• Tidak ada hasil yang ditemukan

GREEN GROWTH COMPACT (GGC) DAN PERAN PARA PIHAK KALIMANTAN

Dalam dokumen Prosiding Festival Iklim 2018 (Halaman 75-82)

LAPORAN 3 TAHUN CAPAIAN PENGENDALIAN PERUBAHAN IKLIM

III. SEMINAR DAN WORKSHOP

9. GREEN GROWTH COMPACT (GGC) DAN PERAN PARA PIHAK KALIMANTAN

9. GREEN GROWTH COMPACT (GGC) DAN PERAN PARA

(ERPD). Penurunan emisi yang dihasilkan dari program ini akan berkontribusi pada target penurunan emisi nasional seperti yang tertuang pada dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.

Hasil perhitungan emisi dan diskusi-diskusi yang telah dilakukan oleh para pemangku kepentingan di Kalimantan Timur dan pada tingkat nasional menemukan bahwa sumber emisi di Kalimantan timur, sekitar 70% berasal dari konversi hutan alam menjadi non-hutan alam. Faktor yang memicu konversi hutan sebagian besar berasal dari sektor pekebunan, kehutanan monokultur, dan pertambangan. Untuk menghasilkan pengurangan emisi yang nyata, faktor-faktor pemicu konversi tersebut perlu diatasi. Komitmen pemerintah nasional dan Provinsi Kalimantan Timur mutlak diperlukan. Selain itu kontribusi pihak swasta (dengan luasnya hutan alam tersisa yang berada di konsesi yang dikelola swasta), masyarakat desa/kampung, akademisi, LSM nasional dan internasional, dan penyandang dana juga sangat penting.

Propinsi Kalimantan Timur telah banyak melakukan inisiatif dan inovasi, dengan keterlibatan aktif banyak pihak, dalam mendukung upaya penurunan emisi dan pelaksanaan FCPF-CF. Pemerintah Kalimantan Timur telah mendeklarasikan visi Kalimantan Hijau pada tahun 2009. Untuk mendukung percepatan perwujudan visi ini, Pemerintah Kalimantan Timur mendeklarasikan Kesepakatan Pembangunan Hijau (Green Growth Compact, GGC) pada tanggal 29 Mei 2016 sebagai wujud komitmen kemitraan para pihak yang terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten, swasta, masyarakat adat, LSM nasional dan internasional, negara sahabat (bilateral) dan lembaga multilateral. Provinsi Kalimantan Timur juga telah melakukan terobosan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutannya melalui penandatanganan Deklarasi Rio Branco, berpartisipasi aktif dalam dialog mengenai REDD+ di Indonesia dan forum international, mengembangkan strategi pertumbuhan yang rendah carbon, melakukan moratorium ijin pertambangan, kehutanan dan kelapa sawit serta mengembangkan strategi dan rencana aksi perubahan iklim. Kesepakatan ini kemudian diejawantahkan dalam pengembangan beberapa inisiatif model yang kemudian di sepakati bersama oleh para pihak pada pertemuan Governor’s Climate and Forest di Balikpapan pada tanggal 27 September 2017.

Tujuan seminar ini adalah:

• Mensosialisasikan kemajuan, tantangan, dan pembelajaran terkait upaya pemerintah propinsi Kalimantan Timur, peran serta sektor swasta, LSM, perguruan tinggi dan masyarakat desa/kampung dalam memenuhi NDC dan melaksanakan FCPF-CF.

• Mendapatkan masukan dari para pihak untuk menyempurnakan strategi dan inisiatif yang sudah terlaksana di Kalimantan Timur.

Acara dihadiri oleh peserta yang memiliki wilayah kerja atau wilayah studi di Kaltim.

Jalannya acara sangat menarik, karena diikuti berbagai pihak yang memberikan informasi dari berbagai sisi/kalangan (pemerintah pusat, pemerintah daerah, NGO, perusahaan swasta/HPH, dan masyarakat kampong).

Ringkasan Paparan Narasumber

1. “FCPF Carbon Fund dan Status Negosiasi Terkini”, P3SEKPHI BLI-KLHK

• Penjelasan tentan yang apa itu FCPF, apa target pencapaian per fasenya, dan sudah sampai dimana proses FCPF dilaksanakan di kaltim, dan apa peran World Bank disitu;

• Kaltim pada saat ini masih berada pada periode Readiness fund (2011-2019) yang focus pada capacity building;

• Fase implementasi atau fase carbon fund yang focus pada hasil terverifikasi dan peran insentif baru dilaksanakan pada periode 2019-2024;

• Dibawah WB ada 2 skema besar pendanaan, yaitu Biocarbon Fund dan FCPF.

Kaltim adalah untuk FCPF.

• Banyak pembelajaran yang baru dipahami Indonesia setelah terlibat dengan FCPF, antara lain permasalahan leakage dan displacement, juga hal-hal terkait institutional arrangement dan penyiapan SDM;

• Dalam implementasi, perlunya komitmen politik dan dukungan sub-nasional yang kuat, termasuk skala atau cakupan harus jelas, ada standard kepatuhan, harus sesuai dengan strategi nasional, dan informasi challenge yang dihadapi

• Di dalam ERPD disepakati bahwa 94% dari keberhasilan penurunan emisi dengan FCPF Kaltim bisa masuk ke dalam NDC Indonesia

• Potensi insentif FCPF (USD 5/ton carbon emisi);

• Pada perjalannya, masalah FCPF lebih kearah institutional arrangement

• Pembelajaran FCPF: pengaturan kelembagaan untuk implementasi REDD+, pembelajaran upaya trasnformasi praktek pengelolaan lahan untuk pemenuhan NDC dan tujuan pembangunan iklim. Termasuk pembelajaran tentang non-carbon benefit;

• Tantangan: carbon accounting, pemahaman REDD+ yang terbatas, peran berbagai sektor diluar kehutanan (ini kaitannya dengan driver), kesiapan sektor kehutanan, rasa memiliki kebijakan REDD+, Pilkada, persiapan regulasi dan kelembagaan REDD+, dan hal-hal terkait finance (keterkaitan dengan benefit sharing dan investasi lanjutan untuk pencapaian target), serta kesiapan semua stakeholders.

2. “Upaya Kaltim dalam memenuhi NDC” , Dinas LH Provinsi Kaltim

• Kondisi Kaltim: januari ultah Kaltim ke-62. Potensi Kaltim: 129 ribu m2 daratan, 7 kabupaten dan 3 kota, 103 kecamatan, 1,032 desa (3.3 juta jiwa penduduknya); 157 sungai besar dan 3 danau, lahan kritis seluas 7.7 juta ha, 8 juta ha hutan; Indeks kualitas lingkungan 82, dan target penurunan emisi 1,650 ton

• Dengan sumber daya itu, Kaltim meletakkan masyarakat sebagai focus, dengan kelestarian menjadi hal utama untuk dipertahankan;

• Akan ada Pilkada baru, namun demikian tahun ini akan ada “Master Plan

(blue print) perubahan iklim, sehingga bisa menjadi acuan bagi pemimpin kaltim berikutnya (terkait kemungkinan pergantian gubernur dan interestnya);

• Program Kaltim Hijau dan berbagai kesiapan yang ada (dokumen dan peraturan);

• 1M 29 juta adalah Baseline untuk sektor lahan: 43 juta ton CO2e adalah emisi sektor lahan, akibat perubahan lahan

Driver yang sudah dicatat oleh provinsi kaltim – tentunya ini harus dikaitkan dengan rencana aksinya;

• Emisi di hutan dibawah target, tapi tetap tinggi – apakah strategi kaltim untuk ini, apakah ada setting planned dan unplanned deforestasi

• Kawasan pertambangan – ada target hutan primer yang akan dipertahankan

• GGC – 29 mai 2016 – bertujuan memperluas inistiatif yang ada dan mengisi gap yang ada, serta memadukan kewajiban membangun komitment dengan para pihak (khususnya perusahan)

• Tantangan: tidak semua stakholders memahami GGC, jaminan pembangunan ekonomi yang sehat, penurunan anggaran APBD

• Pembelajaran: CCG diakomodir pada saat pertemuan GCF tahunan, ini menunjukkan bagaimana CCG akan diposisikan di Kaltim;

• Dukungan NDC: perlu dukungan aturan, mekanisme insentif, koordinasi antara di nasional dan sub-nasional, penyesuaian kewenangan akibat UU23, sistem registry;

• FCPF merupakan salah satu pembelajaran yang bagus untuk implementasi REDD+ di lapangan, menjamin kesinambungan/lestari.

3. “Upaya penurunan emisi dari sub sektor perkebunan melalui web Geospasial Bun”, Dinas Perkebunan Provinsi Kaltim

• Memperkenalkan Web GeoSpasial Bun;

• Status kondisi pengelolaan perkebunan di kaltim: pada produktivitas, komoditas unggulan non-sawit, dan juga melingsungi wilayah yang bernilai konservasi tinggi.

• Perkebunan masih banyak pada komoditas, bagaiman dengan unsur penggunaan lahan yang terkait pembangunan rendah emisi

• Perkebunan masih merupakan backbone untuk PDRB Kaltim

• Adanya deklarasi kesepakatan pengembangan kebun berkelanjutan, mempertahankan 640,000 ha hutan alam yang ada, menurunkan deforestasi setengahnya

• One map one data untuk keterbukaan proses perijinan perkebunan

• Database atas dasar citra resolusi tinggi (SPOT 6 dan 7) – perlu tahu bagaimana dengan kesinambungan dari sistem yang ada (terkait dengan keterbatasan data source). Apresiasi - WebGIS LHK hanya pada informasi di dalam kawasan hutan, dan yang kebun diluar belum tercatat

• WebGIS memberikan informasi yang cukup up-todate untuk perijinan dan proses pengelolaan perkebunan- sangat membantu urusan pengawasan

• Urusan pelatihan dan pengembangan SDM terkait dengan WebGIS

• Ada 4 kategori user untuk webGIS ini, dan ada protocol data sudah ada (bisa untuk dikaji tentang protocolnya)

4. “Pengelolaan Hutan di PT Gunung Gajah Abadi”, PT UDIT Gunung Gajah Group Kaltim

• Pengelolaan hutan di PT Gunung Gajah Abadi, dengan mengikuti prinsip TPTI secara penuh;

• Contoh-contoh lapangan pengelolaan hutan secara lestari (PHPL-SFM) – dengan penerapan RIL C; dengan hasil 37% penurunan emisi carbon setelah penerapan RIL-C.

• Dari data yang dikumpulkan dan dilaksanakan dengan kerjasama dengan TNC diperoleh data bahwa logging memberikan kontribusi 12%, untuk itu RIL-C menjadi sangat penting – dengan menurunkan SKID (skidding);

• Tantangan: peningkatan kapasitas (konvesional ke RIL), investasi alat berat, pemberdayaan masyarakat, kajian pemanfaatan limbah;

• Pengusaan hutan sebetulnya adalah benteng terakhir untuk menjaga kelestarian hutan di dalam hutan. Karena ini kepastian adanya pengelola menjadi sangat penting;

• Harapan: perlindungan/dukungan pemerintah untuk menjaga kepastian kawasan produksi terkait dan mengurangi perubahan tutupan lahan karena kebijakan; Mendorong pasar hasil hutan kayu;

• Kunci keberhasilan bisa mencapai rotasi kedua: komitmen dan ketertiban dalam menjalankan peraturan TPI yang ada;

• Perlu ada fasilitasi komunikasi dengan Ditjen PHPL dan pemerintah provinsi untuk memberikan dukungan agar RIL ini bisa dilaksanakan, terlebih karena RIL-C memang bisa dilakukan;

• Ada 3 komponen utama untuk pelaksanaan RIL-C: surveyor yang berpengalaman, operator GIS untuk mempersiapkan rencana pemanenan sebagus mungkin, operator buldoser yang masuk dulu, baru diikuti oleh operator chainsaw yang sudah mendapatkan pelatihan dengan baik (masuk ciri2 RIL-C)

• Komitmen sangat penting, karena sebenarnya untuk semua HPH, dukungan 3 komponen utama untuk pelaksanaan RIL-C sudah pasti ada

5. “Peran NGO mendukung FCPF-CF dan NDC Kaltim”, The Nature Conservancy

• Keterhubungan antara NDC dengan apa yang sudah dikomitmenkan dalam FCPF. Dalam hal ini FCPF menjadi lesson learnt untuk keberlangsungan NDC;

• Banyaknya LSM yang bereja di Kaltim, dimana cakupan kerjanya juga banyak dari blue carbon, perhutanan social, hutan produksi sampai webGIS dsb;

• Pembelajaran TNC: HPH, perlindungan species penting (WEHEA KELAY), perhutanan social, pengelolaan hutan lindung (WEHEA), pengelolaan kebun sawit, inisiatif blue carbon (Delta Mahakam) → goalnya penurunan emisi;

• 32 juta ton/tahun, namun emisi di 2016 sangat tinggi – compatible dengan yang nasional, namun ada tambahan: emission source dari logging dan mangrove soil – ada jaminan tidak ada overlapping (double counting) diantara komponen emsi);

• Kontribusi Kaltim untuk NDC – diperlukan target setiap tahun sampai dengan 2030 dari pendekatan nasional (kesulitannya tentunya terkait planned deforestation);

• Tantangan: komitmen luar biasa dari pemerintah (berbagai level) untuk penurunan emisi, Juga Komunikasi, policy/kebijakan dan benefit sharing dan dukungan riil Nasional per-sektor yang dirasa belum terlihat.

6. “Pengelolaan di tingkat tapak di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay”, Kampung Merabu Kecamatan Kelay

• Sebagai Putera Asli Dayak Lebo yang menjadi kepala Kampung Merabu- Kecamatan Kelay-Kabupaten Berau: menyampaikan tingginya kepedulian untuk menjaga kelestarian alam;

• Dibutuhkan dukungan untuk menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat local dalam menjaga kelestarian alam;

• Dalam fungsi masuk di HP dan HL, dan ada ekosistem Karts (7,500 ha) – sedang diusulkan sebagai warisan dunia (Sangkulirang Mangkalihat);

• Pemberdayaan masyarakat: Madu Hutan (Madu Merabu). Keterlibatan anggota masyarakat untuk bisa berpartisipasi dalam rencana pembangunan;

• SIGAP REDD+: dengan adanya SIGAP REDD+ ini, ternyata anggaran kampung bisa naik dari 1.6 menjadi 4.5 milyar/tahun;

• Tantangan: dari luar dihimpit oleh perkebunan (untuk fasilitas, perkebunan membutuhkan kayu); tantangan dari dalam; kurangnya lapangan kerja (dimanffatkan untuk terlibat illegal logging). Harapannya dari iklim ini bisa mendapatkan manfaat nyata, minimal dari urusan lapangan kerja;

• Kampung ini sangat ada kans untuk dikaitkan dengan Proklim.

Pembahasan dan Diskusi

• GGC dengan FCPF memberikan proses pembelajaran dalam penanganan isu perubahan iklim di tingkat sub-nasional. Beberapa contoh yang ditunjukkan oleh dinas LH cukup memberikan informasi tentang bagaimana capacity building telah dilakukan, walaupun mungkin dirasa masih belum sepenuhnya mencapai kebutuhan optimal;

• Dalam hal ini, maka komitmen dari pemerintah, termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah dan para stakeholders terkait, termasuk NGO, pengusaha dan masyarakat menjadi sangat penting;

Institutional arrangement adalah kunci untuk menjalankan isu perubahan iklim secara signifikan. FCPF diharapkan bisa memberikan proses pembelajaran terkait hal ini. Institutional arrangement juga mencakup tata hubungan kerja, bisnis proses, termasuk protocol data dan iformasi yang terkait. Dalam hal ini penyediaan website untuk informasi online sangatlah membantu para stakeholder terkait untuk memahami permasalahan yang dihadapi; Apa yang sudah dibangun oleh Dinas Perkebunan ini dapat juga dilengkapi oleh Dinas-dinas lainnya, sehingga webGIS yang ada bisa memberikan informasi lebih komprehensif.

• Permasalahan yang dihadapi untuk implementasi REDD+ adalah mencakup baik urusan teknis dan non-teknis. Dalam hal ini diharapkan CCG bisa menjadikan wadah untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan terebut;

• Masyarakat di tingkat tapak berharap agar dukungan sampai tingkat tapak dapat ditingkatkan, minimal untuk memberikan kepercayaan kepada mereka untuk melalukan pengelolaan sumber daya alam secara optimal, dan berkontribusi pada penanganan perubahan iklim.

Wrap Up

• Sudah banyak kemajuan yang terjadi di Kaltim terkait isu perubahan iklim, namun demikian tantangan masih cukup banyak, terlebih yang langsung terkait dengan implementasi di lapangan;

• Tantangan akan mencakup aspek teknis maupun non teknis, termasuk political will dan komitment baik pemerintah pusat, daerah, swasta, NGO dan masyarakat lokal;

• Kolaborasi pengelolaan para pihak merupakan pembelajaran berharga, dan dengan CCG diharapkan dapat terus dikembangkan.

10. NASKAH AKADEMIK RANCANGAN PERATURAN

Dalam dokumen Prosiding Festival Iklim 2018 (Halaman 75-82)