• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

J. Kerangka Pikir

Berdasarnya digunakan untuk penilaian keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan kegiatan, program, dan atau kebijakan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang ditetapkan dalam rangka mewujudkan misi dan visi instansi pemerintah sebagai pelayanan publik dimana terdapat tindakan dalam mencegah hal-hal yang tidak diingingan di masyarakat dan hal tersebut sala satunya adalah tindakan yang dilakukan dalam hal ini berkaitan dengan istansi dinas Kesehatan di kabupaten enrkang dalam penaggulanagan angga stunting di kabupaten enrekang

Penaggulanagan angka stunting merupakan sala satu program kerja dari dinas Kesahatan untuk mencegah terjadinya gizi buruk di kabupaten enrekang dalam hal ini para tenaga kesehatan selalu aktif dalam mencagah hal tersebut dan melakukan beberapa tindakan seperti, posiandu, mengecek kondisi kehamilan dan pemeberian asi kepada masyarakat yang membutuhkan

Penelitian ini berjudul “PENANGGULANGAN ANGKA STUNTING DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN ENREKANG”. Penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan indikator pengukuran kinerja menurut Wibowo (2007: 160) : ketepatan waktu, cycle time atau siklus waktu, pemanfaatan sumber daya, serta biaya.

K. Fokus Penelitian

Adapun fokus penelitian berdasarkan uraian diatas sebagai berikut :

Tentang kinerja Dinas Kesehatan dalam penanggulangan angka stunting di Kabupaten Enrekang dan kinerja yang dimaksud antara lain Ketepatan Waktu,Siklus Waktu ,Pemanfaatan Sumber daya dan Biaya

Penanggulangan Angka Stunting Di Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang

Ketepatan Waktu Siklus Waktu Pemanfaatan Sumber daya

Biaya

Kinerja Dinas Keshatan dalam penanggulangan angka Stunting di

Kabupaten Enrekang

L. Deskripsi Fokus

Sesuai dengan kerangka pikir yang telah dibuat yang mencakup pengukuran kinerja yaitu ketepatan waktu, cycle time atau siklus waktu, pemanfaatan sumber daya, serta biaya. Yang dijelaskan sebagai berikut : 1. Ketepatan waktu adalah suatu proses pemanfaatan informasi oleh sang

pengambil keputusan dimana ketepatan waktu ini menyangkut tentang proses pengantisipasian yang dilakukan mulai dari tahap kehamilan hingga sampai pada saat melahirkan. Adapun ketepatan waktu yang dilakukan dalam penanggulangan stunting sebagai berikut :

a) Melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai stunting,ciri- ciri, dan dampak untuk anak.

b) Melakukan pemeriksaan secara rutin selama masa kehamilan serta segera mengkonfirmasi ke puskesmas atau rumah sakit terdekat apabila merasakan kelainan pada janin.

c) Menghindari hal-hal yang dapat mempengaruhi perkembangan janin saat masa kehamilan dan selalu mengkonsumsi nutrisi yang baik untuk janin.

2. Cycle time atau siklus waktu yaitu waktu yang digunakan dalam proses penanggulangan stunting yakni mulai dari tahap kehamilan, melahirkan, masa bayi, dan sampai pada saat memasuki tahap anak-anak.

a) Melakukan pemeriksaan secara teratur untuk memantau kondisi pertumbuhan kehamilan.

b) Pada masa bayi rutin mengikuti imunisasi terutama imunisasi dasar serta usahakan untuk memberikan ASI sampai anak berusia 6 bulan dan pemberian MPASI yang memadai.

c) Memalukan pemeriksaan secara teratur untuk memantau pertumbuhan serta perkembangan anak mulai :

1) Setiap bulan ketika anak berusia 0 sampai 12 bulan.

2) Setiap 3 bulan sekali saat anak berusia 1 sampai 3 tahun.

3) Setiap 6 bulan sekali saat anak berusia 3 sampai 6 tahun.

4) Dan setiap tahun ketika anak sudah pada usia 6 sampai 18 tahun.

3. Pemanfaatan sumber daya yaitu suatu pengukuran yang dipergunakan dalam memanfaatkan sumber daya yang ada seperti mesin, komputer, kendaraan, dan bahkan orang. Adapun pemanfaatan sumber daya orang yang dimaksud disini yaitu pada tenaga medis dan beberapa bagian tenaga medis sebagai berikut:

a. Dokter b. Mantri c. Perawat d. Suster e. Bidan

4. Biaya yaitu kalkulasi keseluruhan anggaran yang dipergunakan selama proses pelaksanaan dan selama pelaksanaan dalam Penanggulangan Angka Stunting tidak bakalan lepas dari dana dalam Kebutuhan Peralatan

dan bahan, adapun sumber pendanaan dalam pencegahan angka stunting yaitu sebagai berikut : dana pemerintah yang sudah ada sebelumnya baik berasal dari dana Desa (APBD), dana Kabupaten, Dana Alokasi Khusus (DAK), dana Propinsi, dana Kementerian/lembaga (APBN) maupun pendapatan lainnya yang sah.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di wilayah kabupaten Enrekang, khususnya di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang dan beberapa kecamatan yang terlibat lansung dengan sebagai objek penanganan stunting dan dilakukan dalam jangka waktu dua bulan yaitu Bulan Maret-April 2021. Alasan mengambil lokasi tersebut adalah Dinas Kesehatan memegang penuh peranan dalam memantau kondisi kesehatan dalam masyar-akat.

B. Jenis dan Tipe Penelitian

Pada penelitian ini, penulis menggunakan tipe penelitian kualitatif deskriptif. Menurut (Sugiyono, 2012:13) penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul berupa kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka. Metode penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain. Secara holistik dan dengan deskripsi dalam bentuk kata-kata serta bahasa, pada suatu konteks khusus dan alami yang memanfaatkan untuk berbagai metode alamiah.

Dalam metode kualitatif, pengumpulan data tidak dipandu oleh teori, tetapi di pandu oleh kata-kata yang ditemukan pada saat di lapangan, oleh karena itu, analisis data yang dilakukan bersifat induktif berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dan kemudian dapat dikonstruksikan menjadi hipotesis dan teori.

Pendekatan kualitatif tidak hanya mengandalkan bukti berdasarkan logika

35

sistematis, prinsip angka atau metode statistic pembicaraan yang sebenarnya, isyarat dan tindakan sosial lainnya adalah bahan mental untuk analisis kualitatif.

C. Informan

Penentuan informan dilakukan dengan menggunakan dua jenis informan yaitu informan kunci dan informan pendukung. Informan kunci yang dimaksudkan disini adalah seluruh pegawai yang ada di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang, baik PNS maupun Honorer. Adapun informan pendukungnya yaitu masyarakat dari seluruh kalangan yang terlibat dalam program penanggulangan angka stunting dan organisasi masyarakat (ORMAS) seperti PKK dan lain-lainnya dan nama serta jabatan informan sebagai sumber data sebagai berikut :

Tabel 3.1 Nama Nama Informan

NO NAMA INISAL JABATAN

1 H. Gusti Sakaria, S.Kep Ns GS sebagai Kepala Puskesmas Kecamatan Baraka

2 Irda SKM.M.Adm.Kes Ia petugas Bidang Kesehatan Masyarakat

3 Sulhari, SKM.M.Adm.Kes Sr Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat

4 Marlina, S.ST Ma Kepala Puskesmas

Kecamatan Malua

5 Sukraini, S.Km Sn Kepala Puskesmas

Kecamatan Buntu Batu

6 Lilis, S.Km Ls Bidan Puskesmas Kecamatan

Buntu Batu

7 Wija Wa Masyarakat

8 Suci Sc Masyarakat

9 Lahijah Lh Masyarakat

D. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini maka perlu dilakukan dengan menggunakan beberapa cara, diantaranya:

1. Observasi

Observasi yaitu teknik penelitian dengan mendatangi lokasi penelitian, mengadakan pengamatan secara langsung terhadap permasalahan yang akan diteliti khususnya pada objek dan subjek penelitian.

2. Wawancara

Wawancara merupakan suatu proses tanya jawab antara peneliti dengan subjek penelitian atau informan dalam suatu situasi sosial. Dengan memanfaatkan metode wawancara ini, maka penulis dapat menyampaikan sejumlah pertanyaan ke pihak responden secara lisan dengan menggunakan panduan wawancara tiada lain untuk memperoleh data yang dibutuhkan penulis.

3. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu, mencari data mengenai beberapa hal, baik yang berupa catatan yang berkenaan dengan judul penulis dan data dari responden atau catatan- catatan lain yang berhubungan dengan permasalah yang ingin diteliti peneliti.

Metode ini digunakan salah satu pelengkap dalam memperoleh data, tiada lain untuk memperkuat kredibilitas data yang diperoleh.

E. Teknik Pengabsahan Data 1. Perpanjangan Pengamatan

Dalam perpanjangan pengamatan, berarti peneliti memilih melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan beberapa sumber data atau menambah (memperpanjang) waktu untuk observasi. Wawancara yang awalnya hanya satu minggu, maka akan ditambah waktu satu minggu lagi. Dan apabila dalam penelitian ini, data yang telah diperoleh tidak sesuai dan belum cocok maka dari itu akan dilakukan perpanjangan dan pengamatan untuk melakukan keabsahan data. Bila setelah di teliti kembali ke lapangan data sudah benar berarti kredibel, maka waktu perpanjangan pengamatan dapat diakhiri.

2. Meningkatkan ketekunan

Untuk dapat meningkatkan ketekunan, peneliti bisa melakukan dengan sering menguji data dengan teknik pengumpulan data yaitu pada saat pengumpulan data dengan teknik observasi serta wawancara, maka peneliti lebih rajin mencatat hal-hal yang detail dan tidak menunda-nunda dalam merekam data kembali, juga tidak menganggap mudah/enteng data dan informasi.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dipakai penulis adalah analisis data berlangsung atau mengalir (flow model analysis). Ada beberapa langkah-langkah yang dapat dilakukan pada teknik analisis data tersebut, yaitu mengumpulkan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi/menarik kesimpulan.

1. Reduksi data

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok dan memfokuskan pada hal penting, yang di cari tema dan polanya menyambung yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data, dan mencarinya apabila diperlukan.

2. Penyajian data

Setelah data direduksi, maka langkah yang selanjutnya adalah penyajian data. Melalui penyajian data, maka data bisa terorganisasikan dan tersusun dalam pola yang berhubungan sehingga akan semakin mudah di pahami. Pada penelitian kualitatif, penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antara kategori, flowchart dan sejenisnya.

3. Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan dilakukan secara konduktif, kesimpulan yang diambil kemudian di verifikasi dengan jalan meninjau ulang catatan lapangan dan mendiskusikannya guna mendapatkan kesepakatan intersubjektif, hingga dapat diperoleh kesimpulan yang kokoh.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi dan Karakteristik Objek Penelitian

Kabupaten Enrekang merupakan satu diantara 24 Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan dan terletak ditengah-tengah bagian utara Jazirah Sulawesi Selatan yang diapit pada sebelah timur Gunung Latimojong dan sebelah barat terdapat bentangan Sungai Saddang. Secara geografis Kabupaten Enrekang terletak antara 3º14’36” - 3º50’0” Lintang Selatan dan antara 119º40’53” - 120º6’33” Bujur Timur. Jarak dari Ibu Kota Sulawesi Selatan ke Kabupaten Enrekang berjarak 235 Km.

1. Batas Daerah Kabupaten Enrekang

secara administrasi Kabupaten Enrekang mempunyai batas- batas wilayah yakni di Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja kemudian di Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu sedangkan di Sebelah

40

Selatan berbatasan Kabupaten Sidenreng Rappang dan di Sebelah Barat Kabupaten Pinrang.

Setelah setengah dasawarsa telah mengalami perubahan Administrasi pemerintahan baik pada tingkat kecamatan ataupun pada tingkat kelurahan atau desa yang pada awalnya th 1995 hanya mempunyai jumlah 5 Kecamatan dan 54 kelurahan atau desa dan pada th 2008 jumlah kecamatan telah berubah menjadi 12 dan 129 desa atau kelurahan. Adapun pembagian kecamatan dalam lingkup Kabupaten Enrekang antara lain :

a. Kecamatan Alla b. Kecamatan Anggeraja c. Kecamatan Enrekang d. Kecamatan Masalle e. Kecamatan Buntu Batu f. Kecamatan Baroko g. Kecamatan Cendana h. Kecamatan Curio i. Kecamatan Baraka j. Kecamatan Bungin k. Kecamatan Maiwa

Secara umum, bentuk topografi wilayah Enrekang yang juga terkenal dengan sebutan “MASSENREMPULU” yang bermakna wilayah yang terletak di lereng pegunungan. Hal ini memang tepat sebab pada kenyataannya topografi Kabupaten Enrekang sekitar 85% merupakan medan yang

bergelombang, berbukit sampai curam dan hanya sekitar 15% yang merupakan medan berombak sampai landai. Sedangkan ketinggian daerah dari permukaan laut bervariasi antara 47 meter sampai 3.329 meter di atas permukaan laut.

2. Keadaan Sistem Sosial

Penduduk Kabupaten Enrekang lebih dikenal dengan nama MASSENREMPULU, meskipun sampai saat ini belum diakui oleh Pemerintah sebagai salah satu suku yang ada di Sulawesi Selatan. Suku ini terdiri dari tiga etnis yang memiliki ciri khas dan bahasa yang berbeda. Ketiga etnis ini adalah Etnis Duri, Etnis Enrekang dan Etnis Maiwa. Etnis Duri yang mendiami wilayah bagian utara Kabupaten Enrekang yang terdiri atas 8 kecamatan yaitu Kecamatan Alla, Anggeraja, Baraka, Curio, Baroko, Masalle, Malua dan Buntu Batu. Budaya dan adat istiadat etnis ini hampir sama dengan Suku Tana Toraja dan Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Duri. Etnis Enrekang mendiami wilayah bagian tengah Kabupaten Enrekang sampai ke daerah Suppa, Letta dan Batu Lappa di Kabupaten Pinrang, terdiri dari 2 kecamatan yaitu Kecamatan Enrekang dan Cendana. Budaya dan adat istiadat hampir sama dengan budaya dan adat istiadat Suku Bugis adapun Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Toponjo. Etnis yang ketiga adalah etnis Maiwa yang mendiami bagian selatan Kabupaten Enrekang yang terdiri dari dua kecamatan yaitu Kecamatan Maiwa dan Bungin, dimana budaya dan adat istiadatnya menyerupai Suku Bugis tetapi Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Maroangin.

Terbentuknya struktur pelapisan masyarakat Enrekang mulai dari konsep

to manurung bagaimana cara kedatangan to manurung yang tiba-tiba, turun dari langit dan dianggap luar biasa. Dan dapat memberikan sikap kewibawaan yang ampuh dalam menghadapi rakyat. Hal ini pula memberikan satu anggapan bahwa status sosial to manurung dan keturunan lebih tinggi dari pada masyarakat biasa. Pada umumnya masyarakat Enrekang mengenai tiga lapisan masyarakat, yaitu :

a. Golongan To Puang atau Arung (Bangsawan) bagi seluruh masyarakat Enrekang, keturunan Tu Puang Dianggap titisan dewa sehingga mereka mempunyai peran di dalam memegang pucuk pimpinan yang tertinggi dalam suatu daerah kekuasaan.

b. Golongan “To Maradeka”(Rakyat Biasa) golongan ini mempunyai golongan tengah dimana mereka tidak sebagian kaum bangsawan (penguasa) dan bukan tergolong orang yang diperhamba.

c. Golongan “To Kaunan”(Hamba milik To Puang) golongan yang diperhamba ataupun abdi dari orang lain.

3. Pemerintahan

Pada mulanya terbentuk Kabupaten Enrekang yang telah berapa kali telah mengalami pergantian Bupati sampai sekarang.Pelantikan Bupati Enrekang yang pertama yaitu pada tanggal 19 Februari 1960 dan telah ditetapkannya sebagai hari terbentuknya Daerah di Kabupaten Enrekang.Berikut adalah daftar di Bupati Kabupaten Enrekang yang menjabat sejak pembentukan pada tahun 1960.

a. Andi Babba Mangopo (1960-1963) b. Muhammad Nur (1963-1964)

c. Muhammad Chatib Lasiny (1964-1965) d. Bambang Sutrisna (1965-1969)

e. Abdullah Rachman, B.A (1969-1971) f. Drs. Mappaturung Parawansa (1971-1973) g. Mochammad Daud (1973-1978)

h. H. Abdullah Dollar, B.A (1978-1983)

i. Muhammad Saleh Nurdin Agung (1983-1988) j. Mayjen. TNI H.M. Amin Syam ( 1988-1993) k. Andi Rachman (1993-1998)

l. Drs. Andi Iqbal Mustafa (1998-2003) m. Ir.H.La Tinro La Tunrung (2003-2013)

n. Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd (2013-Sekarang) 4. Keadaan Penduduk

Adapun jumlah penduduk di Kabupaten Enrekang di beberapa Kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.1

Jumlah Penduduk di Kabupaten Enrekang, 2020

No Nama Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah

1 Cendana 4254 4579 8833

2 Baraka 11347 11108 22455

3 Buntu Batu 6955 6647 13602

4 Anggeraja 12643 12687 25330

5 Malua 3989 4178 8167

6 Alla 11380 10821 22201

7 Curio 8243 7865 16108

8 Masalle 6593 6288 12881

9 Baroko 5444 5139 10583

10 Enrekang 15727 16494 32221

11 Bungin 2264 2187 4451

12 Maiwa 12358 12424 24782

Sumber : BPS Kabupaten Enrekang, dalam angka 2020

5. Keadaan Penderita Gizi Buruk

Tabel 4.2

Kondisi Penderita Gizi Buruk pada Tahun 2018 No. Puskesmas Nama Anak Jenis

Kelamin

Penyakit

1. Kabere Askar Laki- laki Infeksi Otak Kecil 2. Sudu M. Ridwan Laki- laki Kejang- kejang 3. Sudu Nurmainnah Perempuan

4. Kota Nur Azizah Laki- laki Bronkopneumonia 5. Masalle Wahdania Perempuan Serebias apiasia 6. Anggeraja Alifah Perempuan Infeksi TB 7. Anggeraja Asmaul Husna Perempuan Pneumonia

8. Anggeraja Ilham Perempuan Sindrom

9. Baraka Anindita Laki- laki Jantung

10. Maiwa Muh. Taufik Laki- laki Cacat bawaan sejak lahir

Sumber : BPS Kabupaten Enrekang, dalam angka 2018 Tabel 4.3

Kondisi Penderita Gizi Buruk pada Tahun 2019 No Puskesmas Nama Anak Jenis Kelamin Penyakit 1. Sudu M. Ridwan Laki- laki Kejang- kejang

2. Maiwa Muh. Taufik Laki- laki Cacat bawaan sejak lahir

3. Kota Nurdina

Batrisa

Perempuan Jantung

4. Baroko Zaqwan Laki- laki Pneumonia

5. Anggeraja Nurfitri Jumisa

Perempuan Prematur

6. Anggeraja Afif Perempuan Bronkopneumonia Sumber : BPS Kabupaten Enrekang, dalam angka 2019

Tabel 4.4

Kondisi Penderita Gizi Buruk pada Tahun 2020 No Puskesmas Nama Anak Jenis Kelamin Penyakit 1. Sudu M. Ridwan Laki- laki Kejang- kejang 2. Sudu Muh. Fatur R Laki- laki

3. Kota Nurdina

Batrisa

Perempuan Jantung Bocor

4. Maiwa Alif Rosul Laki- laki Susp.Cerebral Palsy 5. Maiwa Chairul

Mubarak

Laki- laki Cacat bawaan

6. Kota Rafik Laki- laki Pneumonia

Sumber : BPS Kabupaten Enrekang, dalam angka 2020 Tabel 4.5

Jumlah Penderita gizi buruk dari Tahun 2018 – 2020

Tahun Jenis kelamin Jumlah

Laki- laki Perempuan

2017 5 5 10

2018 3 3 6

2019 5 1 6

Sumber : BPS Kabupaten Enrekang, dalam angka 2018-2020 6. Visi Misi Kabupaten Enrekang

Di Kabupaten Enrekang sebagai daerah yang bisa dikatakan cukup potensial dilihat dari segi sumber daya alamnya. Tingkat aksesibilitas dukungan sarana dan prasarana sesungguhnya kemungkinan untuk mencapai daerah agropolitan dimana pola pengembangan sektor pertanian selanjutnya akan memberi efek eksternal terhadap tumbuh kembang berbagai sektor lainnya, seperti industri pengolahan perdagangan, lembaga keuangan dan sebagainya.

Pengembangan daerah agropolitan dimaksud yaitu harus tetap mengacu kepada prinsip-prinsip otonomi dan kemandirian yang melalui pengembangan interkoneksitas antara daerah, baik di Sulawesi Selatan maupun diluar Sulawesi

Selatan. Pembangunan daerah harus dipandang dalam perspektif masa depan sehingga pelaksanaanya, pembangunan akan selalu ditempatkan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, kerangka pembangunan yang seperti itu akan menempatkan aspek kelestarian lingkungan sebagai persyaratan paling utama.

proses untuk pencapaian Visi yang telah ditetapkan. Adapun Misi Kabupaten Enrekang ialah :

a. Pilar pendukung perekonomian bagi perkembangan perekonomian Sulsel melalui pengembangan bagai komoditas unggulan khususnya pada sektor pertanian.

b. Untuk mengembangkan kerja sama kawasan dan keterkaitan fungsional, antara daerah agar tetap mengacu pada semangat kemandirian dan otonomi.

c. Untuk mengembangkan implementasi pembangunan yang lebih menekankan, pada perkembangan di bagian kawasan Timur Enrekang dalam rangka mewujudkan keseimbangan pembangunan antar wilayah di Kabupaten Enrekang.

d. Melakukan penataan tata ruang yang mampu memberi peluang bagi terciptanya struktur ekonomi dan wilayah yang kuat sehingga memungkinkanya munculinterkoneksitas dan antara wilayah.

e. Menomorsatukan norma dan nilai budaya tradisional maupun keagamaan seperti kejujuran, keadilan, keterbukaan, saling menghormati, semangat gotong royong, dan kerjasama dalam berbagai aktivitas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.

7. Tujuan

Merupakan penjabaran dari, misi-misi dan telah bersifat operasional tentang apa saja yang dicapai:

a. Komoditas unggulan, Kabupaten Enrekang mampu memenuhi dari kebutuhan pasar lokal dan regional maupun untuk kebutuhan ekspor.

b. Pembangunan sumber daya yang menjadi pilar pendukung ekonomi kerakyatan.

c. Tercapainya kerja sama antara wilayah dan antara kawasan dalam Kabupaten Enrekang.

d. Terwujudnya kerja sama antara pemerintah di Kabupaten Enrekang dengan berbagainya macam pihak

e. Meningkatkan pengelolaan potensi kawasan timur Kabupaten Enrekang.

f. Terwujudnya penataan wilayah, kawasan yang digunakan dan berhasil.

g. Terwujudnya, peningkatan kesejahteraan sosial.

h. Terwujudnya, ketahanan budayanya dan spiritual.

i. Terwujudnya pemerintahan yang baik partisipatif transparan dan akuntabel.

j. Untuk Tercapai peraturan dan keamanan ataupun ketertiban dalam masyarakat.

8. Sasaran

Sasaran yaitu penjabaran dari tujuan, dapat terukur tentang apa saja yang akan dicapai atau yang akan dihasilkan. Fokus utama sasaran adalah tindakan dan alokasi sumber daya daerah dalam kegiatan pemerintahan Kabupaten Enrekang

yang bersifat spesifik dapat dinilai, diukur, dan dapat dicapai dengan berorientasi pada hasil yang dicapai dalam kurun waktu 5 (lima) tahun. Sasaran pemerintah Kabupaten Enrekang yaitu :

a. Meningkatkan daya saing komoditas yang unggulan di Kabupaten Enrekang.

b. Tumbuh kembangnya sistem perdagangan dan perekonomian.

c. Meningkatnya sarana dan prasarana fisik pemerintahan.

d. berkembangnya sarana dan prasarana perhubungan.

e. Meningkatnya kemampuan pembiayaan.

f. Meningkatnya kualitas pelaku ekonomi.Terjalinnya kerja sama dengan pihak luar negeri dalam berbagai bidang pembangunan.

g. Terwujudnya pemberdayaan Kecamatan dan Desa/Kelurahan.

h. Meningkatnya kerjasama dengan pemerintah Provinsi dalam berbagai bidang pemerintahan pembangunan dan kemasyarakatan.

i. Meningkatnya kerjasama dengan pemerintah Kabupaten dalam berbagai bidang pembangunan

j. Meningkatnya kerja sama dalam berbagai bidang.

k. Terjadinya pemanfaatan lahan sesuai dengan peruntukan atau kesesuaian lahan.

l. Tercipta pelestarian alam maupun lingkungan hidup.

m. Peningkatan penyelenggaraan pendidikan.

n. Meningkatnya ketahanan budaya dan kehidupan keagamaan.

o. Meningkatnya status

p. Sosial masyarakat.

q. Meningkatnya derajat kesejahteraan masyarakat.

r. Tercapahokum dan penegakan hukum.

s. Bertambah kualitas aparatur.

t. Meningkatnya wawasan kebangsaan.

9. Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang

Dinas Kesehatan (DINKES) daerah / wilayah Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan berada di jalan Sultan Hasanuddin Kec. Enrekang, Kab.

Enrekang merupakan instansi yang bertanggung jawab mengenai kesehatan.

Dinkes Kabupaten Enrekang memiliki tugas untuk merumuskan kebijakan bidang kesehatan, melaksanakan evaluasi dan pelaporan bidang kesehatan, melaksanakan administrasi.

10. Struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang a. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang

b. Sekertaris

1) Sub Bagian Kepegawaian.

2) Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan.

c. Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan 1) Seksi Pelayanan Kesehatan .

2) Seksi Kefarmasian, Alat Kesehatan dan PKRT.

3) Seksi Pembiayaan dan Sumber Daya Manusia Kesehatan.

d. Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit 1) Seksi Surveilans Imunisasi dan Kesehatan Matra.

2) Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular.

3) Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa.

e. Bidang Kesehatan Masyarakat

1) Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi.

2) Seksi Promosi dan Pemberdayaan masyarakat.s 3) eksi Kesehatan Lingkungan, Kesker dan Olahraga.

11. Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang a. Visi

Visi berkaitan dengan pandangan ke depan menyangkut kemana instansi pemerintah harus dibawa dan diarahkan agar dapat bekerja secara konsisten, eksis, antisipatif, inovatif, serta produktif. Dimana visi instansi tersebut perlu ditanamkan pada setiap unsur organisasi sehingga menjadi visi bersama (shared vision) yang pada gilirannya mampu mengarahkan dan menggerakkan segala sumber daya instansi. Dengan memperhatikan dasar- dasar pembangunan kesehatan, maka visi Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang adalah “terwujudnya masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat menuju Enrekang, Maju, Aman, dan Sejahtera”. Dengan visi Dinas Kesehatan ini, diharapkan Dinas Kesehatan sebagai leading sector pelaksanaan pembangunan kesehatan untuk terwujudnya Kabupaten Enrekang sehat mandiri Tahun 2018. Enrekang sehat adalah suatu kondisi yang merupakan gambaran masyarakat Indonesia dimasa depan, yakni masyarakat, bangsa dan Negara.

Dokumen terkait