• Tidak ada hasil yang ditemukan

Divisi Sosdiklih, SDM, dan Parmas

Dalam dokumen Skripsi Hukum Tata Negara (Halaman 159-164)

PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

Adapun 18 Adapun 18 kecamatan yang tergabung dalam Kabupaten Sidoarjo selengkapnya antara lain yaitu

C. Pembahasan Temuan

2. Divisi Sosdiklih, SDM, dan Parmas

- Mengacu pada Pasal 5 Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 10 Tahun 1. Penyebab Terjadinya Golongan Putih Pada Pemilihan Umum

Presiden Dan Wakil Presiden Tahun 2019 Di Kabupaten Sidoarjo Berdasarkan hasil dari observasi, wawancara, dan dokumentasi penelitian di KPU Kabupaten Sidoarjo, Bawaslu Kabupaten Sidoarjo, DPD PAN Kabupaten Sidoarjo menemukan beberapa penyebab dari masyarakat memilih untuk melakukan Golongan Putih padahal PemilihanUmum ini sangat penting dan bagian dari menegakkan demokrasi yangada di Indonesia. Pada bahasan temuan ini, penelitian menggunakan “triangulasi sumber” untuk keabsahan data dan dari sudut pandang yang berbeda.

Peneliti mewawancari 4 informan yang berbeda yaitu Ketua KPU

Kabupaten Sidoarjo, Koordinator Divisi Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kabupaten Sidoarjo, Wakil DPD PAN Kabupaten Sidorarjo dan

Beberapa masyarakat Kabupaten Sidoarjo. Dari hasil “triangulasi sumber” tersebut ditemukan beberapa data yaitu Mayarakat Kabupaten Sidoarjo didominasi dengan tipe pemilih “tipologisme” dimana meraka mau menggunakan hak pilihnya dan mau mencoblos bukan dari visi misi yang pasangan calon sampaikan namun dari apa yang mereka dapatkan mislanya berupa uang atau sembako. Alasan berikutnya yaitu karena pekerjaan yang tidak diliburkan ketika hari pencoblosan, memanfaatkan hari libur dengan liburan atau berekreasi bersama keluarga atau saudara, tidak ada kecocokan dengan pasangan kandidat, belum memiliki KTP padahal sudah berusia 17 tahun, tidak mendapatkan surat undangan pencoblosan dan jarak TPS yang jauh dari rumah, tidak adanya sanksi saat melakukan Golongan Putih, hal ini membuat masyarakat jadi ada yang menggampangkan begitu saja.

Jika ada orang yang melakukan Golongan Putih atau tidak mencoblos, tidak mendapat sanksi atau hukuman, maka dari itu, masyarakat secara mudah melakukan Golongan Putih, padahal satu suara mereka sangat berarti untuk menentukan Pemimpin Negara 5 tahun mendatang. Undangundang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, tidak menghukum orang yang melakukan Golongan Putih pada saat Pemilihan Umum karena hal tersebut juga menyangkut dengan Hak Asasi Manusia (HAM) hal ini juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia tepatnya pada pasal 23 yakni Setiap orang bebas dalam memilih dan memiliki keyakinan poliitknya dan bebas untuk mengeluarkan pendapatnya sesuai dengan hati nuraninya baik

dalam lisan atau tulisan dengan mem perhatikan nilai agama, kesusilaan, kepentingan umum dan keutuhan bangsa.191

Adanya undang-undang tentang HAM tersebut, digunakan sebagai pedoman terkait pembenaran tentang Golongan Putih dimana setiap orang memiliki kebebasan dalam mengeluarkan pendapatnya. Jika ada orang atau oknum yang mengajak untuk melakukan tindakan Golongan Putih maka bisa terkena hukuman pidana dan denda sesuai dengan UndangUndang Nomor 7 Tahun 2017 tepatnya pada pasal 531 yakni:

setiap orang yang sengaja menggunkan kekerasan dan menghalangi seseorang untuk mencoblos, membuat keributan dan mencoba menggagalkan pemungutan suara maka bisa dipidana paling lama empat tahun dan bisa terkena denda paling banyak Rp 48 juta dan terdapat juga pada pasal 515 yakni:

jika ada orang yang sengaja menjanjikan atau memberikan uang dll kepada pemilih dengan tujuan agar tidak menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu yang bisa mengakibatkan surat suaranya menjadi tidak sah, maka bisa terkena hukuman penjara paling lama 3 tahun dan denda paling banyak Rp 36 juta”.192

Pada kajian teori, Indra J.Piliang dalam jurnalnya Hadi Purnandi, dkk yang berjudul Fenomena Golongan Putih Dalam Pemilihan Walikota

191 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia Pasal 23.

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886).

192 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum Pasal 515. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6109)

dan Wakil WalikotaPontianak Tahun 2008 Di Kecamatan Pontianak”

menyebutan jika ada 3 jenis Golongan Putih yakni Golongan Putih Idealis, Golongan Putih Pragmatis, dan Golongan Putih Politis. Jika dilihat dari hasil wawancara penelitan dengan KPU Kabupaten Sidoarjo, Bawaslu Sidoarjo, dan DPD PAN Kabupaten Sidoarjo, masyarakat Kabupaten Sidoarjo cenderung tergolong dalam Golongan Putih Pragmatis, dimana mereka mencoblos bukan melihat dari visi-misinya namun apa yang mereka dapatkan dari pasangan calon tersebut. Indra J.Piliang berpendapat bahwasanya golongan putih pragmatis ini jika dalam sudut pandang Islam seperti fardhu ain dan fardhu kifayah yaitu jika sudah ada masyarakat yang mencoblos, maka orang lain yang tidak mencoblos hukumnya tidak dosa.

Agama Islam menganjurkan untuk memilih seorang pemimpin yang akan menjadi pemimpin di suatu negara tersebut. Suatu negara jika tidak ada yang memimpin akan menjadi berantakan dan bisa menyebabkan kehancuran. Istilah pemimpin dalam Al-Qur’an disebut dengan khalifah, wali, imamah, ulil amri, dan lain-lain. Q.S. Al-Baqarah ayat 30 menjelaskan tentang keharus memilih seorang pemimpin.

َو ىِ نِإ ِةَكِئلَمْلِل َكُّب َر َلاَق ْذِإ ُلَعْجَتَأ ا ْوُلا ق ًةَفْيِلَخ ِض ْرَلأا ىِف ٌلِعاَج

ُن ُنْحَن َو َءآَمِ دلا ُكِفْسَي َو اَهْيِف ُدِسْفُي ْنَم اَهْيِف ىِ نِإ َلاَق َكَل ُسِ دَقُن َو َكِدْمَحِب ُحِ بَس

ْوُمَلْعَت َلااَم ُمَلْعَأ َن

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”.

Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-MU? “Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui

apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S. Al-Baqarah Ayat 30).193

Pada Q.S Al-Baqarah ayat 30 tersebut sudah jelas bahwa Allah SWT akan menjadikan seorang pemimpin/ khalifah di bumi. Jadi merupakan suatu keharusan dalam suatu negara untuk memilih seorang pemimpin. Salah satunya negara Indonesia dalam memilih pemimpin maka melalui penyelenggaraan Pemilihan Umum yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali dan berdasarkan asas LUBERJURDIL.

MUI (Majelis Ulama Indonesia) tidak tinggal diam dalam menanggapi persoalan Golongan Putih yang ada di Indonesia. Pada tahun 2009, MUI mengeluarkan fatwa haram Golongan Putih. Untuk menyebarkan informasi atau mensosialisasikan fatwa ini MUI menggerakkan bantuan dari para da’i, ulama untuk membantu mensosiaisasikan tentang fatwa ini. Media sosial juga berperan sangat penting untuk menyebarluaskan fatwa MUI ini. Lahirnya fatwa tentang haram Golongan Putih ini menandakan bahwasanya negara Indonesia adalah negara yang beragama salah satunya yaitu agama Islam 2021

meskipun mayoritas masyarakatnya beragama Islam, namu tidak disebut sebagai negara Islam karena negara Indonesia masyarakatnya juga ada yang memeluk agama lain. Fatwa tersebut tidak tanggungtanggung mengancam bagi yang mampu untuk mencoblos namun tidak mau menggunakan hak pilihnya dengan baik dalam Pemilihan Umum maka bisa terkena dosa. Fatwa haram Golongan Putih ini juga menegaskan jika

193 Al-Qur’an Hafalan (Aliqa), Q.S. Al-Baqarah Ayat 30, (Cordoba: Bandung), Edisi Cetak Januari

selama ada calon pemimpin yang memenuhi syarat maka wajib dipilih.

MUI menjelaskan beberapa kriteria yang baik ketika hendak menjadi seorang pemimpin yaitu jujur, amanah, memiliki kemampuan, aktif dan aspiratif. 194

Terlepas dari fatwa haram MUI tersebut, terdapat Undang- Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia pada pasal 23, dimana setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih keyakinan politiknya, mengeluarkan, menyebarluaskan pendapatnya sesuai dengan hati nuraninya baik secara lisan atau tulisan dengan memperhatikan agama, kesusilaan, keutuhan bangsa. 195 Pasal ini digunakan terkait pembenaran Golongan Putih dimana setiap orang memiliki kebasan, namun turut serta dalam memberikan hak pilihnya merupakan salah satu cara menegakkan demokrasi yang ada di Indonesia.

2. Peran Atau Strategi Dari KPU Kabupaten Sidoarjo Dalam

Dalam dokumen Skripsi Hukum Tata Negara (Halaman 159-164)