BAB 2| PROFIL KABUPATEN BANTUL
3) Kasus Kesehatan Jiwa
2.4.3 Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
2.4.3.3 Penanganan Air Limbah
Air limbah atau air buangan adalah sisa air atau cairan dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman (rumah tangga), perdagangan, perkantoran, dan industri maupun tempat-tempat umum lainnya yang umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta menggangu lingkungan hidup. Limbah cair hasil buangan dari pemukiman (rumah tangga), bangunan perdagangan, perkantoran dan sarana sejenis disebut air limbah domestik (rumah tangga), sedangkan air sisa produksi dari suatu proses kimia di industry disebut air limbah industri
Air limbah domestik diklasifikasikan menjadi dua yaitu grey water dan black water. Air limbah yang termasuk dalam kategori grey water adalah air limbah rumah tangga berupa limbah cucian dapur, cucian pakaian (sabun), dan air buangan dari kamar mandi.
Sedangkan yang termasuk dalam black water adalah, tinja manusia, urine, air penggelontor, kertas pembersih, dan air pembersih. Secara umum dari hasil survey air limbah relative terkelola dengan baik.
Limbah rumah tangga selain tinja masuk dalam saluran air limbah ataupun sumur peresapan, sedangkan limbah tinja terkelola dengan tangki septik ataupun IPAL Komunal.
Pengelolaan air limbah ini sangat mempengaruhi derajat kesehatan di masyarakat. Jika limbah tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan pencemaran pada lingkungan terutama pada air tanah. Pengelolaan air limbah yang baik dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain: kesadaran masyarakat akan kesehatan,
sarana dan prasarana infrastruktur yang mendukung, dan kelembagaan yang ada.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengelolaan air limbah harus layak dan aman. Pada tahun 2019, pencapaian penanganan air limbah layak telah mencapai 84,83% yang terdiri dari 21,13% aman, layak 63,00% dan layak khusus pedesaan 0.70%
sedangkan belum layak 15,50%. Selain itu, pencapaian layanan air limbah juga harus didukung dengan sarana prasarana yang memadai.
Tabel 2.68. Kondisi Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Domestik
No Jenis Satuan Jumlah/
Kapasitas
Kondisi Berfungsi Tdk
berfungsi SPALD-Setempat
1 Berbasis komunal
- MCK Komunal unit - -
2. Truk Tinja unit 2 √
3 IPLT : kapasitas m3/hari 50 √
SPALD-Terpusat 1 Berbasis komunal
- Tangki septik
komunal >10KK unit - - -
- IPAL Komunal unit 170/
12.521 kk √ -
2 IPAL
Kawasan/Terpusat
- Kapasitas m3/hari 3.000 kk - -
- Sistem - - -
Sumber : DPUPKP Kabupaten Bantul, 2019
Dari data kondisi Pengelolaan Air Limbah Domestik menunjukkan bahwa prasarana dan sarana yang terbangun sampai 2019 ini masih berfungsi dengan baik. Penanganan pengelolaan air diupayakan dengan sistem pengelolaan air limbah domestik setempat dan terpusat. Sistem pengolahan air limbah domestik setempat meliputi pembuangan air limbah domestik ke dalam tangki septik individual, tangki septik komunal atau Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) terpusat. Sistem pengolahan air limbah domestik terpusat adalah pembuangan air limbah domestik ke dalam jaringan air limbah
terpusat yang disediakan oleh Pemerintah di IPAL Sewon.
Berdasarkan Studi EHRA (2019), ditinjau dari sanitasi air limbah domestik Kabupaten Bantul terbagi menjadi 2 zona tingkat risiko sanitasi yang menunjukkan skala 4 dan 3,yaitu :
1. Risiko Sangat Tinggi ( skala 4 ) , yang meliputi Desa Srihardono, Desa Mangunan, Desa Temuwuh, Desa Jatimulyo, Desa Srimartani, Desa Bangunharjo, Desa Sendangsari
2. Risiko Tinggi ( skala 3 ), yang meliputi Desa Poncosari, Desa Gadingsari, Desa Gadingharjo, Desa Srigading, Desa Murtigading, Desa Tirtohargo, Desa Parangtritis, Desa, Tirtosari, Desa Tirtomulyo, Desa Seloharjo, Desa Panjangrejo, Desa Sidomulyo, Desa Sumbermulyo, Desa Caturharjo, Desa Triharjo, Desa Gilangharjo, Desa Wijirejo, Desa Palbapang, Desa Bantul, Desa Sabdodadi, Desa Patalan, Desa Selopamioro, Desa Sriharjo, Desa Kebonagung, Desa Giri Rejo, Desa Karang Talun, Desa Imogiri, Desa Dlingo, Desa Wonolelo, Desa Tamanan, Desa Jagalan, Desa Panggungharjo, Desa Bangunjiwo, Desa Tirtonirmolo, Desa Guwosari, Desa Argodadi, Desa Argorejo, Desa Argosari, Desa Argomulyo.
Sumber: Bappeda, Studi EHRA, 2019
Gambar 2.77. Peta Indeks Resiko Air Limbah Domestik Semetara itu, untuk penanganan air limbah industri sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidupp para pelaku usaha diwajibkan untuk menyusun dokumen lingkungan. Dokumen lingkungan dapat berupa AMDAL, UKL-UPL, DELH atau DPLH yang merupakan persyaratan permohonan Izin Lingkungan.
Izin Lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang wajib AMDAL atau UKL-UPL dalam rangka perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai prasyarat untuk memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan. Pemberian Izin Lingkungan Hidup mengacu pada Peraturan Bupati Nomor 57 Tahun 2017 tentang Dokumen Lingkungan Hidup dan Izin Lingkungan.
Tabel 2.69. Jumlah Dokumen Lingkungan Hidup dan Izin Lingkungan
NO TAHUN DOKUMEN LINGKUNGAN HIDUP Izin
Lingkungan
KETERANGAN
DPLH UKL-UPL JUMLAH
1 2017 342 29 371 371
Industri, klinik, SPBU, perumahan, bengkel, perdagangan, sekolah, hotel, galeri, kantor
2 2018 95 33 128 128
Perumahan, kantor, sekolah, rumah makan, SPBE, SPBU, pasar, klinik
3 2019
1 66 67 67
OSS= Hotel, perdagangan, perumahan, rumah sakit/klinik, SPBE, gereja
54 17 71 71 DLH = Kantor, Sekolah,
Pasar, Tambang Pasir Sumber : DLH Kabupaten Bantul Tahun 2019
Berdasarkan data tabel di atas, ijin lingkungan yang diterbitkan tahun 2019 sejumlah 138 ijin lebih tinggi dari 2018 yaitu 128 ijin.
Terdapat 15 Usaha/kegiatan yang membuang limbah ke sungai di Kabupaten Bantul, yaitu PG Madukismo, PT ASA, PT Samitex, PT Dagsap Endura Eatore, PT Cahaya Mulia Persada, Ros In Hotel, Dafam
Rohan Hotel, Balai Pialam, RS Paru Respira, RSUD Panembahan Senopati, RS Santa Elisabeth, RS Khusus Bedah, RSU PKU Muh Bantul, RS KIA Ummi Khasanah, RSPAU Harjolukito, RS UII Pandak, PT Pertamina.
Pelaku usaha dan/atau kegiatan memilik unit pengolahan limbah dan melakukan pengolahan limbahnya di lingkungan pabriknya masing-masing. Pelaku usaha dan/atau kegiatan diwajibkan melaporkan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungannya secara berkala (semesteran/1 tahun 2 kali). Dengan mekanisme ini maka pengelolaan limbah industri di Bantul mengalami peningkatan, yang didukung dengan pengawasan, baik secara langsung (terjun lapangan) dan tidak langsung (dengan mencermati laporan semesteran) serta pengawasan terpadu bersama DLHK DIY.