KONTEMPORER DI KABUPATEN GIANYAR
4.6 Ekonomi
dalam berbagai aktivitas agama. Masyarakat di Kabupaten Gianyar membuat persembahan seharihari kepada rohroh leluhur, Bhatara-Bhatari, dan Ista Dewata dengan menggunakan berbagai persembahan. Di dalam persembahan itu terdapat celah untuk menempatkan warna sebagai bagian penting dalam membangkitkan “cahaya” dalam proses ritual, yaitu warna pangider bhuwana. Kegiatan ini kelihatan ketika memilih bahanbahan sesajen seperti buah atau bunga selalu mempertimbangkan kesegaran dan kesesuaian warna, indah, menarik, dan simbolis. Aktivitas tersebut juga merupakan sebagai bagian perjuangan identitas.
Subrata, 2014: 13). Seni menjadi kebutuhan barang dagangan, investasi, gengsi, dan status sosial menjadi berkembang dan bersaing di tingkat elite.
Kontradiksi antara idealitas dan realitas serta produksi dan kreasi berkembang semakin kompleks. Tujuan utama penciptaan seni murni (lukis) untuk kebutuhan batin bergeser menjadi seni lukis yang diciptakan untuk kebutuhan wisatawan “tourist art”. Alasan ekonomi bagi seniman seni lukis kontemporer berjuang dengan berbagai upaya dalam meningkatkan taraf hidup melalui berbagai promosi dan apresiasi. Beberapa di antaranya dengan penyebaran fotofoto karya lukisan di dalam berbagai peluangpeluang promosi.
Dalam hal ini banyak pelukis kontemporer memajang karyakaryanya di artshops/tokotoko seni, studio berkarya yang terkait dengan pemajanganpemajangan karya, lobby hotel, restoran, museum, dan berbagai bentuk promosi di dunia maya. Di samping itu, pelukispelukis pada masa yang lalu biasanya tidak membubuhkan tanda tangan atau nama pada karyanya (anonim), tetapi menjadi hasil ciptaan.
Upaya mempromosikan diri sebagai seniman merupakan suatu pemandangan yang biasa disaksikan dalam aktivitas kehidupan seni lukis kontemporler. Menonjolkan identitas diri seniman dari anonim telah bergeser (dahulu karya seni mengatasnamakan kelompok) atau desa asal (kolektif) sebagai ciri khas, tetapi kini menjadi identitas diri secara pripadi (monopoli). Pelukis kontemporer juga mengajarkan seni dalam bentuk kursuskursus dan kelas, baik private maupun umum, reguler dan nonreguler, selain memiliki profesi sebagai seniman keterampilan lain juga sering dijadikan mata pencaharian tambahan.
Pengaruh perkembangan ekonomi secara umum juga menjadi alasan kuat maraknya gelombang pasar seni lukis.
Kreativitas seni juga dipengaruhi oleh semakin baik atau majunya perkembangan ekonomi secara umum. Perlu diingat bahwa kebutuhan lukisan merupakan kebutuhan terakhir setelah kebutuhankebutuhan hidup yang lain terpenuhi.
Tingkat marak dan lesunya kreativitas juga terlihat sesuai dengan gelombang perekonomian. Namun, fenomena yang menarik adalah kegiatan pameran marak dan tempat
tempat pameran alternatif jusru bertambah. Dalam seni lukis kontemporer selain berkarya seni secara individu juga ada yang dilakukan dengan berkelompok sehingga beban ekonomi untuk menanggung ongkos bahan pembuatan karya dan penyelenggaraan pameran dapat ditanggulangi.
Dengan demikian, muncul kegiatan pameran tunggal dan berkelompok. Khusus untuk public art seni yang diciptakan di tempattempat umum biasanya ada sponsor atau kolektor seni yang membiayai.
Beberapa sasaran tempat pemasaran yang dilakukan adalah festival seni, events seni tahunan atau dua tahunan, galerigaleri, museum, kolektor seni, pedagang seni, pencinta seni, dan para wisatawan. Ada beberapa museum seni lukis di Kabupaten Gianyar tempat pemajangan dan apresiasi edukasi terhadap karya seni. Museummuseum tersebut adalah Museum Puri Lukisan, Museum Neka, Agung Rai Museum of Art (ARMA), Museum Rudana, Museum Blanco, dan Museum Batuan. Selain museum ada beberapa galeri atau art space, di antaranya Tony Raka, Nyoman Sumerta, Bentara Budaya, Komaneka, Nyoman Sugara, Barwa, Puri Menggah, Bidadari, Pranoto, Sika Contemporary, Ubud Diary, Paros, dan Karja Art Space. Perkembangan komunitas seni, sanggar, kelompok
kelompok seniman bermunculan, segelintir di antaranya Pengosekan community of artist, komunitas seni lukis Keliki, dan komunitas seni lukis Batur Ulangun Batuan, dan lainlain.
Manajer seni, penulis seni, kurator, dan kritikus seni merupakan bagian dari lingkaran ekonomi dalam berkarya seni lukis. Profesi penunjang kesuksesan seniman ini merupakan profesi yang semakin diperlukan dalam meningkatkan taraf perekonomian seniman. Kerja mereka adalah sebagai public relations yang mampu menjembatani ungkapan seniman dalam bentuk karya seni dengan kepentingankepentingan publik, di antaranya informasiinformasi tentang keberadaan nilainilai
kualitas seni, harga financial karya, bahan, tahun, sejarah, latar belakang seniman, reputasi, pengalaman, keunikan, goal, nilai investasi, dan sebagainya.
Dalam buku How to Survive & Prosper as an Artist: Selling Yourself without Selling Your Soul, Carol Michels menjelaskan caracara memasarkan karya seni lukis dan mempromosikan diri sebagai seniman lukis. Salah satu di antaranya adalah bagaimana cara meningkatkan marketing dan promosi dengan berbagai upaya dan pengalaman terutama dengan peranti
peranti yang terkait dengan peningkatan dan penyebarluasan informasi. Seniman yang berbisnis merupakan fenomena yang sangat umum dalam seni lukis kontemporer. Promosi diri dilakukan dengan membikin kartu nama, brosurbrosur, katalog, kurikulum vitae, portofolio yang disertai dengan slides, video/youtube, fotofoto karya, ulasan karya, identitas seniman, pengalaman seniman, pernyataanpernyataan estetik, dan lainlain. Artist’s resume merupakan bagian yang sangat penting dalam upaya meningkatkan promosi
promosi yang menyangkut nama, alamat, nomor telepon, postcards, email, web sites, media sosial (facebook, instragram, whatsapp, twiter, dan lainlain). Upaya lain yang dilakukan seniman adalah mencantumkan nama kolektor berpengaruh yang mengoleksi karyakaryanya dan proyekproyek besar yang pernah didapatkanya/dimenangkan dalam berbagai kompetisi seni. Penghargaan-penghargaan seni, biografi, bibliografi/referensi terkait dengan seni lukis, kehidupan seniman, tingkat pendidikan, dan pengalaman berkarya menjadi bagian dari promosi.
Percaturan ekonomi global sekarang yang menempatkan informasi teknologi dan dunia maya disebut gelombang 4.0 menjadikan kreativitas sebagai sumber utama dalam peningkatan ekonomi. Kreativitas seni lukis selayaknya menjelajah pasarpasar internasional dengan kekuatan akar
akar budaya lokal. Globalisasi yang berasal dari kata globe atau global mempunyai arti dunia atau mendunia dan kebulatan.
Menurut S. Putranto dan Sutrisno (2005: 232 dalam Subrata,
2014: 19), globalisasi adalah proses dunia tempat manusia hidup ini menjadi semakin berhubungan satu dengan yang lain dan dunia tempat batasbatas politis, budaya, ekonomis, yang tadinya ada, sekarang menjadi semakin rapuh, mengabur, bahkan dianggap kurang relevan. Lebih lanjut I Wayan Subrata mengutip Supriyadi (1994: 73) mengatakan bahwa globalisasi adalah proses maraknya penyebaran pengaruh budaya sedemikan rupa sehingga sifatnya tidak saja bilateral dan multilateral, tetapi juga benarbenar sudah bersifat mondial dalam arti menyangkut semua aspek yang ada di seluruh polosok bumi (Subrata, 2014: 19).
Penjualan karya seni lukis tidak hanya berkembang lokal akibat kemajuan pariwisata, tetapi juga melalui pameran
pameran berskala nasional terutama kotakota besar di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.
Pameran berskala internasional sering diikuti oleh seniman kontemporer terutama di negaranegara Asia Tenggara dan Asia (Korea, Jepang, India, dan China). Selain melalui pameran, pemasaran karya seni lukis kontemporer juga memasuki balaibalai lelang, seperti Larasati, Borobudur, Sidartha, bahkan balai lelang internasional, seperti Sotheby’s dan Christie’s Auction.