• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENGAMATAN KASUS

F. Evaluasi Keperawatan

III

O :

- Observasi TTV TD : 100/70 mmHg HR : 67 x/menit RR : 16 x/menit S : 36,5oC SpO2 : 99%

- Tampak meringis menurun - Tampak gelisah menurun - Frekuensi nadi membaik - Pola napas membaik

- Tekanan darah cukup membaik A : Masalah nyeri akut belum teratasi P : Lanjutkan Intervensi :

- Manajemen Nyeri

- Teknik Imajinasi Terbimbing

S :

- Pasien mengatakan lendir berkurang O :

- Tampak batuk efektif meningkat - Tampak produksi sputum menurun - Tampak tidak dispnea

- Tampak tidak gelisah - Suara napas ronchi (+)

- Hasil Pemeriksaan Foto Thorax :

Kesan : Suspek TB paru dextra, mohon konfirmasi laboratorium

A : Masalah bersihan jalan napas belum teratasi P : Lanjutkan Intervensi :

- Manajemen Jalan Napas

Octha & Odelia

10/05/2023 I

II

S :

- Pasien mengatakan masih nyeri dada skala 4 - Pasien mengatakan sudah tidak merasa lelah - Pasien mengatakan tidak sesak

O :

- Observasi TTV TD : 100/80 mmHg HR : 89 x/menit RR : 21 x/menit S : 36oC

SpO2 : 99%

- Tekanan darah cukup membaik - Bradikardia menurun

- Dispnea (-)

- Gambaran EKG aritmia (-)

A : Masalah penurunan curah jantung belum teratasi P : Lanjutkan Intervensi :

- Perawatan Jantung - Perawatan Jantung Akut

S :

- Pasien mengatakan nyeri berkurang dengan terapi imajinasi terbimbing, nyeri dada skala 4

O :

- Observasi TTV TD : 100/80 mmHg HR : 89 x/menit RR : 21 x/menit S : 36oC

Octha

Octha

III

SpO2 : 99%

A : Masalah nyeri akut teratasi sebagian P : Lanjutkan Intervensi :

- Manajemen Nyeri

- Teknik Imajinasi Terbimbing

S :

- Pasien mengatakan lendir berkurang O :

- Observasi TTV TD : 100/80 mmHg HR : 89 x/menit RR : 21 x/menit S : 36°C

SpO2 : 99%

- Suara napas ronchi menurun - Tampak batuk berkurang

- Tampak produksi sputum menurun - Tampak dispnea (-)

- Tampak gelisah (-)

A : Masalah bersihan jalan napas belum teratasi P : Lanjutkan Intervensi :

- Manajemen Jalan Napas

Octha

11/05/2023 I S :

- Pasien mengatakan nyeri dada skala 3 O :

- Observasi TTV TD : 110/80 mmHg HR : 75 x/menit RR : 20 x/menit

Octha & Odelia

II

S : 36oC SpO2 : 99%

- Tekanan darah cukup membaik - Bradikardia (-)

- Dispnea (-)

- Gambaran EKG aritmia (-)

- Hasil Echocardiography : Severely reduced left ventricular systolic function, hypokinetic segment. Left ventricular hypertrophy is present, LVEF = 32%. Grade 1 dystolic dysfunction. Trivial mitral valve regurgitation A : Masalah penurunan curah jantung teratasi sebagian

P : Lanjutkan Intervensi : - Perawatan Jantung - Perawatan Jantung Akut

S :

- Pasien mengatakan nyeri dada berkurang dengan teknik imajinasi terbimbing, skala nyeri 3

O :

- Observasi TTV TD : 110/80 mmHg HR : 75 x/menit RR : 20 x/menit S : 36oC

SpO2 : 99%

- Tekanan darah cukup membaik - Bradikardia (-)

- Tampak ekspresi wajah meringis (-)

Octha & Odelia

III

- Tampak gelisah (-) A : Masalah nyeri akut teratasi

P : Intervensi manajemen nyeri dan teknik imajinasi terbimbing dihentikan.

S :

- Pasien mengatakan lendir berkurang O :

- RR : 20 x/menit, SpO2 : 99%

- Tampak dispnea (-) - Tampak gelisah (-) - Suara napas ronchi (-)

- Tampak produksi sputum berkurang A : Masalah bersihan jalan napas teratasi

P : Intervensi manajemen jalan napas dihentikan

Octha & Odelia

DAFTAR OBAT 1) Odancentron

a) Nama obat : Odancentron

b) Klasifikasi/ golongan obat : Obat golongan antiemetik c) Dosis umum : Dosis umum obat ini adalah 4 mg (1 ampul) d) Dosis untuk pasien yang bersangkutan : Dosis obat yang

diberikan kepada pasien adalah 2ml

e) Cara pemberian obat : Obat ini diberikan secara intravena f) Mekanisme kerja dan fungsi obat : Ondancentron adalah obat

yang digunakan untuk mencegah serta mengobati mual muntah dan obat ini bekerja dengan cara memblokir efek serotonin (5HT3). Dengan begitu mual dan muntah dapat teratasi atau bahkan dicegah.

g) Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan : Untuk mengatasi mual muntah yang dialami oleh pasien.

h) Kontra indikasi : Hipersensitivitas terhadap obat ini dan kombinasi dengan apomorphin karena dapat menimbulkan hipotensi dan penurunan kesadaran.

i) Efek samping obat : Sakit kepala atau pusing, rasa seperti melayang, konstipasi, kelelahan dan tubuh terasa lemah, rasa menggigil dan kantuk.

2) Omeprazole

a) Nama obat : Omeprazole

b) Klasifikasi/ golongan obat : Proton pump inhibitor

c) Dosis umum : 40 mg/ hari diberikan melalui infus selama 20- 30 menit sampai pemberian oral dimungkinkan.

d) Dosis untuk pasien yang bersangkutan : 40 mg

e) Cara pemberian obat : obat diberikan secara Intravena

f) Mekanisme kerja dan fungsi obat : Obat ini bekerja mengatasi masalah perut dan kerongkongan yang diakibatkan oleh

asam lambung, membantu menyembuhkan kerusakan asam di lambung dan perut, mencegah luka pada lambung. Cara bekerja dengan menekan sekresi asam lambung oleh penghambat spesifik pompa proton yang ditemukan pada permukaan sekresi sel parietal lambung.

g) Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan : Untuk mengatasi mual, muntah, rasa tidak enak di tenggorokan atau kerongkongan, sulit menelan.

h) Kontra indikasi : Hipersensitif pada Omeprazole, pasien yang sedang menggunakan obat-obatan, yang mengandung rilpivirine, nelfinavir, atazanavir.

i) Efek samping obat : Ruam pada kulit, kulit melepuh, kantuk, kelelahan, batuk, pusing, demam, nyeri sendi dan otot, depresi, halusinasi.

3) Fibrion/Streptokinase

a) Nama obat :Fibrion/Streptokinase

b) Klasifikasi/ golongan obat : Antiplatelet, trombolitik dan fibrinolitik

c) Dosis umum : Dewasa 1 500 000 IU diberikan selama 1 jam melalui selang infus

d) Dosis untuk pasien yang bersangkutan : 1 500 000 IU/ (1,5) e) Cara pemberian obat : Infus Pump dalam piggy bag 100ml f) Mekanisme kerja dan fungsi obat : Fibrion mengandung

streptokinase yang bekerja sebagai trombolitik dengan cara mengaktifkan plasminogen untuk membentuk plasmin, sehingga dapat melarutkan gumpalan darah. Fibrion juga digunakan dalam pengobatan thrombosis vena yang mengancam jiwa dan dalam embolisme paru. Dosis pertama diberikan segera setelah serangan jantung.

g) Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan : untuk bekerja sebagai trombolitik dengan cara mengaktifkan plasminogen untuk membentuk plasmin, sehingga dapat melarutkan gumpalan darah dan pengobatan thrombosis vena.

h) Kontra indikasi : Perdarahan, trauma atau pembedahan (termasuk cabut gigi) yang baru terjadi, kelainan koagulasi, diatesis pendarahan, diseksi aorta, koma, riwayat penyakit serebrovaskuler.

i) Efek samping obat : terjadi ruam kemerahan, gatal, mual, diare, nyeri epigastrium, muntah, sakit kepala, demam, menggigil dan lain-lain.

4) CPG

a) Nama obat : CPG

b) Klasifikasi/ golongan obat : Obat Anti platelet golongan thienopyridine

c) Dosis umum : 1 kali/ hari (75mg)

d) Dosis untuk pasien yang bersangkutan : 75mg 1x1(0-1-0) e) Cara pemberian obat : Oral

f) Mekanisme kerja dan fungsi obat : CPG digunakan untuk membantu mencegah serangan jantung dan stroke pada pasien dengan penyakit jantung, stroke, atau penyakit sirkulasi darah (penyakit pembuluh darah perifer). CPG bekerja dengan menghalangi platelet saling menempel dan mencegah mereka dari pembentukan gumpalan berbahaya.

CPG membantu menjaga darah mengalir lancar dalam tubuh.

g) Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan : pasien diberikan obat CPG untuk mencegah adanya serangan jantung yang tiba-tiba dan membantu memperlancar aliran darah tetap normal.

h) Kontra indikasi : obat ini tidak diberikan pada pasien dengan kondisi hipersensitif terhadap clopidogrel dan perdarahan patologis aktif seperti tukak lambung atau perdarahan intrakranial.

i) Efek samping obat : sakit kepala, pusing, ruam, insomnia, dan gangguan gastrointestinal (sembelit dan muntah).

5) Aspilet

a) Nama obat : Aspilet

b) Klasifikasi/ golongan obat : Obat acetylsalicylic acid atau dikenal juga dengan aspirin merupakan senyawa non steroid yang digunakan sebagai analgesik, antipiretik, antiinflamasi dan anti platelet.

c) Dosis umum : 80mg/ 24 jam

d) Dosis untuk pasien yang bersangkutan : 80 mg 1x1 (0-1-0) e) Cara pemberian obat : Oral

f) Mekanisme kerja dan fungsi obat : mekanisme kerja dari obat ini adalah dengan penghambatan aktivitas COX-1, yang berperan untuk metabolisme enzim utama dari asam arakidonat yang merupakan prekursor prostagladin yang memainkan peran utama dalam patogenesis peradangan, nyeri dan demam. Pengurangan prostagladin (terutama E1) dipusat termoregulasi menyebabkan penurunan suhu tubuh akibat perluasan pembuluh darah pada kulit dan sekresi keringat menigkat. Efek analgesik yang baik karena memiliki efek sentral (pusat) dan perifer (tepi). Obat ini efektif untuk pencegahan primer penyakit kardiovaskuler dan pencegahan sekunder infark miokard. Obat ini dapat meningkatkan aktivitas fibrinolitik dan mengurangi plasma konsentrasi vitamin K dalam faktor-faktor koagulasi (II,VII,IX, X).

meningkatkan tingkat komplikasi perdarahan dalam

pelaksanaan prosedur bedah. Blokade COX-1 dalam mukosa lambung dapat menyebabkan penghambatan prostaglandin gastroprotektif, yang dapat menyebabkan ulserasi pada membran mukosa.

g) Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan : untuk mencegah adanya penyumbatan pada pembuluh darah karena kandungan asetosal yang terdapat pada obat aspilet berfungsi sebagai pengencer darah karena pada pasien mengalami sumbatan pada pembuluh darah di jantung akibat dari faktor risiko seperti usia, hiperglikemia, dalam kolesterol yang tinggi dan meminimalkan terjadinya infark miokard.

h) Kontra indikasi : Hipersensitif, penderita asma, pasien mengkonsumsi antikoagulan, penderita luka pada usus 12 jari dan dinding lambung, penderita pendarahan pada bagian bawah kulit, pasien dengan gangguan pembekuan darah.

i) Efek samping obat : pusing dan sakit kepala, mual dan muntah, mulas dan sakit perut, gangguan pendengaran dan telinga berdengung, luka pada tukak lambung, urin berwarna gelap, kulit dan mata berwarna kekuningan.

6) Atorvastatin

a) Nama obat : Atorvastatin

b) Klasifikasi/ golongan obat : Statin c) Dosis umum : 10 atau 20 mg/ hari

d) Dosis untuk pasien yang bersangkutan : 40mg (1x1) e) Cara pemberian obat : Oral

f) Mekanisme kerja dan fungsi obat : golongan obat statin tidak hanya aman dan memberikan toleransi yang baik, tetapi juga secara bermakna dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat kardiovaskular. Oleh karena kadar LDL kolesterol kuat sekali kaitannya dengan kelainan

aterosklerosis, maka diasumsikan bahwa terapi statin umunya memakai patokan kadar kolesterol tersebut. Statin sangat efektif dalam mengurangi stres oksidatif dan inflamasi vaskular dengan meningkatakan stabilitas lesi aterosklerosis.

Statin bekerja dengan menghambat biosintesis kolesterol, meningkatkan penyerapan dan penurunan LDL, inhibisi sekresi lipoprotein, penghambatan oksidasi LDL, dan inhibisi reseptor. Atorvastatin menurunkan jumlah kolesterol dalam tubuh dengan cara menghambat enzim yang bertugas memproduksi kolesterol dihati.

g) Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan : pasien diberikan obat atorvastatin karena mempunyai riwayat kolesterol yang diduga penyebab dari terjadinya penyakit ACS pada pasien, dan membantu menurunkan LDL atau kolesterol jahat pada tubuh.

h) Kontra indikasi : Anak usia dibawah 10 tahun, wanita hamil, wanita menyusui, penyakit hati aktif atau kronis, riwayat alergi.

i) Efek samping obat : nyeri sendi dan otot, sakit kepala, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, diare, mual, konstipasi, kembung dan mimisan.

7) Lovenox

a) Nama obat : Lovenox

b) Klasifikasi/ golongan obat : Obat Antikoagulan

c) Dosis umum : dosis awal 3000 bolus anti-Xa IU dilanjutkan dengan 100 anti-XA IU/kg

d) Dosis untuk pasien yang bersangkutan : 0,6 ml/ 12 jam e) Cara pemberian obat : subcutan

f) Mekanisme kerja dan fungsi obat : obat yang mengandung enoxaparin sodium. Obat ini digunakan untuk mencegah deep vein thrombosis atau thrombosis vena dalam serta mengatasi

DVT akut, mencegah komplikasi angina tidak stabil dan infark miokard. Bekerja mengurangi aktivitas protein yang bertugas membekukan darah sehingga mencegah terjadinya pembekuan darah.

g) Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan : Mencegah tromboembolik vena, mencegah pembekuan darah dari pembentukan di pembuluh darah vena atau arteri dan juga mencegah terjadinya pembekuan berulang.

h) Kontra indikasi : Hipersensitif terhadap enoxaparin sodium dan heparin, riwayat heparin-induced thrombocytopenia (HIT) dalam 100 hari terakhir, perdarahan manyor aktif.

i) Efek samping obat : nyeri, kemerahan, edema, perdarahan, trombositosis, reaksi alergi.

8) Carnit / Glyceryl Trinitrate

a) Nama obat : Carnit / Glyceryl Trinitrate

b) Klasifikasi/ golongan obat : obat agen anti angina, vasodilator c) Dosis umum : untuk serangan jantung dianjurkan 15-20 mcg/menit, lalu ditingkatkan secara bertahap hingga 10-15 mcg/menit. Sedangkan untuk sindrom koroner akut dosis dianjurkan 10 mcg/ menit, lalu ditingkatkan secara bertahap hingga 10 mcg/menit setelah 30 menit.

d) Dosis untuk pasien yang bersangkutan : 5 mcg/kg BB/ jam dosis 1,5ml.

e) Cara pemberian obat : intravena dengan syringe pump 50cc.

f) Mekanisme kerja dan fungsi obat : Gliseril trinitrat adalah obat untuk meredakan dan mencegah serangan angina. Angina merupakan nyeri dada yang terjadi ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen sesuai kebutuhannya, kondisi ini disebabkan oleh penyempitan arteri koroner akibat penumpukan lemak. Pembuluh yang

menyempit ini pada akhirnya membuat darah lebih sulit untuk ke otak jantung.Gliseril trinitrat bekerja dengan 2 cara, yakni melebarkan pembuluh darah serta mengurangi ketegangan pada jantung sehingga memudahkannya untuk memompa darah.

g) Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan : Tujuan pemberian obat Gliseril trinitrat untuk melebarkan pembuluh darah pasien yang mengalami tersebut dan mengurangi nyeri pada dada.

h) Kontra indikasi :Hipersensitivitas terhadap obat ini, Anak usia dibawah 10 tahun, wanita hamil, wanita menyusui, riwayat alergi.

i) Efek samping obat : pusing, sakit kepala, merasa lemah, lelah, kantuk, mual dan ingin muntah hingga wajah memerah (flushing).

9) Farsorbid

a) Nama obat : Farsorbid

b) Klasifikasi/ golongan obat : obat Anti angina

c) Dosis umum : 1-2 tablet, diberikan setiap 2-3 jam sesuai kebutuhan.

d) Dosis untuk pasien yang bersangkutan : 5mg e) Cara pemberian obat : Sublingual/SL

f) Mekanisme kerja dan fungsi obat : Obat Farsorbid adalah untuk mengobati angina pektoris/ angin duduk atau rasa nyeri pada dada yang terjadi saat aliran darah dan oksigen menuju otot jantung tersendat atau terganggu, khususnya saat arteri jantung mengeras atau menyempit.

g) Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan : pasien merasakan nyeri pada dada dengan skala 8, obat

farsorbid menjadi penanganan awal saat pasien masuk ke ruang ICCU.

h) Kontra indikasi : hindari penggunaan pada pasien dengan kondisi pasien yang memiliki riwayat glaukoma, anemia, hipertiroidisme, pasien yang memiliki riwayat hipersensitif terhadap isosorbid dinitrate.

i) Efek samping obat : hipotensi ortostatik, muka dan leher memerah, sakit kepala, gangguan pencernaan dan ruam kulit.

10) N-Acetylcysteine

a) Nama obat :N-Acetylcysteine

b) Klasifikasi/ golongan obat : obat mukolitik/ pengencer dahak c) Dosis umum : 200 mg 2-3 kali sehari

d) Dosis untuk pasien yang bersangkutan : kapsul 200mg 3x1 e) Cara pemberian obat : oral

f) Mekanisme kerja dan fungsi obat : N-Acetylcysteine bekerja dengan cara mengurai protein pada dahak sehingga dahak menjadi lebih encer dan lebih mudah dikeluarkan saat batuk.

Selain itu, asetilsistein juga memiliki sifat antioksidan yang dapat melindungi liver dari kerusakan saat terjadi keracunan oleh obat paracetamol.

g) Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan : pasien diberikan obat N-Acetylcysteine untuk mengencerkan dahak yang sulit untuk dikeluarkan agar terhindar dari refleks batuk yang terlalu keras.

h) Kontra indikasi : hipersensitif, anak dibawah umur 2 tahun.

i) Efek samping obat : mual, muntah, sakit Maag, demam, ruam pada kulit.

11) Metformin 850 Mg

j) Nama obat :Metformin.

k) Klasifikasi/ golongan obat : Obat antidiabetes generik golongan biguanide.

l) Dosis umum : sehari 2 x 500 mg atau 2 x 850 mg m) Dosis untuk pasien yang bersangkutan : 3 x 1 (850mg).

n) Cara pemberian obat : oral

o) Mekanisme kerja dan fungsi obat : obat ini bekerja dengan cara menghambat produksi glukosa (glukoneogenesis) di hati. Penghambatan tersebut mengakibatkan terjadinya penundaan absorbsi atau penyerapan glukosa di usus, sehingga menurunkan glukosa plasma baik basal maupun postprandial (setelah makan). Selain itu, Metformin juga bekerja dengan memperbaiki sensitivitas insulin dengan cara meningkatkan ambilan dan penggunaan glukosa dijaringan perifer. Dengan demikian, maka akan terjadi perbaikan toleransi glukosa pada pasien diabetes.

p) Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan : pasien diberikan obat metformin untuk menurunkan kadar glukosa agar menjadi stabil.

q) Kontra indikasi : obat ini tidak diberikan pada pasien dengan kondisi penyakit ginjal dengan kadar kreatinin serum lebih dari 1,5 mg/dL(pria) dan lebih dari 1,4 mg/dL(wanita). Septikemia, gagal jantung kongestif, penyakit hati kronik, hipoksia, asidosis metabolik akut atau kronik atau memilik riwayat asidosis laktat, termasuk ketoasidosis diabetes dengan atau tanpa disertai koma. Wanita hamil dan/atau menyusui.

r) Efek samping obat : Anoreksia, mual, muntah, diare.

Berkurangnya absorpi vitamin B12, kepala terasa rinfan ,ruam kulit, keringat berlebih, dan gangguan daya pengecapan.

138 BAB IV

PEMBAHASAN KASUS

A. Pembahasan Asuhan Keperawatan

Pada bab IV ini penulis akan membahas ada tidaknya kesenjangan yang terjadi antara konsep teori dengan penerapan asuhan keperawatan kritis pada pasien Tn. A usia 61 tahun dengan diagnosis medis IMA di ruang perawatan ICCU RS Stella Maris Makassar yang dilakukan selama 3 hari dari tanggal 08 sampai 11 Mei 2023. Dalam proses keperawatan perlu menggunakan metode ilmiah sebagai pedoman dalam melakukan asuhan keperawatan secara sistematis sehingga memecahkan masalah keperawatan guna mencapai tujuan keperawatan yaitu meningkatkan, mempertahankan kesehatan atau membuat pasien yang kritis dalam menghadapi kematian. Proses keperawatan ada lima tahap, yaitu melalui pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan keperawatan, implementasi dan evaluasi. Di mana pada tahap ini secara bersama-sama membentuk lingkaran pemikiran dan tindakan kontinu dengan pasien.

Tahap-tahap dalam proses keperawatan adalah sebagai berikut : 1. Pengkajian Primer

a. B1 (Breath)

Pada teori pengkajian breathing yang didapatkan bentuk dada simetris, sesak dengan aktivitas ringan atau beristirahat, RR lebih dari 24x/menit, irama regular dangkal, ronchi, ekspansi dada tidak penuh, penggunaan otot bantu napas, dyspnea (+), diberikan O2 tambahan (Handayani et al., 2018).

Hasil pengkajian didapatkan pasien sesak, pergerakan dada simetris, tidak menggunakan otot bantu napas, saat

dilakukan palpasi vocal fremitus kiri dan kanan teraba kuat, perkusi terdengar redup pada lapang paru kanan, suara napas ronchi pada lapang paru kanan, batuk produktif dengan sputum berwarna coklat yang kental, pasien menggunakan alat bantu pernapasan berupa nasal kanul 3 liter/menit. Hasil RR 28x/menit, SpO2 95%. Pasien diberikan oksigen untuk menjaga SpO2 > 94% untuk meningkatkan jumlah oksigen yang dialirkan ke miokard, penambahan oksigen akan mengurangi nyeri yang berhubungan penurunan curah jantung. Oksigen merupakan penanganan awal untuk pasien IMA.

b. B2 (Blood)

Pada teori pengkajian blood didapatkan terdengar suara jantung S3 dan S4, suara jantung (+), chest pain (+), CRT kembali dalam ≤ 3 detik, akral dingin, nadi lemah dan tidak teratur, takikardia, bradikardia, TD meningkat/menurun, edema, gelisah, kulit pucat, sianosis, hasil EKG STEMI atau NSTEMI, peningkatan JVP, hasil pemeriksaan GDS tidak dalam batas normal/tinggi (Handayani et al., 2018).

Tetapi pada hasil pengkajian suara jantung tunggal terdengar pada S1, S2 suara jantung murmur terdengar pada S3. Irama jantung ireguler, CRT kembali dalam ≤ 3 detik, JVP dalam batas normal, tampak tidak edema pada kedua tungkai kaki, hasil EKG STEMI : ST Elevasi di lead : V1,V2,V3,V4 hasil pemeriksaan TD : 100/60mmHg, HR : 58x/menit, MAP : 73,3mmHg, perfusi ginjal memadai.

Pada infark miokard akut ST Elevasi (STEMI) terjadi oklusi total arteri koroner sehingga menyebabkan daerah infark yang lebih luas meliputi miokardium, yang pada pemeriksaan EKG ditemukan adanya elevasi segmen ST STEMI biasanya terjadi ketika aliran darah koroner

berkurang secara drastis setelah adanya oklusi trombotik pada arteri koronaria yang sebelumnya terkena aterosklerosis. STEMI terjadi ketika thrombus pada arteri koronaria berkembang dengan cepat pada sisi pembuluh darah yang terluka.

c. B3 (Brain)

Pada teori pengkajian brain didapatkan pupil isokor, refleks cahaya (+), refleks fisiologis (+), kesadaran biasanya Compos mentis (Handayani et al., 2018).

Tetapi dari hasil pengkajian pada kasus didapatkan tingkat kesadaran Compos mentis : M6 V5 E4 (15), reaksi pupil isokor kiri dan kanan dengan diameter pupil ± 3 mm, refleks fisiologis(+), refleks patologis (-), meningeal sign tidak ada.

Dari hasil analisa kasus dan literatur kemungkinan ditinjau dari teori dan kasus terjadi kesamaan dimana suplai oksigen ke otak masih dalam kebutuhan normal sehingga tubuh masih bisa terkontrol oleh hipotalamus.

d. B4 (Bladder)

Pada teori pengkajian bladder didapatkan oliguria, hematuria, output urin menurun (Handayani et al., 2018).

Tetapi pada hasil pengkajian kasus didapatkan produksi urin 250cc (14.00) dengan warna urin kuning jernih, pasien tidak menggunakan kateter, pasien tidak mengalami gangguan pada BAK.

e. B5 (Bowel)

Pada teori pengkajian bowel didapatkan mukosa bibir kering, penurunan nafsu makan, mual (-), muntah (-), konstipasi/diare, peristaltik usus meningkat/menurun (Sakarya & Of., 2018). Tetapi pada hasil pengkajian pada kasus didapatkan mukosa bibir lembab, lidah bersih, keadaan gigi lengkap, nyeri menelan (-), abdomen tidak

distensi, peristaltik usus normal 10x/menit, mual (-), muntah (-), hematemesis (-), melena (-), konstipasi (-),diare (-), asites (-). Tampak perut pasien cembung dan baik tidak teraba nyeri tekan pada epigastrium.

f. B6 (Bone)

Pada teori pengkajian bone didapatkan turgor kulit menurun (Handayani et al., 2018).

Tetapi pada hasil pengkajian kasus didapatkan hasil turgor kulit baik, perdarahan kulit tidak ada, tidak ada ikterik, akral teraba dingin, pucat dan basah, pergerakan sendi bebas, tidak ada fraktur dan luka pada bagian tubuh. Dari hasil analisa kasus dan literatur didapatkan hasil dikarenakan adanya kekurangan volume cairan yang menyebabkan cardiac output menurun sehingga jantung tidak mampu memompa darah ke daerah perifer yang mengakibatkan daerah perifer pucat, akral teraba dingin.

2. Pengkajian Sekunder

Pola yang bermasalah pada pengkajian sekunder yaitu : Pola I persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan, berdasarkan hasil pengkajian didapatkan data pasien mengatakan memiliki riwayat penyakit hipertensi dan gula sejak lama dan pasien jarang untuk memeriksakan kesehatan di tenaga kesehatan, pasien mengatakan rutin mengonsumsi obat hipertensi yaitu Candesartan 8 mg 1x/hari dan obat gula yaitu Metformin 850mg 3x/hari. Pasien juga mengatakan pernah menderita stroke sumbatan ± 1 tahun yang lalu.

Pasien mengatakan ia perokok aktif dan sangat suka mengkonsumsi kopi setiap hari dan minuman beralkohol jika ada acara bersama keluarganya. Berdasarkan pengkajian pada pasien, ditemukan penyebab penyakit IMA lebih banyak

mengarah ke faktor presipitasi yaitu riwayat hipertensi, riwayat DM, kebiasaan merokok.

Hipertensi dapat menyebabkan IMA dengan beberapa mekanisme yaitu, terjadinya peningkatan tekanan darah mengakibatkan penurunan afterload yang mempercepat kontraktilitas jantung sehingga pembuluh darah menegang dan menyebabkan kerusakan pada sel endotel atau disfungsi endotel menyebabkan vasokonstriksi yaitu pengecilan lumen pada pembuluh darah sehingga terbentuknya thrombus/darah menggumpal pada dinding pembuluh darah mengakibatkan terjadinya aterosklerosis di arteri koroner menyebabkan penyumbatan darah total (STEMI) hal tersebut mengakibatkan aliran darah pada arteri koroner berkurang sehingga terjadi ketidakseimbangan suplai O2 ke miokard yang tidak terpenuhi.

Penyakit DM merupakan salah satu faktor terjadinya IMA dimana gula dalam darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan darah akan menjadi kental sehingga darah yang mengalir ke pembuluh darah menjadi terhambat, hilangnya elastisitas pembuluh darah karena penyempitan pada vaskuler, hal tersebut dapatkan menyebabkan plak menjadi mudah terbentuk pada dinding pembuluh darah dan terjadi aterosklerosis.

Kebiasaan merokok merupakan salah satu faktor presipitasi yang dapat menyebabkan penyakit IMA dimana dalam puntung rokok terdapat zat berbahaya seperti Karbon Monoksida/CO, Nikotin dan Tar yang masuk ke dalam darah, zat tersebut berikatan dengan hemoglobin yang membawa oksigen ke paru-paru dan ke seluruh jaringan tubuh.

Akibatnya terjadi peningkatan viskositas darah atau darah menjadi lebih kental sehingga mudah menempel pada dinding

Dokumen terkait