• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI HEDONIK BISKUIT BEKATUL (Rice bran) DENGAN PEWARNA ALAMI SECANG (Caesalpinia sappan L)

67

UJI HEDONIK BISKUIT BEKATUL (Rice bran) DENGAN PEWARNA

68

PENDAHULUAN

Biskuit adalah sejenis makanan yang terbuat dari tepung terigu yang melalui proses pemanasan dan pencetakan. Dalam syarat mutu biskuit, gizi yang terkandung dalam biskuit adalah air maksimal 5%, protein minimal 9%, Karbohidrat minimal 70%, Abu maksimal 1,6%, serat maksimal 0,5 %, Kalori minimal 40 kkl/100 gr, logam berbahaya tidak ada, bau, rasa, warna normal, bahan – bahan biskuit perlu persyaratan tertentu seperti aromannya sedap, mampu menghasilkan tekstur yang baik serta tidak menghasilkan reaksi pencoklatan yang tidak diinginkan (Pancawati, 2006).

Kemajuan teknologi memiliki peran dalam pengembangan biskuit yang bervariasi.

Pengembangan dapat dilakukan dengan menambakan bahan-bahan yang memiliki nilai gizi seperti bekatul. Bekatul atau rice bran banyak mengandung komponen nilai gizi dan nutrisi setelah diolah menjadi bubuk bekatul yang halus dan diproses secara higienis. Bekatul atau rice brand memiliki kandungan seperti karbohidrat, protein, mineral, lemak, vitamin B kompleks (B1, B2, B3, B5, B6 dan B15), inositol, fitat, asamferulat, gamaorizanol, fitosterol, tokorienol, asam amino, asam lemak tak jenuh, dan serat (Jaelani, 2014).

Hasil biskuit yang didapatkan selanjutnya perlu dilakukan uji hedonik. Uji hedonik merupakan uji untuk mengetahui tingkat kesukaan terhadap produk minuman jamu instan yang terdiri dari warna, bau, bentuk, dan rasa (Dewi dkk., 2016).

METODE

Penelitian dilakukan di Laboratorium Jurusan Jamu Poltekkes Kemenkes Surakarta pada bulan April - Juni 2021. Bahan baku yang digunakan adalah tepung bekatul, telur, margarine, gula halus, tepung terigu, vanili, soda kue, dan ekstrak secang. Peralatan yang digunakan adalah oven, loyang, cetakan, baskom, spatula, timbangan analitik, dan saringan.

Pembuatan ekstrak secang dilakukan dengan metode rebusan. Proses pembuatan ekstrak secang di awali dengan menimbang 250 gram kayu secang dan dimasukkan dalam 150ml air yang sudah mendidih. Kemudian diaduk hingga air berubah warna menjadi merah. Pembuatan biskuit bekatul dengan pewarna alami secang yaitu telur, gula, margarine, soda kue dan vanili sesuai dengan yang telah diformulaskan kemudian dihomogenkan menggunakan mixer selama 3 menit. Setelah homogen, ditambahkan tepung bekatul, tepung terigu dan ekstrak secang dengan formulas yang telah diformulasikan diaduk hingga tercampur seluruhnya.

Kemudian dicetak dan dipanggang ke dalam oven pada suhu 160oC selama 40 menit. Biskuit yang dihasilkan dilakukan uji tingkat kesukaan meliputi warna, bau, bentuk, dan rasa.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil uji hedonik biskuit bekatul dengan pewarna alami secang terdapat pada tabel 1 formula 1, tabel 2 formula 2, dan tabel 3 formula 3.

Tabel 1. Hasil Uji Hedonik Biskuit Bekatul dengan Pewarna Alami Secang Formula 1 No. Indikator Sangat tidak suka

(%)

Kurang suka (%)

Suka (%)

Sangat suka (%)

Total (%)

1. Warna 6,67 20 73,33 0 100

2. Rasa 0 53,33 46,67 0 100

3. Bau 6,67 26,67 46,67 20 100

4. Bentuk 0 20 53,33 26,67 100

69

Tabel 2. Hasil Uji Hedonik Biskuit Bekatul dengan Pewarna Alami Secang Formula 2 No. Indikator Sangat tidak suka

(%)

Kurang suka (%)

Suka (%)

Sangat suka (%)

Total (%)

1. Warna 6,67 33,33 60 0 100

2. Rasa 0 53,33 46,67 0 100

3. Bau 13,33 26,67 33,33 26,67 100

4. Bentuk 0 20 33,33 46,67 100

Tabel 3. Hasil Uji Hedonik Biskuit Bekatul dengan Pewarna Alami Secang Formula 3 No. Indikator Sangat tidak suka

(%)

Kurang suka (%)

Suka (%)

Sangat suka (%)

Total (%)

1. Warna 6,67 33,33 53,33 6,67 100

2. Rasa 0 46,67 40 13,33 100

3. Bau 6,67 33,33 33,33 26,67 100

4. Bentuk 0 13,33 53,33 33,33 100

Uji hedonik merupakan sebuah pengujian dalam analisa sensori organoleptik yang digunakan untuk mengetahui besarnya perbedaan kualitas diantara beberapa produk sejenis dengan memberikan penilaian atau skor terhadap sifat tertentu dari suatu produk dan untuk mengetahui tingkat kesukaan dari suatu produk. Tingkat kesukaan ini disebut skala hedonik, misalnya sangat suka, suka, agak suka, agak tidak suka, tidak suka, sangat tidak suka (Putri dkk., 2018). Uji hedonik dilakukan terhadap tampilan fisik biskuit bekatul meliputi warna, bau, rasa, bentuk kepada responden tidak terlatih yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan berusia 17 tahun berjumlah 15 panelis di Dukuh Salakan RT 10 / RW 01, Salakan, Teras, Boyolali. Panelis tidak terlatih terdiri dari sekelompok yang berkemampuan rata-rata dan tidak terlatih secara formal, tetapi mempunyai kemampuan untuk membedakan dan mengkomunikasikan reaksi penilaian hedonik yang diujikan (Ayustaningwarno, 2014).

Hasil uji hedonik pada biskuit bekatul dengan pewarna alami secang, menunjukkan bahwa panelis lebih menyukai warna biskuit formula 1 tanpa penambahan pewarna secang dengan nilai 73,33% dibandingkan dengan biskuit formula 2 yang diberi tambahan pewarna secang sebanyak 15gram dengan nilai 60% dan formula 3 yang diberi tambahan pewarna secang sebanyak 20gram dengan nilai 53,33% pada skala suka. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Azliani dkk. (2018) yang menyatakan bahwa penambahan 4% ekstrak secang pada kue cubit paling disukai oleh panelis dibandingkan dengan penambahan ekstrak secang 2%

dan 3%. Semakin tinggi penambahan secang maka semakin merah warna yang dihasilkan.

Biskuit formula 1 menghasilkan warna coklat kekuningan, formula 2 menghasilkan warna coklat, dan formula 3 menghasilkan warna coklat kemerahan. Warna coklat pada biskuit dipengaruhi oleh penambahan tepung bekatul, semakin banyak tepung bekatul yang ditambahkan maka warna biskuit semakin gelap (Damayanti dkk., 2020). Penambahan pewarna alami secang membantu memperbaiki warna pada biskuit, akan tetapi dalam penelitian pewarna secang yang digunakan jumlahnya sedikit sehingga kurang dapat memperbaiki warna biskuit pada formula 2 dan formula 3.

Hasil uji hedonik rasa menunjukkan bahwa panelis lebih menyukai biskuit formula 1 dan formula 2 yaitu sebanyak 46,67% dibandingkan dengan rasa biskuit formula 3 sebanyak 40% pada skala suka. Perbedaan antara rasa biskuit dengan penambahan 45gram dan 50gram tepung bekatul memiliki rasa yang sama, sedangkan penambahan 55gram tepung bekatul biskuit terasa lebih pahit. Hal ini sejalan dengan penilitian Fitriani dkk. (2019) yang

70

menyatakan bahwa semakin besar penambahan bekatul, rasa manisnya semakin berkurang dan rasa pahit bekatul mulai terasa. Kandungan bekatul yang tinggi pada formula 3 menyebabkan biskuit tidak disukai oleh panelis karena rasa yang dihasilkan lebih pahit dibandingkan dengan biskuit formula 1 dan formula 2.

Uji hedonik bau menunjukkan bahwa panelis lebih menyukai bau biskuit pada formula 1 sebanyak 46,67% dibandingkan dengan biskuit formula 2 dan formulasi 3 sebanyak 33,33%

pada skala suka. Hal ini sejalan dengan penelitian Trihaditia dkk. (2018) yang menyatakan bahwa panelis tidak terlalu menyukai bau dari bekatul karena rata-rata panelis belum pernah mencoba olahan dari bekatul. Bekatul memiliki bau khas yang tengik sehingga semakin banyak kandungan bekatul semakin kuat bau tengik pada biskuit (Trihaditia dkk., 2020).

Kandungan bekatul pada biskuit formula 2 dan formula 3 lebih tinggi dibandingkan dengan formula 1, hal ini menyebabkan bau khas tengik bekatul yang dihasilkan lebih kuat, sehingga panelis lebih menyukai bau biskuit formula 1.

Uji hedonik bentuk menunjukkan bahwa panelis lebih menyukai bentuk biskuit formula 1 dan formulasi 3 sebanyak 53,33% dibandingkan dengan biskuit formulasi 2 sebanyak 33% pada skala suka. Biskuit hendaknya terdapat variasi bentuk agar mengundang selera panelis, untuk menghasilkan bentuk biskuit yang bervariasi dan beragam dapat menggunakan aneka cetakan biskuit (Fajiarningsih, 2013). Biskuit formula 1 berbentuk daun dan biskuit formula 3 bebentuk belah ketupat lebih disukai oleh panelis dibandingkan biskuit formula 2 yang berbentuk love. Penilaian terhadap bentuk dianggap sebagai penilaian yang subjektif sebab merupakan respon setiap panelis yang memiliki persepsi yang sama terhadap objek yang dipilih (Hermadayanti, 2017).

KESIMPULAN

Hasil uji hedonik biskuit bekatul dengan pewarna alami secang meliputi hasil uji hedonik warna menunjukkan bahwa panelis lebih menyukai biskuit formula 1 yaitu sebanyak 73,33% pada skala suka. Uji hedonik rasa menunjukkan bahwa panelis lebih menyukai biskuit formula 1 dan formula 2 yaitu sebanyak 46,67% pada skala suka. Uji hedonik rasa menunjukkan bahwa panelis lebih menyukai biskuit formula 1 yaitu sebanyak 46,67% pada skala suka. Uji hedonik bentuk menunjukkan bahwa panelis lebih menyukai bentuk biskuit formula 1 dan formula 3 sebanyak 53,33% pada skala suka.

DAFTAR PUSTAKA

Azliani, N. and Nurhayati, I. 2018. Pengaruh Penambahan Level Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) sebagai Pewarna Alami terhadap Mutu Organoleptik Kue Cubit Mocaf. Jurnal Dunia Gizi, 1(1). 45.

Ayustaningwarno, F. (2014). Teknologi Pangan, Teori Praktis dan Aplikasi. Yogyakarta:

Graha Ilmu.

Damayanti dkk., 2010. Pengaruh Penambahan Tepung Komposit Terigu, Bekatul dan Kacang Merah terhadap Sifat Fisik Cookies. Journal Of Nutrition College. 9(1). 180-186.

Dewi, Indri Kusuma, dan Titik Lestari. 2016. Formulasi dan Uji Hedonik Serbuk Jamu Instan Antioksidan Buah Naga Super Merah (Hylocereus costaricensis) dengan Pemanis Alami Daun Stevia (Stevia rebaudiana bertoni M.). Jurnal Ilmu Kesehtan. 149–156.

Fajiarningsih, H. 2013. Pengaruh Penggunaan Komposit Tepung Kentang (Solanum tuberosum L) terhadap Kualitas Cookies. Food Science and Culinary Education Journal.

Fitriani, N. dkk., 2019. Mutu Organoleptik Cookies dengan Penambahan. Media Kesehatan gizi. 26.

Hermadayanti, Yudithia Tri. 2017. Kajian Perbandingan Tepung Kacang Koro Pedang

71

(Canavalia ensiformis) dengan Tepung Terigu dan Jenis Gula pada Karakteristik Cookies Green Tea. [SKRIPSI]. Bandung: Fakultas Teknik Universitas Pasundan.

Jaelani, Ahmad. 2014. Donat Bekatul (Dotul) Sebagai Makanan Alternatif Yang Enak, Murah, Bergizi, dan Ekonomis. Widyaswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya. 24.

Pancawati, Suratmi. 2006. Pengaruh Bahan dan Konsentrasi Limbah Padat Sari Apel terhadap Kualitas Biskuit. [SKRIPSI]. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. 1.

Putri, R. M. S. dan Hermiza M. 2018. Uji Hedonik Biskuit Cangkang Kerang Simping (Placuna placenta) dari Perairan Indragiri Hilir. Jurnal Teknologi Pertanian. 7(2). 19–

29.

Trihaditia, Riza dkk., 2018. Penentuan Formulasi Optimum Pembuatan Penambahan Tepung Terigu Menggunakan Metode RSM (Response Surface Method). Agroscien. 8(2). pp.

212–230.

72

GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT OFF LABEL PADA PASIEN RAWAT JALAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT

THE USE OF OFF LABEL MEDICINES IN OUTCOME PATIENTS IN A HOSPITAL PHARMACEUTICAL INSTALLATION

Rosaria Ika Pratiwi 1)*, Adila Prabasiwi 2), Sari Prabandari 3)

1 Prodi Farmasi Politeknik Harapan Bersama, Jl. Mataram No. 9 Kota Tegal, Indonesia

2,3Prodi Farmasi Politeknik Harapan Bersama, Jl. Mataram No. 9 Kota Tegal, Indonesia

*e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Saat ini penggunaan obat secara off label sudah banyak terjadi di seluruh dunia.

Penelitian di Amerika membuktikan bahwa 21% peresepan dari 725 juta peresepan adalah off label. Penggunaan off label ini 73% di antaranya tidak ada data ilmiah, hanya 27% yang memiliki data ilmiah kuat. Obat off label merupakan obat yang diresepkan dan dijual di pasaran tetapi digunakan tidak sesuai dengan indikasi dan belum mendapatkan persetujuan dari FDA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penggunaan obat secara off label pada pasien rawat jalan ditinjau dari off label indikasi, off label dosis, dan off label cara pemakaian di instalasi farmasi Rumah Sakit Mitra Siaga Tegal. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, menggambarkan penggunaan obat secara off label pada pasien rawat jalan ditinjau dari off label indikasi, off label dosis, dan off label cara pemakaian di instalasi farmasi Rumah Sakit Mitra Siaga Tegal. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Subyek penelitian ini meliputi dua dokter spesialis dan Kepala instalasi farmasi Rumah Sakit Mitra Siaga Tegal. Analisis data menggunakan buku DIH (Drug Information Handbook) dan jurnal terkait. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat penggunaan obat secara off label pada pasien rawat jalan di instalasi farmasi Rumah Sakit Mitra Siaga Tegal dengan kategori off label indikasi antara lain : metformin, siproheptadin, selekoksib - rofekoksib, aspirin, simvastatin, dan alprazolam, off label dosis adalah kodein, dan off label cara pemakaian adalah misoprostol.

Kata kunci: Obat Off Label, Pasien rawat jalan, Rumah Sakit Mitra Siaga Tegal

ABSTRACT

Currently, the use of off-label drugs has occurred throughout the world. Research in America proves that 21% of prescriptions from 725 million prescriptions are off-label. The use of this off-label is 73% of which there is no scientific data, only 27% have strong scientific data. Off-label drugs are drugs that are prescribed and sold in the market but are used not according to indications and have not received approval from the FDA. The purpose of this study was to describe the off-label use of drugs in outpatients in terms of off-label indications, off-label dosages, and off-label usage methods in the pharmacy installation of Mitra Siaga Hospital Tegal. This study is a qualitative descriptive study, describing the off- label use of drugs in outpatients in terms of off-label indications, off-label dosages, and off- label usage methods in the pharmacy installation of Mitra Siaga Hospital Tegal. The data needed in this study are primary data and secondary data using data collection techniques

73

through observation, interviews, and documentation studies. The subjects of this study included two specialist doctors and the head of the pharmacy installation at Mitra Siaga Hospital Tegal. Data analysis used the DIH (Drug Information Handbook) book and related journals. Based on the results of the study, there was off label drug use in outpatients at the Mitra Siaga Tegal Hospital pharmacy with off label indication categories including:

metformin, cyproheptadine, selekoxib - rofecoxib, aspirin, simvastatin, and alprazolam, off label doses were codeine. , and off the label how to use is misoprostol.

Keywords: Off Label Drugs, Outpatients, Mitra Siaga Hospital Tegal

PENDAHULUAN

Obat off label merupakan obat legal yang digunakan dengan indikasi, dosis, dan rute administrasi di luar spesifikasi produk yang telah disetujui (Purwadi & Sinuraya, 2018). Obat off label disebut pula obat di luar indikasi yang tertera dalam label atau berada di luar persetujuan Lembaga izin edar seperti Badan POM dan FDA (Food and Drug Administration). Penyebab penggunaan obat off label ini adalah kurangnya respon klinis pada pengobatan sebelumnya, kontraindikasi dengan obat alternatif lain seperti tersedianya obat yang disetujui sesuai indikasi, serta pasien dengan pengobatan alternatif karena alasan klinis (Ningrum et al., 2020).

Penggunaan obat off label tersebar luas dan terjadi di bangsal medis maupun bedah, serta pada anak-anak yang sakit kritis (Tefera et al., 2017). Penggunaan obat off label pada anak- anak tampaknya menjadi kebutuhan agar dapat memberikan perawatan yang memadai pada pasien. Pada tahun 2007 peraturan pediatri mulai berlaku di Eropa dengan tujuan meningkatkan kesehatan anak-anak dengan memberikan fasilitas pengembangan dan ketersediaan obat-obatan untuk anak berusia 0-17 tahun untuk memastikan bahwa obat-obat yang digunakan pada anak memiliki kualitas tinggi dan ketersediaan informasi tentang penggunaan obat pada anak-anak (Corny et al., 2016).

Berdasarkan studi yang dilakukan di bangsal rawat inap rumah sakit pendidikan di Australia, terdapat 32% penggunaan obat off label dari 887 obat yang diresepkan, dan terdapat 57% dari 300 pasien rawat inap pediatrik menerima setidaknya satu obat off label (Ballard et al., 2013). Penggunaan obat off label terjadi pula pada pasien anak rawat jalan di rumah sakit pendidikan India, dari total 405 obat yang diresepkan 7,9% digunakan secara off label (Bhadiyadara et al., 2015). Rumah sakit anak di Swedia terdapat pula penggunaan obat off label, dari 11.294 resep pasien anak sebanyak 49% resep diberikan obat secara off label (Kimland et al., 2012).

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada anak telah menjadi praktik yang umum dicatat. Penggunaan golongan obat tersebut memerlukan perhatian khusus karena absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat pada anak berbeda dengan orang dewasa, serta tingkat maturasi organ yang berbeda sehingga dapat terjadi perbedaan respon terapeutik dan efek sampingnya. Begitu pula dengan penggunaan obat of -label pada anak terjadi karena tidak lengkapnya data farmakokinetik, farmakodinamik, dan efek samping dari suatu obat karena penelitian klinik pada anak cukup sulit dan tidak sesuai dengan etika dan moral penelitian. Penggunaan obat secara off label harus didasarkan pada pengalaman medisinal yang ada dan bukti bukti ilmiah atau pustaka yang dipublikasikan yang dapat dipercaya (Akbar et al., 2017).

Berdasarkan hasil dari beberapa studi yang dilakukan, prevalensi penggunaan obat off label pada populasi anak berkisar 35%-75%. Obat-obat off label yang sering digunakan pada populasi pediatrik antara lain antibiotik, obat saluran pernapasan, obat kardiovaskuler, obat

74

saluran percernakan, dan antihistamin (Purwadi & Sinuraya, 2018). Penggunaan off label terdapat pula di RSUD Ulin Banjarmasin pada kriteria dosis sebanyak 98,9%, kriteria usia sebanyak 24,8%, kriteria indikasi sebanyak 1,3% dan kriteria rute pemberian tidak ada kasus off label, dan golongan obat dengan tingkat kejadian off label tertinggi di Poliklinik anak yaitu golongan obat batuk dan pilek dengan persentase sebesar 23,7% (Ariati et al., 2015).

Prevalensi penggunaan obat off label pada anak di apotek Kota Yogyakarta sebesar 21% yang diklasifikasikan sebagai off-label usia sejumlah 91 (11,1%) penggunaan dan off-label indikasi sejumlah 7 (0,8%). Jenis obat paling dominan digunakan secara off label antara lain pseudoefedrin sejumlah 47(5,7%), tripolidin 20 (2,4%) dan dekstrometorfan 14 (1,7%) dari total penggunaan obat (Setyaningrum et al., 2017).

Di bangsal anak salah satu rumah sakit umum di Jawa Tengah terdapat penggunaan obat off label dengan proporsi 42 (1,63%) pemberian obat masuk dalam kategori off-label indikasi dan 351 (13,63%) pemberian obat masuk dalam kategori off-label usia. Obat yang paling banyak diresepkan secara off-label adalah salbutamol (3,11%) yang belum atau tidak memiliki evidence, asam valproat (2,14%) yang memiliki high level of evidence untuk tidak digunakan pada bayi dan neonatus, dan ondansetron (1,26%) yang memiliki evidence tingkat high evidence untuk digunakan pada kondisi gastroenteristis, selain karena hal-hal yang tercantum dalam marketing authorization (Cholisoh & Rohmah, 2020). Di Puskesmas Sleman pada pasien anak terdapat penggunaan obat-obat off label sebanyak 62 kasus (20,87%), yang terdiri dari 49 kasus (16,50%) off label cara pemberian, 8 kasus (2,69%) off label indikasi, dan 5 kasus (1,68%) off label usia (Akbar et al., 2017).

Melihat adanya penggunaan obat off label secara global di berbagai negara, diperlukan penelitian tentang penggunaan obat secara off label pada pasien ditinjau dari off label indikasi, off label dosis, dan off label cara pemakaian. Penelitian ini dilakukan di rumah sakit Mitra Siaga Tegal karena berdasarkan data resep pasien rawat jalan tahun 2017 terdapat penggunaan obat off label. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat secara off label pada pasien rawat jalan ditinjau dari off label indikasi, off label dosis, dan off label cara pemakaian di instalasi farmasi Rumah Sakit Mitra Siaga Tegal.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan subyek penelitian Dua dokter spesialis di rumah sakit Mitra Siaga Tegal dan kepala instalasi farmasi rumah sakit Mitra Siaga Tegal. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Data primer didapat dengan wawancara mendalam dengan dokter spesialis dan kepala instalasi farmasi rumah sakit. Data sekunder diambil dari resep pasien rawat jalan di instalasi farmasi rumah sakit pada bulan Oktober – Desember 2017. Analisis data yang digunakan bersifat deskriptif. Data ini dikumpulkan dari berbagai sumber berupa hasil wawancara dan data penggunaan obat secara off label pada resep pasien rawat jalan, kemudian dianalisis menggunakan buku DIH (Drug Information Handbook), EBM (Evidence Based Medicine), Off Label Drug Workshop and Training, jurnal lain yang terkait serta referensi lain yang mendukung.

HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Penggunaan Obat Off Label Indikasi

Obat dikategorikan sebagai off label indikasi apabila obat diberikan untuk indikasi yang lain dari yang tercantum pada label atau leaflet yang mendapat izin edar dan izin penjualan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala instalasi farmasi, terdapat

75

penggunaan obat off label indikasi di Rumah Sakit Mitra Siaga Tegal. Informasi indikasi merupakan hal penting dalam pengobatan guna menjamin penggunaan obat yang tepat.

Informasi yang tepat mengenai manfaat obat dapat meminimalisir terjadinya medication error. Kategori obat off label yang memiliki persentase paling tinggi dalam penelitian ini yaitu off label indikasi. Berikut ini merupakan obat-obat kategori off label indikasi berdasarkan hasil observasi :

1. Metformin

Metformin merupakan obat antidiabetik oral golongan biguanid yang bekerja secara langsung pada hepar dengan menurunkan produksi glukosa hati. Pada penelitian ini ditemukan bahwa metformin digunakan secara off label indikasi untuk PCOS (Polycystic Ovary Syndrom) dalam mengatasi ketidakseimbangan hormon pada wanita dikarenakan peningkatan hormon androgen dan gangguan ovulasi.

2. Siproheptadin

Siproheptadin merupakan golongan antihistamin untuk mengobati berbagai jenis alergi. Pada penelitian ini ditemukan bahwa siproheptadin digunakan secara off label indikasi untuk penambah nafsu makan karena efek siproheptadine pada pusat makan hipotalamus melalui aksi kerja anti histamin dan anti serotoninnya.

3. Selekoksib – Rofekoksib

Selekoksib – Rofekoksib merupakan obat analgetik – antipiretik golongan anti inflamasi non steroid (AINS) COX-2 selektif yang memiliki efek terapi penghambatan biosintesis prostaglandin. Pada penelitian ini ditemukan bahwa selekoksib – rofekoksib digunakan secara off label indikasi untuk pengobatan kanker usus dan kanker payudara dengan cara mempengaruhi gen dan jalur yang terlibat dalam peradangan dan transformasi maligna tumor tetapi tidak berpengaruh pada jaringan normal.

4. Aspirin

Aspirin merupakan obat analgetik – antipiretik golongan anti inflamasi non steroid (AINS) mampu mengatasi rasa nyeri dan demam selama terjadi inflamasi yang bekerja dengan cara menghambat aktivitas enzim siklo-oksigenase dengan proses asetilasi. Pada penelitian ini ditemukan bahwa aspilet digunakan secara off label indikasi untuk mencegah terjadinya penyakit kardiovaskular yaitu sebagai anti trombotik, dikarenakan asam asetilsalisilat dapat mencegah proses pertumbuhan tromboksan dan pada akhirnya terjadi pencegahan dalam proses pembekuan darah serta mencegah penyumbatan pada saluran peredaran darah atau biasa disebut dengan agregasi platelet.

5. Simvastatin

Simvastatin merupakan obat golongan statin yang berfungsi untuk menurunkan kadar kolesterol dengan cara menghambat enzim pembentuk kolesterol sehingga kadar kolesterol dalam darah berkurang. Pada penelitian ini ditemukan bahwa simvastatin digunakan secara off label indikasi untuk mengurangi risiko terjadinya serangan jantung, dengan cara mengurangi penyumbatan pembuluh darah yang disebabkan oleh timbunan plak (aterosklerosis).

6. Alprazolam

Alprazolam merupakan obat golongan benzodiazepin yang berfungsi sebagai antiansietas, hipnotik, amnestik, dan muscle relaxant dengan cara berikatan dengan reseptor gamma aminobutyric acid (GABA) yang merupakan neurotransmiter dan hormon otak, bertugas menghambat reaksi yang tidak menguntungkan. Pada penelitian ini ditemukan bahwa alprazolam digunakan secara off label indikasi untuk nyeri neuropatik dengan cara hambatan re-uptake norepinefrin juga meningkatkan konsentrasi norepinefrin dicelah sinaptik dan menyebabkan penurunan jumlah reseptor adrenalin beta yang akan mengurangi aktivitas adenilsiklasi sehingga nyeri berkurang.

b. Penggunaan Obat Off Label Dosis