128,56 ribu jiwa
2. Aspek Kesehatan
2.2.2 Aspek Pelayanan Umum
2.2.2.1 Fokus Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar 1. Urusan Pendidikan
Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional, satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, non-formal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Urusan pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam pembangunan, mengingat melalui sektor pendidikan inilah modal sumber daya manusia berkualitas yang mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam pembangunan dibentuk.
Penyelenggaraan pendidikan di Kabupaten Gorontalo Utara diarahkan pada pemerataan pendidikan dan perluasan manfaat pendidikan yang tercermin dalam berbagai indikator yang menunjukkan pembangunan di sektor pendidikan berikut:
a. Angka Putus Sekolah
Salah satu indikator yang digunakan dalam menilai berhasil/tidaknya pembangunan di bidang pendidikan adalah angka putus sekolah, yaitu indikator yang mencerminkan anak-anak usia sekolah yang sudah tidak bersekolah lagi atau tidak menamatkan suatu jenjang pendidikan tertentu.
Indikator ini berfungsi untuk mengukur kemajuan pembangunan di bidang pendidikan pada masing-masing kelompok umur (7-12, 13-15, dan 16-18 tahun). Pada tahun 2021, gambaran angka putus sekolah masih tinggi, meskipun membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Secara gender pun, baik laki-laki maupun perempuan memiliki porsi yang hampir setara di angka sekitar 28 persen. Lebih detail lagi, pada rentang usia jenjang
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 109
SMA/MA, angka putus sekolah menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan rentang usia lainnya. Sedangkan maksud dari tidak bersekolah lagi yaitu mereka yang pernah terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan di suatu jenjang pendidikan formal dan non-formal (Paket A, B, atau C), tetapi pada saat pencacahan tidak lagi terdaftar dan tidak aktif mengikuti pendidikan. Gambaran secara time series angka putus sekolah di Kabupaten Gorontalo Utara dicantumkan dalam Tabel 2.34 berikut.
RENCA N A KERJ A P EMERI N TA H D A ERA H
Kabupaten Gorontalo Utara 2024 “Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahanuntuk Pembangunan Berkelanjutan”BAB Page
Tabel 2.34 Angka Putus Sekolah Per Kelompok Umur Menurut Jenis Gender No. Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Sekolah
201920202021 Tidak/belum Pernah Sekolah Masih Sekolah Tidak Sekolah Lagi Tidak/belum Pernah Sekolah Masih Sekolah Tidak Sekolah Lagi Tidak/belum Pernah Sekolah Masih Sekolah
Tidak Sekolah Lagi 1Laki-laki 7-12 tahun0,9597,321,730,00100,000,000,00100,000,00 13-15 tahun0,0092,417,590,8093,405,800,0092,008,00 16-18 tahun0,0064,7735,230,0073,9026,100,0064,835,2 0,5567,5031,950,1069,6030,303,668,428 2Perempuan7-12 tahun0,00100,000,000,0099,600,401,698,40,00 13-15 tahun0,0093,816,190,0093,906,100,0094,85,2 16-18 tahun0,0069,2030,800,0063,9036,100,0069,130,9 0,0070,5529,450,6067,6031,801,271,127,7 3Gabungan7-12 tahun0,4698,710,840,0099,800,200,799,30,00 13-15 tahun0,0093,046,960,4093,606,000,0093,66,4 16-18 tahun0,0067,0832,920,0069,1030,900,0069,330,7 0,2869,0130,710,3068,7031,002,769,328,1 Sumber: Gorontalo Utara dalam Angka (BPS), 2022
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 111
Dilihat dari Tabel 2.34, menunjukkan bahwa masih banyak penduduk Gorontalo Utara terutama pada jenjang usia SMP dan SMA, sudah tidak melanjutkan pendidikannya. Namun patut diapresiasi bahwa pada 2 tahun terakhir, di jenjang pendidikan dasar, status tidak bersekolah lagi dapat ditekan serendah mungkin hingga menyentuh poin nol. Hal yang menarik justru terlihat pada laki-laki usia SMP dan SMA yang lebih tinggi persentasenya dibandingkan perempuan yang semakin menguatkan nilai APM jenjang menengah atas sulit untuk bergerak naik. Hal tersebut harus menjadi perhatian pemerintah karena disinyalir mereka terpaksa harus membantu orang tua dalam mencari nafkah. Dinas terkait dibantu oleh pemerintah desa harus mampu mensosialisasikan dan mengajak para orang tua agar sadar dan kembali menyekolahkan anaknya di bangku sekolah.
Tingkat anak putus sekolah pada semua jenjang masih perlu mendapatkan perhatian yang serius dari satuan pendidikan, sehingga tidak ada lagi anak usia sekolah yang tidak duduk di bangku sekolah, namun di sisi lain banyak factor yang mempengaruhi anak putus sekolah misalnya akibat dari pernikahan dini, meninggal dunia, bahkan dengan alasan ekonomi.
Senada dengan data BPS di atas, Dinas Pendidikan Gorontalo Utara melaporkan bahwa terdapat beberapa siswa pada jenjang dasar maupun menengah pertama mengalami putus sekolah. Detail informasi tersebut disajikan pada Tabel 2.35 berikut.
Tabel 2.35 Angka Putus Sekolah
No. Indikator Tahun
2020 2021 2022
1 Angka Putus Sekolah SD/MI 0,20 0,23 0,10
2 Jumlah Anak Putus Sekolah SD/MI 26 28 47
3 Angka Putus Sekolah SMP/MTs 1,89 1,86 0,51
4 Jumlah Anak Putus Sekolah SMP/MTs 117 110 33
Sumber: Dinas Pendidikan, 2022
b. Jumlah Guru dan Murid
Selain sarana dan prasarana, ketersediaan dan pemerataan distribusi guru penting menjadi perhatian. Ketersediaan guru juga menjadi faktor penting
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 112
dalam penyelenggaraan pendidikan. Rasio jumlah guru terhadap murid di level sekolah dasar dan menengah pertama di Kabupaten Gorontalo Utara pada tahun 2021 telah cukup baik di hampir seluruh kecamatan. Pada jenjang dasar (SD/MI), rasio kumulatif yang terbentuk 1 guru:11 murid, dengan Kecamatan Sumalata, Biau, dan Tomilito memiliki rasio tertinggi.
Sedangkan pada jenjang menengah pertama (SMP/MTs), rasio yang terbentuk lebih baik lagi 1 guru:9 murid, dengan Kecamatan Biau sebagai wilayah dengan rasio tertinggi. Pada Tabel 2.36 berikut digambarkan secara lebih detail kondisi jumlah murid-guru, dengan data guru yang memiliki NUPTK Dapodik, termasuk guru kontrak (GTT) yang masih banyak jumlahnya di Gorontalo Utara. Ketersediaan guru tidak hanya dilihat dari aspek kuantitasnya, melainkan yang menjadi fokus pemerintah daerah adalah tingkat sebaran, dan tingkat kesejahteraan guru, khususnya guru yang mengabdi di daerah sulit dijangkau, agar pelaksanaan pemerataan kualitas maupun layanan pendidikan juga dapat lebih maksimal.
Tabel 2.36
Rasio Guru dan Murid Level Dasar dan Menengah Pertama Menurut Kecamatan Tahun Ajaran 2021/2022
No. Wilayah
Tahun Ajaran 2021/2022 Siswa
SD/MI
Jumlah
Guru Rasio Siswa SMP/MTs
Jumlah
Guru Rasio
1 Kwandang 2.994 252 12 1.576 150 11
2 Anggrek 1.640 162 10 736 78 9
3 Sumalata 1.326 94 14 640 62 10
4 Atinggola 1.303 170 8 726 99 7
5 Tolinggula 1.287 108 12 557 74 8
6 Gentuma Raya 1.113 97 11 543 60 9
7 Sumalata Timur 905 73 12 394 35 11
8 Biau 637 46 14 287 22 13
9 Tomilito 1.045 77 14 331 36 9
10 Monano 785 80 10 387 53 7
11 Ponelo Kepulauan 429 47 9 196 26 8
Total 13.464 1.206 11 6.373 695 9
Sumber: Dapodik Kemendikbud, 2022 dan EMIS Kemenag, 2022 (diolah)
c. Ketersediaan Sekolah
Pelaksanaan pendidikan ditunjang dengan ketersediaan sarana dan prasarana sekolah, dan ruang kelas yang memadai. Tidak hanya masalah ketersediaan, aksesilibilitas juga menjadi fokus perhatian pembangunan di bidang pendidikan dalam rangka peningkatan angka partisipasi sekolah.
Peningkatan kapasitas pendidikan, pembangunan serta perbaikan sarana
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 113
dan prasarana pendidikan khususnya di daerah terpencil dan sulit dijangkau penting dalam memperluas akses layanan pendidikan, agar semua anak didik dapat mengenyam pendidikan dan dapat memberantas buta huruf.
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017 dan Surat Edaran Menteri Nomor 3 Tahun 2017, jumlah peserta didik maksimal dalam satu rombongan belajar untuk jenjang SD/Sederajat sejumlah 28 siswa, sedangkan pada jenjang SMP/Sederajat maksimal 32 siswa. Jumlah rombongan belajar jenjang SD berkisar 6-24 Rombel, sedangkan di jenjang berikutnya sejumlah 3-33 Rombel.
Di Gorontalo Utara, rasio kelas (Rombel) per siswa pada jenjang sekolah menengah secara rata-rata berada di atas ketentuan maksimal Kemendikbud RI, yaitu berada pada 38 siswa per kelas, dengan Kecamatan Kwandang dan Anggrek berada di kisaran 1:50 siswa per Rombel.
Sedangkan pada jenjang dasar, secara rata-rata rasio Rombel per siswa masih berada pada ketentuan jumlah maksimal. Secara lebih detail informasi rasio sekolah, dapat dilihat pada Tabel 2.37 berikut.
Tabel 2.37
Rasio Ketersediaan Sekolah dan Murid
Level Dasar dan Menengah Pertama Tahun Ajaran 2021/2022
No. Wilayah
Tahun Ajaran 2021/2022 Siswa
SD/MI
Jumlah Sekolah Dasar
Rasio Sekolah
Dasar/
Siswa
Rasio Kelas Dasar/
Siswa
Siswa SMP/
MTs
Jumlah Sekolah Menengah
Rasio Sekolah Menengah
/Siswa
Rasio Kelas Menengah/
Siswa
1 Kwandang 2.994 27 111 18 1.576 9 175 58
2 Anggrek 1.640 17 96 16 736 5 147 49
3 Sumalata 1.326 15 88 15 640 5 128 43
4 Atinggola 1.303 18 72 12 726 7 104 35
5 Tolinggula 1.287 17 76 13 557 7 80 27
6 Gentuma Raya
1.113 11 101 17 543 5 109 36
7 Sumalata Timur
905 10 91 15 394 4 99 33
8 Biau 637 7 91 15 287 3 96 32
9 Tomilito 1.045 10 105 17 331 4 83 28
10 Monano 785 10 79 13 387 5 77 26
11 Ponelo Kepulauan
429 6 72 12 196 2 98 33
Total 13.464 148 91 15 6.373 56 114 38
Sumber: Dapodik Kemendikbud, 2022 dan EMIS Kemenag, 2022 (diolah)
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 114
Ruang kelas sebagai prasarana penting sekolah terbagi dalam tiga kondisi, yaitu baik, rusak ringan, dan rusak berat. Tabel 2.38 berikut adalah gambaran kondisi ruang kelas di Kabupaten Gorontalo Utara.
Tabel 2.38 Kondisi Ruang Kelas
No. Uraian Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021
1 Rusak Berat
PAUD 33 30 5
SD 73 66 5
SMP 15 10 3
2 Rusak Sedang
PAUD 10 10 74
SD 43 43 583
SMP 8 8 162
3 Baik + Rusak Ringan
PAUD 231 228 145
SD 693 649 310
SMP 223 217 116
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Gorontalo Utara, 2022
Berdasarkan Tabel 2.38 di atas, ruang kelas di Kabupaten Gorontalo Utara ternyata semua jenjang pendidikan memiliki ruang kelas yang rusak berat, namun jika dilihat perbandingannya dibanding 1 tahun sebelumnya, telah banyak perbaikan yang dilakukan sehingga angka kerusakan berat dapat ditekan. Yang patut diwaspadai gedung sekolah yang berstatus “Rusak Sedang” karena angkanya jauh meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Untuk itu, penganggaran di tahun mendatang diupayakan untuk fokus melakukan peremajaan gedung sekolah yang berstatus rusak sedang ini.
d. Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah pembinaan anak dari sejak lahir hingga usia 6 tahun. Pembinaan ini dilakukan sebagai bantuan perkembangan rohani dan jasmani agar anak siap memasuki pendidikan lebih lanjut. Selain itu, pendidikan di usia ini dapat menstimulus perkembangan emosional anak dan intelektual anak, karena mereka akan belajar bagaimana untuk bersabar, mandiri, serta bergaul dengan orang lain. Pendidikan anak usia dini ini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 115
Di Gorontalo Utara, PAUD diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, non-formal, dan/atau informal. PAUD jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. Sementara itu, PAUD jalur pendidikan non-formal berbentuk Kelompok Bermain (Kober) atau bentuk lain yang sederajat.
Informasi mengenai entitas jenjang ini disampaikan pada Tabel 2.39 berikut.
Tabel 2.39
Cakupan Peserta Pendidikan Anak Usia Dini
No. Indikator Satuan Tahun
2019 2020 2021
1 Jumlah siswa pada jenjang
TK/RA/penitipan anak
Siswa 3.068 4.345 4.315
2 Jumlah anak usia 4-6 tahun Jiwa 4.308 4.373 4.335
3 Cakupan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Persen 71,22 99,36 99,54
Sumber: Dinas Pendidikan, 2022
Dari Tabel 2.39 di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa meskipun cakupannya di dua tahun terakhir sudah tinggi, namun faktanya masih ada beberapa anak usia PAUD yang tidak mengenyam pendidikan baik formal, non-formal, maupun informal. Dinas terkait perlu menelusuri alasan dari ketidakterlibatan mereka pada jenjang PAUD karena perannya bagi keberhasilan pendidikan di jenjang berikutnya sangat besar dan menentukan.
Sedangkan pada tingkat akreditasinya, sebagian besar PAUD/PNF yang berada dalam naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah dilakukan sertifikasi, meskipun dengan status akreditasi A masih sangat rendah, dengan rincian sebagaimana Tabel 2.40 berikut.
Tabel 2.40
Cakupan Lembaga PAUD Terakreditasi
No. Indikator Tahun
2021 2022
1 Jumlah Lembaga
a. Akreditasi A 3 3
b. Akreditasi B 102 102
c. Akreditasi C 82 82
2 Jumlah lembaga yang sudah terakreditasi 187 187
3 Jumlah lembaga belum terakreditasi 4 4
4 Persentase lembaga yang sudah terakreditasi 97,91 97,91
Sumber: Dinas Pendidikan, 2023
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 116
e. Angka Kelulusan
Persentase kelulusan merupakan perbandingan antara jumlah siswa yang lulus dengan siswa pada jenjang (kelas/tingkat) terakhir. Pada 4 tahun terakhir, persentase kelulusan siswa di Gorontalo Utara menunjukkan angka yang positif, dimana seluruh siswa jenjang dasar dan menengah dapat lulus, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 2.41 berikut.
Tabel 2.41
Angka Kelulusan Jenjang Dasar dan Menengah Pertama
No. Indikator Tahun
2019 2020 2021 2022
1 Angka Kelulusan (AL) SD/MI (%) 100 100 100 100
2 Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs (%) 100 100 100 100
Sumber: Dinas Pendidikan, 2023
Diperlukan upaya menjaga akses terhadap pendidikan bagi seluruh masyarakat tanpa kecuali, serta kualitas pengajaran dan tenaga pengajar juga tetap harus dijaga agar secara berkesinambungan tingkat kelulusan dapat dicapai dengan baik.
f. Perkembangan Kemampuan Literasi dan Kemampuan Numerasi
Kemampuan literasi dan numerasi merupakan dua kemampuan dasar yang seharusnya dimiliki oleh setiap peserta didik sehingga memiliki kecakapan untuk mengembangkan pengetahuan (membaca dan menulis) serta keterampilan menggunakan matematika dalam seluruh asek kehidupan.
Rerata kemampuan literasi dan numerasi merupakan dua indikator baru yang digunakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam mengevaluasi kinerja kualitas hasil belajar siswa melalui Asesmen Nasional. Kedua indikator tersebut menggambarkan kemampuan literasi dan numerasi siswa yang menjadi dua sasaran utama yang harus ditingkatkan dalam pendidikan Indonesia. Salah satu yang melatarbelakangi dijadikannya dua indikator ini untuk diukur adalah hasil Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia yang masih sangat tertinggal. Dari 80 negara yang disurvey PISA, Indonesia masih berada di urutan 74 atau tertinggal lebih dari 128 tahun, dan berada di belakang negara ASEAN lainnya seperti Thailand, Singapura, dan
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 117
Malaysia. Rerata kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia yang dirilis melalui Raport Pendidikan disajikan pada Tabel 2.42.
Tabel 2.42
Rerata Kemampuan Literasi dan Numerasi SD dan SMP
No. Indikator Tahun
2021 2022
1 Numerasi siswa sekolah dasar 29,35 31,23
2 Literasi siswa sekolah dasar 36,83 40,30
3 Numerasi siswa sekolah menengah pertama 51,00 49,96
4 Literasi siswa sekolah menengah pertama 49,59 53,58
Sumber: Raport Pendidikan Gorontalo Utara, 2023
g. Sekolah Terakreditasi “A”
Dalam rangka mengukur kualitas kelembagaan sekolah dan sebagai upaya memetakan mutu dan potensi sekolah di Indonesia, Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) melakukan pengelompokan/klasterisasi sekolah. Akreditasi dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non-formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
Persentase sekolah yang terakreditasi A menggambarkan berapa banyak jumlah sekolah yang terdapat di Gorontalo Utara yang memiliki kualitas baik dalam menjamin mutu pendidikan sebagai salah satu lembaga dalam mengembangkan sumber daya manusia.
Pada 2 tahun terakhir, persentase sekolah terakreditasi A pada jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama di Gorontalo Utara masih sangat rendah. Selama periode tersebut, SD/MI menjadi jenjang pendidikan yang memiliki persentase sekolah terakreditasi A terbesar. Gambaran kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlu adanya pembenahan yang mendasar dan menyeluruh terhadap kualitas sekolah di seluruh jenjang agar masyarakat mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Secara lebih rinci, berikut data persentase sekolah yang memperoleh akreditasi A.
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 118
Tabel 2.43
Jenjang Sekolah Berakreditasi A
No. Indikator Tahun
2021 2022
1 Jumlah sekolah jenjang SD/MI terakreditasi A 26 23
2 Persentase sekolah jenjang SD/MI terakreditasi A 19,26 17,16
3 Jumlah sekolah jenjang SMP/MTs terakreditasi A 6 6
4 Persentase sekolah jenjang SMP/MTs terakreditasi A 13,33 13,33 Sumber: Dinas Pendidikan, dikutip dari Badan Akreditasi Nasional, 2022
h. Klasifikasi Guru
Untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia perlu adanya perbaikan kualitas guru untuk memperoleh standar kompetensi dalam menunjang aktifitas pendidikan. Salah satu cara untuk memperbaiki nilai tersebut yakni dengan cara meningkatkan standar kualifikasi pendidikan minimal level sarjana/sederajat. Dengan kualifikasi demikian, diharapkan kualitas ajar terhadap siswa akan meningkat. Berikut gambaran persentase guru yang berkualifikasi sarjana/sederajat di Kabupaten Gorontalo Utara pada jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama.
Tabel 2.44
Guru yang Memenuhi Kualifikasi Jenjang Sarjana
No. Indikator Capaian
2021 2022
1 Jumlah guru berijazah kualifikasi S1/D-IV 1.261 1.333
2 Jumlah guru SD/MI dan SMP/MTs 1.534 1.446
3 Persentase guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV 82,20 92,19
Sumber: Data Pokok Pendidikan, 2022
Pada tahun terakhir, capaian tenaga pengajar yang memenuhi kualifikasi tingkat sarjana telah jauh meningkat, yang menunjukkan keberhasilan daerah dalam mendorong peningkatan pengajaran yang berasal dari tenaga ajar yang qualified.
Sedangkan jika tenaga ajar dilihat dari status sertifikasinya, guru yang kompeten adalah guru yang memiliki sertifikat kompetensi, dan untuk mengukur komposisinya dengan cara membandingkan jumlah guru yang memiliki sertifikasi dibagi dengan jumlah keseluruhan guru. Guru bersertifikasi yang berada dalam naungan Kemendikbud RI diinformasikan pada Grafik 2.15 berikut.
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 119
Grafik 2.15 Guru Tersertifikasi
Sumber: Pusdatin Kemendikbud RI, November 2021
Data yang ditampilkan pada grafik di atas, menggambarkan bahwa diperlukan upaya khusus untuk dapat meningkatkan kualitas guru di Kabupaten Gorontalo Utara.
i. Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2021 tentang Penerapan Standar Pelayanan Minimal, yang merupakan bentuk penyempurnaan dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 100 Tahun 2018 tentang Penerapan Standar Pelayanan Minimal, dalam hal aspek dan jenis mutu layanan, tahapan penerapan SPM, pencapaian SPM, pelaporan, tim penerapan SPM, koordinasi penerapan SPM, hingga lampiran.
Gambaran penerapan SPM pada Urusan Pendidikan sebagaimana Tabel 2.45 berikut.
0,50%
44,10%
28,80% 25,90% 22,60%
13,30%
99,50%
55,90%
71,20% 74,10% 77,40%
86,70%
PAUD SD SMP SMA SMK SLB
Sudah Belum
Kabupaten Gorontalo Utara 2024
“Pemantapan Stabilitas Daerah Melalui Pembangunan Manusia, Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Pemerintahan untuk Pembangunan Berkelanjutan”
BAB 2 Page | 120
Tabel 2.45
Pencapaian SPM Pendidikan Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2022
No. Jenis Pelayanan
Dasar Mutu Layanan Dasar Target dalam Tahun
Realisasi dalam Tahun
Capaian Kinerja 1 Pendidikan Sekolah
Dasar
Jumlah Warga Negara Indonesia 7-15 tahun yang berpartisipasi dalam pendidikan dasar SD/MI dan SMP/MTs
21.069 orang 20.012 orang 98,71%
2 Pendidikan Kesetaraan
Jumlah Warga Negara Indonesia 7-18 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar dan atau
menengah yang
berpartisipasi di pendidikan kesetaraan
2.267 orang 1.920 orang 84,69%
3 Pendidikan Anak Usia Dini
Jumlah Warga Negara Indonesia 5-6 tahun yang berpartisipasi dalam pendidikan PAUD
4.415 orang 4.397 orang 99,59%
Sumber: Dinas Pendidikan, 2023