128,56 ribu jiwa
5. Angka Kemiskinan
2.2.1.2 Fokus Kesejahteraan Sosial 1. Aspek Pendidikan
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa pendidikan itu adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 79
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan dan pemahaman tentang spiritual/keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan menumbuhkan kemampuan untuk menimbang dan memiliki informasi dan membentuk informasi relevan yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan. Pendidikan dapat meningkatkan kualitas seseorang, sehingga akan lebih rasional dalam berpikir dan bertindak, serta memahami tugas dan tanggungjawab yang dibebankan dengan baik.
Sektor pendidikan dianggap memainkan peranan utama untuk membentuk kemampuan sebuah negara berkembang untuk menyerap teknologi modern dan mengembangkan kapasitas produksi agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang
berkelanjutan.
Pendidikan merupakan satu investasi yang sangat berguna untuk pembangunan ekonomi dan dapat dikatakan sebagai investasi pembangunan yang hasilnya dapat dinikmati
di masa depan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi suatu wilayah melalui peningkatan keterampilan dan produktivitas kerja, sehingga diharapkan dapat mengatasi keterbelakangan ekonomi melalui peningkatan kemampuan manusia sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Terpenuhinya kebutuhan pendidikan dan akses yang merata serta berkualitas adalah kewajiban pemerintah dalam menjunjung hak asasi manusia.
Pendidikan juga menjadi kunci dalam menghapus kemiskinan dan mendorong
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 80
pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, pendidikan menjadi salah satu agenda dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yaitu pendidikan berkualitas pada tahun 2030.
Berdasarkan UU yang sama, dikatakan bahwa satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, non-formal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Dalam penyelenggaraan pendidikan di Gorontalo Utara, diarahkan pada perluasan dan pemerataan pendidikan.
a. Angka Melek Huruf
Angka Melek Huruf (AMH) adalah proporsi penduduk usia 15 tahun ke atas yang mempunyai kemampuan membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya, tanpa harus mengerti apa yang di baca/ditulisnya terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas. AMH merefleksikan outcome pendidikan dasar sejak 10 tahun terakhir sebagai ukuran efektifnya sistem pendidikan dasar. Indikator ini kerap dilihat sebagai proksi untuk mengukur kemajuan pembangunan sosial dan ekonomi. Dalam perencanaan pembangunan wilayah, AMH digunakan untuk melihat pencapaian indikator dasar yang telah dicapai oleh suatu daerah, karena membaca merupakan dasar utama dalam memperluas ilmu pengetahuan. AMH merupakan indikator penting untuk melihat sejauh mana penduduk suatu daerah terbuka terhadap pengetahuan. Semakin tinggi capaian indikator ini, semakin tinggi pula mutu sumberdaya pada suatu masyarakat. Angka Melek Huruf tahun 2021 ditunjukkan pada Tabel 2.26 berikut.
Tabel 2.26
Angka Melek Huruf Per Jenis Kelamin dan Kelompok Pengeluaran Tahun 2021
Karakteristik Huruf Latin Huruf Lainnya
Jenis Kelamin
Laki-laki 98,89 31,57
Perempuan 98,48 46,92
Kelompok Pengeluaran
40 persen terbawah 97,94 38,11
40 persen tengah 98,78 34,60
20 persen teratas 99,70 49,04
AMH Gorontalo Utara 98,68 39,17
Sumber: Gorontalo Utara dalam Angka (BPS), 2022
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 81
Berdasarkan Tabel 2.26, AMH Kabupaten Gorontalo Utara telah mencapai 98,68 (tahun 2019 masih di angka 98,17), artinya hanya sekitar 1,3 persen masyarakat Gorontalo Utara yang masih belum memiliki kemampuan membaca dan menulis. Nilai AMH yang konsisten di atas 98 persen menunjukkan hampir seluruh masyarakat berliterasi. Kesadaran masyarakat terhadap pendidikan yang meningkat menentukan keberhasilan program pendidikan.
Lebih jauh, AMH jenis kelamin laki-laki di Gorontalo Utara lebih tinggi dibandingkan perempuan pada jenis huruf latin, namun sebaliknya pada huruf lainnya (aksara Arab, dan lainnya). Sedangkan berdasarkan desil, pada kelompok desil terendah meskipun nilai AMHnya lebih rendah dibandingkan desil tertinggi, namun selisih diantara keduanya tidak terlalu signifikan sehingga menggambarkan tingkat pemerataan pendidikan yang relatif baik di Gorontalo Utara.
b. Harapan Lama Sekolah
Harapan Lama Sekolah (HLS) merupakan indikator baru pengganti Angka Melek Huruf (AMH). HLS didefinisikan sebagai lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Diasumsikan bahwa peluang anak tersebut akan tetap bersekolah pada umur-umur berikutnya sama dengan peluang penduduk yang bersekolah per jumlah penduduk untuk umur yang sama saat ini. HLS dihitung pada usia 7 tahun ke atas karena mengikuti kebijakan pemerintah yaitu program wajib belajar. Selain itu dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang ditunjukkan dalam bentuk lamanya pendidikan (dalam tahun) yang diharapkan dapat dicapai oleh setiap anak. Harapan lama sekolah anak usia 7 tahun di Kabupaten Gorontalo Utara sudah mencapai tamat SMA sesuai yang ditampilkan pada Tabel 2.27.
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 82
Tabel 2.27
Angka Harapan Lama Sekolah
Uraian 2018 2019 2020 2021 2022
Harapan Lama Sekolah (Tahun)
12,43 12,44 12,45 12,46 12,47
Sumber: Gorontalo Utara dalam Angka (BPS), 2023
c. Rata-rata Lama Sekolah
Rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk berusia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani. Indikator ini dihitung dari variabel pendidikan tertinggi yang ditamatkan dan tingkat pendidikan yang sedang diduduki, dimana standar UNDP adalah minimal 0 tahun dan maksimal 15 tahun. Rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Gorontalo Utara berusia 25 tahun keatas mencapai sekitar kelas 1 SMP atau lulus SD sesuai yang ditunjukkan pada Tabel 2.28.
Tabel 2.28
Angka Rata-Rata Lama Sekolah
Uraian 2018 2019 2020 2021 2022
Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun)
6,72 6,74 7,03 7,15 7,16
Sumber: Gorontalo Utara dalam Angka (BPS), 2023
d. Angka Partisipasi Kasar
Angka Partisipasi Kasar (APK) didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah penduduk yang sedang mengenyam pendidikan pada jenjang pendidikan tertentu (SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi) dengan penduduk kelompok usia sekolah yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase. APK merupakan indicator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah pada setiap jenjang pendidikan. Capaian APK di Kabupaten Gorontalo Utara pada tahun 2021 dapat ditunjukkan oleh Tabel 2.29 berikut.
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 83 Tabel 2.29
Angka Partisipasi Kasar Menurut Jenjang Pendidikan di Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2021 No. Jenjang
Pendidikan
Angka Partisipasi Kasar
Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan
1 SD/MI 104,98 101,92 103,35
2 SMP/MTS 91,17 85,85 88,98
3 SMA/MA/SMK 74,53 80,80 77,43
Sumber: Gorontalo Utara dalam Angka (BPS), 2022
Berdasarkan Tabel 2.29, pencapaian APK jenjang SD/MI telah mencapai diatas 100 poin, hal tersebut dikarenakan ada beberapa siswa jenjang tersebut yang bersekolah berasal dari luar wilayah Gorontalo Utara serta indikasi bahwa terdapat penduduk yang sekolah belum mencukupi umur dan atau melebihi umur yang seharusnya. Sedangkan skor APK yang dibawah 100 menandakan bahwa ada beberapa anak usia masing-masing jenjang pendidikan yang tidak bersekolah. Secara umum, penyelenggaraan pendidikan dasar di Gorontalo Utara cukup baik ditinjau dari nilai APK SD/MI yang melebihi poin 100.
Jika dilihat secara time series, secara tren kecenderungan angka APK pendidikan dasar semakin turun, yang menunjukkan telah terjadi penurunan pengulangan kelas, penambahan murid dari daerah lain, atau adanya paket penyetaraan, sebagaimana Grafik 2.9 berikut.
Grafik 2.9
Angka Partisipasi Kasar Per Jenjang Pendidikan
Sumber: Gorontalo Utara dalam Angka (BPS), 2022
114,53 112,26
106,92 105,13 103,35
87,69 82,81 86,29 90,34 88,98
66,85 67,55 73,66 75,01 77,43
2017 2018 2019 2020 2021
APK SD/Sederajat APK SMP/Sederajat APK SMA/Sederajat
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 84 Sedangkan pada APK jenjang menengah atas, meskipun memiliki tren positif,
namun angka APK SMA termasuk rendah. Hal ini dikarenakan banyak siswa lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke jenjang SMA.
e. Angka Partisipasi Sekolah
Indikator pendidikan lain yang dapat digunakan sebagai ukuran perkembangan pendidikan adalah Angka Partisipasi Sekolah (APS). APS adalah proporsi dari semua anak yang masih bersekolah pada suatu kelompok umur tertentu terhadap penduduk dengan kelompok umur yang sesuai. Indicator ini dapat dijadikan ukuran daya serap lembaga pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Semakin tinggi APS, semakin besar jumlah penduduk yang berkesempatan mengenyam pendidikan. Namun demikian, meningkatnya APS tidak selalu dapat diartikan sebagai meningkatnya pemerataan kesempatan masyarakat untuk mengenyam pendidikan. Hal ini dipengaruhi pula oleh budaya dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.
Menurut Data BPS pada tahun 2021, partisipasi sekolah penduduk Gorontalo Utara memiliki pola tertentu pada setiap kelompok umurnya.
Pada kelompok umur 7-12 tahun APS masih menunjukkan persentase yang cukup tinggi yaitu 99,30 persen. Artinya, sudah hampir 100 persen penduduk pada kelompok umur ini sedang aktif bersekolah. Namun sayangnya, pada kelompok umur yang lebih tinggi, partisipasi sekolahnya justru semakin berkurang. Pada kelompok umur 13-15 tahun APS tercatat sebesar 93,60 persen, dan terus mengecil hingga hanya mencapai 18,00 persen pada kelompok umur 19-24 tahun (saat kriteria angka tidak bersekolah lagi mencapai 73,80). Ini mengindikasikan bahwa banyak penduduk Gorontalo Utara yang bersekolah pada kelompok umur 7-12 tahun dan mulai putus sekolah pada kelompok umur berikutnya.
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 85
Ketimpangan tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah akses terhadap fasilitas pendidikan. Kelompok umur 16-18 tahun pada umumnya bersekolah pada jenjang SMP dan SMA. Ketersediaan fasilitas sekolah jenjang SMP dan SMA masih belum sebanyak sekolah SD yang dapat dengan mudah ditemui di hampir setiap desa. Sebagian dari siswa harus menjangkau desa lain untuk dapat meneruskan sekolah formalnya. Kondisi infrastruktur lain seperti akses jalan juga sangat berpengaruh terhadap partisipasi sekolah tersebut.
f. Angka Partisipasi Murni
Indikator lain yang dapat digunakan untuk melihat capaian pendidikan di suatu wilayah adalah Angka Partisipasi Murni (APM). APM didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah siswa kelompok usia sekolah pada jenjang pendidikan tertentu dengan penduduk usia sekolah yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase. Indikator APM ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan yang sesuai. Semakin tinggi APM berarti banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu daerah pada tingkat pendidikan tertentu. APM di Indonesia semakin menurun seiring meningkatnya jenjang pendidikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar kecenderungan penduduk bersekolah tidak tepat waktu/tidak pada umurnya.
Target APM nasional adalah 100 persen untuk semua jenjang pendidikan, sedangkan Gorontalo Utara untuk jenjang SD tahun 2021 baru mencapai 98,89 persen, sedangkan untuk jenjang SMP dan SMA masing-masing tercapai 81,62 persen dan 60,93 persen. Pada capaian statistik time series, secara tren justru tingkat menengah pertama dan menengah atas yang memiliki kecenderungan positif yang dalam meskipun angkanya lebih rendah dibandingkan jenjang pendidikan dasar. Kondisi pada setiap jenjang tersebut menggambarkan mayoritas penduduk Gorontalo Utara telah mendapatkan akses terhadap pendidikan dari mulai jenjang dasar hingga menengah atas.
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 86 Grafik 2.10
Angka Partisipasi Murni Per Jenjang Pendidikan
Sumber: Gorontalo Utara dalam Angka (BPS), 2022
Namun demikian, APM Gorontalo Utara yang rendah terutama di jenjang SMA masih menjadi tugas maha berat bagi pemerintah daerah, hal tersebut dikarenakan faktor sosial budaya seperti masih kuatnya mindset di masyarakat bahwa usia diatas 15 tahun bagi masyarakat adalah usia produktif untuk bekerja, sehingga banyak dari masyarakat yang seharusnya bersekolah di jenjang SMA tidak melanjutkan pendidikannya, atau karena alasan lainnya seperti kemiskinan atau motivasi terhadap pendidikan.