• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Self Care Agency Responden

BAB V HASIL PENELITIAN

2. Gambaran Self Care Agency Responden

Gambaran Self Care Agency Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Responden Gagal Jantung untuk Pemenuhan Kebutuhan Fisik, Seksual

dan Psikologis Sebelum dan Sesudah Diberikan Intervensi Paket Edukasi

Self Care Agency Pre Post

n % n %

Self Care Agency Pengetahuan untuk pemenuhan kebutuhan fisik

Kurang Baik

18 12

60 40

2 28

6,7 93,3 Self Care Agency Pengetahuan untuk pemenuhan

kebutuhan seksual Kurang

Baik

25 5

83,3 17,7

6 24

20 80 Self Care Agency Pengetahuan untuk pemenuhan

kebutuhan psikologis Kurang

Baik

23 7

76,7 23,3

11 19

36,7 63,3 Self Care Agency Sikap untuk pemenuhan

kebutuhan fisik Negatif Positif

18 12

60 40

6 24

20 80 Self Care Agency Sikap untuk pemenuhan

kebutuhan seksual Negatif

Positif

23 7

76,7 23,3

7 23

23,3 76,7

90 Self Care Agency Sikap untuk pemenuhan kebutuhan psikologis

Negatif Positif

20 10

66,7 33,3

12 18

40 60 Self Care Agency keterampilan untuk pemenuhan

kebutuhan fisik Tidak Terampil Terampil

19 11

63,3 36,7

2 28

6,7 93,3 Self Care Agency keterampilan untuk pemenuhan

kebutuhan seksual Tidak Terampil Terampil

21 9

70 30

7 23

23,3 76,6 Self Care Agency keterampilan untuk pemenuhan

kebutuhan psikologis Tidak Terampil Terampil

20 10

66,7 33,3

11 19

36,7 63,3

Tabel 5.2 menunjukkan bahwa sebelum diberikan intervensi paket edukasi sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang kurang (60%) tentang pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis pada klien gagal jantung.

Setelah diberikan intervensi paket edukasi semua responden memiliki pengetahuan yang baik (93,3%) tentang pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis pada klien gagal jantung. Pada pemenuhan kebutuhan seksual sebelum intervensi yang kurang (83,3%) dan sesudah intervensi yang baik (80%), sedangkan pada psikologis sebelum intervensi yang kurang (76,7%) dan sesudah intervensi yang baik (63,3%).

Sebelum diberikan intervensi paket edukasi sebagian besar responden memiliki sikap negatif (60%) terhadap pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis. Setelah diberikan intervensi paket edukasi semua responden memiliki sikap yang positif (80%) terhadap pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis. Pada pemenuhan kebutuhan seksual sebelum intervensi yang kurang (76,7%) dan sesudah intervensi yang baik (76,7%),

91

sedangkan pada psikologis sebelum intervensi yang kurang (66,7) dan sesudah intervensi yang baik (60%).

Sebelum diberikan intervensi paket edukasi sebagian besar responden (63,3%) tidak terampil dalam upaya pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis. Setelah diberikan intervensi paket edukasi sebagian besar responden (93,3%) terampil terhadap pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis. Pada pemenuhan kebutuhan seksual sebelum intervensi yang kurang (70%) dan sesudah intervensi yang baik (76,7%), sedangkan pada psikologis sebelum intervensi yang kurang (66,7%) dan sesudah intervensi yang baik (63,3%).

B. Analisa Bivariat

Tabel 5.3

Perbedaan rata-rata pengetahuan terhadap kemampuan self care agency antara sebelum dan sesudah diberikan paket edukasi dalam hal pemenuhan

kebutuhan fisik, seksual dan psikologis pada klien gagal jantung

Self Care Agency Pengetahuan

Intervensi

% Benar p

Sebelum Sesudah Pemenuhan Kebutuhan Fisik

S

1,40 0,498

1,93 0,254

0,000 Pemenuhan Kebutuhan Seksual

S

1,17 0,397

1,80 0,407

0,000 Pemenuhan Kebutuhan Psikologis

S

1,23 0,430

1,63 0,490

0,002

Hasil analisa Mc Nemar menunjukkan bahwa pada self care agency aspek pengetahuan didapatkan pemenuhan kebutuhan fisik sebelum intervensi dengan rata-rata (1,40) dan sesudah intervensi dengan rata-rata (1,93) dengan nilai p value 0,000, pemenuhan kebutuhan seksual sebelum intervensi dengan rata-rata (1,17) dan sesudah intervensi dengan rata-rata (1,80) dengan nilai p

92

value 0,000, sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan psikologis sebelum intervensi dengan rata-rata (1,23) dan sesudah intervensi dengan rata-rata (1,63) dengan P Value: 0,002 < α: 0,05 yang berarti ada perubahan self care agency responden pada aspek pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan intervensi paket edukasi.

Tabel 5.4

Perbedaan rata-rata sikap terhadap kemampuan self care agency antara sebelum dan sesudah diberikan paket edukasi dalam hal pemenuhan

kebutuhan fisik, seksual dan psikologis pada klien gagal jantung

Hasil analisa Mc Nemar menunjukkan bahwa pada self care agency aspek sikap didapatkan pemenuhan kebutuhan fisik sebelum intervensi dengan rata- rata (1,40) dan sesudah intervensi dengan rata-rata (1,80) dengan nilai p value 0,002, pemenuhan kebutuhan seksual sebelum intervensi dengan rata-rata (1,23) dan sesudah intervensi dengan rata-rata (1,77) dengan nilai p value 0,000, sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan psikologis sebelum intervensi dengan rata-rata (1,33) dan sesudah intervensi dengan rata-rata (1,60) dengan P Value: 0,039 < α: 0,05 yang berarti ada perubahan self care agency responden pada aspek sikap sebelum dan sesudah diberikan intervensi paket edukasi.

Self Care Agency Sikap

Intervensi

% Benar p

Sebelum Sesudah Pemenuhan Kebutuhan Fisik

S

1,40 0,498

1,80 0,407

0,002 Pemenuhan Kebutuhan Seksual

S

1,23 0,430

1,77 0,430

0,000 Pemenuhan Kebutuhan Psikologis

S

1,33 0,479

1,60 0,498

0,039

93 Tabel 5.5

Perbedaan rata-rata keterampilan terhadap kemampuan self care agency antara sebelum dan sesudah diberikan paket edukasi

dalam hal pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis pada klien gagal jantung

Self Care Agency Keterampilan

Intervensi

% Benar p

Sebelum Sesudah Pemenuhan Kebutuhan Fisik

S

1,37 0,490

1,93 0,254

0,000 Pemenuhan Kebutuhan Seksual

S

1,30 0,466

1,77 0,430

0,001 Pemenuhan Kebutuhan Psikologis

S

1,33 0,479

1,63 0,490

0,002

Hasil analisa Mc Nemar menunjukkan bahwa pada self care agency aspek keterampilan didapatkan pemenuhan kebutuhan fisik sebelum intervensi dengan rata-rata (1,37) dan sesudah intervensi dengan rata-rata (1,93) dengan nilai p value 0,000, pemenuhan kebutuhan seksual sebelum intervensi dengan rata-rata (1,30) dan sesudah intervensi dengan rata-rata (1,77) dengan nilai p value 0,001, sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan psikologis sebelum intervensi dengan rata-rata (1,33) dan sesudah intervensi dengan rata-rata (1,63) dengan P Value: 0,022 < α: 0,05 yang berarti ada perubahan self care agency responden pada aspek keterampilan sebelum dan sesudah diberikan intervensi paket edukasi.

Berdasarkan hasil uji statistik diatas maka dapat dinyatakan hasil uji hipotesis adalah sebagai berikut, Ho gagal ditolak (P Value: 0,000 < α: 0,05) yang berarti ada pengaruh paket edukasi terhadap self care agency dalam aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan pada klien gagal jantung untuk pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis.

94

BAB VI PEMBAHASAN

Bab ini akan menyajikan pembahasan tentang interpretasi hasil penelitian, diskusi hasil penelitian, keterbatasan penelitian dan implikasi hasil penelitian terhadap praktik pelayanan keperawatan serta penelitian keperawatan.

A. Interpretasi dan Diskusi Hasil Penelitian

Interpretasi hasil penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan tujuan penelitian yaitu mengetahui pengaruh paket edukasi (pengetahuan, sikap dan keterampilan) untuk klien gagal jantung terhadap self care agency untuk pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis di RSUD Kota Bekasi.

1. Karakteristik Demografi Klien a. Usia

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan usia termuda 21 tahun dan usia tertua 74 tahun. Pada usia produktif responden adalah sebanyak 19 orang dan usia tidak produktif adalah sebanyak 11 orang, kategori usia produktif di Indonesia yaitu usia antara 15-59 tahun (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional / BKKBN, 2013).

95

Hal ini sesuai dengan teori yang dilakukan oleh Hou (2004) menyebutkan bahwa umur merupakan faktor risiko utama terhadap penyakit jantung dan penyakit kronis lainnya, termasuk di dalamnya penyakit gagal jantung. Menurut Karavidas (2010) pertambahan umur dikarakteristikkan dengan disfungsi progresif dari homeostatis. Hal ini secara langsung akan mempengaruhi kapasitas fungsional, status psikologis, fungsi sosial dan persepsi terhadap kesehatannya.

Usia merupakan faktor prediktor penting pada self care agency.

Bertambahnya usia sering berhubungan dengan berbagai keterbatasan maupun kerusakan fungsi sensori. Kondisi seperti ini ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh De Greest (2004) yaitu bahwa terjadi penurunan kemampuan belajar dan mendemonstrasikan aktivitas self care klien gagal jantung sebagai akibat penurunan fungsi sensori. Selain itu bertambahnya usia berpengaruh terhadap perkembangan disfungsi organ akibat upaya tubuh untuk mempertahankan homeostatis.

Seiring bertambahnya usia maka hal itu akan berpengaruh secara langsung terhadap perubahan struktur jantung, dimana terjadi peningkatan penebalan dinding ventrikel kiri yang disebabkan karena hipertensi atau karena penyebab lain yaitu peningkatan afterload (Karavidas, 2010).

Prevalensi penyakit gagal jantung meningkat dengan bertambahnya usia.

Hal ini disebabkan karena proses patofisiologi yang terjadi pada klien gagal jantung usia lanjut, dimana terjadi perangsangan secara terus menerus pada sistem saraf simpatis akan meningkat kadar plasma

96

norepinefrin (Aronow, 2006). Perubahan patofisiologi ini berdampak pada kemampuan self care klien gagal jantung.

Penelitian yang dilakukan oleh Artinian (2002) menemukan bahwa faktor usia hanya berhubungan dengan beberapa dimensi self care yaitu kepatuhan terhadap diet dan penanganan terhadap gejala yang dirasakan.

Namun studi yang dilakukan Chriss (2004) menyebutkan bahwa usia berhubungan dengan semua dimensi self care. Hasil penelitian ini berbeda dengan yang dilakukan oleh Shuldam (2007) dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa self care tidak ada hubungannya dengan usia.

2. Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti terhadap klien gagal jantung di RSUD Kota Bekasi mayoritas klien yang menjadi responden adalah berjenis kelamin laki-laki sebanyak 22 orang dibandingkan dengan perempuan sebanyak 8 orang. Hasil penelitian Hsich (2009) menyatakan seiring perkembangan zaman, penyakit gagal jantung penyebab kematian nomor satu pada laki-laki karena penderita gagal jantung lebih banyak pada laki-laki. Berbagai faktor resiko banyak dimiliki laki-laki seperti merokok dan stress akibat kerja yang banyak terdapat pada laki-laki. Dari hasil penelitian ini dapat dilihat usia termuda responden penyakit gagal jantung adalah perempuan berusia 21 tahun sedangkan pada usia tertua berusia 74 tahun didominasi oleh laki-laki. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa pada usia 40-49 tahun laki-laki memiliki resiko dua kali lebih sering menderita

97

penyakit jantung dibanding perempuan, tetapi pasca menopause, rasio menjadi equivalent antara laki-laki dan perempuan. (Elliot Doug, 2007).

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cheng (2002) dalam penelitiannya mendapatkan karakteristik responden laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Hal tersebut dapat terlihat pada perbedaan faktor yang mempengaruhi kemampuan self care agency pada laki-laki dan perempuan. Laki-laki dipengaruhi oleh faktor kontrol persepsi dan pengetahuan, sedangkan pada perempuan faktor penting yang mempengaruhi adalah self care dan status fungsional (Heo, 2008). Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Shuldam (2007) dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak berhubungan dengan self care.

3. Pendidikan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terhadap klien gagal jantung di RSUD Kota Bekasi mayoritas tingkat pendidikan klien gagal jantung yang menjadi responden adalah berpendidikan Tinggi sebanyak 17 orang. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Moser (2001) bahwa tingkat pendidikan yang tinggi memiliki hubungan dengan kemampuan self care dan kepatuhan terhadap pengobatan.

Tingkat pendidikan sangat menentukan kemampuan klien untuk memahami tentang kondisi kesehatannya. Individu yang memiliki tingkat pendidikan rendah akan mengalami kesulitan untuk mengenal masalah kesehatannya serta memahami panduan penanganan penyakit dibandingkan dengan

98

individu yang berpendidikan tinggi tersebut akan meningkatkan pengenalan klien terhadap faktor yang mempengaruhi kesehatannya dan efek jangka panjang terhadap kesehatannya tersebut. Selain itu tingkat pendidikan juga berpengaruh terhadap kepatuhan seseorang terhadap manajemen pengobatan yang dijalaninya.

Dalam penelitian Zhong (2011) tingkat pendidikan, lamanya penyakit memiliki hubungan yang signifikan dengan pengetahuan seseorang, individu dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan hidup dengan penyakit dalam waktu yang panjang akan lebih memperhatikan self care agency terhadap penyakitnya, pendapat serupa juga dibuktikan oleh penelitian sebelumnya (Zhong, 2011) menemukan bahwa klien dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih mengerti dan memiliki kepatuhan yang lebih baik terhadap self care. Zhong (2011) menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan usia, pendapatan, okupasi dan kormobiditas.

4. Agama

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terhadap klien gagal jantung di RSUD Kota Bekasi mayoritas agama klien gagal jantung yang menjadi responden adalah beragama Islam sebanyak 28 orang.

Menurut J. G. Frazer, agama adalah suatu ketundukan atau penyerahan diri kepada kekuatan yang lebih tinggi daripada manusia yang dipercaya mengatur dan mengendalikan jalannya alam dan kehidupan manusia. Jadi

99

agama adalah suatu proses penelitian yang dilakukan untuk mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia dan Tuhan.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Altern Ther menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan rohani mungkin menjadi faktor penting dalam perkembangan penyakit jantung. (Altern Ther Kesehatan Med, 2001)

Agama erat kaitannya dengan keadaan spiritual klien gagal jantung. Semakin baik tingkat pengetahuan tentang agama maka semakin baik peningkatan self care agency klien gagal jantung. Hal ini disebabkan karena seorang klien yang menderita suatu penyakit akan lebih mudah mengalami depresi namun, jika klien tersebut sudah memiliki pengetahuan agama yang baik maka tidak akan mengalami kesulitan untuk mengenal masalah kesehatannya serta kepatuhan akan manajemen pengobatan yang dijalaninya.

Bermacam-macam agama yang ada pada dasarnya mengajarkan tentang umatnya untuk bersabar dalam menjalani suatu ujian termasuk menghadapi suatu penyakit seperti gagal jantung. Dengan keyakinan masing-masing klien diharapkan dapat membuat keadaan klien gagal jantung menjadi baik dan dapat meningkatkan self care agency pada klien gagal jantung untuk pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis.

5. Pekerjaan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terhadap klien gagal jantung di RSUD Kota Bekasi mayoritas pekerjaan klien gagal jantung yang menjadi responden adalah tidak bekerja sebanyak 18 orang.

100

Penghasilan sering dikaitkan dengan status sosial ekonomi seseorang. Bagi banyak klien gagal jantung yang hidup dengan kondisi sosial ekonomi rendah serta tidak memiliki pendapatan tambahan selain gaji, akan mengalami kesulitan dalam beberapa aspek self care agency. Misalnya berhubungan dengan kepatuhan terhadap diet rendah garam dan mengikuti program terapi yang sesuai anjuran (Moser & Watkins, 2008). Self care agency yang kurang akan menyebabkan klien mengalami perawatan dan ini akan berefek terhadap pembiayaan selama klien dirawat di rumah sakit.

Klien gagal jantung yang memiliki pekerjaan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan klien gagal jantung terhadap kepatuhan klien gagal jantung terhadap manajemen pengobatan yang dijalaninya sehingga dapat meningkatkan self care agency klien gagal jantung untuk pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis. Klien gagal jantung yang tidak memiliki pekerjaan akan mengalami kesulitan untuk mengenal masalah kesehatan serta memahami panduan penanganan penyakitnya dibandingkan dengan klien gagal jantung yang bekerja.

Menurut Lloyd-Jones (2009) Klien gagal jantung yang bekerja menimbulkan tantangan kesehatan kerja bahwa klien gagal jantung yang bekerja sering melaporkan keterbatasan kerja yang signifikan karena penurunan kapasitas fisik atau gejala berbahaya. Pekerja di posisi aman-sensitif juga menghadapi peningkatan risiko kecelakaan kerja karena gejala salah satunya adalah cepat lelah.

101

6. Pengaruh Paket Edukasi untuk klien gagal jantung Terhadap Self Care Agency untuk Pemenuhan Kebutuhan Fisik, Seksual dan Psikologis Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa klien gagal jantung yang di berikan edukasi pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis dengan durasi 45 menit memperlihatkan adanya pengaruh yang signifikan dalam aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan terhadap self care agency untuk pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis. Data dari 30 orang responden klien gagal jantung, diketahui bahwa nilai P Value: 0,000 < α: 0,05 yang berarti bahwa paket edukasi untuk klien gagal jantung mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap self care agency untuk pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis.

Edukasi merupakan proses interaktif yang mendorong terjadinya pembelajaran, dan pembelajaran merupakan upaya menambah pengetahuan baru, sikap serta keterampilan melalui penguatan praktik dan pengalaman tertentu (Potter & Perry, 2009). Menurut Notoatmodjo (2007) pendidikan (educational) secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok maupun masyarakat, sehingga melakukan apa yang diharapkan oleh pendidik. Dalam konteks kesehatan, maka edukasi diberikan kepada klien atau keluarganya sehingga mengambil keputusan yang tepat untuk meningkatkan kesehatannya.

Kondisi klien gagal jantung yang berobat ke Poli jantung RSUD Kota Bekasi adalah klien gagal jantung NYHA II / ringan dimana gejala gagal jantung tidak menyebabkan keterbatasan dalam aktivitas fisik ringan namun merasa

102

fatique, sesak, palpitasi dan nyeri dada bila melakukan aktivitas biasa seperti menaiki tangga. Pemberian edukasi yang diberikan oleh peneliti diharapkan dapat meningkatkan self care agency untuk pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis sehingga klien dapat meningkatkan kemampuan dalam merawat dirinya sendiri sehingga tidak ketergantungan dengan orang lain atau tidak menjadi beban orang lain

Optimalisasi pemberian informasi dilakukan peneliti dengan melibatkan keluarga sebagai pemberi dukungan dan pemberi pengaruh interpersonal dalam implementasi pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis.

Motivasi dan dukungan keluarga yang cukup akan menjadi cara konsisten dalam mempengaruhi tindakan perawatan self care agency untuk pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis pada klien gagal jantung secara mandiri di rumah.

Tujuan edukasi yang diberikan oleh peneliti kepada klien gagal jantung adalah meningkatkan kemampuan klien mengambil keputusan yang terbaik bagi kesehatan sehingga klien dapat mencapai kesehatan yang diharapkan.

Edukasi pada klien gagal jantung membantu klien meningkatkan derajat kesehatannya, meningkatkan self care agency klien untuk mempertahankan diet rendah garam, meningkatkan kualitas hidup, status kesehatan serta kemampuan klien melakukan aktivitas fisik sehari-hari. Mendorong perubahan gaya hidup yang lebih baik, edukasi mendorong klien untuk tidak merokok, diet rendah lemak, mengurangi depresi atau stress. Meningkatkan keyakinan diri klien melalui edukasi, kemampuan klien dan kepercayaan diri

103

untuk mengambil keputusan dalam perawatan kesehatannya, serta mempercepat proses penyembuhan. Klien dengan edukasi yang baik akan membantu mengurangi rehospitalisasi dan mempercepat proses penyembuhan.

Sedangkan edukasi yang diberikan dalam pemenuhan kebutuhan seksual salah satunya adalah cara aktivitas seksual pada klien gagal jantung ringan dan hal-hal yang perlu di ingat dan dihindari. Pemberian edukasi inilah yang harus diinformasikan pada klien gagal jantung. Salah satu peran perawat yaitu dengan memberikan self care agency untuk pemenuhan kebutuhan seksual pada klien gagal jantung ringan adalah dengan memberikan informasi tentang cara aktivitas seksual yang aman pada klien gagal jantung ringan.

Sedangkan edukasi untuk pemenuhan kebutuhan psikologis yaitu dengan memberikan dukungan penghargaan membuat klien merasa dihargai.

Memberikan dukungan sosial melalui perhatian, memberikan nasehat, berkata-kata yang baik, menemani, memberikan sesuatu yang menyenangkan sehingga tidak membuat klien stress, selain itu melarang segala sesuatu yang dapat membuat kondisi klien menurun, menghibur, dan membuat klien nyaman itu juga merupakan bentuk dari satu dukungan emosional.

Penghargaan diberikan misalnya percakapan, tukar pikiran, dan tidak melibatkannya untuk masalah yang dapat membuatnya stress itu dapat membuat dirinya merasa dihargai. Bantuan berupa tindakan diberikan dengan cara, misalnya mengingatkan waktu untuk minum obat, jadwal kontrol ke

104

dokter dan lain sebagainya. Klien diajarkan cara mengurangi dan mencegah cemas dengan teknik relaksasi dan istirahat yang cukup.

Menurut peneliti, adanya perubahan yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan intervensi paket edukasi sehingga terjadi peningkatan self care agency pada klien gagal jantung. self care agency yang terbentuk akan melahirkan komitmen untuk melakukan rencana tindakan perawatan mandiri klien gagal jantung yang pada akhirnya akan menambah ilmu pengetahuan sehingga klien gagal jantung dapat merubah perilakunya dan mengetahui cara bagaimana mentreatment dirinya secara mandiri. Perilaku self care agency yang terbentuk pada klien gagal jantung yang pada akhirnya akan mempertahankan kualitas hidup klien, mencegah komplikasi dan kekambuhan serta mengurangi kejadian rawat inap ulang.

Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ciere, Y (2012) yang bersifat systemic review pre-post studies menjelaskan keuntungan yag didapat dengan pemberian edukasi salah satunya melalui telehealth pada klien gagal jantung memberikan keuntungan dalam meningkatkan perbaikan klinik dan kualitas hidup klien melalui peningkatan aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan dan perilaku perawatan diri (self care behaviour).

Penelitian lain juga dilakukan oleh Uun Nurjanah (2013) bahwa edukasi terstruktur dapat mempengaruhi kualitas hidup pada klien gagal jantung.

Sedangkan menurut Diana L.B (2014) peningkatan manajemen diri pada klien gagal jantung dapat mengurangi 30 hari rawat inap ulang.

105

Keberhasilan edukasi dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu faktor metode, materi atau pesan, petugas atau pendidik yang melakukan dan alat bantu atau alat peraga yang dipakai harus sesuai dengan sasaran (I Putu, 2012). Untuk memperoleh hasil yang efektif dalam memberikan edukasi pada individu terutama lansia, faktor alat bantu dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai dengan materi dan subjek belajar. Media pembelajaran membantu menegakkan pengertian yang diperoleh. Di dalam menerima sesuatu yang baru manusia mempunyai kecenderungan untuk lupa terhadap pengertian yang diterima (Notoadmodjo, 2005).

Media pembelajaran yang digunakan akan mempermudah dan membantu klien dalam memahami informasi yang diberikan sehingga aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan akan meningkat dan apa yang akan diterima akan lebih lama tersimpan dalam ingatan. Kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan self care agency klien yang akan menghasilkan komitmen dan perilaku self care agency terkait informasi yang diberikan.

Salah satu media yang digunakan dalam edukasi ini adalah penggunaan buku panduan/booklet yang berisi panduan pemenuhan kebutuhan fisik, pemenuhan kebutuhan seksual dan pemenuhan kebutuhan psikologis pada klien gagal jantung yang sistematis untuk dibaca dan dipelajari oleh klien gagal jantung setelah pulang ke rumah.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa adanya perubahan yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan intervensi paket edukasi untuk pemenuhan kebutuhan fisik dalam aspek pengetahuan sebelum intervensi (1,40) sesudah

106

(1,93) dengan nilai p value 0,000, sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan fisik dalam aspek sikap sebelum intervensi (1,40) sesudah (1,80) dengan nilai p value 0,002, dan untuk pemenuhan kebutuhan fisik dalam aspek keterampilan sebelum intervensi (1,37) sesudah (1,93) dengan nilai p value 0,000. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa ada peningkatan yang signifikan dalam aspek pengetahuan dan keterampilan sedangkan dalam aspek sikap mengalami peningkatan yang tidak signifikan seperti pada aspek pengetahuan dan keterampilan, ini disebabkan karena tidak mudah merubah sikap seseorang dalam waktu yang singkat.

Sikap ini dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya motivasi dan kepatuhan dalam melakukan peningkatan kemampuan self care agency untuk pemenuhan kebutuhan fisik, seksual dan psikologis. Nilai sikap yang masih belum signifikan dibandingkan dengan pengetahuan dan keterampilan setelah dilakukan edukasi kemungkinan disebabkan oleh pengaruh lingkungan internal responden sendiri.

Penelitian ini sejalan dengan Newcorb dalam Notoatmodjo (2005) menjelaskan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan tindakan, akan tetapi merupakan pemungkin (predisposing) tindakan terhadap perilaku. Alport dalam Notoatmodjo (2005), mengelompokkan 3 komponen pokok dalam sikap, yaitu kepercayaan (keyakinan), kehidupan emosional, dan kecenderungan untuk bertindak. Lalu ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total