• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Analisis Data dan Pembahasan

1. Efektifitas Model Kooperatif Jigsaw Terhadap Retensi

Mengacu pada tabel 4.2 dapat diketahui bahwa effect size efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap retensi secara keseluruhan memiliki nilai -0.14 (kategori pengaruh di abaikan. Hal ini berbanding terbalik dengan teori yang menyatakan bahwa strategi pembelajaran tersebut secara umum mampu melibatkan siswa secara aktif

44

dalam proses pembelajaran. Apabila informasi ingin dipertahankan dalam memori (retensi), orang yang belajar harus terlibat dalam semacam pengaturan kembali kognitif atau elaborasi dalam materi. Salah satu elaborasi yang paling efektif adalah menjelaskan materinya kepada orang lain.

Misalkan pada strategi model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat tahap elaborasi dimana siswa setelah bergabung dengan kelompok ahli (expert group) harus menjelaskan materi yang telah dipelajarinya kepada teman-temannya pada tim asal (home team) hal serupa juga di kemukakan oleh Tinto. Kemampuan retensi sangat dipengaruhi oleh kegiatan belajar. Lebih jelas Tinto menyatakan bahwa siswa yang secara aktif terlibat dalam proses belajar dan mampu berinteraksi dengan rekannya, akan mengalami peningkatan dalam retensi. Tinto menyebutkan bahwa retensi dipengaruhi oleh integrasi antara sosial dan akdemik, yang artinya adalah retensi berhubungan dengan kemampuan siswa dan tindakan yang dilakukan siswa di dalam kelas.37 Hal ini juga tidak sesuai dengan manfaat yang dapat di peroleh ketika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw seperti

1) Meningkatkan kemampuan diri tiap individu,

2) Saling menerima kekurangan terhadap perbedaan individu yang lebih besar,

37 Komalasari, R. N. A., Corebima, A. D., & Mahanal, S. (2013). Perbandingan potensi antara strategi pembelajaran TPS dan jigsaw dalam memberdayakan keterampilan metakognitif, retensi dan hasil belajar biologi siswa berkemampuan akademik rendah pada SMA yang berbeda (Doctoral dissertation, Universitas Negeri Malang).

45

3) Konflik antar pribadi berkurang, 4) Sikap apatis berkurang,

5) Pemahaman yang lebih mendalam, 6) Motivasi lebih besar,

7) Hasil belajar lebih tinggi,

8) Retensi atau penyimpanan lebih lama,

9) Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi38

Tabel 4.4 menunjukkan hasil meta analisis terhadap artikel tentang pengaruh model kooperatif tipe jigsaw terhadap retensi berdasarkan jenjang pendidikan, dengan rincian perhitungan effect size terdapat pada lampiran.

Tabel 4.4 Effect Size Model Kooperatif Jigsaw Berdasarkan Jenjang Pendidikan

No

Jenjang Pendidikan

Effect Size Kategori

1 SD 0.51 Pengaruh sedang

2 SMP -4.12 Pengaruh diabaikan

3 SMA 2.39 pengaruh sangat tinggi

4 Universitas 0.00 Pengaruh diabaikan

Selanjutnya jika berdasarkan pada tabel 4.4 dapat diketahui bahwa berdasarkan jenjang pendidikian effect size model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap retensi jika berdasarkan pada jenjang pedndidikan besar pengaruh tertinggi terdapat pada jenjang SMA dengan nilai 2.39 dan termasuk kedalam (kategori pengaruh sangat tinggi) dan effect size terendah terdapat pada jenjang SMP dengan nilai -4.12 yang tergolong

38 Sholihah, H. A. A., Koeswardani, N. F., & Fitriana, V. K. (2019). METODE PEMBELAJARAN JIGSAW DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI SISWA SMP. KoPeN: Konferensi Pendidikan Nasional, 1(1), 160-167.

46

kedalam (pengaruh yang diabaikan). Hasil temuan ini menunjukkan bahwa untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran koopertif tipe jigsaw terhadap retensi lebih bijak jika diterapkan pada jenjang SMA. Hal ini dikarenakan secara umum siswa pada jenjang SMA juga memiliki kematangan emosional yang lebih tinggi dari pada siswa pada jenjang SMP, karena kematangan emosi diperoleh dari pengalaman-pengalaman yang dialami oleh individu. Siswa pada jenjang SMA tentu memiliki pengalaman yang lebih banyak dibandingkan dengan siswa SMP. Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dwi Yuli Riwayati pada tahun 2006,yang menyatakan bahwa tingkat kematangan emosi seseorang berbanding lurus dengan tingginya tingkat pendidikan.39

Untuk mengetahui hasil dari pengelompokan effect size penggunaan model kooperatif tipe jigsaw berdasarkan jenjang pendidikan dipaparkan dalam bentuk grafik.

Gambar 4.1

effect size model pemebelajaran kooperatif jigsaw berdasarkan jenjang pendidikan Efektivitas Model Kooperatif Jigsaw Terhadap Berpikir

Kritis

39 Utami, P. META-ANALISIS PENGGUNAAN MODEL KOOPERATIF DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI (Bachelor's thesis, Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Effect Size;

SD; 0,51

Effect Size;

SMP; -4,12

Effect Size;

SMA; 2,39 Effect Size;

Universitas

; 0 SD SMP SMA Universitas

47

Mengacu pada tabel 4.3 dapat diketahui bahwa effect size dari efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap berpikir kritis menunjukkan hasil 3.55 dan (tergolong kedalam pengaruh sangat tinggi). Hal ini sesuai dengan pengertian dari model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yaitu model pembelajaran yang mengarah pada kemampuan berpikir kritis dan dapat memotivasi siswa untuk melakukan investigasi pemecahan masalah pada situasi kehidupan nyata serta merangsang siswa untuk menghasilkan sebuah karya. Hal serupa juga diungkapkan oleh Muhyadi yang menyatakan bahwa selain karakter kerja sama, kegiatan kelompok dalam pembelajaran kooperatif jigsaw juga mempengaruhi kemampuan berpikir siswa. Hal ini dikarenakan dengan mengerjakan tugas dalam lembar kerja kelompok, kemampuan berpikir siswa dari lower order thinking sampai higher order thinking dirangsang untuk berkembang.

Pada tingkat berpikir rendah yaitu mengingat, memahami, dan menerapkan pengetahuan diperlukan dalam menjawab soal-soal dalam lembar kerja siswa, baik lembar kerja kelompok maupun dalam kuis individual. Selain itu, pada tingkat berpikir tinggi yang difokuskan pada kemampuan berpikir kritis juga diperlukan dalam menjawab soal-soal dalam lembar kerja kelompok. Kemampuan tersebut antara lain menganalisis permasalahan atau soal yang ada, menilai alasandankebenaran, mengemukakan pendapat dalam diskusi, berpikiran terbuka dengan menerima pendapat teman, membuktikan dengan

48

beralasan, dan mempertimbangkan jawaban terbaik dalam menentukan jawaban untuk soal tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan kelompok dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mempengaruhi kemampuan berpikir siswa baik kemampuan kognitif maupun kemampuan berpikir kritis.

Hal serupa juga dijelaskan oleh Marlina bahwa keahlian bernalar kritis dalam model penelaahan kooperatif tipe jigsaw peserta didik betul- betul dioptimalkan menempuh cara kerja beregu dan pembentukan kelompok asal dan kelompok ahli, sehingga siswa saling memberdayakan, saling bertukar pikiran, pendapat, mempertajam, mencoba dan membeberkan keahlian bernalarnya secara berkelangsungan. Salah satu keahlian bernalar siswa yaitu kemampuan berpikir kritis, dengan bernalar kritis siswa dapat menumbuhkan potensi-potensi yang ada di dalam diri peserta didik, menumbuhkan rasa ingin tahu, ide atau gagasan, menyelesaikan suatu permasalahan dan tidak mudah menampung penjelasan tanpa mengetahui fakta. Lebih lanjut Taufik juga berpendapat bahwa untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis tidak hanya berkisar pada penerapan berbagai pendekatan, model, dan metode tetapi juga dapat melalui pemberian mata pelajaran tertentu yang dapat merangsang keterampilan tersebut. Menerapkan suatu model pembelajaran

49

yang mengajak siswa berpikir dapat memicu semangat belajar siswa agar mudah memahami konsep dari mata pelajaran.40

Selanjutnya pada tabel 4.5 menunjukkan hasil meta analisis terhadap artikel tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap berpikir kritis berdasarkan jenjang pendidikan, dengan rincian perhitungan effect size terdapar pada lampiran

Tabel 4.5 Effect Size Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Berdasarkan Jenjang Pendidikan.

No Jenjang Pendidikan Effect Size Kategori

1 SD -0.10 Pengaruh diabaikan

2 SMP 0.11 Pengaruh diabaikan

3 SMA 3.18 pengaruh sangat tinggi

4 Perguruan Tinggi 1.42 Pengaruh sangat tinggi

Mengacu pada tabel 4.5 dapat diketahui bahwa berdasarkan jenjang pendidikan effect size model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap berpikir kritis tertinggi terdapat pada jenjang pendididkan SMA dengan nilai dengan nilai 3.18 dan tergolong ke dalam (kategori pengaruh sangat tinggi) dan effect size terendah terdapat pada jenjang pendididkan SD dengan nilai -0.10dan tergolong (pengaruh yang di abaikan),Hasil temuan ini menunjukkan bahwa untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap berpikir kritis lebih bijak jika diterapkan pada jenjang SMA. Untuk lebih memahami pengelompokan effect size berdasarkan jejnajang pendidikan telah disajikan juga dalam bentuk grafik.

40Herawati, L., & Irwandi, I. (2019, October). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap Hasil Belajar dan Berpikir Kritis Siswa Pada Mata Pelajaran IPA di SMP Negeri 09 Lebong. In Seminar Nasional Sains & Entrepreneurship (Vol. 1, No. 1).

50

Grafik 4.3

Pengelompokan effect size berdasarkan jenjang pendidikan

Hal ini disebabkan oleh perbedaan tahap intelektual sesuai dengan teori piaget

1. Tahap sensori-motor : 0 – 1,5 tahum

2. Tahap pra-operasional : 1,5 – 6 tahun

3. Tahap operasional konkrit : 6 – 12 tahun

4. Tahap operasional formal : 12 tahun ke atas41

Untuk lebih memahami pengelompokan effect size berdasarkan jejnajang pendidikan telah disajikan juga dalam bentuk grafik. Secara umum siswa pada jenjang SMA juga memiliki kematangan emosional yang lebih tinggi dari pada siswa pada jenjang SMP, karena kematangan emosi diperoleh dari pengalaman-pengalaman yang dialami oleh individu.

41 Ibda, F. (2015). Perkembangan kognitif: teori jean piaget. Intelektualita, 3(1).

Series1; SD; - 0,1

Series1; SMP;

-0,11

Series1; SMA;

3,18

Series1;

Universitas;

1,42 SD SMP SMA Universitas

51

Siswa pada jenjang SMA tentu memiliki pengalaman yang lebih banyak dibandingkan dengan siswa SMP. Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dwi Yuli Riwayati pada tahun 2006,yang menyatakan bahwa tingkat kematangan emosi seseorang berbanding lurus dengan tingginya tingkat pendidikan.7Maka berdasarkan hasil penelitianmeta- analisis ini,dapat ditarik kesimpulanyangsejalan dengan inti pembelajaran kooperatif yang berupa kerja kelompok antar siswa yang.42

2. Perbandingan Efektivitas Model Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap

Dokumen terkait