BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Berdasarkan Tabel 4.5 di atas, terlihat bahwa hasil pretest sebelum diberikan perlakuan thitung < ttabel, maka hipotesis nol (Ho) diterima dan hipotesis alternatif (Ha) ditolak. Artinya, hasil belajar siswa kedua kelas memiliki kemampuan awal yang hampir sama sebelum diberikan perlakuan yang berbeda.
Sementara, untuk hasil posttest terlihat thitung > ttabel, maka hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Dengan diterimanya hipotesis alternatif (Ha), dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh modul digital secara signifikan terhadap hasil belajar siswa pada konsep vektor.
7. Hasil Analisis Data Angket
Analisis data angket pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan modul digital. Hasil perhitungan analisis data angket respon siswa dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Hasil Angket Respon Siswa terhadap Pembelajaran menggunakan Modul
No. Indikator Angket Persentase Kategori
1. Penyajian modul digital 76,8% Baik
2. Pengaruh modul digital terhadap hasil belajar 73,5% Baik
Rata-rata 75,15% Baik
Berdasarkan Tabel 4.6, diperoleh informasi bahwa pada indikator penyajian modul digital mendapat respon baik dengan perolehan persentase 76,8.
Sementara, pada indikator pengaruh modul digital terhadap hasil belajar juga mendapat respon baik dengan perolehan persentase 73,5. Dari informasi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan modul digital pada konsep vektor seluruhnya terkategori baik.
menggunakan modul memiliki nilai rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan kelas menggunakan buku teks pelajaran.1
Selain itu, berdasarkan hasil uji hipotesis nilai posttest antara kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh informasi bahwa nilai thitung > ttabel. Artinya, penggunaan modul digital dalam pembelajaran berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar pada konsep vektor. Hasil angket respon siswa pun memberikan informasi bahwa penggunaan modul digital selama proses pembelajaran memperoleh respon positif, terkategori baik dengan persentase 75,15. Sementara, hasil N-gain juga memberikan informasi bahwa pembelajaran menggunakan modul digital dan buku teks pelajaran sama-sama mengalami peningkatan. Namun, peningkatan hasil belajar kelas yang menggunakan modul digital lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang menggunakan buku teks pelajaran, terutama pada jenjang kognitif C2 (memahami), C3 (menerapkan), dan C4 (menganalisis).
Pada kemampuan memahami (C2), peningkatan hasil belajar kelas yang menggunakan modul digital lebih tinggi dibandingkan kelas yang menggunakan buku teks pelajaran. Hal ini dikarenakan kalimat yang digunakan pada modul digital mudah dipahami dengan penyajian ilustrasi menarik disertai animasi yang dapat membantu siswa dalam memahami konsep, sedangkan materi yang disajikan dalam buku teks pelajaran memiliki tingkat keterbacaan yang rendah dengan ilustrasi dalam buku kurang menarik. Menurut Alfi Nurnaini, dibandingkan dengan buku teks pelajaran, modul mempunyai fungsi dan manfaat untuk meningkatkan pemahaman materi yang disajikan/diuraikan.2 Hal ini juga mendukung pernyataan Utami bahwa pemahaman siswa tentang ilustrasi materi yang diajarkan dalam bentuk animasi menjadi salah satu pilihan untuk meningkat-
1Bahtiar Muslim, “Efektivitas Penggunaan Modul Pembelajaran Pendidikan Kewarga- negaraan dalam Upaya Pencapaian Hasil Belajar Siswa Kelas IX SMP Negeri 4 Kalasan”, Skripsi pada Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, 2012, h. 89, tidak dipublikasikan.
2Alfi Nurnaini, “Pengaruh Media Pembelajaran Modul terhadap Pencapaian Kompetensi Membuat Pola Dasar di SMK N 4 Yogyakarta”, 2013, h. 2, http://eprints.uny.ac.id, 01 Oktober 2017.
kan kemampuan memahami (C2).3 Sementara, menurut Anjar Darajat, animasi dapat meningkatkan kemampuan memahami daripada kemampuan aplikasi dan analisis, sehubungan dengan fungsi animasi sebagai media untuk mendeskripsikan proses yang abstrak menjadi lebih konkret.4
Pada kemampuan menerapkan (C3), pembelajaran dengan menggunakan modul digital lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan buku teks pelajaran. Hal ini dikarenakan dalam modul digital terdapat penerapan rumus pada contoh soal disertai dengan pembahasan dalam bentuk animasi setiap langkahnya, sehingga siswa dapat mengetahui prosedur penyelesaian soal dengan jelas. Modul digital juga dilengkapi latihan soal dan tes formatif di setiap pertemuan, serta evaluasi akhir dari seluruh pertemuan, sehingga siswa terbiasa menyelesaikan masalah pada soal-soal yang disajikan. Sementara pada buku teks pelajaran, kurang terdapat penerapan rumus pada contoh soal, sehingga siswa kurang memahami penerapan rumus yang digunakan untuk menyelesaikan soal tersebut.
Menurut M. Jazuri, kurangnya penerapan rumus pada konsep vektor dapat membuat siswa sulit mengaplikasikannya.5 Sementara, penerapan rumus pada contoh soal yang disajikan dalam modul digital disertai dengan pembahasan dalam bentuk animasi setiap langkahnya, sehingga siswa dapat mengetahui prosedur penyelesaian soal dengan jelas. Sejalan dengan pernyataan Lorin W.
Anderson dan David R. Krathwol menyatakan bahwa penggunaan proses-proses tertentu untuk mengerjakan soal latihan atau menyelesaikan masalah dapat meningkatkan kemampuan menerapkan (C3).6 Sementara menurut Anna Fauziah,
3Hellen Puspaningrum, “Upaya peningkatan hasil belajar biologi melalui penggunaan media animasi pada pokok bahasan sistem koordinasi untuk siswa kelas XI SMAN 2 Simpang Hilir”, Jurnal Visi Ilmu Pendidikan, vol. 3, no. 3, 2015, h. 1825, http://jurnal.untan.ac.id, 01 Oktober 2017.
4Anjar Darajat, “Penguasaan Konsep dan Motivasi Belajar Siswa SMA dalam Kegiatan Pembelajaran Menggunakan Media Animasi pada Konsep Sistem Pernapasan”, Skripsi Universitas Pendidikan Indonesia, 2013, h. 72, tidak dipublikasikan.
5M. Jazuri, “Analisis Kesulitan Peserta Didik dalam Memahami Konsep Fisika Materi Pokok Vektor pada Peserta Didik Kelas X, Semester 1 MA YA Falah Grobongan”, Skripsi pada Institut Agama Islam Negeri Walisongo, Semarang, 2009, h. 45, tidak dipublikasikan.
6Lorin W. Anderson and David R. Krathwohl (eds), Kerangka Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran dan Assesment : Revisi Taksonomi Bloom, Terjemahan Agung Prihantoro, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), cet. 1, h. 116.
menerapkan merupakan proses menempatkan konsep-konsep yang digunakan dengan memberikan latihan-latihan yang realistik dan relevan.7
Selain meningkatkan kemampuan memahami (C2) dan menerapkan (C3), pembelajaran dengan menggunakan modul digital juga dapat meningkatkan kemampuan menganalisis (C4). Menurut Lorin W. Anderson dan David R.
Krathwohl, menganalisis melibatkan proses memecahkan materi menjadi bagian- bagian kecil dan menentukan bagaimana hubungan antarbagian dan setiap bagian dengan struktur keseluruhan.8 Hal ini dikarenakan pada modul digital terdapat pemecahan subkonsep dan penyajian konsep dalam bentuk animasi dan simulasi yang menggambarkan hubungan antara subkonsep dengan konsep secara keseluruhan membuat siswa dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kemampuan menganalisis. Hermawanto, Kusairi dan Wartono menyatakan bahwa dengan menyajikan materi dalam bentuk teks, grafik, animasi dan simulasi, dapat membuat penguasaan konsep siswa lebih baik, sehingga kemampuan siswa dalam mengaplikasikan, menganalisis, dan menyimpulkan suatu konsep dapat meningkat dari sebelumnya.9
Sementara, pada kemampuan mengingat (C1) pembelajaran menggunakan modul digital lebih rendah dibandingkan dengan pembelajaran yang meng- gunakan buku teks pelajaran. Hal ini dikarenakan siswa yang menggunakan modul digital, jarang membaca kalimat yang menjelaskan kata penting karena lebih tertarik dengan animasi yang ada. Hal ini sejalan dengan penelitian Teresia bahwa semakin banyak membaca materi, maka proses penyimpanan akan menjadi lebih mudah. Setelah mampu menyimpan materi tersebut, maka akan lebih mudah bagi siswa untuk mengingat kembali informasi yang ada di konsep tersebut, sehingga menyebabkan kemampuan mengingat siswa meningkat.10
7Anna Fauziah, “Kemampuan Pemahaman dan Pemecahan Masalah Matematika melalui Strategi” React, Forum Pendidikan, vol. 3, no. 1, 2010, h. 3.
8Lorin W. Anderson dan David R. Krathwohl, op.cit., h. 120.
9Hermawanto, S. Kusairi, dan Wartono, Pengaruh Blended Learning terhadap Penguasaan Konsep dan Penalaran Fisika Peserta Didik kelas X, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 2013, h.
69. 10Teresia Yuliana Hardjosoesanto dan Siswanto, “Pengaruh Belajar Dengan Cara Menghafal terhadap Mengingat Kosakata dalam Bahasa Inggris”, Psikodimensia, vol. 13, no. 1, 2014, h.75.
Berdasarkan penjelasan di atas, secara keseluruhan pembelajaran menggunakan modul digital dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Artinya, pembelajaran menggunakan modul digital memiliki beberapa kelebihan. Pertama, penyajian materi dalam modul digital dilengkapi dengan animasi dan ilustrasi menarik, sehingga membuat siswa mudah memahaminya. Kedua, dalam modul digital tidak hanya memuat materi, latihan, dan evaluasi saja, melainkan terdapat simulasi yang akan memudahkan siswa dalam membuktikan persamaan vektor atau menerapkan langsung persamaan tersebut. Ketiga, adanya contoh dan latihan soal dalam modul digital, menjadikan siswa terbiasa dalam menyelesaikan masalah terkait konsep yang telah mereka pelajari. Selain itu, beberapa contoh soal pada modul digital disajikan dalam bentuk animasi dan ilustrasi, sehingga siswa dapat mengetahui prosedur penyelesaian soal dengan jelas. Sementara, latihan soal dalam modul digital dilengkapi dengan pembahasan setelah kegiatan belajar seluruhnya selesai, sehingga siswa dapat mengetahui jawaban dan penyelesaian soal yang dapat mereka pelajari sendiri.
Pembelajaran menggunakan modul digital selain memiliki kelebihan juga memiliki beberapa kekurangan. Pertama, pengoperasian modul digital harus membutuhkan daya energi listrik yang stabil untuk menyalakan komputer, apabila terjadi mati listrik, maka proses pembelajaran akan terhambat. Kedua, siswa di sekolah belum terbiasa menggunakan bahan ajar pendamping seperti modul digital.
55 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan modul digital berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar siswa pada konsep vektor. Hal ini dapat dilihat pada hasil uji hipotesis statistik data posttest yang menyatakan nilai thitung (74,81) > ttabel (1,9908). Selain itu, berdasarkan hasil N-Gain kelas eksperimen mengalami peningkatan terkategori tinggi pada jenjang kognitif C3 sedangkan pada jenjang kognitif C1, C2 dan C4 terkategori sedang. Sementara, berdasarkan hasil angket respon siswa terkait penggunaan modul digital pada pembelajaran mendapat respon positif dengan kategori baik (75,15%).
B. Saran
Saran yang diajukan peneliti sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian ini, diantaranya :
1. Pada saat pembelajaran, modul digital hanya berperan sebagai bahan ajar pendamping dan tidak menggantikan bahan ajar utama.
2. Pada penelitian selanjutnya, disarankan untuk menambah satu kelas eksperimen yang menggunakan modul digital dan bahan ajar utama.
3. Siswa diberikan arahan tentang pengoperasian modul digital sebelum kegiatan pembelajaran, sehingga ketika menggunakan modul tidak ada bacaan yang terlewat.
4. Soal yang disajikan pada tes formatif dan evaluasi sebaiknya dapat diacak, sehingga siswa dapat memilih soal yang dianggap mudah terlebih dahulu.
5. Cover dalam modul digital sebaiknya menarik dan sesuai dengan subkonsep.
6. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada tiap jenjang kognitif, sebaiknya jumlah soal pada setiap jenjang memiliki komposisi yang sesuai dengan tuntutan kompetensi dasar.
56
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Lorin W dan David R. Krathwohl. Kerangka Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran dan Assesment : Revisi Taksonomi Bloom, Terjemahan Agung Prihantoro. Jakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
Arikunto, Suharisimi. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan edisi Revisi. Jakarta:
Bumi Aksara, Cet. 10, 2009.
---. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta, 2013.
Darajat, Anjar. “Penguasaan Konsep dan Motivasi Belajar Siswa SMA dalam Kegiatan Pembelajaran Menggunakan Media Animasi pada Konsep Sistem Pernapasan”. Skripsi pada Universitas Pendidikan Indonesia:
2013. tidak dipublikasikan.
Daryanto. Menyusun Modul: Bahan Ajar untuk Persiapan Guru dalam Mengajar.
Yogyakarta: Penerbit Gaya Media, 2013.
Diyono. Rumus Gampang Statistika: Edisi Terbaru dan Terlengkap. Jakarta:
Pustaka Makmur, 2014.
Fadliyati, Rati. “Hasil Produk E-Modul”,
https://sites.google.com/site/elearningtp2010/pengembangan-bahan- ajar/modul/hasil-produk-e-modul , 01 Oktober 2017.
Fauziah, Anna. “Kemampuan Pemahaman dan Pemecahan Masalah Matematika melalui Strategi React”. Forum Pendidikan: Vol. 30, no. 1, 2010.
Foster, Bob. Akselerasi Fisika untuk SMA/MA kelas X. Bandung: Duta, 2015.
Hapsari, Senja Ayu. "Pengembangan Modul Fisika Braille Materi Vektor untuk Siswa Tunanetra kelas X SMA/MA Inklusi di Yogyakarta". Skripsi pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta: 2013. tidak dipublikasikan.
Hardjosoesanto, Teresia Yuliana dan Siswanto. “Pengaruh Belajar Dengan Cara Menghafal terhadap Mengingat Kosakata dalam Bahasa Inggris”.
Psikodimensia. 13, 2014.
Jazuri, M. “Analisis Kesulitan Peserta Didik dalam Memahami Konsep Fisika Materi Pokok Vektor pada Peserta Didik Kelas X Semester 1 MA YA Falah Grobogan”. Skripsi pada Institut Agama Islam Negeri Walisongo:
2009. tidak dipublikasikan.
Jihad, Asep dan Abdul Haris. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo, 2012.
Kanginan, Marthen. Fisika I untuk SMA/MA kelas X: berdasarkan Kurikulum 2013. Jakarta: Erlangga, 2013.
Kunandar. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Rajawali Pers, 2012.
---. Penilaian Autentik : Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik berdasarkan kurikulum 2013. Jakarta: Rajawali Pers, 2013.
Kusairi, Hermawanto, S. dan Wartono. “Pengaruh Blended Learning terhadap Penguasaan Konsep dan Penalaran Fisika Peserta Didik kelas X”. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia. 9, 2013.
Kusmana. “Pembelajaran Inkuiri dengan Menggunakan Media Analisis Ruang pada Pokok Bahasan Vektor”. Tesis pada Universitas Negeri Semarang:
2008. tidak dipublikasikan.
Kuswandari, Meta, Widha Sunarno, dan Supurwoko. “Pengembangan Bahan Ajar Fisika SMA dengan Pendekatan Kontekstual pada Materi Pengukuran Besaran Fisika”. Jurnal Pendidikan Fisika. 1, 2013.
Majid, Abdul. Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011.
Muhafid, Ervian Arif. “Pengembangan Modul IPA Terpadu berpendekatan Keterampilan Proses pada Tema Bunyi di SMP Kelas VIII”, Skripsi pada Universitas Negeri Semarang: 2013. tidak dipublikasikan
Munadi, Yudhi. Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru. Ciputat: GP Press Jakarta, 2012.
Muslich, Musnar. Textbook Writing. Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2010.
Muslim, Bahtiar. “Efektivitas Penggunaan Modul Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dalam Upaya Pencapaian Hasil Belajar Siswa Kelas IX SMP Negeri 4 Kalasan”, Skripsi pada Universitas Negeri Yogyakarta:
2012. tidak dipublikasikan.
Muzaky, Ahmad Furqon dan Jeffry Handhika. “Penggunaan Alat Peraga Sederhana berbasis Teknologi Daur Ulang untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Materi Vektor dalam Kelas Remedial SMKN 1 Wonoasri Tahun Pelajaran 2014/2015”. Prosiding Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika. Madiun: IKIP PGRI MADIUN. 6, 2015.
Nani, Karman Lai dan Yaya S. Kusumah, The Effectiviness Ofict-Assisted Project-Based Learning in enhacing Studens’ Statictical Communication Ability, Internationan Journal of Education and Research. 3, 2015.
Nurnaini, Alfi. “Pengaruh Media Pembelajaran Modul terhadap Pencapaian Kompetensi Membuat Pola Dasar di SMK N 4 Yogyakarta”. 2013.
http://eprints.uny.ac.id, 01 Oktober 2017.
Prastowo, Andi. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif: Menciptakan Metode Pembelajaran yang Menarik dan Menyenangkan. Yogyakarta:
DIVA Press, Cet. IV, 2012.
Purwanto, Budi. Theory And Aplication Physics; for Grade X of Senior High School and Islamic Senior High School. Solo: Bilingual, 2009.
Purwanto, M. Ngalim. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.
Bandung: PT Rosdakarya, Cet. XVIII, 2013.
Puspaningrum, Hellen. “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Biologi melalui Penggunaan Media Animasi pada Pokok Bahasan Sistem Koordinasi untuk Siswa Kelas XI SMAN 2 Simpang Hilir”, Jurnal Visi Ilmu Pendidikan: Vol. 3, no. 3, 2015, http://jurnal.untan.ac.id, 01 Oktober 2017.
Riduwan. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-karyawan dan Peneliti Pemula.
Bandung: Alfabeta, 2011.
Safrina, Iin. “Pengaruh Modul Digital Interaktif terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa pada Konsep Suhu dan Kalor”. Skripsi pada Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah: 2014. tidak dipublikasikan.
Sanjaya, Wina. Penelitian Pendidikan: Jenis, Metode dan Prosedur Edisi Pertama. Jakarta: Kencana, cet. 1, 2013.
Sari, Betha Nurina. “Sistem Pembelajaran KBK terhadap Motivasi Belajar Para
Peserta Didik pada Bidang Studi Fisika”.
https://www.scribd.com/doc/72882239/Simtem-Pembelajaran-Fisika . 09 Desember 2017.
Setyosari, Punaji. Metode Penelitian: Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta:
Prenadamedia Group, 2015.
Sitepu, B. P. Penulisan Buku Teks Pelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014.
Solehah, Enong Eha Homsah. “Pengaruh E-module berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap Hasil Belajar Siswa pada Konsep Fluida Statis”, Skripsi pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: 2015. tidak dipublikasikan
Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Sudjana. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito, 2005.
Sudjana, Nana. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: SINAR BARU ALGENSINDO, Cet. XIV, 2014.
---. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Cet. XIV, 2009.
Sugiyono. Metode Penelitian dan Pengembangan : Research and Development.
Bandung: Alfabeta, 2015.
---. Metode Penelitian Kuantitatif dan R&D. Bandung: CV Alfabeta, cet.
XIX, 2013.
Sukardiyono dan Yeni Ristya Wardani. “Pengembangan Modul Fisika berbasis Kerja Laboratorium dengan Pendekatan Science Process Skills untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika” Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains, 2013.
Sundayana, Rostina. Statistika Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2014.
Supiyanto. Fisika SMA untuk SMA kelas X. Jakarta: Phiβeta, 2007.
Surya, Yohanes. Fisika itu Mudah: Jilid 1. Tangerang: Bina Sumber Daya MIPA, 2001.
Susetyo, Budi. Statistika untuk Analisis Data Penelitian: dilengkapi Cara Perhitungan SPSS dan MS. Office Excel. Bandung: Refika Aditama, 2010.
Susilana, Rudi dan Cepi Riyana. Media Pembelajaran: Hakikat, Pengembangan Pemanfaatan, dan Penilaian. Bandung: CV Wacana Prima, 2009.
Triyono, M. Bruri, dkk., Pengembangan Bahan Ajar. Magelang: UNIVERSITAS GADJAH MADA, 2009.
Wigati, Agnes Amila, dkk,. "Pengaruh Penggunaan Modul Fisika Berbasis Inkuiri Terbimbing terhadap Minat dan Hasil Belajar Siswa".
jurnal.fkip.unila.ac.id , 01 Januari 2017.
61
LAMPIRAN A Perangkat Pembelajaran
1. RPP Kelas Eksperimen
2. RPP Kelas Kontrol
Lampiran A.1
RPP Kelas Eksperimen
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) (Kelas Eksperimen)
Satuan Pendidikan : MAS Manaratul Islam Mata Pelajaran : Fisika
Kelas/Semester : X/1
Peminatan : IPA
Materi Pokok : Penjumlahan Vektor
Sub Materi Pokok : Penjumlahan Vektor Metode Grafis Pertemuan Ke- : 1
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit A. Kompetensi Inti (KI)
KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa salam pergaulan dunia.
KI 3 : Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.
B. Kompetensi Dasar (KD)
3.2 Menerapkan prinsip penjumlahan vektor (dengan pendekatan geometri).
C. Indikator
1. Menjelaskan besaran vektor.
2. Menggambarkan penjumlahan vektor dengan berbagai metode.
3. Menerapkan penjumlahan vektor dengan metode grafis.
D. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menjelaskan besaran vektor dalam kehidupan sehari-hari dengan jelas setelah mempelajari konsep vektor pada modul digital.
2. Siswa dapat menggambarkan penjumlahan vektor dengan berbagai metode setelah mengamati animasi penjumlahan vektor pada modul digital.
3. Siswa dapat menerapkan penjumlahan vektor dengan metode grafis setelah mengamati ilustrasi vektor secara analisis pada modul digital.
E. Materi Pembelajaran 1. Besaran Vektor
Besaran fisika dibedakan menjadi dua, yaitu besaran skalar dan besaran vektor. Besaran skalar adalah besaran fisika yang hanya mempunyai nilai tanpa mempunyai arah, contohnya massa, massa jenis, suhu, waktu, jarak, tekanan, dan lain-lain. Sedangkan besaran vektor adalah besaran fisika yang mempunyai nilai dan arah, contohnya adalah percepatan, kecepatan, perpindahan, gaya, momentum dan lain-lain.
2. Penjumlahan Vektor
Sebuah vektor sama halnya dengan sebuah skalar, dapat dijumlahkan, dikurangkan, atau dikalikan dengan vektor lainnya. Dalam hal ini penjumlahan vektor atau lebih dikenal dengan resultan vektor dapat dilakukan dengan 2 metode, yaitu metode grafis dan metode analisis.
a. Metode Grafis
Penjumlahan vektor secara grafis dapat dilakukan dengan cara poligon (segi banyak) atau cara jajargenjang. Pada penjumlahan vektor dengan cara poligon, vektor-vektor saling diletakkan ujung-pangkal satu dengan yang lain, sedangkan dengan cara jajargenjang resultan atau penjumlahan vektor dengan gambar akan membentuk seperti bangun jajargenjang. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Untuk menentukan besar dan arah vektor resultan dapat menggunakan persamaan sebagai berikut :
√a 2 a cos θ F. Metode Pembelajaran
Diskusi dan tanya jawab
G. Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran 1. Alat/ Bahan : Komputer dan alat tulis 2. Sumber Belajar : a. Modul Digital kelas X
b. Ni Ketut Lasmi, Fisika untuk SMA/MA kelas X a
b
a
b R a
b R
Gambar 1.1 (a) dua buah vektor yang diketahui. (b) resultan vektor dengan metode poligon.
(c) Resultan vektor dengan metode jajargenjang.
θ
(a) (b) (c)
H. Langkah-Langkah Pembelajaran
Tahap Pembelajaran Kegiatan Alokasi
Waktu
Guru Siswa
Pendahuluan Orientasi Membuka pelajaran dan mempersilahkan siswa untuk berdoa
Berdoa dengan dipimpin oleh ketua kelas
10 menit
Mengecek kehadiran siswa
Memperhatikan guru
Apersepsi Menggali
pengetahuan awal siswa melalui pertanyaan,
“Perhatikan gambar daun yang tertiup angin berikut!
Kemanakah arah jatuh daun tersebut?”
Menjawab pertanyaan guru
Motivasi Menyampaikan petunjuk
penggunaan modul dan tujuan
pembelajaran subkonsep besaran vektor dan
penjumlahan vektor metode grafis dalam modul digital
Memperhatikan guru
Inti Mengamati Menginstruksikan kepada siswa untuk membaca subkonsep besaran vektor dan sifat- sifat penjumlahan vektor pada KB1 dalam modul digital
Membaca subkonsep besaran vektor dan sifat-sifat penjumlahan vektor pada KB1 di dalam modul digital
70 menit
Menanya Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan
Mengajukan pertanyaan subkonsep besaran vektor
Tahap Pembelajaran Kegiatan Alokasi Waktu
Guru Siswa
pertanyaan
subkonsep besaran vektor dan sifat- sifat penjumlahan vektor
dan sifat-sifat penjumlahan vektor
Mengumpulkan informasi/
mencoba
Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencari informasi tambahan subkonsep penjumlahan vektor dari sumber bacaan lain dan melakukan diskusi dengan teman sebangkunya
Mencari informasi tambahan subkonsep penjumlahan vektor dari sumber bacaan lain dan melakukan diskusi dengan teman
sebangkunya Menalar Menginstruksikan
kepada siswa untuk mengerjakan latihan soal KB1 dalam modul digital
Mengerjakan latihan soal KB1 dalam modul digital
Meng-
komunikasikan
Memberi kesempatan kepada siswa secara acak untuk menyampaikan hasil diskusi
Menyampaikan hasil diskusi
Penutup Evaluasi Memberi
kesempatan siswa untuk membuat kesimpulan
subkonsep besaran vektor dan
penjumlahan metode grafis secara tulisan
Menyampaikan kesimpulan subkonsep besaran vektor dan
penjumlahan metode grafis secara tulisan
10 menit
Memberikan soal evaluasi sebagai review pelajaran hari ini
Mengerjakan evaluasi yang diberikan guru sebagai review