• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Childfree dalam Islam

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

2. Konsep Childfree dalam Islam

Dalam pandangan fikih, childfree diartikan sebagai kesepakatan suami-isteri untuk memilih atau menolak untuk tidak memiliki anak setelah adanya hubungan seksual dalam pasangan tersebut. Hal ini dianalogikan dengan beberapa kasus yang hampir serupa dengan pandangan childfree ini diantaranya yakni:

- Sama sekali tidak menikah;

- Menahan diri untuk tidak bersetubuh pasca pernikahan;

- „azl yakni mengeluarkan sperma di luar vagina26.

Dari ketiga hal di atas, maka dapat diinterpretasikan bahwa hal tersebut memiliki tujuan untuk tidak melahirkan seorang anak (keturunan) dari spermanya atau rahim sendiri.

Di dalam al-qur’an maupun hadits tidak terdapat dalil secara tekstual tentang childfree baik hal tersebut yang membolehkan ataupun yang tidak membolehkan. Namun isu ini dikelompokkan dalam ranah fiqh sehingga membutuhkan istinbath hukum melalui al-qur’an maupun hadits serta ijma‟ dan qiyas.27

Dalam menilik permasalahan childfree ini, secara garis besar dapat ditinjau dari dua aspek yakni; Aspek teologis dan aspek yuridis. Pertama, dari aspek teologis apabila suatu pasangan suami isteri yang telah melansungkan pernikahan nalurinya ingin memiliki keturunan, hal ini dikarenakan salah satu tujuan pernikahan adalah melahirkan keturunanyang baik.28

Hal ini terdapat di dalam al-Qur’an surah an-Nahl ayat 72 sebagai berikut :

26 Nano Romadlon Auliya Akbar – Khatibul Umam, Childfree Pasca Pernikahan: Keadilan Hak-Hak Reproduksi Perempuan Perspektif Masdar Farid Mas‟udi Dan Al-Ghazali. Jurnal Islamic Family Law Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Vol. 3, No. 2, 2021

27 Muhammad Aulia Dkk, “Childfree, Bagaimana Muslim Harus Bersikap?”

dalam (eBook : Lembang, 2021. Hlm. 59

28 Ibid, hlm. 52

36

َْىُك ِعا َٔ ْصَأَ ٍِْيَ ْىُكَنَ َمَؼَع ََٔ بًعا َٔ ْصَأَ ْىُكِسُفََْأَ ٍِْيَ ْىُكَنَ َمَؼَعَُ اللَّ َٔ

َِذًَْؼُِِث ََٔ ٌَُُِٕي ْئَُِٚمِطبَجْنبِجَفَأََِۚدبَجِّٛ طناَ ٍَِيَْىُكَل َص َس ًََٔحَذَفَح ََٔ ٍََُِٛث

ََُِْ اللَّ

ٌََٔ ُشُفْكََْٚى

Artinya : “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik- baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dari mengingkari nikmat Allah?”. (QS. An-Nahl [16]: 72)

Dari ayat di atas mengisyaratkan bahwa tujuan menikah adalah untuk melanjutkan keturunan karena hal tersebut juga termasuk dalam fitrah dalam pasangan suami isteri.

Kedua, dari aspek yuridis apabila suatu pernikahan disertai dengan niat untuk memperoleh keturunan yang baik dianggap sebagai suatu ibadah. Dalam hal ini imam al-Ghazali berpendapat bahwa upaya memiliki keturunan menjadi sebuah ibadah ditinjau dari empat sisi, diantaranya yakni :

Pertama, mencari ridha Allah dengan menghasilkan keturunan;

Kedua, mencari cinta Nabi saw. Senan memperbanyak keturunan yang dibanggakan;

Ketiga, berharap keberkahan dari do’a seorang anak yang sholeh setelah orang tuanya meninggal;

Keempat, mengharapkan syafaat sebab anak kecil yang mendahuluinya untuk menghadap sang Ilahi.

Dari penjelasan di atas, maka pasangan suami isteri yang tidak memiliki kelainan secara medis maka dilarang untuk menutup jalan untuk memperoleh keturunan.

Adapun hukum childfree apabila didasarkan pada alasan sesesorang untuk memilih childfree dibagi menjadi tiga jenis,, diantaranya yakni :

a. Hukum Childfree Bagi Laki-Laki Dan Perempuan Yang Memilih Melajang

37

Hukum childfree bagi laki-laki dan perempuan yang memilih melajang (bukan karena alasan finansial) maka hukumnya makruh.29

Hal ini terdapat di dalam sabda Nabi Muhammmad Saw.

tentang larangan melajang yakni sebagai berikut :

َِسَ ْئُيَبَكَ ٍَْي

َ ىُصََحكََُْٚلاَا ًش

ُِِّٗيَ َسَْٛهَفَْحِكَُْٚ َ

َ

Artinya : “Barangsiapa (laki-laki atau perempuan) yang sudah mampu untuk menikah lalu dia tidak menikah, maka dia tidak termasuk golonganku." (HR. Thabrani dan Baihaqi, dengan sanad hasan).30

b. Hukum Childfree Bagi Pasangan Suami – Isteri Muslim

Hukum pasangan suami isteri yang memilihi untuk childfree adalah haram. Hal ini ditinjau dari segi alasan para pasutri yakni sebagai berikut :

 Pemahaman childfree merupakan suatu ide yang berasal dari pemahaman Barat yang berideologi sekularisme31, yakni suatu faham yang memisahkan agama dari urusan lainnya (termasuk hal ini adalah urusan keluarga) dan hanya mempertimbangkan segala sesuatu berdasarkan prinsip manfaat (pragmatisme/utulitarianisme) semata, bukan berdasarkan pemahaman agama (halal/haram).

Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Saw., sebagai berikut :

ََ,ٍعا َسِزِثَ بًػا َسِر ََٔ , ٍشْجِشِثَ ا ًشِْٛشَ ْىُكَهْجَلَ ٍَْيَ ٍَََُسَ ٍُؼِج زَزَن

َُس َسبََٚ:َ بَُْهُلَ ,ُِ ًُُْٕزْكَهَسَنَ تضَ َشْحُعَ إُكَهَسَ ٕنَ ٗ زَح

َلٕ

ََبلَ؟َٖ َسبَظ ُنا ََِٔد َُْْٕٓٛناَ,َالله

؟َ ًٍََْفَ: ََل

Artinya : “sungguh kamu (umat Islam) akan mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga jika mereka

29 M. Husain Abdullah, Dirasat Fi Al Fikr Al Islami, hlm. 111

30 Jalal al-Din al-Suyuti, Lubab al-Hadits, (Surabaya: Al-Miftah, tt: 1996), hlm.

42

31 Kamus Besar Bahasa Indonesia

38

masuk ke liang biawak, niscaya kamu akan tetap mengikuti mereka.” Ada yang bertanya, “apakah yang diikuti itu orang Yahudi dan Nasrani?” Rasullallah Saw. Menjawab, “lalu siapa lagi?”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Beralasan khawatir tentang kemampuan finansial, maka hal ini bertentangan dengan aqidah Islam. Hal ini berdasarkan Firman Allah swt. Yang terdapat dalam al-qur’an surah al- Hud ayat 6 sebagai berikut :

َُىَهْؼَٚ ََٔ بَُٓل ْص ِسَ ِ اللََّ َٗهَػَ لاِاَ ِع ْسَ ْلأاَ ِٙفَ ٍخ ثاَدَ ٍِْيَ بَي َٔ

ٍٍَِٛجُيٍَةبَزِكَِٙفٌَّمُكََۚبََٓػَد َْٕزْسُي ََٔبَْ شَمَزْسُي .

Artinya : “Dan tidak ada satupun makhluk hidup yang bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediaman nya dan tempat penyimpanannya. Semuanya (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahhfuz)32.” (QS. Hud [11] : 6)

 Bertentangan dengan syariah Islam, yakni prinsip dasar dari adanya pernikahan adalah untuk mempunyai keturunan (anak). Hal ini berdasarkan Firman Allah Swt. Sebagai berikut :

َ ٍِْيَ ْىُكَنَ َمَؼَع ََٔ بًعا َٔ ْصَأَ ْىُكِسُفََْأَ ٍِْيَ ْىُكَنَ َمَؼَعَ ُ اللَّ َٔ

َِمِطبَجْنبِجَفَأََِۚدبَجِّٛ طناَ ٍَِيَ ْىُكَل َص َس ًََٔحَذَفَح ََٔ ٍََُِٛثَ ْىُك ِعا َٔ ْصَأ

ٌََٔ ُشُفْكََْٚىَُِْ اللََِّذًَْؼُِِث ٌَََُُِٕٔي ْئُٚ

Artinya : “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagi kamu dari isteri-isteri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu33. (QS. An- Nahl [16] : 72)

32 QS. Hud [11] : 6

33 QS. An-Nahl [16] : 72

39

Hal ini dirumuskan dalam salah satu kitab ulama’

karya Imam Taqiyudin tentang prinsip dasar dari terjadinya pernikahan adalah sebagai berikut :

ََا

ََْلا

َ ٍَِيَُمْط

َُةبَغَِْ ْلاا ََُٔمْس ُنَاَِط َٔ ض نا

َ

Artinya: “prinsip dasar dari adanya pernikahan, adalah untuk mendapatkan anak atau keturunan.” 34

Selain terdapat di dalam ketentuan ayat di atas hal ini pula bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad saw,.

Terkait dengan anjuran untuk memiliki banyak keturunan, sebagai berikut :

ََٗنِاٌَمُع َسََءبَعَ َلبَلَُّػَاللهَٙضسَ ٍسبَسٍََٚثَمِمْؼَيَ ٍَْػ

َ َلبَمَفَىهسََّٔٛهػَاللهَٗهطَِِّٙج ُنا

َْياَ ُذْجَطَأََِِّٙا “

ََش

ًَحأ

َ

ََرَؤَفَأَ ُذِهَرَ َلاَ بَٓ َِا ََٔ ٍلبًََع ََٔ ٍتَسَحَ َداَر

؟بَُٓع ٔ َض

َ:َلبَلَ ، ”

ََلا

َ:َلبَمَفَ َخَضِنب ضناَ ُِبَرَأَ ىُصَ ،ُِبَََُٓفَ َخََِٛب ضناَ ُِبَرَأَ ىُص َ .”

و َزَت ُمُكِب ٌزِثاَكُم ينإف َد ْوُل َوْلا َد ْوُد َولا ا ْوُج َمَمُ ْلْا

Artinya: “dari Ma‟qil bin Yassar Radhiyallahu „anhu berkata,.”datang seorang proa kepada Nabi Saw., dan berkata, “ Aku menemukan seorang wanita yang cantik dan memiliki martabat tinggi namun ia mandul apakah aku menikahinya?”. Nabi Saw., menjawab, “ Jangan !”, kemudian pria itu datang menemui Nabi Saw., kedua kalinya dan Nabi Saw., tetap melarangnya, kemudia ia menemui Nabi Saw., yang ketiga kalinya maka Nabi Saw., berkata,

“Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak (subur) karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan umat-umat yang lain”. (HR. An Nasa’i dan Abu Daud).35

34 Taqiyuddin An Nabhani, An Nizham Al Ijtima‟i Fi Al Islam (Sistem Pergaulan Dalam Islam, terj. M. Nashir, dkk (Bogor : Pustaka Fikrul Mustanir, 2015), hlm. 149

35Muhammad Nashiruddun Al-Albani, Shahih Sunan Abu Daud, (Jakarta:

Pustaka Azzam, 2007), Hlm. 796

40

Hadis di atas menjelaskan bahwa menikah dengan seorang wanita dan penyayang dan subur memiliki makna wanita tersebut mampu menghasilkan keturunan yang banyak.

c. Hukum Childfree Temporal Dengan Alasan Syar’i

Childfree temporal yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu keinginan childfree dalam jangka waktu tertentu (sementara). Maka hal ini di perbolehkan atau hukumnya mubah, dengan dua syarat yaitu :

1) Menggunakan kontrasepsi temporal (sementara) seperti pil KB, bukan dengan kontrasepsi permanen seperti vasektomi atau tubektomi. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Saw.

Terkait dengan larangan untuk melakukan pengebirian (al- ikhtisa’), sebagai tehnik mencegah kehamilan secara permanen yang ada pada saat itu.36

2) Alasannya bersifat syar’i, misalnya untuk menyelesaikan pendidikan, alasan kesehatan dan alasan-alasan lain yang dibenarkan.

3. Tujuan Pernikahan