ءاَعْدَج
B. Penyajian dan Analisis Data
2. Implementasi pendidikan ibadah bagi anak dalam keluarga Jama’ah Tabligh di Dusun Dawuhan Desa Suco Lor Kecamatan Maesan
2. Implementasi pendidikan ibadah bagi anak dalam keluarga Jama’ah
puasa senin kamis. Saya sudah melarangnya karena nanti gak kuat pas di pondok tapi anak saya tetep maksa puasa senin kamis. Pokoknya ya saya sama suami hanya mencontohkan saja mbak terutama dalam ibadah-ibadah yang sunnah karena saya sama suami merasa sudah telat ngasih pendidikan agama bagi anak-anak kami, lawong saya dan suami juga masih baru ikut jama’ah tabligh ini mbak. Yang penting sholat wajibnya itu tepat waktu dan kami mencontohkan yang baik- baik kepada anak”.102
Dari sejak dini anak sudah diikutkan dengan aktifitas yang positif agar dapat menjadi kebiasaan ketika dewasa nanti. Tidak hanya ibadah yang wajib saja yang diterapkan tetapi juga ibadah-ibadah sunnah yang contohnya seperti sholat sunnah rowatib, puasa senin dan kamis, pendidikan ibadah juga diterapkan dengan praktek langsung sehingga memberikan pemahaman yang kuat terhadap anak.
Bella selaku anak dari keluarga jama’ah tabligh juga mengatakan bahwa:
“Ya saya biasanya ikutin Ibu misalnya dalam puasa sunnah, soalnya saya kan udah gede sudah umur 15 tahun, jadi walaupun Ibu dan Bapak gak nyuruh ya saya kerjakan aja mbak. Terus masalah sholat sunnah juga itu ya saya Cuma mencontoh Ibu mbak. Saya juga gak keberatan soalnya Ibu dan Bapak ketika ta’lim rumah sudah menjelaskan fadilah-fadilahnya kalau kita mengikuti sunnah Rasul, kalau saya lalai ibu dan bapak yang mengingatkan mbak terkadang saya juga dimarahi.”103
Menurut Bella, pembelajaran ibadah yang ia ketahui didapat dari melihat dan mencontoh apa yang telah ibu dan bapaknya praktekkan, hal itu juga yang menjadi pendorong terhadap dirinya untuk melakukan hal tersebut
102 Lutfi, Wawancara, Dawuhan, 14 Juni 2017.
103 Bella, Wawancara, Dawuhan, 14 Juni 2017.
karena telah dijelaskan tentang fadilah-fadilah dalam beribadah oleh bapak dan ibunya pada kegiatan ta’lim.
Bapak Haji Ibad juga mengemukakan bahwa:
“Kalau masih kecil tidak dibawa ke masjid karena anak kecil ketika dibawa kemasjid kan ganggu jadi saya sebagai ibunya yang mengajari, kalau sekarang ini pulangan pondok ya kakak-kakaknya yang mendidik. Ya ibadahnya ya gitu pokok sholat sunnah-sunnah juga jangan lupa sehingga terbiasa bahkan sekarang ini dia di usai 5 tahun juga sudah puasa dari pagi sampai dhuhur terus puasa lagi atau puasa setengah hari. Saya kan tidak pernah sholat dirumah selalu dimasjid, misalnya saya tertidur dan sudah adzan ya anak saya bangunin saya gak usak disuruh anak sudah tau kalau masuk waktu sholat serta kalau sudah adzan bapaknya pergi ke masjid, sama kayak orang kantoran itu kalau oarang biasa kekantor waktunya ngantor ya ngantor. Jadi mendidik anak itu sebenarnya mudah tergantung bagaimana orang tuanya menjadi contoh karena orang tua itu figurnya”.104
Dari hasil wawancara Bapak Haji Ibadi mengemukakan bahwa kenapa anak kecil tidak dibawa ke masjid untuk berjama’ah adalah karena mereka hanya akan bercanda dan mengganggu aktifitas dimasjid, oleh karena itu, maka anak tersebut dibiarkan dirumah untuk sholat berjama’ah bersama ibunya dan juga mendapatkan pelajaran dari ibunya. Pendidikan ibadah tidak hanya pada lingkup ibadah yang wajib saja, tetapi juga menerapkan ibadah sunnah.
Haji Ibad juga memamparkan bahwasanya:
Untuk mendidik anak tentang puasa dan zakat ini saya mengajarkan dari kecil, sekarang Ismail yang masih umur 5 tahun sudah saya ajarkan puasa setengah hari dan untuk pendidikan zakat saya masih memberi tahu takaran untuk zakat fitrah ini. Dan memberi tahu kalau
104 Ibad, Wawancara, Dawuhan, 13 Mei 2017.
mengeluarkan zakat itu wajib bagi umat Islam serta berzakat itu membersihkan jiwa.105
Puasa diajarkan kepada anak yang masih usia dini dengan menyuruhnya untuk berpuasa tetapi dalam jangka waktu setengah hari, pembiasaan ini dilakukan untuk melatih seorang anak untuk mulai berpuasa sejak kecil, bila disuruh puasa satu hari penuh anak tersebut tidak akan langsung kuat, jadi di butuhkan pembiasaan terlebih dahulu dengan berpuasa seterngah hari.
Sedangkan untuk zakat dilatih dengan memberiksan penjelasan kepada anak begaimana cara mengeluarkan dan takaran dari zakat, terutama tentang zakat fitrah, karena hanya zakat fitrah yang gampang diterapkan, sebab langsung dapat diterapkan setelah menjalankan ibadah puasa ramadhan.
Dari hasil observasi pada saat implementasi pendidikan ibadah bagi anak dalam keluarga jama’ah tabligh bahwa soal ibadah mereka tidak pernah telat terutama dalam sholat wajib lima waktunya, keluarga jama’ah tabligh selalu mengajak anak laki-lakinya yang sudah disunat untuk berjama’ah di masjid dan untuk anak perempuan sholat berjama’ah di rumah bersama Ibunya. Dalam pembelajaran Al-Qur’an mereka lebih memilih mengajarkan sendiri di rumah.106
Dalam hal ini Ibu Faizah mengungkapkan bahwasanya:
105 Ibad, Wawancara, Dawuhan, 13 Mei 2017.
106 Observasi, Dawuhan, 13 Mei 2017.
“Kalau sudah beranjak besar ya saya ajari sholat pertamanya ya itu saya sholat dan anak saya menirukan bacaan sholatnya di keraskan tapi saya sholat lain insyaAllah dengan begitu sebentar hafalnya, mencontohkan cara wudhunya kalau wudhu biasanya ya sama abahnya, sekarang anak saya yang umur 6 tahun juga sudah saya ajari puasa. Kalau emang sudah bisa di bawa ke masjid dan sudah di khitan ya sudah di ajak belajar sholat berjamaah di masjid bersama abahnya mbak”.107
Pendidikan ibadah di keluarga jama’ah tabligh dengan cara mencontohkan kepada anak-anaknya tentang ibadah sholat, puasa maupun ibadah-ibadah yang lainnya. Serta membiasakan sejak anak masih usia dini karena dengan begitu anak tidak merasa terbebani.
Dalam masalah ibadah haji, rukun Islam yang kelima ini diwajibkan bagi setiap muslim namun bagi yang mampu. Pak Haji Ibad dalam mengajarkan ibadah yang satu ini dengan mengatakan bahwa:
“Masalah ibadah haji, saya memberi tahu bahwa kalau ibadah haji itu wajib bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan terutama kemampuan dalam hal uang. Saya menceritakan pengalaman ketika saya berhaji. Dulu saya berjuang untuk dapat berhaji, meskipun berkorban banyak uang tetapi balasannya adalah kesempurnaan keimanan kita. Jadi saya sangat menekankan kepada anak saja untuk berhaji suatu saat nanti”.108
Walau haji adalah rukun yang wajib hanya untuk orang yang memiliki kemampuan untuk melaksanakannya tetapi haji Ibad menekankan kepada anaknya untuk berusaha berangkat haji suatu saat nanti, untuk menyempurnakan keIslamannya.
107 Faizah, Wawancara, Dawuhan, 14 Juni 2017.
108 Ibad, Wawancara, Dawuhan, 13 Mei 2017.
Hal berbeda disampaikan oleh pak Munawir, beliau mengatakan bahwa:
“Karena saya belum berpengalaman haji maka saya hanya memberi tahu rukun-rukun dan syaratnya saja mbak yang terpenting anak-anak mengetahuinya, tetapi saya juga memberikan motivasi terhadap anak untuk melaksanakan haji suatu saat nanti”.109
Penting motivasi terhadap anak dalam pendidikannya membuat pak Munawir memberikan dorongan terhadap anaknya untuk melakukan haji, dorongan orang tua sangatlah penting untuk memberikan semangat terhadap anak.
Pada kalangan jama’ah tabligh ada sebuah kewajiban yang harus dijalankan sebagai tugas yang telah diperintahkan oleh Rasulullah, yaitu berdakwah, jangka waktu dalam berdakwah tergantung pada target yang telah ditentukan bersama, pada hal ini untuk pendidikan anak tidak dikesampingkan, seperti kata bu Lutfi:
“Kalau suami saya yang keluar, masalah pendidikan bagi anak sudah diserahkan kepada saya karena ibu merupakan pendiddik pertama dan utama dalam keluarga. suami hanya memberi nasehat karena walaupun ditinggal ayahnya pendidikan agama bagi anak harus berjalan, setiap malam juga diadakan ta’lim rumah yaitu seperti belajar agama bersama keluarga”.110
Pendidikan anak pada jama’ah tabligh memang berorientasi pada seorang ibu, jadi yang bertugas mendidik anak adalah seorang ibu. Hal ini menanggulangi ketika sang ayah mendapatkan tugas untuk melakukan
109 Munawir, Wawancara, Dawuhan , 22 Juli 2017.
110 Lutfi, Wawancara, Dawuhan, 14 Juni 2017.
dakwah ditempat yang jauh, sehingga pendidikan anak tetap berlanjut. Tetapi seorang ayah juga memiliki tugas dalam mendidik anak, yaitu sebagai teladan dalam perilaku sehari-hari dan menasehati ketika anak ada dirumah.
“Ketika saya keluar (khuruj) anak saya titipkan ke neneknya untuk masalah sholat dan ibadah yang lainnya neneknya sudah saya kasih tau terlebih dahulu apa yang harus anak lakukan yang terpenting sholatnya tpat waktu dan Alhamdulillah nurut, ya saya juga sering menghubungi rumah, menanyakan bagaimana keadaan anak-anak saya, tentang pendidikannya dan kebutuhan yang lainnya, kan sekarang ada hape”.111
Ketika seorang istri juga mendapatkan tugas untuk mendampingi sang suami dalam berdakwah maka urusan ibadah atau tanggung jawab pendidikannya akan diberikan kepada keluarga terdekatnya. Maka pendidikan anak tetap berjalan, dan orang tua juga tetap dapat mengawasi keadaan dan pendidikan anaknya dengan menelepon keluarga yang mendapat tangung jawab anaknya.
Dari hasil observasi di lapangan, tentang pendidikan ibadah kepada anak jama’ah tabligh selalu memperhatikan terutama dalam ketepatan dalam melaksanakan sholat lima waktunya. Adapun ketika salah satu orang tuanya atau keduanya menjalankan khuruj maka untuk urusan anak, mereka serahkan kepada jama’ah tabligh yang lain ataupun ke saudaranya serta mereka juga memberikan tugas ataupun nasihat kepada anaknya.112
111 Lutfi, Wawancara, Dawuhan, 14 Juni 2017.
112 Observasi, Dawuhan, 13 Mei 2017.
Pendidikan ibadah terhadap anak dalam jama’ah tablig dijelaskan melalui praktek-praktek serta mencontohkan kepada anak karena dengan begitu anak akan lebih mudah memahami dan merasa tidak terbebani dengan ajaran Islam sehingga mereka melakukan ibadah bukan karena orang tua akan tetapi ridho karena Allah SWT. Serta memberikan fadilah-fadilah terhadap ibadah yang dikerjakan sehingga anak merasa tertarik dan giat dalam beribadah.
3. Implementasi pendidikan akhlak bagi anak dalam keluarga jam’ah