BAB II LANDASAN TEORI
B. Gadget (Handphone)
2. Durasi Penggunaan Gadget (Handphone)
Pendampingan orang tua merupakan upaya yang berbeda dari orang tua dalam mengarahkan dan mengatur anak dalam menggunakan media dan teknologi.
Penggunaan gadget (handphone) pada anak yang diawasi secara penuh oleh orang tua dapat memberikan dampak yang sanag besar.
Durasi adalah lamanya sesuatu berlangsung atau rentang waktu. Durasi dapat dilihat dari seberapa lama orang melakukan sesuatu aktititas. Durasi penggunaan gadget (handphone) yang semakin lama menyebabkan gangguan pada kesehatan tubuh. Durasi dan intensitas anak dalam menggunakan gadget (handphone) tergantung pada pengawasan dan pendampingan orang tua karena anak belum bisa mengontrol dirinya sendiri.
Penggunaan gadget lebih dari 60 menit per hari berhubungan erat dengan gejala intensitas pada anak. Selain itu, anak yang menggunakan gadget (handphone) lebih lama memiliki gejala gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas yang lebih berat dibandingkan anak yang menggunakan gadget (handphone) dalam waktu kurang dari 60 menit.
Adapun batasan waktu penggunaan gadget (handphone) yang baik untuk anak yaitu lamanya menatap waktu layar untuk anak diatas usia 2 tahun keatas adalah 2 jam per hari dan untuk anak usia 18 bulan keatas disarankan untuk tidak terpapar langsung oleh media digital.
Pemakaian gadget (handphone) yang terlalu lama dapat berdampak bagi kesehatan anak, selain radiasi yang berbahaya, penggunaan gadget (handphone) yang terlalu lama dapat mempengaruhi tingkat agresif pada anak. Anak akan cenderung malas bergerak dan lebih memilih untuk duduk dan berbaring sambil menikmati cemilan yang nantinya dapat mengakibatkan anak kegemukan. Selain itu anak, anak menjadi tidak peka terhadap lingkungan. Anak terlalu asyik dengan gadget (handphone) berakibat lupa untuk berinteraksi ataupun berkomunikasi dengan orang sekitar maupun keluarga. Hal tersebut akan berdampak sangat buruk apabila dibiarkan terus menerus.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Gadget (Handphone)
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi anak-anak dalam penggunaan gadget (handphone). Faktor-faktor tersebut meliputi:21
a. Faktor Internal
Faktor ini terdiri atas faktor-faktor yang menggambarkan karakteristik individu, yaitu:
1) Tingkat sensation seeking yang tinggi. Sensation seeking atau biasa disebut pencarian sensasi adalah sifat yang didefinisikan sebagai kebutuhan-kebutuhan yang beragam, baru, dan sensasi-sensasi kompleks serta keinginan untuk mengambil resiko, baik secara fisik maupun secara sosial.
21 Nurhaeda, “Dampak Penggunaan Gadget Pada Anak Usia Dini Dalam Pandangan Islam Di PAUD Terpadu Mutiara Hati Palu”, Early Childhood Education Indonesian Journal, (Palu : FKIP Universitas Muhammadiyah Palu), Vol.1 No. 2 Tahun 2019, h. 71.
2) Self-esteem yang rendah. Self esteem itu sendiri adalah evaluasi diri individu terhadap kualitas atau keberhargaan diri sebagai manusia.
3) Kepribadian ekstraversi yang tinggi.
4) Kontrol diri yang rendah, kontrol diri adalah kemampuan individu untuk menyusun, membimbing, mengatur, dan mengarahkan langkahlangkah dan tindakannya untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.
b. Faktor Situasional
Faktor ini terdiri atas faktor-faktor penyebab yang mengarah pada penggunaan gadget sebagai sarana membuat individu merasa nyaman secara psikologis ketika menghadapi situasi yang tidak nyaman. Dalam hal ini individu akan cepat bertindak ketika berada pada situasi yang tidak nyaman dan merasa terganggu aktivitas bila ada situasi yang tidak diinginkan dan mengalihkan perhatian pada gadget.
c. Faktor Sosial
Faktor sosial terdiri atas faktor penyebab kecanduan handpone sebagai sarana berinteraksi dan menjaga kontak dengan orang lain. Dalam hal ini individu selalu menggunakan gadget (handphone) untuk berinteraksi dan cenderung malas untuk berkomunikasi secara langsung dengan individu yang lain. Faktor sosial lain yang mempengaruhinya seperti kelompok acuan, keluarga serta status sosial. Peran keluarga sangat penting dalam faktor sosial, karena keluarga sebagai acuan utama dalam perilaku anak-anak. Faktor Sosial berpengaruh paling luas dan mendalam terhadap perilaku anak-anak. Sehingga banyak anak-anak mengikuti trend yang ada didalam budaya lingkungan mereka, yang mengakibatkan keharusan untuk memiliki gadget (handphone).
d. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri individu. Faktor ini terkait dengan tingginya paparan media tentang gadget (handphone) dan berbagai fasilitasnya.
1) Iklan
Iklan yang merajalela di dunia pertelevisian dan di media sosial 10 Iklan seringkali mempengaruhi anak-anak untuk mengikuti perkembangan masa kini.
Sehingga hal itu membuat anak-anak semakin tertarik bahkan penasaran akan hal baru.
Gadget (handphone) menampilkan fitur-fitur yang menarik Fitur-fitur yang ada didalam gadget membuat ketertarikan pada anak-anak. Sehingga hal itu membuat anak-anak penasaran untuk mengoperasikan gadget (handphone). Kecanggihan dari gadget (handphone) Kecanggihan dari gadget (handphone) dapat memudahkan semua kebutuhan
anak-anak. Kebutuhan anak-anak dapat terpenuhi dalam bermain game, sosial media bahkan sampai berbelanja online.
2) Keterjangkauan Harga Gadget (handphone)
Keterjangkauan harga disebabkan karena banyaknya persaingan teknologi. Sehingga dapat menyebabkan harga dari gadget (handphone) semakin terjangkau. Dahulu hanyalah golongan orang menengah atas yang mampu membeli gadget (handphone), akan tetapi pada kenyataan sekarang orang tua berpenghasilan pas-pasan mampu membelikan gadget (handphone) untuk anaknya.
3) Lingkungan
Lingkungan membuat adanya penekanan dari teman sebaya dan juga masyarakat. Hal ini menjadi banyak orang yang menggunakan gadget (handphone), maka masyarakat lainnya menjadi enggan meninggalkan gadget (handphone). Selain itu
sekarang hampir setiap kegiatan menuntut seseorang untuk menggunakan.
4. Dampak Negatif Gadget
Gadget (handphone) adalah alat komunikasi aktif yang universal dan fleksibel. Pada awalnya merupakan barang mewah, tetapi sekarang sudah bukan lagi. Gadget (handphone) telah menjadi bagian dari gaya hidup. Tidak hanya orang-orang penting yang memanfaatkan gadget (handphone), tetapi orang biasapun telah menggunakan gadget. Begitu juga anak-anak sekolah.
Penggunaan gadget (handphone) yang tidak benar dan berlebih memberikan banyak dampak negatif baik dalam hubungan sosial maupun kesehatan. Dalam perkembangan sosial dampak yang dapat ditemukan berupa anak menjadi pribadi yang tertutup, suka menyendiri membatasi dengan dunia luar, penurunan prestasi di sekolah, dan gangguan perilaku. Sedangkan didalam bidang kesehatan dampak yang dapat timbul berupa gangguan obesitas, gangguan
tidur, penyalahgunaan obat, penyimpangan perilaku, gangguan kesehatan mata, dan gangguan makan.22
Interaktif anak dengan teknologi elektronik mengurangi aktivitas gerak karena konsep teknologi adalah memudahkan kehidupan manusia sehingga membatasi aktivitas fisik. Dampak negatif dapat timbul diantaranya tumbuh kembang anak menjadi tidak optimal karena anak terlalu lama duduk asyik dengan gadget (handphone).
Pertumbuhan anak menjadi susah berbicara jelas karena terlalu banyak bermain gadget (handphone) yang tidak ada komunikasi verbalnya, anak menjadi agresif, anak menjadi kurang konsentrasi dalam belajar dan anak mengalami kecanduan untuk selalu menggunakan gadget (handphone).
Anak dianggap sudah berlebihan bermain gadget (handphone) jika dalam bermain gadget (handphone) lebih dari dua jam. Jika gadget (handphone) diambil maka anak akan marah sekali, menangis berlebihan. Perilaku emosi
22 Enny Fitriahadi dan Menik Sri Daryanti, Penggunaan Gadget…”, h.4.
yang mulai menyimpang, jika tidak segera diatasi maka level berikutnya adalah gengguan pada perilaku sosial.
Dampak gadget (handphone) pada anak yang terasa paling nyata adalah penurunan dalam kemampuan bersosialisasi.
Tidak semua orang tua dapat mengawasi anaknya secara sempurna dirumah, apalagi yang kedua orang tuanya memiliki pekerjaan diluar rumah. Tujuan orang tua meberikan fasilitas handpone kepada anak yaitu untuk menjaga komunikasi, memantai kegiatan anak jarak jauh serta anak tersebut tidak ketinggalan zaman. Tapi ketika orang tua lengah sedikit mengawasi dan memantau kegiatannya. Maka anak akan salah langkah dalam menggunkan gadget (handphone) misalnya menggunakan gadget (handphone) untuk hal yang tidak bermanfaat yang berakibat menurunkan kinerja otak anak serta membuat anak menjadi malas untuk belajar.23
23 Ai Farida dkk, Obtimasi Gadget Dan Implikasinya Terhadap Pola Asuh Anak, Jurnal Inovasi Penelitian Vol.1 No. 8 Januari 2021, h.1705.
Beberapa akibat yang ditimbulkan oleh keberadaan gadget (handphone) bagi anak:
a. Mengalihkan Perhatian
Dalam kenyataannya, gadget (handphone) berhasil mengalihkan perhatian anak dari proses pembelajarannya. Mereka lebih memperhatikan gadget (handphone) daripada semua penjelasan yang diberikan orang tua, teman, atau masyarakat disekitar.
Tentunya jika kondisi ini terjadi, maka dampak gadget (handphone) terhadap prestasi atau hubungan sosial benar-benar mereka alami. Akibat terlalu memperhatikan gadget (handphone) anak akan cenderung cuek dengan orang yang berada disekitarnya.
b. Terbuangnya Waktu
Saat anak sedang asik bermain gadget (handphone) terkadang banyak anak yang lupa akan tugasnya misalnya waktu sholat tertunda bahkan dilupakan, banyak juga anak yang lupa makan karna
sudah asik dengan gadget (handphone) nya. Anak tidak lagi memperhatikan tugas kewajibannya sebab disibukan oleh gadgetnya. Akibatnya, anak tidak menguasai apa yang harus dilakukan.
c. Lemahnya Perkembangan Otak
Dengan asiknya anak bermain gadget (handphone) sampai seharian maka akan menghambat daya pikir anak untuk berkreasi. Anak-anak yang sudah kecanduan gadget (handphone), maka setiap saat yeng dilakukannya hanya bermain gadget (handphone).
Mereka tidak pernah berpikir pada hal yang lainnya.
Pada saat belajar, anak-anak menghadapi buku dengan dampingan gadget (handphone). Pada awalnya gadget (handphone) digunakan untuk mendengar musik untuk menciptakan suasana nyaman tetapi, ketika ada yang mengirim pesan atau menelpon, maka saat itu berpindah kegiatan.
d. Efek Radiasi
Selain sebagai kontrovesi diseputar dampak negatif penggunaannyan, penggunaan gadget (handphone) juga berakibat buruk terhadap kesehatan, ada baiknya anak lebih hati-hati dan bijaksana dalam menggunakan gadget (handphone).
e. Rawan Terhadap Tindak Kejahatan
Sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku anak. Jika tidak ada kontrol dari orang tua dan guru, gadget (handphone) bisa untuk menyebar gambar- gambar yang mengandung unsur porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat seorang pelajar.
Akibatnya yang sangat berbahaya oleh anak adalah penggunaan gadget (handphone) dengan tujuan yang menyimpang.
Dampak negatif gadget biasanya dapat ditemukan pada gadget (handphone) yang cukup canggih yang memiliki fitur kamera, internet dan bluetooth yang
memudahan pengguna gadget untuk menyimpan dan mengirim data yang tidak patut disimpan.
C. Anak Usia Sekolah Dasar (SD)
1. Pengertian Anak Sekolah Dasar (SD)
Anak yang berusia 6-12 tahun atau disebut pada masa usia sekolah, memiliki fisik yang lebih kuat, mempunyai sifat individual serta aktif dan tidak terlalu bergantung pada orang tua. Banyak ahli menganggap masa ini sebagai masa tenang atau masa latent, di mana apa yang telah terjadi dan dibangun pada masa-masa sebelumnya akan berlangsung terus menerus untuk masa-masa selanjutnya.
Menurut Wong, anak sekolah adalah anak pada usia 6- 12 tahun, yang artinya sekolah menjadi pengalaman inti anak. Periode ketika anak-anak dianggap mulai bertanggung jawab atas perilakunya sendiri dengan orang tua mereka, teman sebaya, dan orang lainnya. Usia sekolah merupakan masa anak untuk memperoleh dasar-dasar pengetahuan dan pengalaman untuk keberhasilan
penyesuaian diri pada kehidupan dewasa di masa mendatang dan memperoleh keterampilan tertentu.
Sekolah dasar merupakan sekolah pertama formal yang harus diikuti oleh siswa yang berada di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu enam tahun yang dimulai dari kelas satu sampai kelas enam melalui aktivitas yang disusun secara rapi dan terencana. Layaknya sebagai sebuah sekolah, sekolah dasar harus dapat berkembang didalam masyarakat agar dapat memberikan pelayanan dalam mendidik siswa dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.24
Pendidikan disekolah dasar memiliki tujuan besar yang berguna bagi negara dan siswa itu sendiri. Pendidikan disekolah dasar bertujuan sebagai landasan utama dalam membangun pengetahuan, kecerdasan serta kepribadian agar siswa dapat hidup mandiri dan dapat melanjutkan
24 Fitri Hayati, Neviyarni, dan Irdamurni, Karakteristik Perkembangan Siswa Sekolah Dasar : Sebuah Kajian Literatur, Jurnal Pendidikan Tambusai Vol.5 No.1 (2021), h.1810.
pendidikanya pada level yang lebih tinggi sehinga diharapkan terbentuklah siswa yang memiliki budi perkerti yang baik.25 Pendidikan disekolah dasar juga memiliki tujuan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap dasar yang akan di gunakan oleh siswa dalam proses kehidupan sehari-hari. Pada proses pengetahuan, siswa pada sekolah dasar akan dibekali dengan pengetahuan-pengahuan yang berhubungan dengan informasi yang bisa digunakan oleh siswa dalam memecahkan pengetahuan sehari-hari.
Pada keterampilan, siswa akan dibekali dengan segala bentuk keterampilan dalam menunjang siswa untuk dapat aktif memecahkan permasalahan melalui porses berpikir dan proses melaksanakan tindakan. Pada aspek sikap, siswa sekolah dasar akan dibekali dengan penanaman nilai dan moral sebagai warga negara. Oleh sebab itu pendidikan
25 Alimni, Tinjauan Filosofi Tentang Metode Pendidikan Islam, Jurnal At-Ta’lim, Vol. 14 No. 2 (2015), h. 288.
disekolah dasar harus dapat dilaksanakan dengan maksimal agar tujuan tersebut dapat dicapai oleh siswa.26
2. Perkembangan Anak Sekolah Dasar (SD)
Anak yang memasuki usia sekolah dasar akan mengalami perubahan yang sangat drastis baik mental maupun fisik. Selain itu pada usia ini, anak mulai mempunyai prilaku yang khas dan bisa ditemukan hanya pada periode usia tersebut. Karakteristik perilaku tersebut meliputi pembentukan kelompok teman sebaya, perilaku tidak jujur atau berbohong, perilaku curang, ketakutan dan stress. Sedangkan menurut Hurlock, ahli psikolog perkembangan mendefinisikan karakteristik anak pada usia sekolah sebagai masa berkelompok dimana perhatian anak tertuju pada keinginan agar diterima oleh kelompoknya.27
26 Husna Farhana, dkk, Analisis Perkembangan Karakteristik Anak Sekolah Dasar di SDN Teluk Pucung I Bekasi, JURNAL JPSD Vol.7 No.1 (2020), h.30.
27 Cerika Rismayanti , Optimalisasi Pembentukan Karakter Dan Kedisiplinan Siswa Sekolah Dasar Melalui Pendidikan Jasmani Olahraga Dan Kesehatan, Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia, Vol. 8, No. 1 (2011), h.10.
Menurut Seifert dan Haffung usia anak SD yang berkisar antara 6- 12 tahun memiliki tiga jenis perkembangan berikut diantaranya:
a. Perkembangan Fisik
Pada usia masuk kelas satu SD atau MI, perkembangan fisik pada anak mengalami periode peralihan dari pertumbuhan cepat masa anak-anak awal ke suatu fase perkembangan yang lebih lambat.
Perkembangan fisik ini ditandai dengan pertumbuhan biologis, misalnya pertumbuhan otak, otot dan tulang.
Usia masuk SD atau MI pada anak-anak baik laki-laki atau perempuan tinggi dan berat badannya kurang lebih berkisar 3,5 kg. namun setelah usianya beranjak remaja yaitu 12-13 tahun anak perempuan berkembang lebih cepat dibandingkan dengan laki-laki.28 Berikut
28 Cerika Rismayanti, Optimalisasi Pembentukan Karakter Dan Kedisiplinan Siswa Sekolah Dasar Melalui Pendidikan Jasmani Olahraga Dan Kesehatan...”, h.11.
diantaranya ulasan perkembangan fisik pada anak usia sekolah dasar.
1) Pada usia 9 tahun tinggi dan berat badan anak laki- laki dan perempuan kurang lebih sama. Namun, ada perbedaan pada anak bentuk fisik dari anak perempuan, dimana tingginya relatif lebih pendek dan lebih langsing dari anak laki-laki pada umur sebelum menginjak usia 9 tahun.
2) Dilanjut dengan usia anak menjelang akhir kelas empat, terdapat pertumbuhan anak perempuan yang mengalami masa lonjakan pertumbuhan, ditandai dengan lengan dan kaki yang mulai tumbuh cepat.
3) Pada akhir kelas lima, pertumbuhan fisik antara laki- laki dan perempuan masih didominasi oleh perempuan, dimana perempuan terlihat lebih tinggi, lebih berat dan lebih kuat daripada anak laki-laki.
Pada usia 11 tahun nantinya anak laki-laki akan mulai terlihat lonjakan pertumbuhannya.
4) Menginjak anak kelas enam, khususnya buat perempuan sangat mendekati puncak tertinggi dari pertumbuhan mereka. Hal ini ditandai dengan dimulainya menstruasi yang terjadi pada usia 12-13 tahun. Sedangkan dengan anak laki-laki, ia memasuki masa pubertas dengan ejakulasi diantara umur 13-16 tahun.
b. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif ini mencangkup perubahan- perubahan dalam perkembangan pola pikir.
Perkembangan ini akan dijawab dengan empat pendekatan perkembangan kognitif.
1) Sensorimotorik (0‐2 tahun), bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan medorong mengeksplorasi dunianya.
2) Praoperasional(2‐7 tahun), anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata‐kata. Tahap pemikirannya yang lebih simbolis
tetapi tidak melibatkan pemikiran operasiaonal dan lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis 3) Operational Kongkrit (7‐11), penggunaan logika yang
memadai. Tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit.
4) Operasional Formal (12‐15 tahun), kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.
c. Perkembangan Psikososial
Perkembangan ini berkaitan tentang perubahan emosi individu. Dimana perkembangan dari Individu harus sejalan dengan perkembangan aspek lainnya, misalkan diantaranya ialah aspek psikis, moral dan sosial.29 Pada usia anak yang menjelang masuk SD, anak telah berhasil mengembangkan ketrampilan berpikir, bertindak, serta pengaruh sosial yang lebih kompleks.
29 Cerika Rismayanti , Optimalisasi Pembentukan Karakter Dan Kedisiplinan Siswa Sekolah Dasar Melalui Pendidikan Jasmani Olahraga Dan Kesehatan...”, h.12.
Sampai pada masa ini, pada dasarnya anak masih berpusat pada diri sendiri (egosentris) dimana dunianya masih seputar keluarga dirumah, dan taman kanak- kanaknya.
Setelah memasuki SD dunia anak akan mengalami sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Tahap ini bisa disebut dengan tahap “I can do it my self “. Anak mulai mencoba membuktikan bahwa mereka “dewasa”, mereka sudah mampu untuk diberikan tugas, dan mereka dapat mengerjakan sendiri tugasnya.
Selain hal tersebut masa SD juga menjadi awal tumbuhnya tindakan mandiri anak, misalkan dengan menyelesaikan tugas sekolahnya sendiri, dengan membuat kelompok belajar, serta bertindak menurut cara-cara yang dapat diterima lingkungan mereka.
Mereka juga mulai belajar untuk menilai diri sendiri dengan membandingkan dengan orang lain, mulai peduli pada permainan yang jujur. Semua hal ini kebanyakan
terjadi pada anak SD yang sudah menginjak kelas besar.
Anak-anak juga mulai menggunakan perbandingan sosial (social comparison) terutama untuk norma‐ norma sosial dan kesesuaian jenis-jenis tingkah laku tertentu, pada saat anak-anak tumbuh semakin lanjut, mereka cenderung menggunakan perbandingan sosial untuk mengevaluasi dan menilai kemampuan-kemampuan mereka sendiri.
Selain memiliki karakteristik khusus anak-anak SD juga mempunyai kebutuhan-kebutuhan tertentu, antara lain: anak sekolah dasar pada umumnya senang bermain.
Dalam tanda kutip yaitu pembelajaran yang didalamnya terdapat unsur permainan, dan aktif bergerak. Dalam hal ini anggapan anak untuk duduk rapi dalam rentang waktu yang lama, adalah membosankan.30
30 Windi Wulandari, Perkembangan Perilaku Keberagamaan Pada Anak Usia Sekolah Dasar Peserta Daarul Takmiliyah Aliyah Quthrunnada, (jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2018), h.33.
D. Kajian Penelitian yang Relevan
1. Dalam skripsi Laily Rustiana yang berjudul" Dampak Gadget Terhadap Kesehatan Mental Anak (Studi Kasus Pada Peserta Didik MTS Salafiyah Wonoyoso Buaran Kelas 2)", menyimpulkan adanya dampak negatif dari handphone terhadap kesehatan mental dan akhlak remaja.
Hal tersebut di karenakan adanya adegan-adegan kekerasan dalam televisi sehingga akan mempengaruhi kesehatan mental akhlak anak, serta para anak akan meniru atau mencontoh tayangan yang ada. Selain itu, kesehatan mental dan akhlak anak menjadi keras yang ditimbulkan oleh dampak negatif pada handphone.
2. Dalam skripsi Saripah Hanum tahun 2017 yang berjudul
"Pengaruh Aktivitas Handphone Terhadap Tingkah Laku Keberagaman Siswa Pada SMP N 01 Ulok Kupai Kabupaten Bengkulu Utara " menyimpulkan adanya dampak aktivitas handphone terhadap perilaku keagamaan anak yaitu dilihat dari tabel interpretasi yang menunjukan
pengaruh yang rendah, dan kurangnya peran orang tua terhadap pengawasan anak. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif.
3. Dalam skripsi Vitrianingsih, dkk tahun 2018 yang berjudul
“Hubungan Peran Orang Tua Dan Durasi Penggunaan Gadget Dengan Perkembangan Anak Pra Sekolah Di Tk Gugus Ix Kecamatan Depok Sleman Yogyakarta”, menyimpulkan adanya hubungan peran orang tua dan durasi penggunaan gadget dengan perkembangan anak pra sekolah. Durasi penggunaan gadget dominan mempengaruhi perkembangan anak pra sekolah. Durasi penggunaan gadget seharusnya tidak melebihi batas yang ditentukan. Selain bisa merusak perkembangan pada anak gadget juga bisa menyebabkan anak jadi semakin malas, kurang berinteraksi pada teman sebayannya dan lainnya.
Tabel 2.1. Matriks Kajian yang Relevan No Nama/Tahun/judul Persamaan Perbedaan
1 Laily Rustiana, berjudul “ Dampak Gadget Terhadap Kesehatan Mental Anak (Studi Kasus Pada Peserta Didik MTS Salafiyah Wonoyoso Buaran Kelas 2)
Persamaan penelitian diatas dengan peneliti yaitu sama-sama membahas tentang dampak penggunaan gadget pada anak.
perbedaannya penelitian diatas mengangkat masalah tentang dampak gadget terhadap kesehatan mental anak sedangkan, penelitian peneliti mengangkat masalah tentang peran orang tua dalam mengatasi dampak negatif penggunaan gadget (handphone) pada anak
2 Saripah Hanum, IAIN Bengkulu, (skripsi.
2017), berjudul
“Pengaruh Aktivitas Handphone Terhadap Tingkah Laku Keberagaman Siswa Pada SMP N 01 Ulok Kupai Kabupaten Bengkulu Utara”.
Persamaannya penelitian diatas dengan
penelitian peneliti sama- sama membahas tentang dampak penggunaan gadget pada anak.
Perbedaannya yaitu penelitian diatas membahas tentang pengaruh aktivitas handphone terhadap tingkah laku siswa.
sedangkan penelitia membahas tentang peran orang tua dalam mengatasi dampak negatif gadget
(handphone) pada anak. Metode penelitian diatas menggunakan metode penelitian kuantitatif
sedangan metode penelitian peneliti menggunakan metode kualitatif.
3 Vitrianingsih,dkk, (Skripsi.2018), berjudul “Hubungan Peran Orang Tua Dan Durasi Penggunaan Gadget Dengan Perkembangan Anak Pra Sekolah Di TK Gugus IX Kecamatan Depok Sleman Yogyakarta”.
Persamaan penelitian diatas dengan peneliti yaitu sama-sama membahas tentang peran orang tua dalam mengatasi dampak penggunaan gadget pada anak.
Perbedaanya yaitu penelitian diatas mengangkat masalah tentang hubungan peran orang tua dan durasi penggunaan gadget dengan perkembangan anak pra sekolah di TK gugus IX
Kecamatan Depok Sleman Yogyakarta sedangkan
penelitian peneliti mengankat masalah tentang peran orang tua dalam
mengatasi dampak negatif penggunaan gadget
(Handphone) pada anak usia Sekolah Dasar di Kelurahan Bumi Ayu Kota Bengkulu.