• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada bab ini akan disajikan hasil pelaksanaan asuhan keperawatan yang mulai dari tahap pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi dari tanggal 27 Desember 2018 di ruang Melati RSUD Bangil.

Data diambil tanggal : 27 Desember 2018 Jam : 21.00 Tgl MRS : 27 Desember 2018

Ruang rawat/kelas : Mawar Diagnosa Medis : Stemi Anterior No. Rekam medis : 0038xxxx

3.1 Identitas Klien

Klien adalah seorang laki - laki bernama Tn. H usia 50 tahun beragama islam, klien tinggal di Gempol – Pasuruan, klien bekerja sebagai sopir dengan pendidikan terakhir SD, klien menikah dengan Ny. T dan dikaruniai dua orang anak. Klien MRS pada tanggal 27 Desember 2019 di Ruang Melati RSUD Bangil.

1) Keluhan Utama pasien mengatakan nyeri dada sebelah kiri menjalar ke punggung.

2) Riwayat penyakit sekarang pasien mengatakan saat dirumah mengeluh nyeri dada sebelah kiri kemudian hilang saat dipakai istirahat. Pada tanggal 27 Desember 2018 saat bekerja pasien merasakan nyeri kembali dibagian dada sebelah kiri dan sesak, pukul 20.00 WIB pasien dibawa ke IGD RSUD Bangil dan diberikan tindakan pemasangan masker NRBM 10 Lpm. Pukul 21.00 WIB pasien dipindahkan ke ruang melati. Pada saat pengkajian pasien

mengatakan nyeri dada sebelah kiri menjalar ke punggung seperti diremas – remas dengan skala 6, dan nyeri hilang timbul.

3.1.2.2 Riwayat Keperawatan Sebelumnya

Riwayat Kesehatan yang lalu pasien mengatakan tidak pernah memiliki riwayat penyakit seperti HT dan DM, tidak pernah melakukan operasi, dan tidak memiliki alergi makanan atau obat.

3.1.2.3 Riwayat Kesehatan Keluarga

1) Penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga Pasien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit keturunan 2) Lingkungan rumah dan komunitas

Lingkungan rumah tidak kotor, ventilasi rumah baik, pasien mengatakan sering mengikuti acara dilingkungan rumah seperti pengajian.

3) Perilaku yang mempengaruhi kesehatan

Pasien mengatakan sering begadang saat masuk malam di tempat kerja, dan jarang melakukan olahraga.

3.1.2.4 Status cairan dan nutrisi

Nafsu makan baik, saat di Rumah pasien makan 1 porsi sedang sebanyak 3x sehari, dan saat di RS pasien makan 3x sehari 1 porsi habis.

Pasien selalu mengkonsumsi air putih dengan jumlah 1,5 Liter/hari. Pasien mengatakan tidak ada pantangan dan tidak melakukan diet. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

3.1.2.5 Genogram

X

Ket :

= Perempuan

= Laki – Laki X

= Pasien

= Meninggal dunia

= Tinggal serumah

3.1.2.6 Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan umum : Lemah 2) Tanda Vital :

(1) Tensi : 130/80 mmHg

(2) Suhu : 36ºC

(3) Nadi : 100 x/menit

(4) Respirasi : 28 x/menit 3) Respirasi (B1)

Bentuk dada normal chest, tidak ada skoliosis pada susunan ruas tulang belakang, irama nafas tidak teratur dengan jenis dispnea, terdapat retraksi otot bantu pernafasan, perkusi thorax sonor, getaran sama kanan kiri pada

vokal premitus, menggunakan alat bantu nafas NRBM 10 Lpm, dan terdapat suara nafas wheezing, pasien mengatakan sesak dan letih setelah beraktivitas.

Masalah keperawatan : Ketidakefektifan pola nafas dan Intoleransi Aktivitas 4) Kardiovaskuler (B2)

Terdapat nyeri dada, irama jantung reguler, ictus cordis teraba kuat pada ICS V Midclavicula, dunyi jantung S1 dan S2 Tunggal, CRT <3 detik, tidak terdapat sianosis, tida terdapat clubbing finger, dan tidak ada pembesaran JVP.

P = Nyeri timbul saat beraktivitas Q = Nyeri seperti diremas – remas

R = Nyeri dada sebelah kiri menjalar ke punggung S = Skala nyeri 6

T = Nyeri hilang timbul

Lain-lain : Hasil Lab CK-MB 366,3 mg/dL, Troponin I 11,400 ng/mL, dan pada hasil EKG terdapat ST Elevasi pada V2 dan V3

Masalah keperawatan : Nyeri Akut dan Resiko Penurunan Curah Jantung 5) Persyarafan (B3)

Kesadaran composmentis dengan GCS 456, orientasi baik, tidak terdapat kaku kejang dan kaku kuduk, tidak ada nyeri kepala, dan tidak ada kelainan nervus cranialis. Istirahat dirumah ± 6 Jam, saat di RS ± 7 Jam, dan sering terbangun.

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

6) Genetourinaria (B4)

Bentuk alat kelamin normal dan bersih, terpasang kateter dengan jumlah 1300/24 Jam dengan warna kuning dan bau khas.

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 7) Pencernaan (B5)

Keadaan mulut bersih, mukosa bibir kering, terdapat caries, dan saat di RS tidak menggosok gigi tetapi melakukan oral hygiene menggunakan listerine. Pasien tidak mengalami kesulitan menelan dan tidak ada pembesaran tonsil. Tidak ada nyeri abdomen, tidak kembung dan peristaltik usus 10 x/menit. Pasien mengatakan saat dirawat di RS belum BAB.

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 8) Muskuloskeletal Dan Integumen (B6)

Tidak terdapat fraktur, tidak ada dislokasi, akral pucat, turgor kulit baik, tidak ada oedema, dan kekuatan otot 5 5

5 5

9) Pengindraan (B7)

Pada mata tidak menggunakan alat bantu penglihatan dan pasien bisa melihat dengan jelas, konjungtiva anemis, sklera putih. Ketajaman penciuman normal, tidak ada sekret dan mukosa hidung lembab. Pada telinga tidak ada keluhan. Perasa normal ( bisa merasakan manis, pahit, asam, asin )

Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

10) Endokrin (B8)

Pada pasien tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan tidak ada pembesaran kelenjar parotis. Tidak terdapat luka gangren.

11) Data Psikososial

Pasien mengatakan merasa bangga terhadap tubuhnya, karena pasien merasa sempurna dengan apa yang diberikan Allah SWT. Pasien sebagai kepala keluarga dan sebagai kakek merasa sangat puas terhadap status dan posisinya didalam keluarga. Pasien sudah mampu menjadi ayah dari anak- anaknya, tetapi saat sakit tidak bisa mencari uang. Harapan pasien ingin cepat sembuh dan bisa cepat pulang untuk berkumpul dengan anggota keluarganya, dan menganggap bahwa penyakit yang dideritanya merupakan ujian dari Allah dan memasrahkan semua kepada tim medis untuk melakukan yang terbaik bagi kesembuhan pasien. Selama di RS pasien sering dijenguk oleh keluarga dan hubungan pasien dengan keluarga sangat baik.

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 12) Data Spiritual

Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien adalah pemeluk agama islam yang taat beribadah selama di rumah dan dirumah sakit, dan pasien yakin akan sembuh dari penyakitnya.

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

13) Data Penunjang

Nama : Tn. H

Jenis kelamin : Laki – Laki

Alamat : Gempol – pasuruan

Tanggal Pemeriksaan : 27 – 12 – 2018 Diagnosa Klinis : Stemi Anterior

Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan Laboraturium pada Tn. H dengan diagnosa medis Infark Miokard Akut (Stemi Anterior) di Ruang Melati

PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI KET

RUJUKAN HEMATOLOGI

Darah Lengkap

Leukosit ( WBC ) 12,60 3,70 – 10,1

Neutrofil 9,0

Limfosit 2,5

Monosit 1,0

Eosinofil 0,1

Basofil 0,1

Neutrofil % 71,3 % 39,3 – 73,7

Limfosit % 19,7 % 18,0 – 48,3

Monosit % 7,6 % 4,40 – 12,7

Eosinofil % L 0,6 % 0,600 – 7,30

Basofil % 0,8 % 0,00 – 1,70

Eritrosit ( RBC ) L 4,429 10³/uL 4,6 – 6,2

Hemoglobin ( HGB ) L 13,41 g/dL 13,5 – 18,0

Hematokrit ( HCT ) L 37,38 % 40 – 54

MCV 84,39 um³ 81,1 – 96,0

MCH 30,28 pg 27,0 – 31,2

MCHC H 35,88 g/dL 31,8 – 35,4

RDW L 10,00 % 11,5 – 14,5

PLT 270 10³/uL 115 – 366

MPV 6,999 fL 6,90 – 10,6

KIMIA KLINIK LEMAK

Trigliserida H 184 mg/dL < 150

Kolesterol 218 mg/dL < 200

Kolesterol HDL H 68,75 mg/dL > 34

Kolesterol LDL H 118,63 mg/dL < 100

FAAL GINJAL

BUN H 24 mg/dL 7,8 – 20,23

Kreatinin 1,041 mg/dL 0,8 – 1,3

PEMERIKSAAN PATOLOGI KLINIK

CK-MB 366,3 mg/dL < = 24

JANTUNG

Troponin I 11,400 ng/mL < 0,02

ELEKTROLIT

ELEKTROLIT SERUM

Natrium ( Na ) 138,30 mmol/L 135 – 147

Kalium ( K ) L 3,38 mmol/L 3,5 – 5

Klorida ( CI ) 103,70 mmol/L 95 – 105

Kalsium Ion 1,220 mmol/L 1,16 – 1,32

GULA DARAH

Gula Darah Sewaktu 130 mg/dL < 200

Hasil : Gambaran EKG

Penjelasan : Pada V2 dan V3 ditemukan ST elevasi Gambar 3.2 Hasil EKG pada pasien Infark Miokard Akut

Gambar 3.3 Hasil Foto thorax pada pasien Infark Miokard Akut

Hasil Foto Thorax :

Cor : besar dan bentuk kesan normal Pulmo : tak tampak infiltrat/nodul Sinus phrenicocostalis kanan kiri tajam

Tulang – tulang tampak baik Kesimpulan :

Saat ini foto thorax tak tampak kelainan Terapi

Inf. NS 500 cc/24Jam : Untuk mengatasi atau mencegah kehilangan sodium yang disebabkan dehidrasi, keringat berlebih.

Inj. Omeprazole 40 mg : Untuk mengurangi produksi asam lambung, mencegah dan mengobati gangguan pencernaan atau nyeri ulu hati.

Inj. Lovenox 2x0,6 cc ( SC ) : Untuk mengurangi resiko serangan jantung.

PO. Atrovastatin 1x20 mg : Untuk menurunkan kolesterol Jahat (LDL) serta meningkatkan jumlah kolesterol baik (HDL)

PO. ISDN 3x5 mg : Untuk mngatasi nyeri dada.

Bangil, 27 Desember 2018 Mahasiswa

Intan Berliani

ANALISA DATA Tanggal : 27 – 12 - 2018

Nama pasien : Tn. H

Umur : 50 Th

NO RM : 0038xxxx

No DATA ETIOLOGI PROBLEM

1. Ds : Pasien mengatakan sesak nafas Keletihan otot pernafasan Ketidakefektifan

Do : Pola Nafas

a. Keadaan umum lemah b. GCS 456

c. TTV :

TD = 130/80 mmHg N = 100 x/menit RR = 28 x/menit S = 36º C d. Nafas tidak teratur

e. Terdapat suara nafas tambahan : Wheezing

f. Terdapat otot bantu pernafasan

g. Menggunakan NRBM 10 Lpm

2. Ds : Pasien mengatakan nyeri dada Iskemia Jaringan Nyeri Akut sebelah kiri dan menjalar ke Miokard

punggung, seperti diremas – remas, skala nyeri 6, terasa nyeri saat beraktivitas dan istirahat

Do :

a. Pasien tampak menyeringai b. Pasien tampak memegangi

dadanya

c. Pasien terlihat waspada d. TTV :

TD = 130/80 mmHg N = 100 x/menit RR = 28 x/menit S = 36º C

3. Ds : Pasien mengatakan nyeri dada Ketidakseimbangan Intoleransi sebelah kiri dan badannya terasa antara suplay oksigen aktivitas lemah dan sesak setelah aktivitas miokard dan kebutuhan,

Do : adanya iskemia/nekrosis

a. Pasien tampak lemah jaringan miokard b. TTV :

TD = 130/80 mmHg N = 100 x/menit RR = 28 x/menit

S = 36º C

c. ADL dibantu keluarga dan perawat

4. Ds : Pasien mengatakan nyeri dada Perubahan laju, irama, Resiko sebelah kiri dan sesak nafas dan konduksi elektrikal penurunan curah

Do : jantung

a. TTV :

TD = 130/80 mmHg N = 100 x/menit RR = 28 x/menit S = 36º C

b. Terpasang O2 masker 10 Lpm

c. Terdapat St elevasi antara V1 sampai V4

3.2 MASALAH KEPERAWATAN DAN DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS

Pernyataan yang jelas tentang masalah klien dan penyebab. Selain itu harus spesifik berfokus pada kebutuhan klien dengan mengutamakan prioritas dan diagnosa yang muncul harus dapat diatasi dengan tindakan keperawatan.

3.2.1 Daftar Masalah Keperawatan 3.2.1.1 Ketidakefektifan pola nafas.

3.2.1.2 Nyeri akut.

3.2.1.3 Intoleransi aktivitas.

3.2.1.4 Resiko penurunan curah jantung.

3.2.2 Daftar Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas 3.2.2.1 Nyeri akut b.d iskemia jaringan miokard.

3.2.2.2 Ketidakefektifan pola nafas b.d keletihan otot pernafasan.

3.2.2.3 Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplay oksigen miokard dan kebutuhan, adanya iskemia/nekrosis jaringan miokard.

3.2.2.4 Resiko penurunan curah jantung b.d perubahan laju, irama, dan konduksi elektrikal.

3.3 Rencana Keperawatan

Menyusun rencana tindakan keperawatan yang dilaksanakan untuk menanggulangi masalah dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien.

Tanggal : 27 – 12 - 2019 Nama pasien : Tn. H

Dx. Medis : Stemi Anterior

Tabel 3.3 Intervensi keperawatan nyeri akut b.d iskemia jaringan miokard

No Tujuan/kriteria hasil Intervensi Rasional

Dx

1. Setelah dilakukan 1. Bina hubungan saling 1. Untuk meningkatkan tindakan keperawatan percaya kepercayaan pasien

selama 2x24 jam kepada perawat

diharapkan nyeri 2. Lakukan pengkajian 2. Untuk mengetahui berkurang nyeri secara tingkat nyeri pasien Kriteria Hasil : komprehensif termasuk

1) Mampu lokasi, karakteristik, mengontrol durasi, frekuensi, nyeri ( tahu kualitas, dan faktor penyebab presipitasi

nyeri, mampu 3. Observasi reaksi 3. Untuk mengetahui menggunakan nonverbal dari tingkat ketidaknyamanan tehnik non ketidaknyamanan yang dirasakan oleh

farmakologi pasien

untuk 4. Kontrol lingkungan 4. Untuk mengurangi mengurangi yang dapat tingkat ketidaknyamanan nyeri ) mempengaruhi nyeri yang dirasakan oleh

2) Pasien tampak seperti suhu ruangan, pasien

tidak pencahayaan, dan

memegangi kebisingan

daerah yang 5. Ajarkan tentang teknik 5. Agar pasien mampu nyeri non farmakologi seperti menggunakan teknik non

3) Skala nyeri distraksi dan relaksasi farmakologi dalam

menjadi 1-3 memanagement nyeri

(ringan) yang dirasakan

4) Pasien tampak 6. Kolaborasi pemberian 6. Pemberian analgetik rileks analgetik untuk dapat mengurangi rasa

5) Tanda – tanda mengurangi nyeri nyeri pasien

vital dalam

rentang normal

(tekanan darah,

nadi,

pernafasan ) TD : Sistolik (130–139 mmHg), diastolik (85–

89 mmHg) N : 60–70 x/menit RR : 16-24 x/menit

Tabel 3.4 Intervensi Keperawatan Ketidakefektifan pola nafas b.d keletihan otot pernafasan

2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 Jam diharapkan pasien menunjukkan pola nafas efektif yang dibuktikan dengan status respirasi tidak terganggu.

Kriteria Hasil : 1) Mendemonstrasi

kan latihan nafas dalam secara mandiri 2) Menunjukkan

jalan nafas yang paten(pasien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam

1. Observasi frekuensi, kedalaman pernafasan, dan ekspansi dada

2. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara

tambahan

3. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi ( posisi semi fowler ) 4. Ajarkanuntuk

melakukandeep

breathing exercis ( latihan nafas dalam ) secara mandiri

5. Pantau TTV tiap jam

1. Mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk memastikan kepatenan jalan nafas dan pertukaran gas yang adekuat

2. Adanya suara nafas tambahan yang abnormal menentukan intervensi yang akan dilakukan selanjutnya oleh perawat 3. Membantu ekspansi paru dan pernafasan normal

4.Meningkatkan

kekuatan otot pernafasan dan fungsi ventilasi paru serta memperbaiki oksigenasi jaringan 5. Mengumpulkan dan menganalisisdata

rentang normal, kardiovaskuler,

tidak ada suara pernafasan dan suhu

nafas tambahan) tubuh pasien untuk

3) Tanda – tanda menentukan dan

vital dalam mencegah komplikasi

rentang normal ( 6. Kolaborasi pemberian 6. Meningkatkan pola tekanan darah, O2 masker 10 Lpm pernafasan spontan yang

nadi, pernafasan ) optimal sehingga

TD : Sistolik memaksimalkan

(130–139 pertukaran oksigen

mmHg), dalam tubuh

diastolik (85–89

mmHg)

N : 60–70

x/menit

RR : 16-24

x/menit

Tabel 3.5 Intervensi Keperawatan Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplay oksigen miokard dan kebutuhan, adanya iskemia/nekrosis jaringan miokard

NO Tujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL

3. Setelah dilakukan tindakan 1. Catat denyut dan 1.Menentukan

keperawatan selama 2x24 jam ritme jantung, serta respon pasien diharapkan pasien mampu perubahan tekanan terhadap aktivitas bertoleransi dengan aktivitas darah sebelum, dan sapat Kriteria Hasil : selama, dan setelah mengindikasikan

1) Berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kekurangan oksigen aktivitas fisik tanpa indikasi. Nyeri dada pada miokard, disertai peningkatan dan sesak nafas sehingga harus tekanan darah, nadi, dan mungkin terjadi. mengurangi tingkat

RR aktivitas, bedrest,

2) Mampu melakukan perubahan regimen aktivitas sehari-hari pengobatan, atau (ADLs) secara mandiri penggunaan oksigen.

3) Mampu berpindah : 2. Motivasi pasien 2. Mengurangi beban dengan atau bantuan untuk melakukan kerja miokard dan alat tirah baring. Batasi konsumsi oksigen, 4) Status respirasi : aktivitas yang serta mengurangi pertukaran gas dan menyebabkan nyeri risiko komplikasi, ventilasi adekuat dada atau respons misalnya perparahan 5) Sirkulasi status baik jantung yang buruk. infark miokard.

Berikan aktivitas Pasien tanpa pengalihan yang komplikasi infark bersifat nonstres. miokard didorong untuk terlibat dalam aktivitas yang ringan diluar tempat tidur, termasuk jalan-jalan kecil 12 jam setelah

kejadian.

3.Instruksikan pasien 3. Kegiatan yang untuk menghindari memerlukan untuk peningkatan tekanan menahan nafas dan abdominal, misalnya mengejan, misalnya mengejan saat buang manuver valsava, air besar. dapat mengakibatkan bradikardia sehingga

terjadi penurunan

curah jantung dan selanjutnya

mengalami

takikardia dengan

peningkatan tekanan darah.

4. Jelaskan pola 4. Kegiatan progresif peningkatan tingkat memberikan beban aktivitas, misalnya yang terkontrol pada bangun untuk pergi jantung. Serta ke toilet atau duduk meningkatkan

dikursi, ambulasi kekuatan dan progresif, dan mencegah kelelahan.

beristirahat setelah makan.

5. Evaluasi tanda dan 5. Palpitasi, denyut gejala yang tidak teratur, mencerminkan peningkatan nyeri intoleransi terhadap dada, atau dispnea tingkat aktivitas yang mungkin

ada atau menunjukkan

memberitahukan kebutuhan untuk pada perawat atau perubahan latihan

dokter. atau obat.

6. Kolaborasi dengan 6.Program

tenaga kesehatan lain rehabilitasi jantung dalam merujuk ke memberikan

program rehabilitasi dukungan dan

jantung. pengawasan

tambahan, serta mendorong

partisipasi dalam proses pemulihan.

Tabel 3.6 Intervensi Keperawatan Resiko penurunan curah jantung b.d perubahan laju, irama, dan konduksi elektrikal

NO Tujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL

4 Setelah dilakukan tindakan 1.Lakukan 1. Hipotensi dapat keperawatan selama 2x24 jam pengukuran tekanan terjadi akibat diharapkan tidak terjadi darah. Bandingkan disfungsi ventrikular, penurunan curah jantung hasil pada setiap hipoperfusi

Kriteria Hasil : lengan, saat duduk, miokardium, dan 1) Tanda vital dalam berbaring, dan stimulasi vagal.

rentang normal ( berdiri. Namun, hipertensi

Tekanan Darah, Nadi, juga dapat terjadi

Respirasi ) akibat nyeri, ansietas,

2) Dapat mentoleransi pelepasan

aktivitas, tidak ada katekolamin, dan

kelelahan memiliki masalah

3) Tidak ada edema paru, pembuluh darah

perifer dan tidak ada sebelumnya.

asites Hipotensi ortostatik (

4) Tidak ada penurunan postural ) mungkin

kesadaran berhubungan dengan

komplikasi infark,

misalnya gagal

jantung.

2. Auskultasi bunyi 2.S3 biasanya jantung. Catat adanya berhubungan dengan gallop S3 dan S4, gagal jantung, namun murmur, serta rub. adanya insufisiensi

mitral (regurgitasi)

dan overload

ventrikel kiri yang

dapat menyertai

infark parah juga

dicatat.

S4 mungkin

berhubungan dengan

iskemia miokard,

kekakuan ventrikel,

dan hipertensi

pulmonal atau

sistemik.

Murmur

mengindikasikan

adanya gangguan

aliran darah pada

jantung, misalnya

gangguan pada

katup, defek septum, atau getaran otot papilaritas dan korda tendinea (komplikasi infark miokard)

Rub

mengindikasikan adanya infark yang disebabkan oleh peradangan,

misalnya efusi perikardial dan perikarditis.

3. Auskultasi suara 3.Krakels

nafas menandakan adanya

kongesti pulmonal,

yang mungkin

berkembang karena penurunan fungsi miokard.

4. Pantau denyut dan 4. Denyut dan ritme ritme jantung. jantung berespon Dokumentasikan terhadap medikasi, disritmia melalui aktivitas, dan telemetri. perkembangan

komplikasi.

Disritmia terutama kontraksi ventrikular yang prematur atau progressive heart blocks, dapat mempengaruhi

fungsi jantung atau meningkatkan

kerusakan iskemik.

5. Berikan makanan 5. Makanan besar yangkecildan dapat meningkatkan

mudah dicerna. beban kerja miokard Batasi asupan kafein, dan menyebabkan misalnya kopi, stimulasi vagal, yang cokelat, dan cola. mengakibatkan

bradikardia atau denyut ektopik.

Kafein merupakan stimulanlangsung pada jantung yang dapat meningkatkan denyut jantung.

6. Kolaborasi dengan 6. Disritmia biasanya tenaga kesehatan lain diobati sesuai dengan dalam pemberian gejalanya. Terapi obat – obatan sesuai ACE inhibitor indikasi, misalnya sebagai pengobatan obat antidisritmia. awal, khususnya

pada infark miokard anterior yang besar, aneurisma ventrikel, atau gagal jantung, dapat meningkatkan keluaran vemtrikel, meningkatkan

kelangsungan hidup, dan mungkin memperlambat

perburukan gagal jantung.

3.4 Tindakan Keperawatan

Nama pasien : Tn. H No. RM : 0038xxxx Umur : 50Th

No Dx Tanggal Jam Implementasi Nama/ttd

1. 27 – 12 – 21.00 Melakukan pengkajian nyeri komprehensif 2019 yang meliputi lokasi, karakteristik,

frekuensi.

P = Nyeri timbul saat beraktivitas dan kadang saat istirahat

Q = Nyeri seperti di remas – remas R = Nyeri timbul di dada sebelah kiri dan menjalar ke punggung

S = Skala nyeri 6

T = Nyeri hilang timbul

21.10 Mengendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan dengan cara membatasi pengunjung dan membatasi pencahayaan

21.15 Mengajarkan penggunaan teknik non farmakologi dengan cara mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam

21.45 Mendukung istirahat atau tidur yang adekuat untuk membantu penurunan nyeri dengan menganjurkan pasien istirahat

21.50

2. 27 – 12 - 21.55 201822.00

22.05

22.10

3. 27 – 12 – 22.15 2018

4. 27 – 12 – 22.05 2018

selama 6-8 jam dan menghindari memikirkan hal – hal yang berat

Melakukan kolaborasi dengan

memberikan analgesik tambahan jika diperlukan untuk meningkatkan efek pengurangan nyeri dengan memberikan obat oral ISDN 3X5mg Memberikan Posisi semifowler

Memberikan O2 masker 10 Lpm Mengauskultasi suara nafas Terdapat suara wheezing Memantau pernafasan pasien

Pergerakan dada simetris, terdapat pemakaian otot bantu pernafasan, dan pola pernafasan cepat dan dangkal. RR = 28 x/menit

Memotivasi pasien untuk melakukan tirah baring, dan membatasi aktivitas yang menyebabkan nyeri dada atau respons jantung yang buruk.

Mengauskultasi bunyi jantung Terdapat suara S1 dan S2 Tunggal

1. 28 – 12 – 04.30 2018

04.45

2. 28 – 12 – 04.55 2019

05.00

05.05

Melakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, frekuensi

P = Nyeri timbul saat aktivitas Q = Nyeri seperti diremas – remas

R = Nyeri di dada sebelah kiri dan menjalar ke punggung

S = Skala nyeri 4 T = Nyeri hilang timbul

Mengajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi dengan cara mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam

Melakukan observasi tanda – tanda vital TD = 130/70 mmHg

N = 98 x/menit RR = 26 x/menit S = 36,1º C

Memantau pernafasan, pergerakan dada dan pola pernafasan pasien

Pergerakan dada simetris, terdapat otot bantu pernafasan, dan pola pernafasan.

RR = 26 x/menit

Mengauskultasi suara nafas Terdapat suara wheezing

05.10 Menjelaskan dan mengajarkan teknik deep breathing exercis yang berfungsi untuk meningkatkan fungsi paru dan dilakukan dengan cara pasien menghirup nafas secara perlahan dan dalam melalui mulut dan hidung, sampai perut terdorong maksimal / mengembang kemudian menahan nafas 1 – 5 hitungan, selanjutnya menghembuskan udara secara lambat melalui mulut.

3. 28 – 12 – 05.30 Mencatat denyut dan ritme jantung, serta 2018 perubahan tekanan darah sebelum, selama,

dan setelah aktivitas sesuai indikasi.

05.40 Menginstruksikan pasien untuk menghindari peningkatan tekanan abdominal, misalnya mengejan saat buang air besar

4. 28 – 12 –

05.50

Memberikan penjelasan untuk makanan 2018 yang kecil dan mudah dicerna. Batasi

asupan kafein, misalnya kopi, coklat, dan cola.

1 29 – 12 – 09.00 Melakukan pengkajian nyeri komprehensif 2018 yang meliputi lokasi, karakteristik,

frekuensi

P = Nyeri timbul saat aktivitas

2. 29 – 12 – 2018

Q = Nyeri seperti di remas – remas R = Nyeri di dada sebelah kiri dan menjalar ke punggung

S = Skala nyeri 3 T = Nyeri hilang timbul

09.15 Melakukan kolaborasi dengan memberikan analgesik tambahan dan/atau pengobatan jika diperlukan untuk meningkatkan efek pengurangan nyeri dengan memberikan obat oral ISDN 3x5 mg

09.25Memantau pernafasan, pergerakan dada dan pola pernafasan pasien

Pergerakan dada simetris, tidak terdapat pemakaian otot bantu pernafasan, dan pola pernafasan normal dan teratur. RR = 22 x/menit

09.30 Mengingatkan dan mendampingi untuk melakukan teknik deep breathing exercis dengan cara pasien menghirup nafas secara perlahan dan dalam melalui mulut dan hidung, sampai perut terdorong maksimal / mengembang kemudian menahan nafas

1-5 hitungan, selanjutnya menghembuskan udara secara lambat melalui mulut.

10.00 Mengauskultasi suara nafas

Suara nafas vesikuler dan tidak ada suara tambahan

3. 29 – 12 – 10.10 Menjelaskan pola peningkatan tingkat 2018 aktivitas, dan beristirahat setelah makan

Pasien bangun untuk pergi ke toilet dan duduk dikursi

4. 29 – 12 – 12.00 Membandingkan hasil tekanan darah pada 2018 saat duduk dengan melakukan observasi

tanda – tanda vital TD = 120/80 mmHg N = 80 x/menit RR = 22 x/menit S = 36,2º C

3.5 Evaluasi Keperawatan

Nama pasien : Tn. H Umur : 50Th No. RM : 0038xxxx

Tanggal Diagnosa Evaluasi Paraf

Keperawatan

30 – 12 - Nyeri Akut S : Pasien mengatakan nyeri dada sebelah 2018 kiri sudah jarang timbul dengan skala 3,

nyeri seperti diremas – remas O :

1. Keadaan umum : lemah

2. Kesadaran composmentis, GCS 456

3. TTV :

RR = 22 x/menit S = 36º C

4. Wajah Tampak rileks

5. Pasien sudah tidak memegangi daerah dada yang nyeri

A : Masalah Keperawatan Teratasi P : Intervensi dihentikan, pasien pulang

30 – 12 – Ketidakefektifan S : Pasien mengatakan sudah tidak 2018 pola nafas merasa sesak lagi dan merasa lebih baik

setiap kali melaksanakan DEB O :

1. Mendemonstrasikan latihan nafas dalam secara mandiri

2. Menunjukkan jalan nafas paten ( pasien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal )

3. TTV :

TD = 130/80 mmHg N = 100 x/menit RR = 22 x/menit S = 36º C

A : Masalah Keperawatan Teratasi P : Intervensi dihentikan, pasien pulang

Dokumen terkait