KEDUDUKAN ADVOKAT
A. KEBERADAAN ADVOKAT
SAMPLE
BAB 4
SAMPLE
adalah profesi advokat yang bebas, mandiri, dan bertanggung jawab,81 sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003.
Ketentuan Pasal 5 ayat (1) memberikan status kepada advo- kat sebagai penegak hukum yang mempunyai kedudukan setara dengan penegak hukum lainnya yaitu polisi, jaksa, dan hakim atau yang lebih dikenal dengan istilah catur wangsa. Pasal 5 Un- dang-Undang Advokat menyebutkan bahwa Advokat berstatus sebagai penegak hukum, bebas, dan mandiri. Kedudukan ter- sebut memerlukan suatu organisasi yang merupakan satu-satu- nya wadah profesi advokat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Advokat, yaitu organisasi advokat merupakan satu-satunya wadah profesi advokat yang bebas dan mandiri yang dibentuk sesuai dengan ketentuan undang- undang ini dengan maksud dan tujuan untuk meningkatkan kualitas profesi advokat. Oleh karena itu, organisasi advokat yaitu PERADI, pada dasarnya adalah organ negara dalam arti luas yang bersifat mandiri (independent state organ) yang juga melaksanakan fungsi negara.82
Profesi advokat sebagai profesi mulia dan perannya yang begitu luas, karena tidak terbatas hanya dalam bidang litigasi atau beracara di pengadilan, tetapi berperan dalam segala sek- tor kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, karena sistem hukum tidak hanya bekerja dalam lingkungan unsur pe- negakan hukum formal saja, namun memasuki seluruh sektor kehidupan masyarakat dan negara, karena hukum ada di mana- mana dan mengatur segala aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu, peran advokat dalam usahanya untuk mewujudkan prinsip-prinsip negara hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak dapat diabaikan atau dikesampingkan.
Profesi advokat merupakan profesi yang bebas dan mandiri,
81 Lihat Konsideran Menimbang Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat pada huruf b.
82 Lihat pertimbangan hukum putusan MK Nomor 014/PUU-IV/2006 mengenai pengujian UU Advokat.
SAMPLE
namun bertanggung jawab untuk kepentingan masyarakat pen- cari keadilan, termasuk usaha membudayakan masyarakat un- tuk menyadari hak-hak fundamental mereka di depan hukum.
Demikian juga bahwa advokat sebagai salah satu unsur dari sis- tem peradilan merupakan salah satu pilar dalam menegakkan supremasi hukum dan HAM di Indonesia, bahkan sering juga disebut advokat merupakan pengawal (guardian) yang tangguh untuk konstitusi.
Dalam proses litigasi diketahui bahwa advokat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses peradilan, sepanjang advokat yang bersangkutan diberikan kuasa untuk membela hak-hak kliennya dalam segala tingkatan pemeriksaan, apakah kliennya sebagai tersangka/terdakwa dalam perkara pidana ma- upun sebagai penggugat/tergugat dalam perkara perdata mau- pun dalam perkara-perkara lainnya yang diselesaikan melalui forum-forum khusus (Alternative Dispute Resolution/ADR).
Dalam eksistensi yang demikian penting dan luas, advokat tentu banyak atau bahkan selalu berhubungan dengan unsur formal penegak hukum, tergantung jenis dan karakter kasus yang di- tanganinya.
Profesi advokat sebagai landasan idealisme telah dipatri dalam kode etik advokat yang memiliki nilai-nilai persamaan secara universal yaitu pejuang keadilan, yang dalam pelaksa- naannya antara lain mewujudkan peradilan yang bersih dan berwibawa. Hal ini sangat penting terutama setelah dikaitkan dengan pernyataan dari seorang sosiolog Amerika Serikat me- ngatakan bahwa, peranan advokat dan hakim dalam penegak- kan hukum memegang peranan yang sangat penting, karena di tangan hakim dan Advokat-lah sifat dan warna hukum itu ba- nyak ditentukan.83 Dikatakan demikian karena dua lembaga ini sama-sama memiliki prinsip kemandirian (independency) dari berbagai kekuasaan, sehingga memiliki kebebasan yang luas
83 Lawrence Friedman, American Law, W.W.Norton & Company, New York-London, 1984, hlm. 7.
SAMPLE
untuk menerapkan dan menafsirkan hukum. Dengan demikian, advokat harus dapat bertindak sebagai elemen untuk menjaga keseimbangan-keseimbangan dalam masyarakat yang di dalam teori politik sering disebut teori check and balance, kendati- pun tidak melalui kekuasaan yang ada padanya tetapi melalui pressure-pressure moral dan argumentasi-argumentasi hukum yang konstruktif dan doktrin-doktrin hukum yang dapat diper- tanggungjawabkan sesuai dengan konstitusi.
Dilihat dari teori kekuasaan maupun hukum ketatanegara- an, keberadaan advokat sebagai penegak hukum menimbulkan pro dan kontra, karena secara kelembagaan/kekuasaan di bi- dang penegak hukum hanya terdiri dari dua elemen, yaitu pene- gakan hukum di bidang yudikatif dan eksekutif.
Yudikatif untuk Indonesia saat ini berada dalam tangan ke- kuasaan kehakiman yang puncaknya berada di MARI, sedang- kan penegakan hukum dari yudikatif meliputi Kejaksaan Agung dan Polri. Kedua organisasi ini merupakan organisasi yang ke- beradaannya bersifat nasional, yaitu tersebar mulai dari pusat sampai ke wilayah dan merupakan satu kesatuan yang tidak ter- pisahkan. Dalam hal unsur kewilayahan memerlukan back-up untuk melakukan suatu tindakan tertentu dari pusat (Kejaksaan Agung dan Mabes Polri) dapat turun ke bawah memberikan ban- tuan, baik bantuan secara teknis maupun bantuan taktis. Oleh karena itu, keberadaan advokat kurang tepat kalau dikategori- kan sebagai penegak hukum yang kedudukannya sama dengan penegak hukum kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman karena bila dilihat dari proses rekrutmen, penarikan uang dari masya- rakat untuk biaya kursus untuk memperoleh sertifikat yang akan dijadikan sebagai persyaratan utama untuk mengikuti seleksi bakal calon advokat, kemudian biaya untuk mengikuti seleksi- nya. Penarikan biaya ini semua tidak ada pertanggungjawaban kepada masyarakat/publik.84 Padahal secara atributif advokat
84 Dalam Term of Reference (ToR) tanggal 16 Maret 2009 yang disampaikan oleh panitia bahwa advokat disebut sebagai penegak hukum dalam tataran “Catur Wangsa Penegak Hukum”.
SAMPLE
telah ditetapkan sebagai unsur penegak hukum (law enforce- ment) yang kedudukannya disamakan dengan unsur penegak- kan hukum lainnya (Polri, Kejaksaan, Hakim, dan Lembaga Pe- masyarakatan) dan sampai ke pengangkatan, semuanya berada di tangan organisasi advokat, kecuali penyumpahan yang bera- da di tangan kekuasaan kehakiman yang dalam pelaksanaannya dilaksanakan oleh Ketua Pengadilan Tinggi masing-masing ad- vokat berdomisili. Setelah advokat dinyatakan statusnya seba- gai penegak hukum, seharusnya norma-norma yang ada wajib ditaati karena urusan hukum tidak hanya undang-undang atau urusan peraturan formal, tetapi berurusan dengan berbagai ni- lai, sikap, serta perasaan manusia baik perasaan para pencari keadilan maupun perasaan para penegak hukum itu sendiri.
Dengan demikian, profesi Advokat memiliki peran penting dalam upaya penegakan hukum. Setiap proses hukum, baik pi- dana, perdata, tata usaha negara, bahkan tata negara, selalu me- libatkan profesi Advokat yang kedudukannya setara dengan pe- negak hukum lainnya. Dalam upaya pembelaan tersangka atau terdakwa, terutama praktik mafia peradilan, Advokat dapat ber- peran besar untuk menimbulkan dan/atau memutus mata rantai praktik mafia peradilan yang terjadi. Peran tersebut dijalankan atau tidak bergantung kepada profesi advokat dan organisasi ad- vokat yang telah dijamin kemerdekaan dan kebebasannya dalam Undang-Undang Advokat. Kemandirian dan kebebasan yang di- miliki oleh profesi advokat, tentu harus diikuti oleh adanya tang- gung jawab masing-masing advokat dan organisasi profesi yang menaunginya. Ketentuan Undang-Undang Advokat telah mem- berikan rambu-rambu agar profesi advokat dijalankan sesuai de- ngan tujuan untuk menegakkan hukum dan keadilan.