BAB 2| PROFIL KABUPATEN BANTUL
3) Ekosistem Pantai Berpasir a) Penyu
Ekosistem Pantai Berpasir di Kabupaten Bantul meliputi Wilayah Kecamatan Kretek, Sanden dan Srandakan dengan panjang pantai kurang lebih 17 km. tingkat keragaman flora dan fauna relatif rendah dengan flora dan fauna specifik ekosistem pantai berpasir. Di pantai Samas Kecamatan Srandakan dan pantai Goa Cemara Patihan Kecamatan Sanden terdapat tempat pendaratan dan bersarangnya penyu dari jenis penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricate), penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan penyu Belimbing (Dermochelys coriacea).
Pantai berpasir dengan kandungan mineral di kawasan Pantai Bantul mempunyai iklim mikro yang sangat mendukung untuk inkubasi telur penyu sampai menetas. Kawasan pantai Samas Bantul dan mendapatkan hasil bahwa rata-rata mineral magnetik yang
terdapat dalam pasir sebesar 76,86%. Mineral magnetik adalah logam yang mempunyai daya hantar panas yang baik dan mampu menyimpan panas radiasi matahari sebesar 30-80% sehingga baik untuk inkubasi telur.
Setiap tahun pada Bulan April-Juli di pantai Bantul akan didarati oleh penyu Abu-abu secara soliter. Penyu tersebut mendarat untuk bertelur di sepanjang pantai pesisir Bantul. Terdapat empat titik konservasi penyu di pesisir Kabupaten Bantul, yaitu; Pantai Pelangi Depok Kecamatan Kretek, Pantai Samas Kecamatan Sanden, Pantai Goa Cemara Kecamatan Sanden, dan Pantai Baru Pandansimo Kecamatan Srandakan. Penyu mempunyai kesetiaan terhadap tempat pendaratan untuk bertelur dari satu musim ke musim berikutnya.
Mereka mempunyai jalur migrasi untuk makan sepanjang 230-1130 km sebelum kembali lagi ke pantai yang sama untuk bertelur pada musim bertelur berikutnya
Tabel 2.43 Lokasi Zona pendaratan penyu di Pantai Bantul 2012-2017 No Lokasi Pantai
Konservasi
Coverage Area Jumlah Zona pendaratan
Jumlah frekuwensi pendaratan per
zona 1 Pantai Baru
Pandansimo
Pantai Baru 7 zona 18 kali 2 Pantai Goa Cemara Pantai
Cangkring 2 zona 4 kali
Pantai Goa
Cemara 3 zona 12 kali
3 Pantai Samas Pantai Dewaruci 4 zona 7 kali Pantai Samas 4 zona 36 kali 4 Pantai Pelangi Pantai Depok 4 zona 4 kali Pantai Pelangi 7 zona 17 kali Pantai Cemara
Sewu 4 zona 8 kali
Sumber : Kajian Konservasi Penyu, Bappeda 2017
Sumber : Bappeda 2017
Gambar 2.58. Zona Pendaratan Penyu di Pantai Pelangi Tahun 2017 Penyu mendarat untuk bertelur dan kemudian dilakukan pelepasan/release tukik di sepanjang pantai pesisir Bantul dengan data sebagai berikut :
Tabel 2.44. Data Release Tukik di Pantai Bantul 2011-2020 Lokasi/Pantai Jumlah
Sarang Jumlah
Telur Jumlah
Menetas Jumlah Release Tukik 2011
Pantai Gua Cemara 6 626 388 388
2012
Pantai Gua Cemara 19 1796 1025 N/A
2013
Pantai Gua Cemara 13 1049 658 479
Lokasi/Pantai Jumlah Sarang
Jumlah Telur
Jumlah Menetas
Jumlah Release Tukik 2014
Pantai Gua Cemara 28 2700 1839 N/A
2015
Pantai Gua Cemara 28 2700 1839 N/A
2016
Pantai Pelangi 14 1.24 249 N/A
2017
Pantai Pelangi 7 737 406 N/A
Pantai Gua Cemara 16 1502 873 569
2018
Pantai Samas 1 101 N/A 18
Pantai Pelangi 21 1994 1068 920
Pantai Gua Cemara 26 2441 1553 1394
2019
Pantai Samas 13 937 360 114
Pantai Pelangi 35 2933 2069 116
Pantai Gua Cemara 17 1661 905 299
Pantai Pandansimo Baru 2 192 131 131
2020
Pantai Samas 25 2649 1235 960
Pantai Pelangi 36 3338 1898 1356
Pantai Gua Cemara 77 7043 4123 3713
Sumber : BKSDA Yogyakarta, 2020
b) Gumuk Pasir
Ciri khas lain pantai berpasir di Kabupaten Bantul adalah adanya gumuk pasir di Parangtritis. Gumuk pasir merupakan gundukan pasir- pasir kering yang membentuk bukit, dengan bentuk gumuk pasir aeolian tipe barkhan yang jarang dijumpai di wilayah iklim tropika basah. Gumuk pasir di Parangtritis bahkan merupakan satu-satunya daerah tropis yang terbentuk barkhan. Gumuk pasir terbentuk dari pasir yang terbawa ke laut oleh Kali Opak dari material vulkanik hasil letusan Gunungapi Merapi. Ekosistem gumuk pasir dijadikan sebagai habitat oleh berbagai hewan dan tumbuhan. Tumbuhan dapat hidup pada wilayah gumuk pasir karena gumuk pasir menyimpan cadangan air lengas yang cukup banyak
Sebagai ekosistem, gumuk pasir Parangtritis memiliki keragaman
flora yang menarik, baik yang liar maupun budidaya. Beberapa jenis liar antara lain Koro laut (Canavalia maritime), Rumput Teki (Cyperus sp, Fimbristylis sp dan Cyperus stoloniferus), Kangkung laut (Ipomoea pescaprae), Rumput Gulung (Spinifex litoreus), Pandan (Pandaus sp), Biduri/Widuri (Calotropis gigantean). Selain tumbuhan liar terdapat tanaman budidaya berupa Glereside, Akasia dan Jambu mete yang ditanam sebagai tanaman pelindung bagi tnaman produktif. Beberapa jenis fauna yang hidup di ekosistem ini antara lain Burung Kaca Mata Jawa (Zosterops flavus) yang tergolong satwa langka dan dilindungi, selain itu juga ditemukan Burung Tekukur (Geopelia striata) dan berbagai jenis serangga.
Gambar 2.59. Foto udara gumuk pasir Parangtritis dipotret 27 Oktober 1976
Gambar 2.60. Peta Bentang Alam Gumuk Pasir Tahun 2014
Kawasan Gumuk Pasir Parangtritis Kawasan gumuk pasir Parangtritis ditetapkan sebagai kawasan lindung setempat sebab memiliki fungsi untuk melindungi kawasan pesisir dari bencana alam tsunami dan interusi air laut. Kondisi saat ini terdapat pusat penelitian kawasan pesisir berupa Laboratorium Geospasial Pesisir dan sarana rekreasi berupa Museum Gumuk Pasir. Kawasan Parangtritis dan gumuk pasir di Kabupaten Bantul Kawasan strategis provinsi.
Secara garis besar kawasan gumuk pasir dibagi menjadi tiga zona menurut peruntukannya, yaitu zona inti sebagai fungsi lindung dan konservasi, zona penunjang peruntukan lainnya diarahkan untuk budidaya terbatas dan fungsi penunjang pariwisata, khususnya wisata alam, dan zona terbatas yang bisa dimanfaatkan sebagai wisata alam.
Kegiatan pariwisata di gumuk pasir tidak boleh menganggu pelestarian dan perlindungan gumuk pasir
Berbagai macam aktivitas kebudayaan juga dapat ditemukan di kawasan gumuk pasir dan sekitarnya. Keterdapatan situs budaya yang ada di kawasan ini menjadikan salah satu magnet kegiatan budaya di kawasan ini. Terdapat 15 situs alam dan budaya yang terdapat di
sekitar kawasan gumuk pasir Kecamatan Kretek. Hal ini membuktikan bahwa gumuk pasir selain memiliki keunikan alam juga memiliki peranan yang penting dalam kegiatan budaya.
Sumber : PGSP, 2020
Gambar 2.61. Perubahan Penggunaan lahan di Area Gumuk Pasir Tahun 2019
Sumber : PGSP, 2020
Gambar 2.62. Kondisi Gumuk Pasir Tahun 2019
Berbagai macam aktivitas yang dilakukan di area gumuk pasir menyebabkan adanya perubahan penggunaan lahan. Dari peta di atas,
hanya 9 % area gumuk dalam kondisi baik, 41% kondisi sedang, 50%
kondisi buruk.
Tabel 2.45. Luas Fungsi Lahan Gumuk Pasir, 2019
Sumber : PGSP, 2020
Sumber : PGSP, 2020
Gambar 2.63 Peta Luas Fungsi Lahan Gumuk Pasir, 2019
c) Mangrove
Kawasan mangrove di Desa Tirtohargo terdiri dari beberapa jenis vegetasi, baik vegetasi mangrove sejati maupun asosiasi. Vegetasi mangrove yang terdapat pada kawasan ini antara lain: Rhizophora (Bakau), Avicennia (Api-api), Brugueira, Nypha frutican (Nipah) dan juga Acanthus (jeruju). Pola tumbuh dari vegetasi mangrove di area ini berupa spot-spot vegetasi yang menyebar pada kawasan dengan luas sekitar 5,6 ha. Vegetasi mangrove tumbuh dengan mengikuti pola aliran sungai dan juga tumbuh pada gerombolan/kelompok-kelompok yang luas dan terdiri dari ratusan pohon, serta terdiri dari sekumpulan yang terdiri dari dari beberapa individu pohon saja.
Sumber: Bappeda, 2017
Gambar 2.64. Vegetasi Mangrove Jenis Rhizophora (Kiri) dan Avicennia (Kanan) pada kawasan mangrove di Desa Tirtohargo.
Selain vegetasi mangrove, terdapat juga berbagai biota khas ekosistem mangrove yang dengan mudah ditemukan pada kawasan ini.
Biota ekosistem mangrove untuk jenis ikan yang banyak dijumpai adalah jenis ikan Glodok atau dalam Inggris disebut mudskipper. Jenis ikan ini sering terlihat melompat-lompat di lumpur dan sering menampakkan dirinya di darat ketika perairan surut. Ikan jenis ini mempunyai bentuk yang unik, kepala ikan ini mirip seperti katak, sedangkan siripnya terlihat seperti kaki atau tangan yang digunakan untuk melompat-melompat diatas lumpur. Terkadang ikan ini terlihat memanjat pada akar atau batang mangrove. Ikan ini dapat tumbuh
mencapai panjang hingga 30 cm. Selain ikan glodok, biota khas lainnya yang mudah ditemukan pada kawasan ini adalah Uca sp, yaitu salah satu jenis kepiting yang mempunyai anatomi tubuh khas, dimana mempunyai satu capit yang berukuran lebih besar dari pada capit yang satunya.
Sumber: Bappeda, 2017
Gambar 2.65. Ikan Glodok (Kiri) dan Uca sp (Kanan) di kawasan ekosistem mangrove Desa Tirtohargo.
Potensi wisata yang dapat dimanfaatkan pada areal ini adalah adanya vegetasi dan biota ekosistem mangrove yang digunakan oleh wisatawan untuk dapat mempelajari tentang anatomi pohon-pohon mangrove dan juga syarat tumbuhnya. Beberapa biota atau hewan- hewan kecil dapat juga menjadi media interpretasi yang menarik seperti beberapa jenis molusca, serangga, dan berbagai jenis burung.