Hasil temuan fakta mencakup kondisi kinerja guru dalam pelak- sanaan pembelajaran menunjukkan hasil yang masih rendah. Pada aktivitas penda huluan, terdapat 80,58% responden belum memenuhi standar kinerja dan sebanyak 19,42% responden yang sudah me- menuhi standar. Pada aktivitas inti (eksplorasi), terdapat 86,15%
responden belum memenuhi standar kinerja dan sebanyak 13,84%
responden sudah memenuhi standar. Pada aktivitas inti (elaborasi), terdapat 87,25% responden belum memenuhi standar dan sebanyak 12,75% sudah memenuhi. Adapun pada aktivitas penutup, sebanyak 84,71% responden belum memenuhi standar dan sebanyak 15,29%
responden yang sudah memenuhi standar kinerja.
Di samping pengamatan terhadap kinerja dalam aktivitas pendahu- luan, eksplorasi, elaborasi, dan aktivitas penutup, juga terdapat ca- tatan penga mat yang tertuang dalam kolom komentar. Komentar ini disediakan jika terdapat catatan yang perlu, baik menyangkut aktivi- tas responden yang tidak terdapat dalam tiap-tiap item maupun yang merupakan kesimpulan penga mat terhadap kinerja dalam aktivitas pembelajaran.
Apabila persentase aktivitas pembelajaran, sebagaimana diilus- trasikan pada gambar Diagram Pie di halaman berikut ini, dibagi berdasarkan dua pendekat an dalam pembelajaran, yakni pendekatan yang berbasis pada guru (teacher-centered approach) atau disingkat PBG dan pendekatan yang berpusat pada peserta didik (student-
41 R. Santosa Murwani, Statistika Terapan (Teknik Analisis Data), (Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, 2008), h.7.
PRENADAMEDIA GROUP
PRENADAMEDIA GROUP
centered approach) atau disingkat PBS, maka persentasenya menjadi 22 responden (88,62%) yang menerapkan pendekat an yang berpusat pada guru dan hanya 4 responden (16,67%) menerapkan pendekatan yang berpusat pada peserta didik.
Mengenai pandangan guru terhadap penerapan aktivitas pembe- lajaran menunjukkan, bahwa aktivitas pembelajar an dianggap sebagai komponen penting dalam pembelajaran karena dapat meningkatkan pemahaman peserta didik, menarik minat, membuat peserta didik menjadi lebih aktif, dan meningkatkan motivasi. Adapun bentuk akti- vitas yang dilakukan antara lain: (1) aktivitas di dalam ruangan (se- perti menggambar, menyanyi, meniru suara binatang, menulis, me- warnai, menghitung dan membilang, mengerjakan latihan soal [kelas rendah], membuat denah); dan (2) aktivitas di luar ruang kelas (se- perti mengidentifikasi hewan dan tumbuh-tumbuhan, membuat sil- silah keluarga, membuat dokumen, mengidentifikasi tugas orangtua dan saudara, membuat dialog, mengarang, bercerita, membuat lapo- ran tentang peristiwa alam, pertanyaan Socrates). Sikap guru dalam memandang keragaman peserta didik terdiri atas pemberian per- lakuan yang sama, melakukan pengelompokan, dan memberikan me- tode yang bervariasi. Kesulitan yang dihadapi guru dalam pembelajar- an mencakup: (1) kesulitan internal (seperti aktivitas pembelajaran, menggunakan metode, tidak paham prosedur, teori dan konsep, dan minimnya pengetahuan tentang desain pembelajaran, mengembang- kan bahan ajar, media pembelajaran); (2) kesulitan eksternal (seperti rasio guru dan murid 1: 40 atau lebih, penyediaan sumber, dan tidak adanya pelatih yang mengerti betul tentang masalah di lapangan).
Aktivitas Pembelajaran
PRENADAMEDIA GROUP
PRENADAMEDIA GROUP
1. Siklus Pertama a) Pelaksanaan Pelatihan
Dari lima belas komponen yang nilai dalam pengamatan res- ponden kepada instruktur terdapat beberapa catatan yang perlu di- perbaiki pada setiap pertemuan. Pada pertemuan pertama terdapat tiga aktivitas yang masih dianggap belum maksimal, yaitu: (a) keterli- batan peserta pelatihan secara aktif; (b) interaksi multi-arah; dan (c) variasi penataan ruang. Aktivitas yang diang gap maksimal pada perte- muan pertama terdapat dua aktivitas dapat diatasi, yakni keterlibatan peserta pelatihan secara aktif dan variasi penataan ruang. Adapun interaksi multi-arah telah dapat minimalisir jumlah responden yang mengatakan belum maksimal atau memuaskan. Namun terdapat ak- tivitas baru yang dijadikan sorotan, yakni melayani gaya belajar yang berbeda-beda. Pada pertemuan ketiga, aktivitas interaksi multi-arah telah diminimalisir hingga sampai pada satu responden saja dan ak- tivitas penga turan peran di dalam kelompok masih belum memuas- kan. Walaupun begitu, pelaksanaan pelatihan telah dipandang telah berhasil karena jumlah responden yang mengatakan belum memuas- kan untuk dua aktivitas ini relatif sangat sedikit, yakni sebanyak satu responden untuk aktivitas yang pertama dan dua responden untuk aktivitas kedua.
b) Hasil Pre-Test and Posttest
Berdasarkan hasil pre-test dan posttest tentang penguasaan ma- teri pelatihan pembelajaran berbasis kecerdasan jamak, maka terjadi peningkatan pemahaman seperti ditunjukkan dalam gambar berikut:
PRENADAMEDIA GROUP
PRENADAMEDIA GROUP
Gambar tersebut menunjukkan bahwa tingkat terendah yang di- capai oleh responden sebelum dilaksanakan pelatihan yakni tingkat gagal, sedangkan setelah dilaksanakan pelatih an yakni tingkat cukup yang hanya dicapai oleh 1 (3,85%) responden. Selain itu, tingkat kurang merupakan pencapaian skor mayorits responden sebelum dilaksanakan pelatihan, sedangkan tingkat baik merupakan skor ter- banyak setelah dilaksanakan pelatihan. Kemudian pencapaian skor yang paling tinggi yang diperoleh responden sebelum pelaksanaan pelatihan merupakan tingkat kurang (atau tingkat terendah setelah pelatihan), sedangkan sesudah pelaksanaan pelatihan pencapaian skor ter tinggi yaitu pada tingkat baik sekali.
c) Kontribusi Pelatihan terhadap Peningkatan Ki nerja Guru
Jika dibandingkan dengan skor awal atau sebelum dilak sanakan pelatihan tentang pembelajaran berbasis kecerdasan jamak, maka diperoleh kenaikan sebesar 54,61% untuk aktivitas pendahuluan, 19,22% untuk aktivitas inti eksplorasi, 21,87% untuk kegiatan inti elaborasi, dan sebanyak 34,72% untuk aktivitas penutup. Untuk me- lihat perbandingan antara kenaikan kinerja sebelum dan sesudah diberikan pelatihan dapat digambarkan dalam persentase sebagai berikut:
Gambar tersebut memperlihatkan bahwa implementasi pela tihan tentang pembelajaran berbasis kecerdasan jamak telah bisa mening- katkan pemahaman guru tentang proses pembelajaran khusus nya aktivitas pembelajaran, dan memberikan dampak pada pening katan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran, di mana kontri busi
PRENADAMEDIA GROUP
PRENADAMEDIA GROUP
pelatihan telah menghasilkan kenaikan rata-rata sebesar 32,61%
responden berada pada tingkat memenuhi standar kinerja. Namun begitu, kenaikan tersebut belum sesuai dengan standar peningkatan kinerja seperti yang diinginkan dalam penelitian ini.
2. Siklus Kedua
a) Desain Aktivitas Pembelajaran Berbasis Kecer dasan Jamak dan Workshop
Berdasarkan analisis hasil wawancara dengan responden tentang aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan sekolah dasar, dan komponen yang diintegrasikan dalam aktivitas ini menun jukkan bahwa aktivitas pembelajaran berbasis kecerdasan jamak yang sesuai mencakup:
1) Kecerdasan verbal-linguistik, yaitu meminta sumbang saran, mengada kan storytelling (bercerita atau mendo ngeng), menulis jurnal, dan mem baca biografi (sebaiknya tokoh lokal).
2) Kecerdasan logis-matematis yaitu menerapkan model berpikir kritis, bereksperimen, mengajukan pertanyaan model Socrates, menerapkan problem solving (penyelesai an masalah).
3) Kecerdasan visual-spasial, yaitu membuat potongan kertas ber- warna-warni, mewarnai gambar, membuat sketsa.
4) Kecerdasan jasmaniah-kinestetis, yaitu studi lapangan, bermain peran, berpantomim, dan menyelidiki bagian-bagian benda, menggunakan bagian-bagian tubuh dalam menulis untuk kelas- kelas rendah.
5) Kecerdasan berirama-musik, yaitu diskografi, musik instrumen, serta bunyi dan orang, bentuk bunyi untuk kelas-kelas rendah.
6) Kecerdasan interpersonal, yaitu melakukan aktivitas jigsaw, mengajar teman sebaya, dan membuat teamwork (kerja tim).
7) Kecerdasan intrapersonal, seperti melakukan tugas mandiri, me- lakukan refleksi, menetapkan tujuan, menunjukkan bentuk aktivi- tas, mengung kapkan perasaan, membuat identifikasi.
8) Kecerdasan naturalistik, seperti belajar melalui alam, jendela be- lajar, menggunakan tanaman sebagai alat dan media, memelihara binatang dalam ruang kelas, meniru bunyi-bunyi binatang.
9) Kecerdasan eksistensial-spiritual, seperti memberi respons pada suatu peristiwa dan membuat panggung beramal.
PRENADAMEDIA GROUP
PRENADAMEDIA GROUP
Adapun komponen yang perlu diintegrasikan dalam men desain model aktivitas pembelajaran berbasis kecerdasan jamak antara lain:
(1) pengantar; (2) definisi, konsep, atau teori; (3) tujuan; (4) prosedur;
dan (5) alat atau bahan yang dibutuhkan dalam proses pelaksanaan aktivitas. Setelah mendesain aktivitas pembelajaran, kemudian diada- kan penje lasan teknik tentang penerapannya melalui workshop sehari, kemudian menerapkan langsung dalam pelaksanaan pembelajaran.
b) Kontribusi Desain terhadap Peningkatan Ki nerja Guru
Untuk melihat lebih jelas tentang kecenderungan peningkatan ki- nerja pada siklus kedua, perlu dijabarkan secara bersama-sama den- gan kinerja pada pengamatan awal, siklus pertama, dan siklus kedua sebagai berikut:
Dari gambar tersebut menunjukkan, bahwa rata-rata kon tribusi desain model aktivitas pembelajaran berbasis kecerdasan jamak yang diikuti dengan workshop menghasilkan kenaikan rata-rata sebesar 26,55% res ponden berada pada tingkat memenuhi standar kinerja.
Sekalipun demikian, pe ningkatan kinerja responden sampai pada siklus kedua ini belum mencapai 90% responden yang berada pada tingkat memenuhi standar. Oleh karena itu, perlu dilanjutkan dengan tindakan pada siklus berikutnya.
3. Siklus Ketiga
a) Identifikasi Keterampilan dan Kemauan
Sebelum dilakukan pendampingan (mentoring), terlebih dahulu melakukan identifikasi keterampilan dan kemauan yang dimiliki responden dengan maksud untuk menentukan model pendam-