119
PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL
120
tested for its phytochemical content and antioxidant activity. The phytochemical content test on the content of flavonoids, polyphenols and saponins was carried out using the tube method (color reaction). Determination of antioxidant activity was carried out using the DPPH(1,1- diphenyl-2-picrylhydrazyl) method spectrophotometri at a wavelength of 520 nm. The results of phytochemical screening showed that cardamom fruit and leaves were positive for flavonoids, polyphenols and saponins. The ethanol extract of cardamom fruit and cardamom leaf has very strong antioxidant activity with IC50 values of 30.81 and 45.85 g/ml, respectively.
Key words : Antioxidant, Cardamom fruit, Cardamom leaf (Amomum compactum), DPPH
PENDAHULUAN
Banyak penyakit yang dipicu oleh radikal bebas. Radikal bebas bisa terbentuk ketika komponen makanan diubah menjadi bentuk energi melalui proses metabolisme. Radikal bebas memiliki reaktivitas yang sangat tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh sifatnya yang segera menarik atau menyerang elektron di sekitarnya (Winarsi, 2007).
Senyawa kimia yang dapat membantu tubuh melawan oksigen reaktif adalah antioksidan (Winarsi, 2007). Antioksidan merupakan zat yang berfungsi melindungi dari serangan radikal bebas. Antioksidan membantu menghentikan proses perusakan sel dengan cara memberikan elektronnya kepada radikal bebas. Antioksidan akan menetralisir radikal bebas, sehingga mempunyai kemampuan untuk mencuri elektron dari sel DNA. Sumber antioksidan dapat ditemukan secara alami di makanan sehari-hari, misal pada buah-buahan dan sayur-sayuran, salah satunya terdapat dalam buah kapulaga(Amomum compactum).
Buah kapulaga dan daun kapulaga (Amomum compactum) memiliki potensi sebagai tanaman obat, namun sebagian masyarakat belum banyak yang mengetahui. Buah kapulaga mengandung minyak atsiri, flavonoid, saponin, polifenol, mangan, pati, gula, lemak, protein dan silika sedangkan di dalam daunnya mengandung flavonoid dan vitamin C (Winarsi, 2014).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Indriani (2016) yaitu uji aktivitas antimikroba fraksi etil asetat buah kapulaga dengan KLT-Bioautografi hasil menunjukkan bahwa fraksi tersebut mampu menghambat pertumbuhan mikrobaSalmonella typi, Escherichia coliyang ditandai dengan adanya zona hambat bening pada area sekitar noda lempeng yang diinokulasi pada medium.
Penelitian mengenai aktivitas antioksidan pada daun dan buah kapulaga (Amomum compactum) belum banyak dilakukan. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan guna mengetahui aktivitas antioksidan daun dan buah kapulaga dengan metode DPPH (1,1- difenil-2-2-pikrihidrazil).
METODE Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah blender (Miyako), lemari pengering, maserator, cawan porselen, labu takar (Pyrex), aluminium foil, pisau, kain flannel, kipas angin (Miyako), neraca analitik (Ohaus), botol hitam, mikropipet(Socorex), pipet tetes, tabung reaksi,alat-alat gelas, rotary evaporator(Heidolph), dan spektrofotometri UV-Vis Mini 1240 (Shimadzu).
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian adalah daun dan buah kapulaga.
Senyawa pembanding yang digunakan adalah kuersetin. Radikal bebas yang digunakan senyawa DPPH, sebagai larutan penyari etanol teknis 96% dan pelarut untuk uji aktivitas
121
antioksidan etanol pro analisis 96%. Bahan skrining fitokimia H2SO4 2N (Merck), aquadest, HCl 2N (Merck), FeCl3 (Merck).
Jalannya Penelitian 1. Pengumpulan Bahan
Buah yang digunakan adalah masih terlihat segar, besar, warna merah keunguan dan daun kapulaga yang digunakan adalah tidak terlalu hijau tua dan tidak terlalu muda dan masih utuh yang didapat dari dari Samigaluh, Kulon Progo.
2. Determinasi Tanaman
Determinasi daun kapulaga dilakukan unutk memastikan bahwa yang digunakan sesuai kepustakaan yang ada dan tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan sampel. Kebenaran sampel adalah syarat mutlak dalam penelitian yang harus dipenuhi. Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Sistematik Tumbuhan Fakultas Biologi UGM,Yogyakarta.
3. Pembuatan Serbuk Simplisia
Sebelum dilakukan pembuatan serbuk simplisia, buah dan daun kapulaga dilakukan sortasi basah terlebih dahulu untuk memisahkan dari kotoran bahan simplisia. Buah dan daun dicuci dengan air mengalir dan dipotong kecil-kecil kemudian ditiriskan.Seribu gram bobot simplisia basah, ditimbang kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari dengan ditutupi kain hitam 2-3 jam kemudian dimaksukkan ke dalam almari pengering dengan suhu 40◦C sehingga diperoleh simplisia kering. Simplisia yang telah kering tersebut kemudian dilakukan sortasi kering untuk memisahkan benda asing dan pengotor yang tertinggal di dalam simplisia kering. Daun kapulaga tersebut kemudian diblender untuk mendapatkan serbuk simplisia kemudian diayak dengan ayakan ukuran 20/40, sedangkan untuk buah kapulaga diayak dengan ayakan 8/24. Buah dan daun kapulaga memiliki derajat kehalusan yang berbeda karena untuk memperoleh hasil penyarian yang baik dan tepat (Depkes, 1986).
4. Penyarian Serbuk Simplisia
Penyarian serbuk dilakukan dengan cara remaserasi sebanyak 2x terhadap serbuk buah dan daun kapulaga. Serbuk simplisia dengan berat 50 gr dipindah ke maserator, ditambah dengan 500 ml etanol 96%, diaduk selama 30 menit lalu di diamkan selama 24 jam.
Setelah didiamkan selama 24 jam, kemudian disaring, dan filtrat disimpan dalam botol coklat (filtrat I). Ampas kemudian disari dengan500 ml etanol 96%,seperti cara yang telah dilakukan sebelumnya sehingga diperoleh filtrat II. Kemudian filtrat tersebut dicampur menjadi 1 wadah botol coklat kemudian dienapkan semalam 24 jam. Kemudian dievaporasi dengan rotary evaporator hingga didapat cairan yang kental. Cairan kental tersebut kemudian diangin-anginkan dengan bantuan kipas anginhingga diperoleh ekstrak kental. Sisa air ekstrak kental dapat dikurangi dengan cara ditutup dengan aluminium foil yang dilubangi kecil kecil dan dimasukkan kedalam eksikator selama 1 minggu.
Perhitungan randemen dapat dilakukan dengan menggunakan rumus : Randemen Ekstrak
5. Pembuatan Larutan
a. Larutan stok DPPH 0,3 mM. Larutan stok DPPH yang akan dibuat berkonsentrasi 0,3 mM dengan menimbang 5,914 mg DPPH dilarutkan dalam etanol p.a sampai50 ml.
b. Larutan Stok Sampel. Masing-masing sampel dibuat dengan kadar 0,1% (b/v) sebanyak 10 ml. 10 mg ekstrak kering ditimbang dan dilarutkan kedalam etanol p.a hingga 10 ml digojok sampai homogen.
c. Baku Pembanding (Kuersetin). Larutan dibuat dengan kadar 0,01 % (b/v).
Sebanyak 10 mg kuersetin dilarutkan dengan etanol dalam labu takar 10 ml, digojok sampai homogen. Pipet 1 ml larutan kuersetin dimasukkan ke dalam
122
labutakar 10 ml lalu ditambahkan etanol p.a sampai 10 ml digojog kembali hingga homogen.
6. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum DPPH
Panjang gelombang dimana suatu larutan zat uji memiliki serapan maksimum (disebut panjang gelombang serapan maksimum) merupakan ciri khas dari zat uji tersebut dalam metode spektrofotometri. Panjang gelombangmaksimum dari senyawa DPPH akan digunakan untuk mengukur absorbansi dari sampel selanjutnya. Pengukuran dilakukan dengan cara mengambil 1 ml DPPH ditambahkan dengan etanol p.a dalam labu takar 5 ml, kemudian diukur panjang gelombang maksimum.
7. Penentuan Aktivitas Penangkapan Antioksidan denganSpektrofotometri menggunakan DPPH.
Penentuan aktivitas antioksidan dilakukan dengan mengambil 50 µl ekstrak dengan berbagai macam konsentrasi. Konsentrasi untuk buah kapulagasebesar 26, 28, 30, 32, 34 µg/ml dan untuk daun kapulagasebesar 20, 30, 40, 50, 60 µg/ml. Masing-masing konsentrasi yang akan diuji kemudian dimasukkan ke labu takar 5 ml ditambah DPPH 0,3 mM sebanyak 1 ml dan ditambah etanol p.a hingga 5 ml. Kemudian campuran digojok kuat secukupnya, didiamkan kurang lebih 30 menit dan diukur absorbansinya.
Setiap sampel konsentrasi dilakukan replikasi tiga kali.
Penentuan aktivitas penangkapan radikal bebas dihitung nilai persen antioksidan. Persen aktivitas antioksidan :
Absorbansi kontrol adalah serapan radikal DPPH, sedangkan absorbansi sampel adalah serapan radikal DPPH setelah diberi perlakuan sampel (Mintowati dan Dewi, 2010).
Aktivitas penangkapan radikal bebas ditetapkan dengan menggunakan persen penghambatan yang dihitung menggunakan nilai absorbansi sampel yang dibandingkan dengan nilai absorbansi DPPH sebagai kontrol.
Skrining fitokimia 1. Flavonoid
Uji flavonoid dilakukan dengan pereaksi H2SO4. Indikator positif apabila terjadi perubahan warna menjadi kuning, merah atau coklat (Harborne, 1996).
2. Polifenol
Beberapa tetes lautan ekstrak ditambah 5 ml aquadest, dipanaskan dalam waterbath 10 menit. Setelah dingin ditambahkan pereaksi besi (III) klorida 3 tetes. Jika terjadi warna hijau-hitam menunjukkan adanya polofenol (Harborne, 1996).
3. Uji Saponin
Larutan ekstrak etanol dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan 10 ml aquadest,digojok kuat selama 30 detik. Tabung dibiarkan dalam posisi tegak selama 30 menit, apabila terbentuk buih tinggi 1-10 cm dari permukaan cairan, dan buih tersebut tetap stabil ketika ditambahkan HCl 2N maka menunjukkan adanya saponin pada ekstrak(Harborne, 1996).
Cara Analisis Data
Data berupa absorbansi sampel untuk mencari persen aktivitas antioksidan yang akan dibandingkan dengan konsentrasi ekstrak untuk memperoleh persamaan garis regresi linier digunakan untuk mencari nilai IC50sebagai parameter untuk menunjukkan aktivitas antioksidan. Data kemudian diolah menggunakan analisis uji OneWay Anava.
123
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah kapulaga dan daun kapulaga yang diperoleh dari Samigaluh, Kulon Progo. Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Sistematika Tumbuhan Fakultas Biologi UGM, dengan tujuan untuk memastikan bahwa tanaman yang digunakan adalah benar-benar tanaman kapulaga. Hasil determinasi menunjukkan bahwa tanaman yang diambil adalah benar tanaman kapulaga dengan nama spesies Amomum compactum solan.
Pembuatan Ekstrak
Bagian tanaman yang digunakan adalah buah kapulaga dan daun kapulaga. Bahan disortasi basah kemudian dicuci bersih dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran dan senyawa pengganggu. Buah dan daun kapulaga dipotong kecil-kecil kemudian dirajang dan dijemur pada sinar matahari langsung selama 24 jam yang ditutup dengan kain hitam agar senyawa aktif tidak teroksidasi oleh sinar matahari langsung. Setelah itu, dimasukkan dalam lemari pengering pada suhu 40˚C sampai didapatkan simplisia kering agar tidak mudah ditumbuhi jamur. Simplisia buah kapulaga diayak dengan ayakan 8/24, sedangkan untuk daun kapulaga diayak dengan ayakan 20/40. Buah dan daun kapulaga memiliki derajat kehalusan yang berbeda karena untuk memperoleh hasil penyarian yang baik dan tepat (Depkes, 1986).
Penyarian pada masing-masing sampel dilakukan dengan cara remaserasi. Cara penyarian ini dipilh karena peralatannya sederhana,lebih mudah pengerjaannya dan tidak membutuhkan waktu yang lama, serta memungkinkan untuk bahan yang tidak tahan terhadap pemanasan. Sebanyak 50 gram buah kapulaga dan daun kapulaga diremaserasi dengan cairan penyari etanol 96% (2 x 500ml). Etanol 96% merupakan pelarut dengan polaritas yang cukup tinggi sehingga mampu menyari sebagian besar senyawa kimia yang berpotensi sebagai antioksidan (Depkes, 1986).
Filtrat yang diperoleh kemudian disaring dan ditampung di gelas beaker. Filtrat dimasukkan dalam botol kaca berwarna gelap adalah untuk menghindari terjadinya reaksi senyawa antioksidan tertentu dengan sinar ultraviolet dan cahaya matahari.
Remaserasi termasuk ekstraksi dingin, sehingga zat aktif yang diinginkan tidak terdegradasi oleh panas. Sistem ekstraksi yang digunakan ini akan menarik senyawa-senyawa yang relatif polar seperti antioksidan. Filtrat yang diperoleh dipekatkan denganrotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Proses penguapan menggunakan rotary evaporator terdapat di Lampiran 3. Ekstrak cair yang diperoleh kemudian dipindahkan kedalam cawan porselen yang telah ditara dan diberi label bobot cawan, kemudian diangin- anginkan dengan kipas angin hingga sisa air pada ekstrak menguap. Ekstrak kental dalam cawan porselen tersebut ditutup dengan aluminium foil, kemudian dilubangi bagian atasnya dan selanjutnya dimasukkan kedalam eksikator selama satu minggu atau lebih. Eksikator berupa bejana yang diberi gamping aktif tertutup rapat. Penyimpanan dalam eksikator bertujuan agar sisa air yang masih ada didalam ekstrak dapat terserap oleh gamping aktif yang berada didalam eksikator.
Rendemen
Randemen merupakan presentase perbandingan antara berat total ekstrak yang diperoleh dengan berat awal simplisia kering. Hasil ekstraksi bagian tumbuhan yang berbeda akan menghasilkan randemen yang berbeda pula. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa randemen ekstrak etanol buah kapulaga sebesar 8,94% dan daun kapulaga sebesar 9,7%. Dari hasil tersebut diketahui bahwa randemen ekstrak etanol daun kapulaga lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak etanol buah kapulaga. Hal ini menunjukkan bahwa daun kapulaga memiliki banyak kandungan zat yang dapat tersari oleh etanol lebih banyak dibandingkan dengan ekstrak buah kapulaga.
Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
124
Panjang gelombang setiap senyawa bersifat spesifik sehingga dalam penetapan nilai serapan diperlukan penentuan panjang gelombang senyawa yang dimaksud terlebih dahulu.
Pada uji potensi ini akan ditentukan panjang gelombang maksimum dari DPPH. Panjang gelombang maksimum adalah panjang gelombang dimana terjadi eksitasi elektrolik pada serapan maksimum. Pembacaan serapan yang dilakukan pada bilangan gelombang maksimum akan didapatkan kesalahan pembaca yang paling kecil atau akurat. Penentuan panjang gelombang maksimum DPPH dilakukan rentang panjang gelombang 200-900 nm.
Menurut Molyneux (2004), DPPH mampu bekerja pada panjang gelombang maksimum (λ maks) antara 515-520 nm, Panjang gelombang DPPH yang dihasilkan adalah 520 nm, maka panjang gelombang DPPH tersebut dapat digunakan untuk mengukur absorbansi pada sampel.
Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH
Senyawa antioksidan secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu senyawa yang dapat menunda, memperlambat atau mencegah terjadinya proses oksidasi, dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif (Winarsi,2007).
Pengujian antivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan DPPH. Metode uji DPPH merupakan salah satu metode yang paling banyak digunakan untuk memperkirakan efisiensi kinerja dari subtansi yang berperan sebagai antioksidan. Metode DPPH dipilih karena merupakan metode yang sederhana, mudah, dan menggunakan sampel dalam jumlah sedikit dan waktu yang digunakan lebih singkat. DPPH bersifat radikal bebas sehingga tidak stabil. Larutan DPPH dalam etanol berwarna ungu dan akan mengikat atom H dari senyawa antioksidan sehingga menjadi dirinya stabil dan warnanya berubah menjadi kekuningan.
Pada penelitian ini, pengujian antioksidan dilakukan pada buah dan daun kapulaga serta kuersetin sebagai pembanding dengan berbagai konsentrasi, kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang 520 nm yang merupakan panjang gelombang maksimum DPPH. Dilakukan juga pengukuran absorbansi kontrol digunakan untuk tujuan kalibrasi sebagai larutan pembanding dalam analisis fotometri. Sampel diukur absorbansinya dengan 5 konsentrasi dan setiap konsentrasi dilakukan replikasi sebanyak 3 kali. Data absorbansi diperoleh kemudian dihitung persen kadar aktivitas antioksidan. Absorbansi yang diperoleh dihitung aktivitas antioksidan yang dibutuhkan untuk menginhibasi 50% radikal bebas. Semakin kecil nilai IC50 berarti semakin tinggi aktifitas antioksidannya (Winarsi, 2014).
Hasil Pengukuran Kuersetin
Tabel 1. Data Pengukuran Absorbansi Kuersetin
Dari data pada tabel 1 hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi maka semakin rendah absorbansinya, sedangkan aktivitas antioksidannya semakin tinggi.
Konsentrasi sampel (µg/ml)
Absorbansi Aktivitas antioksidan (%)
I II III I II III
Kontrol 0,583 0,585 0,582 Rata-rata absorbansi kontrol=0,583
0,4 0,456 0,454 0,458 21,78 22,13 21,44
0,8 0,387 0,384 0,389 33,79 34,13 33,28
1,2 0,307 0,310 0,305 47,37 46,43 47,68
1,6 0,288 0,284 0,286 50,60 51,29 50,94
2,0 0,206 0,208 0,205 64,67 64,32 64,84
Persamaan Regresi Linier dan Nilai IC50
(µg/ml)
y=24,648x +13,569 r = 0,987 IC50=1,474
y=25,385x + 13,278 r =0,991 IC50=1,445
y=26,115x + 12,298 r =0,987 IC50=1,474
125
Untuk nilai r hitung pada tabel product moment untuk 5 data dengan taraf signifikasi 5% yaitu 0,878. Nilai r hitung dari ketiga replikasi yaitu 0,987 ; 0,991 ; 0,987 lebih besar dari r tabel (0,878) sehingga persamaan regresi linier tersebut bisa dapat dipergunakan untuk menghitung nilai IC50. Berdasarkan hasil rata-rata dari ketiga nilai IC50 kuersetin sebesar 1,46 µg/ml. Hal ini menunjukkan kuersetin memiliki antioksidan yang sangat kuat karena nilai IC50 kurang dari 50 µg/ml (Winarsi, 2014). Kuersetin merupakan senyawa tunggal dan murni serta memiliki sifat antioksidan yang sangat kuat dibandingkan dengan buah dan daun kapulaga.
Hasil Pengukuran Buah Kapulaga
Tabel 2. Data Pengukuran Absorbansi Ekstrak Etanol Buah Kapulaga
Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai r hitung yang diperoleh semua nilai r hitungnya diatas nilai r tabel. Sehingga dari persamaan regresi linier ketiganya dapat dipergunakan untuk menghitung nilai IC50.Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata dari ketiga nilai IC50 yang diperoleh dari ketiga persamaan linier, diperoleh nilai IC50 sebesar 30,81 µg/ml. Buah kapulaga dapat dikatakan antioksidan sangat kuat karena nilai IC50 kurang dari 50 µg/ml.
Hasil Pengukuran Daun Kapulaga
Tabel 3. Data Pengukuran Absorbansi Ekstrak Etanol Daun Kapulaga Konsentrasi
sampel (µg/ml)
Absorbansi Aktivitas Antioksidan (%)
I II III I II III
Kontrol 0,547 0,543 0,550 Rata- rata absorbansi kontrol= 0,553 20 0,421 0,418 0,416 23,86 % 24,41 % 24,77 % 30 0,384 0,389 0,391 30,56 % 29,65 % 29,29 % 40 0,341 0,336 0,332 38,33 % 39,24 % 39,96 % 50 0,260 0,258 0,263 52,98 % 53,34 % 52,44 % 60 0,245 0,251 0,240 55,69 % 54,61 % 56,69 % Persamaan Regresi Linier dan Nilai
IC50 (µg/ml)
y=0,9608x +5,852 r =0,934 IC50=45,44
y=0,9409x + 6,614 r =0,908 IC50=46,11
y=0,9699x +5,384 r =0,946 IC50=46,0
Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai r hitung yang diperoleh semua nilai r hitungnya diatas nilai r tabel. Sehingga dari persamaan regresi linier ketiganya dapat dipergunakan untuk menghitung nilai IC50. Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata dari ketiga nilai IC50 yang diperoleh dari ketiga persamaan linier, diperoleh nilai IC50 sebesar 45,85 µg/ml. Buah kapulaga dapat dikatakan antioksidan sangat kuat karena nilai IC50 kurang dari 50 µg/ml.
Konsentrasi (µg/ml)
Absorbansi Aktivitas Antioksidan (%)
I II III I II III
Kontrol 0,589 0,580 0,585 Rata- rata absorbansi kontrol= 0,584
26 0,480 0,477 0,478 17,80 18,32 18,15
28 0,386 0,390 0,383 33,90 33,21 34,41
30 0,307 0,301 0,305 47,43 48,45 47,77
32 0,276 0,269 0,265 52,73 53,93 54,62
34 0,221 0,226 0,222 62,15 61,30 61,98
Persamaan Regresi Linier dan Nilai IC50
(µg/ml)
y=5,3765x – 118,49 r = 0,930 IC50=31,33
y=5,274x – 115,42 r = 0,913 IC50=31,36
y=5,395x - 118,42 r =0,926 IC50=29,74
126
Dari data hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan semakin tinggi konsentrasi maka semakin rendah absorbansinya. Sedangkan aktivitas antioksidannya semakin tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan intensitas warna DDPH.
Menurut Winarsi (2014), buah dan daun kapulaga dilaporkan memiliki potensi antioksidan flavonoid, bahkan tidak sedikit mengaplikasikannya kepada individu yang mengalami penyakit degeneratif. Senyawa antioksidan dalam buah kapulaga yang telah diteliti adalah flavonoid dan vitamin C. Kandungan flavonoid di dalam buah kapulaga sebesar 129 mg/g dibandingkan dengan daun kapulaga (Winarsi, 2014).
Analisis Data dengan OneWay Anova
Sebelum dilakukan uji Anova, dilakukan uji normalitas dengan uji skewness dan kurtosis. Data dapat dikatakan normal jika hasil perhitungan menunjukkan ratio skewness dan kurtosis masih berada pada range -2 sampai +2. Hasil dari skewness dan kurtosis untuk skewness adalah dengan standar eror nya -0,448/0,717 = -0,624, untuk kurtosis -1,714/1,400
= -1,224. Dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa data tersebut normal. Hasil SPSS dapat dilihat pada Lampiran 11. Karena data normal, maka diuji Anova. Uji analisis variasi (Anova) satu jalan menggunakan SPSS dengan tingkat kepercayaan 95%.
Hasil nilai descriptives menunjukkan nilai rata rata IC50 buah kapulaga adalah 30,81µg/ml, daun kapulaga 45,85 µg/ml dan kuersetin adalah 1,45 µg/ml. Hasil analisa Test of Homogenity of varincess menunjukkan angka taraf signifikan adalah 0,059. Jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima dan jika nilai probabilitas <0,05 maka Ho ditolak (ada perbedaan). Nilai probilitas yang diperoleh sebesar 0,059>0,05 maka Ho diterima sehingga disimpulkan bahwa dari buah dan daun kapulaga tersebut homogen.
Uji anova dilakukan untuk menguji ketiga sampel mempunyai rata rata (mean) berbeda atau sama. Jika taraf signifikan <0,05 maka rata-rata ketiga varian tersebut memang berbeda nyata dan jika taraf signifikan >0,05 maka rata rata ketiga varian tersebut sama. Hasil analisa post hock test nilai probabilitas/taraf signifikan sebesar 0,000 (0,000<0,05) maka rata- rata ketiga data tersebut memang berbeda nyata artinya IC50 kuersetin, IC50 buah kapulaga, IC50 daun kapulaga tidak memiliki hubungan satu sama lain. IC50 kuersetin 1,45 µg/ml lebih besar daripada IC50 buah kapulaga 30,81 µg/ml dan daun kapulaga 45,85 µg/ml.
Uji Fitokimia
Uji fitokimia dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keberadaan senyawa metabolit sekunder dalam sampel. Senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada sampel dilakukan pengujian secara kualitatif menggunakan berbagai macam pereaksi. Adapun hasil uji fitokimia dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Uji Fitokimia No
Jenis uji
Hasil
Keterangan Buah Daun
1
Uji Flavonoid Pereaksi H2S04 2N
+ +
Terbentuk warna kuning kecoklatan
2
Uji Saponin
5 ml aquadest gojog kuat + HCl 2N
+ +
Terbentuk busa 4 cm selama 3 menit
3
Uji Polifenol Pereaksi FeCl3
+ +
Terbentuk warna hijau kehitaman
127
Buah dan daun kapulaga menunjukkan reaksi positif terhadap uji flavonoid. Karena hasil uji flavonoid pada sampel yang berwarna kuning setelah ditambah H2SO4 terjadi reaksi perubahan warna menjadi kuning, merah, atau coklat setelah ditambah pereaksi H2SO4. H2SO4
pada uji berekasi membentuk gelembung gelembung yang merupakan gas H2 yang berfungsi untuk mereduksi inti benzopiron yang terdapat pada struktur flavonoid sehingga terbentuk perubahan warna menjadi kuning, merah, atau coklat.
Uji polifenol dengan reagen menunjukkan bahwa sampel bereaksi positif. Karena pada uji polifenol ini menunjukkan perubahan warna pada larutan sampel yang diberi pereaksi FeCl3 dari kuning menjadi warna hijau kehitaman sampai hitam. Perubahan warna terjadi ketika penambahan FeCl3 yang bereaksi dengan salah satu gugus hidroksil yang ada pada senyawa polifenol. Pada penambahan FeCl3 pada ekstrak uji menghasilkan warna hijau kehitaman yang menunjukkan bahwa sampel mengandung senyawa polifenol.
Uji saponin menunjukkan reaksi positif dari kedua sampel tersebut karena setelah diambah aquadest 10 ml kemudian tutup digojog kuat terbentuk busa stabil 3 menit dengan tinggi 4 cm dari permukaan cairan, maka menunjukkan adanya saponin. Ketika ditambahkan dengan HCl 2N, buih tidak akan hilang. Timbulnya busa menunjukkan adanya glikosida yang mempunyai kemampuan membentuk buih dalam air yang terhidrolisis menjadi glukosa.
Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak buah dan daun kapulaga mengandung golongan senyawa flavonoid, saponin, polifenol. Ketiga golongan tersebut yang kemungkinan bertanggungjawab terhadap aktivitas antioksidan ekstrak buah dan daun kapulaga yang kuat.
Antioksidan flavonoid menunjukkan manfaatnya bagi kesehatan melalui efeknya sebagai antioksidan fitokimia, yaitu berkaitan dengan gugus hidroksil fenolik yang terikat pada stukturnya. Dalam beberapa tahun ini, flavonoid dilaporkan sebagai penangkap radikal bebas yang sangat menarik terutama penyakit yang diakibatkan oleh reaktivitas radikal bebas.
Bermacam macam senyawa fenolat, seperti flavonoid, memiliki kapasitas antioksidan jauh lebih kuat dibandingkan dengan vitamin C dan E (Winarsi, 2014).
Saponin memiliki struktur kimia yang menghasilkan busa ketika dicampur dengan air.
Saponin dapat mengikat air serta lemak dan minyak. Dalam saluran cerna, saponin menghasilkan emulsi molekul yang larut dalam lemak. Secara khusus saponin mengikat asam empedu dan membantu menghilangkannya dari tubuh, mencegah kolesterol diserap kembali (Indriani, 2016).
Antioksidan polifenol memiliki tanda khas yaitu memiliki banyak banyak gugus fenol dalam molekulnya. Polifenol memiliki peran yang baik untuk kesehatansalah satunya dapat mengurangi resiko penyakit jantung, pembuluh darah dan kanker (Indriani, 2016).
Aktivitas antioksidan ekstrak buah kapulaga lebih kuat dibandingkan dengan daun kapulaga. Hal ini kemungkinan karena perbedaan jumlah kandungan senyawa aktif didalam kedua ekstrak tersebut. Namun dalam penelitian ini belum diketahui secara pasti kandungan senyawa aktif di dalam ekstrak buah dan daun kapulaga sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa ekstrak etanol buah kapulaga memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 30,81 µg/ml. Sedangkan ekstrak etanol daun kapulaga memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 45,85 µg/ml. Ada perbedaan yang signifikan aktivitas antioksidan antara ekstrak etanol buah kapulaga dan daun kapulaga dengan aktivitas antioksidan yang lebih tinggi pada buah kapulaga. Kandungan senyawa yang berpotensi antioksidan pada ekstrak etanol buah kapulaga maupun ekstrak etanol daun kapulaga antara lain senyawa flavonoid, saponin dan polifenol.