• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dalam dokumen MAYA KURNIA PUT - etheses UIN Mataram (Halaman 63-131)

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN 45

B. Deskripsi Hasil Penelitian dan Pembahasan

Depresi ringan merupakan gangguan mental yang umumnya ditandai dengan berbagai tanda seperti yang dapat diketahui yakni kehilangan minat atau kesenangan, aktivitas menurun, penurunan energi, perasaan bersalah atau tidak berharga, pola makan tidak teratur atau nafsu makan berkurang, mudah merasakan lelah, bahkan dapat mengalami gangguan tidur atau insomnia dan hipersomnia.

1. Proses teknik Solution Focus Brief dalam mengatasi kecendrungan depresi ringan pada mahasiswa BKI UIN Mataram.

Dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram dengan beberapa subjek bertujuan untuk sebagai pembanding keberhasilan dalam pengaplikasian proses teknik Solution focus brief dalam mengatasi depresi ringan, Berikut hasil observasi dan wawancara adalah

71Company Profile Lembaga Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah.

48 1) Subjek Inisial I

a. Deskripsi Masalah

Pada tahap deskripsi masalah,sebelum dilakukannya sesi konseling, secara umum hal pertama yang harus dilakukan oleh konselor yaitu bisa membangun hubungan baik dengan konseli, setelah terbentuknya hubungan baik antara konselor dan konseli dengan sendirinya konseli akan merasa nyaman dan percaya kepada konselor ketika akan menceritakan masalahnya dari sinilah konseli juga dapat merasa lebih rileks dan santai ketika akan membahasakan permasalahan yang dialaminya.

Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh salah satu dosen BKI

“dulu ketika saya masih sering mengadakan pelatihan bimtek di kampus, hal pertama yang biasa saya lakukan yang paling penting yaitu membangun hubungan baik dengan konseli, memberikan kenyamanan dan rasa aman, Ketika konseli sudah dirasa nyaman, tidak canggung, tidak kaku dan merasa aman,barulah

saya menanyakan inti pokok dari masalah yang dialami konseli saat itu dan memberikan konseli waktu untuk menceritakan masalah yang dirasakannya,sebagai langkah awal untuk mencari solusi dari masalah yang dialami oleh konseli.”72

72Pak Lalu Abdurrachman Wahid Dosen BKI, wawancara, UIN Mataram 21 Maret 2022.

49

Baiknya memang ketika akan melakukan konseling, konselor harus bisa membuat hubungan baik dan membuat konseli merasa nyaman dahulu serta percaya kepada konselor sebagai bentuk langkah pendekatan konselor kepada konseli.

Dari paparan diatas, diperkuat lagi dengan hasil wawancara peneliti dengan salah satu anggotaLembaga Konseling dan Psikologi Al- Tazkiah BKImengatakan

“ketika saya melakukan konseling, hal pertama yang biasa saya lakukan sebagai pendekatan awal yaitu membuat konseli merasa nyaman dan percaya sama saya, agar konseli bisa dengan mudah menceritakan masalah yang dirasakannya. Setelah saya merasa konseli Mulai merasa nyaman dan percaya, barulah saya akanmemulai membuka dengan kalimat tanya yaitu dengan menanyakan apa yang dirasakan konseli, apa yang dirasakan konseli sudahmenggambarkan keadaan konseli pada saat datang apakah dari beban pikiran yang dirasakan konseli.”73

Dalam melakukan proses konseling tahapan yang harus dilakukan seorang konselor yaitu bisa membuat hubungan baik dengan konseli, membuat konseli merasa nyaman, percaya sama konselor, merasa aman dan mampu membuat suasana menjadi tidak canggung saat sesi konseling berlangsung.

barulah konselor bisa memulai membuka

73Pak Subandi selaku anggota Lembaga Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah BKI yang memberikan perlakuan, Wawancara, UIN Mataram 23 Maret 2022.

50

dengan kalimat tanya untuk sebagai awal dari konseling.

Sebagaimana dengan apa yang disampaikan oleh subjek insial I yang mengalami depresi ringansaat melakukan wawancara

“waktu saya datang konseling, saat ituawalnya saya merasakelelahan, kehilangan energi, kosentrasi menurun, saya ngerasa perasaan yang berlebihan dan merasa tidak berharga.

Saya memang orangnya susah untuk berbagi cerita dengan orang lain, malu, lebih tepatnya kurang nyaman.”74

Terkadang memang banyak dari beberapa orang yang mampu meyelesaikan masalahnya tanpa bantuan seorang konselor dan ada juga orang yang tidak mampu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan merasa membutuhkan bantuan konselor, seperti halnya yang dirasakan oleh subjek Inisial I diatas yang mengalami depresi ringan ketika baru datang konseling, konseli merasakan kelelahan, kehilangan energi, kosentrasi menurun bahkan merasakan perasaan yang tidak berharga.

b. Membangun dan menetapkan tujuan

Pada proses ini barulah konselor akan membantu konseli dalam menyelesaikan masalahnya sendiri, dimana konselor percaya sepenuhnya pada kompetensi yang ada pada diri konseli. Konselor memandang tinggi

74Mahasiswi yang mengalami depresi ringan Inisial I, Wawancara, 25 Maret 2022.

51

kompetensi yang ada pada diri konseli, konselor yakin kepada konseli bahwa hanya diri konseli yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, konselor hanya membantu menemukan jalan keluar dari masalah yang dirasakan oleh konseli tersebut.

Hal diatas tersebut diperkuat lagi dengan hasil wawancara peneliti dengan Pak Subandi selaku anggota pengelola anggota Lembaga Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah BKI

“banyak saya temui konseli ketika akan datang melakukan konseling, kadang ada konseli yang secara psikologis alam bawah sadarnya menolak tidak mau menerima bantuan.Disitulah saya menanamkan pada diri konseli bahwa, yang bisa menyelesaikan masalahnya adalah hanya diri konseli dan konselor hanya sebagai fasilitator untuk membantu dalam menyelesaikan masalah konseli.”75

Seperti yang peneliti katakan sebelumnya bahwa, ada beberapa orang memang yang ketika merasa dirinya mempunyai masalah tetapi merasa mampu sehingga secara tidak sadar menolak untuk menyelesaikannya ketika akan dibantu konselor, begitupun sebaliknya merasa dirinya tidak mampu menyelesaikan masalahnya dan harus membutuhkan bantuan orang lain. Padahal yang mampu menyelesaikan masalahnya hanyalah diri mereka sendiri.

75Pak Subandi Selaku Anggota Lembaga Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah BKI yang memberikan perlakuan, Wawancara, UIN Mataram 23 Maret 2022.

52

Dan sebagaimana pernyataan lain yang dikatakan oleh pak Rahman salah satu dosen BKI

“saya banyak menemukan mahasiswa atau mahasiswi yang mengalami berbagai macam masalah mulai dari masalah kehidupan bahkan pendidikan. Dalam teknik ini konseli yang paling mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya, seperti halnya konseli mengalami depresi ringan karena putus cinta, tinggal saya berfokus pada kekasihmu orangnya bagaimana, lalu bagaimana solusinya agar bisa segera moveon, dari sinilah konseli yang akan berperan aktif untuk memikirkan jalan keluar dari masalahnya.”76

Sebagaimana yang didasarkan pada asumsi teknik Solution focus brief ini bahwa setiap individu itu ulet, banyak akal cakap dalam memiliki kemampuan dalam mengubah kehidupan mereka. Seperti pernyataan Pak Rahman diatas yaitu konseli mempunyai kekamampuan dalam menyelesaikan masalahnya sendiri, konseli yang paling berperan aktif dalam membangun solusi jalan keluar masalahnya. Karna dalam teknik Solution focus brief ini hanya memfokuskan inti dari masalah konseli. konselor

memandang tinggi kompetensi yang ada pada diri konseli, konselor yakin kepada konseli bahwa hanya diri konseli yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, konselor

76Pak Abdurrachman Wahid, Selaku Dosen BKI, Wawancara, UIN Mataram 21 Maret 2022.

53

hanya membantu menemukan jalan keluar dari masalah yang dirasakan oleh konseli tersebut.

pernyataan lain yang dikemukakan oleh subjek inisial I mengatakan

“saya merasa mudah merasa lelah karena harus pulang pergi lotim mataram membuat energi saya banyak berkurang. Belum lagi harus mikirin masalah perkuliahan saya, masalahperkuliahan herbal yang saya jalani sehingga aktivitas saya pun terbagi juga.

Disamping itu saya masih merasa bersalah dengan mantan kekasih saya mungkin karena saya yang terlalu egois. Perasaan itu terus saja muncul dalam pikiran saya, saya merasa tidak berguna tidak bisa mengerjakan tugas dalam tepat waktu, dikatakan merasa puas dengan perkuliahan saya yang sekarang tidak, karna ada juga beberapa dosen yang tidak pernah hadir masuk mengajar dan ada juga yang memberikan tugas secara online, intinya saya mendapatkan ilmu tidak maksimal, itu yang menjadi kendala jika kuliah tidak bertatap muka. Terlalu banyak pikiran membuat konsentrasi saya berkurang, kecapean perubahan suasana hati saya bisa berubah juga”77

subjek pertama dengan insial I mengatakan bahwa semakin hari konseli merasa kurang nyaman dengan dirinya sendiri dengan masalah yang dialaminya. Banyaknya fikiran yang konseli rasakan membuat kosentrasinya berkurang, sering merasa bersalah, merasa

77Mahasiswi yang mengalami depresi ringan Inisial I, Wawancara, Selasa 25 Maret 2022.

54

tidak berguna, kelelahan sehinggga membuat subjek merasakan energi dalam tubuhnya terkuras dengan melewati jarak tempuh rumah yang terbilang jauh dari tempat perkuliahannya yang sekarang dan perkuliahan non formal yang dijalaninya, serta kendala yang dirasakan subjek selama perkuliahan.

c. Mengeksplorasi perasaan dan fikiran

Pada tahap ini konselor membantu mengeksplorasi perasaan dan fikiran dari masalah yang sedang dialami oleh subejkbertujuan untuk mencari kemajuan subjek dalam membangun solusi dari masalah yang dialami oleh subjek.Ketika proses mengeksplorasi fikiran dan perasaan, konselor akan meminta subjek untuk menganalisa dari masalah yang dirasakannya, konselor memberikan dorongan-dorongan positif ketika subjek sudah memikirkan solusi untuk masalahnya yang bertujuan untuk kebaikan subjek sebagai harapan kemajuan dari perubahan masalah yang dirasakannya.

Pernyataan diatas dipertegas lagi dengan hasil wawancara peneliti dengan Pak Subandi selaku anggota Lembaga Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah BKI

“saat konseli mulai merasa masalah yang dihadapinya perlu untuk segera dituntaskan, serta konseli sudah memikirkan solusi apa untuk masalahnya sendiri, barulah disitu saya akan mengarahkan konseli semata untuk

55

mengembangkansolusinya sendiri ketika akan diterapkannya nanti.”78

Sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan pak Rahman mengatakan

“setelah konseli memikirkan masalah yang dirasakannya, disitu saya mulai membantu memberikan dorongan motivasi untuk

konseli.Sebagai langkah konseli dalam memulai memikirkan solusi atas masalah yang dirasakan, karna saya percaya pada setiap kemampuan konseli, konseli mampu untuk menyelesaikan masalahnya dan menemukan jalan keluarnya.”79

Dari pemaparan diatas bahwasannya konselor hanya berfokus pada kompetensi konseli dan membantu mengembangkan solusi dari permasalahan yang konseli rasakan.

Konselor hanya sebagai motivator dalam mengembangkan solusi apa yang nantinya konseli lakukan. Sesuai dengan prinsip Solutin focus brief meyakikankan pada kemampuan atau kompetensi yang ada pada konseli bahwa hanya diri konseli yang dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.

Hal ini juga dirasakan oleh subjek pertama dengan inisal I mengatakan

“karna saya juga merasa sedikit sensitif, oleh sebab itu saya harus memikirkan diri saya sendiri dan jalan keluar dari masalah yang saya

78Pak Subandi selaku anggota Lembaga Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah BKI yang memberikan perlakuan, Wawancara, UIN Mataram 23 Maret 2022.

79Pak Abdurrachman Wahid, Dosen BKI, Wawancara, UIN Mataram 21 Maret 2022.

56

alami sekarang, akhirnya saya memutuskan untuk selalu mefokuskan diri senantiasa mengutamakan Allah, orangtua, sholat dan mengaji.”80

Konseli dengan insial I memikirkan bahwa jalan keluar dari masalahnya serta solusi untuk masalah yang dirasakannyayaitu adalah memfokuskan dirinya sendiri dan senantiasa dekat dengan Allah SWT, beribadah kepada Allah SWT serta mefokuskan diri kepada kedua orangtua.

d. Evaluasi

Dalam proses evaluasi, konselor dapat melihat dan menilai sejauh mana perubahan yang ada pada konseli setelah dilakukannya perencanaan solusi di awal konseling dengan menggunakan pendekatan Solution focus brief.

Dapat diketahui tugas seorang konselor hanya sebagai fasilitator dalam memberikan fasilitas kepada konseli dalam menyelesaikan permasalahannya. Konselor yakin dan percaya pada kemampuan yang konseli miliki dan ketika semuanya sudah diusahakan maka tidak ada hasil yang sia-sia. Berikut hasil berdasarkan observasi dan wawancara yang peneliti lakukan adapun sebagai berikut

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan pak Rahman salah satu dosen BKI menuturkan

80Mahasiswi yang mengalami depresi ringan Inisial I, Wawancara, 25 Maret 2022.

57

“untuk melakukan evaluasi pada masalah konseli, konselor hanya berfokus pada solusi dari permasalahan konseli, diusahakan pertemuan pertama dan kedua selesai jadinya dalam teknik ini hanya memfokuskan pada masalah konseli dan bagaimana solusi untuk masalahnya.”81

Hal ini dikuatkan lagi dengan hasil wawancara peneliti dengan Pak Subandi selaku anggota pengelola anggota Lembaga Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah BKImenuturkan

“menangani masalah depresi ringan saya memang biasanya menggunakan teknik ini, yang dimana teknik ini hanya berfokus pada masalah yang dialami konseli dan apa solusi dari masalah tersebut,sehingga ketika saya ingin mengetahui perubahan yang dialami oleh konseli setelah diberikan perlakuan. Saya bisa melihat dari pancaran wajahnya. Jika dipertemuan pertama konseli merasakan lesu, letih, muram tapi setelah diberikan konseling bisa jadi kondisinya membaik lagi, begitupun dengan pertemuan kedua ceria, dan bisa memancarkan mimik wajah senang dan bahagia.”82

Dari hasil penuturan diatas bahwa, sebelum masuk ke dalam tahapan evaluasi terlebih dahulu konselor memang perlu mengetahui apa yang dirasakan oleh konseli barulah

81Pak Lalu Abdurrachman Wahid, Dosen BKI, wawancara, UIN Mataram 21 Maret 2022.

82Pak Subandi selaku anggota Lembaga Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah BKI yang memberikan perlakuan, Wawancara, UIN Mataram 23 Maret 2022.

58

konselor akan berfokus, lalu memberikan gambaran berupa solusi pada masalah yang dirasakan konseli. Di awal pertemuan konseli merasa lesu, letih, muram tapi setelah diberikan konseling kondisi konseli mulai membaik begitupun dengan pertemuan kedua ceria dan bahagia. Sesuai dengan perubahan yang konseli alami ketika sesudah dan sebelum diberikannya konseling.

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan subjek pertama inisial I

“karna saya tau diri saya seperti apa, apalagi saya sedikit sensitif saking sensitifnya saya selalu memikirkan hal-hal yang bahkan saya belum tau bakal terjadi atau tidak kedepannya, merasa tidak berharga, kosentrasi menurun, bahkan kehilangan energi hampir setiap hari.

Mungkin dengan cara saya mencoba untuk selalu berfikir positif, bahwa semuanya sudah diatur sama Allah.Dan saya selalu yakin pada kemampuan saya dan saya harus bisa menuntaskannya”83

Setelah konselor mengarahkan konseli dalam mengembangkan solusi untuk masalah yang dirasakan konseli. Dan subjek insial I tau bahwa dirinya sedikit sensitif bahkan subjek selalu memikirkan hal-hal yang belum tentu akan terjadi kedepannya, akhirnya subjek mencoba untuk berfikir positif jika semuanya sudah diatur oleh Allah serta subjek selalu

83Mahasiswi yang mengalami depresi ringan Inisial I, Wawancara, 25 Maret 2022.

59

meyakinkan kemampuan dirinya jika dirinya bisa untuk menyelesaikannya.

2) Subjek Inisial H a. Deskripsi Masalah

Pada tahap deskripsi masalah,sebelum dilakukannya sesi konseling, secara umum hal pertama yang harus dilakukan oleh konselor yaitu bisa membangun hubungan baik dengan konseli, setelah terbentuknya hubungan baik antara konselor dan konseli dengan sendirinya konseli akan merasa nyaman dan percaya kepada konselor ketika akan menceritakan masalahnya dari sinilah konseli juga dapat merasa lebih rileks dan santai ketika akan membahasakan permasalahan yang dialaminya.

Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh salah satu dosen BKI

“dulu ketika saya masih sering mengadakan pelatihan bimtek di kampus, hal pertama yang biasa saya lakukan yang paling penting yaitu membangun hubungan baik dengan konseli, memberikan kenyamanan dan rasa aman, Ketika konseli sudah dirasa nyaman, tidak canggung, tidak kaku dan merasa aman,barulah

saya menanyakan inti pokok dari masalah yang dialami konseli saat itu dan memberikan konseli waktu untuk menceritakan masalah yang dirasakannya,sebagai langkah awal untuk mencari solusi dari masalah yang dialami oleh konseli.”84

84Pak Lalu Abdurrachman Wahid Dosen BKI, wawancara, UIN Mataram 21 Maret 2022.

60

Baiknya memang ketika akan melakukan konseling, konselor harus bisa membuat hubungan baik dan membuat konseli merasa nyaman dahulu serta percaya kepada konselor sebagai bentuk langkah pendekatan konselor kepada konseli.

Dari paparan diatas, diperkuat lagi dengan hasil wawancara peneliti dengan salah satu anggota Lembaga Konseling dan Psikologi Al- Tazkiah BKI mengatakan

“ketika saya melakukan konseling, hal pertama yang biasa saya lakukan sebagai pendekatan awal yaitu membuat konseli merasa nyaman dan percaya sama saya, agar konseli bisa dengan mudah menceritakan masalah yang dirasakannya. Setelah saya merasa konseli Mulai merasa nyaman dan percaya, barulah saya akanmemulai membuka dengan kalimat tanya yaitu dengan menanyakan apa yang dirasakan konseli, apa yang dirasakan konseli sudahmenggambarkan keadaan konseli pada saat datang apakah dari beban pikiran yang dirasakan konseli.”85

Dalam melakukan proses konseling tahapan yang harus dilakukan seorang konselor yaitu bisa membuat hubungan baik dengan konseli, membuat konseli merasa nyaman, percaya sama konselor, merasa aman dan mampu membuat suasana menjadi tidak canggung saat sesi konseling berlangsung.

barulah konselor bisa memulai membuka

85Pak Subandi selaku anggota Lembaga Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah BKI yang memberikan perlakuan, Wawancara, UIN Mataram 23 Maret 2022.

61

dengan kalimat tanya untuk sebagai awal dari konseling.

Pernyataan lain juga dikatakan oleh subjek kedua yang mengalami depresi ringan dengan inisial H mengatakan

“yang paling saya rasakan itu waktu pertama konseling, saya merasa tidak ada tenaga kelelahan kehilangan energi setiap hari, kemampuan berfikir menurun sehingga membuat kosentrasi saya berkurang, saya juga kekurangan waktu tidur, tidur tidak nyenyak bahkan jam tidur saya kurang teratur. Apalagi waktu konseling juga saya bingung mau ngomong darimana mungkin karna terlalu canggung, terus pikiran juga tidak karuan”86

subjek dengan inisial H diatas juga menceritakan masalah yang dirasakannya H mengatakan bahwasubjek merasakan tidur yang kurang nyenyak dikarenakan jam tidur yang tidak teratur, tidur kurang nyenyak,kemampuan berfikir menurun membuat kosentrasi konseli berkurang, merasa kehilangan tenaga dan kelelahan.

b. Membangun dan Menetapkan Tujuan

Pada proses ini barulah konselor akan membantu konseli dalam menyelesaikan masalahnya sendiri, dimana konselor percaya sepenuhnya pada kompetensi yang ada pada diri konseli. Konselor memandang tinggi kompetensi yang ada pada diri konseli,

86Mahasiwi yang mengalami depresi ringan dengan Inisial H, Wawancara, 4 April 2022.

62

konselor yakin kepada konseli bahwa hanya diri konseli yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, konselor hanya membantu menemukan jalan keluar dari masalah yang dirasakan oleh konseli tersebut.

Hal diatas tersebut diperkuat lagi dengan hasil wawancara peneliti dengan Pak Subandi selaku anggota pengelola anggota Lembaga Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah BKI

“banyak yang saya temui konseli ketika akan konseling, kadang ada konseli yang secara psikologis alam bawah sadarnya menolak tidak mau menerima bantuan. Disitulah saya menanamkan pada konseli bahwa, yang bisa menyelesaikan masalahnya adalah hanya diri konseli dan konselor hanya sebagai fasilitator untuk membantu dalam menyelesaikan masalah konseli.”87

Seperti yang peneliti katakan sebelumnya bahwa, ada beberapa orang memang yang ketika merasa dirinya mempunyai masalah tetapi merasa mampu sehingga secara tidak sadar menolak untuk menyelesaikannya ketika akan dibantu konselor, begitupun sebaliknya merasa dirinya tidak mampu menyelesaikan masalahnya dan harus membutuhkan bantuan orang lain. Padahal yang mampu menyelesaikan masalahnya hanyalah diri mereka sendiri.

87Pak Subandi Selaku Anggota Lembaga Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah BKI yang memberikan perlakuan, Wawancara, UIN Mataram 23 Maret 2022.

63

Dan sebagaimana pernyataan lain yang dikatakan oleh pak Rahman salah satu dosen BKI

“saya banyak menemukan mahasiswa atau mahasiswi yang mengalami berbagai macam masalah mulai dari masalah kehidupan bahkan pendidikan. Dalam teknik ini konseli yang paling mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya, seperti halnya konseli mengalami depresi ringan karena putus cinta, tinggal saya berfokus pada kekasihmu orangnya bagaimana, lalu bagaimana solusinya agar bisa segera moveon, dari sinilah konseli yang akan berperan aktif untuk memikirkan jalan keluar dari masalahnya.”88

Sebagaimana yang didasarkan pada asumsi teknik Solution focus brief ini bahwa setiap individu itu ulet, banyak akal cakap dalam memiliki kemampuan dalam mengubah kehidupan mereka. Seperti pernyataan Pak Rahman diatas yaitu konseli mempunyai kekamampuan dalam menyelesaikan masalahnya sendiri, konseli yang paling berperan aktif dalam membangun solusi jalan keluar masalahnya. Karna dalam teknik Solution focus brief ini hanya memfokuskan inti dari masalah konseli. konselor

memandang tinggi kompetensi yang ada pada diri konseli, konselor yakin kepada konseli bahwa hanya diri konseli yang bisa

88Pak Abdurrachman Wahid, Selaku Dosen BKI, Wawancara, UIN Mataram 21 Maret 2022.

64

menyelesaikan masalahnya sendiri, konselor hanya membantu menemukan jalan keluar dari masalah yang dirasakan oleh konseli tersebut.

Dari data diatas juga diperkuat dengan apa yang disampaikan oleh subjek kedua Inisial H mengatakan

“setiap malam sebelum saya tidur, saya sering merenung dan berfikir bagaimana kuliah saya kedepannya, berfikir kapan saya bisa skripsian, disisi lain saya juga mengikuti organisasi eksternal kampus membuat saya merasa cepat lelah. Disamping itu juga saya mengikuti perkuliahan non formal, tentunya tuntutan umur yang tiap tahun bertambah, belom lagi masalah perkuliahan yang bisa dikatakan tidak baik karena efek kuliah online sebelumnya membuat saya merasa kurang puas dalam mendapatkan ilmu. Setiap pagi ketika akan berangkat kuliah kadang saya menguap dan saya merasa untuk melakukan aktivitas seperti biasanya kurang produktif. Kosentrasi berkurang, terbagi dengan organisai dan perkuliahan non formal yang saya jalani diluar. Saya merasa mungkin karna terlalu banyak merenung sehingga tidur saya kurang nyenyak, belom lagi harus meluangkan waktu untuk mengerjakan tugas kuliah dengan tepat.”89

Dari paparan diatas subjek H menceritakan bahwa subjek merasa kosentrasi berkurang karna harus terbagi dengan organisasi diluar kampus dan perkuliahan non formal yang

89Mahasiwi yang mengalami depresi ringan dengan Inisial H, Wawancara, 4 April 2022.

Dalam dokumen MAYA KURNIA PUT - etheses UIN Mataram (Halaman 63-131)

Dokumen terkait