BAB IV HASIL PENELITIAN
E. Metode yang Efektif bagi Siswa ABK dalam Pembelajaran
hampir sama dengan sekolah umum. Kurikulum yang diterapkan di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan adalah Kurikulum 2013.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru agama tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan sebenarnya mengacu pada sekolah umum, tetapi kenyataannya anak masih belum mampu. Sehingga yang menjadi target dalam pembelajaran adalah bertaqwa kepada Allah, berbudi pekerti, anak bisa mandiri, berakhlak mulia, tidak melakukan perbuatan tercela, dan terbiasa shalat walaupun hanya bisa dalam gerakan.
Materi yang diajarkan pada anak-anak ABK tersebut adalah apa yang biasa mereka lakukan sehari-hari, misalnya tentang wudhu, sholat, bisa membedakan makanan yang halal dan haram, mana perbuatan yang baik dan tercela, bagaimana bersikap kepada orang lain. Pada saat guru akan menyampaikan materi guru biasanya membetulkan posisi duduk siswa tunarungu terlebih dahulu, kemudian mengarahkan perhatian siswa kepada materi yang akan di tulis di papan tulis. Ketika siswa memperhatikan pembelajaran belum tentu mereka paham, maka guru perlu mengimbangi penyampaian materi dengan contoh yang jelas dan dengan suara yang keras.3
E. Metode yang Efektif bagi Siswa ABK dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDS Dua Mei Kota Tangerang Selatan
Metode pada hakikatnya ialah cara yang digunakan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat dengan mudah
3 Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SDS Dua Mei, pada senin, 7 Juli 2018.
menerima materi yang diajarkan. Metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDS Dua Mei yang sering digunakan oleh guru diantaranya ialah: metode ceramah, drill, tanya jawab, demonstrasi, metode pemberian tugas dan metode keteladanan. Dari metode-metode ini semuanya diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan disesuaikan dengan keadaan siswa yang mengalami ketunarunguan.
Berikut peneliti lampirkan angket berkaitan dengan metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDS Dua Mei yang diambil dari guru pengajar Agama yaitu Ibu Siti Komariyyah4:
Tabel 4.4: Angket Untuk Guru
No Pertanyaan ST
S
TS S SS
1 Metode yang digunakan sesuai dengan materi yang diajarkan
2
2 Guru menggunakan metode yang bervariasi
1 1
3 Guru sering menggunakan media pembelajaran
1 1
4 Guru melakukan pendekatan khusus pada siswa tunarungu dengan katagori berat (deaf)
2
4 Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SDS Dua Mei, pada senin, 7 Juli 2018.
Keterangan
STS : Sangat Tidak Setuju TS : Sangat Setuju S : Setuju
SS : Sangat Setuju
Dari tabel diatas dapat dipahami bahwa metode yang digunakan guru dalam proses pembelajaran sangat beragam, mulai dari menggunakan metode yang bervariasi, menggunakan media sebagai alat bantu sampai melakukan pendekatan khusus bagi siswa tunarungu dengan katagori berat. Dalam penyampaian materi seringkali guru menggunakan bahasa campuran, karena anak-anak tunarungu yang belajar disana berklasifikasi tunarungu ringan dan tunarungu sedang maka mereka masih bisa mendengar suara walaupun hanya sedikit, meski metode yang digunakan guru adalah ceramah penyampaiannya pun harus menggunakan suara yang keras.
Saat anak-anak tidak mengerti sama sekali apa yang disampaikan guru maka baru dipakai bahasa isyarat (abjad jari). Berdasarkan hasil observasi peneliti, penggunaan metode ceramah ini belum sepenuhnya efektif, mengingat latar belakang guru yang bukan lulusan PLB jadi penggunaan bahasa isyarat guru belum maksimal sehingga siswa tunarungu masih kesulitan dalam memahami penjelasan guru.
Metode drill (latihan) digunakan guru untuk memperoleh keterampilan siswa dari apa yang telah dipelajari.Dari hasil observasi peneliti, ketika guru menulis di papan tulis tentang huruf hijaiyyah.
Guru kemudian menjelaskan apa yang dimaksud dari tulisan tersebut dengan menggunakan suara yang keras dan terkadang menggunakan gerakan tangan. Guru akan mendatangi murid dengan kategori berat
dan menjelaskan lagi secara perlahan maksud dari pembelajaran mereka, sampai mereka benar-benar paham. Kemudian satu persatu siswa menulis ulang materi pembelajaran di papan tulis. Guru akan membetulkan tulisan yang salah dengan cara membimbing siswa untuk mengulang kembali tulisan tersebut sampai mereka bisa. Dari hasil pengamatan peneliti, metode drill dapat dikatakan efektif, meski terkadang guru harus lebih ekstra dalam menjelaskan maksud dari materi pembelajaran pada murid yang belum paham. Karena pada hakekatnya kemampuan belajar siswa tunarungu sama seperti siswa normal lainnya ada yang cepat tanggap ada juga yang lama. Namun dengan kesabaran dan kegigihan guru dalam membimbing dan menjelaskan kembali siswa tunarungu dapat juga menulis dengan baik dan benar.
Dari wawancara yang peneliti lakukan dengan Ibu Siti Badriah selaku selaku guru kelas sekaligus kepala sekolah, berkaitan dengan metode pembelajaran, seperti yang beliau sampaikan bahwa metode yang paling efektif bagi siswa tunarungu ialah metode demonstrasi.
Kalau masalah metode sebenarnya sama aja seperti sekolah biasa. Apa aja bisa yang penting disesuaikan dengan materi. Tapi mengingat kondisi anak kita yang berbeda dengan sekolah biasa maka untuk metodenya paling sering kita gunakan ceramah, latihan sama praktek langsung atau metode demonstrasi. Menurut saya yang paling efektif untuk anak-anak tunarungu metode praktek langsung karena kalau kita kasih materi dengan ceramah saja dari awal sampai akhir siswanya pasti tidak paham. Apalagi dengan kondisi mereka yang seperti itu. Untuk apa kita nulis sampai papan tulis penuh kalau ujung- ujungnya mereka tidak paham apa yang sedang dipelajari. Makanya dibutuhkan matode demonstrasi karena disitu kita bisa langsung praktek contoh yang sebenarnya.5
5 Wawancara dengan Guru Kelas sekaligus Kepala Sekolah SDS Dua Mei,
pada senin, 7 Juli 2018.
Dari pernyataan beliau dapat diambil kesimpulan bahwa materi yang disampaikan disesuaikan dengan keadaan siswa, karena hal-hal yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari akan lebih mudah dipelajari dan dipraktekkan, jadi tingkat pemahaman siswa terhadap pembelajaran pendidikan agama Islam sedikit lebih mudah.
Untuk metode demonstrasi jelas anak-anak akan lebih paham karena langsung melihat contoh konkritnya. Seperti materi tentang wudhu’
dan shalat guru akan mengajak siswa ke mushola untuk praktek langsung berwudhu’ dan shalat. Karena dari penjelasan Ibu Nurlaina bahwa media yang digunakan untuk siswa tunarungu sebaiknya media yang sebenarnya, berikut cuplikan pernyataan beliau:
Kalau dulu kami sering menggunakan gambar untuk media pembelajaran seperti gerakan-gerakan shalat, cara berwudhu’. Tapi kalau bisa dengan medianya langsung, misalnya seperti mengambil air wudhu’ maka kita praktek langsung berwudu’nya dengan air biar lebih terarah.6
Dengan demikian dapat dipahami bahwa untuk lebih memahamkan anak tunarungu menganai meteri yang diajarkan, maka untuk prakteknya harus menggunakan media yang sebenarnya. Dari hasil wawancara peneliti dengan guru agama di SDS Dua Mei penggunaan metode demonstrasi ini dapat dikatakan efektif dilihat dari rutinitas siswa yang aktif dalam mengikuti kegiatan keagamaan di sekolah seperti shalat dzuhur berjama’ah.
Adapun mengenai metode pemberian tugas, siswa diberi tugas oleh guru untuk menuliskan kembali kegiatan siswa selama bulan Ramadhan. Jawaban mereka beragam, ada yang menulis bermain
6Wawancara dengan Guru Kelas sekaligus Kepala Sekolah SDS Dua Mei, pada senin, 7 Juli 2018.
dengan teman, shalat tarawih, dan membantu orangtua.Dari hasil observasi peneliti, penggunaan metode ini belum sepenuhnya efektif, karena masih ada siswa yang kebingungan dari tugas yang diberikan guru, hal ini disebabkan oleh kesulitan guru menjelaskan dengan bahasa isyarat.Sedangkan metode keteladanan guru gunakan untuk membentuk akhlak yang baik dengan cara memberi contoh langsung kepada siswa bagaimana seharusnya bersikap kepada orangtua, guru dan sesama teman. Dari pengamatan peneliti, metode ini efektif digunakan untuk siswa tunarungu, karena akhlak siswa di SDS Dua Mei benar-benar bagus.
Jadi, dapat dipahami bahwa metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang efektif bagi siswa tunarungu adalah metode- metode yang membuat siswa tunarungu berperan aktif dalam pembelajaran seperti metode drill, demonstrasi dan keteladanan.
Metode-metode ini dapat dipahami dengan mudah oleh siswa tunarungu karena mereka bisa melihat contohnya secara konkrit dan mempraktekkan langsung. Sedangkan metode seperti ceramah, tanya jawab dan penugasan kurang efektif, karena membutuhkan keahlian dari seorang tenaga pengajar dalam penguasaan bahasa isyarat (abjad jari) agar lebih mudah dalam menjelaskan maksud dari yang dipelajari. Penguasaan bahasa isyarat ini bukan hanya berlaku untuk guru saja, tapi juga siswa tunarungu, agar lebih mudah dalam memahami penjelasan guru. Dengan demikian metode apa pun akan mudah diterapkan jika guru dan siswa sama-sama mengusai sistem komunikasi yang baik, benar dan sesuia dengan keadaan.
F. Dampak Metode yang Digunakan Guru terhadap Prestasi