• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seni Lukis Bali Modern

Dalam dokumen dalam Seni Lukis Kontemporer (Halaman 75-83)

HABITUS SENI LUKIS KONTEMPORER DI GIANYAR DAN BALI

3.2 Potensi Seni Lukis Kontemporer

3.2.1 Seni Lukis Bali Modern

Era 1990­an berkembang seni lukis kontemporer yang sebagian besar mengikuti gelombang “trendy” terutama abstraksi dan “formalis” atau bentuk­bentuk “informal” serta neofiguratif dengan misi merefleksikan situasi dan kehidupan Bali kini. Artinya, potensi seni lukis Bali sangat kompleks.

Dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembinaannya tampaknya diperlukan “wadah pembinaan” yang berorientasi pada pelestarian dan pengembangan, changes and continuities secara holistik. Pameran bisa jadi awal dan/atau akhir evaluasi atau re­evaluasi dalam melihat potensi. Kesadaran mengoleksi dan mengapresiasi seni penting ditumbuhkembangkan di tengah masyarakat Bali yang akhir­akhir ini cenderung membuat dan menjual.

Gambar 3.37 Karya I Wayan Karja. Khrisna Murti dan Siwa Nataraja dengan masing-masing menggunakan senjata Dewata Nawa Sangga.

Foto: I Wayan Karja 2019

Gambar 3.38 Pengunaan warna terinspirasi dari warna Bali Pangider Bhuwana.

Foto Repro: I Wayan Karja. 2019

Gambar 3.39 Senjata Dewata Nawa Sangga. Foto Repro: I Wayan Karja. 2019

Transisi dan proses transformasi yang sangat dahsyat terjadi selama sejarah seni lukis di Kabupaten Gianyar.

Sejak Pita Maha seni lukis di Kecamatan Ubud lebih banyak

memperlihatkan ciri khasnya sebagai seni lukis yang meng­

gunakan teknik gelap terang, haburan, atau kadang­kadang gradasi sigar mangsi. Teknik ini dalam istilah seni lukis disebut dengan teknik chiaroscuro. Chiaroscuro berasal dari bahasa Italia, terdiri dari dua suku kata, yaitu chiaro berarti “sinar/

cahaya” dan oscuro berarti “gelap”. Dalam sejarah seni rupa Barat, teknik ini sudah diterapkan pada zaman renaissance.

Teknik pembentukan dengan menggunakan gelap terang ini juga disebut modeling.

Alam pemandangan sekitar dijadikan bagian ciptaan, oleh seniman, tetapi tidak melukis yang realistik seperti memilih tempat dan waktu tertentu. Empat seniman Barat (Walter Spies, Johan Rudolf Bonnet, Antonio Blanco, dan Arie Smit) yang tinggal di Campuhan, Ubud ikut “mewarnai”

bersama­sama seniman lokal dinamika seni lukis di Kabupaten Gianyar. Dalam melakukan evaluasi dipandang perlu untuk memamerkan karya lukis yang akarnya telah tumbuh subur pada awal tahun 1920­an ketika perkembangan seni lukis mulai mendapat sentuhan internasional (Barat). Pada 29 Januari 1936 didirikan Pita Maha (jiwa/kreativitas yang tinggi).

Keanggotaan Pita Maha menyebar di seluruh Bali, tetapi Ubud tetap merupakan pusat perkembangannya. Tujuannya adalah untuk memajukan dan mengembangkan seni rupa Bali, meningkatkan mutu seni, dan menyalurkan karya anggota agar dapat dinikmati oleh masyarakat. Berbicara tentang Pita Maha medali perak dan Diploma de Medaile d’Argent diraih oleh dua anggota Pita Maha pada tahun 1937. Prestasi puncak itu berlanjut, terutama terlihat dengan pertumbuhan seni lukis di Ubud dan desa­desa sekitar sebagai wujud lukisan turunan Pita Maha. Nama­nama pelukis Pita Maha dan turunannya, yaitu I Gusti Nyoman Lempad, Ida Bagus Made, Anak Agung Gede Sobrat, I Gusti Made Deblog (Denpasar), I Gusti Made Baret, I Gusti Ketut Kobot, Anak Agung Raka Turas, Ida Bagus Nadera, Ida Bagus Rai, dan lain­lainnya.

Gambar 3.40 karya I Gusti Nyoman Lempad. The Dagger Attack on Rangda.

1939. Tinta dan tempera di atas kertas.

Gambar 3.41 I Gusti Nyoman Lempad. Death of Abhimanyu. 1930­an. Tinta dan tempera di atas kertas. Koleksi Museum Neka. Sumber: Neka Art Museum in Modern Balinese History. Foto Repro: I Wayan Karja 2020

Selain keempat seniman Barat di atas, ada juga seorang Mexico yang terkenal di Amerika Serikat terutama berkat reproduksi karyanya di New Yorker, Vogue, and Vanity Fair.

Miguel Covarrubias (1904­­1957) yang telah bekeliling dunia melakukan perjalanan melukis dan berkat Fellowship dari Guggenheim akhirnya berhasil menetap di Bali sembilan bulan pada tahun 1930. Dari masa tinggal ini dilahirkan buku yang terkenal The Island of Bali (1937) (Neka Museum, 1986:

87). Tokoh lain, yaitu antropolog tersohor Margaret Mead dan Gregory Batson juga memberikan sumbangan besar dalam mempromosikan seni lukis Batuan, The Images of Power (1995). Menurut informasi tidak kurang dari dua ribu lembar lukisan Batuan dikoleksinya dan dipamerkan di berbagai belahan dunia, seperti New York, San Francisco, Ubud (Bali), Jepang, dan Australia. Di pihak lain Datu Liem Chong Keat juga sangat berjasa dalam mendampingi Arie Smit dalam mengembangkan young artist. Di samping itu, juga kolektor/

maecenas-maecenas seni lainnya.

Pita Maha lahir di lingkungan kehidupan agraris dengan pertemuan kombinasi ide seni Timur­Barat, dan Tjampuhan sebagai saksi bisu yang banyak menyimpan cerita ini. Dalam hal ini, utamanya setelah pameran foto­foto tentang Bali (1912) di New York dan Paris oleh Dr. Kraus dan keberhasilan seniman Pita Maha Ida Bagus Gelgel dan Ida Bagus Kembeng dalam pameran di Paris. Sejak itu para pemerhati seni dan kebudayaan, antropologi, sosiologi mulai berdatangan ke Bali untuk mengadakan penelitian. Miguel Covarubias (1930) ikut datang setelah mendapatkan support dari Peggy Guggenhein.

Tak ketinggalan Margaret Mead dan Gregory Batson (1938) juga ikut melakukan penelitian dan mengoleksi seni lukis Bali (lukisan Batuan sekitar dua ribu lembar lukisan).

Seni lukis di Kabupaten Gianyar, terutama di Ubud dan Batuan setelah kejayaan Pita Maha terus berlanjut dan berkembang subur sejalan dengan perkembangan pariwisata dan fasilitas serta infrastruktur pengembangannya. Gaya Pita Maha ala Ubud dilanjutkan dalam turunan kelompok seni

lukis yang dinamakan “Karsa Maha”. Kelompok ini didirikan tahun 1950 yang dimaksudkan untuk mengembangkan karya kelanjutan Pita Maha. Tokoh­tokoh kelompok ini, seperti pelukis seperti Anak Agung Raka Puja, Made Sukada, yang dilanjutkan oleh generasi berikut generasi berikut, yaitu I Ketut Budiana, Wayan Meja, dan I Wayan Bendi. Selain kelanjutan gaya Pita Maha di daerah Ubud dan sekitarnya juga berkembang seni lukis “gaya baru,” seperti gaya pelukis anak­anak Penestanan yang dikenal dengan sebut “young artist”; gaya lukisan flora dan fauna Pengosekan; dan gaya lukisan Keliki yang menyerupai gaya Batuan.

Pembahasan tentang warna dalam tulisan ini me­

mosisikan lukisan young artist sebagai salah satu yang penting dalam memainkan warna­warna yang bebas dan liar, naive, kekanak­kanakan. Berbeda dengan lukisan sebelumnya yang memainkan garis dan narasi. Pada tahun 1960­an Penestanan secara mengejutkan melahirkan lukisan baru, hanya sedikit bersumber dari akar tradisi sebelumnya. Artinya, banyak mengagungkan kebebasan ekspresi anak­anak, pengaruh lingkungan alam, dan tradisi masyarakat desanya. Pengaruh dan tutunan Arie Smit seorang pelukis Belanda dengan sukarela memberikan bahan­bahan dan alat­alat melukis untuk anak­anak Penestanan tanpa memberikan banyak instruksi dan arahan tentang teknis melukis. Berikut kata Arie Smit.

“Saya tidak campur tangan tentang pemilihan tema karena anak petani lebih tahu alam lingkungannya…setelah bekerja 3­­4 minggu di rumahku mempelajari kegunaan bahan, mereka pulang ke rumah masing­masing…saya hanya melihat karya­karya yang sudah disiapkan”

Walaupun seni lukis di Pengosekan mulai populer pada tahun 1980-an dengan tema flora dan fauna, sebenarnya seni lukis di Pengosekan secara teknis merupakan kelanjutan gaya Pita Maha. Ada beberapa tokoh di Desa Pengosekan yang memang sudah menjadi pilar­pilar kekuatan perkembangan

seni lukis Pita Maha, seperti I Gusti Ketut Kobot, I Gusti Nyoman Baret, generasi berikutnya adalah I Ketut Liyer, Dewa Putu Mokoh, Dewa Nyoman Batuan. Dewa Nyoman Batuan dikenal sebagai pelukis yang gigih mempertahankan konsep­

konsep agama Hindu yang dituangkan ke dalam karyanya yang diwujudkan dalam bentuk Mandala. Selain itu, beliau juga sebagai penghimpun kelompok seniman. Pengosekan Community of Artists merupakan bagian penting dari kegiatan manajemen dan usaha (bisnis) beliau dalam bidang lukisan.

Komunitas ini merupakan salah satu komunitas besar pada era 1980­an di Pengosekan yang akhirnya membuka peluang kreativitas dan pasar seni lukis flora dan fauna.

Pengembangan Jurusan Seni Rupa Fakultas Teknik, Universitas Udayana, merupakan keputusan rektor. Selain perguruan tinggi seni di Bali, pelukis juga sempat belajar mengenyam pendidikan berdasarkan SK nomor 578/SK/

PT.17/c.1/1983 (buku pedoman PSSRD, 1984). Salah satu tujuannya adalah agar peserta didik memiliki kemampuan dan keterampilan berekspresi untuk menghasilkan karya seni yang berkepribadian. Pendidikan tinggi seni rupa (lukis) di perguruan tinggi luar Bali, seperti Institut Seni Indonesia Yogyakarta , Institut Teknologi Bandung, bahkan luar negeri.

Pelukis kontemporer lahir dari pendidikan seni rupa (lukis). Tidak semua pelukis lahir dari pendidikan formal seni lukis. Artinya, ada yang autodidak (belajar sendiri), tetapi dominasi pendidikan seni lukis sebagai dasar menjadi pelukis pada era kontemporer ini sangat menonjol. Beberapa lembaga pendidikan seni rupa di Bali, misalnya Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) menjadi SMSR, sekarang (SMK Negeri 1 Sukawati), jurusan Seni Rupa Fakultas Teknik (1965) Universitas Udayana menjadi PSSRD dengan konsentrasi pendidikan tinggi seni untuk mempertahankan budaya. Atas dukungan Ditjen Dikti Depdiknas, Pemda Bali dan masyarakat Bali setelah persiapan cukup lama, pada 28 Juli 2002, Menteri pendidikan Nasional (Prof. Drs. Abdul Malik Fadjar, M.Sc.) meresmikan pendirian ISI Denpasar. Pada waktu itu dilakukan

penandatanganan prasasti di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar. Program seni lukis yang digolongkan ke dalam seni rupa murni memiliki tujuan untuk menyiapkan mahasiswa dengan karer akademik profesional sesuai dengan minatnya, mampu memahami ide/konsep berkarya seni dengan jelas (FSRD, 2004).

Sarana dan prasarana penunjang juga bermunculan, seperti, artshop, gallery, museum, dan lain­lain. Dalam pendidikan formal, terutama para pendidik seni rupa yang pernah menimba ilmu di ITB pada tahun 1970­an juga pernah mengumandangkan konsepsi simplifikasi yang selalu disebut dengan penyederhanaan. Bentuk dan falsafah sesajen, sarad, dan bentuk jejaitan secara konkret dan impulsif juga memengaruhi proses penyederhanaan ini. Namun, penyederhaan yang terjadi selalu berhenti atau harus terhenti ketika pelukis diwajibkan untuk menunjukkan kharakter identitas Bali. Kabupaten Gianyar merupakan salah satu kabupaten yang paling banyak menyimpan kantong­kantong seni lukis, terutama di Kecamatan Ubud dan Sukawati. Untuk di Ubud saja terdapat lima museum seni lukis, yang semuanya milik pribadi (keluarga). Museum­museum tersebut, yaitu (1) museum Puri Lukisan, (2) Museum Neka, (3) Museum Agung Rai, (4) Museum Rudana, dan (5) Museum Antonio Blanco.

Fenomena ini menjadi langka dan jelas Ubud merupakan salah satu pusat perkembangan seni lukis yang dikenal di dunia internasional.

Bagan 3.1 Potensi Seni Lukis Kontemporer di Kabupaten Gianyar.

Dalam dokumen dalam Seni Lukis Kontemporer (Halaman 75-83)