BAB IV PEMBAHASAN KASUS
A. Pembahasan Asuhan Keperawatan
Pada bab IV ini penulis akan membahas ada tidaknya kesenjangan yang terjadi antara konsep teori dengan penerapan asuhan keperawatan kritis pada pasien Tn. A usia 61 tahun dengan diagnosis medis IMA di ruang perawatan ICCU RS Stella Maris Makassar yang dilakukan selama 3 hari dari tanggal 08 sampai 11 Mei 2023. Dalam proses keperawatan perlu menggunakan metode ilmiah sebagai pedoman dalam melakukan asuhan keperawatan secara sistematis sehingga memecahkan masalah keperawatan guna mencapai tujuan keperawatan yaitu meningkatkan, mempertahankan kesehatan atau membuat pasien yang kritis dalam menghadapi kematian. Proses keperawatan ada lima tahap, yaitu melalui pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan keperawatan, implementasi dan evaluasi. Di mana pada tahap ini secara bersama-sama membentuk lingkaran pemikiran dan tindakan kontinu dengan pasien.
Tahap-tahap dalam proses keperawatan adalah sebagai berikut : 1. Pengkajian Primer
a. B1 (Breath)
Pada teori pengkajian breathing yang didapatkan bentuk dada simetris, sesak dengan aktivitas ringan atau beristirahat, RR lebih dari 24x/menit, irama regular dangkal, ronchi, ekspansi dada tidak penuh, penggunaan otot bantu napas, dyspnea (+), diberikan O2 tambahan (Handayani et al., 2018).
Hasil pengkajian didapatkan pasien sesak, pergerakan dada simetris, tidak menggunakan otot bantu napas, saat
dilakukan palpasi vocal fremitus kiri dan kanan teraba kuat, perkusi terdengar redup pada lapang paru kanan, suara napas ronchi pada lapang paru kanan, batuk produktif dengan sputum berwarna coklat yang kental, pasien menggunakan alat bantu pernapasan berupa nasal kanul 3 liter/menit. Hasil RR 28x/menit, SpO2 95%. Pasien diberikan oksigen untuk menjaga SpO2 > 94% untuk meningkatkan jumlah oksigen yang dialirkan ke miokard, penambahan oksigen akan mengurangi nyeri yang berhubungan penurunan curah jantung. Oksigen merupakan penanganan awal untuk pasien IMA.
b. B2 (Blood)
Pada teori pengkajian blood didapatkan terdengar suara jantung S3 dan S4, suara jantung (+), chest pain (+), CRT kembali dalam ≤ 3 detik, akral dingin, nadi lemah dan tidak teratur, takikardia, bradikardia, TD meningkat/menurun, edema, gelisah, kulit pucat, sianosis, hasil EKG STEMI atau NSTEMI, peningkatan JVP, hasil pemeriksaan GDS tidak dalam batas normal/tinggi (Handayani et al., 2018).
Tetapi pada hasil pengkajian suara jantung tunggal terdengar pada S1, S2 suara jantung murmur terdengar pada S3. Irama jantung ireguler, CRT kembali dalam ≤ 3 detik, JVP dalam batas normal, tampak tidak edema pada kedua tungkai kaki, hasil EKG STEMI : ST Elevasi di lead : V1,V2,V3,V4 hasil pemeriksaan TD : 100/60mmHg, HR : 58x/menit, MAP : 73,3mmHg, perfusi ginjal memadai.
Pada infark miokard akut ST Elevasi (STEMI) terjadi oklusi total arteri koroner sehingga menyebabkan daerah infark yang lebih luas meliputi miokardium, yang pada pemeriksaan EKG ditemukan adanya elevasi segmen ST STEMI biasanya terjadi ketika aliran darah koroner
berkurang secara drastis setelah adanya oklusi trombotik pada arteri koronaria yang sebelumnya terkena aterosklerosis. STEMI terjadi ketika thrombus pada arteri koronaria berkembang dengan cepat pada sisi pembuluh darah yang terluka.
c. B3 (Brain)
Pada teori pengkajian brain didapatkan pupil isokor, refleks cahaya (+), refleks fisiologis (+), kesadaran biasanya Compos mentis (Handayani et al., 2018).
Tetapi dari hasil pengkajian pada kasus didapatkan tingkat kesadaran Compos mentis : M6 V5 E4 (15), reaksi pupil isokor kiri dan kanan dengan diameter pupil ± 3 mm, refleks fisiologis(+), refleks patologis (-), meningeal sign tidak ada.
Dari hasil analisa kasus dan literatur kemungkinan ditinjau dari teori dan kasus terjadi kesamaan dimana suplai oksigen ke otak masih dalam kebutuhan normal sehingga tubuh masih bisa terkontrol oleh hipotalamus.
d. B4 (Bladder)
Pada teori pengkajian bladder didapatkan oliguria, hematuria, output urin menurun (Handayani et al., 2018).
Tetapi pada hasil pengkajian kasus didapatkan produksi urin 250cc (14.00) dengan warna urin kuning jernih, pasien tidak menggunakan kateter, pasien tidak mengalami gangguan pada BAK.
e. B5 (Bowel)
Pada teori pengkajian bowel didapatkan mukosa bibir kering, penurunan nafsu makan, mual (-), muntah (-), konstipasi/diare, peristaltik usus meningkat/menurun (Sakarya & Of., 2018). Tetapi pada hasil pengkajian pada kasus didapatkan mukosa bibir lembab, lidah bersih, keadaan gigi lengkap, nyeri menelan (-), abdomen tidak
distensi, peristaltik usus normal 10x/menit, mual (-), muntah (-), hematemesis (-), melena (-), konstipasi (-),diare (-), asites (-). Tampak perut pasien cembung dan baik tidak teraba nyeri tekan pada epigastrium.
f. B6 (Bone)
Pada teori pengkajian bone didapatkan turgor kulit menurun (Handayani et al., 2018).
Tetapi pada hasil pengkajian kasus didapatkan hasil turgor kulit baik, perdarahan kulit tidak ada, tidak ada ikterik, akral teraba dingin, pucat dan basah, pergerakan sendi bebas, tidak ada fraktur dan luka pada bagian tubuh. Dari hasil analisa kasus dan literatur didapatkan hasil dikarenakan adanya kekurangan volume cairan yang menyebabkan cardiac output menurun sehingga jantung tidak mampu memompa darah ke daerah perifer yang mengakibatkan daerah perifer pucat, akral teraba dingin.
2. Pengkajian Sekunder
Pola yang bermasalah pada pengkajian sekunder yaitu : Pola I persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan, berdasarkan hasil pengkajian didapatkan data pasien mengatakan memiliki riwayat penyakit hipertensi dan gula sejak lama dan pasien jarang untuk memeriksakan kesehatan di tenaga kesehatan, pasien mengatakan rutin mengonsumsi obat hipertensi yaitu Candesartan 8 mg 1x/hari dan obat gula yaitu Metformin 850mg 3x/hari. Pasien juga mengatakan pernah menderita stroke sumbatan ± 1 tahun yang lalu.
Pasien mengatakan ia perokok aktif dan sangat suka mengkonsumsi kopi setiap hari dan minuman beralkohol jika ada acara bersama keluarganya. Berdasarkan pengkajian pada pasien, ditemukan penyebab penyakit IMA lebih banyak
mengarah ke faktor presipitasi yaitu riwayat hipertensi, riwayat DM, kebiasaan merokok.
Hipertensi dapat menyebabkan IMA dengan beberapa mekanisme yaitu, terjadinya peningkatan tekanan darah mengakibatkan penurunan afterload yang mempercepat kontraktilitas jantung sehingga pembuluh darah menegang dan menyebabkan kerusakan pada sel endotel atau disfungsi endotel menyebabkan vasokonstriksi yaitu pengecilan lumen pada pembuluh darah sehingga terbentuknya thrombus/darah menggumpal pada dinding pembuluh darah mengakibatkan terjadinya aterosklerosis di arteri koroner menyebabkan penyumbatan darah total (STEMI) hal tersebut mengakibatkan aliran darah pada arteri koroner berkurang sehingga terjadi ketidakseimbangan suplai O2 ke miokard yang tidak terpenuhi.
Penyakit DM merupakan salah satu faktor terjadinya IMA dimana gula dalam darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan darah akan menjadi kental sehingga darah yang mengalir ke pembuluh darah menjadi terhambat, hilangnya elastisitas pembuluh darah karena penyempitan pada vaskuler, hal tersebut dapatkan menyebabkan plak menjadi mudah terbentuk pada dinding pembuluh darah dan terjadi aterosklerosis.
Kebiasaan merokok merupakan salah satu faktor presipitasi yang dapat menyebabkan penyakit IMA dimana dalam puntung rokok terdapat zat berbahaya seperti Karbon Monoksida/CO, Nikotin dan Tar yang masuk ke dalam darah, zat tersebut berikatan dengan hemoglobin yang membawa oksigen ke paru-paru dan ke seluruh jaringan tubuh.
Akibatnya terjadi peningkatan viskositas darah atau darah menjadi lebih kental sehingga mudah menempel pada dinding
pembuluh darah terbentuknya thrombus dan terjadi aterosklerosis.
Pola yang bermasalah selanjutnya adalah pola IV aktivitas dan latihan, berdasarkan hasil pengkajian didapatkan data : pasien mengatakan sejak sakit aktivitasnya dibantu oleh keluarganya, pasien mengatakan merasa lemah, sesak dan nyeri pada dadanya jika terlalu banyak beraktivitas.
3. Diagnosis Keperawatan
Berdasarkan manifestasi klinis pada pasien yang diperoleh dari hasil pengkajian, maka penulis mengangkat 4 diagnosis yaitu :
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung, yang didefinisikan ketidakadekuatan jantung memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Penulis mengangkat diagnosis ini karena keadaan umum pasien lemas, tampak sesak, akral teraba dingin, diaforesis (+), hasil observasi TD 100/60mmHg, HR 58x/menit, S 36°C, RR 28x/menit, SpO2 95%, hasil pemeriksaan EKG : STEMI ST Elevasi di lead V1,V2,V3,V4 dan pemeriksaan Cardic Marker Troponin T :103*.
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis, yang didefinisikan pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Penulis mengangkat diagnosis ini karena keadaan pasien tampak meringis, tampak gelisah, tampak sulit untuk beristirahat, diaforesis (+). Saat dilakukan pengkajian PQRST pasien mengatakan nyeri memberat saat naik turun tangga, kualitas nyeri seperti tertekan, nyeri
terasa pada dada sebelah kiri tembus belakang, skala nyeri 8, nyeri dirasakan sejak tiga jam yang lalu.
c. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan, yang didefinisikan ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Penulis mengangkat diagnosis ini karena keadaan pasien tampak dispnea, tampak gelisah, batuk tidak efektif dan sekret sulit dikeluarkan. Pasien mengatakan sulit untuk batuk karena nyeri pada dada, pasien mengatakan sputum berwarna coklat kental, pasien mengatakan batuk sudah 1 minggu lebih dan hasil pemeriksaan thorax terdapat bercak berwarna pada lapang atas paru kanan dengan Kesan : Suspek TB paru dextra.
d. Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian, yang didefinisikan kondisi emosi dan pengalaman subyektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman. Penulis mengangkat diagnosis ini karena pasien mengatakan sulit untuk beristirahat karena merasa nyeri dan cemas tentang penyakitnya, pasien merasa tidak bisa melakukan apa-apa semenjak sakit, terdapat verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi oleh pasien, tampak pasien gelisah, diaforesis (+), pucat (+), tampak pasien sulit untuk tidur/istirahat.
Adapun diagnosis keperawatan teoritis yang tidak diangkat pada kasus ini yaitu : Pola Napas Tidak Efektif. Penulis tidak mengangkat diagnosis ini karena tidak ada data yang menunjang untuk mengangkat diagnosis tersebut.
4. Perencanaan Keperawatan
Intervensi yang disusun oleh penulis disesuaikan dengan diagnosis dan kebutuhan pasien yang meliputi hal yang diharapkan, intervensi, dan rasional. Intervensi keperawatan yang penulis angkat pada kasus nyata ini disesuaikan dengan kebutuhan pasien, yaitu dengan memfokuskan pada tingkat observasi, terapeutik, edukasi dan kolaborasi.
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung.
Intervensi yang disusun oleh penulis adalah perawatan jantung yang meliputi tindakan observasi : Identifikasi tanda / gejala primer penurunan curah jantung, monitor tekanan darah, monitor saturasi oksigen, monitor EKG 12 sadapan untuk perubahan ST, monitor aritmia (kelainan irama dan frekuensi), monitor nilai laboratorium (enzim jantung).
Tindakan terapeutik : Posisikan pasien Semi-Fowler, berikan diet jantung yang sesuai (batasi asupan kafein, natrium, kolesterol, makanan tinggi lemak), berikan terapi relaksasi untuk mengurangi stres, berikan dukungan emosional dan spiritual, berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen > 94%. Tindakan edukasi : anjurkan berhenti merokok.
Selanjutnya intervensi yang kedua yaitu perawatan jantung akut yang meliputi tindakan observasi : Identifikasi karakteristik nyeri dada (meliputi faktor pemicu dan pereda, kualitas, lokasi, skala, durasi dan frekuensi). Tindakan terapeutik : Pertahankan tirah baring, puasakan hingga bebas nyeri, sediakan lingkungan yang kondusif untuk beristirahat dan pemulihan. Tindakan edukasi : Anjurkan menghindari manuver Valsava (mengedan saat BAB dan batuk). Tindakan kolaborasi : Kolaborasi pemberian
antiplatelet, kolaborasi pemberian antiangina, kolaborasi pemberian obat untuk mencegah manuver Valsava (pelunak tinja, antiemetik), kolaborasi pencegahan trombus dengan antikoagulan.
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.
Intervensi yang disusun oleh penulis adalah manajemen nyeri, yang meliputi tindakan observasi : Identifikasi respons nyeri non verbal, monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan. Tindakan terapeutik : Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (pencahayaan, kebisingan), fasilitasi istirahat dan tidur.
Selanjutnya intervensi yang kedua yaitu teknik imajinasi terbimbing meliputi tindakan observasi : Identifikasi masalah yang dialami, monitor respons perubahan emosional. Tindakan terapeutik : Sediakan ruangan yang tenang dan nyaman. Tindakan edukasi : Anjurkan membayangkan suatu tempat yang sangat menyenangkan yang pernah atau yang ingin dikunjung, anjurkan membayangkan mengunjungi tempat yang dikunjungi berada dalam kondisi yang sehat, bersama dengan orang yang dikasihi atau dicintai dalam suasana yang nyaman.
c. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan.
Intervensi yang disusun oleh penulis adalah manajemen jalan napas, yang meliputi tindakan observasi : Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas), monitor bunyi napas tambahan, monitor sputum. Tindakan terapeutik : berikan minum air hangat. Tindakan edukasi : Anjurkan asupan cairan 2000ml/hari. Tindakan kolaborasi : Kolaborasi pemberian mukolitik.
d. Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian.
Intervensi yang disusun oleh penulis adalah reduksi ansietas yang meliputi tindakan observasi : Identifikasi saat tingkat ansietas berubah, Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal). Tindakan terapeutik : Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan, Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. Tindakan edukasi : Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan dan prognosis, Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi. Latih kegiatan pengalihan.
Tindakan kolaborasi : pemberian obat anti ansietas, jika perlu.
5. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan dilaksanakan berdasarkan intervensi yang dibuat untuk mencapai tujuan yang diharapkan, dalam melaksanakan tindakan keperawatan selalu berorientasi pada rencana yang telah dibuat terlebih dahulu dengan mengantisipasi seluruh tanda yang timbul sehingga tindakan keperawatan dapat tercapai pada asuhan keperawatan yang dilaksanakan. Pelaksanaan bertujuan untuk meningkatkan derajat kesembuhan pasien sehingga membutuhkan kerja sama serta partisipasi yang baik dari pasien, keluarga, teman dinas, perawat ruangan dan dokter.
Berikut tindakan keperawatan yang telah dilakukan selama 3 hari perawatan yaitu :
a. Penurunan irama jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung :
Perawat telah melakukan intervensi yang telah dibuat sesuai dengan intervensi berupa mengidentifikasi tanda / gejala primer penurunan curah jantung hasilnya pasien
mengatakan lemah, tampak tidak edema pada kedua tungkai kaki. Memonitor tekanan darah hasilnya 100/60mmHg. Memonitor saturasi oksigen hasilnya SpO2
95%, memonitor EKG 12 sadapan hasilnya STEMI terdapat ST Elevasi di lead (V1,V2,V3,V4). Memonitor aritmia hasilnya sinus bradikardia, frekuensi HR 58x/menit, memonitor nilai laboratorium jantung (enzim jantung) hasilnya Troponin T 103*. Memposisikan pasien semi- Fowler hasilnya pasien mengatakan merasa nyaman saat diberikan posisi semi-Fowler karena bisa bernapas dengan baik, tampak saturasi oksigen meningkat 98%.
Memberikan terapi relaksasi untuk mengurangi stres hasilnya perawat menjelaskan terapi imajinasi terbimbing kepada pasien, prosedur, tujuan dan tindakannya, memberikan dukungan emosional dan spiritual hasilnya cemas pasien terhadap penyakitnya mulai berkurang, memberikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen >94% hasilnya pasien diberikan terapi oksigen nasal kanul 3 liter/menit, pasien mengatakan sesak berkurang, SpO2 meningkat dari 95% menjadi 98%.
Menganjurkan pasien untuk berhenti merokok hasilnya perawat mengedukasi pasien bahwa rokok dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya IMA pasien memahami edukasi yang dijelaskan dan akan mengikut anjuran perawat.
Selanjutnya intervensi yang kedua yaitu perawatan jantung akut dengan intervensi berupa mengidentifikasi karakteristik nyeri dada (meliputi faktor pemicu dan pereda, kualitas, lokasi, skala, durasi dan frekuensi) didapatkan hasil pasien mengatakan nyeri dada sebelah kiri tembus ke belakang sejak 3 jam yang lalu, nyeri dirasakan seperti
tertekan, skala nyeri 8. Mempertahankan tirah baring hasilnya pasien mengikuti anjuran dari perawat, mempuasakan hingga bebas nyeri hasilnya pasien dianjurkan untuk puasa saat masuk ruang ICCU agar nyeri dapat berkurang, menyediakan lingkungan yang kondusif untuk beristirahat dan pemulihan hasilnya tampak pasien beristirahat dengan kondisi ruangan yang dingin dan lampu dimatikan. Menganjurkan menghindari manuver Valsava (mengedan saat BAB dan batuk) hasilnya pasien mengikut anjuran dari perawat, memberikan antiplatelet hasilnya CPG 75 mg/oral 1x1, Aspilet 80 mg/oral 1x1, Lovenox 0,6 ml/SC, melakukan kolaborasi pemberian obat untuk mencegah manuver Valsava hasilnya Omeprazole 40 mg/IV, Ondancetron 2 ml/IV. Melakukan kolaborasi pemberian obat antikoagulan hasilnya Fibrion Streptokinase 1 500 000 IU/infus pump dalam piggy bag 100 ml. melakukan kolaborasi pemberian obat vasodilator Hasilnya Carnit 5 mcg/kgBB/sp/jam. Carnit dengan dosis 1,5 ml dalam syringe pump 50 cc. Melakukan kolaborasi pemberian obat penurun kolesterol golongan statin Hasilnya Atorvastatin 40 mg/oral 1x1.
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis:
Perawat telah melakukan intervensi yang telah dibuat sesuai dengan intervensi berupa mengidentifikasi respons nyeri non verbal hasilnya tampak wajah pasien meringis, tampak gerak tubuh gelisah. Memonitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan hasilnya pasien mengatakan setelah diberikan terapi imajinasi terbimbing pasien dapat rileks, nyeri berkurang. Mengontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (pencahayaan, kebisingan), fasilitasi istirahat dan tidur.
Selanjutnya intervensi yang kedua yaitu teknik imajinasi terbimbing dengan intervensi berupa mengidentifikasi masalah yang dialami dan monitor respons perubahan emosional hasilnya pasien mengatakan merasa cemas dengan sakit yang dialami dan merasa gelisah karena nyeri yang terus dirasakan pada dadanya. Menyediakan ruangan yang tenang dan nyaman hasilnya tampak perawat membantu pasien untuk memposisikan tubuh supaya lebih nyaman, tampak perawat menutup sampiran untuk menjaga privasi pasien. Menganjurkan membayangkan suatu tempat yang sangat menyenangkan yang pernah atau yang ingin dikunjung hasilnya tampak pasien menutup mata, pasien hanya memfokuskan diri dengan suara perawat, tampak pasien rileks.
c. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan :
Perawat telah melakukan intervensi yang telah dibuat sesuai dengan intervensi berupa memonitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas) hasilnya tampak frekuensi napas 28x/menit, irama takipnea, jenis dada.
Memonitor bunyi napas tambahan hasilnya suara napas terdengar ronchi, memonitor sputum hasilnya sputum berwarna coklat kental. Memberikan minum air hangat hasilnya pasien mengatakan mengikuti ajuran perawat.
menganjurkan asupan cairan 2000ml/hari hasilnya pasien mengatakan mengikuti ajuran dari perawat. Berkolaborasi pemberian obat mukolitik hasilnya N-Acetylcysteine 200 mg/oral 3x1.
6. Evaluasi Keperawatan
Tahap ini merupakan tahap terakhir dari asuhan keperawatan yang mencakup tentang penentuan apakah hasil yang diharapkan tercapai. Dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh penulis selama melaksanakan proses asuhan keperawatan selama 3 hari (08 – 11 Mei 2023) adalah sebagai berikut:
a) Diagnosis pertama yaitu penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung, berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan penulis pada hari terakhir perawatan, penulis menyimpulkan bahwa masalah penurunan curah jantung dalam kategori teratasi sebagian dibuktikan dengan bradikardia menurun, gambaran EKG aritmia cukup menurun, tekanan darah membaik, nadi membaik.
b) Diagnosis kedua yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis, berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan penulis pada hari terakhir perawatan, penulis menyimpulkan bahwa masalah tingkat nyeri teratas pada hari rabu tanggal 10 Mei 2023, intervensi manajemen nyeri
& teknik imajinasi terbimbing dihentikan. Adapun kriteria hasil yang didapatkan yaitu skala nyeri menurun, frekuensi nadi membaik, pola napas membaik dan tekanan darah membaik.
c) Diagnosis ketiga yaitu bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan, berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan penulis pada hari terakhir perawatan, penulis menyimpulkan bahwa masalah bersihan jalan napas teratasi dan intervensi manajemen jalan napas dihentikan dengan kriteria hasil yang didapatkan produksi sputum menurun, dyspnea menurun dan gelisah menurun.
B. Pembahasan Penerapan Evidence Based Nursing (EBN)