TANGERANG SELATAN Skripsi ini Diajukan
Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh : Siti Khairina NIM. 13311257
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA 2018 M./1439 H.
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi dengan judul “Pendidikan Agama Islam Pada Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar Dua Mei Kota Tangerang Selatan” yang disusun oleh Siti Khairina Nomor Induk Mahasisiwi:
13311257 telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan ke sidang munaqasyah.
Jakarta, 1 Agustus 2018 Pembimbing,
Dr. Hj. Romlah Widayati M. Ag
PENGESAHAN
Skripsi dengan judul “Pendidikan Agama Islam Pada Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar Dua Mei Kota Tangerang Selatan” oleh Siti Khairina Nomer Induk Mahasisiwi: 13311257 telah diujikan disidang Munaqasyah Program Strata 1 Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta pada tanggal . Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd).
Jakarta,
Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Dr. Hj. Umi Khusnul Khotimah, M.Ag
Sidang Munaqasyah
Ketua Sidang Sekretaris Sidang
Dr. Hj. Umi Khusnul Khotimah, M.Ag Wasmini
Penguji 1 Penguji II
Dr.Hj.Umi Khusnul Khotimah Dr.H.Ahmad Fathoni,LC, MA Pembimbing
Dr. Hj. Romlah Widayati, M.Ag
1 A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT dan berbudi pekerti luhur memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.1
Hal ini jelas tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional menjelaskan dalam pasal 5 ayat 1 dan 2 berbunyi; (ayat 1) setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu (ayat 2) warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental intelektual, dan sosial berhak mendapatkan pendidikan khusus. Anak autis merupakan anak yang berkebutuhan khusus yang memiliki kelainan sosial. Isi yang telah disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.
20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional menjelaskan dalam pasal 5 ayat 2 tersebut menunjukan bahwa anak autis mendapatkan hak yang sama untuk pendidikan.2
1Undang-Undang RI No.11 Tahun 1980, Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Gajahyana Pres. 1989), h. 4.
2UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 5 ayat 2, h. 10.
Sebagaimana firman Allah Q.S. Ar-Rum ayat 30
“maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah (Islam). (sesuai) Fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.
(Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S. Ar-Ruum/ 30: 30) Firman Allah yang berbentuk potensi itu tidak akan mengalami perubahan dengan pengertian bahwa manusia terus dapat berpikir, merasa, bertindak, dan dapat terus berkembang. Kalau potensi itu tidak dikembangkan, niscaya ia akan kurang bermakna dalam kehidupan. Oleh karena itu, perlu dikembangkan dan pengembangan itu senantiasa dilakukan dalam usaha kegiatan belajar.3
Pendidikan tidak hanya di butuhkan oleh anak-anak yang normal saja, tetapi pendidikan juga dibutuhkan oleh anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak-anak penyandang autis. Selain itu pendidikan tidak hanya bertugas memberikan bekal kepada peserta didik tentang pengetahuan didunia saja, tetapi peserta didik juga harus dibekali dengan pengetahuan agama, sehingga memperoleh bekal yang lengkap ketika hidup dimasyarakat.
Pendidikan agama Islam sebagai bagian dari pendidikan, merupakan salah satu bidang studi di lembaga pendidikan umum dengan tujuan membantu anak didik untuk memperoleh kehidupan yang bermakna, sehingga mereka mendapatkan kebahagiaan hidup di
3Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam Jilid I, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 1-2
dunia dan di akhirat, baik secara individu maupun kelompok.
Pendidikan agama Islam mengajarkan anak didik tata cara beribadah untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dan tata cara berhubungan dengan sesama manusia, saling menghormati, menghargai dan menyayangi.4
Dalam penyampaian materi pendidikan agama Islam pada anak berkebutuhan khusus tidak semudah seperti penyampaian materi pendidikan agama Islam pada anak-anak normal, sebab mereka sulit diajak berfikir abstrak. Oleh karena itu dalam pembelajaran pendidikan agama Islam untuk anak autis membutuhkan suatu pola tersendiri sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, yang berbeda antara satu dengan yang lainya. Dalam penyusunan progran pembelajaran untuk setiap bidang studi, guru kelas seharusnya sudah memiliki data pribadi setiap peserta didiknya. Data pribadi yang berkaitan karakteristik spesifik, kemampuan dan kelemahanya, kompentensi yang dimilikinya, dan tingkat perkembanganya. Maka dapat disimpulkan bahwa penting sekali pendidikan agama Islam.
karena agama sebagai kendali dan harus ditanamkan sedari kecil.
Dalam melaksanakan pendidikan agama Islam haruslah menanamkan nilai-nilai pendidikan agama Islam sebagai langkah menuju tujuan pendidikan agama Islam itu sendiri. Pendidikan agama pada dunia pendidikan merupakan modal dasar bagi anak untuk mendapatkan nilai-nilai ketuhanan. Karena dalam pendidikan agama Islam
4Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Presfektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2001), h. 46.
diberikan ajaran tentang aqidah, muamalah, ibadah dan syari’ah yang merupakan dasar ajaran agama.5
Oleh karena itu selayaknya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus harus lebih diperhatikan, karena tidak semua anak berkebutuhan khusus mampu belajar bersama dengan anak-anak pada umumnya, disebabkan anak berkebutuhan khusus sangat sulit untuk dapat berkonsentrasi. Dalam kondisi seperti inilah dirasakan perlunya pelayanan yang memfokuskan kegiatan dalam membantu para peserta didik yang menderita gangguan autis secara pribadi agar mereka dapat berhasil dalam proses pendidikanya. Fakta di atas menunjukkan bahwa pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus membutuhkan lebih banyak perhatian, baik dari segi kurikulum, pendidik, materi, dan evaluasinya. Pendidikan agama Islam untuk anak berkebutuhan khusus dalam pembelajarannya harus dipersiapkan secara matang agar dalam proses pembelajarannya bisa maksimal dan membuahkan hasil.6
Hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam pada anak berkebutuhan khusus adalah semua komponen harus disesuaikan dengan keadaan peserta didik. Oleh karena itu, masing-masing komponen tidak berjalan secara terpisah, tetapi harus berjalan secara beriringan, sehingga diperlukan pengelolaan pengajaran yang baik yang telah dipertimbangkan dan dirancang secara sistematis.7
5Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusif (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), h. 1.
6Ibid., h. 12
7Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusif, h. 12-14.
Siswa berkebutuhan khusus adalah siswa yang memiliki suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Bahkan pada autistik infantil gejalanya sudah ada sejak lahir. Penyandang autisme seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Istilah berkebutuhan khusus atau dalam hal ini autisme baru diperkenalkan sejak tahun 1913 oleh Leo Kanner, sekalipun kelainan itu sudah ada sejak berabad-abad yang lampau.
Autisme bukan suatu gejala penyakit tetapi berupa sindrom (kumpulan gejala) dimana terjadi penyimpangan perkembangan sosial, kemampuan berbahasa, dan kepedulian terhadap sekitar sehingga anak autisme seperti hidup dalam dunianya sendiri. Dengan kata lain, terdapat keengganan untuk berinteraksi secara aktif dengan orang lain, sering terganggu dengan keberadaan orang di sekitarnya, tidak dapat bermain bersama-sama. Mengingat anak ABK susah untuk berkonsentrasi, tentunya tidak mudah memberi pengertian dan melatih anak berkebutuhan khusus, namun dengan kesabaran guru dan orang tua, anak ABK dapat belajar menjalankan kewajiban sesuai tuntutan agama seperti anak-anak normal lainya.
Untuk mewujudkan harapan tersebut seorang guru dituntut untuk memenuhi dan memahami pengetahuan yang seksama mengenai pertumbuhan dan perkembangan pesat anak didiknya.
Memahami tujuan yang akan dicapai, penguasaan materi dan penyesuaian dengan metode-metode yang tepat.
Dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah SDS Dua Mei Tangerang Selatan memerlukan kesabaran karena banyak masalah yang muncul dalam pembelajaran, di samping hambatan mental yang mereka miliki. Beberapa contoh problem dari
hasil observasi peneliti adalah pada saat awal pembelajaran berlangsung memerlukan kerja keras seorang guru. di sini guru di tuntut untuk sabar, kreatif, dan pintar memodifikasi berbagai metode- metode agar anak autis mudah mencerna materi yang di sampaikan.8
Penelitian ini dilakukan di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan. Alasan peneliti mengambil SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan, karena diketahui di sekolah tersebut ada beberpa siswa-siswi yang berkebutuhan khusus dan di sekolah tersebut juga menanamkan nilai-nilai pendidikan agama Islam pada anak berkebutuhan khusus.
Walaupun anak berkebutuhan khusus memerlukan pengajaran yang ekstra dan memerlukan kebutuhan khusus dalam hal ini tentunya berbeda dengan anak normal biasanya. Realitas inilah yang dijadikan lokasi ini reprensentatif untuk dijadikan objek penelitian dan perlu diketahui bagaimana kondisi sebenarnya tentang upaya guru melaksanakan pembelajaran pendidikan agam Islam pada anak berkebutuhan khusus, dan mengetahui problematika yang dihadapi dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam pada anak berkebutuhan khusus di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan.
Berdasarkan pada latar belakang permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini menjadi sebuah judul
“Pendidikan Agama Islam Pada Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar Dua Mei Kota Tangerang Selatan”.
8Hasil Wawancara dengan Ibu Kepala Sekolah SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan, pada tanggal 29 Januari 2018.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan judul yang akan dibahas dalam tulisan ini, yaitu :
1. Program konsep PAI pada anak berkebutuhan khusus.
2. Urgensi pendidikan berkebutuhan khusus.
3. Problematika yang dihadapi dalam pembelajaran berkebutuhan khusus.
4. Upaya para pendidik dalam membimbing siswa berkebutuhan khusus.
5. Keberhasilan dalam pembelajaran PAI pada siswa berkebutuhan khusus.
C. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah diperlukan agar penelitian yang dilakukan lebih terarah dan mendalam berdasarkan identifikasi masalah diatas. Maka, untuk memfokuskan permasalahan, penulis membatasi permasalahan tersebut pada :
1. Konsep pendidikan agama Islam pada anak berkebutuhan khusus.
2. Program pelaksanaan pembelajaran berkebutuhan khusus.
3. Peningkatan pembelajaran anak berkebutuhan khusus.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka permasalahan yang penulis teliti adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana konsep PAI dalam pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan?
2. Bagaimana proses pembelajaran pendidikan agama Islam di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan?
3. Bagaimana hasil yang dicapai dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam pada anak berkebutuhan khusus di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan?
E. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui proses pembelajaran pendidikan agama Islam pada anak berkebutuhan khusus di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan.
b. Untuk mengetahui problematika yang dihadapi dalam pembelajaran pendidikan agama Islam pada anak berkebutuhan khusus di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan.
c. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah dalam mengatasi masalah tersebut.
d. Untuk mengetahui hasil pembelajaran pendidikan agama Islam pada anak berkebutuhan khusus di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan.
2. Manfaat Penelitian a. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan berpikir, mengenai permasalahan dalam bidang studi pendidikan agama Islam terutama yang berhubungan dengan anak berkebutuhan khusus di tempat penulis mengadakan penelitian.
b. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan bagi sekolah tersebut di dalam meninjau kembali usaha dan kegiatannya dalam proses belajar mengajar khususnya pendidikan agama Islam kepada anak berkebutuhan khusus sebagai gangguan perkembangan.
F. Tinjauan Pustaka
Kajian tentang pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus baik dalam bentuk skripsi, tesis, disertasi, maupun jurnal, sudah banyak dibahas diantaranya :
Skripsi yang ditulis oleh Slamet Waluyo dengan judul
“Metode Pembelajaran PAI pada Anak Usia Dini”. Penelitian tersebut mengkaji mengenai metode pembelajaran PAI dan penerapannya. Persamaan isi skripsi dengan penulis adalah mengkaji tentang metode pembelajarannya, kemudian pada jenis penelitiannya, sedangkan perbedaannya ada pada jenis subjek dan objek penelitiannya.9
Selanjutnya adalah skripsi yang ditulis oleh Nuraeni dengan judul “Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Anak Autis di Sekolah Autis Lanjutan Yogjakarta”. Dalam skripsi ini Nuraeni meneliti tentang bagaimana pendidikan agama Islam pada anak autis di sekolah autis lanjutan di Yogjakarta.10
Hastuti menulis skripsi berjudul “Metode Pembelajaran PAI di TK Al Irsyad Al Islamiyah Purwokerto”. Penelitian ini berisi tentang metode pembelajaran PAI yang diterapkan di TK yang
9Waluyo, “Metode Pembelajaran PAI pada Anak Usia Dini”, (Skripsi S1 Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016).
10Nuraeni, “Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Anak Autis di Sekolah Autis Lanjutan Yogjakarta”, (Skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta, 2012).
terkenal dengan kelebihannya baik dalam metode pembelajaran, sarana dan prasaranannya dibanding dengan sekolah-sekolah lainnya.
Persamaan isi skripsi ini dengan penulis yaitu mengkaji tentang metode pembelajarannya, jenis penelitiannya, sedangkan perbedaannya yaitu pada subjek dan objek penelitiannya.11
Wahid menulis Skripsi dengan judul “Metode Pembelajaran PAI bagi Anak Tuna Daksa di SDLB Negeri Cilacap”. Skripsi ini mengkaji tentang metode pembelajaran sama dengan apa yang diteliti oleh penulis, perbedaannya yaitu tentang subjek dan objeknya.12
Berdasarkan hasil penelusuran referensi yang ada, penelitian terhadap anak berkebutuhan khusus yang dilakukan di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan, sejauh pengamatan penulis hingga saat ini belum ada yang mengkajinya. Oleh karena itu penulis akan mengangkat masalah tersebut dalam bentuk skripsi.
G. Metodelogi Penelitian
Pada penulisan ini, penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Lewat penelitian ini penulis mengumpulkan, membaca bahan yang sedang diteliti, menganalisa serta menuliskannya. Kajian kepustakaan yaitu melakukan penelusuran kepustakaan dan menelaahnya.
1. Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang ditujukan untuk
11Hastuti, “Metode Pembelajaran PAI di TK Al Irsyad Al Islamiyah Purwokerto”, (Skripsi S1 Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan”, (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014).
12 Wahid ,“Metode Pembelajaran PAI bagi Anak Tuna Daksa di SDLB Negeri Cilacap”, (Skripsi S1 Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan”, (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014).
mendeskripsikan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran, orang secara individu atau kelompok. Beberapa deskripsinya digunakan untuk menemukan prinsip- prinsip dan penjelasan yang mengarah pada kesimpulan.13
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan (field research) yakni penelitian yang bertujuan melakukan studi yang mendalam mengenai suatu unit sosial sedemikian rupa sehingga menghasilkan gambar yang terorganisir dengan baik dan lengkap mengenai unit sosial tersebut. Pada prinsipnya penelitian lapangan bertujuan untuk memecahkan masalah- masalah praktis dalam masyarakat. Yang dimaksud subyek adalah orang atau apa saja yang menjadi sumber data.
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, yaitu memperoleh data sesuai dengan gambaran, keadaan, realita dan fenomena yang diselidiki. Sehingga data yang diperoleh oleh penulis dideskripsikan secara rasional dan obyektif sesuai dengan kenyataan di lapangan, sedangkan lokasi yang dijadikan sebagai tempat penelitian adalah Sekolah SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan.
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Menurut Lofland sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan selebihnya
13Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 60.
adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.14 Dalam penelitian ini yang penulis jadikan sumber data adalah sebagai berikut :
a. Kepala Sekolah SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan atau yang mewakili. Informasi yang diperoleh adalah tentang segala sesuatu yang terkait dengan sekolah yang meliputi: sejarah singkat, struktur organisasi, keadaan guru, keadaan siswa, sarana dan prasarana dan sistem pembelajaran secara umum di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan.
b. Guru PAI di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan. Informasi yang diperoleh adalah Bagaimana pembelajaran pendidikan agama Islam diajarkan kepada siswa autis di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan, problematika pembelajaran pendidikan agama Islam pada anak autis, upaya yang dilakukan sekolah untuk mengatasi problematika tersebut, serta hasil proses pembelajaran PAI.
c. 9 Anak berkebutuhan khusus yang beragama Islam di Sekolah SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan.
H. Sistematika Penulisan
Penulis mengacu pada buku Pedoman Penulisan Skripsi yang diterbitkan oleh Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta tahun 2011, adapun sistem matika penulisan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN, mencakup pembahasan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.
14Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 157.
BAB II KAJIAN TEORI, yang mencakup landasan teori atau konsep yang mendukung penulisannya itu meliputi metode pembelajaran pendidikan agama Islam bagi anak berkebutuhan khusus.
BAB III METODE PENELITIAN, meliputi pembahasan mengenai pendekatan dan jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data.
BAB IV HASIL PENELITIAN, meliputi pembahasan yang mencakup gambaran umum obyek penelitian, deskripsi data, dan analisa data.
BAB V PENUTUP, membahas tentang penutup yang berisi kesimpulan dan saran.
14 BAB II KAJIAN TEORI A. Metode Pembelajaran
1. Pengertian Metode Pembelajaran
Pengertian metode pembelajaran macam-macam, syarat dan faktor- faktor yang mempengaruhi metode pembelajaran kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah sebagai suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dalam kegiatan belajar mengajar dibutuhkan suatu metode pembelajaran yang menarik agar peserta didik tidak merasa bosan dengan materi yang diajarkan guru. Pembelajaran juga dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsung pembelajaran. Metode pembelajaran adalah cara atau pendekatan yang dipergunakan dalam menyajikan atau materi pelajaran, dan menempati peranan yang tak kalah penting dalam proses belajar mengajar. Dalam pemilihan metode apa yang tepat, guru harus melihat situasi dan kondisi peserta didik serta materi yang diajarkan.1
Dalam kegiatan belajar mengajar daya serap peserta didik tidaklah sama. Dalam menghadapi perbedaan tersebut, strategi pengajaran yang tepat sangat dibutuhkan. Strategi pengajaran yang tepat menurut Basrudin Usman adalah pola umum perbuatan guru dan peserta didik dalam kegiatan mewujudkan kegiatan belajar mengajar.2
1Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Prakteknya, (Jakarta: Sinar Grafika, 2004), h. 32
2Muliyati, Diagnosa Kesulitan Belajar, (Semarang: IKIP PGRI Semarang Press, 2010), h. 11.
14
Metode pembelajaran merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru untuk menghadapi masalah tersebut sehingga mencapai tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik. Dengan pemanfaatan metode yang efektif dan efisien, guru akan mampu mencapai tujuan pengajaran.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.3
2. Macam-macam Metode Pembelajaran
Proses belajar mengajar yang baik, hendaknya mempergunakan berbagai jenis metode pembelajaran secara bergantian atau saling bahu membahu satu sama lain. Masing-masing metode ada kelemahan dan kelebihannya. Tugas guru ialah memilih berbagai metode yang tepat untuk menciptakan proses belajar mengajar. Macam-macam metode pembelajaran adalah sebagai berikut :
1) Metode proyek
Metode proyek adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak pada suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna.
Pengggunaan metode ini bertitik tolak dari anggapan bahwa pemecahan masalah perlu melibatkan berbagai mata pelajaran yang ada kaitannya dengan pemecahan masalah tersebut.
2) Metode eksperimen
Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian
3Muliyati, Diagnosa Kesulitan Belajar, h. 12
pelajaran, dimana peserta didik melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.
Peserta didik dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran atau mencoba mencari suatu hukum atau dalil dan menarik kesimpulan atau proses yang dialaminya itu.
3) Metode tugas atau resitasi
Metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar peserta didik melakukan kegiatan belajar. Metode ini diberikan karena materi pelajaran banyak sementara waktu sedikit. Agar materi pelajaran selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan, maka metode inilah yang biasanya digunakan oleh guru.
4) Metode diskusi
Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, dimana peserta didik dihadapkan pada suatu masalah yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan secara bersama.
Teknik diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah, dalam diskusi terjadi interaks, tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah dan peserta didikmenjadi aktif.
5) Metode demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukan kepada peserta didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan dengan lisan.
Dengan metode demonstrasi, proses penerimaan peserta didik terhadap pelajaran akan terkesan secara mendalam sehingga
membentuk pengertian dengan baik dan sempurna 6) Metode Tanya jawab
Metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada peserta didik, tetapi dapat pula dari peserta didik kepada guru, metode Tanya jawab memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat dua arah sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan peserta didik.
7) Metode latihan
Metode latihan merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.
8) Metode ceramah
Metode ceramah adalah metode tradisional, karena sejak dulu dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Metode tersebut harus dapat meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru.4
4Ramayulis, Metode Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010), h. 42
3. Prinsip-prinsip Metode Pembelajaran
Betapapun baiknya metode pengajaran, apabila tidak dibarengi dengan cara belajar yang benar, hasilnya tentu tidak akan seperti yang diharapkan. Dalam metode-metode tersebut terdapat prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakannya.
Prinsip mengajar atau dasar mengajar merupakan usaha guru dalam menciptakan dan mengkondisikan situasi belajar-mengajar agar siswa melakukan kegiatan belajar secara optimal. Usaha tersebut dilakukan guru pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar.
Penggunaan prinsip mengajar bisa direncanakan guru sebelumnya, bisa pula secara spontan dilaksanakan pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar, terutama bila kondisi belajar siswa sudah menurun. Prinsip-prinsip itu adalah individualitas, motivasi, aktivitas, minat dan perhatian, keperagaan, pengulangan, keteladanan, dan pembiasaan. Prinsip-prinsip tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan erat satu sama lain. Dengan prinsip-prinsip tersebut diharapkan pengajaran yang diberikan dapat membawa hasil yang memuaskan. Prinsip-prinsip pengajaran tersebut yakni sebagai berikut:5
1. Individualitas
Individu adalah manusia atau orang yang memiliki pribadi atau jiwa sendiri. Kekhususan jiwa itu menyebabkan individu yang satu berbeda dengan individu yang lain. Dengan perkataan lain, tiap- tiap manusia mempunyai jiwa sendiri. Secara terperinci perbedaan itu dapat dilihat pada:
5Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2002), h. 34.
1) Perbedaan umur
Sejak dahulu hingga sekarang orang menentukan tingkat kelas murid berdasarkan umurnya, misalnya kelas satu SD terdiri dari anak-anak yang usianya enam tahun. Semua anak-anak yang duduk pada tingkat atau kelas berdasar umur dianggap dapat memperoleh keuntungan yang sama dari pelajaran dan kegiatan-kegiatan yang diberikan dengan metode penyajian yang sama. Ketidakmampuan seseorang menguasai materi yang diberikan dijelaskan secara sederhana bahwa hal itu hanya disebabkan oleh faktor kemalasan.
Jadi sama sekali tidak diperhatikan kenyataan bahwa murid-murid berbeda kemampuannya dalam menerima pelajaran atau dengan kata lain tidak dipertimbangkan bahwa anak-anak yang usianya sama tidak selalu memiliki tingkat kematangan belajar yang sama.
2) Perbedaan intelegensi
Jika kita bandingkan antara yang anak pada dasarnya pandai dengan anak yang kurang pandai maka akan kelihatan beberapa perbedaan sebagai berikut:
Anak yang pandai:
a) Cepat menangkap isi pelajaran.
b) Tahan lama memusatkan perhatian pada pelajaran dan kegiatan.
c) Dorongan ingin tahu kuat, banyak inisiatip.
d) Cepat memahami prinsip-prinsip dan pengertian-pengertian.
e) Sanggup bekerja dengan pengertian abstrak.
f) Dapat mengkritik diri sendiri, tahu bahwa ia tidak tahu.
g) Memiliki minat yang luas.
Sedang anak yang kurang pandai berlaku keadaan sebaliknya:
a) Lambat menangkap pelajaran.
b) Perhatiannya terhadap pelajaran cepat hilang.
c) Kurang atau tidak punya inisiatif.
d) Perbedaan kesanggupan dan kecepatan
Dalam melakukan kegiatan-kegiatan sekolah, kesanggupan dan kecepatan anak berbeda. Anak yang cerdas akan jauh lebih cepat menyelesaikan tugas-tugasnya dalam hitungan daripada anak yang kurang cerdas. Demikian pula dalam berbagai bidang terdapat perbedaan kesanggupan. Namun demikian jarang dijumpai orang yang pandai atau bodoh dalam segala bidang. Yang umum ialah kurang pandai dalam satu atau beberapa bidang tetapi dalam hal ini menunjukkan kesanggupannya.
Ada beberapa teknik untuk menyesuaikan pelajaran dengan kesanggupan ideal, dengan melakukan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) Individualized assignments: guru merencanakan tugas-tugas perorangan sesuai dengan kebutuhan murid yang bersangkutan.
b) Pengajaran unit atau proyek: para murid dapat mengerjakan sesuatu yang disesuaikan dengan minatnya.
c) Homogeneous groupping: tujuan utama dari pengelompokan ini adalah menyatukan murid-murid yang dapat mengambil manfaat dari aktivitas-aktivitas kelompok yang sama. Umumnya pengelompokan ini didasarkan atas kemampuan, bukan atas usia.
d) Remedial work: cara ini ditempuh bila terdapat kesalahan-kesalahan atau kesulitan-kesulitan yang dibuat atau dihadapi oleh murid secara individual.
e) Mengusahakan pemberian tugas-tugas pelajaran di sekolah: tugas ini bersifat latihan-latihan atau mengulang pelajaran yang sudah
dipelajari bagi anak yang kurang, sedang bersifat menambah hal-hal yang belum dipelajari bagi anak yang pandai.6
1. Motivasi
Motivasi memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Motivasi adalah dorongan atau kekuatan yang dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi berhubungan erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat lebih tinggi pada suatu mata pelajaran cenderung memiliki perhatian yang lebih terhadap mata pelajaran tersebut sehingga akan menimbulkan motivasi yang lebih tinggi dalam belajar. Dorongan yang timbul dari dalam dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu dinamakan motivasi instrisik. Sedangkan dorongan yang timbul karena adanya pengaruh luar disebut dengan motivasi ekstrinsik.
Macam-macam motivasi sebagai berikut :
a. Memberi angka, banyak anak belajar semata-mata untuk mencapai atau mendapatkan angka yang baik. Angka yang baik bagi mereka merupakan motivasi dalam kegiatan belajarnya.
b. Hadiah, hal ini dapat membangkitkan motivasi yang kuat bagi setiap orang dalam melakukan suatu pekerjaan atau belajar sekalipun.
c. Persaingan, faktor persaingan sering digunakan sebagai alat untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi dilapangan industri, perdagangan dan sekolah.
d. Tugas yang menantang, memberi kesempatan terhadap anak untuk memperoleh kesuksesan belajar.
6Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2002), h. 24.
e. Pujian, pujian diberikan ketika pekerjaan atau belajar anak dapat memperoleh hasil belajar yang memuaskan.
f. Teguran dan kecaman, digunakan untuk memperbaiki kesalahan anak yang melanggar disiplin atau melalaikan tugas yang diberikan.
g. Hukuman, hal ini diberikan kepada anak yang telah melanggar peraturan dan ketika itu si anak sudah di beri teguran tetapi tetap melanggar, maka anak itu boleh diberi hukuman.
2. Aktivitas
Mengajar adalah proses membimbing pengalaman belajar.
Pengalaman itu sendiri hanya mungkin diperoleh bila murid itu dengan keaktifan sendiri bereaki terhadap lingkungannya. Kalau seorang murid ingin belajar memecahkan suatu problem, ia harus berpikir menurut langkah-langkah tertentu kalau ia ingin menguasai suatu keterampilan ia harus berlatih mengkoordinasikan otot-otot tertentu; kalau ia ingin memiliki sikap tertentu, ia haru memiliki sejumlah pengalaman emosional.
Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa belajar itu hanya berhasil bila melalui bermacam-macam kegiatan. Kegiatan tersebut dapat digolongkan menjadi keaktifan jasmani dan rohani. Keaktifan jasmani ialah murid giat dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain-main atau bekerja. Jadi, murid tidak hanya duduk dan mendengar. Murid aktif rohaninya jika daya jiwa anak bekerja sebanyak-banyaknya, jadi anak mendengarkan, mengamati-amati, menyelidiki, mengingat-ingat, menguraikan, mengasosiasikan ketentuan yang satu dengan ketentuan yang lain.
Keuntungan dari penggunaan prinsip aktivitas adalah tanggapan sesuatu dari yang dialami atau dikerjakan sendiri lebih sempurna dan mudah direproduksikan dan pengertian yang diperoleh
adalah jelas. Selain itu beberapa sifat watak tertentu dapat dipupuk misalnya: hati-hati, rajin, bertekun dan tahan uji, percaya pada diri sendiri, perasaan sosial dan sebagainya.
3. Minat dan Perhatian
Minat dan perhatian merupakan suatu gejala jiwa yang selalu bertalian. Seorang siswa yang memiliki minat dalam belajar, akan timbul perhatiannya terhadap pelajaran yang diminati tersebut. Akan tetapi perhatian seseorang kadang kala timbul dan ada kalanya hilang sama sekali. Suatu saat anak kurang perhatiannya terhadap penjelasan yang diberikan oleh guru di depan kelas, bukan disebabkan dia tidak memiliki minat dalam belajar, boleh jadi ada gangguan dalam dirinya atau perhatian lain yang mengusik ketenagannya di dalam kelas atau guru kurang dapat memberikan teknik pengajaran yang bervariasi.
Tidak semua siswa mempunyai perhatian yang sama terhadap pelajaran yang disajikan oleh seorang guru. Oleh karena itu diperlukan kecakapan guru untuk dapat membangkitkan perhatian anak didik. Perhatian yang dibangkitkan oleh guru disebut perhatian yang di sengaja, sedangkan perhatian yang timbul dengan sendirinya dalam diri anak tersebut disebut dengan perhatian spontan.
4. Peragaan
Peragaan ialah suatu cara yang dilakukan oleh guru dengan maksud memberikan kejelasan secara realita terhadap pesan yang disampaikan sehingga dapat dimengerti dan dipahami oleh para siswa. Dengan peragaan, diharapkan proses pengajaran terhindar dari verbalisme. Untuk itu sangat diperlukan peragaan dalam pengajaran terutama terhadap siswa ditingkat dasar.
Peragaan meliputi semua pekerjaan indra yang bertujuan untuk mencapai pengertian tentang suatu hal secara tepat. Agar
peragaan berkesan secara nyata, anak tidak hanya mengamati benda atau modal yang diperagakan terbatas pada luarnya saja, akan tetapi harus mencapai berbagai segi, dianalisis, disusun dan dibanding- bandingkan untuk memperoleh gambaran yang jelas dan lengkap.
Dasar psikologis azas peragaan tersebut yakni: sesuatu hal akan lebih berkesan dalam ingatan siswa bila melalui pengalaman dan pengamatan langsung anak itu sendiri. Ada dua macam peragaan yaitu peragaan langsung dan peragaaan tidak langsung.
5. Pengulangan
Perlakuan yang dilakukan secara berulang akan melahirkan kebiasaan. Karena kebiasaan adalah perilaku yang diulang. Dengan adanya pengulangan maka akan memudahkan tertanamnya konsep, fakta, informasi, pemahaman, dan pemikiran ke dalam benak (memori otak) peserta didik.
Para pendidik hendaknya membiasakan dan melakukan pengulangan dalam menanamkan fakta, konsep dan informasi dalam melaksanakan proses pembelajaran kepada para peserta didiknya, hal ini akan lebih efektif dalam memahamkan peserta didiknya tentang apa yang disampaikannya. Pengulangan yang dilakukan secara baik, dengan informasi yang menarik akan membangkitkan motivasi belajar mereka, dan pembelajaran akan lebih bermakna.
6. Keteladanan
Keteladanan adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontohkan oleh seseorang dari orang lain. Keteladanan yang dimaksud disini adalah keteladanan yang dapat dijadikan sebagai alat pendidikan islam, yaitu keteladanan yang baik. Keteladanan dapat direalisasikan dengan cara memberi contoh keteladanan yang baik kepada siswa agar mereka dapat berkembang baik fisik maupun
mental dan memiliki akhlak yang baik dan benar. Keteladanan memberikan konstribusi yang sangat besar dalam pendidikan ibadah, akhlak, kesenian dan lain-lain.
7. Pembiasaan
Pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntutan ajaran agama islam. Pembiasaan dinilai sangat efektif jika dalam penerapannya dilakukan terhadap peserta didik yang berusia kecil. Karena memiliki “rekaman” ingatan yang kuat dan kondisi kepribadian yang belum matang, sehingga mereka mudah terlalur dengan kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan setiap hari.
Oleh karena itu, sebagai awal dalam proses pendidikan, pembiasaan merupakan cara yang sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai moral ke dalam jiwa anak. Nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya ini kemudian akan termanifestasikan dalam kehidupannya semenjak semenjak ia mulai melangkah ke usia remaja dan dewasa.7
4. Faktor yang harus diperhatikan dalam memilih metode pembelajaran
Sebagai suatu cara, metode tidaklah berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, guru akan lebih mudah menetapkan metode yang paling serasi untuk situasi dan kondisi yang khusus dihadapinya.
Pemilihan metode mengajar yang tepat ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu:
a) Kemampuan atau keterampilan guru.
7Nuraini, “Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Anak Autis Di Sekolah Lanjutan Autis Yogjakarta” (Skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta, 2012),h. 37.
b) Kebutuhan peserta didik.
c) Besarnya kelompok.
d) Tujuan pelajaran.
e) Keterlibatan peserta didik.
f) Kesesuain dengan bahan pelajaran.
g) Fasilitas yang tersedia.
h) Waktu yang tersedia.
i) Variasi pengalaman belajar.
j) Keterampilan tertentu dari peserta didik.
B. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan mengartikan atau mendefinisikam pendidikan.
Perbedaan ini dikarenakan latar belakang sudut pandang. Menurut Muhibin Syah pendidikan adalah proses pemeliharaan atau memberi latihan. Dalam proses memelihara dan memberikan latihan ini diperlukan adanya ajaran tuntunan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran peserta didik.8
2. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Ruang lingkup pendidikan agama Islam menekankan pada keseimbangan, keselarasan, dan keserasian antara hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan alam sekitar. Oleh karena itu, ruang lingkup pendidikan agama Islam meliputi aspek-aspek sebagai berikut:9
1. Al-Qur‟an dan Hadits sebagai sumber ajaran Islam Al- Qur‟an dan Hadits adalah sumber pokok ajaran-ajaran dalam agama
8Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2002), h.10
9 Rosihon Anwar, Akidah Akhlak, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 13
Islam. Tujuan manusia adalah mencari kebahagiaan di dunia maupun akhirat.
2. Aqidah Aqidah di dalam istilah umum dipakai untuk menyebut keputusan pikiran yang mantap, benar, maupun salah.
Keputusan yang benar disebut aqidah yang benar, sedangkan keputusan yang salah disebut aqidah yang batil.16
3. Akhlak Akhlak mempunyai hubungan erat dengan aqidah.
Karena aqidah adalah gudang akhlak yang kokoh. Akhlak mampu menciptakan kesadaran diri bagi manusia untuk berpegang teguh kepada norma dan nilai-nilai akhlak yang luhur.
4. Fiqih berarti ilmu tentang hukum-hukum syar‟i yang bersifat amaliah yang digali dan ditemukan dari dalil-dali yang tafsili.
5. Tarikh dan Kebudayaan Islam Tarikh dan kebudayaan Islam meliputi sejarah arab pra-Islam, kebangkitan Nabi yang di dalamnya menjelaskan keberadaan Nabi sebagai pembawa risalah, pengaruh Islam dikalangan bangsa Arab, Khulafa‟ur Rasidin, dan lain-lain.
Masing-masing mata pelajaran tersebut saling terkait dan saling melengkapi, Al-Qur’an merupakan sumber utama ajaran islam, dalam arti ia merupakan sumber akidah-akhlak, syari’ah/fiqih (ibadah, muamalah), sehingga kajiannya berada disetiap unsur tersebut.Akidah atau keimanan merupakan akar atau pokok agama.
Syariah/fiqih dan akhlak bertitik tolak dari akidah, yakni sebagai manifestasi dan konsekuensi dari akidah (keimanan dan keyakinan hidup). Syariah/fiqih merupakan sistem norma (aturan) yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia dan dengan makhluk lainnya. Akhlak merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia, dalam arti bagaimana sistem norma yang
mengatur hubungan manusia dengan Allah (Ibadah dalam arti khas) dan hubungan manusia dengan manusia dan lainnya (muamalah) itu menjadi sikap hidup dan kepribadian hidup manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya (politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kekeluargaan, kebudayaan/seni, iptek, olah raga/kesehatan, dan lain-lain) yang dilandasi oleh akidah yang kokoh.10
Ruang lingkup pendidikan agama Islam pada dasarnya mencakup lima unsur pokok, yaitu: Al-Quran, Aqidah, Akhlak, Fiqih/
Ibadah, Sejarah kebudayaan Islam. Secara khusus untuk peserta didik ruang lingkup pendidikan agama Islam berisi tentang :
1. Rukun Iman, bertujuan untuk mengenal enam rukun Iman dapat menyebutkan sifat Allah, menyebutkan nama-nama malaikat dan nama- nama Rasul.
2. Rukun Islam, untuk mengenal lima rukun Islam, mengenal arti sholat, puasa, membaca dan menghafal serta melafazkan niat sholat.
3. Akhlakul karimah dimaksud menanamkan kebiasaan yang baik diantaranya membiasakan membaca do’a ketika melakukan pekerjaan yang baik, mengenal dan menyayangi ciptaan Allah, bersikap ramah, menjaga kebersihan dan mengucapkan salam.
Materi pokok kurikulum pendidikan agama Islam yang tersebut diatas, masih bersifat umum. Oleh karena itu maka perlu disesuaikan menurut kemampuan peserta didik dan jenjang pendidikannya. Dalam arti, kemampuan-kemampuan apa yang
10Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2011), h. 24
diharapkan dari lulusan jenjang pendidikan tertentu sebagai hasil dari pembelajaran pendidikan agama Islam. Kemampuan-kemampuan dasar yang diharapkan dari lulusannya adalah dengan landasan iman yang benar tersebut diharapkan terbentuk peserta didik yang:
a). Taat beribadah, mampu berdzkir dan berdo’a, menjalankan rukun Islam, terutama sahadat, shalat, zakat dan puasa b). Mampu membaca Al-Qur’an dan menulis dengan benar c). Memiliki kepribadian muslim, artinya didalam diri peserta
didik selalu terpancar kesalehan pribadi dengan selalu menampakkan kebajikan yang patut dipertahankan dan diteladani
d). Mampu menerapkan prinsip-prinsip muamalah dan syari’at Islam dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
e). Menghayati, memahami dan mengambil manfaat sejarah sejarah dan perkembangan agama Islam dalam hal ini sesuaikan dengan kemampuannya.
Pendidikan agama Islam pada peserta didik memang harus berisi tentang materi rukun Islam, rukun Iman dan akhlakul karimah.
Ketiga hal ini menjadi dasar pengetahuan agama, sehingga kalau sejak dini pengetahuan tentang rukun Islam, rukun Iman dan akhlakul karimah sudah dibiasakan melakukan dalam kehidupan sehari-hari dari kecil, maka setelah besar peserta didik dharapkan akan memiliki kepribadian religi.11
11Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Presfektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011), h. 49.
3. Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam
Dasar hukum dari pendidikan agama Islam terdiri dari : 1) Al-Quran
Al-Quran Ialah firman Allah berupa wahyu yang disampaikan oleh jibril kepada NabiMuhamad SAW. Di dalamnya terkandung ajaran pokoksangat penting yang dapat dikembangkan dalam Al-Quran itu terdiri dari dua prinsip besar yaitu, yang berhubungan dengan amal yang disebut dengan syari’ah. Istilah-istilah yang sering digunakan dalam membicarakan ilmu tentang syari’ah ini, Ibadah untuk perbuatan yang berhubungan dengan Allah SWT dan mu’amalah untuk perbuatan yang berhubungan selain dengan Allah.Akhlak untuk tindakan yang menyangkut etika dan budi pekerti dalam pergaulan.
2) As-Sunnah
As-Sunnah ialah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rosul Allah SWT. Yang dimaksud dengan pengakuan ialah kejadian atau perbuatan orang lain yang diketahui Rasululloh dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan tersebut. Sunnah merupakan ajaran kedua Al- Quran, sunnah berisi pedoman untuk memaslahatan hidup manusa alam segala aspek untuk membina umat menjadi manusia atau muslim yang bertaqwa.
3) Ijtihad
Ijtihad adalah istilah fuqaha, yaitu berpikir dengan menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ilmuwan
syari’at islam untuk menetapkan sesuatu hukum sya’riat islam dalam hal-hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Quran dan Sunnah.12
4. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan pendidikan agama Islam ialah sesuatu yang diharapakan tercapai setelah sebuah usaha atau kegiatan selesai.
Tujuan pendidikan islam harus mampu membawa dan mengembalikan ruh kepada kebenaran dan kesucian. Karena orang yang betul-betul menerima ajaran Islam tentu akan menerima seluruh cita-cita ideal yang terapat dalam Al-Quran. Tujuan akhir pendidikan agama Islam adalah mewujudkan manusia Ideal sebagai “ abid Allah atau ibad Allah, yang tunduk secara total kepada Allah SWT.
Berdasarkan tujuan pendidikan Islam itu dapat diarahkan untuk membentuk mukmin yang kuat secara fisik, maksudnya adalah kekuatan iman yang ditopang oleh kekuatan fisik. Kekuatan fisik merupakan bagian pokok dari tujuan pendidikan. Maka pendidikan harus mempunyai tujuan kearah keterampilan-keterampilan fisik yang dianggap perlu bagi tumbuhnya keperkasaan tubuh yang sehat.
Pendidikan islam dalam hal ini mengacu pada pembicaraan fakta- fakta terhadap jasmani yang relavan bagi para peserta didik.13
Selanjutnya tujuan pendidikan Islam harus mampu membawa dan mengembalikan ruh kepada kebenaran dan kesucian. Karena orang yang betul-betul menerima ajaran Islam tentu akan menerima seluruh cita-cita ideal yang terdapat pada dalam Al-Qur’an.
Peningkatan jiwa dan kesetiaannya yang hanya kepada Allah semata
12Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Presfektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011), h. 102.
13Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Presfektif Islam, h. 111.
dan melaksanakan moralitas Islami yang diteladani dari tingkah laku kehidupan Nabi Muhamad SAW ini adalah merupakan bagian pokok dalam tujuan pendidikan Islam. Tujuan ini mengarah kepada perkembangan intelegensi yang mengarahkan setiap manusia sebagai individu untuk dapat menemukan kebenaran yang sebenar-benarnya.
Pendidikan yang dapat membantu tercapainya tujuan akal, seharusnya dengan bukti-bukti yang memadai dan relavan dengan apa yang mereka pelajari. Disamping itu pendidikan Islam mengacu pada tujuan memberi daya dorong menuju peningkatan kecerdasan manusia. Pendidikan yang lebih berorientasi kepada hafalan, tidak tepat menurut teori pendidikan Islam. Karena pada dasarnya pendidikan Islam bukan hanya memberi titik tekan pada hafalan, sementara proses intelektualitas dan pemahaman dikesampingkan.14
Sedangkan tujuan akhir pendidikan Islam adalah mewujudkan manusia ideal sebagai “abid Allah atau ibad Allah, yang tunduk secara total kepada Allah SWT. Rumusan tujuan pendidikan agama Islam antara lain:
1. Membiasakan peserta didik untuk beriman kepada Allah, mencintai, mentaatinya dan berkepribadian mulia.
2. Mengembangkan pengetahuan agama mereka dan memperkenalkan adab sopan santun Islam sampai mereka terbiasa bersikap patuh menjalankan ajaran agama, atas dasar cinta dan senang hati.
3. Membimbing peserta didik kearah sikap yang sehat yang dapat membantu berinteraksi sosial yang baik dan memiliki
14Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Presfektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011), h. 111.
hubungan baik dengan anggota masyarakat lainnya, mencintai kebaikan untuk orang lain, suka membantu orang, merasa sayang kepada orang lemah dan miskin, mengganggap semua orang itu sama, menghargai orang lain, dan memelihara milik pribumi, negara dan kepentingan umum.
Menurut Imam Ghazali dikutip oleh Djamaludin tujuan pendidikan Islam adalah: “membina insan paripurna yang takarrub kepada Allah, bahagia didunia dan akherat, tidak dapat dilupakan pula orang yang rajin mengikuti pendidikan akan memperoleh kelezatan Ilmu yang dipelajariya dan kelezatan ini pula dapat mengantarkannya pada pembentukan insan paripurna”.15
Ahmad Tafsir dalam bukunya yang berjudul “Metodologi Pembelajaran Agama Islam” menyatakan bahwa, tujuan pendidikan agama Islam itu harus meliputi tiga aspek (daerah binaan, domain,) yaitu kognitif, afektif, psikomotor. Untuk aspek kognitif, tujuan adalah mengembangkan atau membina pemahaman agama Islam agar peserta didik paham akan ajaran agama Islam. Pada aspek afektif, tujuan yang ingin dicapai adalah agar peserta didik menerima ajaran Islam tersebut. Sedangkan pada aspek psikomotor, tujuan yang ingin dicapai adalah agar peserta didik terampil melakukan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.16
Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam mempunyai tujuan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam kebutuhan hidup manusia sebagai makhluk individu dan
15Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Presfektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011), h.111.
16Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Presfektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011), h. 107.
sebagai makhluk sosial yang menghambat kepada khaliknya dengan jiwai oleh nilai-nilai ajaran agama. Oleh karena itu pendidikan agama Islam bertujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indera serta dapat dikatakan terbentuknya insan kamil.
5. Standar Kompetensi Pendidikan Agama Islam
Kompetensi adalah kemampuan bersikap, berfikir, dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki. Standar kompetensi adalah ukuran kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik setelah mengikuti suatu proses pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu. Adapun standar kompetensi pendidikan agama Islam adalah dengan landasan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, siswa beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia yang tercermin dalam perilaku sehari-hari dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, dan alam sekitar, mampu membaca dan memahami Al-Qur’an, mampu beribadah dan bermuamalah dengan baik dan benar, serta mampu menjaga kerukunan intern dan antar umat beragama.17
C. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
1. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
Konsep anak berkebutuhan khusus memiliki arti yang lebih luas dibandingkan dengan pengertian anak luar biasa. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada
17Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Presfektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011), h. 111.
umumnya. Anak dikatakan berkebutuhan khusus jika ada sesuatu yang kurang atau bahkan lebih dalam dirinya. Menurut Heward, anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.18
Secara umum rentangan anak berkebutuhan khusus meliputi dua kategori yaitu :
1. ABK yang bersifat permanen, yaitu akibat dari kelainan tertentu.
2. ABK yang bersifat temporer, yaitu mereka yang mengalami hambatan belajar dan perkembangan yang disebabkan kondisi dan situasi lingkungan. Misalnya, anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri akibat kerusuhan dan bencana alam, atau tidak bisa membaca karena kekeliruan guru mengajar, anak yang mengalami kewibahasaan (perbedaan bahasa di rumah dan di sekolah), anak yang mengalami hambatan belajar dan perkembangan karena isolasi budaya dan karena kemiskinan. Anak berkebutuhan khusus temporer, apabila tidak mendapatkan interverensi yang tepat dan sesuai dengan hambatan belajarnya bisa menjadi permanen.19
Setiap anak berkebutuhan khusus, baik yang bersifat permanen maupun yang temporer, memiliki perkembangan hambatan
18Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Autis, (Bandung: Alfabeta, 2006), h. 17.
19Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusif, h. 21.
belajar dan kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Hambatan belajar yang dialami oleh setiap anak, disebabkan oleh tiga hal, yaitu:
1. Faktor lingkungan.
2. Faktor dalam diri anak sendiri.
3. Kombinasi antara faktor lingkungan dan factor dalam diri anak.
Mereka yang digolongkan pada anak yang berkebutuhan khusus dapat dikelompokkan berdasarkan gangguan atau kelainan aspek:
1. Fisik/motorik, misalnya cerebral palsi, polio, dan lain-lain.
2. Kognitif : Mental retardasi, anak unggul (berbakat).
3. Bahasa dan bicara.
4. Pendengaran.
5. Penglihatan.
6. Sosial emosi.
Anak tersebut membutuhkan metode, material, pelayanan dan peralatan yang khusus agar dapat mencapai perkembangan yang optimal. Karena anak-anak tersebut mungkin akan belajar dengan kecepatan yang berbeda dan juga dengan cara yang berbeda pula.
Walaupun mereka memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda dengan anak-anak secara umum, mereka harus mendapat perlakuan dan kesempatan yang sama. Hal ini dapat dimulai dengan cara penyebutan terhadap anak dengan kebutuhan khusus.
2. Jenis Anak Berkebutuhan Khusus
Ada bermacam-macam jenis anak dengan kebutuhan khusus, adapun jenisnya adalah sebagai berikut:20
1. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan.
Tunanetra adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya, berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
2. Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran Tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
3. Tunalaras/Anak yang Mengalami Gangguan Emosi dan Perilaku.
Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma- norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya.
4. Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan
Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, sendi, otot)
20Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusif, h. 42.
sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
5. Tunagrahita
Tunagrahita (retardasi mental) adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata(IQ dibawah 70) sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial, dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus. Hambatan ini terjadi sebelum umur 18 tahun
6. Cerebral palsy
Gangguan/hambatan karena kerusakan otak (brain injury) sehingga mempengaruhi pengendalian fungsi motoric.
7. Gifted (anak berbakat)
Adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (intelegensi), kreatifitas, da tanggung jawab terhadap tugas (task commitment) diatas anak-anak seusianya (anak normal).
8. Autistis
Autisme adalah gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.
9. Asperger
Secara umum performa anak Asperger Disorder hampir sama dengan anak autisme, yaitu memiliki gangguan pada kemampuan komunikasi, interaksi sosial dan tingkah lakunya.
Namun gangguan pada anak Asperger lebih ringan dibandingkan anak autisme dan sering disebut dengan istilah ”High-fuctioning autism”. Hal-hal yang paling membedakan antara anak Autisme
dan Asperger adalah pada kemampuan bahasa bicaranya.
Kemampuan bahasa bicara anak Asperger jauh lebih baik dibandingkan anak autisme. Intonasi bicara anak asperger cendrung monoton, ekspresi muka kurang hidup cendrung murung dan berbibicara hanya seputar pada minatnya saja. Bila anak autisme tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, anak asperger masih bisa dan memiliki kemauan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Kecerdasan anak asperger biasanya ada pada great rata-rata keatas. Memiliki minat yang sangat tinggi pada buku terutama yang bersifat ingatan/memori pada satu kategori. Misalnya menghafal klasifikasi hewan/tumbuhan yang menggunakan nama-nama latin.
10. Rett’s Disorder
Rett’s Disorder adalah jenis gangguan perkembangan yang masuk kategori ASD. Aspek perkembangan pada anak Rett’s Disorder mengalami kemuduran sejak menginjak usia 18 bulan yang ditandai hilangnya kemampuan bahasa bicara secara tiba-tiba. Koordinasi motorinya semakin memburuk dan dibarengi dengan kemunduran dalam kemampuan sosialnya. Rett’s Disorder hampir keseluruhan penderitanya adalah perempuan.
11. Attention deficit disorder with hyperactive (ADHD)
ADHD terkadang lebih dikenal dengan istilah anak hiperaktif, oleh karena mereka selalu bergerak dari satu tempat ketempat yang lain. Tidak dapat duduk diam di satu tempat selama ± 5-10 menit untuk melakukan suatu kegiatan yang diberikan kepadanya. Rentang konsentrasinya sangat pendek, mudah bingung dan pikirannya selalu kacau, sering mengabaikan
perintah atau arahan, sering tidak berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah. Sering mengalami kesulitan mengeja atau menirukan ejaan huruf.
12. Lamban belajar (slow learner) :
Lamban belajar (slow learner) adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan adaptasi sosial, tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita, lebih lamban dibanding dengan yang normal, mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
13. Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik
Anak yang berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau matematika), diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis, bukan disebabkan karena factor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal), sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia), kesulitan belajar menulis (disgrafia), atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia), sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti).21
21 Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting
Pendidikan Inklusif, h. 51.
Semua kajian teori yang peneliti jabarkan di bab II ini adalah sebagai alat analisis peneliti untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini, adapun hasil penelitian dan jawaban atas rumusan masalah akan di bahas di bab IV.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian
Pendekatan atau metode adalah cara atau langkah untuk mengetahui sesuatu, yang mempunyai prosedur sistematis. Metode merupakan sebuah upaya yang dapat dilakukan dalam penelitian untuk menggunakan data dan mencari kebenaran masalah yang diteliti.1
Metode penelitian merupakan rangkain cara atau kegiatan pelaksanan penelitian yang didasari oleh asumsi-asumsi dasar, pandangan-pandangan filosofis dan ideologis, pertanyaan dan isu-isu yang dihadapi. Beberapa penelitian menyebutkannya sebagai tradisi penelitian (research traditions). 2
Dalam penelitian ini penulis mengunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode korelasi deskriptif yakni metode penelitian yang berusaha memberikan gambaran dengan fakta-fakta valid yang kemudian mencari hasil dari hubungan antar variabel.
Metode ini digunakan untuk menggambarkan pengetahuan pendidikan agama Islam pada siswa berkebutuhan khusus di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan tentang pendidikan agama Islam.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dalam penyusunan skripsi ini adalah di SDS Dua Mei yang beralamat di jalan H. Abdul Gani No. 135, Cempaka Putih, Ciputat Timur Kota Tangerang Selatan, dimulai pada tanggal 6 Maret dan berakhir pada tanggal 10 juli 2018.
1Winarmo Suharman, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode dan Tehnik, (Bndung: Tarsito, 2010), h.26
2Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2005), h.52
41