• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIALOG NASIONAL: PERAN STRATEGIS PEMERINTAH KOTA DAN

Dalam dokumen Prosiding Festival Iklim 2018 (Halaman 96-106)

LAPORAN 3 TAHUN CAPAIAN PENGENDALIAN PERUBAHAN IKLIM

III. SEMINAR DAN WORKSHOP

12. DIALOG NASIONAL: PERAN STRATEGIS PEMERINTAH KOTA DAN

Wrap Up

• Hasil penelitian yang dipaparkan dalam Seminar ini semakin menguatkan fakta dan menyediakan basis data yang akurat bahwa perubahan iklim adalah nyata dan telah merubah fenologi, perilaku, produksi dan sustainability biodiversitas mulai dari anggrek marga Bulbaphyllum spp, hutan alam primer, mikroba, dan mangroves.

• Ekosistem mangrove merupakan ekosistem memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan iklim serta perubahan tata guna dan tutupan lahan.

• Untuk dapat mendukung penguatan aksi mitigasi dan adaptasi peruahan iklim, dan Data dan informasi dari hasil-hasil penelitian ini perlu didiseminasikan secara lebih luas.

12. DIALOG NASIONAL: PERAN STRATEGIS PEMERINTAH KOTA

menempatkan kota – kota tersebut dalam kebutuhan bersama akan kolaborasi aksi demi pencapaian pembangunan yang berkelanjutan berdasarkan inisiatif-inisiatif mitigasi perubahan iklim yang ambisius namun terukur dalam kerangka kerja sama regional di kawasan.

Perkembangan kawasan perkotaan 10 tahun terakhir memperlihatkan bahwa dunia sedang mengalami era “menjadi urban” dimana sebagian besar penduduk dunia beraktivitas dan bertempat tinggal di kota-kota dan atau kawasan urban di seluruh dunia. Keadaan ini, mendorong Kota menjadi salah satu kontributor utama dan terbesar dalam upaya penanggulangan perubahan iklim melalui inisitif – inisiatif pembangun rendah karbon dengan target mitigasi gas rumah kaca (GRK) yang tinggi namun terukur. Komitmen dan inisiatif pemerintah kota menjadi penting dalam memfasilitasi aksi dan investasi mitigatif yang secara kolektif dapat mendukung komitmen pemerintah nasional yang telah dimandatkan sebagai bagian dari Wrap Up 2015.

Kesepakatan Paris yang dicapai pada UNFCCC Conference of the Parties (COP 21) pada Desember 2015 memandatkan disusunnya Intended Nationally Determined Contributions (INDCs). Sebagai langkah tindak lanjut kesepakatan tersebut di atas, Indonesia telah menyatakan komitmen untuk mengurangi emisi GRK sebesar 29%

dari BAU (Business as Usual) pada 2030 dan 41% dengan dukungan internasional.

Untuk mendukung pencapaian target penuruan emisi Indonesia, peran pemerintah daerah sangat strategis dan penting. Masing-maing pemerintah Provinsi dan beberapa kota telah berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca secara terukur. Sebagai contoh Pemerintah DKI Jakarta, telah memiliki instrumen Peraturan Gubernur Nomor 131 tahun 2012 tentang Rencana Aksi Daerah Penurunan emisi gas rumah DKI Jakarta untuk melakukan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 30% di tahun 2030. Demikian juga halnya kota Bogor akan menurunkan hingga 29% di tahun 2030, semetara itu kota Balikpapan telah memiliki komitmen untuk menurunkan hingga 19.39% di tahun 2020.

Disisi lain, terdapat banyak Pemerintah Daerah juga telah memiliki strategi adaptasi dampak perubahan iklim. Dalam 5 tahun terakhir, ICLEI telah berinteraksi dan membantu menyusun rencana aksi daerah dampak perubahan iklim di 10 kota di Indonesia. Kota-kota tersebut telah memiliki telaah cukup mendalam tentang dampak-dampak perubahan iklim, wilayah-wilayah dan actor-aktor rentan, sekaligus terdapat proyeksi iklim dalam 40 tahun ke depan, rencana aksi dan aksi-akis konkrit untuk mengurangi dampak perubahan iklim di masa mendatang.

Inisiatif dan aksi-akis konkrit yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah dan melibatkan masyarakat sipil di perkotaan ini merupakan kontribusi nyata dalam mendukung pemerintah Indonesia mencapai ambisi 29% dan atau 41% dengan bantuan donor dalam pengurangan emisi ditingkat global.

Peran serta masyarakat sipil cukup strategis untuk mendorong terciptanya lingkungan yang rendah karbon, khususnya melalui perubahan gaya hidup masyarakat di perkotaan. Harus diakui bahwa kesadaran masyarakat akan lingkungan masih rendah,

salah satunya dalam hal penggunaan energi dan transportasi secara kurang efektif dan efisien yang mana hal ini cenderung memberikan dampak negatif terhadap perubahan iklim. Perubahan gaya hidup perlu menjadi sorotan utama yang mana sedikit banyak dapat memberikan dampak positif terhadap perubahan iklim melalui penurunan penggunaan energi dan emisi udara di perkotaan.

Namun demikian, harus diakui belum semua pemerintah kota menyadari akan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dalam mendukung aksi-aksi mengatasi perubahan iklim di Indonesia. Sebagian pemerintah daerah belum memiliki rencana aksi konkrit agenda perubahan iklim yang terintegrasi dalam perencanaan pembangunan di daerah.

Kondisi ini menjadi tantangan dan peluang bagi Pemerintah Pusat untuk dapat lebih intensif untuk mendorong pemerintah daerah untuk dapat lebih aktif dalam mendukung agenda perubahan iklim. Selain memberikan apresiasi kepada kepada pemerintah daerah yang sudah aktif, juga perlu disiapkan instrument yang dapat menstimulus bagi pemeritah daerah dalam mengintensifkan aksi-aksi konkrit agenda perubahan iklim di daerah.

Keaktifan Pemerintah Daerah dalam mendukung perubahan iklim tentu menjadi perhatian banyak pihak sehingga dibutuhkan skema pengintegrasian kebijakan pusat dan daerah yang lebih operasional.

Tujuan dari Seminar tersebut adalah:

1. Membedah peran Pemerintah Kota dan masyarakat sipil dalam mendukung Agenda Perubahan Iklim di Indonesia

2. Mengindentifikasi isu-isu penting bagi pemerintah kota dan masyarakat sipil dalam mendukung aksi nasional perubahan iklim

3. Membuat rekomendasi bagi pemerintah pusat dan daerah dalam mendukung percepatan pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca di Indonesia

Pada bagian awal, Keynote Speaker menyampaikan paparan mengenai pentingnya peran pemerintan daerah dan masyarakat sipil dalam agenda perubahan iklim.

Selanjutnya moderator mempersilahkan seluruh narasumber untuk bergabung di

depan peserta yang hadir dalam format round table meeting untuk menyampaikan pandangannya sesuai dengan pertanyaan moderator terkait kegiatan yang telah dilakukan oleh masing-masing narasumber di bidang tugasnya. Moderator mengharapkan narasumber dari KLHK menyampaikan informasi tentang kebijakan nasional dalam perubahan iklim. Sedangkan pimpinan daerah diharapkan menyampaikan usaha yang telah dilakukan serta stakeholders yang terlibat dalam kegiatan perubahan iklim dan narasumber dari UI diharapkan melihat konsistensi Pemerintah dan Pemkab/kota dalam menjalankan agenda perubahan iklim.

Ringkasan Paparan Narasumber

1. Keynote Speech oleh Utusan Khusus Presiden RI untuk Pengendalian Perubahan Iklim

• Bp Rachmat Witoelar menyampaikan apresiasi atas kehadiran pimpinan dari daerah atau yang mewakili dalam dialog interaktif yang diselenggarakan Festival Iklim 2018.

• Permasalahan bencana di Indonesia disebabkan permasalahan cuaca akibat pemanasan global. Prakiraan bencana hidrometeorologi akan semakin mengancam terutama pada kota-kota metropolitan dengan sumber emisi yang beragam.

• Pada tahun 2050, Indonesia diperkirakan akan menduduki peringkat ke-8 dalam hal ekonomi dengan jumlah penduduk sekitar 320 juta, dan 85%

tinggal di kota yang akan berpengaruh terhadap peningkatan di beberapa hal dikarenakan pertumbuhan penduduk yang masif tersebut.

• Pada tahun 2020, diperkirakan terdapat 20 megapolitan dan 50 kota dengan jumlah penduduk 500 ribu dan lebih dari 100 kota kecil. Kota tersebut berpotensi sebagai penyimpan karbon dan juga emisi GRK karena keterbatasan teknologi.

• Hal tersebut akan berpengaruh terhadap kenaikan pola transportasi, khususnya kendaraan bermotor seperti motor dan mobil yang akan menurunkan kualitas kehidupan.

• Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah perlu merespon dengan pembangunan rendah karbon melalui kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dengan mempromosikan masyarakat lingkungan yang berkelanjutan.

• Life style dalam kehidupan sehari-hari juga berpengaruh terhadap emisi karbon. Diperlukan suatu visi ke depan yang menganut konsep sustainable development, yang tidak hanya sekedar membangun secara linier saja dengan konsep yang harus ditekankan adalah “no one cannot be left behind” dalam pembangunan.

2. Direktur IGRK & MRV

• Komitmen Presiden dalam penurunan GRK sebesar 29% dengan usaha sendiri dan 41% dengan kerjasama internasional, dituangkan dalam NDC.

Sektor kehutanan bertanggungjawab atas penurunan emisi sebesar 17.2%, energi 11%, pertanian 0.32%, limbah 0.38%, industri 0.1%.

• Penurunan emisi dilakukan melalui pendekatan tingkat nasional tapi dilakukan pada tingkat pemerintah daerah, sehingga peran daerah sangatlah penting

dalam menanggapi isu perubahan iklim.

• Aplikasi SIGN SMART V2 untuk perhitungan emisi GRK akan dilaunching pada tanggal 25 Januari 2017 sebagai penyempurnaan versi terdahulu yang untuk seluruh propinsi dan kabupaten/kota telah diberikan password. Perhitungan melalui SIGN-SMART 2 untuk perhitungan seluruh emisi GRK pada Tier 1-3.

• Di dalam inventori, dikembangkan sistem SRN untuk keperluan medaftarkan seluruh aksi mitigasi dari 5 sektor agar apa yang telah dilakukan dapat dilacak MRV-nya. Verifikasi dilakukan oleh KLHK dimana Kab/Kota akan dapat mengetahui berapa penurunan emisi di masing-masing sektor.

• Pada tahun 2016 secara nasional emisi GRK yang sudah terverifikasi dapat dikurangi 7% dari BAU 2030.

• Perlu adanya capacity building kepada provinsi, kemudian provinsi ke kabupaten kota untuk mendukung agenda-agenda Kementerian (KLHK) untuk menanggapi isu perubahan iklim.

• Respon dari Pemprop cukup bagus tetapi masih terkendala dengan banyaknya dokumen terkait perubahan iklim. Data Potensi Penurunan Emisi yang belum terverfikasi.

• Program yang dilakukan Bappenas berupa potensi penurunan GRK sedangkan KLHK melakukan verifikasi.

3. Bupati Sijunjung

• Berbagi pengalaman mengenai program pemerintah kabupaten Sijunjung dalam bidang kebijakan yang telah dilakukan dalam mengantiipasi dampak perubahan iklim.

• Kabupaten Sijunjung berbatasan dengan Bukit Barisan dan propinsi Riau di sebelah timur. Jumlah penduduk sekitar 250 ribu dengan luas 3,130 km2, 8 kecamatan, 62 nagari dan kampung dan 304 jorong dengan visi ‘terwujudnya masyarakat kabupaten Sijunjung yang madani, berkualitas, sejahtera dan merata’.

• Perlindungan sumberdaya alam dan lingkungan di Sijunjung digerakkan oleh 3 elemen penting : (1) Pergerakan masyarakat dalam Kelompok Kerja Nagari Sehat (multi stake holders), (2) Kelompok Tani dan (3) Kelompok Biodiversity (pabrik teh herbal Garcity).

• Kegiatan Antisipasi perubahan iklim di lakukan oleh Pemerintah daerah Kabupaten Sijunjung dengan seluruh elemen masyarakat

• 80 % Wilayah kabupaten Sijunjung adalah hutan dengan luas 186,000 ha, terdiri dari hutan produksi 50,000 ha, hutan lindung 80,000 ha dan hutan konservasi berkisar 50,000 ha. Gerakan menyelamatkan hutan adalah gerakan sadar menjaga ekosistem dan mengantisipasi dampak perubahan iklim.

• Program Pro Proklim digalakan di seluruh Nagari (desa) di Kabupaten Sijunjung.

• Beberapa dampak kegiatan tersebut diatas antara lain: pelestarian kawasan hutan tetap asri, hilangnya kegiatan ilegal loging, masyarakat merasa memiliki hutan, ekonomi masyarakat meningkat, kreativitas masayrakat kelompok lokal bioversity berhasil membentuk pabrik teh tradisional dengan bahan baku asam kandis dan asam gelugur.

4. Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Kebersihan, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta

• Komitmen nasional untuk menurunkan GRK, dituangkan dalam Pergub 131/2012 tentang RAD penurunan emisi GRK dan Pergub 38/2012 tentang green building.

• DKI juga mengeluarkan Grand Design of Green Building dan komitmen untuk mengurangi konsumsi air, energi dan emisi CO2 pada gedung-gedung sebesar 30% (35 juta ton CO2e) pada tahun 2030.

• Sektor terbesar di DKI adalah energi yang dirinci dalam : transportasi, bangunan, sampah dan rumah tangga.

• DKI juga menyampaikan laporan ke Bappenas setiap tahun dan inventarisasi GRK ke KLHK.

• Dari sektor energi, baru 12 dari 15 aksi mitigasi sektor energi yang datanya telah terkumpul. Jumlah tersebut masih jauh dari jumlah kegiatan sektor energi yang direncanakan di dalam RAD DKI Jakarta sebanyak 27 aksi.

• Belum adanya mekanisme pengumpulan data dan metodologi perhitungan menjadi penyebab belum mampu dilakukannya perhitungan capaian penurunan emisi dari aksi mitigasi yang signifikan terhadap ketercapaian target RAD pada 2030 yaitu pada aksi konservasi energi industri, konservasi energi rumah tangga, dan biofuel.

• Penurunan emisi yang dicapai pada 2016 didominasi oleh capaian dari aksi mitigasi non-RAD yaitu efisiensi energi pembangkit listrik dengan penurunan emisi sebesar 3,7 juta ton CO2e.

• Beberapa hal rekomendasi yang diperlukan (1) perlu dilakukan sinkronisasi RAD GRK DKI Jakarta terhadap dokumen perencanaan pembangunan dan rencana strategis unit terkait, (2) perlu diberikan kemudahan dalam mengakses data dari Lembaga-Lembaga Pemerintah Pusat seperti BPS, BPH Migas, dll, (3) perlu dilakukan penyamaan satuan antara metodologi IPCC 2006 dengan data-data yang ada di Indonesia misalnya data-data dari BPS dan (4) perlu disediakan mekanisme perhitungan emisi GRK untuk kegiatan Proper.

5. Kepala Bappeda Kota Tangerang

• Kota Tangerang memiliki jumlah penduduk sekitar 2 juta, dengan luas 184 km2, dimana 10% merupakan kawasan bandara SHIA dan 4% tidak boleh dibangun untuk keselamatan area SHIA. Dalam 1 menit terdapat 7 pesawat take-off dan landing di SHIA.

• Isu staretegis dalam lingkungan hidup adalah banjir, kemacetan, polusi dari industri dan sampah serta ketersediaan RTH.

• Dalam mengelola kota Tangerang, yang dilakukan adalah berkolaborasi dengan stakeholders dengan membuka peran semuanya dalam mengelola lingkungan.

• Jalur transportasi ke SHIA tidak ada jalan negara, terobosannya adalah angkutan masal langsung ke bandara dan jalan negara ke SHIA.

• Produksi sampah sekitar 1,400 ton/hari, sedangkan yang dapat diangkut ke TPA dengan luas 25 ha baru 1.000 ton. Untuk itu diperlukan pengurangan sampah di TPA melalui teknologi yang tepat guna, dan program langit biru dengan uji emisi.

• Seluruh sekolah di kota Tangerang telah melaksanakan program sekolah adiwiyata.

• Untuk mendukung target yang ditetapkan, Proklim, Kampung Berkelir, Kampung PHBS dibuat di setiap RW.

• Dalam hal penurunan emisi, 30% penurunan emisi dari Prop Banten merupakan sumbangan dari Kota Tangerang.

6. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi

• Sumber GRK di Kota Bekasi antara lain (1) kepadatan jumlah kendaraan bermotor; (2) pertambahan jumlah industri; (3) alih fungsi lahan; (4) pemakaian AC non BPO; dan (5) pemakaian batu bara.

• Kota Bekasi yang terletak di gerbang timur kota Jakarta dengan penduduk 2.6 juta jiwa dan luas 10 km2, dikategorikan sangat padat.

• Kota Bekasi merupakan tempat penampungan sampah dari DKI dengan luas TPA 113 ha. Untuk kota Bekasi sendiri tersedia TPA seluas 16 ha yang meliputi 3 kelurahan. Produksi sampah kota Bekasi adalah 1,700 ton per hari, namun hanya bisa diangkut sekitar 600 ton ke TPA. Dengan demikian terdapat 1,100 ton sampah di masyarakat yang tersebar di kali, pingir jalan, dsb.

• Upaya yang dilakukan dalam penurunan GRK: Proklim, penghijauan kota, car free day, uji emisi, bank sampah dan rumah kompos.

• Setahun terakhir, telah dibangun 1,013 bank sampah dengan partisipasi masyarakat di setiap RW. Sebanyak 200 bank sampah sudah berbadan hukum dan memiliki Akte Notaris.

• Gerakan peduli lingkungan dapat memperkecil volume sampah ke TPA.

7. Country Manager ICLEI-Indonesia

▪ ICLEI - Pemerintah Daerah untuk keberlanjutan adalah jaringan dunia yang terdiri dari lebih dari 1,500 kota, dan wilayah yang berkomitmen untuk membangun masa depan yang berkelanjutan. Sekretariat ICLEI Asia Tenggara (ICLEI SEAS), berbasis di Manila, Filipina, saat ini melayani Anggota ICLEI di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

▪ ICLEI adalah asosiasi pemerintah kota yang bekerja di bidang isu perubahan iklim dan lingkungan hidup. Selain itu juga, membantu memfasilitasi Pemda dalam pencapaian target GRK nasional. Pada COP-21 telah terdapat peran Pemda dalam perubahan iklim. Pada COP-23 terdapat Talanua Dialog yaitu dialog yang inklusif berbagai pihak yang bersifat mencapai solusi tertentu.

ICLEI sebagai fokal poin Pemda di level nasinal, berusaha mencapai target yang lebih tendensius membantu target nasional.

▪ ICLEI mendukung atau mendorong penurunan GRK dan komitmen penurunan GRK dunia.

▪ Program Urban LEDS dilakukan di Kota Bogor, Tangeran Selatan, Balikpapan dan Tarakan.

▪ Pada awalnya ICLEI membantu dalam hal Inventarisasi GRK pada tahun 2013 dimana waktu itu pemerintah daerah belum mendapat mandat penurunan GRK.

8. Ketua Forum Kota Sehat Kota Bogor

▪ Resiko yang dihadapi oleh kota Bogor terutama peningkatan curah hujan dengan dampak kerusakan lapisan tanah karena banjir. Untuk itu strategi yang dilakukan adalah menampung air hujan yang teritegrasi dengan jalan lingkungan.

▪ Masalah: Genangan air hujan di jalan karena drainase yang kurang memadai, Limpasan air hujan langsung mengalir ke sungai, genangan air hujan membuat jalan cepat rusak sehingga terganggunya kegiatan perekonomian masyarakat.

▪ Strategi yang dilakukan : Pembuatan sistem drainase, penampungan limpasan air hujan, pemanfaatan air hujan, biaya konstruksi murah, biaya pemeliharaan murah dan dapat dilakukan oleh masyarakat.

▪ Drainase berkelanjutan didesain untuk pengurangi potensi dampak baru dan lama dengan membangun sarana drainase yang adaptip terhadap perubahan iklim dan berkelanjutan. Sumur resapan dibangun di jalan pada setiap 10 m, dengan diameter 2x2x1m.

Stakeholders yang terkait dalam pembangunan drainase: Forum Kota Sehat sebagai inisiator, masyarakat sebagai pengguna dan pemelihara, satgas perubahan iklim kota Bogor sebagai fasilitator dan ICLEI sebagai penyandang dana.

▪ Sebagai pembelajaran: kolaborasi yang baik antara pemerintah daerah, masyarakat dan pendukung dana menghasilkan hasil yang baik

▪ Forum Kota Sehat juga berkolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat dengan kegiatan penanganan limbah domestik. Dalam RPJMD kota Bogor target akses sanitasi untuk 112 ribu KK. Pemerintah hanya menyediakan pembangunan sedangkan ketersediaan lahan dari masyarakat. Forum Kota Sehat menjembatani penyediaan lahan dengan minimal luas 50m2. Hingga tahun 2016 telah terbangun 105 unit, dengan 1 tempat dapat diakses oleh 100 KK.

9. Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim, Universitas Indonesia

▪ UN Sustainble Development Solustion Network (UNSDSN), merupakan konsorsium 700 universitas dunia yang digagas oleh mantan Sekjen PBB, Ban Ki Moon dengan tujuan mencari solusi lokal dalam perubahan iklim.

Di Indonesia, perubahan iklim secara lokal telah banyak solusinya, namun tantangannya adalah bagaimana mereplikasinya di lokasi lain.

▪ Sejak 2014 UNSDSN menyelenggarakan sayembara kepada daerah untuk aksi perubahan iklim yang solutif. Bojonegoro, kelompok anak jalan menjadi petani organik di Jakarta merupakan daerah yang pernah diapresiasi oleh UNSDSN.

▪ Terdapat 50 Perguruan Tinggi di Indonesia yang masih berupa menara gading, yang ahli dalam perubahan iklim namun melakukan risetnya secara sendiri. Sebagai contoh, UI melakukan monitor atas polusi dan malaria di kota Jakarta.

▪ Banyak solusi di dunia yang sebenarnya tidak memerlukan dana dalam aksi lokal perubahan iklim.

▪ Dalam Paris Agreement terdapat Reseacrh Scientific Observatory (RSO) yang

merupakan bagian keterlibatan dari perguruan tinggi dalam perubahan iklim.

▪ Ambisi untuk mengurangi emisi sangat besar. Untuk 5 tahun ke depan sektor kota dan energi akan menjadi tumpuan dalam pengurangan emisi, bukan sektor kehutanan.

▪ Indonesia memiliki potensi pada tingkat kota/kabupaten, dalam pengurangan emisi GRK yang dapat mengurangi emisi hingga 25%.

Pembahasan dan Diskusi

• Diskusi lebih banyak berupa penggalian lebih dalam dari paparan nara sumber yang dilakukan oleh moderator dan tanggapan dari peserta.

• Untuk kegiatan adaptasi masih sulit diukur secara kuantitatif dibandingkan dengan kegiatan mitigasi. Mainstreaming adaptasi secara internasional atau nasional lebih terasa gaungnya dibanding mitigasi. Bukan berarti adaptasi itu tak penting hanya perlu upaya lebih keras dalam bahasa yang sederhana, salah satunya adalah melalui Proklim.

• Perlu adanya penghargaan kepada aktor terbawah dalam aktifitas lingkungan dan atau perubahan iklim.

• Visi dari pemerintah daerah memiliki peran yang sangat penting dalam merespon perubahan iklim

• Perlu adanya capacity building kepada provinsi, kemudian provinsi mentransfer pengetahuan ke kabupaten/kota untuk mendukung agenda-agenda Kementerian dalam menanggapi isu perubahan iklim

• Kegiatan pembangungan rendah emisi dan adaptif terhadap dampak perubahan iklim harus dimasukkan ke dalam RPJMD di daerah (Propinsi, Kabupaten/kota)

• Dari studi kasus Kabupaten Sijunjung, kesadaran masyarakat itu memiliki peran yang penting. Adanya kesadaran dari masyarakat dapat membantu pemerintah daerah untuk melaksanakan program-programnya dalam merespon isu perubahan iklim

• Peran masyarakat sangat penting baik dalam aksi mitigasi maupun adaptasi karena merekalah yang merasakan langsung dampak perubahan iklim

• Dukungan untuk implementasi program-program dan aksi-aksi pembangunan kota rendah emisi dan adaptif terhadap dampak perubahan iklim dari lembaga nasional dan Internasinal cukup banyak, ini dapat menjadi peluang bagi Pemerintah Daerah dan Komunitas.

• Pendataan terkait solusi di setiap daerah memiliki peran yang penting dimana nantinya dapat dijadikan pembelajaran untuk daerah-daerah lainnya

• Perlu ada sistem pelayan publik di Pemda untuk memberi arahan kepada masyarakat dalam kerangka meningkatkan kesadaran terutama yang terkait dengan isu lingkungan.

• Indonesia punya potensi sebagai pusat studi global dalam menjalankan agenda- agenda perubahan iklim, untuk itu diperlukan keseriusan Indonesia dalam menangkap peluang ini.

• Terdapat komitmen dan kesungguhan dari pemerintah pusat dan daerah serta masyakrat dalam mendukung agenda perubahan iklim. Komitmen pemerintah pusat direspon positif dengan sangat serius oleh pemerintah daerah.

• Masyarakat sipil memiliki kemandirian untuk mendukung aksi-aksi perubahan

iklim sehingga hal ini harus menjadi pemicu bagi pemerintah untuk tetap komitmen dalam mendukung aksi perubahan.

Wrap Up

• Pemda telah banyak memiliki inisiatif dalam kerangka untuk mendukung upaya penuruan emisi dan aksi-aksi konkrit adaptasi dampak perubahan iklim.

• Kolaborasi dengan stakeholder – membuka peran seluruh masyarakat dan lain sebagainya untuk membangun kota merupakan kunci keberhasilan pembangunan berkelanjutan.

• Mengedukasi masyarakat menjadi hal penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membantu program-program pemerintah daerah dalam penurunan GRK.

• Perlu adanya kerjasama yang menyeluruh dari berbagai ahli atau universitas untuk bersinergi untuk penurunan emisi GRK.

Dalam dokumen Prosiding Festival Iklim 2018 (Halaman 96-106)