• Tidak ada hasil yang ditemukan

Elastisitas Penawaran

Dalam dokumen pengantar ilmu ekonomi mikro (Halaman 129-136)

BAB 3 PENAWARAN

D. Elastisitas Penawaran

119

menambah beban biaya total. Seharusnya pengusaha menaikkan harga, tetapi karena situasi pasar, maka biaya tidak bisa dinaikkan sehingga yang dilakukan pengusaha dengan terpaksa harus menurunkan produksi, yang berdampak berkurangnya penawaran produk di pasar. Kondisi demikian ini mengurangi penawaran produk dipasar, ini ditunjukkan oleh bergesernya kurva penawaran ke kiri (dari titik A ke titik C), dan jumlah barang yang ditawarkan berkurang dari Qo menjadi sebanyak Q2.

120

faktor produksinya mahal, ongkos tenaga kerja naik, dan pada akhirnya biaya total masih lebih tinggi dari pada harga jualnya, pengusaha tidak tergiur menambah produksinya dan tidak berani menambah penawaran produknya. Sedangkan saat harga murah, tetapi ongkos produksi total masih lebih rendah dibanding dengan harganya, maka pengusaha mau berusaha menawarkan produknya, bahkan berani menambah penawarannya. Reaksi dari pada pengusaha menawarkan produknya pada berbagai perubahan harga ini bisa diukur dengan ukuran kepekaan atau sensitivitas, yang disebut

“Elastisitas. Jadi Elastisitas penawaran adalah ukuran yang menilai perubahan jumlah barang yang ditawarkan sebagai akibat dari adanya perubahan harga. Hal ini bisa dihitung dengan matematik sebagai berikut:

Es = ΔQ : ΔP = ΔQ X P Q P Q ΔP

ΔQ X Q ΔP P

Untuk menerapkan penggunaan rumus Elastisitas penawaran tersebut, selanjutnya digunakan contoh dengan memanfaatkan kasus di bawah ini yang bisa dipakai sebagai latihan menghitung elastisitas.

121

Gambar 15 Kurva Penawaran

Pada gambar 15, memperlihatkan bahwa saat harga 100, jumlah barang yang ditawarkan sebanyak 400.

Kemudian harga mengalami kenaikan, pengusaha menambah penawaran barangnya menjadi 700.

Es = ΔQ x P = 700 – 400 X 100 ΔP Q 120 -100 400 300 X 100 = 15 X 0,25 = 3,75 20 400

Hasil perhitungan elastisitas penawaran besarnya 3,75, yang artinya, setiap ada kenaikan harga satu satuan, maka bisa merangsang pengusaha untuk menaikkan penawaran 3,75 kali satuan produk.

Secara teori dan perhitungan hasilnya memang demikian, walaupun andai kata yang digunakan untuk perhitungan elastisitas penawaran merupakan data yang nyata, tetapi apakah reaksi penawarannya pasti seperti tersebut. Tentu saja

122

jawabannya belum tentu. Mengapa demikian, marilah kita perhatikan penjelasan berikut ini.

Elastisitas memang menggambarkan suatu reaksi yang terjadi karena faktor pemicunya mengalami perubahan. Tetapi perubahan itu belum tentu direspons, karena beberapa faktor antara lain, Perubahan harga faktor produksi, Memerlukan penyesuaian teknologi dan Peluang munculnya pesaing.

1. Perubahan harga faktor produksi

Harga memang naik, yang biasanya menggiurkan pengusaha. Tetapi yang dicari pengusaha bukan mengharapkan adanya kenaikan harga, melainkan keuntungan. Jika harga-harga mengalami kenaikan, tetapi hal itu diikuti oleh naiknya harga-harga faktor produksi, apalagi diikuti pula dengan tambahan biaya operasional di mana seluruh biayanya jika ditotal akan menyamai harga yang mengalami kenaikan, tentu kenaikan harga ini tidak merangsang pengusaha menaikkan penawaran produknya. Sebab jika penawarannya ditambah, maka ia harus meningkatkan kinerjanya yang harus diikuti dengan peningkatan biaya, sementara keuntungan yang diperolehnya kecil atau bahkan menurun. Keadaan demikian, bisanya

123

pengusaha lebih memilih mencari peluang untuk menghasilkan produk lain yang menjanjikan memberi margin atau nilai tambah yang lebih tinggi. Seperti harga rokok di Indonesia yang terus mengalami kenaikan.

Kenaikan harga rokok lebih banyak dipicu oleh beban naiknya cukai rokok. Sehingga naiknya harga rokok tidak diikuti oleh naiknya penawaran, justru tampak ada tanda-tanda pengusaha rokok mencari alternatif peluang usaha yang lain, sebab naiknya harga rokok tidak menambah nilai tambah pendapatan pengusaha rokok.

2. Memerlukan penyesuaian teknologi

Bagi pengusaha yang produksinya belum mencapai full capacity, tidak banyak mengalami kesulitan dalam meningkatkan produksinya dalam rangka membantu memperbanyak supply atau penawaran produknya. Walaupun demikian tetap ada beberapa bagian yang perlu dilakukan penyesuaian, seperti mengajari tenaga yang harus dipindahkan untuk mendukung peningkatan produksi, menambah jam kerja, menambah pasokan bahan, menambah kapasitas gudang dan meningkatkan pasokan distribusi. Ke semuanya itu pasti diikuti oleh

124

tambahan biaya. Kalau biayanya lebih kecil dari kenaikan harganya, maka perlu usaha- usaha meningkatkan produksinya, sehingga banyak perusahaan yang lebih memilih meningkatkan produksinya guna menunjang penambahan penawaran produknya.

Tetapi tidak jarang, banyak perusahaan sudah berada pada kondisi mendekati full capacity, karena mengejar keekonomiannya. Adanya kenaikan harga, bagi kondisi perusahaan ini memerlukan penyesuaian yang lebih rumit jika harus meningkatkan produksinya guna menambah penawaran produk. Perusahaan harus menambah mesin tertentu, menambah tenaga kerja, menambah gudang penyimpanan, menambah armada distribusi dan disertai dengan perlunya pelatihan bagi tenaga kerja baru atau yang menangani masalah baru.

Sehingga dalam jangka pendek perusahaan harus mempertimbangkan secara serius tentang terjadinya kenaikan harga. Sebab adakalanya kenaikan harga itu sifatnya insidental dan ada yang prospek harganya terus membaik. Terhadap estimasi kemungkinan harga yang naiknya insidental karena adanya pengaruh eksternal yang mendadak, maka perusahaan perlu berpikir

125

ulang untuk menambah kapasitas produksinya. Tetapi jika faktor produknya atau faktor eksternal yang mempengaruhi kenaikan harga produknya, jangka panjang dan diestimasi akan berlangsung terus, maka perusahaan memiliki prospek yang baik untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

3. Peluang munculnya pesaing

Sudah menjadi kelaziman setiap usaha yang memiliki prospek yang baik, terutama keuntungannya menjanjikan, maka akan muncul usaha-usaha baru. Bagi pengusaha yang memiliki karakter optimis, mereka tidak memedulikan perkiraan munculnya pengusaha baru. Justru peluang keuntungan yang tinggi karena harganya yang baik ini dimanfaatkan meningkatkan produksinya, memperbaiki mutu produknya dan melakukan berbagai inovasi yang diharapkan mampu memikat konsumen. Kebijakan itu semua dimaksudkan untuk menutup ruang gerak bagi pendatang baru, supaya tidak mampu mengungguli produk yang dihasilkannya. Sehingga pasar yang telah dibentuknya sulit dimasuki oleh produk lain, termasuk produk yang baru, karena telah ditutup celahnya dengan terus

126

memberi pasokan dan terus menciptakan keunggulan yang disenangi konsumen.

Tetapi bagi pengusaha yang statis apalagi yang pesimis, maka adanya kenaikan harga tidak direspons positif dan bahkan muncul rasa khawatir yang tinggi tentang kemungkinan munculnya berbagai gangguan dimasa yang akan datang. Sehingga type pengusaha ini lebih banyak bersikap hati-hati, menunggu kepastian kemungkinan adanya prospek yang betul-betul meyakinkan untuk meningkatkan produksinya. Tetapi waktu menunggu inilah biasanya didahului oleh munculnya perusahaan yang memproduksi barang yang sama dan kemudian menjadi pesaing yang mengisi celah pasar atas produk yang harganya prospektif mengalami kenaikan. Pada akhirnya perusahaan dimaksud kehilangan peluang menambah produknya demi menunjang tambahan penawarannya.

Dalam dokumen pengantar ilmu ekonomi mikro (Halaman 129-136)