• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP BANTUAN HUKUM

Dalam dokumen peran advokat dalam sistem (Halaman 43-49)

ISTILAH BANTUAN HUKUM

B. KONSEP BANTUAN HUKUM

SAMPLE

yang mampu mengubah struktur yang timpang menuju ke arah struktur yang lebih adil dan yang menjamin persamaan kedu- dukan baik di bidang ekonomi maupun di bidang politik.47

Berdasarkan hal tersebut karakteristik dari konsep bantuan hukum struktural sebagai berikut:48

1. Mengubah orientasi bantuan hukum dari perkotaan menja- di pedesaan;

2. Membuat sifat bantuan hukum berubah menjadi aktif;

3. Mendayagunakan metode pendekatan di luar hukum;

4. Mengadakan kerja sama lebih banyak dengan lembaga- lembaga sosial lainnya;

5. Menjadikan bantuan hukum sebagai gerakan yang melibat- kan partisipasi rakyat banyak;

6. Mengutamakan kasus-kasus yang sifatnya struktural; dan 7. Mempercepat terciptanya hukum-hukum yang responsif

yang mampu menunjang perubahan struktural.

SAMPLE

persamaan di hadapan hukum bagi semua orang.49

Konsep bantuan hukum responsif mengacu kepada semua bidang hukum dan jenis hak asasi manusia tanpa memberikan prioritas kepada pada bidang hukum atau jenis hak asasi manu- sia tertentu, serta tanpa membedakan pembelaan baik perkara individual maupun perkara kolektif. Konsep bantuan hukum responsif terdiri dari berbagai model bantuan hukum yang di- butuhkan oleh masyarakat yang pluralistik, antara lain:50 1. Bantuan hukum model yuridis-individual, yaitu bantuan

hukum merupakan hak yang diberikan kepada warga ma- syarakat untuk melindungi kepentingan-kepentingan indi- vidual;

2. Bantuan hukum model kesejahteraan, yaitu bantuan hu- kum merupakan suatu hak akan kesejahteraan yang menja- di bagian dari kerangka perlindungan sosial yang diberikan oleh negara (welfare state);

3. Bantuan hukum preventif, merupakan bantuan hukum yang dilaksanakan dalam bentuk pemberian keterangan dan penyuluhan hukum kepada masyarakat sehingga me- reka mengerti akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara;

4. Bantuan hukum diagnostik, merupakan bantuan hukum yang dilaksanakan dengan cara pemberian nasihat-nasihat hukum atau dikenal dengan konsultasi hukum;

5. Bantuan hukum pengendalian konflik, yaitu bantuan hu- kum yang bertujuan untuk mengatasi secara aktif perma- salahan-permasalahan hukum konkret yang terjadi dalam masyarakat;

6. Bantuan hukum pembentukan hukum, yaitu bantuan hu- kum yang bertujuan untuk menstimulus terbentuknya yu- risprudensi yang lebih tegas, tepat, jelas, dan benar;

7. Bantuan hukum pembaruan hukum, yaitu bantuan hukum

49 Frans Hendra Winarta, Revitalisasi Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum di Indonesia, KHN Newsletterr, (Volume 8, Nomor 2, Maret-April 2008).

50 Ibid.

SAMPLE

yang lebih ditujukan kepada usaha mengadakan pembaru- an hukum, baik melalui hakim atau melalui pembentuk un- dang-undang.

Dalam rangka pelaksanaan bantuan hukum tersebut telah diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2008 ten- tang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum secara Cuma-cuma, Pasal 1 mendefinisikan: “Bantuan hukum cuma-cuma adalah jasa hukum yang diberikan advokat tanpa menerima pembayaran honorarium meliputi pemberian kon- sultasi hukum, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepen- tingan pencari keadilan yang tidak mampu.”51

Berdasarkan Instruksi Menteri Kehakiman Republik In- donesia Nomor M.03-UM.06.02 Tahun 1999, yang termasuk orang kurang mampu adalah orang-orang yang mempuyai peng hasilan yang sangat kecil, sehingga penghasilannya tidak cu kup untuk membiayai perkaranya di pengadilan, keadaan ke tidak mampuan ini ditentukan oleh Ketua Pengadilan Negeri berdasarkan keterangan kepala desa atau lurah. Agar bantuan hukum kepada para pencari keadilan yang tidak mampu dapat dilaksanakan dengan baik dan untuk memenuhi prinsip-prinsip negara hukum maka pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Perihal bantuan hukum di atur tersendiri di dalam Bab XI Pasal 56 dan Pasal 57, dan dalam Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009 tentang Peradilan Umum Pasal 68B dan Pasal 68C menegaskan, setiap orang yang beperkara mendapat bantuan hukum, nega- ra yang menanggung biaya perkara tersebut, pihak yang tidak mampu harus melampirkan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan tempat domisili yang bersangkutan, serta seti- ap pengadilan negeri agar dibentuk pos bantuan hukum kepada para pencari keadilan yang tidak mampu dalam memperoleh

51 Pasal 1 PP Nomor 83 Tahun 2008 tentang, Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-cuma.

SAMPLE

bantuan hukum secara cuma-cuma dalam semua tingkat per- adilan sampai putusan terhadap perkara tersebut memperoleh kekuatan hukum tetap.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa se- tiap tersangka atau terdakwa yang diperiksa sejak dari penyi- dikan sampai pemeriksaan di pengadilan mempuyai hak un- tuk mendapatkan bantuan hukum atau untuk didampingi oleh advokat secara cuma-cuma bagi terdakwa atau tersangka yang tidak mampu. Ukuran untuk ketidakmampuan bagi tersangka atau terdakwa ditentukan berdasarkan surat keterangan dari lu- rah atau kepala desa di tempat tinggal tersangka atau terdakwa atau dengan Penetapan Ketua Pengadilan Negeri.

Berkaitan dengan bantuan hukum cuma-cuma bagi masya- rakat yang tidak mampu, tidak ada peraturan yang menyatakan batasan/ukuran masyarakat yang tidak mampu itu seperti apa, sebab banyak juga orang yang mengaku tidak mampu padahal dia mempunyai rumah yang layak dan sebuah toko yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Hal ini sebenarnya cukup pen- ting guna menyeleksi tersangka atau terdakwa yang benar-benar berhak mendapatkan bantuan hukum cuma-cuma. Jangan sam- pai advokat yang sudah merelakan waktu, tenaga, pikiran dan bahkan mungkin uang pribadinya demi memberikan bantuan hukum kepada tersangka atau terdakwa, advokat tersebut akan menelan kekecewaan setelah mengetahui kondisi ekonomi klien yang sebenarnya.

Pada masa sekarang, mengenai bantuan hukum secara cu- ma-cuma diatur dalam Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Ad- vokat Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat yang berbunyi:

“Advokat wajib memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada pencari keadilan yang tidak mampu”; Dalam Pasal 1 ayat (9): menyebutkan, “Bantuan hukum adalah jasa hukum yang di- berikan oleh advokat secara cuma-cuma kepada klien yang tidak mampu”.

Sebagai peraturan pelaksana dari Pasal 22 ayat (1) Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, adalah Pera-

SAMPLE

turan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-cuma, dalam Pasal 1 angka (6) Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2008, disebutkan bahwa “Lembaga Bantuan Hukum adalah lembaga yang memberikan bantuan hukum kepada pencari ke- adilan tanpa menerima pembayaran honorarium”. Namun kon- sep bantuan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ang- ka (6) Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2008 tersebut tidak sesuai dengan apa yang terjadi pada kenyataannya, karena masih banyak terdapat kantor-kantor advokat yang mengaku sebagai organisasi bantuan hukum tapi sebenarnya berpraktik komersial dan memungut fee, yang menyimpang dari konsep pro bono public yang sebenarnya merupakan kewajiban Ad- vokat.52 Hal ini terjadi karena tidak ada peraturan perundang- undangan yang secara tegas memberikan sanksi bagi advokat yang menolak memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada orang yang tidak mampu membayar jasa advokat. Pera- turan yang ada hanya memberikan sanksi dari organisasi advo- kat kepada advokat yang melanggar ketentuan tersebut, berupa sanksi teguran lisan, teguran tertulis, pemberhentian sementa- ra, dan pemberhentian tetap dari profesinya.

Oleh karena itu, diperlukan undang-undang bantuan hu- kum yang mengatur dan memberikan sanksi yang tegas dan mengikat kepada advokat yang menolak memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada orang yang tidak mampu dan mempertegas hak konstitusional fakir miskin untuk mempero- leh bantuan hukum.

Namun yang jadi permasalahan adalah peraturan perun- dang-undangan mengenai bantuan hukum secara cuma-cuma hanya mengatur untuk golongan yang tidak mampu dan fakir miskin, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka (4) Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2008 yang berbunyi: “Pencari Ke-

52 Frans Hendra Winarta, Probono Publico, Hak Konstitusional Fakir Miskin untuk Memperoleh Bantuan Hukum, (Jakarta, 2009), hlm. 12.

SAMPLE

adilan yang tidak mampu yang selanjutnya disebut Pencari Ke- adilan adalah orang perseorangan atau sekelompok orang yang secara ekonomis tidak mampu memerlukan jasa hukum advo- kat untuk menangani dan menyelesaikan masalah hukum” dan Pasal 4 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2008 yang berbunyi: “Dalam permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pencari keadilan harus melampirkan keterangan tidak mampu yang dibuat oleh pejabat yang berwenang”, se- hingga bagaimana untuk golongan menengah yang tidak dapat digolongkan fakir miskin dan juga tidak dapat dikatakan mam- pu (kaya) untuk membayar jasa advokat, namun ditolak untuk mendapatkan surat keterangan tidak mampu oleh pejabat yang berwenang dengan alasan termasuk golongan yang mampu un- tuk membayar jasa pengacara/advokat? Untuk mengatasi hal tersebut tersangka atau terdakwa dapat membuat pernyataan di atas segel yang diketahui oleh pengadilan dan/atau dengan su- rat keterangan Ketua Pengadilan Negeri yang menyatakan tidak mampu.

Dalam memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma, aspek terpenting dalam adalah segi pendanaan. Kondisi finan- sial sangat penting dalam menentukan pengembangan program bantuan hukum. Segi pendanaan untuk bantuan hukum bagi orang yang tidak mampu seharusnya merupakan tanggung ja- wab negara. Jika negara mengabaikan tugas konstitusionalnya untuk membiayai gerakan bantuan hukum dan tidak mengalo- kasikan anggaran tertentu ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), itu artinya negara tidak memenuhi kewajibannya untuk melindungi fakir miskin khususnya pada bantuan hukum.

Dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-cuma, maka diharapkan orang yang tidak mampu membayar jasa advokat dapat meminta bantuan hukum secara cuma-cuma untuk menghadapi perkaranya dan setiap orang yang tidak mampu yang diancam dengan pidana penjara

SAMPLE

di atas lima tahun dapat memperoleh bantuan hukum dari ad- vokat dalam menghadapi perkaranya di pengadilan. Agar ban- tuan hukum bermanfaat bagi masyarakat, maka dalam pelak- sanaannya dilakukan secara merata dengan penyaluran melalui berbagai institusi penegakan hukum seperti kepolisian, kejak- saan, pengadilan, organisasi advokat dan organisasi masyarakat yang bergerak di bidang bantuan hukum.

C. LANDASAN YURIDIS TENTANG BANTUAN HUKUM

Dalam dokumen peran advokat dalam sistem (Halaman 43-49)