BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan pada IMA
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
Aktivitas pasien biasanya berubah karena pasien merasa sesak napas saat beraktivitas.
diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien.
Tabel 2.1 Intervensi keperawatan gangguan pertukaran gas b.d akumulasi cairan dalam alveoli sekunder kegagalan fungsi jantung
NO Tujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL
1 Setelah dilakukan tindakan Posisikan pasien untuk Melancarkan keperawatan selama 3x24 memaksimalkan ventilasi pernafasan klien jam diharapkan pasien
menunjukkan pola nafas
tidak efektif yang dibuktika Lakukan fisioterapi dada Merilekskan dada dengan status respirasi jika perlu untuk memperlancar
tidak terganggu pernafasan klien
Kriteria Hasil :
1) Mendemonstrasikan
peningkatan Keluarkan sekret dengan Mengeluarkan sekret ventilasi dan batuk efektif yang menghambat
oksigenasi yang jalan pernafasan
adekuat 2) Memelihara
Monitoring respirasi dan Mengetahui status kebersihan paru dan
status oksigen respirasi klien lancar bebas dari tanda
ataukah ada tanda distress
gangguan pernafasan
3) Tanda – tanda vital dalam rentang normal
TD : 90/60 mmHg sampai 120/80 mmHg
Nadi : 60 – 100 x/menit
RR : 16 – 24 x/menit
Tabel 2.2 Intervensi keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d penurunan curah jantung
NO Tujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL
2 Setelah dilakukan tindakan Lihat pucat, sianosis, Vasokonstriksi sistemik keperawatan selama 3x24 kulit dingin, lembab. diakibatkan oleh jam diharapkan mampu Catat kekuatan nadi penurunan curah jantung mempertahankan curah perifer. yang ditandai dengan
jantung adekuat guna penurunan perfusi kulit
meningkatkan perfusi dan penurunan nadi
jaringan otak, paru, ginjal, Pantau pemasukan Penurunan pemasukan jantung, dan ekstremitas haluaran urine. dapat mengakibatkan
Kriteria Hasil : penurunan volume
1) Tekanan systole dan sirkulasi yang
diastole dalam berdampak negatif pada
rentang yang perfusi dan fungsi organ
diharapkan Rekam pola EKG secara Pemeriksaan EKG 2) Tidak ada ortostatik periodik selama periode periodeik berguna untuk
hipertensi serangan dan catat menentukan diagnosis 3) Tidak ada tanda – adanya disritmia atau perluasan area iskemik, tanda peningkatan perluasan iskemia tau injuri, dan infark tekanan intrakranial infark miokard. miokard.
( tidak lebih dari 15 Kolaborasi tim medis 1. Disritmia
mmHg ) untuk terapi dan menunjukkan
tindakan curah jantung
1. Anti-disritmia : secara ekstrem
Lidocaine, dan perfusi
Amiodaron ( bila jaringan yang
ada indikasi membahayakan
klinis ) jiwa
2. Vasodilator : 2. Nitrat
nitrogliserin ( merelaksasikan
isosorbid otot polos
dinitrat/ISDN ), vaskular (
ACE inhibator ( vasodilatasi )
captopril ) vena dan arteri
sehingga
menurunkan
preload
3. Inotropic : 3. Dengan dosis
Dopamin atau yang tepat dan
Dobutamin ( jika meningkatkan
tekanan darah kontraktilitas
turun ) miokard dan
meningkatkan
4. Oksigenasi per perfusi jaringan
nasal kanul atau 4. Terapi oksigen
dapat
masker sesuai meningkatkan indikasi suplai oksigen
miokard jika
saturasi oksigen
kurang dari
normal
5. Pemasangan 5. Pacemaker pacemaker atau membantu kateter memperbaiki Swanganz ( bila irama jantung ada AV blok sehingga
komplet atau meningkatkan total ) curah jantung
dan perfusi
jaringan
6. CABG ( 6. Memperbaiki Coronary Artery sirkulasi koroner, Bypass Grafting meningkatkan ) jika ada indikasi suplai oksigen
klinis dan perfusi
miokard
7. PTCA ( 7. Memperbaiki Percutaneous sirkuloasi Transluminal koroner, Coronary meningkatkan Angioplasty ) suplai oksigen
atau Coronary dan perfusi
Artery Stenting miokard jika ada indikasi
klinis
Observasi reaksi atau Efek samping obat yang efek terapi, efek dapat membahayakan samping, toksisitas. kondisi pasien harus Laporkan kepada dokter dikaji dan dilaporkan bila didapatkan tanda-
tanda toksisitas
Hindari respon valsava Respon valsava yang merugikan ( saat menurunkan
BAB ). Atur diet yang kontraktilitas miokard diberikan
Pertahankan intake Mempertahankan
cairan maksimal 2000 keseimbangan cairan ml/24 jam ( bil tidak ada dan mencegah overload
edema ) cairan ekstraseluler
Tabel 2.3 Intervensi keperawatan nyeri akut b.d hipoksia miokard ( oklusi arteri koroner )
NO Tujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL
3. Setelah dilakukan tindakan Observasi rekasi keperawatan selama 3x24 nonverbal dari
Untuk mengetahui jam diharapkan nyeri ketidaknyamanan
berkurang tingkat
Kriteria Hasil : ketidaknyamanan
1) Mampu mengontrol dirasakan oleh pasien
nyeri ( tahu penyebab
nyeri, mampu
Kontrol lingkungan yang Untuk mengurangi menggunakan tehnik
nonfarmakologi dapat mempengaruhi tingkat
untuk mengurangi nyeri seperti suhu ketidaknyamanan
nyeri ) ruangan, pencahayaan, yang dirasakan
2) Melaporkan bahwa dan kebisingan pasien
nyeri berkurang Ajarkan tentang teknik Agar pasien mampu dengan menggunakan non farmakologi menggunakan teknik
manajemen nyeri nonfarmakologi
3) Mampu mengenali dalam
nyeri ( skala, memanagement
intensitas, frekuensi nyeri yang dirasakan
dan tanda nyeri ) Berikan analgetik untuk Pemberian analgetik 4) Menyatakan rasa mengurangi nyeri dapat mengurangi
nyaman setelah nyeri rasa nyeri pasien
berkurang
Tabel 2.4 Intervensi keperawatan penurunan curah jantung b.d perubahan laju, irama, dan konduksi elektrikal
NO Tujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL
4 Setelah dilakukan tindakan Auskultasi bunyi S3 biasanya keperawatan selama 3x24 jam jantung. Catat adanya berhubungan dengan diharapkan tidak terjadi gallop S3 dan S4, gagal jantung, namun penurunan curah jantung murmur, serta rub. adanya insufisiensi
Kriteria Hasil : mitral (regurgitasi)
1) Tanda vital dalam dan overload
rentang normal ( ventrikel kiri yang
Tekanan Darah, Nadi, dapat menyertai
Respirasi ) infark parah juga
2) Dapat mentoleransi dicatat.
aktivitas, tidak ada S4 mungkin
kelelahan berhubungan dengan
3) Tidak ada edema paru, iskemia miokard,
perifer dan tidak ada kekakuan ventrikel,
asites dan hipertensi
4) Tidak ada penurunan pulmonal atau
kesadaran sistemik.
Murmur
mengindikasikan
adanya gangguan
aliran darah pada
jantung, misalnya
gangguan pada
katup, defek septum,
atau getaran otot
papilaritas dan korda
tendinea (komplikasi
infark miokard)
Rub
mengindikasikan
adanya infark yang
disebabkan oleh
peradangan,
misalnya efusi
perikardial dan
perikarditis.
Auskultasi suara Krakels menandakan
nafas adanya kongesti
pulmonal, yang
mungkin
berkembang karena
penurunan fungsi
miokard.
Pantau denyut dan Denyut dan ritme ritme jantung. jantung berespon Dokumentasikan terhadap medikasi, disritmia melalui aktivitas, dan telemetri. perkembangan
komplikasi.
Disritmia terutama
kontraksi ventrikular yang prematur atau
progressive heart
blocks, dapat
mempengaruhi
fungsi jantung atau
meningkatkan
kerusakan iskemik.
Berikan makanan Makanan besar dapat yang kecil dan meningkatkan beban mudah dicerna. kerja miokard dan Batasi asupan kafein, menyebabkan misalnya kopi, stimulasi vagal, yang cokelat, dan cola. mengakibatkan
bradikardia atau
denyut ektopik.
Kafein merupakan
stimulan langsung
pada jantung yang dapat meningkatkan denyut jantung.
Kolaborasi dengan Disritmia biasanya tenaga kesehatan lain diobati sesuai dengan dalam pemberian gejalanya. Terapi obat – obatan sesuai ACE inhibitor indikasi, misalnya sebagai pengobatan obat antidisritmia. awal, khususnya
pada infark miokard anterior yang besar, aneurisma ventrikel, atau gagal jantung, dapat meningkatkan keluaran vemtrikel,
meningkatkan
kelangsungan hidup,
dan mungkin
memperlambat
perburukan gagal
jantung.
Tabel 2.5 Intervensi keperawatan intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplay oksigen miokard dan kebutuhan, adanya iskemia/nekrosis jaringan miokard
NO Tujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL
5. Setelah dilakukan tindakan Catat denyut dan Menentukan respon keperawatan selama 2x24 jam ritme jantung, serta pasien terhadap diharapkan pasien mampu perubahan tekanan aktivitas dan sapat bertoleransi dengan aktivitas darah sebelum, mengindikasikan Kriteria Hasil : selama, dan setelah kekurangan oksigen
1) Berpartisipasi dalam aktivitas sesuai pada miokard, aktivitas fisik tanpa indikasi. Nyeri dada sehingga harus disertai peningkatan dan sesak nafas mengurangi tingkat tekanan darah, nadi, dan mungkin terjadi. aktivitas, bedrest,
RR perubahan regimen
2) Mampu melakukan pengobatan, atau
aktivitas sehari-hari penggunaan oksigen.
(ADLs) secara mandiri Motivasi pasien Mengurangi beban 3) Mampu berpindah : untuk melakukan kerja miokard dan dengan atau bantuan tirah baring. Batasi konsumsi oksigen,
alat aktivitas yang serta mengurangi
4) Status respirasi : menyebabkan nyeri risiko komplikasi, pertukaran gas dan dada atau respons misalnya perparahan ventilasi adekuat jantung yang buruk. infark miokard.
5) Sirkulasi status baik Berikan aktivitas Pasien tanpa pengalihan yang komplikasi infark bersifat nonstres. miokard didorong untuk terlibat dalam aktivitas yang ringan diluar tempat tidur, termasuk jalan-jalan kecil 12 jam setelah
kejadian.
Instruksikan pasien Kegiatan yang untuk menghindari memerlukan untuk peningkatan tekanan menahan nafas dan abdominal, misalnya mengejan, misalnya mengejan saat buang manuver valsava, air besar. dapat mengakibatkan bradikardia sehingga
terjadi penurunan
curah jantung dan
selanjutnya
mengalami
takikardia dengan
peningkatan tekanan
darah.
Jelaskan pola Kegiatan progresif peningkatan tingkat memberikan beban aktivitas, misalnya yang terkontrol pada bangun untuk pergi jantung. Serta ke toilet atau duduk meningkatkan
dikursi, ambulasi kekuatan dan progresif, dan mencegah kelelahan.
beristirahat setelah makan.
Evaluasi tanda dan Palpitasi, denyut gejala yang tidak teratur, mencerminkan peningkatan nyeri intoleransi terhadap dada, atau dispnea tingkat aktivitas yang mungkin
ada atau menunjukkan
memberitahukan kebutuhan untuk pada perawat atau perubahan latihan
dokter. atau obat.
.
Tabel 2.6 Intervensi keperawatan ansietas b.d perubahan kesehatan dan status sosio-ekonomi
NO Tujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL
6. Setelah dilakukan tindakan Identifikasi dan Koping terhadap rasa keperawatan selama 2x24 jam pahami persepsi nyeri dan trauma diharapkan pasien tidak pasien tentang emosional dari infark mengalami kecemasan. ancaman atau situasi mikard sangat sulit.
Kriteria Hasil : saat ini. Dorong Pasien mungkin 1) Pasien mampu pasien untuk merasa takut mati mengidentifikasi dan mengekspresikan atau merasa cemas mengungkapkan gejala perasaannya dan terhadap kondisi cemas hindari menyangkal lingkungan sekitar.
2) Mengidentifikasi, perasaan marah, mengungkapkan dan berduka, sedih, dan menunjukkan tehnik takut yang dirasakan
untuk mengontrol pasien
cemas Observasi adanya Pasien mungkin tidak 3) Postur tubuh, ekspresi tanda verbal dan mengungkapkan
wajah, bahasa tubuh nonverbal ansietas, kekhawatiran secara dan tingkat aktivitas serta temani pasien langsung, tetapi kata- menunjukkan saat ansietas. Cegah kata atau tindakan berkurangnya pasien jika dapat menyampaikan kecemasan menunjukkan rasa agitasi, agresi,
perilaku destruktif. dan kebencian.
Intervensi dari
perawat dapat
membantu pasien dalam mengontrol kembali perilakunya.
Orientasikan pasien Prefiktabilitas dan dan keluarganya informasi dapat tentang prosedur mengurangi ansietas rutin, serta aktivitas pasien.
yang diperkirakan.
Dorong pasien untuk berpartisipasi jika
memungkinkan.
Jawab semua Informasi yang
pertanyaan secara akurat mengenai faktual. Berikan kondisi yang dialami informasi yang dapat mengurangi konsisten, ulangi jika rasa takut, dibutuhkan. memperkuat
hubungan perawat dan pasien, serta membantu pasien dan keluarga dalam menghadapi kondisi yang dialami.
Berikan privasi pada Privasi memberikan pasien dan keluarga. waktu yang diperlukan untuk mengekspresikan perasaan pribadi pasien, serta dapat meningkatkan
perasaan saling mendukung dan mempromosikan perilaku yang lebih adaptif.
Berikan waktu Menyimpan energi istirahat dan tidur dan meningkatkan tanpa terganggu, koping adaptif.
serta lingkungan
yang tenang dengan
mengontrol
pengunjung dan
jumlah rangsangan
eksternal.
Kolaborasi dengan Mendorong relaksasi tenaga kesehatan lain dan istirahat, serta dalam memberikan mengurangi ansietas.
obat anti-ansietas
atau hipnotik sesuai indikasi, misalnya alprazolam (Xanax)
dan lorazepam
(Ativan)
Tabel 2.7 Intervensi keperawatan defisiensi pengetahuan b.d kurangnya informasi tentang penyakit, kesalahpahaman terhadap kondisi medis atau terapi yang dibutuhkan, ketidaktauan tentang sumber informasi, serta kurangnya kemampuan mengingat
NO Tujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL
7. Setelah dilakukan tindakan Kaji ulang tingkat Hal ini perlu keperawatan selama 2x24 jam pengetahuan, diperhatikan untuk diharapkan pasien menunjukkan kemampuan atau pembuatan rencana pengetahuan tentang proses keinginan belajar instruksi individu.
penyakit pada pasien dan Menguatkan harapan Kriteria Hasil : keluarga pasien bahwa ini
1) Pasien dan keluarga akan menjadi “ menyatakan pemahaman pengalaman belajar tentang penyakit, kondisi, “. Memperbaiki prognosis dan program kesalahpahaman dan
pengobatan mengklarifikasi
2) Pasien dan keluarga informasi yang ada.
mampu melaksanakan Perkuat penjelasan Memberikan
prosedur yang dijelaskan tentang faktor kesempatan bagi secara benar resiko, pola makan pasien untuk 3) Pasien dan keluarga dan pembatasan menyimpan
mampu menjelaskan aktivitas, obat, informasi,
kembali apa yang serta gejala yang mengambil kendali, dijelaskan perawat/tim membutuhkan dan berpartisipasi kesehatan lainnya pertolongan medis dalam program
segera. rehabilitasi.
Jelaskan alasan Peningkatan lemak
dari regimen pola jenuh, kolestrol, makan, diet rendah kalori, dan sodium
sodium, lemak dapat meningkatkan
jenuh, dan tekanan darah serta
kolestrol. resiko penyakit
jantung. Peningkatan
kolestrol akan
membentuk plak
dalam arteri.
Identifikasi dan Perilaku dan bahan motivasi pasien kimia tersebut untuk mengurangi memiliki efek butuk faktor resiko, secara langsung pada
mislanya merokok, fungsi
konsumsi alkohol, kardiovaskular dan dan obesitas. dapat menghambat pemulihan dan meningkatkan risiko komplikasi.
Instruksikan pasien Sebagian besar obat
untuk dapat mengandung
berkonsultasi stimulan saraf dengan dokter simpatis dan dapat sebelum meningkatkan mengambil resep tekanan darah atau obat lain. melawan pengobatan
yang sedang
dijalankan.
Tekankan Evaluasi dan
pentingnya intervensi secara
menghubungi berkala dapat
petugas kesehatan mencegah jika mengalami komplikasi.
nyeri dada,
perubahan pola
angina, atau gejala
lainnya yang
kambuh.
2.2.4 Implementasi
Dalam prinsip tindakan keperawatan pada pasien IMA dengan mengurangi nyeri menangani secara cepat serta memonitor kondisi pasien.
Paula ( 2009 ) mengatakan tindakan keperawatan dalam pelaksanaan IMA yaitu mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri serta memonitor dan mencatat karakteristik nyeri. Hematologi dan kimia serum dipantau. Ketika pasien dengan IMA tiba di UGD, di diagnosis dan penatalaksanaan awal pasie harus cepat karena manfaat terapi reperfusi paling besar jika terapi dimulai dengan cepat ( Patricia, 2011 ).
2.2.5 Evaluasi Keperawatan Hasil yang diharapkan :
2.2.5.1 Memperlihatkan berkurangnya kecemasan 1) Mengidentifikasi rasa takut
2) Mendiskusikan rasa takut dengan keluarga
3) Menggunakan pengalaman dahulu sebagai focus perbandingan 4) Mengekspresikan pandangan positif mengenai hasil pembedahan 5) Mengekspresikan rasa percaya diri mengenai cara yang digunakan
untuk mengurangi rasa sakit
2.2.5.2 Menerima pengetahuan mengenai prosedur pembedahan dan perjalanan pascaoperasi
1) Mengidentifikasi maksud prosedur persiapan pra operasi 2) Meninjau unit perawatan intensif bila diinginkan
3) Mengidentifikasi keterbatasan hasil setelah pembedahan
4) Mendiskusikan lingkungan pasca operasi dengan segera, misalnya pipa, mesin, dan pemeriksaan perawat
5) Memperagakan aktivitas yang seharusnya dilakukan setelah pembedahan (misalnya, menarik napas dalam, batuk efektif, latihan kaki) ( Bararah, Jauhar, 2013 ).
2.3 Pohon masalah pada pasien dengan IMA
Faktor resiko : obesitas, perokok, ras, umur> 40th, jenis kelamin laki-laki
Lesi komplikata
Aterosklerosis
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
Penurunan kontraktilitas miokard
Kelemahan miokard
Vol akhir diastolic ventrikel kiri meningkat
Tekanan atrium kiri meningkat
Tekanan vena pulmonalis meningkat
Endapan lipoprotein ditunika intima
Flaque fribosa
Penyempitan/obstruksi arteri koroner
Iskemia
Infark Miokardium
Komplikasi :
- Gagal jantung kongesti - Shock kardiogenik - Perikarditis - Rupture jantung - Aneurisma jantung - Defek septum ventrikel - Disfungsi otot papilaris - Tromboembolisme
Cedera endotel : interaksi antara fibrin dan platelet Proliferasi otot tunika media
Invasi dan akumulasi dari lipit
Penurunan suplai darah ke miokard
Tidak seimbang kebutuhan dengan suplai oksigen
Metabolisme anaerob meningkat
Asam laktat meningkat
Nyeri Dada
Hipertensi kapiler paru
Penurunan curah jantung
Suplai darah kejaringan tak adekuat
Nyeri akut Oedema paru
Gangguan pertukaran gas Kelemahan fisik
Intoleransi aktivitas
Kurang informasi
Tidak tahu kondisi dan pengobatan ( klien dan keluarga bertanya )
Gambar 2.1 Pohon masalah pada pasien dengan IMA Defisiensi pengetahuan Ansietas ( Sumber : Huda Nurarif, Kusuma, 2013
BAB III TINJAUAN KASUS
Pada bab ini akan disajikan hasil pelaksanaan asuhan keperawatan yang mulai dari tahap pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi dari tanggal 27 Desember 2018 di ruang Melati RSUD Bangil.
Data diambil tanggal : 27 Desember 2018 Jam : 21.00 Tgl MRS : 27 Desember 2018
Ruang rawat/kelas : Mawar Diagnosa Medis : Stemi Anterior No. Rekam medis : 0038xxxx
3.1 Identitas Klien
Klien adalah seorang laki - laki bernama Tn. H usia 50 tahun beragama islam, klien tinggal di Gempol – Pasuruan, klien bekerja sebagai sopir dengan pendidikan terakhir SD, klien menikah dengan Ny. T dan dikaruniai dua orang anak. Klien MRS pada tanggal 27 Desember 2019 di Ruang Melati RSUD Bangil.
1) Keluhan Utama pasien mengatakan nyeri dada sebelah kiri menjalar ke punggung.
2) Riwayat penyakit sekarang pasien mengatakan saat dirumah mengeluh nyeri dada sebelah kiri kemudian hilang saat dipakai istirahat. Pada tanggal 27 Desember 2018 saat bekerja pasien merasakan nyeri kembali dibagian dada sebelah kiri dan sesak, pukul 20.00 WIB pasien dibawa ke IGD RSUD Bangil dan diberikan tindakan pemasangan masker NRBM 10 Lpm. Pukul 21.00 WIB pasien dipindahkan ke ruang melati. Pada saat pengkajian pasien
mengatakan nyeri dada sebelah kiri menjalar ke punggung seperti diremas – remas dengan skala 6, dan nyeri hilang timbul.
3.1.2.2 Riwayat Keperawatan Sebelumnya
Riwayat Kesehatan yang lalu pasien mengatakan tidak pernah memiliki riwayat penyakit seperti HT dan DM, tidak pernah melakukan operasi, dan tidak memiliki alergi makanan atau obat.
3.1.2.3 Riwayat Kesehatan Keluarga
1) Penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga Pasien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit keturunan 2) Lingkungan rumah dan komunitas
Lingkungan rumah tidak kotor, ventilasi rumah baik, pasien mengatakan sering mengikuti acara dilingkungan rumah seperti pengajian.
3) Perilaku yang mempengaruhi kesehatan
Pasien mengatakan sering begadang saat masuk malam di tempat kerja, dan jarang melakukan olahraga.
3.1.2.4 Status cairan dan nutrisi
Nafsu makan baik, saat di Rumah pasien makan 1 porsi sedang sebanyak 3x sehari, dan saat di RS pasien makan 3x sehari 1 porsi habis.
Pasien selalu mengkonsumsi air putih dengan jumlah 1,5 Liter/hari. Pasien mengatakan tidak ada pantangan dan tidak melakukan diet. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
3.1.2.5 Genogram
X
Ket :
= Perempuan
= Laki – Laki X
= Pasien
= Meninggal dunia
= Tinggal serumah
3.1.2.6 Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum : Lemah 2) Tanda Vital :
(1) Tensi : 130/80 mmHg
(2) Suhu : 36ºC
(3) Nadi : 100 x/menit
(4) Respirasi : 28 x/menit 3) Respirasi (B1)
Bentuk dada normal chest, tidak ada skoliosis pada susunan ruas tulang belakang, irama nafas tidak teratur dengan jenis dispnea, terdapat retraksi otot bantu pernafasan, perkusi thorax sonor, getaran sama kanan kiri pada
vokal premitus, menggunakan alat bantu nafas NRBM 10 Lpm, dan terdapat suara nafas wheezing, pasien mengatakan sesak dan letih setelah beraktivitas.
Masalah keperawatan : Ketidakefektifan pola nafas dan Intoleransi Aktivitas 4) Kardiovaskuler (B2)
Terdapat nyeri dada, irama jantung reguler, ictus cordis teraba kuat pada ICS V Midclavicula, dunyi jantung S1 dan S2 Tunggal, CRT <3 detik, tidak terdapat sianosis, tida terdapat clubbing finger, dan tidak ada pembesaran JVP.
P = Nyeri timbul saat beraktivitas Q = Nyeri seperti diremas – remas
R = Nyeri dada sebelah kiri menjalar ke punggung S = Skala nyeri 6
T = Nyeri hilang timbul
Lain-lain : Hasil Lab CK-MB 366,3 mg/dL, Troponin I 11,400 ng/mL, dan pada hasil EKG terdapat ST Elevasi pada V2 dan V3
Masalah keperawatan : Nyeri Akut dan Resiko Penurunan Curah Jantung 5) Persyarafan (B3)
Kesadaran composmentis dengan GCS 456, orientasi baik, tidak terdapat kaku kejang dan kaku kuduk, tidak ada nyeri kepala, dan tidak ada kelainan nervus cranialis. Istirahat dirumah ± 6 Jam, saat di RS ± 7 Jam, dan sering terbangun.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
6) Genetourinaria (B4)
Bentuk alat kelamin normal dan bersih, terpasang kateter dengan jumlah 1300/24 Jam dengan warna kuning dan bau khas.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 7) Pencernaan (B5)
Keadaan mulut bersih, mukosa bibir kering, terdapat caries, dan saat di RS tidak menggosok gigi tetapi melakukan oral hygiene menggunakan listerine. Pasien tidak mengalami kesulitan menelan dan tidak ada pembesaran tonsil. Tidak ada nyeri abdomen, tidak kembung dan peristaltik usus 10 x/menit. Pasien mengatakan saat dirawat di RS belum BAB.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 8) Muskuloskeletal Dan Integumen (B6)
Tidak terdapat fraktur, tidak ada dislokasi, akral pucat, turgor kulit baik, tidak ada oedema, dan kekuatan otot 5 5
5 5
9) Pengindraan (B7)
Pada mata tidak menggunakan alat bantu penglihatan dan pasien bisa melihat dengan jelas, konjungtiva anemis, sklera putih. Ketajaman penciuman normal, tidak ada sekret dan mukosa hidung lembab. Pada telinga tidak ada keluhan. Perasa normal ( bisa merasakan manis, pahit, asam, asin )
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
10) Endokrin (B8)
Pada pasien tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan tidak ada pembesaran kelenjar parotis. Tidak terdapat luka gangren.
11) Data Psikososial
Pasien mengatakan merasa bangga terhadap tubuhnya, karena pasien merasa sempurna dengan apa yang diberikan Allah SWT. Pasien sebagai kepala keluarga dan sebagai kakek merasa sangat puas terhadap status dan posisinya didalam keluarga. Pasien sudah mampu menjadi ayah dari anak- anaknya, tetapi saat sakit tidak bisa mencari uang. Harapan pasien ingin cepat sembuh dan bisa cepat pulang untuk berkumpul dengan anggota keluarganya, dan menganggap bahwa penyakit yang dideritanya merupakan ujian dari Allah dan memasrahkan semua kepada tim medis untuk melakukan yang terbaik bagi kesembuhan pasien. Selama di RS pasien sering dijenguk oleh keluarga dan hubungan pasien dengan keluarga sangat baik.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 12) Data Spiritual
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien adalah pemeluk agama islam yang taat beribadah selama di rumah dan dirumah sakit, dan pasien yakin akan sembuh dari penyakitnya.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
13) Data Penunjang
Nama : Tn. H
Jenis kelamin : Laki – Laki
Alamat : Gempol – pasuruan
Tanggal Pemeriksaan : 27 – 12 – 2018 Diagnosa Klinis : Stemi Anterior
Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan Laboraturium pada Tn. H dengan diagnosa medis Infark Miokard Akut (Stemi Anterior) di Ruang Melati
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI KET
RUJUKAN HEMATOLOGI
Darah Lengkap
Leukosit ( WBC ) 12,60 3,70 – 10,1
Neutrofil 9,0
Limfosit 2,5
Monosit 1,0
Eosinofil 0,1
Basofil 0,1
Neutrofil % 71,3 % 39,3 – 73,7
Limfosit % 19,7 % 18,0 – 48,3
Monosit % 7,6 % 4,40 – 12,7
Eosinofil % L 0,6 % 0,600 – 7,30
Basofil % 0,8 % 0,00 – 1,70
Eritrosit ( RBC ) L 4,429 10³/uL 4,6 – 6,2
Hemoglobin ( HGB ) L 13,41 g/dL 13,5 – 18,0
Hematokrit ( HCT ) L 37,38 % 40 – 54
MCV 84,39 um³ 81,1 – 96,0
MCH 30,28 pg 27,0 – 31,2
MCHC H 35,88 g/dL 31,8 – 35,4
RDW L 10,00 % 11,5 – 14,5
PLT 270 10³/uL 115 – 366
MPV 6,999 fL 6,90 – 10,6
KIMIA KLINIK LEMAK
Trigliserida H 184 mg/dL < 150
Kolesterol 218 mg/dL < 200
Kolesterol HDL H 68,75 mg/dL > 34
Kolesterol LDL H 118,63 mg/dL < 100
FAAL GINJAL
BUN H 24 mg/dL 7,8 – 20,23
Kreatinin 1,041 mg/dL 0,8 – 1,3
PEMERIKSAAN PATOLOGI KLINIK
CK-MB 366,3 mg/dL < = 24
JANTUNG
Troponin I 11,400 ng/mL < 0,02
ELEKTROLIT
ELEKTROLIT SERUM
Natrium ( Na ) 138,30 mmol/L 135 – 147