• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kawasan Rawan Bencana a. Kawasan Rawan Bencana

Dalam dokumen DOKUMEN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (Halaman 45-55)

BAB 2| PROFIL KABUPATEN BANTUL

2.1. Aspek Geografis dan Demografis 1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah

2.1.2. Kawasan Rawan Bencana a. Kawasan Rawan Bencana

Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 4 Tahun 2011 tentang RTRW disebutkan kawasan rawan bencana alam adalah kawasan yang berpotensi tinggi mengalami bencana alam, meliputi kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan longsor, Kawasan rawan banjir, kawasan rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan kekeringan.

Sumber: RTRW Kabupaten Bantul Tahun 2010-2030 Gambar 2.8 Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi

Kabupaten Bantul

Sumber: RTRW Kabupaten Bantul Tahun 2010-2030

Gambar 2.9 Peta Kawasan Rawan Bencana Longsor Kabupaten Bantul

Sumber: RTRW Kabupaten Bantul Tahun 2010-2030

Gambar 2.10 Peta Kawasan Rawan Bencana Banjir Kabupaten Bantul

Sumber: RTRW Kabupaten Bantul Tahun 2010-2030

Gambar 2.11 Peta Kawasan Rawan Bencana Gelombang Pasang Kabupaten Bantul

Sumber: Bappeda Kabupaten Bantul, 2020

Gambar 2.12 Peta Kawasan Rawan Bencana Kekeringan

Kondisi kerawanan bencana di Kabupaten Bantul tersebut di atas dapat dijelaskan dalam tabel berikut :

Tabel 2.8. Kawasan Rawan Bencana Kabupaten Bantul

No Jenis Bencana Lokasi yang berpotensi 1 Kawasan rawan gempa

bumi Di seluruh kecamatan

2 Kawasan rawan longsor Piyungan, Pleret, Dlingo, Imogiri, Pundong, Sedayu, dan Pajangan

3 Kawasan rawan banjir Srandakan, Pandak, Kretek, Bambanglipuro, Sanden, Pundong, Bantul, Jetis,

Imogiri,Banguntapan, Pleret, Piyungan, Sewon, dan Kasihan

4 Kawasan rawan

gelombang ekstrim dan abrasi

Kretek, Srandakan, dan Sanden

5 Kawasan rawan

kekeringan Dlingo, sebagian Piyungan, sebagian Pajangan, sebagian Pleret, sebagian Imogri, sebagian Pundong, sebagian Sedayu, sebagian Kasihan, dan sebagian Kretek

Sumber : Perda Nomor 4 Tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Bantul Tahun 2010-2030

Selain 5 (lima) jenis bencana yang tertuang dalam RTRW, di Kabupaten Bantul terdapat 4 (empat) potensi bencana lain, yaitu cuaca ekstrim, tsunami, kebakaran dan epidemi/wabah penyakit, dengan peta bahaya berikut:

Sumber : BPBD Kabupaten Bantul Tahun 2019

Gambar 2.13 Peta Bahaya Cuaca Ekstrim Kabupaten Bantul

Sumber : BPBD Kabupaten Bantul Tahun 2019

Gambar 2.14 Peta Bahaya Tsunami Kabupaten Bantul

Sumber : BPBD Kabupaten Bantul Tahun 2019

Gambar 2.15. Peta Bahaya Kebakaran Kabupaten Bantul

Sumber : BPBD Kabupaten Bantul Tahun 2019

Gambar 2.16. Peta Bahaya Epidemi Wabah Penyakit Kabupaten Bantul 2.1.3. Demografi

Jumlah penduduk Kabupaten Bantul tahun 2015-2019 menurut data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bantul cenderung meningkat. Secara rinci jumlah penduduk Kabupaten Bantul sebagai berikut:

Tabel 2.9. Jumlah Penduduk Kabupaten Bantul Menurut Kecamatan

No. Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa)

2015 2016 2017 2018 2019*

1 Srandakan 31.301 31.244 31.276 31.164 31.218

2 Sanden 32.702 32.494 31.924 31.967 31.972

3 Kretek 31.101 31.082 30.837 30.855 30.863

4 Pundong 35.202 35.484 35.448 35.668 35.908

5 Bambanglipuro 41.165 41.385 41.201 41.621 41.880

6 Pandak 51.307 51.770 51.492 51.781 52.013

7 Bantul 63.161 63.124 62.788 63.669 64.365

8 Jetis 57.573 57.474 57.408 58.206 58.549

9 Imogiri 62.299 62.419 62.531 63.179 63.542

10 Dlingo 39.129 38.666 38.502 39.092 39.537

No. Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa)

2015 2016 2017 2018 2019*

11 Pleret 46.609 46.663 46.825 47.499 48.170

12 Piyungan 50.517 50.846 51.051 51.692 52.333 13 Banguntapan 107.318 107.548 107.596 110.126 111.955

14 Sewon 96.937 97.420 97.034 98.506 99.807

15 Kasihan 95.719 100.330 100.222 102.175 103.527 16 Pajangan 34.264 34.674 34.894 35.465 36.040

17 Sedayu 43.136 46.053 46.152 47.053 47.646

Jumlah 919.440 928.676 927.181 939.718 949.325 2020.

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bantul,

Jumlah penduduk terbanyak ada di Kecamatan Banguntapan, Kasihan dan Sewon. Hal ini terjadi karena ketiga kecamatan tersebut berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman yang merupakan daerah percepatan pengembangan wilayah dan pusat-pusat perekonomian sehingga secara umum menjadi daya tarik bagi penduduk untuk tinggal dilokasi tersebut. Ditilik dari kepadatan penduduk kecamatan, penyebaran penduduk belum merata.

Kecamatan dengan luas wilayah yang lebih kecil mempunyai jumlah penduduk lebih banyak dibandingkan dengan kecamatan yang memiliki luas wilayah lebih besar, sebagaimana disajikan pada Tabel 2.10.

Tabel 2.10. Kepadatan Penduduk Geografis di Kabupaten Bantul

No. Kecamatan Kepadatan (jiwa/km2)

2015 2016 2017 2018 2019

1 Srandakan 1.708,57 1.705,46 1.707,21 1.701,09 1.704,04 2 Sanden 1.412,00 1.403,02 1.378,41 1.380,27 1.380,48 3 Kretek 1.161.79 1.161.08 1.151.92 1.152,60 1.152,90 4 Pundong 1.486.57 1.498.48 1.496.96 1.506,25 1.516,39 5 Bambanglipuro 1.813.44 1.823.13 1.815.02 1.833,52 1.844,93 6 Pandak 2.111.40 2.130.45 2.119.01 2.130,91 2.140,45 7 Bantul 2.877.49 2.875.81 2.860.50 2.900,64 2.932,35 8 Jetis 2.352.80 2.348.75 2.346.06 2.378,67 2.392,68 9 Imogiri 1.143.31 1.145.51 1.147.57 1.159,46 1.166,12

10 Dlingo 700.36 692.07 689.14 699,70 707,66

11 Pleret 2.029.12 2.031.48 2.038.53 2.067,87 2.097,08 12 Piyungan 1.552.46 1.562.57 1.568.87 1.588,57 1.608,27 13 Banguntapan 3.768.19 3.776.26 3.777.95 3.866,78 3.931,00 14 Sewon 3.569.11 3.586.89 3.572.68 3.626,88 3.674,78 15 Kasihan 2.956.11 3.098.52 3.095.18 3.155,50 3.197,25 16 Pajangan 1.030.50 1.042.83 1.049.44 1.066,62 1.083,91

No. Kecamatan Kepadatan (jiwa/km2)

2015 2016 2017 2018 2019

17 Sedayu 1.255.41 1.340.31 1.343.19 1.369,41 1.386,67 Rata-rata 1.814.03 1.832.25 1.829.30 1.854,04 1872,99 Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bantul, diolah, 2020

Kepadatan penduduk tertinggi ada di 3 (tiga) wilayah kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman yaitu Kecamatan Banguntapan (3.931,00 jiwa/km2), Sewon (3.674,78 jiwa/km2), dan Kasihan (3.197,25 jiwa/km2).

Sementara itu kepadatan penduduk geografis terendah ada di Kecamatan Dlingo (707,66 jiwa/km2).

Dari data di atas dapat dilihat bahwa hampir di semua kecamatan mengalami peningkatan kepadatan penduduk. Hal ini perlu diwaspadai karena dengan semakin pesatnya pertambahan penduduk akan menyebabkan masalah daya dukung lingkungan menjadi semakin terbatas, disamping juga akan berdampak pada peningkatan alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman.

Tabel 2.11. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Usia Tahun 2015-2019

No Kelompok Usia

Jumlah Penduduk (Jiwa) Pertumbuhan 2019 (%)

Proporsi 2019 (%)

2015 2016 2017 2018 2019

1 0 – 4 60.565 60.708 58.920 59.034 58.270 -1,29 6,14

20,95

2 5 – 9 69.841 70.339 70.557 70.171 69.500 -0,96 7,32

3 10 – 14 67.506 66.261 66.964 69.332 71.130 2,59 7,49 4 15 – 19 65.108 66.141 65.710 66.612 65.820 -1,19 6,93

69,06 5 20 – 24 63.581 63.811 64.096 64.063 64.420 0,56 6,79

6 25 – 29 63.013 63.577 64.489 65.950 66.659 1,08 7,02 7 30 – 34 73.975 71.990 68.746 67.229 65.916 -1,95 6,94 8 35 – 39 72.719 73.112 74.094 75.432 75.583 0,20 7,96 9 40 – 44 69.214 70.090 67.799 70.200 72.659 3,50 7,65 10 45 – 49 69.856 69.466 69.025 68.737 67.358 -2,01 7,10 11 50 – 54 62.829 64.417 63.492 65.721 68.482 4,20 7,21 12 55 – 59 55.947 56.973 57.649 59.134 59.016 -0,20 6,22 13 60 – 64 38.082 41.241 42.972 46.266 49.665 7,35 5,23

14 65 – 69 25.689 27.340 28.941 30.145 32.746 8,63 3,45 9,99

No Kelompok Usia

Jumlah Penduduk (Jiwa) Pertumbuhan 2019 (%)

Proporsi 2019 (%)

2015 2016 2017 2018 2019

15 70 – 74 23.005 23.402 21.439 21.193 21.437 1,15 2,26 16 > 75 38.510 39.808 42.288 40.499 40.664 0,41 4,28

JUMLAH 919.440 928.676 927.181 939.718 949.325 1,02 100 100 Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Bantul,diolah, 2020.

Komposisi penduduk menurut kelompok usia di Kabupaten Bantul pada tahun 2019 didominasi kelompok umur produktif (15-64 tahun) sebesar 69,06%, sementara itu penduduk kelompok usia muda (0-14 tahun) sebesar 20,95%, dan kelompok usia lanjut (di atas 64 tahun) sebesar 9,99%. Penduduk usia muda dan penduduk usia lanjut disebut juga penduduk non produktif. Berdasarkan komposisi tersebut, rasio beban ketergantungan penduduk usia non produktif terhadap penduduk usia produktif sebesar 44,80%, yang menunjukkan bahwa 100 orang penduduk usia produktif menanggung sekitar 45 orang penduduk yang belum/tidak produktif.

Gambar 2.17. Komposisi Penduduk Menurut Usia Kabpupaten Bantul 2015-2019

Proporsi Pddk Usia 15-64 Tahun Rasio Ketergantungan Proporsi Pddk Usia 0-14 Tahun

Proporsi Pddk Usia > 65 Tahun

2019 2018

2017 2016

2015

80,00

70,00

60,00

50,00

40,00

30,00

20,00

10,00

0,00 21,53 68,99 9,48 21,25 69,00 9,75 21,19 68,82 9,99 21,13 69,10 9,77 20,95 69,06 9,99

>75 17.188 23.476

70-74 9.373 12.064

65-69 16.505 16.241

60-64 24.416 25.249

55-59 28.426 30.590

50-54 ) 33.528 34.954 )

,5% ,6%

45-49 4 3 ( 33.530 33.828 4 3 (

40-44 1 3 36.764 35.895 7 4

35-39 .3 7 2 38.127 37.456 .2 8 2

30-34 3 32.803 33.113 3

25-29 33.448 33.211

20-24 32.418 32.002

15-19 33.871 31.949

10-14 36.789 34.341

5-9 35.697 33.803

0-4 30.033 28.237

50.000 40.000 30.000 20.000 10.000 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 LAKI-LAKI PEREMPUAN

Sumber: Disduk Capil Kabupaten Bantul, 2020, diolah.

Gambar 2.18. Piramida Penduduk Kabupaten Bantul 2019

Komposisi penduduk produktif cukup tinggi, hampir mencapai 70% dan hal ini sesuai dengan prediksi bahwa tahun 2020- 2030 Indonesia mengalami bonus demografi, yaitu suatu kondisi dimana jumlah penduduk usia produktif jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk non produktif. Dengan komposisi jumlah penduduk yang semacam itu maka Kabupaten Bantul akan menikmati decade Window of Opportunity atau jendela kesempatan. Pemanfaatan peluang ini dapat terjadi dengan prasyarat antara lain jika iklim investasi kondusif untuk membuka kesempatan kerja produktif serta terdapat sumber daya pemerintah untuk investasi pendidikan dan peningkatan kualitas SDM. Oleh sebab itu maka Pemerintah daerah harus mampu memanfaatkan peluang ini dengan kebijakan yang tepat. Terbukanya kesempatan kerja yang produktif dan terserapnya tenaga kerja produktif yang berkualitas didalamnya akan berdampak pada berkurangnya pengangguran dan peningkatan pendapatan.

70-74 9.373 12.064

65-69 16.505 16.241

60-64 25.249

55-59 30.590

50-54 34.954

45-49 33.828

40-44 36.764 35.895

35-39 37.456

30-34 33.113

25-29 33.448 33.211

20-24 32.002

15-19 31.949

10-14 36.789 34.341

5-9 35.697 33.803

0-4 30.033 28.237

50.000 40.000 30.000 20.000 10.000 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 LAKI-LAKI PEREMPUAN

23.476 17.188

>75

33.871 32.418 32.803 38.127

33.530 33.528

28.426 24.416

327.331 (34,5%) 328.247 (34,6%)

Tabel 2.12. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Bantul Tahun 2015-2019

No. Jenis Kelamin Jumlah Penduduk (jiwa)

2015 2016 2017 2018 2019

1 Llaki-laki 460.075 464.860 462.449 468.135 470.938 2 Perempuan 459.365 463.816 464.732 471.583 474.503 Jumlah 919.440 928.676 927.181 939.718 945.441 Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bantul, semester I,

diolah, 2020.

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bantul, 2020 Gambar 2.19. Jumlah Penduduk Kabupaten Bantul

Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Bantul Tahun 2015-2019 Komposisi penduduk menurut jenis kelamin diperlukan guna menentukan kebijakan yang berprespektif gender. Data pada tabel 2.13 menunjukkan jumlah penduduk perempuan semakin meningkat dan lebih banyak dari penduduk laki-laki, oleh sebab itu dalam menentukan suatu kebijakan perlu mempertimbangkan kesetaraan gender.

Dalam dokumen DOKUMEN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (Halaman 45-55)