BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data
4. Tujuan SDS Dua Mei
Tujuan pendidikan Nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi mnausia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Adapun tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
2) Tujuan Sekolah
Mengacu kepada tujuan pendidikan nasional, tujuan pendidikan dasar, visi dan misi sekolah, maka tujuan SD Dua Mei Ciputat adalah sebagai berikut:
a. Terwujudnya peserta didik yang berkualitas dan kompetititf
b. Terbinanya peserta didik yang berkepribadian, berakhlak mulia dan berbudaya
c. Meraih prestasi akademik maupun non akademik d. Menjadi sekolah yang diminati mesyarakat.
Terwujudnya pendidikan tanpa membeda-bedakan sesuai dengan UUD yang menyatakan “Setiap Warga Negara berhak mendapatkan pendidikan”.
5. Lingkungan Sekolah
Nama Sekolah : SDS Dua Mei Ciputat
NISS : 104020147107
NPSN : 20604472
Akreditasi : A ( 22 November 2017) Nomor SK : 132/BAP-S/M-SK/XI/2017 Tanggal : 22/ 11/ 1917
Alamat Sekolah : Jl. H. Abdul Ghani, No. 135/19 Telp/ Fax : (021) 7490034
Kelurahan : Cempaka Putih Kota : Tangerang Selatan
Provinsi : Banten
Kelompok Sekolah : -
Pelaksanaan KBM : Pagi (07:00-14:00)
Status Tanah : Milik Yayasan Luas Tanah : 2607
Bangunan Sekolah : Milik Sendiri Ruang Kelas : 6 Ruang Ruang Perpustakaan : 1 Ruang Ruang Komputer : 1 Ruang Ruang Kep. Sekolah : 1 Ruang Ruang Guru : 1 Ruang Jumlah Peserta Didik :
Banyak Rombel : 6 Rombel Jumlah Guru PNS :-
Guru Sukwan : 12 Penjaga Sekolah : 1 Tata Usaha : 1 Tahun Operasional : 1988 6. Keadaan Sekolah
1. SDS Dua Mei Ciputat berada dalam satu lokasi dengan luas tanah 2607 . Letak bangunan sekolah sangat strategis mudah dijangkau dengan kendaraan umum. Namun sulit untuk mengembnagkan daya tampung yang sudah terbatas, sehingga tidak dapat melayani minat masyarakat dengan optimal, hendaknya bangunan yang ada harus dibangun bertingkat.
2. Daftar bangunan, ruangan, sarana dan prasarana sekolah Tabel 4.1 :Daftar bangunan, ruangan dan prasarana
No Nama Keterangan Jumlah
Baik Sedang Rusak
1 Bangunan 6 - - 6
2 Ruang Kelas 6 - - 6 3 Ruang
Perpustakaan
- 1 - 1
4 Karpet - 2 - 2
5 Rak Buku 6 - - 6
6 Meja Guru 13 - - 13
7 Kursi Guru 13 - - 13
8 Lemari 4 - - 4
9 Lemari Kaca 1 - - 1
10 White Board 6 - - 6
11 Kabinet - 1 - 1
12 Komputer 2 - - 2
13 Laptop 7 - - 7
14 Printer 2 - - 2
15 Bupet 1 - - 1
16 Tv 1 - - 1
17 CD Player - - 1 1
18 Ruang Guru Kepala Sekolah
1 - - 1
19 Ruang Wakil Kepala Sekolah
1 - - 1
20 Ruan Guru 1 - - 1
21 Ruang Dapur 1 - - 1
22 Ruang Gudang - 1 - 1
23 Meja Siswa 24 Bangku Siswa
25 Toilet Guru - 1 - 1
26 Wc Siswa - 3 -
27 Infocus 5 - - 5
28 Rak Piala 1 - - 1
29 Tape Recorder 2 - - 2
30 Piano 2 - - 2
31 Rak Sepatu - 6 - 6
32 Ac - 6 - 6
33 Kantin 6 - - 6
34 Alat Marawis - 1 Set - 1
35 Tempat Parkir Baik - -
36 Musholla Baik
37 Lapangan Olahraga
Baik
7. Struktur Keorganisasian Sekolah dan Pendidik /Kependidikan
a. Struktur Organnisasi
b. Data Pendidik /Kependidikan Tabel 4.2: Data Pendidik
NO NAMA GURU L/P PENDIDIKAN TMT
IJAZAH TAHUN TINGKAT JURUSAN PERTAMA
1 Siti Badriyah, M.Pd.I P S.2 2015 Strata 2 MPI 18-07-2005
2 Siti Komariah, M.Pd.I P S.2 2015 Strata 2 MPI 18-7-2005
3 Romlah, S.Pd.I P S.1 2005 Strata 1 MP 18-7-2005
4 Yuniah, SE P S.1 2009 Strata 1 Ekonomi 18-7-2005
5
Rahmiana Agustini,
S.Psi P S.1 2015 Strata 1 Psikologi 18-7-2015
6 Dini Alfi Yonita, S.Pd P S.1 2016 Strata 1 PGSD 18-7-2016
7 Bima Arwunda, S.Pd L S.1 2015 Strata 1 PJKR 18-7-2015
8 Budi Suntoro L SMU 2008 - - 18-7-2008
9 Agung Abdillah, S.Th.I L S.1 2013 Strata 1 - TH
10 Ettikawati, A.Md P D3 1992 D3 Keuangan 18-7-2015
11 Muhammad Muklis L SMU 2009 - - 18-7-2016
12 Sri Nurlela, S.Pd P S.1 2016 Strata 1 PGSD 18-7-2017
13 Tita Nanda De Arfista P SMK 2015 - - 16-8-2016
14 Kasmudi L SD 1978 - - 18-7-1968
8. Data Siswa-siswi SDS Dua Mei a). Peserta didik tahun 2017/2018 Tabel 4.3 : Peserta Didik
Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
I 10 12 22
III 10 16 26
III 8 6 13
IV 8 8 16
V 6 4 10
VI 4 1 5
Jumlah 46 47 93
Adapun anak berkebutuhan khusus sebagai berikut : Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
I 1 - 1
II 1 1 2
III 2 - 2
IV 2 1 3
V 2 - 2
VI 1 - 1
Jumlah 9 2 11
9. Data Prestasi Siswa-siswi SDS Dua Mei A. Kriteria Naik Kelas dan Kelulusan 1. Kenaikan Kelas
Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun pelajaran. Kriteria dan penentuan kenaikan kelas adalah sebagai berikut:
a) Telah menyelesaikan semua program pembelajaran untuk satu tahun pelajaran.
b) Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk kelompok mata pelajaran selain kelompok mata pelajaran IPTEK.
c) Jumlah ketidakhadiran alpa kurang dari 24 izin dan sakit kurang dari 48 hariper tahun.
d) Nilai raport diambil dari nilai ulangan harian, nilai tugas/PR, nilai pengamatan, nilai ulangan tengah semester, dan nilai ulangan umum semester, dengan pengolahan nilai sebagaimana yang diatur dalam penentuan nilai dengan standar Ketuntasan Standar Minimal SDS Dua Mei Ciputat.
e) Memiliki raport kelasnya masing-masing
f) Penentuan siswa yang naik kelasdilakukan oleh sekolah dalam satu rapat Dewan Guru dengan mempertimbnagkan SKM, sikap, penilaian budi pekerti, kehadiran siswa dan penilaian lain yang terkait siswa yang bersangkutan
g) Siswa yang naik kelas, pada raportnya dituliskan Naik Kelas
h) Siswa yang tidak naik kelas harus mengulang dikelas yang lama.
2. Siswa yang dinyatakan lulus diberi ijazah, dan buku raport milknya
3. Siswa yang tidak lulus harus mengulang dikelas VI.
10. Kurikulum SDS Dua Mei Ciputat
Kurikulum yang digunakan di SDS Dua Mei ciputat adalah kurikulum 2013. Sebelum menngunakan kurikulum 2013 di SDS Dua Mei ciputat menngunakan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Setelah adanya peraturan pemerintah baru adanya kurikulum 2013, SDS Dua Mei menjadi salah satu sekolah yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menerapkan 2013. Dengan menggunakan metode pengajaran yang diarahkan pada metode learning by doing,
peserta didik di dorong agar termotivasi untuk berdaya pikir kreatif dan inovatif sehingga proses pembelajaran menjadi aktif, efektif, dan menyenangkan. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dari hari Senin-Jum’at mulai pukul 07:00 sampai dengan pukul 14:00 Wib. Program Khusus SDS Dua Mei yaitu : Hafalan Al- Qur`an juz 30. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari setelah shalat dhuha berjama’ah dan tadarus Al-Qur`an sebelum pembelajaran di mulai.
Kegiatan ekstrakurikuler meliputi : 1. English Conversation
2. Marawis 3. Pramuka 4. TIK 5. Seni lukis 6. Seni tari 7. Renang 8. Futsal
Kegiatan Kokurikurel meliputi:
1. Field Trip 2. Cooking Class 3. Shalat Dhuhur 4. Market Day
5. Pengajian Bulanan 6. Tadarus Al-Qur`an.
11. Kemitraan
1. Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan perempuan Perlindungan Anak dalam kegiatan Sosialisasi Perlindungan Kekerasan Terhadap Anak
2. RS UIN Syarif Hidayatullah dalam kegiatan “My Healty School”
3. Oishi Roadshow dalam kegiatan lomba Mewarnai tingkat TK dan lomba ketangkasan tingkat SD
4. Tanah Liat Citra bentuk kegiatan membentuk kreasi dari tanah liat
5. Primacita Indonesia Education and Human Resource Consultant dalam bentuk kegiatan Short Seminar Parenting yang bertema “Dampak Depresivitas (Stress) Pada Anak Usia Dini”
6. Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta fakultas Tarbiyah dan Keguruan dalam kegiatan observasi mahasiswa UIN terhadap Mananjemen Sarana dan Prasaran yang ada di SDS Dua Mei Ciputat.
7. Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta Fakultas Tarbiyah dalam bnetuk kegiatan PPKT mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Baca Tulis Al-Qur``an.
B. Deskripsi Obyek Penelitian
1. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Bagi Anak Berkebutuhan Khusus di SDS Dua Mei
Salah satu pendidikan yang didapatkan oleh anak berkebutuhan khusus di SDS Dua Mei adalah pendidikan agama Islam. Pendidikan ini di berikan dengan tujuan agar anak didik dapat memahami apa yang terkandung dalam ajaran agama Islam, menghayati makna, maksud dan tujuannya sehingga mereka dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dan pada akhirnya mendatangkan keselamatan dunia dan akhirat.
Pendidikan agama Islam yang didapatkan di sekolah SDS Dua Mei, tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga praktis. Anak didik di latih untuk mengamalkan apa yang mereka pelajari di dalam kelas,
seperti membiasakan shalat secara berjamaah. Pembelajaran yang seperti ini sangat membantu anak-anak yang berkebutuhan khusus karena mereka mudah menangkap pelajaran yang konkrik dan bukan abstrak.1
Terkait dengan model pembelajaran dalam pelaksanaan kurikulum di SDS Dua Mei lebih di sarankan untuk menerapkan model pembelajaran individualisme. Tujuan dari model pembelajaran individualisme yaitu menjamin untuk memberikan pelayanan bagi setiap ABK. Meskipun tidak menutup kemungkinan bagi anak ABK dengan kecerdasan normal dapat dikenai dengan model pembelajaran yang biasa digunakan anak normal. Adapun untuk konsep dasar KTSP atau pengembangan kurikulum untuk ABK lebih difokuskan pada masalah dan kebutuhan belajar individual, bukan berorientasi pada standar isi mata pelajaran yang seragam. Pelaksanaan kurikulum di SLB dibedakan menjadi dua yaitu, pertama, bagi ABK dengan kecerdasan rendah atau ABK kategori sedang dan berat. Pelaksanaan kurikulum difokuskan untuk pengembangan kompetensi adaptif dan keterampilan fungsional. Kedua, bagi ABK dengan kecerdasan normal dan di atas normal dapat mengikuti kurikulum sekolah umum, dengan memodifikasi strategi pembelajarannya sesuai dengan karakteristik ABK. Dalam pelaksanaan KTSP tentu terkait dengan bahan ajar. Dan bahan ajar tersebut dikembangkan dari kompetensi yang harus dikuasai siswa.
2. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Bagi Anak Berkebutuhan Khusus SDS Dua Mei
Implementasi merupakan suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam bentuk tindakan praktis sehingga
1Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SDS Dua Mei, pada senin, 7 Juli 2018.
memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan, maupun nilai dan sikap. Implementasi juga bisa berarti pelaksanaan yang berasal dari kata bahasa Inggris Implement yang berarti melaksanakan.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru pendidikan agama Islam di SDS Dua Mei mengatakan bahwa:
Ketika kita berbicara tentang implementasi, terlebih dahulu kita kupas konsep pembelajaran untuk ABK. Yang mana anak ABK di SDS Dua Mei ini Bergama jenisnya, ada anak autis membutuhkan dua sisi pembelajaran yaitu dua guru dan satu anak autis. Alasan nya karena anak autis itu mempunyai ketidak konsentrasian atau yang di namakan hiperaktif. Selain hiperaktif ada juga autis tantrum (sering mengamuk atau menangis dan mengamuknya dengan fisik), pembelajaran pada autis tantrum ini di laksanakan dengan dua guru, yang satu untuk memegang dan yang satu untuk mengajari. Pada anak autis tantrum ini guru tidak boleh kalah dari anak autis tersebut.
Seumpama anak autis tantrum itu menangis, maka guru tersebut harus bisa mengatakan kata “diam” dengan lebih keras dari tangisan nya.
Sedangkan untuk anak autis biasa atau yang pasif, cukup guru tersebut mengonsentrasikan kepala nya kepada guru yang satu nya karena dari tantrum atau autis yangbiasa itu identik pada tidak fokus pada yang di lihat. Seumpama yang di lihat itu huruf A namun pandangan nya mengarah kepada huruf B seperti itu. Oleh karena itu harus di butuhkan dua guru. Konsep pembelajaran yang lain yaitu jika anak tersebut sudah tidak fokus lagi, maka salah satu guru harus mengusap tangannya ke wajahnya sampai anak itu berkedip dan berkonsentrasi kembali. Ini adalah salah satu cara atau metode agar proses belajar- mengajar tetap terjaga dan meghasilkan hasil yang signipikan.2
C. Evaluasi Hasil Penelitian
Agar implementasi Pendidikan Agama Islam bagi anak berkebutuhan khusus di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan dapat berjalan dengan maksiml. Khususnya dalam Pendidikan akhlak, al-
2Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SDS Dua Mei, pada senin, 7 Juli 2018.
Qur’an praktek shalat dan umumnya pada semua materi pembelajaran, maka penulis memberikan saran sebagai berikut :
a) Agar implementasi Pendidikan Agama Islam berjalan dengan baik, maka seorang guru ABK harus mengerti atau memahami komponen-komponen pelaksanaan pendidikan agama Islam yang meliputi, kurikulum, metode, media dan evaluasi. Semua komponen- kpmponen tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan anak, tanpa di sesuaikan dengan kemampuan anak maka anak tidak akan mengerti apa yang telah diajarkan kepada nya.
b) Mengajar anak ABK hendaknya dengan penuh kesabaran, kasih sayang dan perhatian yang lebih. Dan yang terpenting harus memahami karakter maupun kemampuan anak sehingga dalam mengajar guru mampu menguasai kelas, materi, media, metode bahkan kerjasama antara orang tua dan guru harus tetap terjalin dengan baik agar komunikasi antara orang tua dan guru berjalan dengan baik. Contohnya tentang pembelajaran anak di sekolah itu seperti apa. Karena keberhasilan anak itu juga tergantung kepada perhatian yang diberikan oleh orang tua di rumah. Selain itu motivasi juga sangat diperlukan oleh anak berkebutuhan khusus agar lebih semangat dalam belajar, karena itu semua untuk kebaikan dan keberhasilan peserta didik itu sendiri.
D. Pendidikan Agama Islam Di SDS Dua Mei
Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan yang menjadi dasar moral dan aqidah bagi pendidikan sekolah, Pembelajaran pendidikan agama Islam di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan hampir sama dengan sekolah umum. Kurikulum yang diterapkan di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan adalah Kurikulum 2013.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru agama tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan sebenarnya mengacu pada sekolah umum, tetapi kenyataannya anak masih belum mampu. Sehingga yang menjadi target dalam pembelajaran adalah bertaqwa kepada Allah, berbudi pekerti, anak bisa mandiri, berakhlak mulia, tidak melakukan perbuatan tercela, dan terbiasa shalat walaupun hanya bisa dalam gerakan.
Materi yang diajarkan pada anak-anak ABK tersebut adalah apa yang biasa mereka lakukan sehari-hari, misalnya tentang wudhu, sholat, bisa membedakan makanan yang halal dan haram, mana perbuatan yang baik dan tercela, bagaimana bersikap kepada orang lain. Pada saat guru akan menyampaikan materi guru biasanya membetulkan posisi duduk siswa tunarungu terlebih dahulu, kemudian mengarahkan perhatian siswa kepada materi yang akan di tulis di papan tulis. Ketika siswa memperhatikan pembelajaran belum tentu mereka paham, maka guru perlu mengimbangi penyampaian materi dengan contoh yang jelas dan dengan suara yang keras.3
E. Metode yang Efektif bagi Siswa ABK dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan
Metode pada hakikatnya ialah cara yang digunakan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat dengan mudah
3 Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SDS Dua Mei, pada senin, 7 Juli 2018.
menerima materi yang diajarkan. Metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDS Dua Mei yang sering digunakan oleh guru diantaranya ialah: metode ceramah, drill, tanya jawab, demonstrasi, metode pemberian tugas dan metode keteladanan. Dari metode-metode ini semuanya diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan disesuaikan dengan keadaan siswa yang mengalami ketunarunguan.
Berikut peneliti lampirkan angket berkaitan dengan metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDS Dua Mei yang diambil dari guru pengajar Agama yaitu Ibu Siti Komariyyah4:
Tabel 4.4: Angket Untuk Guru
No Pertanyaan ST
S
TS S SS
1 Metode yang digunakan sesuai dengan materi yang diajarkan
2
2 Guru menggunakan metode yang bervariasi
1 1
3 Guru sering menggunakan media pembelajaran
1 1
4 Guru melakukan pendekatan khusus pada siswa tunarungu dengan katagori berat (deaf)
2
4 Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SDS Dua Mei, pada senin, 7 Juli 2018.
Keterangan
STS : Sangat Tidak Setuju TS : Sangat Setuju S : Setuju
SS : Sangat Setuju
Dari tabel diatas dapat dipahami bahwa metode yang digunakan guru dalam proses pembelajaran sangat beragam, mulai dari menggunakan metode yang bervariasi, menggunakan media sebagai alat bantu sampai melakukan pendekatan khusus bagi siswa tunarungu dengan katagori berat. Dalam penyampaian materi seringkali guru menggunakan bahasa campuran, karena anak-anak tunarungu yang belajar disana berklasifikasi tunarungu ringan dan tunarungu sedang maka mereka masih bisa mendengar suara walaupun hanya sedikit, meski metode yang digunakan guru adalah ceramah penyampaiannya pun harus menggunakan suara yang keras.
Saat anak-anak tidak mengerti sama sekali apa yang disampaikan guru maka baru dipakai bahasa isyarat (abjad jari). Berdasarkan hasil observasi peneliti, penggunaan metode ceramah ini belum sepenuhnya efektif, mengingat latar belakang guru yang bukan lulusan PLB jadi penggunaan bahasa isyarat guru belum maksimal sehingga siswa tunarungu masih kesulitan dalam memahami penjelasan guru.
Metode drill (latihan) digunakan guru untuk memperoleh keterampilan siswa dari apa yang telah dipelajari.Dari hasil observasi peneliti, ketika guru menulis di papan tulis tentang huruf hijaiyyah.
Guru kemudian menjelaskan apa yang dimaksud dari tulisan tersebut dengan menggunakan suara yang keras dan terkadang menggunakan gerakan tangan. Guru akan mendatangi murid dengan kategori berat
dan menjelaskan lagi secara perlahan maksud dari pembelajaran mereka, sampai mereka benar-benar paham. Kemudian satu persatu siswa menulis ulang materi pembelajaran di papan tulis. Guru akan membetulkan tulisan yang salah dengan cara membimbing siswa untuk mengulang kembali tulisan tersebut sampai mereka bisa. Dari hasil pengamatan peneliti, metode drill dapat dikatakan efektif, meski terkadang guru harus lebih ekstra dalam menjelaskan maksud dari materi pembelajaran pada murid yang belum paham. Karena pada hakekatnya kemampuan belajar siswa tunarungu sama seperti siswa normal lainnya ada yang cepat tanggap ada juga yang lama. Namun dengan kesabaran dan kegigihan guru dalam membimbing dan menjelaskan kembali siswa tunarungu dapat juga menulis dengan baik dan benar.
Dari wawancara yang peneliti lakukan dengan Ibu Siti Badriah selaku selaku guru kelas sekaligus kepala sekolah, berkaitan dengan metode pembelajaran, seperti yang beliau sampaikan bahwa metode yang paling efektif bagi siswa tunarungu ialah metode demonstrasi.
Kalau masalah metode sebenarnya sama aja seperti sekolah biasa. Apa aja bisa yang penting disesuaikan dengan materi. Tapi mengingat kondisi anak kita yang berbeda dengan sekolah biasa maka untuk metodenya paling sering kita gunakan ceramah, latihan sama praktek langsung atau metode demonstrasi. Menurut saya yang paling efektif untuk anak-anak tunarungu metode praktek langsung karena kalau kita kasih materi dengan ceramah saja dari awal sampai akhir siswanya pasti tidak paham. Apalagi dengan kondisi mereka yang seperti itu. Untuk apa kita nulis sampai papan tulis penuh kalau ujung- ujungnya mereka tidak paham apa yang sedang dipelajari. Makanya dibutuhkan matode demonstrasi karena disitu kita bisa langsung praktek contoh yang sebenarnya.5
5 Wawancara dengan Guru Kelas sekaligus Kepala Sekolah SDS Dua Mei,
pada senin, 7 Juli 2018.
Dari pernyataan beliau dapat diambil kesimpulan bahwa materi yang disampaikan disesuaikan dengan keadaan siswa, karena hal-hal yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari akan lebih mudah dipelajari dan dipraktekkan, jadi tingkat pemahaman siswa terhadap pembelajaran pendidikan agama Islam sedikit lebih mudah.
Untuk metode demonstrasi jelas anak-anak akan lebih paham karena langsung melihat contoh konkritnya. Seperti materi tentang wudhu’
dan shalat guru akan mengajak siswa ke mushola untuk praktek langsung berwudhu’ dan shalat. Karena dari penjelasan Ibu Nurlaina bahwa media yang digunakan untuk siswa tunarungu sebaiknya media yang sebenarnya, berikut cuplikan pernyataan beliau:
Kalau dulu kami sering menggunakan gambar untuk media pembelajaran seperti gerakan-gerakan shalat, cara berwudhu’. Tapi kalau bisa dengan medianya langsung, misalnya seperti mengambil air wudhu’ maka kita praktek langsung berwudu’nya dengan air biar lebih terarah.6
Dengan demikian dapat dipahami bahwa untuk lebih memahamkan anak tunarungu menganai meteri yang diajarkan, maka untuk prakteknya harus menggunakan media yang sebenarnya. Dari hasil wawancara peneliti dengan guru agama di SDS Dua Mei penggunaan metode demonstrasi ini dapat dikatakan efektif dilihat dari rutinitas siswa yang aktif dalam mengikuti kegiatan keagamaan di sekolah seperti shalat dzuhur berjama’ah.
Adapun mengenai metode pemberian tugas, siswa diberi tugas oleh guru untuk menuliskan kembali kegiatan siswa selama bulan Ramadhan. Jawaban mereka beragam, ada yang menulis bermain
6Wawancara dengan Guru Kelas sekaligus Kepala Sekolah SDS Dua Mei, pada senin, 7 Juli 2018.
dengan teman, shalat tarawih, dan membantu orangtua.Dari hasil observasi peneliti, penggunaan metode ini belum sepenuhnya efektif, karena masih ada siswa yang kebingungan dari tugas yang diberikan guru, hal ini disebabkan oleh kesulitan guru menjelaskan dengan bahasa isyarat.Sedangkan metode keteladanan guru gunakan untuk membentuk akhlak yang baik dengan cara memberi contoh langsung kepada siswa bagaimana seharusnya bersikap kepada orangtua, guru dan sesama teman. Dari pengamatan peneliti, metode ini efektif digunakan untuk siswa tunarungu, karena akhlak siswa di SDS Dua Mei benar-benar bagus.
Jadi, dapat dipahami bahwa metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang efektif bagi siswa tunarungu adalah metode- metode yang membuat siswa tunarungu berperan aktif dalam pembelajaran seperti metode drill, demonstrasi dan keteladanan.
Metode-metode ini dapat dipahami dengan mudah oleh siswa tunarungu karena mereka bisa melihat contohnya secara konkrit dan mempraktekkan langsung. Sedangkan metode seperti ceramah, tanya jawab dan penugasan kurang efektif, karena membutuhkan keahlian dari seorang tenaga pengajar dalam penguasaan bahasa isyarat (abjad jari) agar lebih mudah dalam menjelaskan maksud dari yang dipelajari. Penguasaan bahasa isyarat ini bukan hanya berlaku untuk guru saja, tapi juga siswa tunarungu, agar lebih mudah dalam memahami penjelasan guru. Dengan demikian metode apa pun akan mudah diterapkan jika guru dan siswa sama-sama mengusai sistem komunikasi yang baik, benar dan sesuia dengan keadaan.
F. Dampak Metode yang Digunakan Guru terhadap Prestasi Belajar Siswa ABK di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan
Penggunaaan metode pembelajaran harus disesuaikan dengan meteri pembelajarandan kondisi peserta didik sehingga tujuan dari pembelajaran tersebut dapat tercapai. Berikut peneliti lampirkan angket berkaitan dampak metode yang digunakan guru terhadap prestasi belajar siswa ABK di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan yang diambil dari guru pengajar Agama :
Tabel 4.5 : Metode yang digunakan guru terhadap prestasi belajar siswa ABK di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan
No Pertanyaan STS TS S SS
1 Siswa dengan cepat dapat menguasai pelajaran agama Islam
2 2 Guru melakukan bimbingan rutin khusus bagi
siswa tunarungu
1 1 3 Guru sudah berhasil dalam mengajarkan
Pendidikan Agama Islam dilihat dari runtinitas sehari-hari siswa tunarungu
2
4 Siswa rajin mangikuti kegiatan keagamaan di sekolah
2 5 Siswa senang apabila pelajaran agama Islam
dilaksan
2 6 Guru sering melakukan evaluasi formatif 1 1