• Tidak ada hasil yang ditemukan

TALK SHOW “PERSPEKTIF DAERAH TENTANG IMPLEMENTASI NDC

Dalam dokumen Prosiding Festival Iklim 2018 (Halaman 41-49)

LAPORAN 3 TAHUN CAPAIAN PENGENDALIAN PERUBAHAN IKLIM

III. SEMINAR DAN WORKSHOP

4. TALK SHOW “PERSPEKTIF DAERAH TENTANG IMPLEMENTASI NDC

• Sosialisasi perlu terus dilakukan karena banyak aspek mendasar yang perlu dilakukan penyamaan pemahaman terutama terkait definisi dan terminologi atau istilah baku yang diatur dalam permen dengan persepsi yang terjadi dimasyarakat.

• Masukan terkait substansi secara umum sudah mendapat penjelasan.

4. TALK SHOW “PERSPEKTIF DAERAH TENTANG

dan proporsi kontribusinya dalam upaya penurunan emisi GRK 29% dari BAU 2030, yakni: Kehutanan (17.2%), Energi (11%), Pertanian (0.32%), Industri (0.1%), dan Limbah (0.38%). Sedangkan untuk adaptasi, meliputi ketahanan ekonomi, ketahanan sosial dan sumber penghidupan, serta ketahanan ekosistem dan lansekap. NDC juga sejalan dengan komitmen nasional atas Sustainable Development Goals (SDGs), dimana pengurangan emisi menjadi bagian dari climate action.

Pencapaian target NDC memerlukan komitmen para pihak, termasuk Non Parties Stakeholders seperti Pemerintah Provinsi dan Kabupaten. Untuk itu, telah disusun sembilan program, mulai dari persiapan sampai dengan tahap akhir, mencakup:

1. Pengembangan ownership dan komitmen 2. Pengembangan kapasitas

3. Enabling environment

4. Penyusunan kerangka kerja dan jaringan komunikasi 5. Kebijakan Satu Data GRK

6. Penyusunan kebijakan, rencana, dan program (KRP) intervensi 7. Penyusunan pedoman implementasi NDC

8. Implementasi NDC

9. Pemantauan dan review NDC

Lebih jauh, untuk setiap program, telah disiapkan kegiatan yang semestinya dilakukan, para pihak yang terlibat dalam pelaksanaannya, dan kerangka waktu pelaksanaan. Pemerintah Daerah terlibat di lima program, yaitu: pengembangan ownership dan komitmen, pengembangan kapasitas, penyusunan kerangka kerja dan jaringan komunikasi, penyusunan kebijakan, rencana, dan program (KRP) intervensi, dan implementasi NDC.

Pertanyaannya kemudian, pertama, sejauh mana kesiapan Pemerintah Daerah untuk bisa mendukung program-program di atas? Pertanyaan kedua, Instrumen apa yang bisa digunakan Pemerintah Daerah untuk menjalankan dan melestarikan upaya pencapaian target NDC?

Tujuan dari Talk Show adalah:

1. Mengkomunikasikan NDC sebagai bagian yang tidak terpisahkan atau kelanjutan dari komitmen nasional serupa, misalnya SDGs dan Rencana Aksi Nasional/

Daerah untuk Pengurangan Emisi (RAN/RAD-GRK).

2. Mengidentifikasi instrumen-instrumen yang secara praktis dapat digunakan oleh Pemerintah Daerah untuk menjalankan, memantau dan mengevaluasi hasil NDC.

3. Mengidentifikasi tantangan yang dimiliki Pemerintah Daerah untuk bisa mengarusutamakan NDC.

Moderator membuka acara dengan memberikan catatan mengenai Nationally Determined Contribution (NDC). NDC memuat tentang lima kategori sektor dan proporsi kontribusinya dalam upaya penurunan emisi GRK 29% dari BAU 2030, yakni: Kehutanan (17.2%), Energi (11%), Pertanian (0.32%), Industri (0.1%), dan Limbah (0.38%). Sedangkan untuk adaptasi, meliputi ketahanan ekonomi, ketahanan sosial dan sumber penghidupan, serta ketahanan ekosistem dan lansekap. NDC juga sejalan dengan komitmen nasional atas Sustainable Development Goals (SDGs), dimana pengurangan emisi menjadi bagian dari climate action. Pencapaian target NDC memerlukan komitmen para pihak, termasuk Non Parties Stakeholders seperti Pemerintah Provinsi dan Kabupaten.

Ringkasan Paparan Narasumber

1. “Perspektif Provinsi Provinsi Kalimantan Tengah tentang Implementasi NDC”, Bappeda-Prov. Kalimantan Tengah

• Propinsi Kalimantan Tengah memiliki luas sekitar 153 juta km2, dengan kawasan hutan sekitar 15 juta ha yang terdiri dari hutan produksi, hutan lindung dan hutan konservasi. Populasi sekitar 2.5 juta penduduk dan tingkat pertambahan penduduk 2.3% yang tersebar di 13 kabupaten dan 1 kota.

Pertumbuhan ekonomi tercatat 5.6%.

• Mandat NDC dan Green Growth Roadmap telah tercakup dalam perencanaan pembangunan nasional dan RPJMD Kalteng (2016-2021).

• Berdasarkan RPJMD 2016-2021, propinsi Kalteng memiliki 8 misi yakni : 1) Pemantapan tata ruang wilayah provinsi; 2) pengelolaan infrastruktur; 3) pengelolaan sumberdaya air, pesisir, dan pantai; 4) pengendalian inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan pengentasan kemiskinan; 5) pemantapan tata kelola pemerintah daerah; 6) peningkatan pendidikan, kesehatan, pariwisata;

7) Pengelolaan LH dan SDA; 8) Pengelolaan Pendapatan Daerah dimana butir 7 terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup dan sumberdaya alam.

• Isu strategis dalam RPJMD Kalteng antara lain yaitu: Sustainable Development Goals/SDGs, Pertumbuhan Ekonomi Hijau (Green Economy), ancaman krisis ekonomi global, sumber energi baru dan terbarukan (EBT), antisipasi menipisnya cadangan mineral dunia, perubahan iklim global ( ), dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

• Hingga saat ini NDC tidak banyak dipahami oleh stakeholder di daerah sehingga perlu komunikasi, sosialisasi dan kampanye penyadartahuan lebih lanjut dari instansi kunci (KLHK & mitra);

• Keberadaan sektor kehutanan yang mengemban mandat 17.2% penurunan emisi GRK berdasarkan regulasi, namun secara faktual justru diemban oleh provinsi (UU 23/2014).

• RPJMD Provinsi Kalimantan Tengah berlaku 2016-2021, sehingga konsekwensi untuk 2021 mengemban mandat penurunan emisi GRK sebesar 29% dari BAU dan terkait dengan pelaksanaan Pilkada serentak, otomatis Pemkab/

kota mengemban mandat dimaksud;

• Kalteng sudah melakukan langkah RZWP3K (sektor kelautan) dan RUED-P (sektor energi), dan ini mandat ke seluruh Provinsi sehingga faktor Emisi &

EBT diprioritaskan;

• Persyaratan KLHS dalam setiap proses penyusunan RPJMD (provinsi, kabupaten & kota) di Kalimantan Tengah;

• Kendala yang dialami Kalimantan Tengah adalah adanya beberapa metode perhitungan karbon (carbon accounting) dengan dasar yang berbeda;

• Mandat penyusunan/implementai RAD GRK tidak sampai ke level Kabupaten/

Kota.

• Metode penghitungan emisi GRK dan keberadaan gambut di Kalteng (isu kebakaran hutan/lahan gambut, restorasi dan rehabilitasi gambut);

2. “Aksi Pemerintah Provinsi Kaltim dalam pencapaian terget NDC Indonesia”, Dewan Daerah Perubahan Iklim-Provinsi Kalimantan Timur

• Dewan Daerah Perubahan Iklim memiliki mandat untuk mengkoordinasikan semua kegiatan terkait Perubahan Iklim di Kalimantan Timur. Selain itu juga untuk memastikan kab/kota mengadopsi pembangunan rendah karbon. DDPI Kaltim diketuai oleh Gubernur dengan anggota OPD yang terkait perubahan iklim dan pakar universitas.

• Propinsi Kaltim memiliki luas 12.7 juta ha, dengan 8.5 juta ha berupa hutan.

Sejak tahun 1970, pembangunan bertumpu pada sektor ekstraktif sumber daya alam (kayu) dilanjutkan dengan migas dan batubara. Pada tahun 2016 dengan angka pertumbuhan -1.21% dilakukan transformasi ekonomi yang difokuskan pada green economy hingga 2030.

• Strategi pembangunan hijau Kaltim sejak 2010 dengan pencanangan Deklarasi Kaltim Green, Strtegi Pembangunan Rendah Karbon, Strategi dan Rencana Aksi Provinsi REDD+, RAD Penurunan Emisi GRK, Master Plan Perubahan Iklim Kaltim, Master Plan Pembangunan Ekonomi Hijau Kaltim dan Deklarasi Green Growth Compact.

• Misi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim Kalimantan Timur yaitu: (1) mengarusutamakan perubahan iklim dalam perencanaan pembangunan di provinsi dan kabupaten/kota; (2) meningkatkan kapasitas kelembagaan

pemerintah, swasta dan masyarakat dalam beradaptasi dan memitigasi perubahan iklim; (3) mendorong implementasi program dan kegiatan pembangunan yang rendah emisi; (4) memastikan

• Aksi mitigasi perubahan iklim: sektor lahan, limbah dan energi.

• Aksi adapatsi perubahan iklim: sumber daya air, kesehatan, pertanian, infrastruktur, perikanan/pesisir dan pengelolaan bencana.

• Aksi mitigasi program prioritas sektor kehutanan berupa perhutanan sosial, dan penguatan KPH, percepatan perhutanan sosial, pembentukan desk resolusi konflik kehutanan, pengelolaan usaha kehutanan berkelanjutan (PHPL, SLVK), perlindungan dan pencegahan karhutla.

• Dalam hal pengembangan perkebunan targetnya yaitu terbangunnya kesepakatan antara pemerintah, provinsi dan kabupaten/kota.

• Tantangan yang dihadapi adalah pengarusutamaan perubahan iklim dalam program dan kegiatan di kab kota.

Pembahasan dan Diskusi

Pada sesi pembahasan, moderator memberikan kesempatan kepada masing-masing penanggap untuk memberikan ulasan terkait dengan dua paparan dari nara sumber.

Direktur Mitigasi Perubahan Iklim

• Apresiasi diberikan kepada Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur yang telah memberikan paparan yang sangat menarik dan komprehensif. Kedua provinsi tersebut cukup aktif dalam mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam proses pembangunan di daerah. Terkait dengan NDC, perlu dipahami bersama bahwa NDC merupakan komitmen Indonesia yang bersifat wajib di dunia internasional untuk dilaksanakan dan akan diminta pertanggungjawabannya oleh berbagai pihak termasuk masyarakat Indonesia sendiri pada tahun 2030.

• Penurunan emisi sebesar 29% adalah tanggung jawab di tingkat nasional.

Untuk sektor kehutanan 17.2% dan sektor energi 11% dengan ESDM sebagai penanggungjawab. Penurunan emisi merupakan tanggungjawab Pemerintah (Parties) dan Non-Parties, dengan KLHK sebagai NFP. Ada 4 faktor dalam sektor prioritas kehutanan terkait penyumbang penurunan emisi: penurunan deforestasi,

degrasi, rehabilitasi dan konservasi gambut. Dirjen PHPL sedang menata langkah mitigasi perusahaan yang juga dapat diklaim sebagai bagian 17.2%.

• Terkait REDD+, terdapat FREL nasional yang telah dibangun dan tercatat di Secretariat UNFCCC. Penurunan emisi akan dibandingkan dengan FREL sub- nasional, yang menjadi bagian utuh kehutanan.

• Terdapat satu tantangan dari Provinsi Kalteng yaitu NDC tidak mudah dipahami di provinsi Kalteng dikarenakan belum adanya sosialisasi NDC di Kalteng. Namun demikian, kegiatan sosialisasi telah dilakukan di beberapa provinsi lainnya. Di dalam mengimplementasikan NDC, maka banyak K/L yang akan terlibat di dalamnya, begitu juga pemerintah daerah di dalam menyiapkan dokumen di daerah.

• Di dalam pelaksanaan NDC, maka proses verifikasi akan menjadi tantangan tersendiri. Untuk itu pada tingkat nasional telah dilakukan perhitungan untuk masing-masing sektor.

• Di daerah, penyusunan dokumen RAD merupakan suatu modal yang sangat penting dan bermanfaat bagi implementasi NDC di daerah.

Staf Direktorat LH Bappenas

• Di dalam pengimplementasian NDC, terdapat banyak tantangan di provinsi karena kondisi dan permasalahan yang beragam di tiap daerah.

• Pada kenyataannya, proses Pilkada sangat mempengaruhi kebijakan di dalam pengimplementasian NDC seperti review RAD.

• Bahan review RAD tersebut digunakan sebagai masukan dalam perencanaan sehingga kegiatan-kegiatan yang mendukung pelaksanaan NDC dapat dimasukkan ke dalam dokumen RPJMD.

• Di dalam prerencanaan, saat ini di pusat sedang dilakukan proses perubahan RAN-GRK menjadi Pembangunan Rendah Karbon, dimana saat ini juga sedang dibahas dengan seluruh K/L.

Direktur Konservasi Energi, Ditjen EBTKE-ESDM

• Rencana Umum Energi Daerah (RUED) disusun dengan mempertimbangkan target penurunan emisi sebesar 41% artinya telah mengimplementasikan faktor perubahan iklim. Perlu diketahui bersama bahwa transportasi dan industri merupakan sekttor yang menyumbang emisi terbesar di dalam sektor energi.

• Secara ekonomis, harga produk dari renewable energi sangat kompetitif di pasaran. Saat ini energi terbarukan bukan lagi menjadi suatu hal politis namun telah menjadi suatu bisnis yang berpotensi untuk digarap. Sebagai contoh, pembangkit listrik tenaga kincir angin Bayu Sidrap di Sulawesi Selatan sudah dalam skala ekonomis. Demikian juga untuk lampu hemat energi LED rumah tangga juga telah turun harganya.

• Terkait dengan efisiensi energi, maka efisiensi energi di Jawa sudah mencukupi, namun perlu diperhatikan bagaimana di luar Jawa.

• Saat ini peraturan terkait dengan perubahan iklim sudah bagus dan cukup banyak, untuk itu Kementerian ESDM berupaya mengurangi peraturan dengan mengoptimalkan peraturan yang ada untuk dapat dilaksanakan.

Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintah Daerah I

• Dengan adanya dinamika politik, maka terjadi perubahan mendasar terkait kelembagaan yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan NDC. Satu hal yang sudah jelas bahwa pekerjaan terkait perubahan iklim menjadi wewenang KLHK sesuai dengan Perpres. Sehingga dari aspek kelembagaan saat ini telah mengalami perbedaan manajemen.

• Dokumen RAD dilihat dari aspek pemerintahahan, maka di dalam dokumen tersebut berisi berbagai kegiatan dalam menjalankan peraturan presiden.

Presiden menugaskan Gubernur sebagai wakil pemerintah untuk menyusun RAD.

• Terkait dengan KLHS, telah terbit Perpres No 59/2017 tentang tujuan pembangunan berkelanjutan yang sudah mencantumkan tujuan, target, sasaran dari 17 agenda termasuk perubahan iklim. KLHS membantu Pemerintah Propinsi dalam pengajuan usulan RAD yg akan ditetapkan propinsi.

• Tantangan saat ini bagi daerah adalah bagaimana memasukkan RAD dalam dokumen perencanaan. Hal ini penting karena di dalam RAD mengandung muatan secara umum baik dari pemda dan swasta sedangkan RPJMD lebih berisi target dari APBD.

• Propinsi Kalteng sudah dapat menyelesai RTRW dimana 18% daerah Kalteng merupakan non-hutan.

• Pilkada Kateng di 10 kab kota pada tahun 2018, terkait dengan KLHS wajib digunakan dalam penyusunan RPJMD dengan mengacu pada PP 46/2016 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Kajian Lingkungan Hidup Strategis, khususnya pasal 2(a) yang berbunyi “KLHS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaksanakan ke dalam penyusunan atau evaluasi: (a) rencana tata ruang wilayah beserta rencana rincinya, RPJP nasional, RPJP daerah, RPJ nasional, dan RPJM daerah; dan 2(b) Kebijakan, Rencana, dan/atau Program yang berpotensi menimbulkan dampak dan/atau risiko Lingkungan Hidup”.

• Telah terdapat forum koordinasi perencanaan pembangunan Kalimantan. Perlu diketahui bahwa Kalimantan sangat dominan di sektor lahan. Perhitungan emisi dilakukan dengan mencoba mengkoordinasikan fungsi Bappeda sebagai sekretariat yang menangani GRK, melibatkan Perguruan Tinggi dan tim kerja, pendamping GGGI, dan proyek Lestari yang sangat berkompetem terkait perubahan iklim untuk menjadi satu team work dan difungsikan sesuai keahliannya masing-masing. Di Kalteng, telah diidentifikasi pemilik dari setiap lahan sehingga lahan gambut yang terbakar jika telah teridentifikasi pemiliknya, maka pemilik diminta untuk bertanggungjawab.

• Bappeda Maluku menyampaikan apresiasi atas dukungan KLHK dalam penyusunan roadmap NDC di Provinsi Maluku. Apresiasi juga diberikan atas implementasi berbagai aksi dalam pengurangan emisi di Provinsi Kalteng dan Kaltim, yang memiliki perbedaan dalam implementasi. Pertanyaannya adalah “bagaimana best practices yang mengarah kepada green economy”.

Bappenas telah meluncurkan dokumen pembangunan rendah karbon, dan dari sisi perencanaan diharapkan terdapat dokumen induk sehingga lebih mudah di dalam implementasi kebijakan nasional.

• DLH Provinsi Sumatera Selatan menyarankan perlunya kesepahaman dokumen- dokumen terkait perubahan iklim dan implementasinya serta sosialisasi ke

propinsi/kab/kota.

• GGGI telah melakukan pendampingan KLHK terutama ke Pemda untuk sosialisasi KLHS yang juga merupakan dokumen untuk monitoring dan evaluasi.

• WRI menanggapi bahwa aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sulit implementasinya karena kebutuhan pendanaan. Beberapa propinsi juga berbeda dalam merespon perubahan iklim sebagai contoh Kalteng sangat aktif sedangkan prop lain belum aktif. Diharapkan apa yang sudah dilakukan oleh prop yang aktif dapat dicontoh oleh propinsi lain. Beberapa regulasi yang tidak sesuai dengan pembangunan berkelanjutan perlu dicarikan solusinya.

• Di Kaltim terdapat alih fungsi delta Mahakam dari 60% menjadi tambak ikan udang, secara tradisional.

• Isu NDC di ESDM cukup maju dengan migas, pertambangan, pembangkitan energi terbarukan dan fosil yang cukup rinci. Untuk sektor lain belum selesai.

Demikian juga di KLHK. Untuk daerah belum selesai berapa angka pastinnya.

Menteri KLHK baru menerbitkan tim pemantau NDC.

• ESDM telah mengembangkan PLTSHE. Inventory telah menggunakan Tier2, dengan indeks masing-masing. Sebagai contoh untuk bahan bakar RON88 sudah ada angka untuk emisi per liter. Listrik untuk mitigasi juga sudah pada tahap Tier3, sebagai contoh untuk Jawa Bali sudah ada angka konsumsi bahan bakar yang selanjutnya dikalikan dengan indeks emisi. Pusdatin ESDM memiliki data emisi per bagian.

• Kemendagri menyampaikan bahwa indikator pembangunan akan memanfaatkan tujuan pembangunan berkelanjutan No 13 yang tidak terpisahkan dari RPJMD dengan 413 indikator dimana 319 indikator adalah tujuan pembangunan berkelanjutan. Permendagri No. 86/2017 tentang Tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah memberikan ruang untuk menambah indikator jika diperlukan daerah.

• Monev KLHS juga akan dilakukan pendampingan oleh Kemendagri karena merupakan alat pemantauan seperti yang telah dilakukan di Sukabumi, Cimahi, Tasikmalaya.

• IGGI menyampaikan apresiasi kepada KLHK yang telah memberikan kesempatan kepada GGGI selaku co-host dengan peserta lebih dari 80 orang dari target 50 peserta. GGGI juga melakukan pendampingan di Kalteng dan Kaltim. Pertemuan hari ini merupakan momentum pertemuan untuk dapat lebih bekerjasama.

Wrap Up

• Sosialisasi NDC baru dilakukan di Kalimantan Tengah dan beberapa propinsi lainnya. Peserta menyarankan agar sosialisasi dapat dilakukan di propinsi lainnya yang diharapkan dihadiri oleh stake holders terkait.

• Perlu pendampingan untuk Pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota dalam streamline NDC dalam rencana pembangunan (RPJMD).

• Workshop Perspektif Daerah Tentang Implementasi NDC: Perencanaan dan Implementasi, diperkirakan akan dihadiri oleh sekitar 50 peserta namun peserta yang hadir tercatat sekitar 80 orang.

Dalam dokumen Prosiding Festival Iklim 2018 (Halaman 41-49)