BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Teori Edukasi
3. Tujuan Edukasi Klien
Menurut Rankin dan Stallings (2001) tujuan edukasi kesehatan adalah membantu individu mencapai tingkat kesehatan yang optimal melalui tindakannya sendiri. Memberikan edukasi adalah salah satu fungsi penting perawat dalam memenuhi kebutuhan klien terhadap informasi. Tanggung jawab perawat adalah menjembatani kesenjangan yang terjadi antara pengetahuan klien dengan kebutuhan klien akan informasi untuk mencapai kesehatan yang optimal. Edukasi klien dilakukan untuk berbagai tujuan seperti meningkatkan derajat kesehatan klien, mencegah penyakit dan injury, memperbaiki atau mengembalikan kesehatan, meningkatkan kemampuan koping klien terhadap masalah kesehatannya seperti pemberdayaan. Edukasi klien berfokus pada kemampuan klien untuk melakukan perilaku sehat.
Kemampuan klien untuk merawat dirinya dapat ditingkatkan melalui edukasi yang efektif.
Tujuan edukasi pada klien dengan penyakit gagal jantung adalah meningkatkan kemampuan klien mengambil keputusan yang terbaik bagi kesehatan sehingga klien dapat mencapai kesehatan yang diharapkan. Edukasi pada klien gagal jantung membantu klien meningkatkan derajat kesehatannya, meningkatkan self care agency klien untuk mempertahankan diet rendah garam, meningkatkan qualitas hidup, status kesehatan serta kemampuan klien
58
melakukan aktivitas fisik sehari-hari. Mendorong perubahan gaya hidup yang lebih baik, edukasi mendorong klien untuk tidak merokok, diet rendah lemak, mengurangi depresi atau stress. Meningkatkan keyakinan diri klien melalui edukasi, kemampuan klien dan kepercayaan diri untuk mengambil keputusan dalam perawatan kesehatannya, serta mempercepat proses penyembuhan.
Klien dengan edukasi yang baik akan membantu mengurangi lama rawat dan mempercepat proses penyembuhan (Hiltunen, 2005).
Adapun secara spesifik tujuan edukasi terhadap klien dengan Gagal Jantung adalah :
a. Klien memahami kondisi penyakit atau kesehatannya b. Klien memahami program pengobatan pasca perawatan c. Klien menjaga pola makan sesuai diet yang disarankan
d. Klien dapat melakukan aktivitas fisik sesuai tahapan rehabilitasi e. Klien menghindar faktor resiko terjadi serangan berulang
f. Klien memahami tindakan yang dilakukan dan akses yang dapat dihubungi jika timbul keluhan
g. Klien dapat menjalani kehidupan seperti sebelumnya dengan perilaku yang sehat
h. Klien memiliki semangat hidup, kepercayaan diri, dan perilaku perawatan diri yang baik.
Fokus intervensi keperawatan dalam rangka meningkatkan keefektifan penatalaksanaan program terapeutik pada klien gagal jantung (Wilkinson, J &
Ahern N, 2012) adalah :
a. Modifikasi perilaku untuk meningkatkan perubahan perilaku
59
b. Kewaspadaan jantung dengan mencegah episode akut gangguan fungsi jantung dengan meminimalkan konsumsi oksigen miokardium atau meningkatkan suplay oksigen miokardium
c. Dukungan pembuatan keputusan dengan memberi informasi dan dukungan kepada klien yang membuat keputusan tentang pelayanan kesehatan yang tepat
d. Penetapan tujuan bersama melalui kerjasama dengan klien untuk mengidentifikasi dan memprioritasikan tujuan tersebut
e. Pembuatan kontrak klien dengan melakukan negosiasi persetujuan dengan klien yang memperkuat perubahan perilaku tertentu
f. Bantuan perawatan diri dengan melibatkan orang lain dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
g. Bantuan modifikasi diri dengan memberi penguatan terhadap perubahan yang diarahkan pada dan diprakarsai oleh klien untuk mencapai tujuan yang secara pribadi penting
h. Fasilitas tanggung jawab diri dengan mendorong klien untuk bertanggung jawab atas perbuatan sendiri
i. Penyuluhan proses penyakit untuk membantu klien memahami informasi tentang penyakit gagal jantung
j. Penyuluhan individu dengan merencanakan, mengimplementasikan dan mengevaluasi program penyuluhan penyakit jantung yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan klien
k. Penyuluhan program aktivitas dengan menyiapkan klien untuk mencapai dan atau mempertahankan tingkat latihan untuk penyakit jantung yang diprogramkan.
60
l. Penyuluhan program diet dengan mempersiapkan untuk mengikuti program diet penyakit jantung yang benar
m. Penyuluhan obat resep dengan mempersiapkan klien untuk mengkonsumsi obat resep dengan benar dan memantau efek obat tersebut.
Bloom dalam Notoatmodjo (2010) menjelaskan bahwa derajat kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan.
1) Perubahan Perilaku Kesehatan
Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organism (makhluk hidup) yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2010). Perilaku adalah respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makan dan minuman serta lingkungan. Menurut Notoadmodjo (2010) membagi perilaku manusia kedalam 3 domain yaitu kognitif (cognitive), afektif (affective) dan psikomotor (psychomotor). Dalam perkembangan selanjutnya Bloom memodifikasi kognitif menjadi pengetahuan untuk dapat mengukurnya.
2) Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
61
Pengetahuan adalah factor yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang Notoatmodjo (2010). Secara garis besar 6 tingkatan pengetahuan:
a. Tahu (know)
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
b. Memahami (comprehension)
Memahami suatu obyek bukan sekedar tahu terhadap obyek tersebut, tidak sekedar menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat mengintrepetasikan secara benar tentang obyek yang diketahui tersebut.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami obyek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.
d. Analisa (analysis)
Analisa adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen- komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau obyek diketahui.
Indikasi bahwa orang tersebut sudah dalam tahap analisa adalah apabila orang tersebut sudah dalam tahap analisa adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.
e. Sintesis (synthesis)
62
Sintesis menunjuk suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atas meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen- komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain sintesis adalah suatu komponen untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.
f. Evaluasi
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku dimasyarakat.
3) Sikap (Attitude)
Menurut Notoatmodjo (2010) sikap adalah juga respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya). Campbell (1950) mendefinisikan sangat sederhana yakni “An individual’s attitude is syndrome of response consistency with regard to object”. Jelas disini dikatakan bahwa sikap itu suatu sindrom atau kumpulan gejala dalam merespons stimulus objek. Sehingga sikap itu melibatkan pikiran, perasaan, dan gejala kejiwaan yang lain.
Tingkatan sikap berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut:
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang atau objek mau menerima stimulus yang diberikan (objek).
b. Menanggapi (responding)
63
Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi.
c. Menghargai (valuing)
Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain, bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespons.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa yang diyakininya. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya, dia harus berani mengambil resiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya resiko lain.
4) Tindakan atau Praktik (practice)
Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak (praktik). Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk terwujudnya tindakan perlu factor lain antara lain adanya fasilitas atau sarana prasarana.
Praktik atau tindakan dibedakan menjadi 3 tingkatan menurut kualitasnya, yakni:
a. Praktik terpimpin (guided response)
Apabila seseorang sudah melakukan suatu tetapi masih tergantung pada tuntunan atau menggunakan panduan.
b. Praktik secara mekanisme (mechanism)
Apabila seseorang sudah melakukan atau mempraktikan sesuatu hal secara otomatis maka disebut praktik atau tindakan mekanis.
64 c. Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang.
Artinya apa yang dilakukan tidak sekedar rutinitas atau mekanisme saja, tetapi sudah dilakukan modifikasi tindakan atau perilaku yang berkualitas.