YANGSAKRAL
B. Hubugan Agama dan Stratifikasi Sosial
Stratifikasi sosial adalah secara sosiologis susunan berbagai kedudukan sosial menurut tinggi rendahnya dalam masyarakat 134 Oleh para ahli stratifikasi sosial itu digambarkan sebagai anak tangga yang berdiri dalam garis trapesium. Jarak antara anak tangga yang satu dengan anak tangga yang lain, disitu terdapat ruang, itulah yang disebut dengan lapisan sosial. Dalam ruang itu beberapa orang yang tinggal karena memiliki derajad kedudukan dan tingkat yang sama. Jadi lapisan sosial adalah keseluruhan orang yang berkedudukan sosial setingkat. Tangga yang ada dibawah berbeda dengan tangga yang ada diatasnya sampai kepada tangga yang paling atas.
Jumlah orang yag berada pada tangga paling bawah paling banyak dibanding jumlah orang yang ada diatasnya, demikian sampai kepada tangga yang paling atas, jumlah orangnya paling sedikit. Begitu pula strata sosial setiap masyarakat itu berbeda, perbedaan itu disebabkan oleh beberapa hal, seperti nilai, pekerjaan, ekonomi, agama, politik, hukum dan pendidikan.
134 Doyne Paul Johnson, Teori Sosiologi ( Jakarta, Gramedia,, 1994) 23
191
Bagaimana peran dan fungsi agama dalam menentukan strata sosial di masyarakat. Hal yang paling penting didalam masyarakat agama adalah siapa dan bagaimana masyarakat menghadapi masalah problem fondamental masyarakat : ketidak mampuan, ketidak- pastian dan kelangkaan. Agama memandang status seseorang itu dilihat dari kualitas iman dan kepasrahannya kepada kekuatan adi-kodrati. Oleh karena itu agama menentukan variabel keimanan dari strata- starata sosial itu. Para elit agama biasanya berasal dari strata sosial tertentu, sehingga model keimanannya juga memiliki kualitas yang sesuai dengan Strata sosialnya. Golongan yang berasal dari kelompok atas misalnya kelompok Kyai, Pendeta, Raja akan memiliki kualitas iman yang berbeda dengan umat yang berasal dari golongan bawah.
Pengalaman keagamaan dari status sosial yang berbeda juga menunjukkan fungsi dan peran sosialnya. Pendidikan dan keahlian bereda juga akan melahirkan pengalaman keagamaan yang berbeda pula. Setiap strata sosial akan menunjukkan gaya dan pandangan hidup, serta pola pemikiran keagamaan yang berbeda, akan mendapatkan pengalaman keagamaan yang berbeda pula. Kelompok petani memiliki sikap mental terbentuk oleh lingkungan dimana mereka tinggal dan bekerja, seperti faktor tanah, iklim, geografis akan membentuk model pandangan hidup dan pola pikirnya tentang alam. Proses tanam yang membutuhkan iklim dan karakter tanah membentuk pandangan hidupnya bahwa mereka sangat tergantung pada kemurahan alam. Dari pola pikir ini petani lebih menghormati kekuatan alam sebagai satu – satunya yang dapat mendatangkan keberuntungan. Kepercayaan terhadap kekuatan alam ini dalam sistem agama dinamakan animisme. Kepercayaan agama masyarakat petani tidaklah tunggal, tetapi merupakan kolaborasi dari berbagai sistem: mitos, tradisi, nilai sosial, dan agama. Oleh sebab itu kelompok ini lebih banyak memiliki keyakinan religius lebih besar dari pada kelompok lainnya. Pengalaman religius kelompok petani ini berimplikasi pada penciptaan tradisi-tradisi religius yang jumlahnya banyak sekali.
Dari ritual untuk upacara menyemai bibit, tanam, dan ritual panen, Semua ritual dan upacara ini dalam rangka untuk menghormati dewi tanaman, dalam masyarakat Jawa dikenal dengan Dewi Sri. Begitu pula dengan upacara inisiasi, seperti Perkawinan , kelahiran dan kematian dan ritual bersih desa. Ritual ini dalam rangka untuk menghormari roh nenek – moyang mereka.
Kelompok pedagang biasanya tidak memiliki pengalaman keagamaan seperti petani. Hal ini karena nasib pedagang ditentukan oleh proses transaksi yang
192
menggunakan pendekatan persaingan. Hukum ekonomi dan hukum perdagangan berlaku pada proses perdagangan ini. Siapa yang dapat melaksanakan kerja sesuai dengan hukum ekonomi pasar dan hukum dagang, dia akan mendapatkan keuntungan.
Oleh sebab itu semua keberuntungan ditentukan oleh upaya manusia untuk memenangkan transaksi tersebut. Pandangan hidup pedagang lebih rasional dan pragmatis. Tidak ada kekuatan supra-empiris yang menentukan keberuntungan manusia.
Oleh sebab itu kelompok pedagang memiliki agama yang rasional.Hubungan sosialnya ditentukan oleh prinsip untung dan rugi, nilai kemanusiaannya sangat ditentukan oleh materialisme yang individual.
Para politikus mempraktekkan agama sesuai dengan nilai-nilai kekuasaan yang dianutnya. Dalam wilayah politik, agama dijadikan alat untuk melegalisasi kekuasaan.
Oleh sebab itu tidak ada agama yang memiliki nilai pasti kebenarannya, yang ada agama yang sesuai dengan kepentingannya. Agama dalam praktek kelompok ini hanya pada batas simbol, artifisial, formalitas, dan identitas semata. Tidak sampai pada pengaruh prilku batin. Oleh karena itu kelompok ini banyak mengguanakan simbol – simbol agama dalam meraih kekuasaan. Simbol Agama dieksploitasi sedemikian rupa untuk meneguhkan identitas kepemimpinannya, dan melegalisasi dari kekuasaan. Hal ini telah dijelaskan dalam teori Karl Mark bahwa agama adalah alat kekuasaan bagi kaum penguasa.
Kelompok birokrat atau karyawan memiliki pengalaman keagamaan yang berbeda dengan kelompok lainnya. Model hubungan kerja yang ditentukan oleh hukum formal adminitratif, mempengaruhi pola pandangan hidup dan pola pikir kegamaannya.
Kelompok ini pada umumnya mengartiakan agama sebagai identitas diri yang formal, sebagai pelengkap administrasi. Pola kerja yang ditentukan oleh perencanaan kerja yang matang dan mekanisme kerja yang tertib dministrasi , membuat mereka tidak begitu mementingkan agama. Karena selama mereka bekerja berdasarkan tertib administrasi , maka keselamatan akan diperolehnya. Oleh sebab itu pandangan hidupnya sangat tergantung pada ketaatan hukum dan tertib administrasi. Tidak ada kekuatan yang supra empiris yang dapat membantu mereka, kecuali dirinya sendiri dalam memahami tanggung jawab pekerjaan. Ini seperti yang dijelaskan oleh Weber tentang birokrasi sebagai managemen organisasi yang modern dapat melonggarkan nilai – nilai spirittual
193
masyarakat. Karena ketertiban itu bukan disebabkan oleh ketaatan mereka terhadap kekuatan supernatural, tetapi oleh managemen organisai yang modern.135
Kenyataan yang dapat disaksikan dalam masyarakat kelompok birokrat dari kelompok rendah memiliki tingkat ketaatan terhadap agama lebih tinggi dibanding kelompok birokrat atas. Realitas ini tidak bisa dilepaskan dari teori Karl Mark dan Weber bahwa agama menunjukkn status seseorang. Tetapi teori itu mengambil posisi yang bertentangan dalam menjelaskan peran agama dalam ekonomi. Weber menjelaskan bahwa agama yang rasional akan melahirkan ekonomi yang baik. Ini dapat menjelaskan bahwa model ajaran agama dan prakteknya dapat mempengaruhi ekonomi masyarakat.
Sebaliknya Mark bahwa kondisi ekonomi melahirkan keadaan agama maarakat. Yang ingin disasar oleh Mark adalah bahwa kemiskinan ekonomi seseorang akan semakin membutuhkan ajaran agama sebagai pelampiasan dari rasa frustasi itu. 136Dalam konsep ini Mark menjelaskan bahwa kaum buruh termasuk kelompok yang termarginalisasi dalam proses sosial. Oleh karena itu agama pada masyarakat ini dianggap sebagai institusi yang mengasingkan kaum proletar dari problem hidupnya, menenangkan atas penderitaannya, dan mengalihkan perhatian mereka kepada kebahagiaan akherat. 137
Kelompok hartawan memiliki pengalaman keagamaan yang berbeda pula. Dalam konsep Weber bahwa golongan elit disamakan dengan birokrat. Mereka tidak membutuhkan keselamatan, dosa, dan kerendahan hati, namun mereka haus akan kehormatan. Agama merupakan alat untuk melegalisai dan pembenaran tindakan mereka. Bagaimana sikap kelompok elit terhadap agama, maka sampai sejauh manakah kelompok ini dapat mengatasi dirinya dalam menghadapi problema fondamental itu.
Merasa kedudukan dan kekayaan mereka cukup dapat memberikan jaminan yang aman.
Kemungkinan yang paling sulit untuk dihadapi adalah masalah kematian, tuhan, hidup kekal, itupun bagi mereka bisa ditunda di masa tua.
Orang dewasa dan remaja atau anak memiliki sikap mental yang berbeda terhadap pengalaman keagamaan. Dari penglihatan terhadap kehidupan sehari-hari, orang dewasa sikap iman telah terbentuk, stabil dan sulit diubah. Pengalaman hidup yang sudah banyak mendewasakan sikap mentalnya dalam menghadapi problem – problem kehidupan. Kelompok dewasa ini telah memiliki pengalaman keagamaan yang panjang
135 Hendro Puspito, Sosiologi Agama ( Jakarta, BPK, 1982,) 62
136 Ibid, 64
137 Ibid, 65
194
oleh karenanya agama yang dibutuhkan adalah yang dapat menenangkan dan mengurangi beban pikirannya. Terjadinya pembaharuan agama tidak banyak mempengaruhi sikapnya, karena dia telah memiliki model agama yang menjadi tradisi.
Sikap orang dewasa terhadap problema fondamental adalah pasrah dan menerima apapun yang terjadi. Karena problem tersebut menjadi bagian integral dalam kehidupannya.