang sampai ke daerah Suppa, Letta dan Batu Lappa di Kabupaten Pinrang, terdiri dari 2 kecamatan yaitu Kecamatan Enrekang dan Cendana. Budaya dan adat istiadat hampir sama dengan budaya dan adat istiadat Suku Bugis adapun Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Toponjo. Etnis yang ketiga adalah etnis Maiwa yang mendiami bagian selatan Kabupaten Enrekang yang terdiri dari dua kecamatan yaitu Kecamatan Maiwa dan Bungin, dimana budaya dan adat istiadatnya menyerupai Suku Bugis tetapi Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Maroangin.
Terbentuknya struktur pelapisan masyarakat Enrekang mulai dari konsep
to manurung bagaimana cara kedatangan to manurung yang tiba-tiba, turun dari langit dan dianggap luar biasa. Dan dapat memberikan sikap kewibawaan yang ampuh dalam menghadapi rakyat. Hal ini pula memberikan satu anggapan bahwa status sosial to manurung dan keturunan lebih tinggi dari pada masyarakat biasa. Pada umumnya masyarakat Enrekang mengenai tiga lapisan masyarakat, yaitu :
a. Golongan To Puang atau Arung (Bangsawan) bagi seluruh masyarakat Enrekang, keturunan Tu Puang Dianggap titisan dewa sehingga mereka mempunyai peran di dalam memegang pucuk pimpinan yang tertinggi dalam suatu daerah kekuasaan.
b. Golongan “To Maradeka”(Rakyat Biasa) golongan ini mempunyai golongan tengah dimana mereka tidak sebagian kaum bangsawan (penguasa) dan bukan tergolong orang yang diperhamba.
c. Golongan “To Kaunan”(Hamba milik To Puang) golongan yang diperhamba ataupun abdi dari orang lain.
3. Pemerintahan
Pada mulanya terbentuk Kabupaten Enrekang yang telah berapa kali telah mengalami pergantian Bupati sampai sekarang.Pelantikan Bupati Enrekang yang pertama yaitu pada tanggal 19 Februari 1960 dan telah ditetapkannya sebagai hari terbentuknya Daerah di Kabupaten Enrekang.Berikut adalah daftar di Bupati Kabupaten Enrekang yang menjabat sejak pembentukan pada tahun 1960.
a. Andi Babba Mangopo (1960-1963) b. Muhammad Nur (1963-1964)
c. Muhammad Chatib Lasiny (1964-1965) d. Bambang Sutrisna (1965-1969)
e. Abdullah Rachman, B.A (1969-1971) f. Drs. Mappaturung Parawansa (1971-1973) g. Mochammad Daud (1973-1978)
h. H. Abdullah Dollar, B.A (1978-1983)
i. Muhammad Saleh Nurdin Agung (1983-1988) j. Mayjen. TNI H.M. Amin Syam ( 1988-1993) k. Andi Rachman (1993-1998)
l. Drs. Andi Iqbal Mustafa (1998-2003) m. Ir.H.La Tinro La Tunrung (2003-2013)
n. Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd (2013-Sekarang) 4. Keadaan Penduduk
Adapun jumlah penduduk di Kabupaten Enrekang di beberapa Kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk di Kabupaten Enrekang, 2020
No Nama Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 Cendana 4254 4579 8833
2 Baraka 11347 11108 22455
3 Buntu Batu 6955 6647 13602
4 Anggeraja 12643 12687 25330
5 Malua 3989 4178 8167
6 Alla 11380 10821 22201
7 Curio 8243 7865 16108
8 Masalle 6593 6288 12881
9 Baroko 5444 5139 10583
10 Enrekang 15727 16494 32221
11 Bungin 2264 2187 4451
12 Maiwa 12358 12424 24782
Sumber : BPS Kabupaten Enrekang, dalam angka 2020
5. Keadaan Penderita Gizi Buruk
Tabel 4.2
Kondisi Penderita Gizi Buruk pada Tahun 2018 No. Puskesmas Nama Anak Jenis
Kelamin
Penyakit
1. Kabere Askar Laki- laki Infeksi Otak Kecil 2. Sudu M. Ridwan Laki- laki Kejang- kejang 3. Sudu Nurmainnah Perempuan
4. Kota Nur Azizah Laki- laki Bronkopneumonia 5. Masalle Wahdania Perempuan Serebias apiasia 6. Anggeraja Alifah Perempuan Infeksi TB 7. Anggeraja Asmaul Husna Perempuan Pneumonia
8. Anggeraja Ilham Perempuan Sindrom
9. Baraka Anindita Laki- laki Jantung
10. Maiwa Muh. Taufik Laki- laki Cacat bawaan sejak lahir
Sumber : BPS Kabupaten Enrekang, dalam angka 2018 Tabel 4.3
Kondisi Penderita Gizi Buruk pada Tahun 2019 No Puskesmas Nama Anak Jenis Kelamin Penyakit 1. Sudu M. Ridwan Laki- laki Kejang- kejang
2. Maiwa Muh. Taufik Laki- laki Cacat bawaan sejak lahir
3. Kota Nurdina
Batrisa
Perempuan Jantung
4. Baroko Zaqwan Laki- laki Pneumonia
5. Anggeraja Nurfitri Jumisa
Perempuan Prematur
6. Anggeraja Afif Perempuan Bronkopneumonia Sumber : BPS Kabupaten Enrekang, dalam angka 2019
Tabel 4.4
Kondisi Penderita Gizi Buruk pada Tahun 2020 No Puskesmas Nama Anak Jenis Kelamin Penyakit 1. Sudu M. Ridwan Laki- laki Kejang- kejang 2. Sudu Muh. Fatur R Laki- laki
3. Kota Nurdina
Batrisa
Perempuan Jantung Bocor
4. Maiwa Alif Rosul Laki- laki Susp.Cerebral Palsy 5. Maiwa Chairul
Mubarak
Laki- laki Cacat bawaan
6. Kota Rafik Laki- laki Pneumonia
Sumber : BPS Kabupaten Enrekang, dalam angka 2020 Tabel 4.5
Jumlah Penderita gizi buruk dari Tahun 2018 – 2020
Tahun Jenis kelamin Jumlah
Laki- laki Perempuan
2017 5 5 10
2018 3 3 6
2019 5 1 6
Sumber : BPS Kabupaten Enrekang, dalam angka 2018-2020 6. Visi Misi Kabupaten Enrekang
Di Kabupaten Enrekang sebagai daerah yang bisa dikatakan cukup potensial dilihat dari segi sumber daya alamnya. Tingkat aksesibilitas dukungan sarana dan prasarana sesungguhnya kemungkinan untuk mencapai daerah agropolitan dimana pola pengembangan sektor pertanian selanjutnya akan memberi efek eksternal terhadap tumbuh kembang berbagai sektor lainnya, seperti industri pengolahan perdagangan, lembaga keuangan dan sebagainya.
Pengembangan daerah agropolitan dimaksud yaitu harus tetap mengacu kepada prinsip-prinsip otonomi dan kemandirian yang melalui pengembangan interkoneksitas antara daerah, baik di Sulawesi Selatan maupun diluar Sulawesi
Selatan. Pembangunan daerah harus dipandang dalam perspektif masa depan sehingga pelaksanaanya, pembangunan akan selalu ditempatkan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, kerangka pembangunan yang seperti itu akan menempatkan aspek kelestarian lingkungan sebagai persyaratan paling utama.
proses untuk pencapaian Visi yang telah ditetapkan. Adapun Misi Kabupaten Enrekang ialah :
a. Pilar pendukung perekonomian bagi perkembangan perekonomian Sulsel melalui pengembangan bagai komoditas unggulan khususnya pada sektor pertanian.
b. Untuk mengembangkan kerja sama kawasan dan keterkaitan fungsional, antara daerah agar tetap mengacu pada semangat kemandirian dan otonomi.
c. Untuk mengembangkan implementasi pembangunan yang lebih menekankan, pada perkembangan di bagian kawasan Timur Enrekang dalam rangka mewujudkan keseimbangan pembangunan antar wilayah di Kabupaten Enrekang.
d. Melakukan penataan tata ruang yang mampu memberi peluang bagi terciptanya struktur ekonomi dan wilayah yang kuat sehingga memungkinkanya munculinterkoneksitas dan antara wilayah.
e. Menomorsatukan norma dan nilai budaya tradisional maupun keagamaan seperti kejujuran, keadilan, keterbukaan, saling menghormati, semangat gotong royong, dan kerjasama dalam berbagai aktivitas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.
7. Tujuan
Merupakan penjabaran dari, misi-misi dan telah bersifat operasional tentang apa saja yang dicapai:
a. Komoditas unggulan, Kabupaten Enrekang mampu memenuhi dari kebutuhan pasar lokal dan regional maupun untuk kebutuhan ekspor.
b. Pembangunan sumber daya yang menjadi pilar pendukung ekonomi kerakyatan.
c. Tercapainya kerja sama antara wilayah dan antara kawasan dalam Kabupaten Enrekang.
d. Terwujudnya kerja sama antara pemerintah di Kabupaten Enrekang dengan berbagainya macam pihak
e. Meningkatkan pengelolaan potensi kawasan timur Kabupaten Enrekang.
f. Terwujudnya penataan wilayah, kawasan yang digunakan dan berhasil.
g. Terwujudnya, peningkatan kesejahteraan sosial.
h. Terwujudnya, ketahanan budayanya dan spiritual.
i. Terwujudnya pemerintahan yang baik partisipatif transparan dan akuntabel.
j. Untuk Tercapai peraturan dan keamanan ataupun ketertiban dalam masyarakat.
8. Sasaran
Sasaran yaitu penjabaran dari tujuan, dapat terukur tentang apa saja yang akan dicapai atau yang akan dihasilkan. Fokus utama sasaran adalah tindakan dan alokasi sumber daya daerah dalam kegiatan pemerintahan Kabupaten Enrekang
yang bersifat spesifik dapat dinilai, diukur, dan dapat dicapai dengan berorientasi pada hasil yang dicapai dalam kurun waktu 5 (lima) tahun. Sasaran pemerintah Kabupaten Enrekang yaitu :
a. Meningkatkan daya saing komoditas yang unggulan di Kabupaten Enrekang.
b. Tumbuh kembangnya sistem perdagangan dan perekonomian.
c. Meningkatnya sarana dan prasarana fisik pemerintahan.
d. berkembangnya sarana dan prasarana perhubungan.
e. Meningkatnya kemampuan pembiayaan.
f. Meningkatnya kualitas pelaku ekonomi.Terjalinnya kerja sama dengan pihak luar negeri dalam berbagai bidang pembangunan.
g. Terwujudnya pemberdayaan Kecamatan dan Desa/Kelurahan.
h. Meningkatnya kerjasama dengan pemerintah Provinsi dalam berbagai bidang pemerintahan pembangunan dan kemasyarakatan.
i. Meningkatnya kerjasama dengan pemerintah Kabupaten dalam berbagai bidang pembangunan
j. Meningkatnya kerja sama dalam berbagai bidang.
k. Terjadinya pemanfaatan lahan sesuai dengan peruntukan atau kesesuaian lahan.
l. Tercipta pelestarian alam maupun lingkungan hidup.
m. Peningkatan penyelenggaraan pendidikan.
n. Meningkatnya ketahanan budaya dan kehidupan keagamaan.
o. Meningkatnya status
p. Sosial masyarakat.
q. Meningkatnya derajat kesejahteraan masyarakat.
r. Tercapahokum dan penegakan hukum.
s. Bertambah kualitas aparatur.
t. Meningkatnya wawasan kebangsaan.
9. Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang
Dinas Kesehatan (DINKES) daerah / wilayah Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan berada di jalan Sultan Hasanuddin Kec. Enrekang, Kab.
Enrekang merupakan instansi yang bertanggung jawab mengenai kesehatan.
Dinkes Kabupaten Enrekang memiliki tugas untuk merumuskan kebijakan bidang kesehatan, melaksanakan evaluasi dan pelaporan bidang kesehatan, melaksanakan administrasi.
10. Struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang a. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang
b. Sekertaris
1) Sub Bagian Kepegawaian.
2) Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan.
c. Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan 1) Seksi Pelayanan Kesehatan .
2) Seksi Kefarmasian, Alat Kesehatan dan PKRT.
3) Seksi Pembiayaan dan Sumber Daya Manusia Kesehatan.
d. Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit 1) Seksi Surveilans Imunisasi dan Kesehatan Matra.
2) Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular.
3) Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa.
e. Bidang Kesehatan Masyarakat
1) Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi.
2) Seksi Promosi dan Pemberdayaan masyarakat.s 3) eksi Kesehatan Lingkungan, Kesker dan Olahraga.
11. Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang a. Visi
Visi berkaitan dengan pandangan ke depan menyangkut kemana instansi pemerintah harus dibawa dan diarahkan agar dapat bekerja secara konsisten, eksis, antisipatif, inovatif, serta produktif. Dimana visi instansi tersebut perlu ditanamkan pada setiap unsur organisasi sehingga menjadi visi bersama (shared vision) yang pada gilirannya mampu mengarahkan dan menggerakkan segala sumber daya instansi. Dengan memperhatikan dasar- dasar pembangunan kesehatan, maka visi Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang adalah “terwujudnya masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat menuju Enrekang, Maju, Aman, dan Sejahtera”. Dengan visi Dinas Kesehatan ini, diharapkan Dinas Kesehatan sebagai leading sector pelaksanaan pembangunan kesehatan untuk terwujudnya Kabupaten Enrekang sehat mandiri Tahun 2018. Enrekang sehat adalah suatu kondisi yang merupakan gambaran masyarakat Indonesia dimasa depan, yakni masyarakat, bangsa dan Negara.
b. Misi
Dalam rangka mewujudkan visi “terwujudnya masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat menuju Enrekang Maju, Aman dan Sejahtera” tersebut, maka Misi Dinas Kesehatan Enrekang adalah sebagai berikut :
1) Memberdayakan masyarakat agar mandiri untuk hidup sehat 2) Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata,
terjangkau dan berkesinambungan.
3) Meningkatkan upaya pengendalian penyakit dan masalah kesehatan.
4) Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak, lanjut usia dan gizi masyarakat.
12 Tujuan
sebagai penjabaran dari visi Dinas Kesehatan, maka tujuan yang akan dicapai dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan khusus di Kabupaten Enrekang adalah :
a. Misi : Memberdayakan masyarakat agar mandiri untuk hidup sehat b. Tujuan :
1) Memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat agar mau dan mampu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
2) Mengembangkan upaya kesehatan berbasis masyarakat 3) Mewujudkan lingkungan sehat
c. Misi : Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, terjangkau dan berkesinambungan.
d. Tujuan :
1. Meningkatkan akses, pemerataan dan kualitas pelayanan kesehatan dasar
2. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan rujukan
3. Menjamin ketersediaan, keterjangkauan, mutu, pemerataan dan pemanfaatan obat dan perbekalan kesehatan serta pengawasan bahan bahaya
4. Meningkatkan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya dalam upaya pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan.
5. Mengembangkan kebijakan, sistem pembiayaan dan manajemen kesehatan
e. Misi : Meningkatkan upaya pengendalian penyakit dan masalah kesehatan.
f. Tujuan :
1. Mencegah, menurunkan dan mengendalikan penyakit menular dan tidak menular serta masalah kesehatan lainnya
2. Meningkatkan surveilans dalam upaya sistem kewaspadaan dini KLB dan bencana.
g. Misi : meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak, lanjut usia dan gizi masyarakat.
h. Tujuan :
1) Meningkatkan akses, pemerataan dan kualitas pelayanan kesehatan keluarga
2) Meningkatkan akses, pemerataan dan kualitas pelayanan kesehatan
lanjut usia
3) Meningkatkan kesadaran gizi keluarga dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat.
13. Sasaran
Agar pembangunan kesehatan dapat terselenggara secara berhasil guna dan berdaya guna maka ditetapkan sasaran yang ingin dicapai sampai akhir tahun 2019 yaitu :
a. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat
b. Meningkatkan akses pelayanan upaya kesehatan berbasis masyarakat c. Meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan
d. Meningkatkan akses, pemerataan dan kualitas pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan penunjang
e. Terwujudnya jejaring rujukan antar unit pelayanan kesehatan untuk penanggulangan masalah kesehatan
f. Terpenuhinya ketersediaan, keterjangkauan, mutu, pemerataan dan pemanfaatan obat dan perbekalan kesehatan
g. Meningkatnya sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya
h. Tersedianya kebijakan sistem pembiayaan dan manajemen kesehatan yang akuntabel dalam mendukung pembangunan kesehatan
i. Meningkatnya cakupan imunisasi yang merata di semua desa, menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular.
14. Struktur Organisasi a. Kepala Badan
1) Sekertaris
2) Sub Bagian Kepegawaian
3) Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan b. Bidang Pelayanan dan sumber daya kesehatan
1) Seksi Pelayanan Kesehatan
2) Seksi Kefarmasian,Alkes dan PKRT 3) Seksi Pembiayaan dan SDM Kesehatan c. Bidang Pencegahan dan Pengendalian penyakit
1) Seksi Surveilans, Imunisasi dan Kesehatan Matra 2) Seksi Pencegahan dan pengendalian penyakit menular
3) Seksi pencegahan dan pengendalian Penyakit tidak menular dan Kesehatan jiwa
STRUKTUR ORGANISASI DINAS KESEHATAN KAB ENREKANG
STANDAR PELAYANAN GIZI
Tabel 4.6
Komponen Standar Pelayanan yang terkait dengan proses penyampaian pelayanan.
NO KOMPONEN URAIAN
1 Persyaratan Pelayanan Resep dari Poli 2 Sistem, Mekanisme
dan Prosedur
a. Pasien/ Klien datang mendaftar ke loket
pendaftaran di puskesmas.
b. Pasien/ Klien mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan masalah kesehatannya di poli umum atau poli KIA atau poli gigi, atau poli lansia oelh petugas
c. Di Poli umum, poli KIA, poli gigi, dan poli lansia pasien sekaligus mendapatkan skrining gizi oleh tenaga kesehatan. Pasien akan dirujuk untuk mendapatkan pemeriksaan penunjang apabila diperlukan seperti pemeriksaan laboratorium.
d. Pasien yang berisiko atau tidak berisiko mengalami masalah gizi mendapatkan konseling gizi. Jika diperlukan akan dilakukan skrining gizi ulang oleh tenaga gizi
e. Pasien yang mengalami masalah gizi mendapatkan pelayanan gizi yang sesuai proses asuhan gizi terstandar
(PAGT) mulai dari pengkajian gizi, diagnosa gizi, intervensi gizi, monitoring dan evaluasi
f. Hasil monitoring dan evaluasi ditindaklanjuti oleh petugas gizi di puskesmas. Tindak lanjut dapat berupa rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi apabila masalah gizi dengan penyakit penyerta dan atau komplikasi yang dialami tidak memungkinkan ditangani di puskesmas atau dapat berupa pengkajian ulang baik masalah medis maupun masalah gizi.
g. Pasien mendapatkan obat sesuai masalah kesehatannya dari bagian apotik
3 Jangka Waktu Penyelesaian
a. Pelayanan ibu hamil (konseling) selama 10-20 menit
b. Pelayanan pasien bayi-balita (konseling) selama
15-30 menit
c. Pelayanan catin (konseling) selama 10 menit
d. Pelayanan pasien PTM (DM,
Hipertensi, asam urat, kolesterol, dll) 10-20 menit
4 Biaya/Tarif Peraturan Daerah No 2 Tahun 2020 Tentang Retribusi
Pelayanan Kesehatan
5 Produk Pelayanan Konseling dan penanganan masalah gizi 6 Penanganan Pengaduan,
Saran dan Masukan
1. WA/ SMS/ Telepon : 082336160971 (bidan Arifah)
2. Email : [email protected] 3. Website :
http://puskesmaskota.enrekangkab.go.id 4. Facebook : puskesmas kotaa Enrekang
5. Kotak Saran dan Kotak pengaduan Sumber : Arsip data Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang
Tabe; 4.7
Komponen standar pelayanan yang terkait dengan proses pengelolaan pelayanan di internal organisasi
NO KOMPONEN URAIAN
1 Dasar Hukum Keputusan Kepala Puskesmas Kota No.
A/I/SK/03/PKM- KT/I/21 tentang jenis pelayanan kesehatan puskesmas kota
2 Sarana, Prasarana dan/atau fasilitas
1. Ruang Konseling
2. Komputer dan jaringannya 3. Peralatan medis pendukung
3 Kompetensi Pelaksana Minimal DIII gizi dengan pengalaman kerja minimal 3 tahun
4 Pengawasan Internal 1. Supervisi oleh atasan langsung
2. Dilakukan system pengendalian mutu internal oleh auditor internal puskesmas 5 Jumlah Pelaksana Minimal 1 orang tenaga gizi
6 Jaminan Pelayanan Pelayanan yang diberikan secara cepat, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan (sesuai dengan standar pelayanan)
7 Jaminan keamanan dan keselamatan pelayanan
1. Informasi tentang rekam medis pasien dijamin kerahasiaannya
2. Peralatan medis yang digunakan sesuai standar sterilitas dan standar kalibrasi masing-masing alat
3. Obat, Vaksin, reagen yang digunakan dijamin masa berlaku penggunaannya (tidak kadaluawarsa)
8 Evaluasi Kinerja Pelaksana 1. Evaluasi kinerja dilakukan melalui Lokakarya Mini
Bulanan Puskesmas
2. Evaluasi berdasarkan pengawasan atasan langsung terkait kinerja dan kedisiplinan 3. Survei Indeks kepuasan masyarakat Sumber : Arsip data Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang
Program Kerja Meningkatnya Status Gizi Masyarakat Kabupaten Enrekang Meningkatnya Status Gizi Masyarakat’’ Sasaran ini diukur melalui 10 (sebelas) indikator kinerja dan mendapatkan angka capaian kinerja sasaran sebesar 95,68%. Hasil pengukuran capian kinerja sasaran Meningkatnya Status Gizi Masyarakat disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 2.
Tabel 4.8
Program Kerja Dinas Kesehatan
No Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian 1. Prevalensi Balita Gizi Buruk 5,0% 5,0% 100%
2. Prevalensi Balita Gizi
Kurang 18,1% 20,2% 89,6%
3. Prevalensi Balita Stunting 34,55% 35,7% 96,8%
4.
Cakupan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) pada anak usia 6- 24 bulan keluarga miskin
45% 100% 100%
5. Cakupan Balita gizi buruk
mendapat perawatan 100 % 100 % 100%
6. Cakupan D S Posyandu 87% 81% 93,10%
7. Cakupan ASI Eksklusif 83% 68% 81,93%
8. Cakupan Pendistribusian
Vitamin A pada Balita 87% 84,8% 97,47%
9.
Cakupan Ibu hamil yang mengkonsumsi tablet Fe 90
tablet 90% 87% 96,67%
10. Cakupan Konsumsi Garam
Beryodium 92% 89,2% 96,96%
11.
Cakupan Kabupaten Enrekan yang melaksanakan
Surveilans Gizi 100% 100% 100%
Rata-rata Capaian 95,68%
Sumber : Arsip data Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang
Dari tabel tersebut di atas terlihat bahwa dari 11 indikator kinerja terdapat 4 (empat) indikator kinerja yang telah mencapai target yang ditetapkan yaitu :
1. Prevalensi Balita Gizi Buruk
2. Cakupan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) pada anak usia 6-24 bulan keluarga miskin
3. Cakupan Balita gizi buruk mendapat perawatan
4. Cakupan Kabupaten yang melaksanakan Surveilans Gizi
Selanjutnya terdapat 5 (lima) indikator lainnya walaupun belum mencapai target namun dapat dikategorikan baik karena besaran capaian hampir mencapai target (± 95% dari target), yaitu :
1. Prevalensi Balita Stunting 2. Cakupan D S Posyandu
3. Cakupan Pendistribusian Vitamin A pada Balita
4. Cakupan Ibu hamil yang mengkonsumsi tablet Fe 90 tablet 5. Cakupan Konsumsi Garam Beryodium
Sedangkan 2 (dua) Indikator lainnya yang capaian kinerja masih di bawah 90%, yaitu :
1. Prevalensi Balita Gizi Kurang 2. Cakupan ASI Eksklusif
Hasil pengukuran 2 indikator kinerja di atas menjadi perhatian lebih bagi Dinas Kesehatan Enrekang untuk lebih meningkatkan kinerja dan upaya-upaya peningkatan status gizi masyarakat, karena status gizi masyarakat tidak hanya berperan dalam program penurunan prevalensi balita pendek, namun juga terkait erat dengan tiga program lainnya, mengingat status gizi berkaitan dengan kesehatan fisik maupun kognitif, mempengaruhi tinggi rendahnya risiko terhadap penyakit tidak menular dan berpengaruh sejak awal kehidupan hingga masa usia
lanjut.
Hasil pengukuran indikator kinerja pada sasaran ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Prevalensi Balita Gizi Buruk
Sebagai sebuah gejala sosial, gizi buruk bukanlah suatu gejala yang berdiri sendiri. Gizi buruk memiliki relasi yang sangat erat dengan gejala sosial yang lainnya termasuk sindrom kemiskinan dan masalah ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Gizi buruk juga tak bisa dilepaskan dari aspek yang menyangkut pengetahuan dan perilaku yang kurang mendukung pola hidup sehat.
Kriteria Gizi buruk yang menjadi sasaran indikator kinerja program gizi masyarakat yaitu status gizi diukur berdasarkan indeks berat badan menurut panjang badan (BB PB) atau Berat badan menurut tinggi badan (BB TB) dengan nilai z-score ≤3 SD dan atau terdapat tanda klinis gizi buruk.
Dan selanjutnya seluruh gizi buruk dengan kriteria tersebut diatas harus dilakukan perawatan.
2. Prevalensi Balita Gizi Kurang
Indikator status gizi ini berdasarkan indeks BB U yang memberikan informasi mengenai indikasi masalah gizi secara umum. Indikator ini tidak memberikan indikasi tentang masalah gizi yang sifatnya kronis ataupun akut karena berat badan berkorelasi positif dengan umur dan tinggi badan.
Indikator BB U yang rendah dapat disebabkan karena pendek (masalah gizi kronis) atau sedang menderita diare atau penyakit infeksi lain (masalah