• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR RISIKO

Dalam dokumen PT BANK CIMB NIAGA TBK (Halaman 94-100)

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Perseroan tidak terlepas dari berbagai macam risiko usaha.

Ruang lingkup usaha Perseroan sebagai bank diantaranya meliputi kegiatan penghimpunan dana masyarakat dan pemberian produk dan jasa-jasa perbankan lainnya termasuk pemberian kredit.

Pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut dapat mengakibatkan timbulnya dampak positif ataupun negatif bagi kelangsungan usaha Perseroan. Dalam penyusunan profil risiko, Perseroan mempertimbangkan aspek materialitas atas dampak risiko tertentu dengan memberikan bobot yang lebih kepada risiko yang lebih material.

Risiko usaha dan risiko umum yang diungkapkan dalam uraian berikut merupakan risiko yang material bagi Perseroan yang dapat mempengaruhi kinerja Perseroan secara umum dan telah disusun berdasarkan bobot dari yang paling signifikan, adalah sebagai berikut:

A. RISIKO UTAMA YANG BERPENGARUH SIGNIFIKAN TERHADAP KELANGSUNGAN USAHA PERSEROAN

RISIKO KREDIT

Risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada Perseroan, termasuk Risiko kredit akibat kegagalan debitur, Risiko konsentrasi kredit, counter party credit risk, dan settlement risk.

Sesuai dengan usaha yang dijalankan Perseroan, terdapat potensi munculnya risiko kredit dari berbagai aktivitas fungsional bank seperti perkreditan, penempatan, investasi, serta pembiayaan perdagangan.

Risiko kredit yang utama adalah munculnya kredit bermasalah. Walaupun telah dilakukan berbagai upaya untuk terus memperbaiki kualitas kredit yang diberikan maupun aset produktif lainnya, namun tidak terdapat jaminan bahwa upaya tersebut dapat memperbaiki kualitas dari debitur bermasalah, dan juga tidak terdapat jaminan bahwa tidak ada debitur lain yang menjadi bermasalah.

Penyaluran kredit Perseroan dapat dikelompokkan kepada penyaluran kredit kepada individual, grup usaha dan juga sektor usaha. Kesulitan yang dihadapi oleh individual, grup usaha dan sektor usaha dimana terdapat konsentrasi penyaluran kredit oleh Perseroan dapat mengakibatkan meningkatnya kredit tidak lancar dari nasabah yang pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap tingginya beban pencadangan dan penurunan pendapatan bunga Perseroan di masa mendatang.

B. RISIKO USAHA YANG BERKAITAN DENGAN PERSEROAN 1. RISIKO OPERASIONAL

Risiko operasional merupakan risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Perseroan. Apabila penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam kegiatan operasional Perseroan tidak dikelola dengan baik, maka dapat mengganggu kelangsungan usaha Perseroan dan pada akhirnya dapat menurunkan kinerja usaha Perseroan.

Perseroan beroperasi di lebih dari 400 cabang, memiliki lebih dari 4000 ATM/CDM dan sekitar 12.000 staff, mencakup lini bisnis Consumer, SME, Commercial hingga Corporate, sehingga memiliki karakteristik dan kompleksitas bisnis yang dinilai cukup kompleks.

Di samping itu, kelangsungan usaha Perseroan juga bergantung pada kemampuan Perseroan dalam menyikapi kemajuan teknologi dan perkembangan standar industri perbankan yang dilakukan dengan biaya yang efektif dan secara tepat waktu. Tidak terdapat jaminan bahwa Perseroan tidak akan menghadapi masalah dalam penerapan teknologi maupun standar industri baru. Kejadian eksternal seperti bencana alam, juga dapat mempengaruhi jalannya operasi Perseroan.

2. RISIKO LIKUIDITAS

Risiko Likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan Perseroan untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Perseroan.

Dalam menjalankan fungsi intermediasinya, sebagian besar dana simpanan masyarakat yang diterima Perseroan disalurkan kembali dalam bentuk kredit dan sebagian lainnya dialokasikan dalam bentuk alat likuid atau asset jangka panjang yang dapat dicairkan sewaktu-waktu yang dimaksudkan sebagai buffer kebutuhan likuiditas, baik dalam situasi normal maupun Stress.

Perseroan menghadapi risiko likuiditas mengingat sebagian besar dana pihak ketiga seperti giro, deposito dan tabungan bersifat jangka pendek, sedangkan kredit yang diberikan memiliki jangka waktu yang relatif lebih panjang. Jika mismatched tenor antara assets dan liabilities tidak dikelola dengan baik, maka dapat menyebabkan adanya kemungkinan Perseroan mengalami kegagalan dalam memenuhi kewajibannya.

3. RISIKO PASAR

Risiko pasar adalah risiko pada posisi neraca dan rekening administratif, termasuk transaksi derivatif, akibat pergerakan variabel pasar seperti suku bunga, nilai tukar dan harga option yang dapat merugikan Perseroan. Risiko pasar terdapat pada aktivitas fungsional Perseroan seperti kegiatan transaksi perdagangan (trading) valuta asing, surat berharga, derivatif, instrumen pasar uang, dan lain-lain.

Risiko pasar sangat terkait dengan gejolak pasar yang terjadi karena pergerakan nilai tukar dan suku bunga yang dapat merugikan posisi Perseroan. Penyesuaian tingkat suku bunga baik pada sisi assets maupun liabilities tidak dapat selalu dilakukan pada saat bersamaan. Hal ini mengakibatkan pendapatan bunga bersih (net interest income) Perseroan rentan terhadap perubahan tingkat suku bunga pasar. Tidak terdapat jaminan bahwa perubahan suku bunga di masa mendatang tidak akan menimbulkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan kredit, keuntungan, kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan.

Potensi kerugian transaksi nilai tukar dapat berasal dari transaksi nilai tukar, derivative serta kerugian valuta asing akibat posisi mismatched asset dan liability valuta asing (banking book). Pergerakan pasar yang signifikan dapat mengakibatkan Perseroan mengalami kerugian.

4. RISIKO STRATEJIK

Risiko stratejik adalah risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.

Perseroan merumuskan dan menetapkan langkah-langkah stratejik baik jangka pendek maupun jangka panjang yang selalu disesuaikan dengan melihat perubahan dan sasaran yang ada. Ketidakmampuan Perseroan atau kesalahan Perseroan dalam merumuskan strateginya dan melaksanakan strategi yang telah direncanakan dapat menyebabkan Perseroan tidak dapat bersaing dengan baik dan mempengaruhi kinerja.

5. RISIKO KEPATUHAN

Risiko Kepatuhan adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh Perseroan tidak mematuhi dan atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku.

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Perseroan harus selalu mematuhi peraturan perbankan yang berlaku. Secara periodik, kebijakan-kebijakan internal diperbaharui dan disesuaikan dengan

Pada praktiknya, risiko kepatuhan terkait pada adanya pelanggaran terhadap perundang-undangan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku seperti risiko kredit yang terkait dengan Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum (KPMM), Kualitas Aset Produktif, Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), Posisi Devisa Neto (PDN) dan lain sebagainya. Setiap ketidakpatuhan Perseroan atas peraturan perundang- undangan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku, dapat menyebabkan dicabutnya ijin usaha Perseroan atau dikenakan denda atau sanksi. Ketidakmampuan Perseroan untuk memenuhi peraturan dan ketentuan juga dapat berdampak langsung pada kelangsungan usaha Perseroan.

6. RISIKO REPUTASI

Risiko reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan pemangku kepentingan (stakeholder) yang bersumber dari persepsi negatif terhadap Perseroan.

Sebagai lembaga jasa keuangan, Perseroan sangat tergantung pada kepercayaan nasabah yang dibangun dari citra dan publikasi yang baik mengenai kegiatan usaha dan kinerja Perseroan. Kegagalan Perseroan dalam menjaga reputasinya dapat menimbulkan hilangnya kepercayaan nasabah dan akan berdampak langsung terhadap penurunan jumlah nasabah yang akhirnya memberikan dampak pada kondisi likuiditas, penurunan pendapatan dan volume aktivitas Perseroan.

7. RISIKO HUKUM

Risiko hukum adalah risiko akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis.

Kegagalan Perseroan dalam menjaga dan melindungi kepentingan Perseroan dapat menimbulkan potensi tuntutan hukum dan permasalahan hukum di kemudian hari. Tuntutan hukum dapat terjadi antara lain disebabkan oleh adanya kelemahan perikatan dalam perjanjian kredit atau kerja sama antara Perseroan dengan nasabah atau pihak ketiga lainnya. Jika terjadi tuntutan hukum dalam jumlah yang signifikan, dapat menimbulkan biaya yang cukup besar dan mempengaruhi kinerja keuangan Perseroan.

8. RISIKO INVESTASI

Sesuai dengan SEOJK Nomor 10/SEOJK.03/2014 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah, definisi dari risiko investasi adalah risiko akibat Bank ikut menanggung kerugian usaha nasabah yang dibiayai dalam pembiayaan berbasis bagi hasil, baik yang menggunakan metode net revenue sharing maupun yang menggunakan metode profit and loss sharing.

Perseroan dapat terpengaruh kinerjanya jika pembiayaan berbasis bagi hasil yang diberikan kepada nasabah tidak berjalan lancar sehingga pendapatan Perseroan mengalami penurunan, beban pencadangan pembiayaan bermasalah dan rasio non performing financing (NPF) akan meningkat.

Untuk memitigasi risiko pembiayaan berbasis bagi hasil, Perseroan lebih cenderung untuk memberikan pembiayaan dalam bentuk revenue sharing dimana pembagian hasil ditentukan berdasarkan pendapatan (top line sharing) yang dianggap memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan pembiayaan berbasis profit and loss sharing.

9. RISIKO IMBAL HASIL

Risiko imbal hasil adalah risiko akibat perubahan tingkat imbal hasil yang dibayarkan kepada nasabah karena terjadi perubahan pendapatan yang diterima Perseroan dari penyaluran dana berbasis akad bagi hasil syariah (Mudharabah dan Musharakah). Perubahan pendapatan ini dapat mempengaruhi perilaku nasabah dana pihak ketiga yang melakukan penempatan dana di Unit Usaha Syariah.

Perubahan pendapatan dapat dipengaruhi oleh antara lain perubahan kualitas asset pembiayaan, jumlah penerimaan berbasis kas (tunai) pada periode bersangkutan dan lain-lain. Jika Perseroan tidak dapat memberikan tingkat imbal hasil yang bersaing, maka hal ini dapat mempengaruhi minat deposan yang menempatkan dana mereka sehingga dapat menyebabkan penurunan jumlah Dana Pihak Ketiga.

10. RISIKO PADA PERUSAHAAN ANAK YANG DIKONSOLIDASIKAN

Risiko bagi Perseroan adalah apabila nilai penyertaan pada Perusahaan Anak turun akibat terjadinya kerugian pada Perusahaan Anak. Risiko Perseroan atas investasi pada Perusahaan Anak adalah risiko finansial, risiko strategik dan risiko reputasi. Risiko finansial terjadi bila kerugian yang terjadi di Perusahaan Anak mempengaruhi kinerja keuangan Perseroan. Risiko stratejik dapat terjadi apabila penetapan dan pelaksanaan strategi Perusahaan Anak tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Sedangkan risiko reputasi akan terjadi apabila terdapat publikasi negatif terhadap Perusahaan Anak, maka dapat berakibat secara langsung ataupun tidak langsung terhadap Perseroan.

Risiko-risiko pada Perusahaan Anak

Perseroan memiliki Perusahaan Anak yang bergerak di bidang pembiayaan (multifinance) yaitu CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) dan sekuritas yaitu CIMB Niaga Sekuritas (CNS), yang dalam pelaporan keuangannya dikonsolidasikan dalam laporan keuangan Perseroan.

Bisnis utama CNAF adalah memberikan pembiayaan kepada konsumen untuk kepemilikan kendaraan bermotor. Risiko utama yang dihadapi adalah risiko kredit, operasional dan likuiditas. Risiko kredit terjadi bila nasabah-nasabah CNAF wanprestasi dalam melaksanakan kewajibannya. Risiko operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional CNAF. Risiko likuiditas terjadi karena CNAF dalam menjalankan usahanya tergantung pada sumber dana perbankan, yang dalam situasi kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan dapat menghentikan komitmen pendanaannya kepada CNAF.

Sementara itu, bisnis CNS bergerak di bidang perbankan investasi yang menghadapi risiko utama seperti risiko operasional, risiko stratejik dan risiko kepatuhan. Risiko operasional dapat timbul antara lain disebabkan oleh faktor kecukupan sumber daya manusia mengingat beberapa posisi di CNS membutuhkan keahlian dan sertifikasi khusus. Namun demikian, kecukupan sumber daya manusia yang ada saat ini dianggap memadai untuk menangani transaksi dan aktivitas operasional yang masih sederhana. Mengingat CNS tidak memiliki ketergantungan terhadap system, risiko operasional lainnya dapat muncul dari sisi kesalahan manusia (human error).

Sementara risiko stratejik dapat terjadi jika CNS gagal bersaing dengan kompetitor dan berakibat tidak terpenuhinya realisasi target yang telah ditetapkan. Terkait dengan risiko kepatuhan, dalam industri sekuritas terdapat banyak ketentuan-ketentuan dari regulator yang harus dipenuhi oleh CNS, diantaranya level minimum MKBD (Modal Kerja Bersih yang Disesuaikan), pemenuhan fungsi-fungsi yang wajib dimiliki oleh perusahaan sekuritas dan lain sebagainya. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan ini akan menimbulkan sanksi, baik berupa finansial maupun non finansial yang dapat mengganggu jalannya bisnis Perseroan.

C. RISIKO YANG BERKAITAN DENGAN BANK SECARA UMUM Risiko umum yang dapat timbul bagi Perseroan paling sedikit meliputi:

1. Kondisi Perekonomian secara Makro atau Global

Perseroan menjalankan usaha di bidang perbankan, yang tidak terlepas dari dampak perubahan kondisi ekonomi makro, dimana perubahan ekonomi makro seperti pergerakan tingkat suku bunga, penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi, inflasi serta pelemahan nilai tukar Rupiah dapat mempengaruhi pencapaian kinerja. Perseroan akan mengalami peningkatan risiko kredit apabila terjadi penurunan kemampuan pengembalian kewajiban kredit dari sejumlah debitur baik disebabkan oleh faktor makro ekonomi atau sebab lain. Kondisi likuiditas Perseroan juga dapat terpengaruh oleh kondisi makro ekonomi yang disebabkan oleh naik turunnya supply and demand likuiditas di pasar. Di samping itu, perubahan

2. Perubahan Kurs Valuta Asing

Perubahan kurs valuta asing dapat menimbulkan risiko pasar dapat berdampak pada return dan mark to market portofolio Perseroan. Di samping itu, perubahan kurs valuta asing erat kaitannya dengan pergerakan suku bunga di pasar yang dapat berpengaruh pada net interest margin (NIM) Perseroan karena posisi mismatch antara aset dan kewajibannya.

3. Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-Undangan yang Berlaku terkait Bidang Usaha Emiten

Industri perbankan merupakan industri yang diatur secara ketat oleh regulator. Jika terjadi perubahan peraturan, baik yang diterbitkan oleh regulator, pemerintah atau peraturan internasional perbankan yang relevan, mengharuskan Perseroan untuk melakukan penyesuaian atas strategi maupun kegiatan operasional bisnisnya.

4. Tuntutan atau Gugatan Hukum

Kerja sama yang dilakukan antara Perseroan dengan pihak ketiga (nasabah, mitra kerja, dan lain- lain) dilandaskan pada dokumen perjanjian dan persyaratan yang telah disepakati. Apabila terdapat kelemahan klausula perjanjian dan/atau tidak terpenuhinya persyaratan tersebut dapat menimbulkan risiko hukum berupa tuntutan atau gugatan hukum yang diterima Perseroan.

5. Kebijakan Pemerintah

Seperti yang telah dijelaskan, industri perbankan merupakan industri yang diatur secara ketat oleh regulator termasuk kebijakan pemerintah. Perubahaan kebijakan pemerintah dalam industri perbankan yang terus berkembang dapat mempengaruhi kinerja dan kegiatan Perseroan untuk melakukan penyesuaian atas strategi maupun kegiatan operasional bisnisnya.

6. Ketentuan Negara Lain atau Peraturan Internasional

Perseroan dalam menjalankan aktivitasnya tidak terlepas dari ketentuan atau peraturan internasional yang berlaku. Oleh karenanya, Perseroan harus memastikan bahwa strategi maupun kegiatan operasional Perseroan selalu sejalan dengan ketentuan, peraturan maupun best practice tersebut. Di samping itu, sesuai dengan kepemilikan saham terbesar, Perseroan yang merupakan bagian dari CIMB Group juga harus memperhatikan ketentuan perbankan yang dikeluarkan oleh Bank Negara Malaysia.

D. RISIKO BAGI INVESTOR

Risiko yang mungkin dihadapi investor pembeli Obligasi dan Obligasi Subordinasi adalah kemungkinan wanprestasi dari Perseroan sehingga tidak dapat memenuhi kewajibannya, baik pada saat pembayaran kupon atau jatuh tempo pokok. Selain itu ada risiko tidak likuidnya Obligasi dan Obligasi Subordinasi yang ditawarkan pada penawaran umum ini yang antara lain disebabkan karena perbedaan tujuan pembelian Obligasi dan Obligasi Subordinasi dan horizon investasi investor yang berbeda-beda.

Sedangkan risiko yang mungkin dihadapi investor pembeli Obligasi Subordinasi adalah:

a. Obligasi Subordinasi dapat di write down tanpa kompensasi apabila ojk menetapkan bahwa Perseroan berpotensi terganggu kelangsungan usahanya (point of non-viability) sesuai dengan ketentuan pasal 19 peraturan otoritas jasa keuangan No.11/POJK.03/2016 sebagaimana diubah dengan peraturan otoritas jasa keuangan No.34/POJK.03/2016 tentang kewajiban penyediaan modal minimum bank umum; dan

b. Penangguhan pembayaran pokok dan bunga Obligasi Subordinasi pada pemegang Obligasi Subordinasi.

Perseroan berupaya memitigasi risiko tersebut dengan mengacu kepada proses manajemen risiko sebagaimana telah dijelaskan dalam sub Bab Manajemen Risiko.

PERSEROAN TELAH MENGUNGKAPKAN SEMUA INFORMASI MENGENAI RISIKO YANG MATERIAL DALAM MENJALANKAN KEGIATAN USAHANYA

MANAJEMEN PERSEROAN MENYATAKAN BAHWA SEMUA RISIKO YANG DIHADAPI OLEH PERSEROAN DALAM MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA TELAH DIUNGKAPKAN DAN SUSUNAN BERDASARKAN BOBOT DAN DAMPAK MASING-MASING RISIKO TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERSEROAN DALAM PROSPEKTUS

VII. KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL LAPORAN

Dalam dokumen PT BANK CIMB NIAGA TBK (Halaman 94-100)