PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
- Konsep dan Teori Kebijakan
- Konsep dan Teori Implementasi Kebijakan
- Konsep Perparkiran
- Kerangka Pikir
- Fokus Penelitian
- Deskripsi Fokus Penelitian
Dalam pendekatan top-down, implementasi kebijakan dilakukan secara terpusat dan dimulai dari para aktor di tingkat pusat, dan keputusan diambil di tingkat pusat. Hal ini sangat penting, karena keberhasilan implementasi kebijakan (publik) akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik yang relevan dan kesesuaian dari badan-badan implementasi. 4) Sikap/kecenderungan (disposisi) pelaku. Lingkungan sosial, ekonomi, dan politik yang tidak mendukung dapat menjadi penyebab kegagalan dalam implementasi kebijakan, sehingga perlu memperhatikan kondisi lingkungan eksternal yang menguntungkan pada saat implementasi kebijakan.
Indikator pada variabel ini terdiri dari beberapa unsur yaitu : .. a) Personil, sumber daya utama dalam implementasi kebijakan adalah personel. Kegagalan yang sering terjadi dalam implementasi kebijakan disebabkan oleh staf yang kurang memadai, tidak memadai atau tidak kompeten di bidangnya. Ketika kewenangan ini nol, maka kekuasaan para pelaksana tidak terlegitimasi di mata masyarakat, sehingga dapat menghentikan proses implementasi kebijakan. d) Fasilitas, fasilitas fisik juga menjadi faktor penting dalam implementasi kebijakan.
Penerapan kebijakan pelarangan parkir pinggir jalan untuk mengatasi hal tersebut di Kota Makassar sesuai dengan Peraturan Walikota Nomor 64 Tahun 2011 tentang pengelolaan parkir pinggir jalan yang sering menimbulkan kemacetan di berbagai jalan protokol di kota Makassar. Komunikasi antara PD Parkir dengan Dinas Perhubungan dan Satlantas Kota Makassar dalam implementasi kebijakan larangan parkir pinggir jalan kurang terkoordinasi dengan baik.
METODE PENELITIAN
- Waktu dan Lokasi Penelitian
- Jenis dan Tipe Penelitian
- Sumber Data
- Informan Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Pengabsahan Data
Penerapan kebijakan larangan parkir di bahu jalan untuk mengatasi kemacetan di Kota Makassar. Mengatasi kemacetan di Kota Makassar. Berdasarkan hasil wawancara di atas, kewenangan penerapan larangan parkir di bahu jalan telah dilaksanakan dengan baik. Indikator penerapan kebijakan larangan parkir di bahu jalan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di Makassar adalah sebagai berikut.
Dari penelitian di Dinas Perhubungan Kota Makassar, sumber daya yang mendukung keberhasilan implementasi kebijakan pelarangan parkir pinggir jalan masih kurang. Penunjukan birokrat dan pemberian insentif dalam pelaksanaan kebijakan larangan parkir pinggir jalan telah dilaksanakan dengan baik. Sumber daya untuk mendukung keberhasilan implementasi kebijakan larangan parkir di bahu jalan masih belum mencukupi.
Apa tanggung jawab pelaksanaan kegiatan (fragmentasi) dalam implementasi kebijakan larangan parkir di bank? 8 Apa tanggung jawab pelaksanaan kegiatan (fragmentasi) dalam penerapan kebijakan larangan parkir di bank? Dalam penerapan kebijakan pelarangan parkir di pinggir jalan, pembagian tanggung jawab pelaksanaan kegiatan juga diterapkan dengan baik.
7 Apa tanggung jawab pelaksanaan kegiatan (fragmentasi) dalam implementasi kebijakan larangan parkir di bahu jalan. 4 Apa tanggung jawab pelaksanaan kegiatan (fragmentasi) dalam implementasi kebijakan larangan parkir di bahu jalan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Obyek Penelitian
Namun, pada tahun 1990, pada masa pemerintahan Mr. Suwahyo selaku Walikota, DLLAJ dibentuk sesuai dengan PP 22 Tahun 1990 tentang penyelenggaraan unsur pemerintahan tertentu di bidang akuntansi lalu lintas dan jalan. Bidang Lalu Lintas mempunyai tugas menyusun pedoman manajemen dan rekayasa lalu lintas pada jalan kota, jalan provinsi, dan jalan nasional di Kota Makassar serta memelihara prasarana lalu lintas yang ada di Kota Makassar, melakukan kajian lalu lintas di wilayah pengembangan Kota Makassar. Kota sesuai dengan ketentuan peraturan peraturan yang berlaku. Bertugas merencanakan, mengatur, mengawasi dan mengendalikan lalu lintas di jalan Kota Makassar, jalan provinsi, dan jalan nasional dalam Kota Makassar.
Bidang Pengendalian Operasional mempunyai tugas melaksanakan penyiapan kegiatan perencanaan pengendalian dan pengawasan lalu lintas jalan, pengumpulan data, analisis dan evaluasi data di bidang lalu lintas jalan, penyusunan statistik pengumpulan dan analisis data kecelakaan, penyusunan data kawasan rawan kecelakaan, program penyiapan pencegahan kecelakaan lalu lintas dan . pemantauan hasil kegiatan pengendalian, penyusunan program pengendalian dan koordinasi pengendalian lalu lintas dan angkutan jalan, serta pemberian izin penggunaan jalan selain kegiatan lalu lintas. Bertugas menyusun perencanaan kegiatan penyuluhan keselamatan lalu lintas jalan, pendataan, analisis dan tata cara kecelakaan lalu lintas jalan, pembinaan,. Bertugas menyiapkan bahan pedoman pengumpulan dan pengolahan data operasional dan data kecelakaan lalu lintas dan angkutan jalan.
Implementasi Kebijakan Larangan Parkir di Bahu Jalan dalam
Baik dari Dinas Perhubungan sendiri maupun dari instansi terkait tentang larangan parkir ini. Sosialisasi kepada masyarakat telah dilakukan dengan bantuan PD Parkir agar masyarakat mengetahui adanya larangan parkir pinggir jalan sesuai dengan Perwali Nomor 64 Tahun 2011. Kejelasan komunikasi mengenai larangan parkir pinggir jalan menjadi tanggung jawab jalannya jelas, karena kami di kepolisian mempunyai tugas untuk mengambil tindakan hukum terkait hal tersebut, yaitu berupa denda (tindakan langsung) sesuai dengan UU Nomor 22 Tahun 2009.
Sebab, kejelasan komunikasi terkait larangan parkir tepi jalan sudah sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing instansi terkait. Dalam hal ini PD Parkir bertugas melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai larangan parkir di bahu jalan sesuai dengan Perwali no. 64 Tahun 2011. Kemampuan anggota dalam berhenti parkir di bahu jalan sudah baik, namun jumlah personelnya masih kurang, ada 40 anggota, namun masih belum cukup (hasil wawancara M.D., 5 Juni 2015).
Informasi terkait proses penguncian pada larangan parkir ini diperoleh dari informasi di Bagian Pengendalian dan Operasional Dinas Perhubungan Kota Makassar (hasil wawancara H.G., 5 Juni 2015). “Ada baiknya juga memberikan informasi atau sosialisasi kepada masyarakat di luar Makassar agar mereka juga mengetahui larangan parkir ini” (hasil wawancara M.A, 8 Juni 2015). Pemilik usaha, toko, warung makan, dll. di pinggir jalan perlu menginformasikan dan memberitahukan bahwa dilarang parkir di pinggir jalan.
Sarana dan prasarana pendukung kebijakan larangan parkir di bahu jalan kurang memadai, seperti kunci roda, kita hanya punya 30 kunci, hanya sedikit yang berfungsi dengan baik. Menurut narasumber di atas, sarana dan prasarana yang menerapkan kebijakan larangan parkir di bahu jalan masih kurang, seperti jumlah kunci roda yang masih sangat minim. Menurut informan tersebut di atas, pemberian insentif kepada anggota yang melaksanakan lapangan yang dilarang parkir di pinggir jalan tidak terlalu mempengaruhi kinerjanya.
Intinya, kami (Dishub) menggembok kendaraan yang melanggar larangan parkir pinggir jalan, dan Polisi Lalu Lintas menegakkan sanksi dendanya. Sosialisasi yang masih kurang dan kesadaran pengendara yang masih sangat minim menjadi kendala bagi pelaksana di lapangan dalam mengatasi permasalahan larangan parkir pinggir jalan. “Dalam penerapan kebijakan larangan parkir di pinggir jalan, pembagian tanggung jawab pelaksanaan kegiatan juga diterapkan dengan baik (Hasil wawancara dengan A.A, 4 Juni 2015).”
Pembahasan Hasil Penelitian
Untuk mendukung keberhasilan implementasi kebijakan larangan parkir di pinggir jalan di Kota Makassar, faktor komunikasi sudah berjalan cukup baik. Namun masih banyak yang belum mengetahui informasi mengenai larangan parkir di bahu jalan. Disposisi tersebut dimulai dari penunjukan birokrat dan pemberian insentif penerapan kebijakan larangan parkir di pinggir jalan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas yang sudah dilaksanakan dengan baik.
PENUTUP
Kesimpulan
Dinas Perhubungan, Satlantas dan PD Parkir berkomunikasi dengan saling berbagi informasi dan menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing terkait dengan implementasi kebijakan tersebut. Hal ini dapat dipahami dengan baik oleh seluruh sumber daya manusia yang diberi kewenangan, namun dari segi sarana dan prasarana, kebijakan ini kurang memadai sehingga menghambat personel untuk bertindak di lapangan. Penerapan kebijakan larangan parkir pinggir jalan dalam rangka mengatasi kemacetan dilakukan atas dasar faktor struktural birokrasi, yaitu dilaksanakan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku dan fragmentasi (pembagian tanggung jawab pegawai). kegiatan).
Saran