LAPORAN 3 TAHUN CAPAIAN PENGENDALIAN PERUBAHAN IKLIM
III. SEMINAR DAN WORKSHOP
3. FOCUS GROUP DISCUSSION: RAPERMEN LHK PANDUAN KAJIAN
IKLIM
Hari, Tanggal : Selasa, 16 Januari 2017 Pukul : Pukul 13.00 – 16.00 WIB Tempat : Ruang Sonokeling Besar Peserta yang hadir : ± 76 orang
Moderator : Perdinan, Ph.D, MNRE Narasumber :
No Nama Instansi Judul/Tema Paparan
1 Ir. Arif Wibowo, MSc Kepala Subdit Identifikasi dan Analisis Kerentanan, Dit. API, KLHK
Struktur Rancangan Permen Pedoman Kajian Kerentanan, Risiko, dan Dampak Perubahan Iklim
2 Adhi Wiriana Direktur Diseminasi Statistik, BPS
Ketersediaan dan Mekanisme Akses Data Sosial Ekonomi Berbasis Spasial
3. Lien Rosalina Kepala Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik, BIG
Tanggapan atas Rancangan Permen Pedoman Kajian Kerentanan, Risiko, dan Dampak Perubahan Iklim
4. Anna Amalia
Fungsional Perencana Muda, Direktorat Lingkungan Hidup Bappenas
Pembahasan Rapermen KRDPI:
Pada tataran implementasi program dan kegiatan di level Nasional dan Daerah, Proyek Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) berkolaborasi dengan elemen pemerintah, masyarakat sipil, dan dunia usaha, yang tujuannya untuk memperkuat dan mendorong implementasi aksi adaptasi perubahan iklim dan dampak bencana (terkait cuaca ekstrem dan iklim), dan untuk mengarusutamakan agenda adaptasi perubahan iklim (API) dan pengurangan risiko bencana (PRB) dalam perencanaan, penganggaran, dan kegiatan utama mereka. Mengingat API dan PRB bersifat lintas sektoral, maka sinergisitas lembaga/institusi dan aktor lainnya seperti LSM, Dunia Usaha dan Perguruan Tinggi dan praktisi lainnya menjadi sangat penting dalam mengurai persoalan, tantangan, dan peluang untuk mewujudkan aksi adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana melalui penyiapan perangkat kebijakan dan operasional (teknis), praktek, dan pembelajaran aksi API-PRB bersama masyarakat dan mendorong perhatian dunia usaha melalui perencanaan bisnis yang berkelanjutan.
Pada pertengahan tahun 2017 telah disusun Naskah Akademis sebagai dasar pemikiran dan pertimbangan untuk menyusun panduan kajian kerentanan, risiko dan dampak perubahan iklim. Hal yang mendasari dibuatknya panduan kajian ini adalah untuk mendorong upaya dan inisiatif adaptasi perubahan iklim API oleh KLHK dan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) oleh BNPB. Kajian tersebut diperlukan agar dapat disusun upaya integratif API-PRB untuk meminimalisasi potensi dampak perubahan iklim global di Indonesia. Pada tingkat komunitas (tataran aksi), kajian risiko dapat memperkuat upaya kesiapsiagaan dan mitigasi terhadap ancaman bencana khususnya ancaman bencana hidrometeorologis (i.e., bencana terkait iklim), dengan pertimbangan metoda yang disusun dapat mengestimasi adanya potensi kejadian suatu jenis bencana dan menganalisis faktor-faktor pendorong kejadian bencana tersebut.
Dalam tataran teknis terkait kajian risiko, pemerintah Indonesia melalui KLHK telah mengembangkan sistem online yang disebut Sistem Informasi Data Indeks Kerentanan (SIDIK). Saat ini, SIDIK memiliki penekanan dalam kemampuan mengukur tingkat kapasitas, sensitivitas, dan keterpaparan wilayah, http://sidik.menlhk.go.id/.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga telah mengembangkan basis data online untuk penilaian risiko bencana, yaitu: DIBI dan informasi risiko suatu jenis bencana pada suatu wilayah disebut dengan INARISK, http://inarisk.bnpb.
go.id/. Memahami kapasitas kedua sistem tersebut dan adanya inisiatif Konvergensi APIPRB, perlu didorong adanya mekanisme analisis standar kajian risiko yang sudah mempertimbangkan atau sudah memasukkan skenario perubahan iklim sebagai acuan bagi pengguna, sehingga hasilnya dapat digunakan secara nasional.
Ruang lingkup kegiatan penyusunan naskah akademik dan draft Permen sudah didiskusikan secara internal oleh Direktorat Adaptasi – Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim – KLHK. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut disepakati untuk pembahasan dengan fokus pada makalah akademis dan diarahkan pada komponen penilaian risiko dan dampak, yang mencakup indikator dan data pendukung, yaitu data formal dan sukarela yang tersedia. Diskusi juga akan diarahkan khususnya pada kesiapan dan ketersiadaan suplai data proyeksi iklim wilayah Indonesia, sehingga dapat dipergunakan untuk menyusun skenario risiko perubahan iklim terhadap berbagai wilayah dan sektor di masa depan (e.g., 2030 dan 2050). Hasil kajian risiko tersebut akan bermanfaat untuk dipergunakan sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan, penyusunan rencana penanggulangan bencana, dan rencana pembangunan saat ini, jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Strategi tersebut, dalam konteks ini dimaksudkan sebagai langkah adaptasi perubahan iklim dan penguragan risiko bencana, sebagai masukan penting dalam pengembangan kebijakan dan perencanaan pembangunan adaptif terhadap perubahan iklim sebagaimana dijelaskan pada Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN API) yang diluncurkan oleh Bappenas tahun 2014.
Kesepakatan mengenai tingkat analisis (Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota, atau berbasis landscape/bentang alam/ekosistem/DAS) dan ketersediaan data dan informasi pendukung yang diperlukan untuk penilaian risiko dan dampak, termasuk untuk mendukung sistem analisis yang sudah tersedia saat ini, yaitu: SIDIK.
Penentuan indikator untuk perbedaan keperluan analisis dan kesepakatan terkait
kompatibiltas data tersedia dan dengan pertimbangan penyusunan dokumen dirancang dengan melibatkan para pemangku kepentingan, diskusi terfokus pada indikator, data, dan informasi (misal: iklim, bio-fisik, sosial-ekonomi pendukung kajian kerentanan pada berbagai resolusi dan/atau skala administrasi) dan model- model yang dipergunakan dalam analisis risiko dan/atau dampak perubahan iklim pada sektor Pertanian, Sumberdaya Air/DAS, Kelautan dan Perikanan, Kehutanan, Kesehatan, dan Perkotaan. Pembahasan juga meliputi kebijakan-kebijakan berkaitan dengan penentuan indikator dan data/informasi yang dipergunakan dikaitkan dengan Internasional komitmen, misalnya: SDGs, NDC, dan Sendai Framework, serta kesepakatan terkait penggunaan data bersumber bukan dari penyedia data resmi di Indonesia.
Draft Peraturan Menteri mengenai penentuan kriteria untuk pelaksanaan Kajian Risiko dan Dampak Perubahan Iklim (KRDPI) ini mengatur mengenai berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan KRDPI sehingga dapat dipergunakan untuk penyusunan rekomendasi tindak lanjut intervensi yang akan dilakukan sesuai tujuan dan ruang lingkup yang telah ditetapkan.
Diskusi bertujuan untuk mendiskusikan draft awal Peraturan Menteri mengenai Kajian Risiko dan Dampak Perubahan Iklim (Permen KRDPI) dengan melibatkan multi-pihak yang terkait.
Adapun hasil diskusi yang diharapkan adalah arahan terkait kesepakatan dan masukan yang diperlukan untuk perumusan atau revisi Draft Awal Permen KRDPI.
Hasil langsung yang diharapkan adalah:
• Kesepakatan mengenai peran serta K/L terkait dengan implementasi Rapermen KRDPI
• Arahan terkait mekanisme implementasi Rapermen KRDPI tingkat nasional dan sub-nasional
Kesepakatan mengenai posisi dan pemanfaatan hasil kajian sesuai Rapermen KRDPI dalam proses penyusunan KLHS dan perencanaan pembangunan di tingkat nasional dan sub-nasional.
Acara diawali dengan pemaparan Materi pokok yaitu terkait struktur rancangan Permen LHK tentang Pedoman Kajian Kerentanan, Risiko dan Dampak Perubahan Iklim dilanjutkan oleh tanggapan dari beberapa narasumber yang memberikan tanggapan terkait peran, mekanisme komunikasi data dalam rangka pemanfaatan rancangan permen ini setelah nanti ditetapkan
Ringkasan Paparan Narasumber
1. “Struktur Rancangan Permen Pedoman Kajian Kerentanan, Risiko, dan Dampak Perubahan Iklim”, Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim, KLHK
• Latar belakang disusunnya rancangan Peraturan Menteri LHK tentang Pedoman Kajian Kerentanan, Risiko, dan Dampak Perubahan Iklim antara lain: Undang-Undang nomor 32 tahun 2009, PP nomor 46 tahun 2016, dan Peraturan Menteri LHK nomor 33 tahun 2016.
• Struktur Rancangan Permen LHK dimaksud terdiri dari 4 Bab yaitu:
- Bab I Ketentuan Umum berisi pengertian dan tujuan rancangan permen - Bab II merupakan inti dari Rancangan Permen, yaitu berisi ketentuan
terkait lingkup, metodologi, indikator, sumber data yang digunakan dalam penyusunan kajian kerentanan, risiko, dan dampak perubahan iklim
- Bab III memuat ketentuan mengenai verifikasi terhadap hasil kajian - Bab IV ketentuan penutup
• Narasumber menjelaskan tentang instrumen berupa sistem informasi yang mampu mengukur indeks kerentanan secara nasional menggunakan data PODES dari BPS. Saat ini telah diidentifikasi 29 indikator kunci (nasional) dan perlu mendapat masukan dari semua K/L. Di samping itu, diperlukan koordinasi dan komunikasi data untuk mendukung operasionalisasi SIDIK.
2. “Ketersediaan dan Mekanisme Akses Data Sosial Ekonomi Berbasis Spasial”, Direktorat Diseminasi Statistik-BPS
• Narasumber menjelaskan berbagai jenis data yang disediakan oleh BPS. Secara umum digambarkan bahwa perubahan iklim dapat disajikan menggunakan data spasial yang didukung penyediaannya oleh BMKG, BIG, LAPAN, BPS, BPPT.
• Saat ini BPS juga menyediakan data sosial ekonomi berbasis spasial, misalnya jumlah korban meninggal yang diakibatkan bencana, jumlah desa tepi laut berdasarkan provinsi, penduduk yang menggunakan telepon seluler berdasarkan provinsi, dsb.
• Beberapa produk BPS yang dapat digunakan untuk mendukung data perubahan iklim antara lain adalah Potensi Desa, dan Survei Penduduk antar Sensus (SURPAS). Dalam SURPAS bahkan sudah ada beberapa pertanyaan terkait perubahan iklim, antara lain:
- Apakah selama lima tahun terakhir merasakan suhu udara yang lebih panas?
- Apakah melakukan upaya mengurangi akibat dari suhu udara yang lebih panas?
- Apakah selama 5 tahun terakhir merasakan musim hujan yang tidak menentu?
- Apakah selama 5 tahun terakhir merasakan kelangkaan air bersih?
- Apakah pernah mendengar tentang perubahan iklim?
- Apakah tahu mengenai perubahan iklim?
• Hampir semua data di BPS dapat diakses secara luas melaui website BPS.
Secara periodik, BPS melakukan penilaian konten website untuk menjamin data yang ditayangkan telah terupdate. BPS juga memiliki program pelayanan statistik terpadu.
3. “Tanggapan atas Rancangan Permen Pedoman Kajian Kerentanan, Risiko, dan Dampak Perubahan Iklim”, Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik-BIG
• Narasumber secara langsung memberi komentar dan masukan atas rancangan peraturan menteri. Secara garis besar, bebeapa komentar, saran, atau pertanyaan tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
- Perlu kejelasan mengenai posisi kajian dampak dalam konsep risiko perubahan iklim yang telah dirumuskan dalam fungsi R = H x V
- Saran penyesuaian untuk beberapa istilah: skala spasial menjadi skala peta, grid menjadi resolusi piksel. Indikator biofisik dan tutupan lahan saling tumpang tindih karena tutupan lahan termasuk dalam indikator biofisik sehingga sebaiknya digunakan salah satu saja
- Skala peta untuk kajian tingkat makro dapat menyesuaikan dengan Peraturan Kepala BNPB untuk kajian risiko bencana. Skala nasional 1:
250.000. Dengan demikian diharapkan dapat terintegrasi
- Sumber data adalah wali data sesuai dengan Rancangan Perpres Satu data Indonesia.
4. “Pembahasan Rapermen KRDPI: Pemanfaatan Data dan Informasi Kaji Ulang RAN API”, Direktorat Lingkungan Hidup-Bappenas
• Narasumber memaparkan mengenai latar belakang dan proses kaji ulang dokumen RAN-API. Kaji ulang RAN-API memerlukan data dan informasi serta proses kajian yang memadai agar dokumen yang dihasilkan mempunyai basis ilmiah yang memadai.
• Saat ini proses kaji ulang telah menyelesaikan kajian/bagian basis ilmiah yaitu bagian bahaya iklim yang dibagi berdasarkan 4 sektor yaitu: air, kesehatan, pesisir dan laut, dan pertanian. Pengelolaan data input kajian dari hasil modelling dan data observasi BMKG.
• Narasumber menekankan pentingnya legitimasi data sesuai wali data yang dimandatkan dalam rancangan perpres satu data. Oleh karena itu, SIDIK sangat penting perannya sehingga diharapkan data kerentanan nasional mengacu pada data dari KLHK
• Saat ini sedang disusun Indeks resiliensi sebagai indikator monev dan akan diadposi dalam RPJMN 2020-2024.
• Ketersediaan data berperan krusial dalam penyusunan strategi adaptasi spesifik sektor maupun daerah
Pembahasan dan Diskusi
• Masih banyak yang belum mempunyai pemahaman yang sama antara terminologi yang digunakan dalam adaptasi perubahan iklim dengan terminologi yang digunakan dalam kebencanaan. Kerangka kerja dari kedua pemahaman tersebut secara global telah ada (UNSDR dan UNFCCC). Pemahaman dan artikulasi penerjemahan konsep keduanya dalam praktek kajian yang perlu dipertajam.
• Arah dari rancangan permen ini diharapkan dapat menjadi pegangan dari pemerintah (K/L) maupun daerah dalam menyusun dokumen kajian. Namun dengan statusnya sebagai Peraturan Menteri dirasa belum mencukupi bila ingin diadopsi oleh semua K/L. Bila perlu, dapat didorong menjadi Perpres. Dalam kaitannya dengan Permen LHK nomor P.33, rancangan Permen ini bersifat melengkapi yang belum diatur dalam P.33
• Secara umum, rancangan peraturan ini tidak mengunci kebebasan dalam membuat kajian, hanya memberikan syarat minimal yang harus diikuti agar kajian berkualitas. Misalnya untuk metodologi, yang dikunci adalah kemampuan dari metodologi yang digunakan.
• Terkait dengan isu gender, secara umum isu ini sudah terwadahi dalam rancangan pedoman ini dimana indikator gender, kelompok rentan, wilayah khusus seperti kepulauan dan pesisir, dll termasuk kedudukan data lapangan yang tersedia di tingkat tapak hingga desa/kelurahan yang dapat menjadi sarana dalam proses verifikasi lapangan hasil kajian.
• Permen ini membuka ruang antar KL dalam berbagi data melalui sistem yang terintegrasi dalam kerangka sistem satu data dan satu peta (one map system) sehingga dapat mendukung RAN-API yang sedang dalam proses reviu.
• Keberadaan sistem SIDIK diharapkan menjadi One-system Product Indonesia sehingga dimanfaatkan oleh semua pihak sebagai entry point kajian kerentanan dan risiko yang lebih dalam/detail.
Wrap Up
• Secara umum rancangan Permen ini mendapat apresiasi dari peserta karena sangat penting dalam memandu berbagai pihak dalam melakukan kajian secara terstruktur sehingga tepat dalam memberikan arahan rekomendasi adaptasi yang tepat.
• Sosialisasi perlu terus dilakukan karena banyak aspek mendasar yang perlu dilakukan penyamaan pemahaman terutama terkait definisi dan terminologi atau istilah baku yang diatur dalam permen dengan persepsi yang terjadi dimasyarakat.
• Masukan terkait substansi secara umum sudah mendapat penjelasan.