BAB II KAJIAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN
A. Kajian Teoritis
2. Hakikat Belajar dan Hasil Belajar
Belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap dan mengokohkan kepribadian. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Belajar adalah berusaha (berlatih dan sebagainya) supaya mendapat sesuatu kepandaian.11 Sementara, hasil belajar adalah kompetensi atau kemampuan tertentu baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik yang dicapai atau dikuasai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar.
Menurut Hamalik, hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, dan sikap-sikap serta kemampuan peserta didik. Lebih lanjut Sudjana berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.12 Sementara menurut Gagne, hasil belajar dibagi menjadi lima kategori, antara lain: informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan motoris.13 Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.14
1) Ranah Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).
Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak termasuk kategori ranah kognitif.15 Kategori-kategori yang termasuk dalam ranah kognitif ini adalah:
a) Mengingat (Knowledge); merupakan kemampuan mengambil pengetahuan dari memori jangka panjang. Pada jenjang kognitif pada tahap ini, yang dilakukan siswa adalah mengenali (mengidentifikasi) dan mengingat kembali.
11Kunandar, Penilaian Autentik : Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik berdasarkan kurikulum 2013, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 313.
12Ibid., h. 62.
13Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), cet. XIV, h. 22.
14Ibid.
15Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 49- 50.
Proses mengenali adalah mengambil pengetahuan yang dibuatkan dari memori jangka panjang untuk membandingkannya dengan informasi yang baru saja diterima, sedangkan proses mengingat kembali adalah pengetahuan yang dibutuhkan dari memori jangka panjang ketika soalnya menghendaki demikian. Artinya, dalam proses mengingat kembali, siswa mencari informasi di memori jangka panjang dan membawa informasi tersebut ke memori kerja untuk diproses.16
b) Memahami (Comprehension); merupakan kemampuan mengkontruksi makna dari materi pembelajaran, termasuk apa yang diucapkan, ditulis, dan digambar oleh guru. Pada jenjang kognitif ini, yang dilakukan siswa adalah menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, merangkum, menyimpul- kan, membandingkan, dan menjelaskan.
c) Mengaplikasikan (Application); merupakan kemampuan menerapkan atau menggunakan suatu prosedur dalam keadaan tertentu. Pada jenjang kognitif ini, adalah mengeksekusi atau melaksanakan dan mengimplementasikan.
d) Menganalisis (Analysis); merupakan kemampuan memecah-mecahkan materi jadi bagian-bagian penyusunannya menentukan hubungan-hubungan antar bagian itu dan hubungan antara bagian-bagian tersebut dan keseluruhan struktur atau tujuan. Pada jenjang kognitif ini, yang dilakukan siswa adalah membedakan, mengorganisasikan, dan mendekonstruksikan.
e) Mengevaluasi (evalution); merupakan kemampuan mengambil keputusan berdasarkan kriteria dan atau standar. Pada jenjang kognitif ini, yang dilakukan siswa adalah memeriksa dan mengkritik. Memeriksa ini dengan cara mengkoordinasi, mendeteksi, memonitor, dan menguji.
f) Mencipta; merupakan kemampuan memadukan bagian-bagian untuk mem- bentuk sesuatu yang baru dan koheren atau untuk membuat suatu produk yang orisinil. Proses kognitif yang dilakukan siswa pada tahap ini adalah merumuskan atau membuat hipotesis, merencanakan atau mendesain, dan memproduksi atau mengkontruksi.
16Lorin W Anderson dan David R. Krathwohl, Kerangka Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen, Terjemahan Agung Prihantoro, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2010), h.104.
2) Ranah afektif
Ranah afektif merupakan ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.17 Dalam ranah afektif, seorang guru juga mengukur kemampuan berpendapat siswa dengan pertanyaan yang disusun berhubungan dengan respons yang melibatkan ekspresi, perasaan atau pendapat pribadi terhadap hal-hal yang relatif sederhana tetapi bukan fakta.18 Selain itu, pada ranah ini juga mengukur sikap siswa dimana ketika ditanya mengenai responsnya yang melibatkan sikap atau nilai yang telah mendalam di sanubarinya dan guru meminta dia untuk mempertahankan pendapatnya.19 Ada beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar.
Kategorinya dimulai dari tingkat yang dasar atau sederhana sampai tingkat yang kompleks. Jenis-jenis kategori ranah afektif sebagai berikut:20
a) Penerimaan (Receiving); merupakan semacam kepekaan dalam menerima stimulasi dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dan lain-lain. Hal ini mencakup kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus, kontrol dan seleksi gejala rangsangan dari luar.
b) Menanggapi (Responding); merupakan reaksi yang diberikan oleh siswa terhadap stimulasi yang datang dari luar. Hal ini mencakup ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang kepada dirinya.
c) Penilaian (Valuing); merupakan penilaian yang berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus. Dalam evaluasi ini termasuk di dalamnya kesediaan menerima nilai, latar belakang, atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai tersebut.
d) Mengelola (Organization); merupakan pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. Kategori yang
17Anas Sudijono, op.cit., h. 54.
18Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), cet. 10, h. 121.
19Ibid., h. 122.
20Nana Sudjana, op.cit., h. 30.
termasuk dalam evaluasi organisasi adalah konsep tentang nilai, organisasi sistem nilai, dan lain-lain.
e) Karakteristik (Characterization); merupakan keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki sesorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Hal ini mencakup keseluruhan nilai dan karakteristiknya.
3) Ranah Psikomotorik
Ranah psikomotorik adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hal ini sejalan dengan Simpson yang menyatakan bahwa hasil belajar ranah psikomotorik merupakan hasil belajar dalam bentuk ketrampilan dan kemampuan bertindak individu.21 Hasil belajar ranah psikomotorik merupakan hasil lanjutan dari hasil belajar kognitif dalam memahami sesuatu dengan hasil belajar afektif yang baru tampak dalam bentuk kecendrungan untuk berprilaku.
Ranah psikomotorik juga berhubungan erat dengan kerja otot sehingga menyebabkan geraknya tubuh atau bagian-bagiannya. Dalam ranah ini yang termasuk ke dalam klasifikasi gerak dimulai dari gerak yang paling sederhana, misalnya melipat kertas sampai dengan merakit suku cadang televisi serta komputer.22 Ada 6 tingkatan keterampilan pada ranah psikomotorik, yaitu:23
a) Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang tidak sadar).
b) Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar.
c) Kemampuan perseptuan termasuk di dalamnya membedakan visual, auditif motorik, dan lain-lain.
d) Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan dan ketepatan.
e) Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks.
f) Kemampuan yang berkenaan dengan non decursive komunikasi seperti gerakan ekspresif dan interpretatif.
21Anas Sudijono, op.cit., h. 57.
22Suharsimi Arikunto, op.cit., h. 122.
23Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: SINAR BARU ALGENSINDO, 2014), cet. XIV, h. 54.
3. Konsep Vektor