BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Implementasi Kebijakan Larangan Parkir di Bahu Jalan dalam
f) Melakukan koordinasi dengan PD. Parkir Makassar Raya dalam melaksanakan tugasnya;
g) Menyiapkan perencanaan, penunjukan lokasi, pembangunan, pengembangan, pengelolaan, pemeliharaan fisik dan pengendalian ketertiban jembatan penyeberangan;
h) Melakukan koordinasi dengan unit kerja lain yang berkaitan dengan bidang tugasnya;
i) Memberikan Bimbingan dan pembinaan terhadap keselamatan pelayaran;
j) Menyusun Laporan Hasil Pelaksanaan Tugas;
k) Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan.
B. Implementasi Kebijakan Larangan Parkir di Bahu Jalan dalam
Adapun indikator variabel komunikasi dalam implementasi kebijakan mencakup beberapa dimensi penting yaitu:
a. Penyaluran Informasi (Transimision)
Yaitu dimana suatu implementasi kebijakan yang baik adalah efek dari penyaluran komunikasi yang terlaksana dengan baik pula.
Petikan wawancara dengan Humas Dinas Perhubungan Kota Makassar memaparkan bahwa:
“Penyaluran komunikasi secara vertikal maupun horisontal implementasi kebijakan larangan parkir ini masih baik. (Hasil wawancara A.A, 4 Juni 2015)”.
Sama halnya dengan pendapat diatas, Kepala Bidan Teknik dan Sarana Dishub Makassar menyatakan bahwa:
“Penyaluran komunikasi baik vertikal atau horisontal dalam implementasi kebijakan larangan parkir sudah cukup baik. Baik dari Dinas Perhubungan sendiri maupun instansi- instansi yang terkait dalam hal larangan parkir ini. (Hasil wawancara A.R, 4 Juni 2015)”.
Menurut informan tersebut, di Dinas Perhubungan Kota Makassar sebagai pelaksana larangan parkir ini penyaluran komunikasi baik vertikal atau horisontal pada implementasi kebijakan larangan parkir instansi- instansi terkait dianggap perlu peningkatan. Menurutnya diperlukan koordinasi yang intensif dari Pihak inst yang terkait mengenai kebijakan ini sehingga kelancaran kinerja para pelaksana dapat tercapai. Tetapi dalam hal penyaluran komunikasi horisontal, yaitu di dalam Dinas Perhubungan sebagai eksekutor di lapangan ini sudah tersalurkan dengan baik. Penyampaian informasi yang baik dan jelas akan membuat para eksekutor lapangan maupun pihak-pihak yang terkait tidak kebingungan sehingga dapat berjalan dengan baik.
Berikut ini juga penuturan Kepala Seksi Ketertiban LLAJ menyatakan bahwa:
“Penyaluran komunikasi vertikal dalam implementasi kebijakan larangan parkir ini perlu ditingkatkan. Tetapi dari horisontalnya, penyaluran komunikasinya sudah jelas. Karena Dishub ini sebagai eksekutor lapangan (Hasil wawancara K.S 10 Juni 2015)”.
Penyaluran komunikasi yang baik akan dapat menghasilkan suatu implementasi atau pelaksanaan kebijakan yang baik pula. Penyaluran komunikasi vertikal mengenai larangan parkir sudah bagus menurut informan di atas.
Adapun komunikasi horisontal diperoleh dengan cukup baik oleh informan tersebut komunikasi tetap berjalan dengan lancar karena pengelola berada dilokasi yang sama dan koordinasi diantara pelaksana eksekutor lapangan Dinas Perhubungan dengan Satlantas Kota Makassar dilaksanakan. Serta terlebih dahulu orang-orang yang akan ditunjuk untuk kebijakan larangan parkir ini di SK-kan dan diberikan pengarahan oleh Kepala Bidang Operasional Dishub mengenai deskripsi kerja masing-masing anggota dalam penggembokan larangan parkir tersebut. Sosialisasi kepada Masyarakat dengan bantuan dari PD Parkir sudah dilakukan agar masyarakat tahu bahwa adanya larangan parkir di bahu jalan ini sesuai dengan Perwali No.64 tahun 2011.
b. Kejelasan informasi (Clarity)
Yaitu komunikasi yang diterima oleh para pelaksana kebijakan haruslah jelas dan tidak membingungkan (tidak ambigu/mendua).
Humas Dishub Makassar menyatakan bahwa:
“Kejelasan komunikasi yang diperoleh khususnya dilingkup Dishub dalam hal larangan parkir ini sudah jelas. Para pelaksana dilapangan tidak menemukan kebingungan dalam melaksanakan kebijakan tersebut karena ada batasan- batasan yang tertentu untuk bahu jalan yang akan ditindaki sesuai perwali No. 64 Tahun 2011. Begitu pun dengan
komunikasi kita dengan PD Parkir dan Satlantas Makassar, sudah jelas karena kami sebagai tim dan mempunyai tugas dan fungsi masing- masing (Hasil wawancara A.A, 4 Juni 2015)”.
Hasil penuturan diatas didukung pula Direktur Utama PD Parkir:
“Komunikasi PD Parkir dengan Dinas Perhubungan ini sudah jelas, karena kita sebagai tim dalam hal larangan parkir ini, dimana kami PD Parkir mempunyai tugas yaitu melakukan sosialisasi seperti membagikan selebaran atau stiker sebagai bentuk sosialisasi dan memasang spanduk himbauan di setiap ruas jalan sesuai Perwali (Hasil wawancara A.D, 1 Juni 2015)”.
Selain itu, Kepala Urusan Pemeliharaan Operasional Lantas Polrestabes Makassar, menyampaikan pendapatnya sebagai berikut:
“Kejelasan komunikasi mengenai larangan parkir di bahu jalan ini jelas, karena kami dari pihak kepolisian mempunyai tugas dalam hal penindakan hukum, yaitu dalam bentuk tilang (tindakan langsung) sesuai dengan UU No.22 Tahun 2009. Jadi kami penindakan hukum saja (Hasil wawancara S.A, 8 Juni 2015)”.
Mengenai kejelasan komunikasi menurut beberapa informan diatas sudah cukup baik. Dengan alasan bahwa kejelasan komunikasi mengenai larangan parkir di bahu jalan ini sesuai tugas dan fungsi dari setiap instansi- instansi yang terkait. Dalam hal ini PD Parkir mempunyai tugas untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat mengenai adanya larangan parkir di bahu jalam sesuai dengan Perwali No.64 Tahun 2011. Sedangkan Dinas Perhubungan memiliki tugas sebagai pelaksana atau eksekutor lapangan. Dishub berhak menggembok kendaraan yang parkir di bahu jalan. Dan bagian Satlantas Kota Makassar mempunyai tugas melakukan tindakan hukum yaitu melakukan tilang bagi pelanggar parkir di bahu jalan. Informasi yang sudah jelas dapat mempermudah kebijakan ini bisa berjalan dengan baik
c. Konsistensi Perintah (Consistency)
Yaitu perintah yang diberikan dalam pelaksanaan haruslah konsisten atau tidak berubah-ubah dan jelas (untuk diterapkan atau dijalankan).
Penjelasan Kepala Seksi LLAJ Dishub Makassar mengatakan bahwa:
“Konsistensi perintah sudah diperoleh dengan baik dan jelas dari atasan.
Dan tidak mengalami perubahan (Hasil wawancara K.S 5 Juni 2015)”.
Korlap LLAJ Dishub Makassar mengatakan bahwa:
“Konsistensi perintah tidak berubah-ubah sesuai dengan aturan dan prosedur yang ada dan tidak ada perubahan (Hasil wawancara M.D 5 Juni 2015)”.
Perintah yang diberikan dalam pelaksanaan suatu komunikasi haruslah konsisten dan jelas untuk dapat diterapkan dan dijalankan dengan baik. Dengan perintah yang jelas dan tidak berubah-ubah, para eksekutor lapangan tidak akan mendapatkan kesulitan di lapangan. Dalam pelaksanaan konsistensi perintah mengenai larangan parkir di bahu jalan diperoleh dengan baik. Alasannya bahwa perintah yang diberikan oleh Dinas Perhubungan ke anggota pelaksaana lapangan tidak mengalami perubahan (konsisten) sehingga pelaksana tidak kebingungan dan memudahkannya bekerja di lapangan.
2. Faktor Sumber Daya (Resouces)
Sumber daya berkaitan dengan segala sumber yang dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan implementasi kebijakan larangan parkir di bahu jalan di kota Makassar.Sumber daya ini mencakup beberapa indikator yang menjadi alat ukur tercapainya keberhasilan dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. Indikator itu antara lain:
a. Staf
Dimana penambahan jumlah staf dan pelaksana kebijakan tidak mencukupi namun diperlukan pula kecakapan staf dengan keahlian dan kemampuannya dalam melaksanakan tugas yang diinginkan oleh kebijakan itu sendiri.
Penuturan Humas Dishub Makassar menyatakan bahwa:
“Kemampuan dan keahlian staf larangan parkir ini sudah baik. Tetapi jumlah staf masih kurang” (Hasil wawancara A.A 4 Juni 2015)”.
Begitu pula penuturan Korlap LLAJ Dishub Makassar mengatakan bahwa:
“Kemampuan anggota dalam larangan parkir di bahu jalan baik, namun jumlah personil masih kurang, ada 40 anggota, tetapi masih belum cukup (Hasil wawancara M.D, 5 Juni 2015)”.
Sumber daya utama dalam implementasi kebijakan adalah staf. Menurut informan diatas, kemampuan dan keahlian personil/anggota sudah baik. Tetapi yang menjadi masalah adalah Dinas Perhubungan kekurangan anggota. Karena melihat ruas jalan yang ditindaki ada 5 ruas jalan, sedangkan personilnya hanya 40 anggota sehingga masih kurang efektinya di lapangan. Tetapi juga dalam hal keahlian dan kemampuan anggota sudah ditempatnya sesuai dengan bidangnya.
Kompeten dan kapabel sangat diperlukan dalam mengimplementasikan kebijakan atau melaksanakan tugas yang diinginkan oleh pelaku kebijakan itu sendiri.
Sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam terwujudnya sebuah implementasi kebijakan. Dengan jumlah personil beserta skill dari personil yang sesuai dengan bidangnya maka kebijakan tersebut akan berjalan dengan baik.
b. Informasi
Yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan cara melaksanakan
kebijakan dan tentang data kepatuhan dari data pelaksana terhadap peraturan atau regulasi pemerintah tentang kebijakan tersebut.
Perwira Pengendali Lapangan LLAJ Dishub Makassar memaparkan bahwa:
“Informasi mengenai proses penggembokan dalam larangan parkir ini diperoleh dari informasi di bagian pengendalian dan operasional Dishub kota Makassar (Hasil wawancara H.G, 5 Juni 2015)”.
Humas Dishub Makassar juga menyatakan bahwa:
“Informasi mengenai proses penggembokan di lapangan diperoleh melalui di bagian pengendalian dan operasional Dishub. Informasi nya termasuk cara melaksanakan penggembokan di lapangan, kriteria kendaraan apa saja yang akan digembok (Hasil wawancara A.A, 4 Juni 2015)”.
Tetapi sebagian masyarakat masih belum mengetahui adanya larangan parkir di bahu jalan. Salah satunya seorang pengendara mobil yang di gembok oleh Dinas Perhubungan mengatakan:
“Saya parkir di sini (bahu jalan) karena tidak tahu kalu ada peraturan seperti ini, saya tidak mengerti waktu mobil saya di di gembok, saya juga dari luar daerah, jadi saya tidak tahu” (Hasil wawancara U.S, 6 Juni 2015)”
Pintarat Tilang juga mengatakan:
“Baiknya kita juga memberikan informasi atau sosialilasi kepada masyarakat di luar Makassar, supaya mereka juga tahu mengenai larangan parkir ini” (hasil wawancara M.A, 8 Juni 2015).
Informasi adalah salah satu sumber daya yang sangat mempengaruhi keberhasilan suatu implementasi kebijakan. Sumber-sumber informasi sangat dibutuhkan untuk memperoleh data baik mengenai bagaimana cara melaksanakan kebijakan larangan parkir di bahu jalan maupun mengenai data kepatuhan dari pelaksana terhadap kepatuhan dan regulasi pemerintah. Dari beberapa informan
diatas berpendapat anggota pelaksana di lapangan mendapat informasi yang memadai. Alasannya bahwa sumber informasi tersebut diperoleh di bagian bidang pengendalian dan operasioal dari informasi yang diperoleh. Tetapi sebagian masyarakat belum mendapatkan informasi mengenai larangan parkir ini.
Khususnya masyarakat di luar daerah juga harus di berikan sosialisasi mengenai adanya larangan parkir. Selain informasi yang telah diberitahukan sebelumnya oleh PD.Parkir Makassar Raya maupun Satlantas Kota Makassar, kesadaran masyarakat juga masih kurang sehingga makin banyak masyarakat yang seakan acuh tak acuh dengan aturan ini, maka informasi dari kebijakan ini juga lebih di intensifkan sosialisasi kepada masyarakat dan masyarakat luar daerah serta menerapkan sanksi- sanksi yang dapat membuat masyarakat menjadi jera.
Informasi serta sosialisasi juga harus di sampaikan kepada para pemilik usaha, ruko, warung makan dll yang berada di pinggir jalan bahwa ada kebijakan larangan parkir di bahu jalan. Sehingga para pemilik usaha dapat mengetahui dan setidaknya bisa memberikan lahan parkir usaha nya kepada calon pelanggannya agar para pelanggan yang ingin parkir tidak terkena razia penggembokan lagi oleh Dinas Perhubungan.
c. Wewenang
Kewenangan harus bersifat formal agar perintah dapat dilaksanakan.
Kewenangan merupakan otoritas atau legitimasi bagi para pelaksana dalam melaksanakan kebijakan yang ditetapkan secara politik.
Sebagaimana penuturan Humas Dishub Makassar mengatakan bahwa:
“Kewenangan dalam pelaksanaan larangan parkir di bahu jalan ini sudah cukup terlaksana dengan baik. Hanya saja fasilitas nya belum memadai,
seperti gembok roda yang masih kurang, anggota masih belum cukup (Hasil wawancara A.A, 4 Juni 2015)”.
Begitu pula penuturan Perwira Pengendali Lapangan LLAJ Dishub Makassar:
“Kewenangan larangan parkir di bahu jalan ini sudah diterapkan dengan baik. Tetapi dari segi fasilitas, masih kurang (Hasil wawancara S.D, 5 Juni 2015)”.
Berdasarkan hasil wawancara diatas, kewenangan pelaksanaan larangan parkir di bahu jalan ini sudah terlaksana dengan baik. Efektivitas kewenangan sangat menunjang tercapainya tujuan dari pelaksanaan kebijakan larangan parkir ini. Tetapi mengenai sarana dan prasarana masih kurang sehingga kurang berjalan dengan baik. Wewenang merupakan legitimasi para pelaksana sehingga jika tidak terlaksana dan tidak jelas, maka wewenang itu akan nihil. Serta kepercayaan masyarakat kepada implementor (pelaksana kebijakan) tidak akan terlegitimasi sehingga akan gagal.
d. Fasilitas
Yaitu sarana dan prasarana yang mendukung keberhasilan implementasi suatu kebijakan.
Humas Dishub Makassar mengatakan bahwa:
“Sarana dan prasarana pendukung kebijakan larangan parkir di bahu jalan ini belum memadai, seperti gembok roda, kami hanya memiliki 30 gembok, itu saja hanya beberapa yang berfungsi dengan baik. Dana juga masih kurang” (Hasil wawancara A.A, 5 Juni 2015) ”.
Sama halnya pernyataan dari Kepala Seksi Ketertiban LLAJ mengatakan bahwa:
“ Fasilitas gembok masih kurang. Hanya 8 gembok roda saja yang berfungsi dari 30 gembok roda, mobil derek juga hanya 1 yang berfungsi (Hasil wawancara K.S, 5 Juni 2015)”.
Begitu pula penuturan Korlap LLAJ Dishub Makassar mengatakan bahwa:
“Iya, masih kurang memang, karena hanya 8 gembok roda saja yang berfungsi. Dan ini juga penghambatnya karena semuanya masih kurang (Hasil wawancara M.D, 5 Juni 2015)”.
Fasilitas ini juga merupakan faktor penting dalam implementasi kebijakan.
Tanpa adanya fasilitas pendukung kebijakan maka pelaksanaan kebijakan tersebut tidak akan berhasil. Adapun menurut informan tersebut diatas, sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan kebijakan larangan parkir di bahu jalan ini belum memadai, seperti jumlah gembok roda yang masih sangat minim. Jumlah gembok roda yang masih bisa digunakan hanya terdapat 8 gembok. Dan jumlah tersebut masih sangat sedikit dibandingkan dengan ada lima jalan protokol sesuai Perwali No. 64 Tahun 2011 yang akan ditindaki. Dan ini menjadi penghambat para eksekutor lapangan dalam melaksanakan tugasnya. Karena makin banyaknya yang parkir di bahu jalan, ditambah dengan tidak adanya kesadaran dari masyarakat yang parkir di bahu jalan ini. Sehingga kedepannya, perlu ditingkatkan jumlah jembok roda agar kebijakan ini dapat berjalan dengan baik.
Tabel di bawah ini merupakan fasilitas kendaraan operasional Dinas Perhubungan Kota Makassar:
Sumber: Dinas Perhubungan Kota Makassar
3. Faktor Disposisi (Disposition)
Adapun hal penting yang menjadi indikator dalam faktor disposisi pada pelaksanaan kebijakan yaitu:
a. Pengangkatan Birokrat
Pada kebijakan larangan parkir di bahu jalan ini, Kepala Seksi Ketertiban LLAJ menyampaikan pendapatnya tentang pengangkatan personil dalam implementasi kebijakan larangan parkir di bahu jalan:
“Dalam pengangkatan personil diangkat dengan melihat dan memperhatikan kemampuan yang sesuai dengan bidangnya. (Hasil wawancara K.S, 5 Juni 2015)”.
Begitu pula dengan pendapat Kepala Teknik dan Sarana Dishub Makassar:
“Mengenai pengankatan personil dalam larangan parkir ini kita kembali lagi ke pimpinan walikota. Walikota yang menentukan dan di SK-kan.
Personil yang diangkat juga sesuai dengan skill masing-masing. (Hasil wawancara A.R, 4 Juni 2015)”.
Adapun penuturan Perwira Pengendali Lapangan LLAJ Dishub Makassar mengatakan bahwa:
“Pengangkatan personil sudah sesuai dengan bidangnya dan kemampuan masing- masing. (Hasil wawancara H.G, 5 Juni 2014)”.
Salah satu hal penting dalam variabel disposisi adalah pemilihan dan pengangkatan personil pelaksanaan implementasi kebijakan. Menurut beberapa informan tersebut, dalam pemilihan dan pengangkatan personil kebijakan larangan parkir maka diangkat personil dengan melihat dan memperhatikan kemampuan para pelaksana sesuai bidang nya. Para eksekutor lapangan dipilih sesuai kemampuan yang menunjang dalam kebijakan larangan parkir ini. Dan
telah di SK kan oleh Walikota Makassar. Sehingga dalam menjalankan tugas di lapangan, para personil eksekutor lapangan tidak mendapatkan kesulitan dan bisa melaksanakan tugasnya dengan baik
b. Pemberian Insentif
Yaitu biaya tertentu yang diperoleh setelah melaksanakan suatu tugas tertentu sesuai dengan arahan kebijakan yang dilaksanakan.
Tanggapan Kepala Seksi Ketertiban LLAJ tersebut yaitu:
“Pemberian insentif kepada personil yang turun ke lapangan tersebut tidak mempengaruhi kinerja mereka (Hasil wawancara K.S, 5 Juni 2015)”.
Menurut informan diatas bahwa pemberian insentif kepada pengelola dana tersebut tidak mempengaruhi kinerja mereka. Hal ini didasarkan pada kinerja staf yang konsisten dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang telah dibebankan kepadanya. Sama halnya penuturan dari Perwira Pengendali Lapangan Dinas Perhubungan Kota Makassar juga mengatakan bahwa:
“Pemberian insentif kepada anggota tidak berpengaruh kinerja mereka, karena memang sudah ada gaji yang telah diterima oleh setiap personil (Hasil wawancara S.D, 5 Juni 2015)
Insentif adalah salah satu pendorong yang membuat para pelaksana kebijakan melaksanakan perintah dengan baik. Namun faktor insentif tersebut bukan menjadi faktor utama penentu baik tidaknya kinerja seseorang. Menurut informan tersebut diatas, pemberian insentif kepada anggota pelaksana lapangan larangan parkir di bahu jalan tidak begitu mempengaruhi kinerja mereka. Hal ini disebabkan karena telah ada gaji tetap dari setiap anggota. Sehingga mereka yang terjun di lapangan langsung tidak mempengaruhi kinerja mereka karena ada atau
tidaknya biaya intensif, mereka akan tetap mengerjakan tugasnya dikarenakan memang sudah ada gaji pokok yang mereka terima.
4. Faktor Struktur Birokrasi (Bureucratic Structure)
Hal lain yang mempengaruhi keberhasilan kebijakan larangan parkir di bahu jalan yaitu struktur birokrasi dimana terdapat 2 (dua) indikator keberhasilan implementasi kebijakan yaitu:
a. Pelaksanaan Standar Operasional Prosedures (SOPs)
SOPs adalah suatu kegiatan rutin yang memungkinkan pelaksana kebijakan dapat melaksanakan kegiatan-kegiatannya setiap hari sesuai dengan standar yang ditetapkan. Berdasarkan hasil wawancara dari Humas Dishub Makassar tersebut menyatakan bahwa :
“SOPs di mulai dari Dinas Perhubungan sebagai eksekutor lapangan yang turun langsung, terus kendaraan yang mau di gembok juga ada prosedurnya, yaitu kita berhak menggembok setelah orang yang punya kendaraan turun, tapi jika masih ada orangnya diatas kendaraan, kita sampaikan secara lisan.
Sesudah penggembokan, kita arahkan ke bagian Satlantas, setelah itu pelanggar ke kita (Dinas Perhubungan) dan memperlihatkan bukti surat tilang dari kepolisian Satlantas, lalu kita lepas gemboknya. Saat ini sudah 400an kendaraan yang di gembok oleh Dishub dari tahun 2014 (Hasil wawancara A.A, 4 Juni 2015)”.
Menurut informan diatas, dalam implementasi dilapangan larangan parkir di bahu jalan ini dimulai dari Dinas Perhubungan turunnya di lapangan, jika terdapat kendaraan yang di parkir di bahu jalan, dan ketika pengendara turun dari kendaraannya, Dishub langsung bertindak dengan melakukan penggembokan. Tetapi jika pengendara masih diatas kendaraannya, Dishub hanya memberi teguran secara lisan. Setelah itu, Satlantas melakukan tilang bagi pelanggar. Dan selanjutnya jika pelanggar selesai dengan tindakan hukum dan membayar denda tilang, pihak Dishub
akan membuka kembali gembok tersebut. Dengan SOPs tersebut maka dapat dijadikan pedoman bagi pelaksana di lapangan dan juga tindakan hukumnya.
Adanya SOPs ini membuat kebijakan ini menjadi jelas dan tidak membingungkan para eksekutor lapangan.
Kepala Seksi Ketertiban LLAJ Dishub Makassar menyatakan bahwa:
“Dalam pelaksanaan kebijakan larangan parkir ini sudah berjalan sesuai aturan. Intinya kita (Dishub) menggembok kendaraan yang melanggar larangan parkir di bahu jalan, dan polisi bagian Satlantas yang melakukan penilangan. Nanti ada surat tilang dari polisi, baru kita buka gemboknya.
Jadwal penggembokan adalah setiap hari Senin-Jumat sekitar jam 10-00 – siang. Tergantung dari situasi di lapangan juga. Untuk saat ini juga, kami baru melakukan penggembokan ini di dua ruas jalan (jl.A.P Pettarani dan jl. Ahmad Yani) dan ketiga ruas jalan yang lain (jl. Ratulangi, jl. Urip Sumoharjo, dan jl. Sultan Alauddin) masih tahap sosialisasi. Kami juga masih menunggu jika sudang di pasang rambu (Hasil wawancara K.S, 5 Juni 2015)”.
Jadwal yang telah ditentukan oleh Dinas Perhubungan ini membuktikan bahwa selama ini kebijakan ini masih berjalan. Banyaknya anggapan masyarakat yang jarang melihat aktivitas Dinas Perhubungan terjun di lapangan ternyata belum sepenuhnya benar. Karena Dinas Perhubungan melakukan kegiatan ini setiap hari. Dan baru dua jalan protokol saja yang ditindaki hukum (Jl. A.P Pettarani dan Jl. Ahamad Yani) dan tiga sisa nya ( Jl. Ratulangi, Jl. Urip Sumoharjo dan Jl. Sultan Alauddin) masih dalam tahap sosialisasi sambil menunggu perintah dari pemerintah Kota Makassar serta menunggu pemasangan rambu larangan parkir di ketiga jalan tersebut.
Pintarat Tilang Polrestabes Makassar juga menyatakan bahwa:
“Kalau sudah di gembok oleh Dishub, pelanggar baru melapor dan membawa surat- surat kendaraan ke kita. Tapi tidak semuanya kita tindak.
Karena kami mempunyai banyak pertimbangan. Contoh orang pendatang
dari luar makassar yang tidak tahu tentang aturan ini, jadi kita juga tidak tega, karena kami juga melihat dari sisi kemanusiaan. Jadi memang ada sekitar 400 kendaraan yang di gembok oleh Dishub pada tahun 2014, tapi yang kami tindak dalam bentuk tilang sekitar 278 kendaraan. Karena itu tadi, kami mempertibangkan beberapa hal. (Hasil wawancara M.A, 8 Juni 2015) ”.
Menurut informan diatas, masih banyaknya masyarakat yang masih belum mengetahui kebijakan ini. Bahkan seakan tidak peduli dengan adanya kebijakan ini. Ketidaksadaran para pengendara kendaraan yang parkir di bahu jalan masih belum ada. Bahkan dari luar daerah pun masih belum tertib. Sosialisasi masih kurang serta kesadaran pengendara kendaraan juga masih sangat minim menjadi hambatan tersendiri bagi para eksekutor lapangan dalam mengatasi permasalahan larangan parkir di bahu jalan. Sehingga perlu ditekankan memberikan sosialisasi kepada setiap lapisan masyarakat. Tak terkecuali para pemilik usaha yang usaha mereka berada di pinggir jalan dan tidak memiliki lahan parkir.
Begitupula tanggapan selaku Kepala Urusan Pemeliharaan Operasional Lantas Polrestabes Makassar menyampaikan bahwa:
“Setiap hari dilaksanakan. Sistem pelaksanaannya di tilang oleh pihak Satlantas dalam hal penindakan hukum sesuai UU No.22 Tahun 2009 pasal 287 ayat 3. (Hasil wawancara S.A, 8 Juni 2015)”.
Pelaksanaan SOPs berupa aturan yang telah ada sesuai dengan ketentuan yang berlaku maka akan menunjukkan tercapainya tujuan kebijakan yang telah ditetapkan. Pihak Satlantas bertugas untuk melakukan penindakan hukum kepada pelanggar larangan parkir dibahu jalan sesuai dengan UU No. 22 Tahun 2009 dan dikenakan pasal 287 ayat 3 yang berbunyi: “Kemudikan ranmor langgar aturan