• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAK DAN KEWAJIBAN ADVOKAT

Dalam dokumen peran advokat dalam sistem (Halaman 78-87)

KEDUDUKAN ADVOKAT

C. HAK DAN KEWAJIBAN ADVOKAT

SAMPLE

SAMPLE

batasi oleh ketentuan Pasal 20 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983, yang mengatakan, bahwa izin kunjungan bagi pe- nasihat hukum, keluarga dan lain-lainnya diberikan oleh peja- bat yang bertanggung jawab secara yuridis atas tahanan, sesuai dengan tingkat pemeriksaan. Kunjungan hanya dapat dilakukan setiap jam kerja.

Pasal 70 ayat (1): Penasihat hukum berhak menghubungi dan berbicara dengan tersangka pada setiap tingkat pemeriksa- an dan setiap waktu untuk kepentingan pembelaan perkaranya.

Hak dalam Pasal 70 ayat (1) KUHAP ini juga dibatasi, hanya selama jam kerja saja, atau pada jam dan hari tertentu selama waktu tertentu pula. Pasal 72: Penasihat hukum berhak me- nerima turunan berita acara pemeriksaan. Pasal 73: Penasihat hukum berhak mengirim dan menerima surat dari tersangka setiap kali dikehendakinya olehnya. Pasal 115 ayat (1): Penasi- hat hukum dapat mengikuti jalannya pemeriksaan dengan jalan melihat tetapi tidak dapat mendengar pemeriksaan terhadap tersangka.88 Pasal 164 (2): Penuntut umum atau penasihat hu- kum dengan perantaraan hakim ketua sidang diberi kesempat- an untuk mengajukan pertanyaan kepada saksi dan terdakwa.

Adapun, kewajiban Advokat dalam Undang-Undang No- mor 18 Tahun 2003 sebagai berikut:

1. Pasal 19 ayat (1): Advokat wajib merahasiakan segala se- suatu yang diketahui atau diperoleh dari kliennya karena hubungan profesinya, kecuali ditentukan lain oleh undang- undang.

2. Pasal 22: Advokat wajib memberikan bantuan hukum seca- ra cuma-cuma kepada pencari keadilan yang tidak mampu.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 37 dan 39 juga mengatur mengenai kewajib- an dari advokat untuk memberikan bantuan hukum bagi setiap orang yang tersangkut perkara, dalam pemberian bantuan hu-

88 Ibid.

SAMPLE

kum, advokat wajib membantu menyelesaikan perkara dengan menjunjung tinggi hukum dan keadilan.

Dalam Pembukaan Kode Etik Advokat Indonesia 2002 me- nyatakan bahwa advokat adalah suatu profesi terhormat (offi- cium mobile). Kata “mobile officium” mengandung arti adanya kewajiban yang mulia atau yang terpandang dalam melaksana- kan pekerjaan mereka. Serupa dengan ungkapan yang kita kenal

noblesse oblige” yaitu kewajiban perilaku yang terhormat (ho- norable), murah-hati (generous), dan bertanggung jawab (res- ponsible) yang dimiliki oleh mereka yang ingin dimuliakan. Hal ini berarti bahwa seorang anggota profesi advokat, tidak saja harus berperilaku jujur dan bermoral tinggi, tetapi harus juga mendapat kepercayaan publik, bahwa advokat tersebut akan se- lalu berperilaku demikian.

Dengan memenuhi persyaratan yang ditentukan Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Advokat, maka seorang sarjana hukum dapat diangkat sebagai seorang advokat dan akan menjadi anggota or- ganisasi advokat (admission to the bar). Dengan diangkatnya seseorang menjadi advokat, maka ia telah diberi suatu kewajib- an mulia melaksanakan pekerjaan terhormat (mobile officium), dengan hak eksklusif: (a) menyatakan dirinya pada publik bah- wa ia seorang advokat; (b) dengan begitu berhak memberikan nasihat hukum dan mewakili kliennya; dan (c) menghadap di muka sidang pengadilan dalam proses perkara kliennya. Akan tetapi, jangan dilupakan, bahwa hak dan kewenangan istimewa ini juga menimbulkan kewajiban advokat kepada masyarakat, yaitu: (a) menjaga agar mereka yang menjadi anggota profesi advokat selalu mempunyai kompetensi pengetahuan profesi un- tuk itu, dan mempunyai integritas melaksanakan profesi terhor- mat; serta (b) oleh karena itu bersedia menyingkirkan mereka yang terbukti tidak layak menjalankan profesi terhormat ini (to expose the abuses of which they know that certain of their bret- hren are quality).

Kewajiban advokat kepada masyarakat tersebut di atas, dalam asas-asas etika (canons of ethics) American Bar Associa-

SAMPLE

tion (1954); selanjutnya (ABA) termasuk dalam asas mengenai

“Menjunjung Kehormatan Profesi” (upholding the honor of the profession), di mana dikatakan (terjemahan bebas) bahwa ad- vokat itu harus selalu berusaha menjunjung kehormatan dan menjaga wibawa profesi dan berusaha untuk tidak saja me- nyempurnakan hukum namun juga penyelenggaraan sistem peradilannya (the administration of justice).

Bagian dari kewajiban advokat kepada masyarakat, adalah telah memberi bantuan jasa hukum kepada mereka yang secara ekonomi tidak mampu (miskin). Dalam KEAI Pasal 3 dinyata- kan bahwa seorang advokat “tidak dapat menolak perkara de- ngan alasan kedudukan sosial” bagi orang yang memerlukan jasa hukum tersebut, dan juga di Pasal 4 kalimat: “mengurus perkara cuma-cuma” telah tersirat kewajiban ini. Dalam asas ini, dipertegas lagi dalam Pasal 7 KEAI alinea 8: “... kewajib- an untuk memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma (pro deo) bagi orang yang tidak mampu.” Asas etika ini dalam ABA dikenal sebagai “Kewajiban Mewakili Orang Miskin” (duty to represent the indigent). Kewajiban advokat atau kantor advokat memberi jasa hukum kepada klien miskin, tetap harus diutama- kan oleh profesi terhormat ini. Mengurus perkara “cuma-cuma”

tidak saja untuk perkara pidana (criminal legal aid) tetapi juga untuk perkara perdata (civil legal aid). Dengan adanya bebera- pa lingkungan peradilan di Indonesia, yaitu lingkungan peradil- an tata usaha negara, peradilan agama, peradilan militer, maka bantuan hukum harus juga mencakup perkara-perkara dalam bidang peradilan tersebut.

Ketentuan Pasal 22 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 yang mewajibkan Advokat untuk memberi bantuan hu- kum secara cuma-cuma, maka advokat dituntut agar dapat mengalokasikan waktu dan juga sumber daya yang dimilikinya untuk orang miskin selaku masyarakat pencari keadilan yang membutuhkan bantuan hukum pro bono. Pemberian bantu- an hukum oleh advokat bukan hanya dipandang sebagai sua- tu kewajiban namun harus dipandang pula sebagai bagian dari

SAMPLE

kontribusi dan tanggung jawab sosial (social contribution and social liability) dalam kaitannya dengan peran dan fungsi so- sial dari profesi advokat. Dalam hal advokat tidak melakukan kewajiban profesi maka dapat dikategorikan telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban sehingga dapat diberlakukan sanksi. Untuk mendukung pelaksanaan kewajib- an pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma oleh advokat maka dibutuhkan peran yang optimal dari organisasi profe- si. Namun yang menjadi kendala bagi sebagian dari kalangan advokat penggunaan istilah “kewajiban” memberikan bantuan hukum cuma-cuma dalam Pasal 22 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat adalah penggunaan istilah kewa- jiban mereka anggap adalah suatu keharusan, mau tidak mau harus mereka lakukan apabila dihadapkan dengan klien yang membutuhkan bantuan hukum cuma-cuma, tanpa memper- timbangkan kondisi Advokat itu sendiri, apakah sedang banyak menangani kasus pro-bono, atau tidak sama sekali menangani kasus, sedangkan advokat tersebut hanya hidup dari uang jasa dari kliennya. Sehingga mereka mempunyai pandangan bahwa istilah “wajib” dalam Pasal 22 Undang-Undang Nomor 18 Ta- hun 2003 tersebut diubah menjadi istilah “hak”, jadi advokat berhak memberikan bantuan hukum cuma-cuma, atau meng- gunakan kalimat, pencari keadilan yang tidak mampu berhak mendapatkan bantuan hukum cuma-cuma dari advokat.

Dalam kaitannya dengan kedudukan sosial dari Advokat yang demikian, itu telah menimbulkan pula tanggung jawab moral bagi advokat yang bukan hanya bertindak sebagai pem- bela konstitusi namun juga bertindak sebagai pembela hak asasi manusia, khususnya yang berkaitan dengan hak-hak publik.89

Akibat adanya tanggung jawab moral yang melekat pada status profesinya, maka advokat memiliki lima dimensi perju-

89 Adnan Buyung Nasution, Arus Pemikiran Konstitusionalisme: Advokat, (Jakarta, 2007), hlm.1.

SAMPLE

angan ideal yaitu sebagai berikut:90

1. Dimensi kemanusiaan, yang diartikan bahwa walaupun ad- vokat menerima imbalan honorarium atau legal fee dalam melakukan pekerjaannya namun pada dasarnya advokat tetap harus berpedoman dan menghargai nilai-nilai kema- nusiaan khususnya dalam melakukan pembelaan terhadap kliennya. Dalam melakukan pembelaan maka harus dida- sarkan pada motivasi aspek kemanusiaan;

2. Dimensi pertanggungjawaban moral, diartikan bahwa ad- vokat dalam melakukan pembelaan kepada kliennya ha- rus selalu melihat dan mempertimbangkan dua hal pokok, yaitu adanya ketentuan hukum yang menjadi dasar dalam melakukan pembelaan dan adanya dasar moral serta etika.

Berkaitan dengan hal tersebut maka hak atau kepentingan hukum dari klien yang dibelanya tidak boleh bertentangan dengan moralitas umum ataupun etika profesi yang wajib untuk dijunjung lebih tinggi;

3. Dimensi kebebasan, kemandirian, dan independensi profe- si. Hal ini diartikan bahwa advokat ditantang untuk selalu memperjuangkan tegaknya profesi yang mandiri, bebas dan independen dari intevensi kekuasaan dalam melakukan pembelaan terhadap kliennya. Oleh karena itu, untuk men- dukung dimensi ketiga tersebut dibutuhkan suatu organi- sasi advokat yang kuat serta memiliki kode etik termasuk memiliki kapabilitas untuk membina dan menjaga kedisip- linan anggota profesinya;

4. Dimensi pembangunan negara hukum, yang diartikan bah- wa profesi advokat dapat diimplementasikan secara ideal apabila proses penegakan hukum juga telah berjalan secara ideal. Dengan perkataan lain, advokat memiliki kepenting- an demi profesi hukumnya dan demi kepentingan kliennya.

Oleh sebab itu, perlu dibangun esensi dari sebuah negara hukum yang ideal;

90 Ibid., hlm. 23-27.

SAMPLE

5. Dimensi pembangunan demokrasi, yang diartikan bahwa suatu negara hukum sebagaimana yang diuraikan dalam dimensi keempat hanya dapat dilaksanakan selaras dengan pembangunan demokrasi. Ibarat suatu mata uang maka an- tara pembangunan hukum dan pembangunan demokrasi dapat saling memiliki relasi. Demokrasi hanya dapat dite- gakkan apabila didukung oleh negara yang berdasarkan hu- kum dalam hal mana menjunjung supremasi hukum. Demo- krasi akan berubah menjadi anarki apabila tidak didukung oleh hukum. Sebaliknya, negara hukum tanpa demokrasi akan menciptakan suatu negara yang bertipikal penindas.

Pada dasarnya, pelaksanaan kewajiban memberikan bantu- an hukum secara cuma-cuma khususnya bagi kaum miskin dan buta hukum tersebut memiliki tujuan sebagai berikut:91

1. Bagian dari pelaksanaan hak-hak konstitusional sebagaima- na yang diatur dan dijamin oleh UUD 1945 berikut amen- demennya. Hak atas bantuan hukum merupakan salah satu dari hak asasi yang harus direkognisi dan dilindungi. De- ngan mengacu kepada Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 termasuk ketentuan Pasal 28 Huruf D ayat (1) dan Pasal 28 huruf I ayat (1) UUD 1945 yang telah diamendemen tersebut maka hak atas bantuan hukum harus dipandang sebagai suatu lembaga yang wajib dimiliki dan hanya ada di dalam sistem negara hukum. Adanya prinsip hukum yang berdaulat (sup- remacy of law) dan adanya jaminan terhadap setiap orang yang diduga bersalah untuk mendapatkan proses peradilan yang adil (fair trial) merupakan syarat yang harus dijamin secara absolut dalam negara hukum;

2. Bagian dari implementasi asas bahwa hukum berlaku bagi semua orang. Adanya keterbatasan pengertian dan penge- tahuan hukum bagi individu yang buta hukum untuk me-

91 Daniel Panjaitan, Panduan Bantuan Hukum di Indonesia”, Panduan Bantuan Hukum di Indonesia: Pedoman Anda Memahami dan Menyelesaikan Masalah Hukum (Jakarta, 2007), hlm. 48-49.

SAMPLE

mahami ketentuan yang tertulis dalam undang-undang maka diperlukan peran dan fungsi advokat untuk membe- rikan penjelasan dan bantuan hukum;

3. Bagian dari upaya standardisasi pelaksanaan peran dan fungsi penegakan hukum dari advokat.

Berdasarkan pada pertimbangan peran dan fungsi sosial advokat tersebut maka kewajiban sosial advokat untuk membe- rikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada kaum miskin merupakan suatu hal yang patut dihargai. Hal ini mengingat bahwa dalam suatu negara berkembang masih banyak terdapat individu atau keluarga miskin bahkan di bawah garis kemiskin- an. Bantuan hukum yang diberikan oleh advokat tentunya ber- pedoman pada penghargaan terhadap nilai kemanusiaan ter- masuk di dalamnya penghargaan terhadap hak asasi manusia.

Selanjutnya, kewajiban memberikan bantuan hukum tersebut diharapkan mampu memberikan kesadaran dan pengetahuan khususnya mengenai hak-hak dari kaum miskin yang semakin lama dimarjinalkan oleh kebijakan dan proses pembangunan dengan memberlakuan sanksi yang tegas terhadap advokat yang tidak melaksanakan kewajiban memberikan bantuan hukum se- cara cuma-cuma.

Pemberian bantuan hukum yang ditujukan kepada setiap orang, memiliki hubungan erat dengan equality before the law yang menjamin justice for all (keadilan untuk semua orang).

Oleh karena itu, bantuan hukum selain merupakan hak asa- si juga mempunyai gerakan konstitusional. Dengan ketentuan di atas dapat dikatakan bantuan hukum merupakan hak setiap warga tanpa terkecuali. Praktik ini secara yuridis terdukung da- lam ketentuan-ketentuan universal yang berkaitan dengan pene- gakan HAM.

Seorang advokat (counsel) adalah seorang “pejabat penga- dilan” (officer of the court) apabila dia melakukan tugasnya di pengadilan. Oleh karena itu, seorang advokat harus mendukung kewenangan (authority) pengadilan dan menjaga kewibawaan

SAMPLE

(dignity) sidang. Untuk itu, advokat harus patuh pada aturan- aturan sopan santun (decorum) yang berlaku dalam melaksa- nakan tugasnya dalam sidang dan menunjukkan sikap penghar- gaan profesional (professional respect) kepada hakim, advokat lawan (jaksa/penuntut umum) dan para saksi. Putusan hakim harus ditaati, walaupun dirasakan keliru dan tidak adil, cara mengatasinya hanya melalui upaya hukum yang tersedia. Apa- bila seorang advokat tidak dapat mengendalikan dirinya dalam sidang, maka dia dapat ditegur (majelis) hakim.

Di negara-negara “common law system” Advokat dapat di- tuduh melakukan “contempt of court” (pelecehan pengadilan).

“Contempt of court” di negara-negara Anglo-Saxon juga digu- nakan terhadap advokat yang menggunakan media cetak atau media lainnya untuk memberikan pendapat tentang kasusnya, sebelum ada putusan berkekuatan hukum tetap (in kracht van gewijzde). Alasannya adalah ucapan advokat bersangkutan da- pat mengganggu jalannya peradilan (interfere with a fair tri- al and prejudice the due administration of justice–Canon 20 ABA). Dalam Pasal 8 KEAI alinea 6 ada asas (ketentuan) yang tidak membenarkan advokat menggunakan media massa untuk mencari publisitas. Contoh di atas untuk “contempt of court”

adalah berbeda, yang dalam KEAI belum mengatur kemungkin- an adanya pelecehan terhadap pengadilan yang dilakukan seo- rang advokat dengan memengaruhi pengadilan melalui media massa (obstruction of justice).

Dalam hal kewajiban advokat kepada pengadilan, ABA ca- non 22 menyatakan, perilaku advokat di muka sidang penga- dilan dan dengan para teman sejawatnya harus bercirikan “ke- terbukaan” (candor, frankness) dan “kejujuran” (fairness). Inti asas ini adalah melarang advokat berperilaku curang (mislead, deceive) terhadap (majelis) hakim dan advokat lawannya. Ke- wajiban advokat mempunyai dua sisi, yaitu: advokat berkewa- jiban untuk loyal pada kliennya, tetapi juga wajib beriktikad baik dan menghormati pengadilan. Yang pertama adalah “the duty of fidelity” kepada kliennya, ini belum ada dalam Pasal 4

SAMPLE

KEAI tentang “hubungan (advokat) dengan klien”. Kewajiban kepada pengadilan tersebut di atas adalah “the duty of good fa- ith” dan “the duty of honorable dealing”. Yang dalam Bab VI KEAI mengatur tentang “cara bertindak menangani perkara.”

Dalam dokumen peran advokat dalam sistem (Halaman 78-87)