• Tidak ada hasil yang ditemukan

Estetika

Dalam dokumen dalam Seni Lukis Kontemporer (Halaman 115-118)

KONTEMPORER DI KABUPATEN GIANYAR

4.3 Estetika

ran diri” (Aaron Copland dalam Cameron, 1995: 14).

Proses peningkatan kesadaran tentang manusia dan kosmos berkaitan dengan ungkapan Albert Einstein, yaitu

“semakin belajar tentang sains semakin percaya kepada Tuhan”

Apabila dikaitkan dengan konsep visualisasi lingkaran warna sebagai simbol dari mandala, warna hanya sebagai pembuka pintu kesadaran. Selanjutnya akan mengarahkan pikiran ke alam para dewa (cahaya/sinar Hyang Mahaindah, Mahasuci dan Mahagaib). Banyak suku bangsa di dunia memiliki mandala warna walaupun tafsir tentang keberadaan warna dan penempatan dalam arah mata angin berbeda­beda.

Upaya membayangkan sesuatu yang abstrak menjadi kegiatan rutin para seniman lukis. Di samping itu, memvisualisasikan yang bersifat niskala (invisible) menjadi sekala (visible) juga menjadi fenomena umum dalam keseharian seni lukis kontemporer di Kabupaten Gianyar. Visualisasi suatu gagasan atau perasaan dilakukan dengan menggunakan bentuk gambar, tulisan (kata & angka), peta grafik, dan sebagainya; proses pengubahan konsep menjadi gambar untuk disajikan lewat karya seni atau visual (Susanto, 2002: 112). Sakti Gawain (2002) menjelaskan bahwa dalam creative visualization dilakukan aktivitas membayangkan, mengkonkretkan dalam pikiran menjadi visual. Hal itu sejalan dengan penjelasan Paul Klee, seorang seniman terkenal Swiss, dengan ungkapan yang sangat populer, yaitu “Art does not render the visible; rather it makes visible.” (Read, 1968: 182). Maksudnya adalah seni dapat mewujudkan yang tidak kelihatan menjadi kasatmata atau dari nonfisik (niskala) menjadi fisikal (sekala).

bidang ilmu pengetahuan. Menurut pengamat seni, estetika juga menggunakan suatu alat ukur yang disebut dengan estetika instrumental. Di pihak lain estetika normatif bersifat sangat subjektif sifatnya karena menggunakan kaidah­kaidah perorangan. Selain itu, karena bersifat renungan, sering juga disebut estetika kontemplatif. Estetika kontemplatif dibagi menjadi dua bagian, yaitu (1) falsafah keindahan (umum) dan (2) falsafah kesenian (khusus).

Visualisasi juga terkait dengan estetika kontemplatif karena estetis merupakan cabang ilmu filsafat tentang keindahan. Keindahan dalam visualisasi warna di Kabupaten Gianyar merupakan proses kreatif yang berakar pada warna pangider bhuwana. Warna pangider bhuwana dapat divisualisasikan dari segi kontras dan monochrome. Visualisasi cenderung merefleksikan kekuatan, intensitas, hiu warna yang sangat indah dan serasi. Dengan demikian, jelas bahwa unsur­

unsur etika, logika, dan estetika menjadi elemen­elemen yang saling memerlukan. Keseimbangan antara putih­hitam, merah­kuning, dan warna emas menjadi kekuatan khas dalam penggunaan keindahan warna dalam estetika lokal. Kekuatan warna lokal ini merupakan ciri dan kekuatan identitas warna Bali. Hal ini agak berbeda dengan warna­warna etnis/budaya lain di muka bumi ini, apalagi dikaitkan dengan penggunaan warna dalam teori warna modern Barat. Namun, perbedaan itu mempunyai tujuan sama, yaitu keindahan, keharmonisan, dan ungkapan karakter objeknya. Bagaimanapun perbedaan penggunaan warna itu tidak merupakan suatu konflik, tetapi saling melengkapi. Albert Einstein berpendapat“It rejected a conflict between science and religion, and held that cosmic religion was necessary for science. Artinya Einstein menolak bahwa terjadi konflik antara sains dan agama, tetapi berpendapat bahwa agama kosmik diperlukan untuk sains.

Sebagai seniman kontemporer, Wayan Sika menjelaskan bahwa alasannya memilih warna­warna pangider bhuwana sebagai tema utama dalam penciptaan lukisan kontemporer adalah karena warna “pangider bhuwana merupakan

pandangan hidup atau “way of life.” Karya seni yang berdasarkan filosofi Hindu dapat disumbangkan kepada dunia internasional, terutama lewat simbol­simbol dalam seni bangunan (arsitektur), seni patung, seni lukis, dan seni kerajinan (I Wayan Sika, wawancara pada 4 Desember 2018).

Selanjutnya Wayan Sika menunjukan bahwa dirinya sangat konsisten menggunakan warna pangider bhuwana dalam karya­karya seni lukis kontemporer. Bahkan, termasuk logo di Sika Contemporary Art Gallery juga digunakan simbol warna pangider bhuwana. Pada logo Sika Contemporary Art Gallery yang terdiri atas empat segi empat, yaitu kotak warna hitam, putih, merah, dan kuning, sedangkan di tengah terdapat ruang kosong dengan warna putih.

Penggunaan nama atau istilah warna di Kabupaten Gianyar sering dikaitkan dengan istilah lokal, misalnya: putih (petak), pink (dadu), merah (bang/barak), oranye (kudrang), kuning (jenar), hijau (wilis/gadang), hitam (ireng/selem), abu/biru (kelawu), dan multi warna (brumbun). Nama warna yang lain lahir dari nama benda alam sekitar, seperti warna hijau daun plosor biu (daun pisang muda), warna ungu tua nasak manggis (buah manggis matang), warna oranye nasak gedang (buah pepaya matang), warna cokelat nasak sawo (sawo matang), dan lain­lainnya. Mengingat warna sangat kompleks, belum ada ilmuwan, seniman, teorisi yang mampu menjabarkan hingga sampai pada level memuaskan. Hal ini serupa dengan visualisasi karakter sifat, moral/etika, dan perilaku manusia terlalu kompleks, tetapi dapat digeneralisasi menjadi sesuatu yang sangat minimal atau dapat diklasifikasikan.

Dalam konteks sains dan estetika, untuk keseimbangan dan keindahan manusia mungkin dapat dibedakan menjadi sekitar sepuluh juta jenis warna, tetapi tidak memiliki kata yang cukup untuk memberikan nama setiap perbedaan warna tersebut. Hal itu terjadi karena perbedaan latar belakang kebudayaan juga dapat menafsirkan jenis­jenis warna yang sangat berbeda (Sayre, 1997). Misalnya, orang Maori di Selandia Baru menggunakan seratus kata untuk warna yang

disebut “merah.”

Fenomena visualisasi objek oleh subjek merupakan upaya kontemplasi. Di pihak lain falsafah tat twam asi, engkau adalah aku, merupakan bagian dari imajinasi visualisasi.

Hal tersebut dapat mempertajam konsentrasi dalam usaha merasakan getaran kekuatan Hyang Mahaagung. Visualisasi warna pangider bhuwana merupakan refleksi keseimbangan antara manusia dan semesta, alam makro dan mikrokosmos karena dalam tubuh manusia diyakini ada beragam warna aura yang dapat diharmonisasikan dengan berbagai warna pada semesta. Di samping itu, pula warna­warna cakra dalam tubuh juga dapat divisualisasikan dengan warna jagat raya.

Visualisasi ini dapat ditegaskan dengan pernyataan “The wave is not the water, the colour is not the force, but through the colour we can feel the force, the force is the Creator.” Maksudnya adalah ombak itu bukanlah air, warna itu bukanlah kekuatan, tetapi melalui warna dapat dirasakan kekuatan itu, kekuatan itu sesungguhnya adalah Sang Maha pencipta.

Warna jarang sebagai cerminan kenyataan objektif belaka, tetapi sesungguhnya warna merupakan sarana untuk menunjukkan kekuatan energi Yang Maha Pencipta. Objek itu hanya sebagai sarana atau bentuk untuk dipinjam dalam bermain warna karena visualisasi ini bersifat subyektif.

Seniman berhasil dalam memvisualisasikan elemen seni rupa, sehingga lukisan tampak tampil dengan komposisi warna harmonis. Dalam hal ini bermain warna dengan berbagai intensitasnya. Dengan integritas tinggi, mereka bereksplorasi untuk mengetahui berbagai warna sehingga pada suatu saat dapat memberikan klasifikasi dan simplifikasi tentang warna itu. Akhirnya lahir lukisan warna demi warna itu sendiri. Spirit warna menjadi kemurnian puncak jelajah kulminasi dalam upaya seniman untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.

Dalam dokumen dalam Seni Lukis Kontemporer (Halaman 115-118)