BAB II PAPARAN DAN TEMUAN DATA
B. Faktor Penyebab Lahirnya Childfree
Childfree merupakan istilah baru yang ada dalam pernikahan, walaupun praktiknya sudah banyak dilakukan oleh masyarakat barat terutama Negara-Negara Barat seperti:Belgia, Amerika, Swedia dan Belanda.81
79 Metrotvnews, Kick Andy – Childfree,.. Menit Ke 00.33.52-00.35.37
80 Metrotvnews, Kickandy-Childfree,... Menit Ke 00.45.00-1.00.00
81 Victoria Tunggono, Childfree.., hlm. 14-15
65
Di Indonesia gaya hidup childfree mulai dikenal masyarakat pada akhir tahun 2020 setelah salah seorang influencer mempublikasikan dirinya dan pasangan menganut childfree, walaupun praktiknya sudah ada sebelum itu.
Faktor penyebab lahirnya childfree dibagi menjadi dua, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan suatu sebab yang berasal dari diri pribadi seorang penganut childfree, sedangakan faktor eksternal merupakan suatu sebab yang dipengaruhi oleh hal-hal di luar dari pribadi seorang penganut.
Adapun faktor internal childfree, diantaranya yakni:
a. Faktor psikis
Faktor ini muncul dalam diri seorang childfree‟s seperti:
pengaruh mental seseorang, cara pandang dalam memaknai pernikahan.
b. Gaya Hidup
Pola hidup masyarakat Indonesia dalam rumah tangga dewasa ini memiliki keberagaman dalam sistem pengelolaan rumah tangganya.
Ada yang condong mengikuti sistem berumahtangga negara Barat dan adapula yang mengikuti negara Timur. Dalam pola hidup berkeluarga negara barat lebih menekankan pada kesetaraan gender dalam hak dan kewajiban suami isteri, namun dalam pola hidup kekeluargaan di negara Timur lebih menekankan pada pola hidup zaman klasik Rasullallah Saw. Yang mengikuti sunnah-sunnahnya dalam berumah tangga.
c. Hak Suami-Isteri Dalam Pernikahan
Dalam pernikahan di era modern saat ini, memiliki anak bukan merupakan hal yang utama dan tujuan pokok dalam pernikahan melainkan untuk hidup bersama dengan pasangan.
Memiliki anak merupakan hal yang perlu pertimbangan dan komunikasi dari kedua belah pihak.
Dalam hal memiliki anak ulama mazhab fikih memiliki perbedaan pendapat terkait hak memiliki anak diantaranya yakni:
Pertama, mayoritas ulama’ Syafi’iyah dan Imam Ghozali berpendapat memiliki anak merupakan hak mutlak dari suami, sehingga isteri tidak berhak untuk menolaknya. Kedua, menurut mayoritas ulama’ Hanafiyah berpendapat bahwa yang berhak
66
memutuskan untuk memiliki anak adalah suami dan isteri. Ketiga, menurut sebagian ulama’ Hanafiyah dan sebagian ulama’ Syafi’iyah yakni bukan hanya dari psangan suami isteri semata tetapi juga dari kepentingan masyarakat. Keempat, menurut sebagian ulama’ ahli hadits berpendapat bahwa memiliki anak merupakan hak dari kepentingan negaranya.82
Menurut pendapat penganut childfreemenegaskan dalam wawancaranya di kanal youtube menegaskan sebagai berikut:
“Kita sebagai wanita itu memiliki hak dan kemerdekaan atastubuh kita sendiri. Event pasangan sendiri itu tidak berhak untuk menentukan, misalnya kek loo harus hamil! Harus punya anak dua atau tiga! Gitu, kan bukan mesin iya. Dan yang harus hamil 9 bulan kan bukan suami tapi ya si isteri itu sendiri. Jadi yang berhak menentukan iya si yang punya body, gitu kan. Orang lain ga punya ha sama sekali.”83
Dewasa ini, memiliki anak atau tidak merupakan hak dari pasangan suami isteri, karena hak suami dan isteri sama dalam pernikahan sehingga memiliki anak atau tidak merupakan hasil kesepakatan dan pertimbangan dari kedua belah pihak yakni suami dan isteri.
Adapun faktor eksternal penganut childfree dalam pernikahanyakni sebagai berikut:
a. Faktor Ekonomi
Ekonomi merupakan permasalahan krusial yang ada dalam lini kehidupan dewasa ini, banyaknya penduduk dalam suatu wilayah yang tidak seimbang dengan lowongan pekerjaan yang ada sehingga mengakibatkan perekonomian menjadi semakin sulit. Hal ini menjadi salah satu faktor timbulnya pemikiran dalam masyarakat bahwa untuk menunjang kebutuhan maka diperlukan materil yang cukup banyak, apabila ia blum sanggup dengan tanggung jawab materil secara pribadi maka hal ini menimbulkan kekhawatiran untuk menambah tanggung jawab materil dengan memiliki anak dalam kehidupan pasangan
82 Uswatun Hasanah – M Rasyid Ridho, “Childfree Perspektif Hak Reproduksi Perempuan Dalam Islam” , Vol 3 No. 2 Desember 2021, Hlm. 111-112
83 Menjadi Manusia, “Childfree,...
67
tersebut. Hal ini sesuai dengan temuan data berdasarkan hasil wawancara dari kanal youtube berikut menegaskan bahwa:
“Membutuhkan kesiapan yang matang, mulai dari finansial, dan kesiapan mental. Toh juga bukan mereka yang kasih makan kan, yang bantu membiayai beli susu, biaya sekolah anak dan lain-lain.
Maka kita harus urus kehidupan pribadi dulu.”84
Selain itu, dalam sebuah penelitian menemukan bahwa tingginya biaya membesarkan anak sehingga mengakibatkan banyak pasangan suami isteri yang khawatir dengan hal tersebut.
b. Faktor Lingkungan
Lingkungan menjadi salah satu faktor penyebab lahirnya childfree hal ini dikarenakan bahwa populasi manusia saat ini yang semakin membanyak di atas permukaan bumi sehingga menimbulkan banyak kerusakan yang disebabkan oleh ulah manusia sehingga untuk meminimalisir hal tersebut, para penganut childfree memutuskan untuk tidak menambah populasi manusia yang dikhawatirkan akan merusak sumber daya alam yang ada.
2. Alasan Menganut Childfree
Childfree merupakan sebuah pilihan hidup untuk memilih tanpa memiliki anak dalam pernikahan. Dalam pilihan tersebut, terdapat berbagai macam alasan dari para penganut childfree baik secara pribadi maupun secara pasangan (suami-isteri).
Menurut Victoria Tunggono (seorang penulis buku dg judul childfree and happy) berdasarkan wawancara dalam acara stasiunTV lokal menyatakan bahwa alasan pribadi seseorang menganut childfree berbeda, adapun alasan para penganut childfree secara pribadi yakni:
a. Secara Psikologis
Para penganut childfree dengan alasan pribadi timbul dari ranah emosional dan batin para penganut. Hal ini pula disebabkan karena beberapa hal seperti; masa lalu dari keluarganya yang tidak baik dari para penganut, kondisi fisik dan mental yang merasa tidak mampu untuk mengurus seorang anak, sehingga lebih memilih melampiaskan hal tersebut dengan mengurus binatang peliharaan seperti kucing dan anjing.
84 Menjadi Manusia, “Childfree,...
68 b. Secara Biologis dan Medis
Alasan ini timbul dari ranak biologis dan medis para penganut, seperti; memiliki kelainan secara biologis, memiliki penyakit bipolar, LGBT, tidak mampu menjadi orang tua yang baik sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap anaknya untuk mewariskan hal tersebut.
c. Alasan Ekonomi
Banyaknya para penganut yang beralasan bahwa pandangan ini timbul karena para penganut pernah menjalani kehidupan dengan memiliki ekonomi yang sulit dan pada saat ia dewasa dan merasa mampu secara materil ia hanya ingin menggunakan hasil kerja kerasnya untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain (ia tidak ingin menghabiskan uangnya untuk menghidupi orang, dalam hal ini anaknya). Selain itu, para penganut childfree merasa tidak mampu secara finansial untuk menghidupi seorang anak dengan kondisi finansial yang pas-pasan
d. Alasan Filosofis
Beranggapan bahwa ia tidak ingin membawa jiwa baru di atas bumi yang ini yang keadaannya sudah merosot sehingga khawatir akan terjadinya bencana, seperti karena efek pemanasan gobal sehingga hal demikian akan mengakibatkan penderitaan terhadap anaknya kelak.
para penganut childfree juga berpandangan bahwa dengan memperbanyak diri merupakan salah satu bentuk narsisme.
Selain itu, sebagian orang berpikir untuk hidup dengan cara menginvestasikan uang dan waktunya untuk kepentingan sosial dan tanpa memiliki anak.
e. Alasan Lingkungan
Sebagian orang percaya bahwa populasi manusia di dunia ini sudah sangat banyak sehingga hal ini memiliki efek yang buruk untuk merusak bumi. Hal ini dikuatkan dengan penelitian yang menemukan bahwa kondisi bumi semakin hari kian panas, sehingga para penganut childfree memilih untuk menjaga bumi dengan tidak bereproduksi.85
Adapun alasan childfree dari pasangan yang memilih childfree dalam pernikahannya beragam. Hal ini dibuktikan dengan hasil
85 Victoria Tunggono, Childfree,... hlm. 21-42
69
temuan data oleh peneliti berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan 5 informan dari pasangan yang menganut childfree diantaranya yakni sebagai berikut:
Tabel 2.186
Informan Pasangan Suami Isteri Childfree No. Nama Alamat Usia Tahun Childfree 1. GS & Isteri Sleman 38 Th (2019-Sekarang) 2. VT & Suami DKI Jakarta 34 Th (2020-Sekarang) 3. DD & Isteri Bogor 36 Th (2018-Sekarang) 4. AY & Isteri Jakarta Barat 26 Th (2017-Sekarang) 5. W & Suami Jakarta 28 Th (2015-Sekarang)
Informan 1 berinisial GS bersama Isterinya mengakui sudah childfree selama 3 tahun (Tahun 2019-Sekarang) mengatakan bahwa:
“Punya anak bagi saya itu ribet, saya senang sama anak kecil tapi kalau punya anak sendiri saya tidak berminat. Males untuk bangun pagi, bayi rewel, dan lain-lain. Selain itu juga saya tipe berpetualang jadi akan lebih enak kalau tidak direpotkan dengan mengurus anak kecil.”87
Adapun informan ke-2 yang berinisial VT bersama suami yang mengakui sudah childfree selama 2 tahun (mulai dari tahun 2020- sekarang) menegaskan bahwa alasan childfree yakni sebagai berikut:
“Lebih ke personal happines, seperti: 1) Personal (Kesenangan Pribadi), “saya ingin menikmati hidup berdua bersama suami dengan menggunakan uang kami untuk jalan-jalan, makan enak, jalani hobi, ikut kelas-kelas menarik, dan lain-lain, menggunakan waktu yang ada untuk orang tua, sahabat, keluarga, khususnya aku mau selalu ada untuk orang tua sahabat, keluarga khususnya aku mau selalu ada untuk orang tua dan mertua tanpa ada anak halangan anak.” 2) penyelamatan kebahagiaan pribadi, “selama ini aku kerja keras sampe sakit mental dan raga tetapi tabungannya
86 Observasi dan Wawancara Online, 22 Maret 2022
87 GS, Wawancara, Mataram, 22 Februari 2022
70
kebanyakan untuk bantu keluarga dan sering menahan diri untuk kesenangan pribadi karena harus selalu ada cadangan buat kirim ke keluarga yang butuh. Now: Aku mau enjoy my life dan tidak lagi harus pikir cari uang banyak untuk memelihara anak. 3) Mental dan Tanggung Jawab, “Secara mental, aku ga siap dan ga mau dengan segala penderitaan yg harus aku alami jika hamil dan punya anak, Perawatan Hamil, Biaya melahirkan, Ibu dan Anak sakit, Anak bandel, anak tidak sukses, dan aku ga mau menambah tanggung jawab lagi dalam hidupku.” 4) populasi, “SDA kita mulai menipis karena terlalu banyak SDM, banyak anak dan rakyat terlantar karena ekonomi tidak seimbang, so aku mau gunakan uangku untuk bantu anak2 yang terlantar.”88
Adapun menurut pendapat informan ke-3 yang berinisial DD berusia 36 Tahun yang sudah childfree selama 4 tahun (dari tahun 2018-sekarang) menyatakan alasannya childfree dengan pasangannya yakni sebagai berikut:
“Menyadari bahwa adanya gap antara kapasitas (in terms of time, energy, money) yang saya miliki (dan juga mungkin kebanyakan orang) dengan kebutuhan (in terms of time, energy, money) tumbuh kembang anak secara berkualitas dalam segala aspek, yang mana pada akhirnya akan berpengaruh ke kualitas sumber daya manusia suatu bangsa dalam jangka panjang.”89
Menurut informan ke-4 yang berinisia AY berusia 26 tahun yang telah childfree dengan pasangannya selama 5 tahun (dari tahun 2017-sekarang) menyatakan bahwa:
“Aku memutuskan untuk childfree karena aku tidak punya alasan yang logis untuk harus punya anak.”90
Menurut informan ke-5 berinisial W berusia 28 tahun memilih childfree dengan suaminya sejak 7 tahun yang lalu (mulai tahun 2015- sekarang), adapun alasannya childfree yakni sebagai berikut:
88 VT, Wawancara, Mataram, 22 Maret 2022
89 DD, Wawancara, Mataram, 22 Maret 2022
90 AY, Wawancara, Mataram, 24 Maret 2022
71
“We simply don‟t want kids. Emang nggak mau aja. Cuma kalo penjelasan yang lebih logis mungkin gini iya; 1) setelah kenal karakter diri sendiri dan karakter pasangan, kami berdua tau kalau nggak punya anak akan jauh lebih baik buat kami berdua. 2) dua2nya enggak berminat mengurus anak ataupun menghabiskan uang untuk anak. Tapi yang bisa aku bilang, keputusan untuk childfree ini sudah dipertimbangkan masak-masak dengan segala pro dan kontra. Dan kami tau untuk kami berdua, jauh lebih baik untuk enggak punya anak.”91
Menurut pernyataan penganut pasangan childfree berdasarkan wawancara yang telah dilakukan di salah satu stasiun TV Swasta mengatakan bahwa :
“Untuk keputusan tidak memiliki anak itu kita obrolin pas kita sebelum menikah sebenernya, tapi dari awalan kita pacaran sekalipun kita tidak pernah ada diskusi ingin memiliki anak, jadi bener-bener kita tuh fokusnya pada kita berdua gimana caranya supaya hubungan kita ini berlanjut ke pernikahan karena kita sempat mengalami beberapa tantangan dari segi keyakinan, trus dari restu orang tua dan segala macam, jadi itu aja sebenernya fokus kita.92
salah satu alasan nggak mau punya anak karena aku butuh silent, jadi aku memang tidak terlalu senang punya banyak orang gitu di sekeliling aku agak dingin sih sebenernya tpi itu sih yang aku rasakan. Jadi aku ga bisa imagine 24jam ada orang lain aduh ada banyak ada anak segala macem gitu.93
Dari pernyataan di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa alasan dari pasangan suami isteri beragam baik secara internal (pribadi penganut) maupun eksternal (dari pasangan maupun lingkungan).
adapun alasan pasangan suami isteri menganut childfree berdasarkan hasil temuan data tersebut yaitu:
Pertama, alasan pasangan suami-isteri menganut childfree yakni personal happines (kebahagiaan pribadi) karena dalam
91 W, Wawancara, Mataram, 24 Maret 2022
92 Metrotvnews, Kick Andy – Childfree,.. Menit Ke 00.24.00-00.25.00
93 Metrotvnews, Kick Andy – Childfree,.. Menit ke 00.42.45-00.43.25
72
pernikahannya pasangan suami-isteri lebih fokus terhadap kebahagiaan bersama, sehingga kebersamaan dan kebahagiaan dalam pasangan tersebut lebih intensif untuk saling memperhatikan satu sama lain.
Kedua, alasan selanjutnya yakni faktor psikis atau mental, artinya ketidak siapan dan kekhawatiran dari pasangan suami isteri atas tanggung jawabnya sebagai orang tua untuk mendidik anak karena keterbatasan yang dimiliki oleh pasangan secara psikis.
Ketiga, faktor filosofis, artinya penganut childfree belum menemukan alasan yang logis maupun filosofis untuk memiliki anak dalam pernikahan, bagi mereka anak bukanlah hal yang harus dimiliki disetiap pernikahan karena tanpa adanya alasan yang jelas.
Keempat, alasan ekonomi artinya pasangan memilih childfree karena menganggap bahwa memiliki anak merupakan tanggungan materil bagi pasangan dan pilihan memilih chilfree ini agar terbebas dari tanggungan tersebut serta memilih menggunakan uang pribadinya untuk kebutuhan hidup dan kesenangan pasangan. Hal ini juga dipengaruhi oleh banyaknya tanggung jawab materil oleh penganut childfree
Kelima, alasan fisik artinya pasangan childfree tersebut menganggap bahwa anak merupakan tanggung jawab yang membutuhkan banyak waktu luang dan tenaga sehingga mereka tidak merasa siap akan hal tersebut untuk mengurus anak di dalam menjalani kesehariannya selama hidupnya.
Keenam, alasan lingkungan yang semakin memburuk sehingga berpengaruh terhadap keberlansungan hidup manusia. Selain itu, SDM yang bertambah banyak sehingga tidak seimbang dengan sumber daya alam yang semakin menipis serta polusi yang disebabkan oleh manusia.