BAB IV INOVASI DESA
4.1 Inovasi yang Dijalankan
Desa memiliki peran yang penting, khususnya dalam pelaksanaan tugas di dalam pelayanan publik.
Desentralisasi kewenangan yang lebih besar disertai dengan pembiayaan dan bantuan sarana dan prasarana yang memadai mutlak diperlukan guna penguatan otonomi desa menuju kemandirian desa. Dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa, posisi pemerintahan desa semakin menjadi kuat. Kehadiran Undang-Undang tentang desa tersebut selain merupakan penguatan status desa sebagai pemerintahan masyarakat, sekaligus juga sebagai basis untuk memajukan masyarakat dan pemberdayaan masyarakat desa.
Salah satu amanah dari keberadaan Undang- Undang Nomor 6 tentang Desa ialah adanya fasilitas untuk menciptakan desa di Indonesia yang demokratis, mandiri, dan sejahtera. Salah satunya diwujudkan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi melalui Program Inovasi Desa.
Inovasi dalam definisi yang luas dapat diartikan sebagai proses dari hasil pengembangan pemanfaatan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman baik secara individu maupun kelompok untuk menciptakan atau
atau jasa yang dapat memberikan nilai tambah baik dalam bidang infrastruktur, sumber daya manusia, ekonomi, dan sosial budaya. Inovasi merupakan setiap ide atau pun gagasan baru yang belum pernah ada ataupun diterbitkan sebelumnya. Sebuah inovasi biasanya berisi terobosan- terobosan baru mengenai sebuah hal yang diteliti oleh sang inovator (orang yang membuat inovasi). Inovasi biasanya sengaja dibuat oleh sang inovator melalui berbagai macam aksi atau pun penelitian yang terencana.
Inovasi Desa diperlukan ketika organisasi menghadapi stagnase atau risiko akibat adanya suatu acaman. Inovasi adalah ide kreatif untuk mendongkrak pelaksanaan kegiatan pembangunan di Desa, ketika mengalami kelambanan dan/atau kelesuan akibat berbagai kendala, baik internal maupun eksternal. Selain untuk mendongkrak kondisi stagnan yang dihadapi, inovasi juga diperlukan untuk meningkatkan dan mengakselerasi kegiatan pembangunan di Desa sehingga lebih cepat mencapai tujuan yang diharapkan, yakni meningkatkan pemerataan pembangunan desa menuju kepada kesejahteraan masyarakat Desa melalui peningkatan pelayanan publik di desa, memajukan perekonomian desa, mengatasi kesenjangan pembangunan antardesa serta memperkuat masyarakat desa sebagai subjek dari pembangunan.
Melalui inovasi yang terus-menerus dan berkelanjutan, Desa dapat mempertahankan dan/atau meningkatkan statusnya secara bertahap.
Inovasi dalam pembangunan sebenarnya telah dinyatakan secara tegas dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yaitu pada Bab XXI tentang Inovasi Daerah, khususnya Pasal 386 bahwa inovasi dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kinerja pemerintah daerah melalui semua bentuk pembaharuan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Dalam Pasal 387, dikemukakan prinsip-prinsip yang harus diacu dalam merumuskan kebijakan inovasi, yaitu (a) meningkatan efisiensi; (b) perbaikan efektivitas;
(c) perbaikan kualitas pelayanan; (d) tidak ada konflik kepentingan; (e) berorientasi kepada kepentingan umum;
(f) dilakukan secara terbuka; (g) memenuhi nilai-nilai kepatutan; dan (h) dapat dipertanggungjawabkan hasilnya tidak untuk kepentingan diri sendiri (Lembaran Negara RI Nomor 244 Tambahan Lembaran Negara RI No.5587, 2014).
Lebih lanjut terkait dengan Inovasi, Menteri Desa, PDTT Republik Indonesia menerbitkan Keputusan Nomor 48 Tahun 2018 tentang Pedoman Umum Program Inovasi Desa, menggantikan kebijakan sebelumnya, yakni Keputusan Menteri Desa, PDTT Nomor 83 Tahun 2017 tentang Penetapan Pedoman Umum Program Inovasi Desa maka pada tanggal 30 Mei 2018, Dalam dictum 4, dinyatakan tentang Ruang Lingkup Pedoman Umum Program Inovasi Desa (PID) yang meliputi 5 (lima) hal pokok, yaitu: (1) Pelaksanaan Pengelolaan Pengetahuan
Bantuan Pemerintah, peningkatan kapasitas Penyedia Jasa Layanan Teknis (PJLT) kepada Desa, dan Pengembangan Sistem Informasi Pembangunan Desa. (2) Penguatan Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan pendampingan Desa, sedangkan PID untuk meningkatkan kualitas penggunaan Dana Desa melalui berbagai kegiatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa yang lebih inovatif dan peka terhadap kebutuhan masyarakat Desa. (3) Pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas pejabat di lingkungan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi terkait dengan visioning, decision making, manajemen, pengawasan, dan mitigasi risiko program. (4) Penyediaan bantuan teknis dan peningkatan kapasitas melalui penyediaan tenaga ahli untuk konsultan dan tenaga dukungan teknis dan kegiatan peningkatan kapasitas untuk mendorong inovasi dalam pembangunan dan pemberdayaan Desa dan peningkatan efektivitas pengelolaan program pendampingan Desa. (5) Pilot Inkubasi PID untuk memberikan dana stimulan dan technical assistant kepada desa terpilih agar dapat mengembangkan produktivitas perekonomiannya.
Mengacu keputusan Menteri Desa PDTT tersebut semua desa di Indonesia telah melaksanakan inovasi pada setiap wilayahnya, termasuk desa yang berada di kabupaten Parigi Moutong, khususnya Desa sampel yang dijadikan sebagai sampel, yaitu: Desa Aloo, Desa Tumpapa Indah, Desa Olobaru, Desa Olaya, dan Desa Sausu Trans.
Uraian kegiatan Inovasi setiap desa dijabarkan sebagai berikut:
4.1.1 Inovasi Pembangunan Desa di Desa Aloo
Berdasarkan hasil wawancara mendalam di Desa Aloo yang mewakili desa dengan kategori sangat tertinggal melakukan proses Inovasi dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk pembibitan Tomat, sayuran (tanaman hortikultura), kemudian dipindahkan ke polybag dan ditata rapi di tangga-tangga kayu yang sudah dibuat.
Proses budi dayanya dilakukan oleh ibu rumah tangga.
Produksi dari usaha rumahtangga tersebut di gunakan sendiri oleh masyarakat dan jika kebutuhan rumahtangga sudah terpenuhi kemudian dipasarkan untuk menambah pendapatan masyarakat di Desa Aloo.
Akseptabilitas dan partisipasi masyarakat dalam penerapan inovasi dengan menanam hortikultura di pekarangan disambut dengan sangat baik oleh masyarakat.
Antusiasme masyarakat dengan melakukan inovasi ini sangat tinggi karena dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga. namun, didalam proses inovasi masih terdapat kendala dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan inovasi yakni akses untuk memperoleh bibit yang berkualitas sangat sulit karena berada di perkotaan.
Hasil inovasi dan pengaruhnya terhadap peningkatan status desa dan kesejahteraan masyarakat dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat karena selain
pendapatan ibu rumah tangga, serta dapat memberi pengetahuan bagi masyarakat tentang pemanfaatan lahan sekitar yang dapat menghasilkan. Keunggulan dari inovasi yang dilakukan adalah tidak memerlukan lahan yang luas, perawatannya sangat mudah, dan tidak memerlukan tenaga kerja yang banyak. Inovasi ini sangat mudah dilakukan oleh masyarakat karena tidak memerlukan pengetahuan bercocok tanam secara mendetail, adanya efisiensi biaya, dan budi dayanya tidak memerlukan waktu yang lama.
4.1.2 Inovasi Pembangunan Desa di Desa Tumpapa Indah Proses Inovasi Desa (PID) juga dilakukan oleh Desa Tumpapa Indah dengan melakukan inovasi pada tanaman kelor. Daun kelor adalah tanaman yang memiliki ssegudang manfaat dengan ukurannya yang kecil, daun kelor juga memiliki bentuk oval dan bertangkai. Tinggi pohon bisa mencapai 11 meter dengan ujung-ujung rantingnya dihiasi bunga berwarna kuning beraroma harum. manfaat baik dari daun kelor adalah antistres, menurunkan gula
Gambar 4.1 Kelompok Tani Wanita di Desa Aloo
darah, mengurangi peradangan, menurunkan kolesterol, kaya antioksidan, antikanker, antidiabetes, mengobati arthritis, menjaga kesehatan sistem pencernaan, dan menyehatkan mata. Melihat dari banyaknya manfaat daun kelor mendorong masyarakat di Desa Tumpapa Indah mengembangkan produk inovasi dengan membuat teh dari daun kelor. Tujuan dari pengembangan produk teh daun kelor adalah memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.
Akseptabilitas dan partisipasi masyarakat pada pembuatan teh daun kelor mendapat perhatian dari masyarakat di Desa Tumpapa Indah tapi belum diproduksi dalam jumlah yang besar karena bahan baku yang tersedia masih kurang. Kendala dan tantangan lainnya produk inovasi teh ini adalah belum memperoleh izin dari BPOM.
Keunggulan dari inovasi yang dilakukan ini terutama dapat dilihat dari (i) keramahan lingkungan. Produk inovasi teh daun kelor tidak menimbulkan limbah yang bisa membahayakan lingkungan karena bahan dasar yang digunakan tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya. (ii) Penerapan oleh masyarakat sangat mudah diproduksi oleh masyarakat, hanya saja terkendala pada pemasaran. (iii) Kemudahan, efisiensi biaya, waktu, dan tenaga kerja. (iv) Pembuatan inovasi cukup mudah dibuat oleh masyarakat karena prosesnya sangat sederhana, menggunakan biaya yang sedikit, dengan efisiensi waktu pada proses pembuatannya.
4.1.3 Inovasi Pembangunan Desa di Desa Olobaru
Proses inovasi juga dilakukan Desa Olobaru adalah mengembangkan pupuk kompos sebagai produk inovasi dan digunakan memupuk tanaman yang dimiliki masyarakat serta menurunkan penggunaan pupuk anorganik. Proses inovasi pembuatan pupuk kompos ini dilakukan masyarakat karena didorong melimpahnya bahan baku yang ada di sekitar tempat tinggal dan proses pembuatannya tidak menggunakan teknologi tinggi.
Pupuk kompos itu sendiri adalah salah satu pupuk organik buatan manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa bahan organik seperti tanaman maupun hewan. Proses pengomposan dapat berlangsung secara aerobik, yaitu melibatkan oksigen dan anaerobik atau tanpa menggunakan osigen di dalam prosesnya. Proses dekomposisi atau penguraian inilah yang menjadikannya disebut sebagai pupuk kompos. Sedangkan arti dari proses pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.
Keunggulan dari pupuk kompos sehingga masyarakat tertarik mengembangkannya adalah lebih murah, hal ini disebabkan kompos terbuat dari bahan-bahan yang mudah didapat dan ada banyak di sekitar kita. Tak hanya itu, kompos biasanya dibuat dari bahan yang sudah dibuang seperti sampah dan kotoran hewan, jadi, biaya untuk bahan bakunya bisa dipastikan akan sangat murah.
Lebih Ramah Lingkungan, Pupuk kimia memang sangat baik bagi pertanian dan terbukti mampu meningkatkan kesuburan tanah. Namun bila pemakaiannya berlebihan, maka hal ini akan mengganggu keseimbangan sifat kimia dalam tanah. Mengurangi Pencemaran Lingkungan, Kompos dibuat dengan memanfaatkan sampah yang sudah tak terpakai dan tidak memiliki nilai ekonomis, misalnya, sampah daun dari taman, sampah rumah tangga, atau sisa-sisa makanan. Bila hanya dibuang dan dibiarkan menumpuk, sampah ini pastinya mencemari lingkungan dan mengganggu pemandangan. Mudah Dibuat oleh Siapa Saja, Kompos sangat mudah dibuat dan tidak membutuhkan proses yang rumit, jadi siapa saja bisa membuat jenis pupuk yang satu ini, termasuk para petani. Karena bisa membuat sendiri, maka petani juga tidak perlu mengeluarkan biaya lebih banyak untuk membeli pupuk.
Pupuk kompos yang dihasilkan oleh masyarakat memberikan dampak terhadap peningkatan produksi tanaman yang dikembangkan dan pendapatan masyarakat di Desa Olobaru. Inovasi pembuatan pupuk kompos juga memberikan manfaat yang besar karena produk pupuk tersebut sudah dikenal bukan saja oleh masyarakat Desa Olobaru tetapi juga desa yang bertetangga dengan desa tersebut karena menjadi unit bisnis yang memberikan manfaat baik untuk meningkatkan produksi maupun kesejahteraan.
Selain pupuk kompos di Desa Olobaru juga dikembangkan budi daya lebah madu. Inovasi lebah madu dikembangkan karena melihat peluang pasarnya yang baik dan banyak konsumen, baik di Desa Olobaru sendiri maupun dari desa lainnya. Tingginya minat untuk mengembangkan lebah madu ini disebabkan memiliki harga yang stabil dan banyaknya khasiat lebah madu bagi tubuh manusia. Khasiat madu untuk wajah dan jerawat dikenal sejak zaman dulu. Salah satu keunikan madu adalah karena madu mengandung zat antibiotik.
4.1.4 Inovasi Pembangunan Desa di Desa Olaya
Proses inovasi desa juga dilakukan oleh Desa Olaya yang menitikberatkan pada inovasi pariwisata. Inovasi
Gambar 4.2 Budidaya Lebah Madu di Desa Olobaru
pariwisata ini dilakukan karena banyaknya objek wisata yang bisa dikunjungi wisatawan lokal, regional, bahkan internasional karena Desa Olaya memiliki pesisir pantai yang indah dengan nama “PANTAI TUTURUGA”.
Desa Olaya sedang dan telah melakukan usaha pemberdayaan ekonomi rakyat di Pantai Tuturuga berupa pembuatan video, foto-foto, dan banner. Objek wisata ini sangat berpotensi untuk meningkatkan perekonomian untuk masyarakat Desa Olaya dan berkontribusi terhadap pendapatan desa sehingga tercapainya kesejahteraan masyarakat karena memiliki keindahan pantai sehingga mengundang wisatawan lokal untuk berkunjung di pantai, Dengan semua keindahan yang dimiliki maka masyarakat setempat mulai memikirkan membangun tempat tersebut menjadi objek wisata agar dapat mendatangkan penerimaan bagi Desa Olaya. Upaya pengembangan objek Wisata Pantai Tuturuga dapat dijadikan wadah untuk memberdayakan perekonomian masyarakat di sekitar maupun masyarakat luas.
Kegiatan ekonomi masyarakat ataupun kegiatan lainnya akan memicu permasalahan lingkungan sekitar objek wisata Pantai Tuturuga. Permasalahan tersebut terhadap penurunan kualitas lingkungan, ekosistem laut.
Inovasi desa pariwisata di objek wisata Pantai Tuturuga yang dilakukan oleh pemerintah Desa Olaya mendapat dukungan positif dari masyarakat serta swasta atau dunia usaha yang memberikan pengaruh terhadap aspek sosial.
yang merasakan dari semua kegiatan pariwisata adalah masyarakat sekitar. Namun, kendala yang dirasakan terkait dengan inovasi pariwisata adalah akses dan sosialisasi pemanfaatan tempat/lokasi pariwisata yang masih terbatas, dan fasilitas pendukung pariwisata yang belum memadai.
Selain inovasi desa sektor pariwisata Desa Olaya juga mengembangkan inovasi pembuatan keripik pisang dengan beragam rasa seperti pada Gambar 4.3. Inovasi ini lahir dari banyaknya warga masyarakat terutama ibu PKK di Desa Olaya yang belum mempunyai keahlian dalam mengelolah potensi local, terutama produksi pisang.
Beberapa hal di atas yang mendorong terciptanya keripik pisang dengan varian tujuh rasa. Adanya inovasi dengan memanfaatkan bahan baku yang berlimpah mendorong peningkatan perekonomian di Desa Olaya.
Gambar 4.3 Keripik Tujuh Rasa di Desa Olaya
4.1.5 Inovasi Pembangunan Desa di Desa Sausu Trans
Proses inovasi yang sudah diimplementasikan di Desa Sausu Trans adalah pembuatan biogas. Namun, proses inovasi ini masih sebatas melayani beberapa rumah tangga saja karena memiliki kendala dengan bahan baku untuk menghasilkan biogas. Awalnya tingkat penerimaan masyarakat tinggi, masyarakat berharap inovasi biogas ini dapat mengurangi biaya konsumsi bahan bakar rumah tangga mereka. Namun, ternyata proses pembuatan biogas memerlukan biaya yang tinggi sehingga masyarakat mengurungkan niat beralih ke bahan bakar biogas.
Kendala dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan tidak memiliki pengaruh terhadap peningkatan status desa dan kesejahteraan masyarakat.