BAB III PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN DANA
3.6 Faktor Pendorong dan Penghambat dalam Pemanfaatan
pembiayaan insentif guru-guru dan penyiapan parasaran komunikasi internet (terbatas di kantor desa), dan pembangunan beberapa fasilitas sarana olahraga.
Kontribusi dalam peningkatan pendapatan desa dan warga masyarakatnya, dapat dilihat pada kontribusi dana desa untuk mendukung pengembangan usaha BUMDesa, dan usaha peternakan sapi di desa, serta kegiatan inovatif warga (pembuatan kompos). Meskipun hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan, mereka menilai bahwa dana desa telah memberikan manfaat besar bagi peningkatan taraf hidup di Desa Sausu Trans. Pada tahun 2017 Desa Sausu Trans berubah status menjadi desa maju (IDM: 0.7633).
3.6.1 Desa Aloo
Faktor pendorong pemanfaatan dana desa di Desa Aloo adalah kebutuhan Desa terhadap keberadaan Bidan yang residen. Untuk mewujudkannya, desa memanfaatkan dana desa untuk membiayai insentif dan juga pemondokan bagi Bidan yang bertugas di desanya.
Sementara itu, faktor penghambat alokasi dana desa di Desa Aloo adalah masalah pencairan dana desa yang lambat serta kondisi geografis mempengaruhi perencanaan program kerja yang tidak maksimal. Hal itu didukung pula oleh rendahnya partisipasi masyarakat terhadap kegiatan bimbingan dan pelaksanaan program kerja itu sendiri.
3.6.2 Desa Tumpapa Indah
Pendorong pemanfaatan dana desa Tumpapa Indah adalah desakan kebutuhan untuk memperbaiki kualitas pendidikan di desa melalui pemberian insentif tambahan bagi guru-guru PAUD, penyediaan akses internet desa, melalui pemasangan wifi, penyediaan sumber perolehan air bersih melalui pembangunan usaha air minum isi ulang, dan kebersihan lingkungan, melalui pembiayaan konsumsi kegiatan gotong royong. Semua kegiatan tersebut menggunakan alokasi dana desa.
Kendala utama yang dihadapi dalam pemanfaatan dana desa adalah masih kurangnya masyarakat yang ingin mengelola depo pengisian air, karena belum semua masyarakat mengetahui tujuan dan manfaat dari usaha
3.6.3 Desa Olobaru
Faktor pendorong pemanfaatan dana desa di Desa Olobaru adalah kuatnya sinergi yang terjalin antara pemerintah desa dan masyarakat, peran pendamping dalam penyusunan program dan penganggaran yang baik serta kegiatan sosialisasi dan pelatihan. Yang berjalan secara intensif, mendukung kesiapan desa ini di dalam pemanfaatan dana desa secara efisien dan efektif.
Faktor penghambat lebih pada regulasi, antara kebijakan pusat dan aturan di desa, terbatasnya penggunaan dana desa bagi kegiatan yang telah didanai oleh sumber lain, dan adanya tumpang tindih kewenangan dalam pengerjaan sarana pembangunan jalan, serta Laporan LPJ yang tidak sesuai dengan pengerjaan fisik yang juga diakibatkan oleh terkendalanya pengerjaan karena menunggu adanya keputusan akibat perbedaan aturan daerah dan kebijakan desa.
3.6.4 Desa Olaya
Faktor pendorong pemanfaatan dana desa adalah kebutuhan mendesak untuk mendanai sejumlah kader posyandu, pelatihan kader kesehatan, kegiatan sosialisasi kesehatan, serta pembangunan drainase jalan dan sumur bor.
Sementara itu, faktor penghambat pemanfaatan dana desa adalah masalah transfaransi alokasi penggunaan dana desa sehingga kepercayaan (trust) masyarakat berkurang terhadap pengelola dana desa.
3.6.5 Desa Sausu Trans
Faktor pendorong pemanfaatan dana desa di Sausu Trans adalah kebutuhan terhadap pendanaan sejumlah kebutuhan pendanaan tambahan, untuk kegiatan posyandu Balita dan Lansia, penyediaan sarana MCK bagi warga pengungsi korban Poso, pembelian bantuan bibit unggul dan ternak sapi untuk bantuan pengembangan usaha kepada warga, membangun pasar desa (sharing dana BUM Desa dan Dana Desa) untuk tujuan peningkatan pendapatan desa dan masyarakat.
Sementara itu, penghambat pemanfaatan dana desa lebih pada pendistribusian dana yang tidak proporsional, karena masih mengutamakan pemerataan. Padahal, luas wilayah desa ini luas dan dan jumlah penduduknya lebih banyak di banding desa sampel lainnya. Selain itu, beberapa usaha yang selama ini dikembangkan tidak dapat dilanjutkan (usaha simpan pinjam, dan usaha pembuatan biogas), sehingga pemanfaatan dana desa untuk mendukung kegiatan tersebut ikut terhambat.
Berdasarkan hasil survey, kepuasan masyarakat terhadap manfaat dan kepuasan dana desa tahun 2018 di 5 desa sampel diperlihatkan pada gambar berikut:
Gambar 3.49 Hasil Survei Manfaat dan Kepuasan Masyarakat terhadap Manfaat Dana Desa Tahun 2018 di Desa Aloo (Desa Sangat Tertinggal)
Gambar 3.50 Hasil Survei Manfaat dan Kepuasan Masyarakat terhadap Manfaat Dana Desa Tahun 2018 di Desa Tumpapa Indah (Desa Tertinggal)
Gambar 3.51 Hasil Survei Manfaat dan Kepuasan Masyarakat terhadap Manfaat Dana Desa Tahun 2018 di Desa Olobaru (Desa Berkembang)
Gambar 3.52 Hasil Survei Manfaat dan Kepuasan Masyarakat terhadap Manfaat Dana Desa Tahun 2018 di Desa Olaya (Desa Maju)
Gambar 3.53 Hasil Survei Manfaat dan Kepuasan Masyarakat terhadap Manfaat Dana Desa Tahun 2018 di Desa Sausu Trans (Desa Maju)
BAB IV INOVASI DESA
4.1 Inovasi yang Dijalankan
Desa memiliki peran yang penting, khususnya dalam pelaksanaan tugas di dalam pelayanan publik.
Desentralisasi kewenangan yang lebih besar disertai dengan pembiayaan dan bantuan sarana dan prasarana yang memadai mutlak diperlukan guna penguatan otonomi desa menuju kemandirian desa. Dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa, posisi pemerintahan desa semakin menjadi kuat. Kehadiran Undang-Undang tentang desa tersebut selain merupakan penguatan status desa sebagai pemerintahan masyarakat, sekaligus juga sebagai basis untuk memajukan masyarakat dan pemberdayaan masyarakat desa.
Salah satu amanah dari keberadaan Undang- Undang Nomor 6 tentang Desa ialah adanya fasilitas untuk menciptakan desa di Indonesia yang demokratis, mandiri, dan sejahtera. Salah satunya diwujudkan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi melalui Program Inovasi Desa.
Inovasi dalam definisi yang luas dapat diartikan sebagai proses dari hasil pengembangan pemanfaatan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman baik secara individu maupun kelompok untuk menciptakan atau
atau jasa yang dapat memberikan nilai tambah baik dalam bidang infrastruktur, sumber daya manusia, ekonomi, dan sosial budaya. Inovasi merupakan setiap ide atau pun gagasan baru yang belum pernah ada ataupun diterbitkan sebelumnya. Sebuah inovasi biasanya berisi terobosan- terobosan baru mengenai sebuah hal yang diteliti oleh sang inovator (orang yang membuat inovasi). Inovasi biasanya sengaja dibuat oleh sang inovator melalui berbagai macam aksi atau pun penelitian yang terencana.
Inovasi Desa diperlukan ketika organisasi menghadapi stagnase atau risiko akibat adanya suatu acaman. Inovasi adalah ide kreatif untuk mendongkrak pelaksanaan kegiatan pembangunan di Desa, ketika mengalami kelambanan dan/atau kelesuan akibat berbagai kendala, baik internal maupun eksternal. Selain untuk mendongkrak kondisi stagnan yang dihadapi, inovasi juga diperlukan untuk meningkatkan dan mengakselerasi kegiatan pembangunan di Desa sehingga lebih cepat mencapai tujuan yang diharapkan, yakni meningkatkan pemerataan pembangunan desa menuju kepada kesejahteraan masyarakat Desa melalui peningkatan pelayanan publik di desa, memajukan perekonomian desa, mengatasi kesenjangan pembangunan antardesa serta memperkuat masyarakat desa sebagai subjek dari pembangunan.
Melalui inovasi yang terus-menerus dan berkelanjutan, Desa dapat mempertahankan dan/atau meningkatkan statusnya secara bertahap.
Inovasi dalam pembangunan sebenarnya telah dinyatakan secara tegas dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yaitu pada Bab XXI tentang Inovasi Daerah, khususnya Pasal 386 bahwa inovasi dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kinerja pemerintah daerah melalui semua bentuk pembaharuan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Dalam Pasal 387, dikemukakan prinsip-prinsip yang harus diacu dalam merumuskan kebijakan inovasi, yaitu (a) meningkatan efisiensi; (b) perbaikan efektivitas;
(c) perbaikan kualitas pelayanan; (d) tidak ada konflik kepentingan; (e) berorientasi kepada kepentingan umum;
(f) dilakukan secara terbuka; (g) memenuhi nilai-nilai kepatutan; dan (h) dapat dipertanggungjawabkan hasilnya tidak untuk kepentingan diri sendiri (Lembaran Negara RI Nomor 244 Tambahan Lembaran Negara RI No.5587, 2014).
Lebih lanjut terkait dengan Inovasi, Menteri Desa, PDTT Republik Indonesia menerbitkan Keputusan Nomor 48 Tahun 2018 tentang Pedoman Umum Program Inovasi Desa, menggantikan kebijakan sebelumnya, yakni Keputusan Menteri Desa, PDTT Nomor 83 Tahun 2017 tentang Penetapan Pedoman Umum Program Inovasi Desa maka pada tanggal 30 Mei 2018, Dalam dictum 4, dinyatakan tentang Ruang Lingkup Pedoman Umum Program Inovasi Desa (PID) yang meliputi 5 (lima) hal pokok, yaitu: (1) Pelaksanaan Pengelolaan Pengetahuan
Bantuan Pemerintah, peningkatan kapasitas Penyedia Jasa Layanan Teknis (PJLT) kepada Desa, dan Pengembangan Sistem Informasi Pembangunan Desa. (2) Penguatan Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan pendampingan Desa, sedangkan PID untuk meningkatkan kualitas penggunaan Dana Desa melalui berbagai kegiatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa yang lebih inovatif dan peka terhadap kebutuhan masyarakat Desa. (3) Pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas pejabat di lingkungan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi terkait dengan visioning, decision making, manajemen, pengawasan, dan mitigasi risiko program. (4) Penyediaan bantuan teknis dan peningkatan kapasitas melalui penyediaan tenaga ahli untuk konsultan dan tenaga dukungan teknis dan kegiatan peningkatan kapasitas untuk mendorong inovasi dalam pembangunan dan pemberdayaan Desa dan peningkatan efektivitas pengelolaan program pendampingan Desa. (5) Pilot Inkubasi PID untuk memberikan dana stimulan dan technical assistant kepada desa terpilih agar dapat mengembangkan produktivitas perekonomiannya.
Mengacu keputusan Menteri Desa PDTT tersebut semua desa di Indonesia telah melaksanakan inovasi pada setiap wilayahnya, termasuk desa yang berada di kabupaten Parigi Moutong, khususnya Desa sampel yang dijadikan sebagai sampel, yaitu: Desa Aloo, Desa Tumpapa Indah, Desa Olobaru, Desa Olaya, dan Desa Sausu Trans.
Uraian kegiatan Inovasi setiap desa dijabarkan sebagai berikut:
4.1.1 Inovasi Pembangunan Desa di Desa Aloo
Berdasarkan hasil wawancara mendalam di Desa Aloo yang mewakili desa dengan kategori sangat tertinggal melakukan proses Inovasi dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk pembibitan Tomat, sayuran (tanaman hortikultura), kemudian dipindahkan ke polybag dan ditata rapi di tangga-tangga kayu yang sudah dibuat.
Proses budi dayanya dilakukan oleh ibu rumah tangga.
Produksi dari usaha rumahtangga tersebut di gunakan sendiri oleh masyarakat dan jika kebutuhan rumahtangga sudah terpenuhi kemudian dipasarkan untuk menambah pendapatan masyarakat di Desa Aloo.
Akseptabilitas dan partisipasi masyarakat dalam penerapan inovasi dengan menanam hortikultura di pekarangan disambut dengan sangat baik oleh masyarakat.
Antusiasme masyarakat dengan melakukan inovasi ini sangat tinggi karena dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga. namun, didalam proses inovasi masih terdapat kendala dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan inovasi yakni akses untuk memperoleh bibit yang berkualitas sangat sulit karena berada di perkotaan.
Hasil inovasi dan pengaruhnya terhadap peningkatan status desa dan kesejahteraan masyarakat dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat karena selain
pendapatan ibu rumah tangga, serta dapat memberi pengetahuan bagi masyarakat tentang pemanfaatan lahan sekitar yang dapat menghasilkan. Keunggulan dari inovasi yang dilakukan adalah tidak memerlukan lahan yang luas, perawatannya sangat mudah, dan tidak memerlukan tenaga kerja yang banyak. Inovasi ini sangat mudah dilakukan oleh masyarakat karena tidak memerlukan pengetahuan bercocok tanam secara mendetail, adanya efisiensi biaya, dan budi dayanya tidak memerlukan waktu yang lama.
4.1.2 Inovasi Pembangunan Desa di Desa Tumpapa Indah Proses Inovasi Desa (PID) juga dilakukan oleh Desa Tumpapa Indah dengan melakukan inovasi pada tanaman kelor. Daun kelor adalah tanaman yang memiliki ssegudang manfaat dengan ukurannya yang kecil, daun kelor juga memiliki bentuk oval dan bertangkai. Tinggi pohon bisa mencapai 11 meter dengan ujung-ujung rantingnya dihiasi bunga berwarna kuning beraroma harum. manfaat baik dari daun kelor adalah antistres, menurunkan gula
Gambar 4.1 Kelompok Tani Wanita di Desa Aloo
darah, mengurangi peradangan, menurunkan kolesterol, kaya antioksidan, antikanker, antidiabetes, mengobati arthritis, menjaga kesehatan sistem pencernaan, dan menyehatkan mata. Melihat dari banyaknya manfaat daun kelor mendorong masyarakat di Desa Tumpapa Indah mengembangkan produk inovasi dengan membuat teh dari daun kelor. Tujuan dari pengembangan produk teh daun kelor adalah memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.
Akseptabilitas dan partisipasi masyarakat pada pembuatan teh daun kelor mendapat perhatian dari masyarakat di Desa Tumpapa Indah tapi belum diproduksi dalam jumlah yang besar karena bahan baku yang tersedia masih kurang. Kendala dan tantangan lainnya produk inovasi teh ini adalah belum memperoleh izin dari BPOM.
Keunggulan dari inovasi yang dilakukan ini terutama dapat dilihat dari (i) keramahan lingkungan. Produk inovasi teh daun kelor tidak menimbulkan limbah yang bisa membahayakan lingkungan karena bahan dasar yang digunakan tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya. (ii) Penerapan oleh masyarakat sangat mudah diproduksi oleh masyarakat, hanya saja terkendala pada pemasaran. (iii) Kemudahan, efisiensi biaya, waktu, dan tenaga kerja. (iv) Pembuatan inovasi cukup mudah dibuat oleh masyarakat karena prosesnya sangat sederhana, menggunakan biaya yang sedikit, dengan efisiensi waktu pada proses pembuatannya.
4.1.3 Inovasi Pembangunan Desa di Desa Olobaru
Proses inovasi juga dilakukan Desa Olobaru adalah mengembangkan pupuk kompos sebagai produk inovasi dan digunakan memupuk tanaman yang dimiliki masyarakat serta menurunkan penggunaan pupuk anorganik. Proses inovasi pembuatan pupuk kompos ini dilakukan masyarakat karena didorong melimpahnya bahan baku yang ada di sekitar tempat tinggal dan proses pembuatannya tidak menggunakan teknologi tinggi.
Pupuk kompos itu sendiri adalah salah satu pupuk organik buatan manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa bahan organik seperti tanaman maupun hewan. Proses pengomposan dapat berlangsung secara aerobik, yaitu melibatkan oksigen dan anaerobik atau tanpa menggunakan osigen di dalam prosesnya. Proses dekomposisi atau penguraian inilah yang menjadikannya disebut sebagai pupuk kompos. Sedangkan arti dari proses pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.
Keunggulan dari pupuk kompos sehingga masyarakat tertarik mengembangkannya adalah lebih murah, hal ini disebabkan kompos terbuat dari bahan-bahan yang mudah didapat dan ada banyak di sekitar kita. Tak hanya itu, kompos biasanya dibuat dari bahan yang sudah dibuang seperti sampah dan kotoran hewan, jadi, biaya untuk bahan bakunya bisa dipastikan akan sangat murah.
Lebih Ramah Lingkungan, Pupuk kimia memang sangat baik bagi pertanian dan terbukti mampu meningkatkan kesuburan tanah. Namun bila pemakaiannya berlebihan, maka hal ini akan mengganggu keseimbangan sifat kimia dalam tanah. Mengurangi Pencemaran Lingkungan, Kompos dibuat dengan memanfaatkan sampah yang sudah tak terpakai dan tidak memiliki nilai ekonomis, misalnya, sampah daun dari taman, sampah rumah tangga, atau sisa-sisa makanan. Bila hanya dibuang dan dibiarkan menumpuk, sampah ini pastinya mencemari lingkungan dan mengganggu pemandangan. Mudah Dibuat oleh Siapa Saja, Kompos sangat mudah dibuat dan tidak membutuhkan proses yang rumit, jadi siapa saja bisa membuat jenis pupuk yang satu ini, termasuk para petani. Karena bisa membuat sendiri, maka petani juga tidak perlu mengeluarkan biaya lebih banyak untuk membeli pupuk.
Pupuk kompos yang dihasilkan oleh masyarakat memberikan dampak terhadap peningkatan produksi tanaman yang dikembangkan dan pendapatan masyarakat di Desa Olobaru. Inovasi pembuatan pupuk kompos juga memberikan manfaat yang besar karena produk pupuk tersebut sudah dikenal bukan saja oleh masyarakat Desa Olobaru tetapi juga desa yang bertetangga dengan desa tersebut karena menjadi unit bisnis yang memberikan manfaat baik untuk meningkatkan produksi maupun kesejahteraan.
Selain pupuk kompos di Desa Olobaru juga dikembangkan budi daya lebah madu. Inovasi lebah madu dikembangkan karena melihat peluang pasarnya yang baik dan banyak konsumen, baik di Desa Olobaru sendiri maupun dari desa lainnya. Tingginya minat untuk mengembangkan lebah madu ini disebabkan memiliki harga yang stabil dan banyaknya khasiat lebah madu bagi tubuh manusia. Khasiat madu untuk wajah dan jerawat dikenal sejak zaman dulu. Salah satu keunikan madu adalah karena madu mengandung zat antibiotik.
4.1.4 Inovasi Pembangunan Desa di Desa Olaya
Proses inovasi desa juga dilakukan oleh Desa Olaya yang menitikberatkan pada inovasi pariwisata. Inovasi
Gambar 4.2 Budidaya Lebah Madu di Desa Olobaru
pariwisata ini dilakukan karena banyaknya objek wisata yang bisa dikunjungi wisatawan lokal, regional, bahkan internasional karena Desa Olaya memiliki pesisir pantai yang indah dengan nama “PANTAI TUTURUGA”.
Desa Olaya sedang dan telah melakukan usaha pemberdayaan ekonomi rakyat di Pantai Tuturuga berupa pembuatan video, foto-foto, dan banner. Objek wisata ini sangat berpotensi untuk meningkatkan perekonomian untuk masyarakat Desa Olaya dan berkontribusi terhadap pendapatan desa sehingga tercapainya kesejahteraan masyarakat karena memiliki keindahan pantai sehingga mengundang wisatawan lokal untuk berkunjung di pantai, Dengan semua keindahan yang dimiliki maka masyarakat setempat mulai memikirkan membangun tempat tersebut menjadi objek wisata agar dapat mendatangkan penerimaan bagi Desa Olaya. Upaya pengembangan objek Wisata Pantai Tuturuga dapat dijadikan wadah untuk memberdayakan perekonomian masyarakat di sekitar maupun masyarakat luas.
Kegiatan ekonomi masyarakat ataupun kegiatan lainnya akan memicu permasalahan lingkungan sekitar objek wisata Pantai Tuturuga. Permasalahan tersebut terhadap penurunan kualitas lingkungan, ekosistem laut.
Inovasi desa pariwisata di objek wisata Pantai Tuturuga yang dilakukan oleh pemerintah Desa Olaya mendapat dukungan positif dari masyarakat serta swasta atau dunia usaha yang memberikan pengaruh terhadap aspek sosial.
yang merasakan dari semua kegiatan pariwisata adalah masyarakat sekitar. Namun, kendala yang dirasakan terkait dengan inovasi pariwisata adalah akses dan sosialisasi pemanfaatan tempat/lokasi pariwisata yang masih terbatas, dan fasilitas pendukung pariwisata yang belum memadai.
Selain inovasi desa sektor pariwisata Desa Olaya juga mengembangkan inovasi pembuatan keripik pisang dengan beragam rasa seperti pada Gambar 4.3. Inovasi ini lahir dari banyaknya warga masyarakat terutama ibu PKK di Desa Olaya yang belum mempunyai keahlian dalam mengelolah potensi local, terutama produksi pisang.
Beberapa hal di atas yang mendorong terciptanya keripik pisang dengan varian tujuh rasa. Adanya inovasi dengan memanfaatkan bahan baku yang berlimpah mendorong peningkatan perekonomian di Desa Olaya.
Gambar 4.3 Keripik Tujuh Rasa di Desa Olaya
4.1.5 Inovasi Pembangunan Desa di Desa Sausu Trans
Proses inovasi yang sudah diimplementasikan di Desa Sausu Trans adalah pembuatan biogas. Namun, proses inovasi ini masih sebatas melayani beberapa rumah tangga saja karena memiliki kendala dengan bahan baku untuk menghasilkan biogas. Awalnya tingkat penerimaan masyarakat tinggi, masyarakat berharap inovasi biogas ini dapat mengurangi biaya konsumsi bahan bakar rumah tangga mereka. Namun, ternyata proses pembuatan biogas memerlukan biaya yang tinggi sehingga masyarakat mengurungkan niat beralih ke bahan bakar biogas.
Kendala dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan tidak memiliki pengaruh terhadap peningkatan status desa dan kesejahteraan masyarakat.
4.2 Kebutuhan Inovasi Desa Lebih Lanjut
Berdasarkan hasil focus grup discussion (FGD) dan workshop dengan aparat desa diperoleh informasi bahwa tahun 2019 setiap desa sudah memiliki perencanaan untuk melakukan inovasi, seperti di uraikan sebagai berikut:
4.2.1 Desa Aloo
Pemerintah Desa Aloo sudah merencanakan tiga kegiatan inovasi lebih lanjut yakni: wisata alam air terjun, wisata pencinta alam gunung sidole, dan wisata goa karang.
Perencanaan inovasi ini dilakukan karena Desa Aloo berada pada wilayah pegunungan dan memiliki sumberdaya alam
Adanya dana desa dapat memberikan peluang bagi Desa Aloo untuk mengembangkannya.
4.2.2 Desa Tumpapa Indah
Desa Tumpapa Indah merencanakan beberapa inovasi lanjutan terutama inovasi wisata alam laut, olahan makanan ikan roa, inovasi kain tenun tradisional dan melanjutkan inovasi teh dari daun kelor. Pemilihan inovasi ini karena Desa Tumpapa Indah memiliki bahan baku yang melimpah sehingga dengan inovasi pada keempat rencana ini akan meningkatkan perekonomian masyakatnya.
4.2.3 Desa Olobaru
Perencanaan inovasi lanjutan di Desa Olobaru adalah pengembangan lebah madu dan membuat kerajinan piring inko.
4.2.4 Desa Olaya
Inovasi lanjutan yang dilakukan di Desa Olaya adalah pengelolaan limbah sabut kelapa menjadi sapu, keset, dan produk turunan dari buah kelapa. Inovasi lanjutan dilakukan karena melihat potensi Desa Olaya yang memiliki tanaman kelapa tersebar dalam desa tersebut.
Pemikiran inovasi ini lahir bahan baku sabut kelapa yang tersebar di Desa Olaya.
4.2.5 Desa Sausu Trans
Desa Sausu Trans merencanakan inovasi lanjutan pada tiga kegiatan inovasi yaitu: ruang terbuka hijau, wisata pemancingan, wisata tempat permandian umum. Inovasi lanjutan ruang terbuka hijau mengadopsi desa di pulau jawa yang menggunakan bahasa asing secara aktif, sehingga memberi ruang pada generasi muda dan masyarakatnya dapat berbahasa asing dengan lancar.
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1 Kesimpulan
1. Total dana desa yang dialokasikan selama tahun 2015-2018 di Sulawesi Tengah mencapai Rp4,42 triliun. Pengalokasian dana desa tahun 2015 sampai 2017 sebagian besar masih digunakan untuk program pembangunan desa di Sulawesi Tengah (81.76%), sementara itu penggunaan untuk pemberdayaan masyarakat hanya sebesar 13.53%.
2. Sejak dana desa diimplementasikan di Sulawesi Tengah, tingkat kemiskinan perdesaan menurun dari 15.90% (Maret 2015) menjadi 15.51% (Maret 2018).
3. Untuk Kabupaten Parigi Moutong, pengalokasian dana desa tahun 2015 sampai 2017 sebagian besar digunakan untuk program pembangunan desa, yaitu 80%, sementara penggunaan untuk pemberdayaan masyarakat hanya sebesar 19%.
4. Pada umumnya masyarakat dan pemerintah desa merasa cukup terbantu karena dana desa memberikan sumbangan yang cukup berarati bagi pembangunan desa, baik dari segi perekonomian, sosial, dan kesejahteraan masyarakat.
5. Kelompok kegiatan fisik yang diberi pendanaan dari dana desa dirasakan sangat bermanfaat adalah jalan desa, drainase, MCK, dan posyandu, sedangkan untuk kegiatan pemberdayaan adalah kegiatan BUMDesa, kader posyandu, makanan tambahan, dan sarana olahraga.