BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Bentuk Penyelesaian Kasus Masyarakat Adat Kajang Ammatoa di Kabupaten Bulukumba
Bentuk Penyelesaian kasus pada masyarakat adat Kajang Ammatoa biasa disebut dengan hukum adat. Masyarakat adat Kajang Ammatoa mempunyai hukum adat yang tidak tertulis dan masih dijalankan sampai saat ini berdasar pada “Pasang” yang mana “Pasang” berarti pesan yang disampaikan secara turun temurun. Pasang berisi prinsip-prinsip, nilai-nilai, aturan dan hukum dalam merajut hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta.
Kepercayaan terhadap Pasang mereka terapkan didalam kehidupan sehari-hari karena Pasang merupakan penuntun hidup yang menentukan kehidupan sesudah kematian. Bagi masyarakat adat Kajang Ammatoa kepercayaan Kepada Turie’ A’ra’na dan Pasang masih kuat menguasai kehidupannya bisa dilihat apabila ada egiatan ritual ataupun upacara adatnya, seperti upacara Appadongko’ pa’nganro atau Apparuntu’, yang merupakan upacara mengucap syukur dan memohon doa pada Turie’ A’ra’na, baik bersifat umum (diselenggarakan oleh Ammatoa) maupun khusus (diselenggarakan oleh masyarakat).
Desa Tanah Towa merupakan sebuah desa yang berada di Kabupaten Bulukumba yang mana di dalam Desa Tanah Towa terdapat suku adat yang mereka sebut dengan suku adat Kajang Ammatoa. Masyarakat adat Kajang Ammatoa merupakan masyarakat yang sangat memelihara Pasang, hukum adat dan kehidupan sehari-harinya menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa konjo. (D.1 Observasi 27/7/2021).
48
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti maka dapat diketahui bahwa hukum adat yang berdasar pada Pasang tentu akan memberikan pengaruh bagi masyarakat adat Kajang Ammatoa karena dengan adanya hukum adat ini maka masyarakar akan berpikir untuk melakukan pelanggaran.
Adapun peneliti melakukan kegiatan wawancara untuk memintai tanggapan serta pendapat informan mengenai apa sanksi yang diterima oleh pelaku pelanggaran apabila melakukan pelanggaraan didalam kawasan adat Kajang Ammatoa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba.
Selanjutnya informan memberikan pendapat berupa penjelasan bahwa:
“terdapat tiga sanksi yang dikenal oleh masyarakat adat Kajang Ammatoa, pertama Poko’ Ba’bala, diberlakukan kepada orang yang melakukan pelanggaran berat contohnya menebang kayu di kawasan hutan tanpa izin oleh Ammatoa dengan sanksi sebesar Rp.12.000.000 dan kain kafan 12 meter, kedua Tangnga Ba’bala, diberlakukan kepada orang yang melakukan pelanggaran sedang dengan sanksi sebesar Rp.6.000.000 – Rp8.000.000, dan sanksi yang ketiga yaitu Cappa Ba’bala diberlakukan kepada orang yang melakukan pelanggaran ringan contohnya penghinaan “Tuttu” dengan sanksi sebesar Rp.4.000.000 – Rp.6.000.000” (wawancara dengan Kepala Desa Tanah Towa, S, 17/7/2021).
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada Kepala Desa Tanah Towa maka dapat diketahui bahwa di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa terdapat tiga sanksi yang berlaku dengan denda yang berbeda-beda tergantung jenis pelanggarannya.
49
Berikut pendapat dari informan selanjutnya:
“menurutku dek, di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa itu ada tiga sanksi yang sampai sekarang masih berlaku yaitu poko’ ba’bala (sanksi berat) didenda sebesar Rp.12.000.000, tangnga ba’bala (sanksi sedang) didenda sebesar Rp.6.000.000 – Rp.8.000.000, cappa ba’bala (sanksi ringan) didenda sebesar Rp.4.000.000 – Rp.6.000.000. (Wawancara dengan Ketua PA PHKom Kajang dan Guru SMPN 21 Bulukumba, Desa Tanah Towa, N, 16/7/21).
Mengenai penjelasan informan di atas mengenai sanksi-sanksi yang berlaku di kawasan adat Kajang Ammatoa, pendapat mereka tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Kepala Desa Tanah Towa. Yaitu terdapat tiga sanksi yang ada di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa yaitu poko’ ba’bala (sanksi berat), tangnga ba’balak (sanksi sedang), cappa ba’bala (sanksi ringan).
Selanjutnya hasil wawancara dengan informan lainnya sebagai berikut:
“menurut saya sanksi di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa terbagi menjadi tiga yaitu, pertama poko’ ba’bala (sanksi berat) dengan denda sebesar 12 real jika dirupiahkan sebesar Rp.12.000.000 contoh pelanggarannya yaitu pengrusakan hutan, menangkap udang di dalam hutan, mengambil rotan dan membakar lebah, kedua tangnga ba’bala (sanksi sedang) dengan denda sebesar 8 real atau Rp.8.000.000 contoh pelanggarannya yaitu mengakui yang bukan hak milik seperti kepemilikan tanah, dan yang terakhir cappa ba’bala (sanksi ringan) dengan denda sebesar 6 real atau Rp.6.000.000 contoh pelanggarannya yaitu berkata kasar dan dan penghinaan” (Wawancara dengan Ketua POKDARWIS ADAT AMMATOA KAJANG, R ,16/7/21).
Untuk informan selanjutnya, poin penting yang dapat diperoleh dari pernyataan tersebut adalah, beliau berpendapat bahwa sanksi di dalam kawasan adat Ammatoa Kajang dibedakan menjadi tiga yang diukur dari
50
level pelanggarannya ada pelanggaran berat, pelanggaran sedang dan pelanggaran ringan.
Dari hasil wawancara informan dapat disimpulkan bahwa dalam kawasan adat Kajang Ammatoa terdapat hukum adat yang mengatur beserta sanksi-sanksinya yang mana sanksi itu terbagi menjadi tiga tergantung jenis pelanggarannya, ada pelanggaran berat (poko’ ba’bala) yaitu pelanggaran sudah tidak bisa ditolerir lagi, pelanggaran sedang (tangnga ba’bala) yaitu pelanggaran yang masih bisa mendapatkan teguran akan tetapi jika dia sudah melakukan pelanggaran itu sebanyak tiga kali maka sudah dapat dikenakan sanksi, pelanggaran ringan (cappa ba’bala) yaitu pelanggaran yang apabila dilakukan kita akan mendapat teguran namun jika sudah keterlaluan maka akan mendapatkan sanksi.
a. Hukum Adat
Kebiasaan yang dilakukan masyarakat akan menimbulkan rasa kepatuhan dan tata tertib bersama yang dijadikan pedoman tentang bagaimana cara bertingkah dan diancam sanksi untuk mendapatkan sebuah status hukum adat. Sama halnya dengan masyarakat adat Kajang Ammatoa dengan menjadikan adat mereka sebagai sumber tata kelakuan bermasyarakat maka mereka layak dan patut disebut sebagai masyarakat hukum adat.
Dalam ketentuan adat yang tumbuh dalam suatu masyarakat adat pasti memiliki cara tersendiri dalam menyelesaikan suatu masalah. Penyelesaian suatu masalah yang terjadi pada masyarakat adat akan mengedepankan kepentingan bersama yang mana kepentingan bersama sangat dijunjung tinggi
51
dari pada kepentingan individu demikian pula bagi masyarakat adat Kajang Ammatoa.
Efek yang ditibulkan dengan adanya hukum adat sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat adat Kajang Ammatoa karena hukum adat dengan ancaman sanksi akan menibulkan rasa kepatuhan pada masyarakat adat Kajang Ammatoa. (D.2 Dokumentasi 27/07/2021).
Dari data dokumentasi diatas maka dapat diperoleh sebuah hasil observasi mengenai efek yang ditimbulkan dengan adanya hukum adat. Tentu saja akan menambah rasa kepatuhan, oleh karena itu kita harus mengetahui tentang bagaimana sejarah terbentunknya hukum adat di dalam kawasan adat Masyarakat adat Kajang Ammatoa.
Adapun pendapat yang dikemukakan oleh informan yaitu:
“terkait dengan sejarah terbentuknya hukum adat di kawasan adat Kajang Ammatoa itu menilah dari beberapa kasus atau pelanggaran-pelanggaran termasuk dengan adanya aturan-aturan jadi sebelum itu saya akan menjelaskan bahwa kenapa masyarakat adat Kajang Ammatoa masih bisa bertahan sampai sekarang karena alhamdulillah di kawasan kami itu masyarakatnya adatnya masih sangat jelas sekali, wilayah adat masih jelas, aturan-aturan adat juga masih bagus atau terjaga dan yang ke empat yaitu sanksi-sangkinya. Oleh karena itu semua aktivitas masyarakat adat itu mempunyai aturan-aturan tersendiri atau yang dikenal dengan pasang- pasangnya, kemudian semua pasang-pasang itu mempunyai aturan dan termasuk jika melanggar aturan itu akan dikenakan sanksi” (wawancara dengan Guru SMPN 21 Bulukumba Desa Tanah Towa, A, 19/7/2021).
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan salah satu tenaga pendidik di Desa Tanah Towa maka dapat diketahui bahwa hukum adat di kawasan adat Kajang Ammatoa ada sejak adanya pelanggaran- pelanggaran yang terjadi di kawasan adat Kajang Ammatoa.
52
Hasil wawancara dari informan selanjutnnya tidak jauh berbeda mengenai sejarah terbentuknya hukum adat di kawasan adat Kajang Ammatoa, berikut pendapatnya:
“berbicara terkait dengan sejarah hukum adat di kawasan adat Kajang Ammatoa itu mulai ketika ada yang melanggar to makanya masyarakat adat Kajang Ammatoa membuat sebuah aturan supaya orang yang melanggar ini dikasih sanksi istilahnya disini ada tigaji itu sanksinya yaitu poko’ ba’bala, tangnga ba’bala dan cappa ba’bala.” (wawancara dengan Guru SMPN 21 Bulukumba Desa Tanah Towa, AM, 22/7/2021).
Dari hasil wawancara tersebut, maka sudah sangat jelas bahwa tanpa disadari pelanggaranlah yang menjadi faktor terbentuknya hukum adat di kawasan adat Kajang Ammatoa sehingga terbentuk pula tiga sanksi yaitu poko’ ba’bala, tangnga ba’bala dan cappa ba’bala.
Selanjutnya hasil wawancara dengan informan selanjutnya sebagai berikut:
“menurut saya sejarah hukum adat di kawasan adat Kajang Ammatoa yaitu sejak terjadinya suatu pelanggaran di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa maka pemimpin adat beserta pemangku adatnya harus mencari jalan keluar”(wawancara dengan Ketua PA PHKom Kajang, N, 25/7/2021).
Dari hasil wawancara diatas menunjukkan bahwa sejarah hukum adat di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa ada karena terjadinya suatu pelanggaran.
Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa dengan adanya pelanggaran maka terbentuklah hukum adat yang sampai sekarang masih di jaga karena dengan adanya hukum adat maka daerah kawasan adat Kajang Ammatoa tidak berubah dari dulu sampai sekarang.
53
b. Pelanggaran Yang Pernah Terjadi
Walaupun di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa terdapat hukum adat akan tetapi masih ada saja individu-individu yang melakukan pelanggaran baik itu melakukan pencurian, penghinaan, fitnah dan lain-lain.
Terkait dengan hutan keramat yang ada di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa ada empat hal yang tidak bisa dilakukan yaitu Anna’bang kaju (menebang kayu), Anrao doang (mengambil udang), Attunu bani (membakar lebah) dan Annatta uhe (mengambil rotan).
Adapun hasil wawancara yang di dapatkan peneliti terkait tentang pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di kawasan Adat Kajang Ammatoa, sebagai berikut:
“pelanggaran-pelanggaran yang pernah saya saksikan di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa yaitu memfitnah seseorang, membuat rumah yang tidak sesuai dengan model adat (tidak mananam langsung tiang ke tanah melainkan menggunakan batu sebagai pengalas tiang), membuat video di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa, dan sengketa tanah.” (wawancara dengan salah satu Guru SMPN 21 Bulukumba Desa Tanah Towa, A, 22/7/2021).
Dari hasil wawancara dengan informan di atas, dijelaskan bahwa ia telah menyaksikan beberapa pelanggaran yang terjadi di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa diantaranya yaitu memfitnah orang lain, membuat rumah yang tidak sesuai dengan model yang telah disepakati sebelumnya, membuat video yang di dalam kawasan adat serta terjadinya sengketa dalam lingkungan masyarakat.
Pendapat dari informan selanjutnya sebagai berikut:
“ada banyak hal pelanggaran-pelanggaran yang biasa terjadi di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa pertama yaitu penghinaan dikenal dengan
54
Tuttu’, kedua Allukalebba (mengubah keputusan) katakanlah contoh sesuatu yang sudah diputuskan oleh ketua adat melalui musyawarah dan kemudian hari ada yang mengubah itu keputusan maka itu akan dikenakan sanksi berupa pokok babbala (pelanggaran berat).” (wawancara yang dilakukan oleh Sekertaris POKDARWIS ADAT AMMATOA KAJANG dan Guru SD 351 Kawasan adat Kajang, S, 25/7/2021).
Terdapat juga pelanggaran lain yang biasa terjadi di dalam masyarakat adat Kajang Ammatoa seperti penginaan (Tuttu’) dan Allukalebba (mengubah keputusan), yang mana orang yang mengubah keputusan yang telah di tentukan oleh Ammatoa selaku ketua adat melalui musyawarah maka orang tersebut akan diberi sanksi poko’ ba’bala.
Hasil wawancara dari informan selanjutnya sebagai berikut:
“menurut saya di manapun itu pelanggaran pasti bisa saja terjadi begitupun di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa walaupun ada hukum adat yang mengikat mereka tetapi masih ada saja individu yang melakukan hal-hal yang meyimpang seperti penghinaan, dan memfitnah” (wawancara dengan Ketua POKDARWIS Adat Ammatoa Kajang, R, 16/7/21).
Walaupun masyarakat adat Kajang Ammatoa mempunyai hukum adat yang mengikatnya tetapi pelanggaran masih bisa terjadi didalam kawasan tersebut.
Peneliti dapat menyimpulkan bahwa apapun yang dilakukan oleh masyarakat adat Kajang Ammatoa pasti berpatokan pada Pasang begitu juga dengan hukum adat. Walaupun demikian masih ada beberapa orang yang melakukan pelanggaran demi kepentingan individu.
c. Peranan Hukum Negara
Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa dapat diselesaikan melalui dua cara yaitu melalui hukum adat dan
55
hukum negara karena ada pelanggaran-pelanggaran yang tidak dapat diselesaikan melalui hukum negara, tetapi apabila ada kasus yang tidak bisa diselesaikan melalui hukum adat maka dapat diselesaikan melalui hukum negara.
Adapun hasil wawancara yang dilakukan peneliti mengenai peranan hukum negara dalam proses penyelesaian kasus yang terjadi di dalam kawasan adat kajang ammatoa kecamatan kajang, kabupaten bulukumba.
“terkait dengan hukum, di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa ada dua hukum yang berlaku yaitu hukum adat dan hukum negara (nasional) seperti yang dijalankan oleh penegak hukum jadi memang ada pembagian dari proses itu ada pasang yang mengatakan bahwa (Appa’solo ri adaia, appa’solo ri karaengia) yang Appa’solo ri adaia ini adalah itu yang harus diselesaikan oleh pemangku adat contohnya pelanggaran-pelanggaran hutan dan Appa’solo ri karaengia maka inilah yang bisa diselesaikan oleh hukum negara contohnya pencurian, penghinaan dan lain-lain diluar dari pelanggaran-pelanggaran hutan.” (wawancara yang dilakukan dengan Kepala Desa Tanah Towa, S, 17/7/2021).
Di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa terdapat dua hukum yaitu hukum adat dan hukum negara yang mempunyai tugas dan peranan masing- masing yang mana pelanggaran hutan seperti penebangan pohon, mengambil udang, membakar lebah dan mengambil rotan diselesaikan dengan cara hukum adat dan pelanggaran lainnya seperti sengketa tanah, pencurian, penghinaan dan lain-lain dapat diselesaikan melalui hukum negara dan hukum adat.
Pendapat informan selanjutnya sebagai berikut:
“di kawasan adat Kajang Ammatoa itukan memang ada dua hukum yaitu hukum adat dan hukum negara. Jadi, di kawasan adat Kajang Ammatoa itu contohnya terjadi pelanggaran itu bisa di tindak lanjuti melalui hukum adat dan hukum negara tapi memang sudah ada kesepakatan kalau misal masyarakat adat Kajang Ammatoa punya masalah lantas sudah diselesaikan
56
melalui hukum adat maka itu tidak bisa lagi diganggu gugat oleh hukum negara dan begitupun sebaliknya. Adat, kepolisian dan pemerintah memang selalu sejalan.” (wawancara dengan Ketua PA PHKom Kajang, N, 25/7/2021).
Di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa terdapat dua hukum yang berlaku yaitu hukum adat dan hukum negara yang sudah mempunyai kesepakatan apabila salah satu dari kedua hukum ini sudah mempunyai keputusan terhadap pelanggaran yang terjadi di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa maka hukum yang satunya tidak boleh merubah keputusan tersebut begitupun sebaliknya.
Pendapat lainnya sebagai berikut:
“jadi kalau kepolisian di sini itu nanti di tahap ke empat baru berfungsi karena ketika ada pelanggaran maka dibawa dulu ketingkat dusun dan apabila tidak terselesaikan maka dilanjutkan ke tingkat kepala desa dan apabila masih tidak bisa diselesaikan maka dilanjutkan ke hukum adat tetapi jika hasil keputusan oleh ketua adat tidak bisa diterima oleh kedua pihak maka diserahkan ke kepolisian.” (wawancara dengan Ketua POKDARWIS ADAT AMMATOA KAJANG, R, 16/7/2021).
Jadi apabila menyangkut dengan hukum negara maka jika terjadi suatu pelanggaran di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa akan melalu berbagai tahapan yaitu pelanggaran akan di bawa ketingkat dusun apabila tidak dapat terselesaikan maka akan dilanjutkan ke tahapan selanjutnya yaitu desa, hukum adat dan hukum negara (kepolisian).
Kesimpulannya yaitu di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa terdapat dua hukum yang berlaku yaitu hukum adat dan hukum negara yang mana kedua hukum ini akan terus saling beriringan atau sejalan artinya apabila terjadi pelanggaran dan sudah diselesaikan melalui hukum adat maka hukum negara akan setuju begitupun sebaliknya.
57
2. Peranan Ammatoa Sebagai Pemimpin Adat Dalam Menyelesaikan Kasus Masyarakat Adat Kajang Ammatoa Di Kabupaten Bulukumba
Ammatoa selaku Ketua Adat memang mempunyai peran penting bagi masyarakat adat Kajang Ammatoa. Demi terciptanya kehidupan yang sejahtera Ammatoa selaku Ketua Adat harus pandai-pandai dalam mengambil keputusan yang menurutnya sudah tepat dan dapat diterima bagi masyarakat adat Kajang Ammatoa.
Terkait dengan hukum adat peranan Ammatoa selaku ketua adat juga sangat penting yang mana sebagai ketua adat harus bersifat objektif dan tegas dalam mengambil keputusan karena kedudukan sebagai ketua adat merupakan kedudukan tertinggi didalam kawasan adat Kajang Ammatoa.
(D.3 Observasi 27/07/2021).
Dari data observasi yang dilakukan dapat bahwa peranan Ammatoa sangat penting dalam pengambilan keputusan oleh sebab itu tindakan apa yang diambil oleh Ammatoa selaku ketua adat terhadap pelanggaran yang terjadi di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa.
Pendapat informan sebagai berikut:
“menurut pendapat saya tindakan yang dilakukan oleh Ammatoa yaitu memanggil orang yang melalukan pelanggaran, saksi-saksi dan pemangku adat, kemudian pelaku pelanggaran akan disidang untuk memutuskan apakah pelaku memang bersalah atau tidak, apabila pelaku terbukti bersalah maka Ammatoa beserta pemangku adat akan memutuskan sanksi yang akan jatuhkan kepada pelaku pelanggaran. Namun apabila terjadi pelanggaran lantas tidak ada yang tau siapa pelakunya maka tindakan yang diambil oleh Ammatoa yaitu mengumpulkan semua masyarakat beserta pemangku adat kemudian melakukan ritual Tunu Panroli (pembakaran linggis) dan apabila pelakunya masih tidak ditemukan maka dilakukan ritual Tunu Passau (pembakaran kemenyan).”(wawancara dengan Sekertaris POKDARWIS ADAT AMMATOA KAJANG, S, 25/7/2021).
Apabila terjadi pelanggaran di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa maka tindakan yang dilakukan oleh Ammatoa selaku Ketua Adat yaitu
58
memangil pelaku pelanggaran, saksi-saksi dan pemangku adat kemudian pelaku pelanggaran akan disidang dan apabila pelaku pelanggaran dianggap bersalah maka Ammatoa beserta pemangku adatnya akan memusyawarahkan untuk memutuskan sanksi yang akan diberikan kepada pelaku pelanggaran.
Namun apabila terjadi pelanggaran lantas tidak ada seorangpun yang tau siapa pelakunya maka tindakan yang dilakukan oleh Ammatoa yaitu melakuka ritual Tunu Panroli (pembakaran linggis) yaitu linggis akan dibakar sampai berwarna merah menyala kemudian masyarakat akan maju satu persatu untuk memengan linggis apabila bukan kita pelakunya maka kita tidak akan merasa panas apabila menyentuh linggis itu begitupun sebaliknya apabila kita pelakunya maka kita maka tangan kita akan terbakar. Selanjutnya apabila ritual Tunu Panroli (pembakan linggis) telah dilakukan lantas pelakunya masih tidak ditemukan maka Ammatoa akan melakukan ritual Tunu Passau (pembakan kemenyan) yang mana efek dilakukannya Tunu Passau (pembakan kemenyan) ini adalah pelaku akan sakit, kecelakaan atau mati.
Pendapat informan selanjutnya sebagai berikut:
“tindakan yang dilakukan Ammatoa selaku Ketua Adat yaitu tegas dalam artian orang yang melanggar di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa itu tidak memandaang bulu baik keluarga ataupun jadi tidak ada tawar menawar walaupun anaknya atau keluarganya yang melakukan pelanggaran pasti akan diberi sanksi. Apabila keluarganya yang melakukan pelanggaran contohnya saya selaku putrinya maka saya akan dihukum dua kali lipat.”
(wawancara dengan Ketua POKDARWIS ADAT AMMATOA KAJANG, R, 16/7/2021).
59
Ammatoa selaku Ketua Adat bersifat tegas kepada masyarakat adat Kajang Ammatoa dalam artian beliau tidak akan membeda-bedakan masyarakatnya baik itu jika yang melakukan pelanggaran adalah keluarganya maka akan dihukum dua kali lipat dari biasanya.
Adapun pendapat dari informan selanjutnya yaitu:
“siapapun yang melakukan pelanggaran pasti akan disanksi ketua adat tidak akan pilih kasih siapapun itu pasti akan tetap dipanggil dan di proses sesuai dengan aturan-aturan adat yang berlaku di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa.” (wawancara dengan Guru SMPN 21 Bulukumba, Desa Tana Toa, B, 21/7/2021).
Pendapat dari salah satu Guru SMPN 21 Bulukumba diatas tidak jauh berbeda dengan pendapat sebelumya yaitu Ammatoa selaku Ketua Adat sangat tegas dan tidakan akan mentolerir pelaku pelanggaran yang terjadi di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa walaupun itu keluarga.
Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa tidakan yang diambil oleh Ammatoa selaku Ketua Adat bersifat tegas dan tidak pilih kasih walaupun itu keluarga pasti akan diberi sanksi yang setimpal dengan perbuatannya melalui musyawarah dengan pemangku adat dan apabila terjadi pelanggaran namun pelakunya masih tidak diketahui maka akan dilakukan ritual Tunu Panroli (pembakan linggis) dan Tunu Passau (pembakaran kemenyan).
a. Struktur Pemerintahan
Di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa terkait dengan struktur kepemerintahannya sama halnya dengan yang ada di Indonesia seperti presiden yang mempunyai menteri-menteri begitupun juga dengan struktur
60
kepeminpinan yang ada di kawasan adat Kajang Ammatoa mempunyai Ammatoa sebagai Ketua Adat dan dan pemangku adat sebagai menteri yang mempunyai tugas berbeda-beda.
Adapun hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan informan sebagai berikut:
“jadi ada banyak pemangku adat yang dipimping oleh Ammatoa, pertama adalah La’biria, Galla Lompo dan masih banyak lagi yang berjumlah 26 pemangku adat yang mana jika ada kasus-kasus yang berujung pada pelanggaran maka dimusyawarahkan bersama dengan pemangku adat dan hasil musyawarah itulah lahir sebuah sanksi atau mungkin masih bisa diperingati.” (wawancara dengan Sekertaris POKDARWIS ADAT AMMATOA KAJANG, S, 25/7/2021).
Dari hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa mempunyai pemangku adat berjumlah 26 yang bertugas untuk mengambil keputusan bersama dengan ketua adat melalui musyawarah.
Selain itu hasil kutipan wawancara selanjutnya yaitu:
“jadi di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa itu keputusan tertinggi diputuskan oleh ketua adat tapi dibantu dengan beberapa pemangku adatnya (Galla) atau juga biasa disebut menteri. Menterinya berjumlah 26, keputusan ketua adat tidak langsung diputuskan secara sepihak melainkan melalu musyawarah (A’borong), jadi apabila terjadi pelanggaran maka pemangku adatnya di hadirkan untuk memusyawarahkan keputusan terkait dengan pelanggaran tersebut.” (wawancara dengan Guru SMPN 21 Bulukumba, Desa Tanah Towa, AM,22/7/2021).
Di dalam kawasan adat Kajang Ammatoa semua keputusan yang diambil melalui proses musyawarah yang dilakukan oleh ketua adat beserta pemangku adatnya atau menteri-menterinya yang bertujuan untuk