BAB II LANDASAN TEORI
B. Perkembangan Sosial Emosional
4. Faktor-Faktor Perkembangan Sosial Emosional
Adapun kemampuan sosial emosional berdasarkan usia 4-6 tahun diantaranya sebagai berikut :47
Tabel 2.3
Kemampuan Sosial Emosional
Usia Kemampuan Sosial Emosional
4-5 Tahun
- Mampu berbagi, menolong dan membantu teman - Antusias dalam melakukan perlombaan
- Menahan perasaan dan megendalikan reaksi (sakit tetapi tidak menangis, marah tetapi tidak memukul)
- Menaati peraturan yang berlaku dalam sutau permainan
5-6 Tahun
- Bersikap kooperatif dengan teman - Menunjukkan sikap toleran
- Mengeskpresikan emosi dalam berbagai situasi (senang, gembira, antusias dan sebagainya) - Memahami peraturan dan disiplin
- Mengenal tata krama dan sopan santun sesuai dengan nilai sosial budaya setempat
a. Faktor hereditas
Faktor yang diturunkan dari orang tua kepada anak cucunya yang pemberian biologisnya sejak lahir. Faktor ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial emosional anak usia dini.
b. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan diartikan sebagai kekuatan yang kompleks dari dunia fisik dan sosial yang memiliki pengaruh terhadap susunan biologis serta pengalaman psikologis, termasuk pengalaman sosial dan emosi sejak ada dan sesudah lahir.Faktor lingkungan merupakan faktor yang didalamnya terdiri dari keluarga, sekolah dan masyarakat.
c. Faktor umum
Faktor umum merupakan unsur-unsur yang dapat digolongkan ke dalam kedua faktor yang sudah dijelaskan sebelumnya (faktor hereditas dan faktor lingkungan). Faktor umum seperti jenis kelamin, kelenjar gondok dan kesehata
C. Penerapan Metode Bercerita dalam Perkembangan Sosial Emosional Anak
Metode bercerita merupakan salah satu pengalaman belajar bagi anak TK dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan. Cerita yang harus diabawakan guru harus menarik dan mengudang perhatian anak dan tidak lepas dari tujuan pendidikan bagi anak TK. Ada beberapa
macam teknik bercerita yang dapat dipergunakan antara lain, dapat membaca langsung dari buku, menggunakan ilustrasi dari buku gambar, menggunakan papan flannel, menggunakan boneka, bermain peran dalam suatu cerita.49
Adapun cerita yang akan disampaikan kepada anak perlu adanya hal-hal yang mesti diperhatikan, karena cerita harus cerita yang baik dan cocok dengan kehidupan anak sehingga dapat mengundang perhatian anak.
Hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya :50
1. Cerita harus menarik dan memikat perhatian guru itu sendiri.
Cerita yang menarik dan memikat perhatian, maka guru akan bersungguh-sungguh dalam menceritakan kepada anak secara mengasyikkan.
2. Cerita harus sesuai dengan kepribadian anak, gaya dan bakat anak.
3. Cerita harus sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan mencerna isi cerita anak usia TK. Cerita itu harus cukup pendek dalam rentangan jangkauan waktu perhatian anak.
Kepada anak usia muda guru tidak dapat menuntut anak untuk aktif mendengarkan cerita guru dalam jangka waktu yang lama diluar batas waktu ketahanan untuk mendengar.
49 Moeslichaton, Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), 158.
50 Moeslichaton, 166–167.
Metode bercerita dipergunakan untuk memberikan informasi tentang kehidupan sosial anak dengan orang-orang yang ada disekitarnya dengan bermacam pekerjaan. Kegiatan bercerita yang berkaitan dengan kehidupan sosial anak dapat dipergunakan guru untuk menuturkan bermacam-macam pekerjaan yang ada dimasyarakat dan menimbulkan sikap pada diri anak menghargai berbagai macam pekerjaan.
Dalam tujuan metode bercerita bagi anak memiliki tujuan memberikan informasi atau menanamkan nilai-nilai sosial, moral dan keagamaan, pemberian informasi tentang lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Dalam bercerita agar cerita tersebut dapat dicerna dan diserap anak untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan anak sehari-hari perlu guru memilih beberapa tema-tema yang cocok bagi anak TK. Tema-tema yang berkaitan dengan pengalaman anak yaitu binatang-binatang, tanaman, tentang peristiwa-peristiwa dalam masyarakat, layanan masyarakat, profesi, dan alat-alat transformasi.51
Dengan berbagai tema yang dapat digunakan dalam memberikan pengalaman belajar pada anak, dengan menggunakan metode bercerita sesuai dengan tujuan pendidikan yang diinginkan.
51 Moeslichaton, 172–174.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Sifat Penelitian
1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif.
Penelitian kualitatif merupakan suatu penelitian yang mengungkapkan suatu fenomena melalui deskripsi bahasa non-statistik secara hilostik.
Penelitian kualitatif juga menekankan pada proses analisis. Landasan teori bermanfaat sebagai gambaran umum yang terurai dalam latar belakang masalah yang patut diteliti disuatu wilayah tertentu. Selain itu landasan teori pun bermanfaat sebagai alat untuk membedah permasalahan yang diteliti. Data yang dikumpulkan dalam penelitian kualitatif lebih banyak berupa kata ataupun gambar-gambar daripada angka.52
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif lapangan (Field research) dengan metode penelitian deskriptif (eksploratif) yaitu didasarkan kepada pengamatan obyektif terhadap suatu fenomena sosial. Penelitian dalam hal ini menyusun atau membuat gambaran yang semakin jelas sementara data dikumpulkan dan bagian-bagian diuji.53
Jadi dapat disimpulkan bahwa penelitian kualititatif merupakan penelitian yang melakukan pengamatan suatu objek lebih dijabarkan
52Zuhairi et. al, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah (Jakarta: Rajawali Pers, n.d.), 23.
53Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian (Yogyakarta: Teras, 2009), 107.
melalui kata-kata dan bahasa dalan kontek khusus yang kemudian dikuatkan oleh gambar-gambar yang sudah dikumpulkan lalu diuji.
2. Sifat Penelitian
Dilihat dari sifatnya, penelitian ini tergolong penelitian deskriptif yaitu suatu bentuk penelitian paling dasar. Ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, penelitian ini penelitian yang berfokus pada usaha mengungkapkan suatu masalah yang diteliti dan dipelajari tanpa adanya rekayasa.
Metode penelitian deskriptif adalah metode peneliitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri atau lebih tanpa membuat perbandingan atau menggabungkan antara variabel satu dengan variabel lain. Metode deskriptif dapat disimpulkan sebagai sebuah metode yang bertujuan untuk menggambarkan dan memaparkan keadaan dilapangan secara sistematis dengan fakta-fakta yang tepat.54
Penggunaan metode deskriptif untuk memaparkan data yang bukan angka melainkan kata-kata ataupun gambar. Penelitian ini dapat menggambarkan tentang latar belakang, tindakan dan pembicaraan yang dicatat tentang suatu yang mungkin berubah-ubah.
54Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2013), 35.
B. Sumber Data
Dalam penelitian tentunya terdapat sebuah sumber data, dalam hal ini sumber data yaitu subjek darimana dapat diperoleh. Adapun sumber yang peneliti lakukan dalam penelitian ini terdiri dari diantaranya:
1. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah sumber informasi yang langsung mempunyai wewenang dan bertanggung jawab terhadap pengumpulan atau pun penyimpanan data.55 Sumber primer yaitu sumber data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti atau petugas-petugas dari sumber pertamanya. Dalam hal ini yang menjadi sumber data primer adalah Kepala TK Ainul Yaqin Tegal Rejo, guru kelas kelompok B dan beberapa wali murid kelompok B.
2. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari atau berasal dari bahan kepustakaan. Yang dimaksud dengan sumber kepustakaan ialah sumber yang terkait dengan penerapan metode bercerita dalam perkembangan sosial emosional seperti data berupa laporan-laporan serta literatur-literatur, serta literatur-literatur kepustakaan seperti buku-buku, internet dan kepustakaan yang lainnya.
Sumber data sekunder merupakan sumber data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui wawancara dengan kepala sekolah yakni Ibu Sri Rohana dan dari guru kelas. Data Sekunder pada
55Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian (Jakarta: PT Raja Grafinda Persada, 2014), 75.
umunya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang disusun rapi menjadi sebuah arsip baik yang dipublikasikan atau tidak.
C. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi merupakan proses untuk memperoleh data dari tangan pertama dengan mengamati orang dan tempat pada saat melakukan penelitian.56 Jadi observasi merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan secara langsung oleh peneliti. Penulis melakukan pengamatan secara langsung ke TK Ainul Yaqin Tegal Trimurjo Lampung Tengah.
2. Wawancara
Wawancara merupakan alat recheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya.
Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam merupakan wawancara yang dilakukan dengan proses tanya jawab untuk mendapatkan keterangan dengan bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarain, dengan atau menggunakan pedoman wawancara, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.
Interview atau wawancara ialah, komunikasi langsung antara pewawancara (interviewer) dan yang diwawancarai (interviewee)
56Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Jakarta, 2016), 220.
untuk mengungkap persoalan yang diinginkan.57Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.58
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan wawancara adalah sebuah tanya jawab yang dilakukan dua orang baik langsung atau tidak langsung untuk mendapatkan informasi yang diperlukan.
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam, dalam proses pengambilan data dilakukan secara bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pendoman (guide) wawancara, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.59Wawancara akan diarahkan kepada Kepala TK Ainul Yaqin, guru kelas kelompok B TK Ainul Yaqin dan beberapa wali murid kelompok B tentang bagaimana penerapan metode bercerita terhadap perkembangan sosial emosional anak usia dini kelompok B.Selain tentang penerapan dalam wawancara juga menelusuri mengenai perkembangan sosial emosional pada anak kelompok B, seberapa efektif nya penerapan metode bercerita dalam masa pandemi covid-19.
57Margono, Metode Penelitian, 15.
58Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, 317.
59Juliansyah Noor, Metode Penelitian : Skripsi, Tesis, Disertasi dan Karya Ilmiah (Jakarta: Prenada Media Group, 2013), 138.
Metode ini digunakan untuk mendapatkan data secara lisan yang berupa keterangan-keterangan langsung dari Kepala TK Ainul Yaqin, guru kelas kelompok B dan beberapa wali murid kelompok B untuk mendapatkan data dan informasi mengenai bagaimana penerapan metode bercerita terhadap perkembangan anak usia dini di TK Ainul Yaqin Tegal Rejo Adipuro, Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2020/2021.
3. Dokumentasi
Sejumlah besar fakta dan data tetrsimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia yaitu berbentuk surat-surat, catatan-catatan, cenderamata, laporan, artefak, foto dan lain-lain. Metode dokumentasi merupakan cara pengumpulan data dari sejumlah data yang biasanya berupa tulisan, benda, laporan dan catatan-catatan.
Dokumentasi yang dilakukan yakni untuk mengetahui peerkembangan sosial emosional anak dikelas dan disekolah berupa catatan, agenda, foto dan sebagainya. Seperti contoh foto-foto kegiatan sehari-hari siswa pada saat berada disekolah maupun dikelas.
Metode dokumentasi ini digunakan untuk melengkapi data- data yang diperlukan terkait dengan penerapan metode bercerita terhadap perkembangan sosial emosional anak usia dini di TK Ainul Yaqin Tegal Rejo Adipuro, Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah.
D. Teknik Penjaminan Keabsahan Data
Teknik keabsahan data guna memeriksa keabsahan data mengenai penerapan metode bercerita terhadap perkembangan sosial emosional anak usia dini di TK Ainul Yaqin, berdasarkan data yang terkumpul, selanjutnya ditempuh beberapa teknik keabsahan data mutlak diperlukan dalam penelitian kualitatif, oleh karena itu dilakuakan pengecekan keabsahan data.
Adapun teknik keabsahan data, merupakan hal yang sangat menentukan kualitas hasil penelitian. Untuk mencapai apa yang diharapkan oleh peneliti, maka digunakan teknik-teknik pemeriksaan data yang berisi tentang usaha-usaha peneliti untuk mendapatkan keabsahan data, untuk itu perlu diteliti kredibilitasnya, dengan menggunakan teknik- teknik antara lain:60
a. Perpanjangan pengamatan b. Ketekunan pengamatan c. Triangulasi
d. Pengecekam sejawat e. Kecukupan referensial f. Kajian kasus negatif g. Pengecekan anggota
Keabsahan data penulis menggunakan triangulasi yaitu cara yang paling umum digunakan bagi peningkatan validitas data dalam penelitian
60 Lexy J Moelong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012.), 327.
kualitatif. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.61 Triangulasi terdiri dari triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data dan waktu. Dalam hal ini peneliti menggunakan triangulasi teknik.
Wawancara Observasi
Kuesioner/dokumen Gambar 3.1 Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.62
Triangulasi bertujuan untuk menelusuri data yang dianalisis untuk kemudian ditarik sebuah kesimpulan. Dengan begitu peneliti mendapatkan kesimpulan yang benar dan tidak hanya dari satu pandang sehingga dapat kebenerannya.
Penerapannya, peneliti membandingkan data-data yang didapat berupa hasil dari pengamatan berupa wawancara dan dokumentasi yang berkaitan. Triangulasi penulis menggunakan check-rechek, cross check, konsultasi dengan guru TK Ainul Yaqin .
61Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, 372.
62Sugiyono, 373.
E. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan dan setelah dilapangan.63
Penulis menggunakan teknik analisis data yaitu, reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan /verifikasi.
1. Reduksi Data
Reduksi data merupakan cara merangkum, memilih hal- hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari teman tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu.64
Langkah yang dilakukan adalah memfokuskan analisis, menggolongkan atau mengkategorikan kedalam tiap permasalahan melalui uraian singkat, mengarahkan, menghilangkan yang tidak penting dan mengorganisasikan data sehingga dapat ditarik data yang direduksikan antara lain seluruh data mengenai permasalahan penelitian.
63Sugiyono, 336.
64Sugiyono, 338.
2. Penyajian Data
Penyajian data yaitu mengumpulkan segala informasi yang sistematis dan dapat ditarik kesimpulan sehingga memberikan informasi yang diperlukan.65 Penyajian data dilakukan agar data tersusun rapi untuk mudah dipahami.
Penyajian data bisa disajikan dalam bentuk uraian naratif, bagan, hubungan serta diagram alur. Penyajian data dalam bentuk tersebut untuk mempermudah peneliti dalam memahami apa yang terjadi.
3. Menarik Kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan langkah akhir yang dilakukan yakni dapat dilakukan dengan menarik kesimpulan secara diskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih belum jelas sehingga setelah diteliti menjadi lebih jelas.
Penarikan kesimpulan didasarkan atau verifikasi yaitu usaha untuk mencari atau memahami makna ataupun arti, keteraturan, pola-pola atau proporsi.66 Penarikan kesimpulan didasarkan pada suatu permasalahan dalam penelitian ini sehingga dapat menjawab permasalahan tersebut dengan jelas.
65Sugiyono, 341.
66 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2013), 345.
BAB IV
HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Sejarah TK Ainul Yaqin Tegal Rejo Trimurjo Lampung Tengah
TK Ainul Yaqin berdiri pada tahun 2014, awal mula bangunan tersebut sebagai tempat Taman Pendidikan Al-Quran (TPA). Dikarenakan di daerah Tegal Rejo belum terdapat TK/RA maka dari itu masyarakat sekitar ber inisiatif untuk menjadikan bangunan TPA sebagai lembaga pendidikan yakni Taman Kanak-Kanak yang dimana bekerja sama dengan SD yang ada didaerah tersebut.67
2. Visi dan Misi TK Ainul Yaqin Tegal Rejo Trimurjo Lampung Tengah a. Visi
Terwujudnya generasi yang bermartabat, berkreasi dan berbudi pekerti.
b. Misi
1) Mewujudkan anak didik yang bermanfaat dan berbudi pekerti.
2) Memberi kebebasan kepada anak didik agar berkreasi dan bertanggung jawab.68
67Sri Rohani, Hasil Wawancara Kepala TK Ainul Yaqin Tegal Rejo, September 8, 2020.
68Sri Rohani.
3. Letak Geografis TK Ainul Yaqin Tegal Rejo Trimurjo Lampung Tengah
Nama sekolah : TK Ainul Yaqin Tegal Rejo
Provinsi : Lampung
a. Lokasi
1) Letak lokasi : Strategis
2) Jarak lokasi ke- Kecamatan : 1 KM
3) Transportasi : Terjangkau
4) Nomor Statistik NIS : 002120201207
5) NPSN : 69945360
b. Kondisi Lokasi
1) Kondisi dan Jalan ke Lokasi : Mudah dan Cepat
2) Sumber Polusi : Tidak Ada
3) Gangguan Alam yang Terjadi : Tidak Ada c. Tanah
1) Status Tanah : Sertifikat
2) Peruntukkan Tanah
- Bangunan : Ada
- Parkir : Ada
- Jalan Setapak : Ada
- Lapangan Upacara : Ada - Halaman Bermain di Luar : Ada
3) Keadaan Lokasi : Baik 69
69TK Ainul Yaqin Tegal Rejo, Hasil Dokumentasi, September 8, 2020.
4. Keadaan Guru dan Karyawan TK Ainul Yaqin Tegal Rejo Lampung Tengah
Tabel 4.1
Data Kepala TK dan Guru di TK Ainul Yaqin Tegal Rejo
No Nama/NIP Pangkat
GOL/Ruang Status Tugas
Mengajar Ket
1. Sri Rohani - Honor - Kepala TK
2. Yuliyanti - Honor Kelompok B Guru Kelas
3. Riska
Anggraena - Honor Kelompok A Guru Kelas
Sumber : Hasil Dokumentasi TK Ainul Yaqin Tegal Rejo, Pada Tanggal 07 September 2020
5. Data Siswa TK Ainul Yaqin Tegal Rejo Trimurjo Lampung Tengah Tabel. 4.2
Data Siswa TK Ainul Yaqin Tegal Rejo Data Masukan TK Ainul Yaqin Tegal Rejo
Tahun Pelajaran
Diterima
Ket
L P JML
2014/2015 10 13 23 -
2015/2016 3 15 18 -
2016/2017 10 13 23 -
2017/2018 20 13 33 -
2018/2019 17 16 33 -
Sumber : Hasil Dokumentasi TK Ainul Yaqin Tegal Rejo, Pada Tanggal 07 September 2020
6. Struktur Organisasi TK Ainul Yaqin Tegal Rejo, Trimurjo Lampung Tengah
Gambar 4.1
Struktur Organisasi TK Ainul Yaqin Tegal Rejo
B. Data Hasil Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualititatif deskriptif, dengan menggunakan dua teknik pengambilan data yaitu teknik wawancara dan dokumentasi. Dalam pengambilan data penulis merujuk pada 3 narasumber yaitu Kepala TK, Guru kelas kelompok B dan Wali murid kelompok B.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan 2 narasumber yaitu Kepala TK dan Guru Kelas Kelompok B, adapun hasil data yang didapatkan diantaranya :
KEPALA TK Sri Rohani
GURU KELAS B Yuliyanti
PESERTA DIDIK
GURU KELAS A Riska Anggraena
1. Penerapan Metode Bercerita untuk Meningkatkan Perkembangan Sosial Emosional Anak Kelompok B di TK Ainul Yaqin Tegal Rejo Trimurjo Lampung Tengah di Masa Pandemi.
Dalam pembelajaran perlu adanya penerapan suatu metode belajar yang dapat menstimulus anak khususnya dalam perkembangan sosial emosional anak. Adapun dari beberapa metode belajar yang sering digunakan salah satunya adalah metode bercerita namun, ditengah pandemi yang sedang terjadi kegiatan pembelajaran akan mengalami sedikit perbedaan dengan pembelajaran sebelumnya dimana kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah masing-masing. Adapun salah satu kegiatan yang kegiatan belajar mengajarnya dilakukan dari rumah yaitu TK Ainul Yaqin Tegal Rejo Trimurjo Lampung Tengah.
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan Ibu Sri Rohani selaku Kepala TK di TK Ainul Yaqin Tegal Rejo Trimurjo Lampung Tengah, cara penerapan yang dilakukan pihak sekolah dalam masa pandemi Covid-19 yaitu dengan sistem berkelompok. Sistem berkelompok diartikan dengan kelompok B dibagi menjadi 2 kelompok.
Jumlah murid kelompok B terdiri 10 murid maka setiap kelompok terdiri 5 murid. Pembelajaran dilakukan dirumah dimana rumah tersebut adalah rumah wali murid dimana tempat nya setiap hari akan bergantian tidak menetap pada satu rumah wali murid saja.70 Berdasarkan penuturan Ibu Sri Rohani selaku Kepala TK, yaitu:
70Sri Rohani, Hasil Wawancara Kepala TK Ainul Yaqin Tegal Rejo, September 8, 2020.
“Kita lakukan berkelompok dengan belajar dirumah wali, untuk waktu itu setiap hari tapi bergantian untuk harinya, jadi sehari kelas A dan sehari lagi kelas B, terus jamnya selama pembelajarannya hanya satu setengah jam.”71
Kemudian, berdasarkan hasil wawancara dengan Guru Kelas Kelompok B Ibu Yuliyanti, dalam kegiatan pembelajaran khususnya kegiatan bercerita sebelum adanya pandemi kegiatan bisa dilakukan sekali saat bertatap muka namun dengan adanya covid-19 maka kegiatan pembelajaran dilakukan dua kali dengan maksud pembelajaran dengan kelompok yang sama selama 2 hari dengan kelompok berbeda. Adapun langkah-langkah penerapan pembelajaran ini dilakukan tetap sesuai dengan protokol kesehatan.
Adapun langkah-langkah penerapan metode bercerita untuk meningkatkan perkembangan sosial emosional anak kelompok B diantaranya:
a. Mengkomunikasikan tujuan dan tema
Guru kelas kelompok B sebelumya mengambil satu judul, contoh dongeng kancil atau cerita rakyat untuk kegiatan bercerita. Judul cerita yang diambil disesuaikan dengan perkembangan sosial emosional anak.
Untuk kegiatan bercerita guru akan menetapkan rancangan langkah-langkah kegiatan salah satunya menetapkan cerita sesuai tema pada hari itu, wawancara yang dilakukan dengan guru kelas kelompok B, beliau mengatakan;
71Sri Rohani, Hasil Wawancara Kepala TK Ainul Yaqin Tegal Rejo, September 8, 2020.
“untuk cerita tidak juga disesuaikan dengan tema, bercerita dilakukan satu minggu dua kali jadi bercerita itu hanya sebagai suatu kegiatan saja. Jadi, kita gak harus sesuai dengan tema saja.Kalau disini kita bebas mau mendongeng apa saja”, penjelasan Ibu Yuliyanti.72
Berdasarkan hasil wawancara kegiatan bercerita memang di cantumkan ke dalam RPPH, namun untuk pihak sekolah tidak berpaku pada tema yang ada dalam kegiatan bercerita.Kegiatan bercerita terkadang disesuaikan dengan pembelajaran hari itu.
b. Menetapkan media yang digunakan
Untuk kegiatan bercerita dapat tersampaikan dengan baik kepada murid, guru hendaknya menggunakan alat perantara.
Media memiliki tujuan agar anak memahami dan mengetahui tentang tokoh-tokoh yang ada pada cerita yang disampaikan.
Media dalam bercerita terdiri dari buku bercerita atau dongeng, boneka, gambar, video dan lain-lain.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada guru kelas kelompok B Ibu Yuliyanti, beliau menjelaskan rancangan pemilihan media dalam bercerita ada, untuk media yang digunakan dalam pembelajaran Ibu Yuliyanti lebih sering pada media gambar dan buku cerita.73
72Yuliyanti, Hasil Wawancara Guru Kelas Kelompok B TK Ainul Yaqin Tegal Rejo, September 8, 2020.
73Yuliyanti, Hasil Wawancara Guru Kelas Kelompok B TK Ainul Yaqin Tegal Rejo, September 8, 2020.